Category: Tasawuf


Bismillahirrohmanirrohim.
Abul Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Ayyub r.a. berkata: “Seorang Badwi menhadang Nabi Muhammad s.a.w. dan memegang kendali untanya lalu berkata: “Ya Rasulallah, beritahukan kepadaku apakah yang dapat mendekatkan aku kesyurga dan menjauhkan diriku dari api neraka?” Jawab Baginda s.a.w.: “menyembah Allah s.w.t. dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apa pun dan mendirikan sembahyang dan mengeluarkan zakat dan menghubungi kerabat.”
Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Abi Aufa r.a. berkata: “Pada suatu waktu petang hari Arafah kami bersama Baginda s.a.w. tiba-tiba Baginda s.a.w. bersabda: “Jangan duduk bersama kami siapa yang memutuskan hubungan kekeluargaan, supaya bangun dari tengah-tengah kami.” Maka tidak ada orang kecuali seorang dibelakang Baginda s.a.w. sendiri, tetapi tidak lama ia kembali maka ditanya oleh Baginda s.a.w.: “Mengapakah engkau , sebab tidak ada orang yang bangun kecuali engkau?” Jawabnya: “Ya Rasulullah, ketika saya mendengar sabdamu itu, segera saya pergi kerumah makcikku yang memutuskan hubungan dengan aku, lalu dia bertanya: Mengapa kau datang, ganjil sekali kedatangan mu ini?” Maka saya beritahukan apa yang saya dengar daripadamu, maka ia membaca istighfar untuk ku dan aku juga membaca istighfar untuknya.” Baginda s.a.w. bersabda: “Bagus engkau, duduklah sekarang sebab rahmat tidak akan turun pada suatu kaum jika ada diantara mereka seorang yang memutuskan hubungan kekeluargaan.” Baca lebih lanjut

Iklan

Berta’aruf artinya berupaya untuk dapat saling mengenal dan memahami satu sama lain baik untuk keperluan yang umum maupun keperluan yang khusus dengan cara-cara yang ma’ruf (sesuai syari’at). Aktifitas berta’aruf terjadi karena memang Allah Swt menciptakan manusia antara satu sama lainnya dengan saling memiliki perbedaan agar dapat saling mengenal pula. Allah swt berfirman:
’Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)-nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang yang mengetahui’ (TQS. Ar-Ruum [30]:24)
’Hai manusia sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari seorang pria dan seorang wanita, lalu menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal’ (TQS. Al-Hujurat [49]:13)
Berdasarkan ayat di atas, maka aktifitas saling mengenal antara seorang manusia dengan yang lainnya merupakan aktifitas yang lumrah dilakukan karena fitrah manusia memang diciptakan saling berbeda-beda. Sebagai seorang muslim, arahan kita dalam menjalani kehidupan umum adalah kita diperintahkan oleh Allah Swt untuk dapat saling mengenal, bahkan dianjurkan pula saling mengikatkan silaturrahim dan berbuat kebaikan terhadap satu sama lain yang semuanya dilakukan dalam rangka ketaatan kepada Allah Swt. Dari nu’man bin basyir bahwa rasulullah saw bersabda: Baca lebih lanjut

Mengamalkan Ajaran Thariqah*
22/11/2006
THORIQOH atau tarekat berarti “jalan”. Sahabat Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku jalan (thariqoh) terdekat kepada Allah yang paling mudah bagi hamba-hambanya dan yang paling utama bagi Allah!” Rasulullah SAW bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi ketika di muka bumi masih terdapat orang yang mengucapkan lafadz “Allah”.” (dalam kitab Al-Ma’arif Al-Muhammadiyah). Baca lebih lanjut

Ketenangan jiwa

Dalam perkembangan hidupnya manusia seringkali berhadapan dgn berbagai masalah yg berat utk diatasinya. Akibatnya timbullah kecemasan ketakutan dan ketidaktenangan bahkan tidak sedikit manusia yg akhirnya kalap sehingga melakukan tindakan-tindakan yg semula dianggap tidak mungkin dilakukannya baik melakukan kejahatan terhadap orang lain seperti pembunuhan termasuk pembunuhan terhadap anggota keluarga sendiri maupun melakukan kejahatan terhadap diri sendiri seperti meminum minuman keras dan obat-obat terlarang hingga tindakan bunuh diri. Oleh krn itu ketenangan dan kedamaian jiwa sangat diperlukan dalam hidup ini yg terasa kian berat dihadapinya. Itu sebabnya tiap orang ingin memiliki ketenangan jiwa. Dengan jiwa yg tenang kehidupan ini dapat dijalani secara teratur dan benar sebagaimana yg dikehendaki Allah dan rasul-Nya. Untuk bisa menggapai ketenangan jiwa banyak orang yg mencapainya dgn cara-cara yg tidak islami sehingga bukan ketengan jiwa yg didapat te tapi malah membawa kesemrawutan dalam jiwanya itu. Baca lebih lanjut

