BAB 17
PASAL 3
KEUTAMAAN SHALATNYA WANITA DIRUMAHNYA SENDIRI
Dalam bagian ini akan membicarakan tentangg keutamaan shalatnya orang
perempuan (istri) di rumahnya sendiri dan shalatnya itu lebih utama di
banding shalat orang perempuan di masjid, sekalipun berjamaah dengan
Rasulullah.
Humaid As Sa’idi meriwayatkan tentang seorang perempuan yang datang
kepada Rasulullah perempuan itu bertanya:”Hai Rasulullah, sesungguhny aku
sangat senang jika shalat berjamaah denganmu”. Nabi menjawab:”Aku tau
kamu senang shalat berjamaah denganku. Tetapi shalatmu di rumahmu
sendiri lebih utama dari pada shalatmmu di kamarmu dan shalatmu di
kamarmu lebih utama di banding shalatmu diserambi rumahmu dan shalatmu
di serambi rumahmu lebih utama di banding shalatmu di masjidku ini”. Yang
demikian itu tidak lain untuk menjaga agar ketertutupan dirinya sebagai hak
yang perlu di jaga.
Rasulullah bersabda : ”Sesungguhnya shalatnya orang perempuan di
rumahnya lebih baik dari pada shalat di kamarnya, dan sesungguhnyalah
shalatnya seorangperempuan di kamarnya lebih baik dari pada shalatnya di
serambi rumahnya, dan shalatnya seorang perempuan di serambi rumahnya
itu lebih baik dari pada shalatnya di masjid”. (al hadits riwayat Al baihaqi dari
Aisyah Ra)
Rasulullah S.A.W bersabda :”shalat seorang perempuan di rumahnya lebih
utama dari pada shalatnya di kamarnyadan shalatnya di dalam ruangan
yang berada di tengah tengah rumahnya lebih baik dari pada shalatnya di
serambi rumahnya”. Diriwayatkan oleh abi daud dari ibnu mas’ud dan riwayat
Al hakim dari Ummu salamah.
Rasulullah S.A.W bersabda:”SHALAATUL MAR-ATI WAHDAHAA
TAFDHULU ‘ALAASHALAATIHAA FIL JAM’I BIKHAMSIN WA’ISYRIINA
DARAJATAN”.
Kitab Uquudu Lujain Fii Bayaani Huquuzzaujaini
29
Shalatnya seorang wanita sendirian menyamai shalatnya dalam berjamaah
denga memperoleh dua puluh lima derajat “. (di riwayatkan oleh Ad Dailami
dari ibnu ‘umar) Menurut suatu pendapat, shalat seorang wanita yang
demikian itu berlaku bagi perempuan yang masih lajang, yakni belum kawin.
Rasulullah S.A.W bersabda :”INNA AHABBA SHALAATIL MAR-ATI
ILALLAAHI FIIASYADDI MAKAANIN FII BAITIHAA”
“Sesungguhnya shalat seorang wanita yang paling di sukai Allah adalah yang
di laksanakan di dalam rumahnya yang gelap”.
Rasulullah S.A.W berssabda :”seseungguhnya seorang istri yang keluar
rumah, padahal tidak ada kebutuhan yang teramat mendesak, maka syethan
terus memperhatikan dan mengikutinya. Syetan berkata:”Jangan kau siasiakan
setiap melewati seseorang kecuali ia kagum padamu”. lalu wanita itu
mengenakan busananya. Ketika di tanya suaminya :”Hendak kemana kamu.
?”. ia menjawab:”Aku hendak membesuk orang sakit, atau aku hendak
mendatangi upacara pemberangkatan jenazah atau aku hendak shalat di
masjid”. Padahal tidak ada ibadah seorang perempuan yang lebih sempurna
kepada Tuhannya kecuali yang di kerjakan di rumahnya sendiri”.