Kewajiban seorang anak untuk berbakti kepada orang tua tidak akan pernah gugur selamanya. Bahkan meskipun orang tua kita bukan muslim sekalipun, atau dalam keadaan sudah menikah dan memiliki suami sekalipun.Memang, pada dasarnya seorang istri itu wajib taat kepada suami, namun ketaatannya itu tidak dapat … Lihat Selengkapnyamenggugurkan kewajibannya sebagai seorang anak untuk tetap berbakti kepada orang tuanya.Seorang suami yang baik, ikhlas dan berhak untuk ditaati secara agama oleh istrinya, tentu tidak akan pernah menghalangi istrinya untuk bisa tetap berbakti kepada orang tuanya.
Jika sampai seorang suami memerintahkan istrinya untuk berbuat jahat kepada orang tuanya, maka perintah itu sama sekali tidak boleh untuk diikuti dan dengan sendirinya telah gugur.
Karena setiap muslim tidak dibenarkan mentaati makhluk (manusia) dalam rangka bermaksiat terhadap Al-Khaliq. Namun tentu saja bentuk bakti kepada orang tua dari seorang wanita yang sudah bersuami sedikit berbeda.Yg di utamakan hrs suami.
Lantaran di sisi lain, dia pun sudah mempunyai kewajiban untuk taat kepada suami. Karenanya dia (istri) harus bisa menyeimbangkan antara kewajiban berbakti kepada orang tua dan taat kepada suami. Idealnya, kedua kewajiban itu bisa dipadukan dan diselaraskan.
Hal itu bisa diibaratkan, seorang anak yang wajib taat kepada ayahnya, dan di sisi lain dia juga wajib taat kepada ibunya. Umumnya ayah dan ibu kompak dalam membuat peraturan.
Sehingga tidak menimbulkan kebingungan pada anak. Jangan sampai ayah memerintahkan melakukan suatu tindakan tapi ibu malah melarangnya. Yang begini berarti tidak ada komunikasi antara keduanya.Karena itu, sejak menerima pinangan dari calon suami, seorang wanita harus memikirkan agar antara suami dan ayahnya ada kecocokan dan kehamonisan. Yah, syukur-sykur bila keduanya punya selera yang sama, hobi yang sama, kemauan yang sama, sehingga tidak perlu bingung harus memberatkan yang mana.
Dalam kondisi dimana antara suami dan ayah sendiri punya alur berpikir yang berbeda, maka sebagai istri dan anak, seorang wanita punya tugas untuk menjembatani keduanya.
Ayah yang baik adalah ayah yang bisa memahami posisi anaknya dan memahami selera menantunya. Dan sebagai suami yang baik adalah suami yang mampu memahami posisi istrinya dan bertoleransi atas perintah mertuanya. Adil bukan…kehidupan berumahtangga seperti ini….
Wallohu A’lam Bisshowwab.

Menghormati kedua orang tua adalah suatu kewajiban bagi setiap anak manusia. ia adalah ketetapan Allah yang harus dijalankan. Bagaimanapun orang tua, berbakti, menghormati, mentaati adalah suatu sesuatu yang sudah menjadi ketetapan Allah Swt. Sebagaimana hal … Lihat Selengkapnyaitu dinyatakan oleh Allah dalam al-Quran:
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia . (QS.Al-Isra? : 23) .
Dan sebaliknya, durhaka kepada kedua orang tua adalah termasuk dosa besar. Baca lebih lanjut

Rahmat Dibalik Cobaan (Ridho Menerima Ketetapan Illahi)
Firman Allah SWT, pada Al-Baqarah:156-157 :
orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan : Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun (arti:sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka ialah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Al-Baqarah : 156-157)