Diriwayatkan dari Abu Syaibani bahwa, ia melihat Abdullah bin Asy Syayab
menghalau perempuan perempuan dari masjid di hari jum’at Ia
berkata:”Keluarlah kalian kerumah masing masing. Hal itu Jauh lebih baik
bagi kamu”. Di riwayatkan oleh sulaiman Al ‘Lakhami dari Ath Thabrani
Di riwayatkan ada seorang perempuan yang berlalu dekat dengan abu
hurairah Ra. Ia berbau sangat harum semerbak. Abu hurairah bertanya:”Hai
perempuan hendak kemana kamu.?”. Ia menjawab:”Hendak ke masjid”. Abu
hurairah melanjutkan:”Kau mengenakan wewangian.. ?”. Ia menjawab :”Yaa”.
Abu hurairah berkata:”Kembalilah, mandi dulu. Sebab aku pernah mendengar
bahwa Rasulullah S.A.W bersabda:”Allah tidak akan menerima shalat
seorang perempuan yang keluar menuju masjid dengan membawa aroma
yang semerbak harum sehingga ia pulang kembali lantas mandi”. (Al hadits)
Yang di maksud mandi dalam hadits itu adalah menghilangkan bau harum
yang di timbulkan dari bau minyak wangi tersebut. jadi maksudnya tidak di
hususkan pada mandinya melainkan upaya menghilangkan bau wangi
tersebut.
Rasulullah S.A.W besabda :”AL MUKHTALI’ATU WAL MUTABARRIJAATU
HUNNAL MUNAAFIQAATU”.
“Perempuan perempuan yang minta cerai suaminya tanpa ‘udzur dan
perempuan perempuan yang memperlihatkan perhiasan (dandananya)
kepada orang bannyak mereka termasuk munafik”. (Diriwayatkan oleh Abu
na’im dan Ibnu mas’ud)
Kitab Uquudu Lujain Fii Bayaani Huquuzzaujaini
30
BAB 18
LARANGAN BERHIAS DAN BERBUSANA BERLEBIHAN
Di riwayatkan dari Aisyah RA, katanya ketika Rasulullah S.A.W sedang duduk
beristirahat di masjid, tiba tiba ada seorang perempuan golongan muzainah
terlihat memamerkan dandanannya di masjid sambil menyeret nyeret busana
panjangnya Rasulullah S.A.W bersabda:”Hai sekalian manusia, laranglah istri
istrimu (termasuk anak anak remaja perempuan yang mereka miliki)
mengenakan dandanan seraya berjalan angkuh di dalam masjid.
Sesungguhnya Bani Israil tidak akan dilaknati sehingga kaum perempuan
mereka dandanan menyolok(berlebihan)dan berjalan di dalam masjid. (Di
riwayatkan Ibnu majah)
Rasulullah S.A.W bersabda : ”mana saja seorang perempuan yang
mengenakan wewangian, kemudian keluar rumah lalu melewati orang banyak
dengan maksud agar mereka mencium bau harumnya, maka perempuan itu
termasuk golongan perempuan yang berzian dan setiap mata yang
memandang itu melakukan zina (diriwayatkan Ahmad Annasai dan Al HAkim
dari Ibnu abu Musa Al Asy’ari)
Rasulullah S.A.W bersabda :”Aku melihat di sorga, ternyata sebagian besar
isinya (yakni penghuninya ) adalah golongan orang fakir. Dan aku melihat
neraka ternyata sebagian besar penghuninya kulihat dari golongan orang
perempuan”. (Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, Turmudzi, dari Anas dan
diriwayat oleh bukhori dan Turmudzi dari Imran bin Hashin)
Yang demikian itu di sebabkan karena, mereka sedikit sekali menaati Allah,
menaati Rasul-NYA dan menaati suaminya. Sebaliknya mereka lebih suka
memamerkan dandannannya (tabaruj).
Dalam pengertiannya yang di sebut “tabaruj” adalah seorang perempuan
apabila bermaksud keluar rumah mengenakan pakaian yang lebih bagus dan
berdandan mencolok yang tidak biasanya seperti itu. Ia keluar itu dapat
mengganggu kaum lelaki, Kalaupun ia bisa menyelamatkan diri, tetapi kaum
lelaki tidak akan selamat dari sikapnya. Karena itu Nabi Muhammad S.A.W
menngingatkan bahwa, orang perempuan itu segala aurat.
Rasulullah S.A.W bersabda :”Orang perempuan itu segala aurat. Apabila
kelluar rumah maka syetan memperhatikannya terus untuk menyesatkannya.
Dan yang lebih mendekatkan seorang perempuan kepada Allah adalah jika
berada di rumahnya”.
Dalam Riwayat lain di jelaskan:”Orang perempuan itu segala aurat, maka
pingitlah mereka, Karena manakala seorang perempuan keluar jalan, dan
keluarganya berkata:”hendak kemana kamu.. ?”. Ia menjawab: ”aku hendak
membesuk orang sakit, atau aku hendak mengiringi jenazah, maka tidak henti
hentinya syetan menggodanya hingga ia mengeluarkan lengannya (yakni ia
mengeluarkan sebagian tubuhya). Tidak ada perempuan yang berusaha
Kitab Uquudu Lujain Fii Bayaani Huquuzzaujaini
31
memperoleh keridhoan Allah seperti kalau dirinya tinggal di rumah,
menyembah Tuhannya dan meaati suaminya’.
Hatim Al Asham mengatakan, Wanita sholehah itu menjadi tiangnya agama
dan sebagai pemakmur(yang meramaikan)rumah serta membantu suami
melaksanakan ketaatan pada Allah. Sebaliknya perempuan yang suka
melanggar hukum, dapat menghancurkan hati suaminya dengan tertawa.
Abdullah bin ‘umar Ra mengatakan:”Tanda tanda perempuan yang shalihah
adalah, jika mempunyai kecintaan takut pada Allah dan bersikap qona’ah
(menerima apa adanya)terhadap apa yang di berikan Allah. Ia di hiasi sifat
pemurah terhadap perkara yang di miliki, ibadahnya baik, berbakti pada
suami dan gemar mempersiapkan diri beramal shalih untuk persiapan mati.
BAB 19
DOSA BESAR BAGI ISTERI
Termasuk dosa besar bagi seorang isteri adalah bila mana keluar rumah
tanpa seijin suaminya. Kendati tujuannya untuk takziyah kepada orang tuanya
yang mati. Tersebut dalam ihya ‘ulumuddin Imam Al Ghozali di katakan
bahwa ada seorang lelaki (suami)hendak bepergian. Sebelum berangkat ia
meminta istrinya agar tidak turun dari tempatnya yang berada di bagian
bangunan tingkat atas. Sementara Orang tuanya berada di tingkat bawah.
Orang tuanya sakit. Perempuan itu mengutus seorang pembantunya
menghadap Rasulullah S.A.W untuk minta izin turun sebentar untuk
membesuk orang tuanya.
Rasulullah S.A.W bersabda :”Taatilah suamimu. Jangan kau turun. . ”Tidak
begitu lama, orang tuanya mati. IA mengirim utusan menghadap Rasulullah
S.A.W untuk memohonkan izin, agar dirinya dapat menyaksikan jenazah
orang tuanya.
Rasulullah S.A.W bersabda :”Taatilah suamimu”. Maka orang tuanyapun di
kuburkan. tidak begitu lama Rasulullah S.A.W mengutus seseorang untuk
memberi tahu pada perempuan itu bahwa Allah telah mengampuni dosa dosa
orang tuanya disebabkan ketaatan perempuan itu pada suaminya.
FAIDAH Ada seorang Ibu memberi nasehat pada putrinya, IA berkata
peliharalah sepuluh tingkah ini, niscaya kamu akan menjadi simpanan, Yaitu:
Pertama dan kedua: Mudah menerima keadaan(qona’ah), berbakti dan
mentaati suami.