Tujuan musibah atau cobaan yang diturunkan Allah kepada hamba-Nya adalah :

1. Untuk membersihkan dan memilih, mana orang mukmin yang sejati dan mana yang munafik.
2. Untuk mengangkat derajat serta menghapuskan dosa.
3. Untuk melihat sejauh mana kesabaran dan ketaatan seorang hamba.
4. Untuk membentuk dan mendidik manusia, sehingga menjadi umat dgn keimanan yang tinggi.
5. Sebagai latihan supaya manusia terbiasa menerima berbagai ujian, dengan demikian akan bertambah kesabaran, kuat cita-cita dan tetap pendiriannya.
Baca lebih lanjut

Membangun sifat Qona’ah

Sifat Qona’ah (selalu merasa cukup dengan apa yang ada) merupakan harta kekayaan yang tidak ada habisnya. Karena siapa saja yang telah memiliki sifat ini maka ia ibarat orang kaya yang tidak lagi terpengaruh oleh godaan harta dan kedudukan yang dibentangkan dunia untuknya. Ia hanya mengambil dunia seperlunya sesuai dengan kebutuhan minimalnya. Orang yang memiliki sifat Qona’ah akan selalu bersyukur atas karunia yang diberikan Allah subhanahu wata’ala padanya, tidak mengeluh dan tidak berharap lebih banyak dari rezeki yang telah ditakdirkan Allah padanya. Sifat ini membuat pemiliknya tidak rakus akan dunia, apalagi menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya.
Baca lebih lanjut

THORIQAT

Macam-Macam Tariqat Muktabarah Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Qadiriyah Naqsyabandiyah, Syadziliyah

Muqaddimah

Tarekat berasal dari bahasa Arab thariqah, jamaknya tharaiq, yang berarti: (1) jalan atau petunjuk jalan atau cara, (2) Metode, system (al-uslub), (3) mazhab, aliran, haluan (al-mazhab), (4) keadaan (al-halah), (5) tiang tempat berteduh, tongkat, payung (‘amud al-mizalah). Menurut Al-Jurjani ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali (740-816 M), tarekat ialah metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju Allah Ta’ala melalui tahapan-tahapan/maqamat.

Dengan demikian tarekat memiliki dua pengertian, pertama ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi (sufi brotherhood) yang ditandai dengan adannya lembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah (sufinews.com).

Sebuah tarekat biasanya terdiri dari penyucian batin, kekeluargaan tarekat, upacara keagamaan, dan kesadaran sosial. Penyucian batin melalui latihan rohani dengan hidup zuhud, menghilangkan sifat-sifat jelek, mengisi sifat terpuji, taat atas perintah agama, menjauhi larangan, taubat atas segala dosa dan muhasabah introspeksi terhadap semua amal pribadi. Kekeluargaan tarekat biasanya terdiri dari syaih tarekat, syaikh mursyid (khalifahnya), mursyid sebagai guru tarekat, murid dan pengikut tarekat, serta ribath (zawiyah) tempat latihan, kitab-kitab, system dan metode zikir. Upacra keagamaan bisa berupa baiat, ijarah atau khirqah, silsilah, latihan-latihan, amalan-amalan tarekat, talqin, wasiat yang diberikan dan dialihkan seorang syaikh tarekat kepada murid-muridnya (Abu Bakar dalam Sri Mulyati,2004: 9).
Baca lebih lanjut

HUKUM DALAM ISLAM

http://www.tasawufislam.blogspot.com : Hukum dalam syari’at Islam ada 5 (lima) kategori, yaitu:
1. Wajib, yaitu perintah yang harus dikerjakan, jika dikerjakan berpahala dan jika tidak dikerjakan berdosa.
2. Sunat, yaitu anjuran. Jika dikerjakan berpahala dan jika tidak dikerjakan tidak berdosa.
3. Mubah, yaitu boleh. Jika dikerjakan tidak berpahala dan tidak berdosa, jika ditinggalkanpun tidak berdosa dan tidak berpahala.
4. Makruh, yaitu larangan ringan. Jika dikerjakan tidak berdosa, tetapi jika ditinggalkan mendapat pahala.
5. Haram, yaitu larangan keras. Jika dikerjakan berdosa dan jika ditinggalkan berpahala. http://www.tasawufislam.blogspot.com