Ketiga dan keempat, hendaknya kamu menjadikan dirimu sebagai perempuan
yang selalu didambakan dan dirindukan lantaran tatapan mata dan
ciumannya. Artinya hendaknya kamu jangan sampai dilihat suamimu sebagai
perempuan yang di benci (atau perempuan yang buruk). hendaknya suamimu
tidak pernah berkasih mesra dengan dirimu kecuali dalam keadaan selalu
harum melekat dalam dirimu.
Kitab Uquudu Lujain Fii Bayaani Huquuzzaujaini
32
Kelima dan keenamnya hendaknya kamu selalu menjadi perhatian sewaktu
suamimu makan dan tidur. Sebab rasa lapar itu mudah menimbulkan
pemberontakan nafsu dan sulit tidur, bahkan mempermudah tumbuhnya
kemarahan.
Ketujuh dan kedelapannya hendaknya kamu pandai pandai memelihara harta
dan rahasia keluarga suami yang dapat mempermalukan dirinya.
Kesembilan dan kesepuluhnya : Hendaknya kamu jangan menentang
perintahnya, dan jangan suka menyebarkan rahasia suami. Karena kalau
kamu menentang perintahnya akan sangat mudah menimbulkan/meledakkan
kemarahannya. Kalau kamu menyebarluaskan rahasianya berarti kamu tidak
dapat di percaya jika dia sedang tidak ada dirumah.
Ingatlah baik baik ingatlah. Sekali sekali kamu jangan menunjukkan
kegembiraan di hadapannya, selagi suamimu sedang bersedih. Sebaliknya
jangan berwajah cemberut selagi suamimu berwajah berbinar binar lagi
gembira.
Rasulullah S.A.W bersabda : ”Sesungguhnya seorang istri yang keluar rumah
sedangkan suaminya tidak menyukainya maka seluruh malaikat
melaknatinya, demikian pula semua barang yang di lewatinya, selain jin dan
manusia. Sehingga dirinya kembali dan bertaubat.
PAHALA BAGI PEREMPUAN YANG HAMIL
Tersebut dalam riwayat bahwa NAbi Muhammad S.A.W bersabda : ”Apakah
salah seorang di antara kamu senang, hai kaum isteri, kalau kamu sedang
mengandung dari hasil hubungan dengan suaminya, sementara suaminya
merasa senang. Sesungguhnya perempuaan yang sedang hamil memperoleh
pahala seperti pahalanya orang yang sedang berpuasa sambil perang di jalan
Allah.
Apabila mencapai puncak sakit mendekati melahirkan semua penduduk
langit tidak ada yang tahu perkara apa yang disamarkan baginya, berupa
ketenangan bathinnya. Apabila telah melahirkan, maka tidak ada tetesan air
susu yang keluar dari susu ibunya dan tidaklah si bayi menghisap air susu
ibunya kecualipada setiap tetesan dan isappan di catat sebagai satu
kebaikkan. Jika di waktu malamnya ia terjaga maka ia memperoleh pahala,
bagaikan pahala memerdekakan tujuh puluh budak yag di merdekakan di
jalan Allah secara ikhlas, (di riwayatkan Hasa bin sufyan dan Tabrani, ibnu
Asakir dari salamah)
Rasulullah bersabda : ”INNARRAJUULA IDZAA NADZARA ILAAM RA-ATIHII
WANADZARAT ILAIHI NADZARALLAAAHU ILAIHIMAA NADZARA
RAHMATIN FAIDZAA AKHADZA BIKAFFIHAA TASAA QATHAT
DZUNUUBUHUMAAA MIN KHILAALIN ASHAABI’IHIMAA”
“Sesungguhnya seorang suami apabila memperhatikan isterinya dan isterinya
balas memerhatikan suaminya, maka Allah memperhatikan mereka berdua
dengan perhatian penuh rahmat. Manakala suaminya merengkuh telapak
Kitab Uquudu Lujain Fii Bayaani Huquuzzaujaini
33
tangannya (diremas remas) maka berguguranlah dosa dosa suami istri itu
darisela sela jari jemarinya. (di riwayatkan maisarah bin Ali dari Ar rafi’i dari
sa’id Al Khudzi Ra)
Diriwayatkan dari Nabi Muhammad S.A.W bahwa : ”INNARRAJULA
LAYUJAMI’U AHLAHU FAYUKTABU LAHU BIJIMA’IHI AJRU WALADI
DZKARIN QAATALA FII SABILILLAAHI FAQUTILU”.
“Sesungguhnya seorang suami yang menggauli istrinya, maka pergaulannya
itu dicatat memperoleh pahala seperti pahalanya anak lelaki yang berperang
di jalan Allah lalu terbunuh(Al hadits)
Ketahuilah bahwa, ada beberapa faktor yang dapat membentuk seseorang
anak dekat dengan Allah Antara lain:
1. Sejalan dengan yang di cintai Allah, bahwa putera yang dihasilkan itu di
maksud untuk menyambung generasi manusia.
2. Mencari kecintaan dari Rasulullah S.A.W, maksudnya untuk
memperbanyak (memperbesar) jumalah umatnya Nabi Muhammad S.A.W
yang ana besar jumlah umat itu menyebabkan kebanggaan beliau.
3. Mengharap kelak memperoleh do’a anak yang sholeh setelah
kematiannya.
4. Mencari syafa’at dengan kematian anak yang masih berusia anak anak,
sebelum kematian dirinya sendiri(orang tua).
BAB 20
PASAL 4
KEHARAMAN KAUM LELAKI MEMANDANG WANITA
YANG BUKAN MUHRIMNYA
Dalam fasal ini dijelaskan tentang diharamkannya kaum lelaki memandang
kaum wanita yang bukan muhrimnya. Begitu pula sebaliknya, yakni
keharaman kaum wanita memperhatikan kaum lelakiyang bukan muhrimnya.
Tersebut dalam firman Allah dalam surat Al ahzab, : “WA IDZAA SAALTUMUU
HUNNA MATAA’AN FAS ALUU HUNNA MIWWARAA I HIJAABIN
DZAALIKUM ATH HARU LIQULUUBIKUM WAQULUU BIHINNA”
“Apa bila kamu meminta sesuatu kepada mereka maka mintalah dari
belakangtabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan bagi hati
mereka”.
Dalam surat An Nuur ayat 30 di jelaskan: “QUL LILMU-MINIINA
YAGHUDHDHUU MIN ABSHAARIHIM WAYAHFADZUU FURUUJAHUM
DZAALIKAADZKAA LAHUM INNALLAAHA KHAIRUMBIMAA
YASHNA’UUNA”
“Katakanlah kepada orang laki-lakiyang beriman :”Hendaklah mereka
menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu
Kitab Uquudu Lujain Fii Bayaani Huquuzzaujaini
34
lebih suci begi mereka”; SesungguhnyaAllah maha mengetahui apa yang
mereka perbuat”.
Rasulullah S.A.W bersabda: ”Pandangan mata itu merupakan panah beracun
dari panah Iblis. Barang siapa meninggalkannya karena takut Allah S.W.T,
maka Allah memberinya keimanan yang mana ia akan memperoleh
kemanisannya didalam hati”.
Nabi Isa as bersabda:”IYYAAKUM WANNADZARA FA INNAHAA TUZRI’U
FILQOLBI SYAHWATAN WAKAFAA BIHAA FITNATAN”
“Takutlah kamu. peliharalah dirimu dari memperhatikan. Karena
sesungguhnya memperhatikan itu menumbuhkan syahwat di dalam hati. Dan
cukuplah syahwat itu menjadi fitnah”.
Sa’ad bin jubair mengatakan hanyalah fitnah yang menimpa Nabi Daud As
adalah di sebabkan pandangan beliau. Nabi Daud bersabda kepada putera
beliau Nabi Sulaiman As, lebih baik berjalanlah di belakang macan dan
Harimau, janganlah berjalan di belakang perempuan.
Mujahid mengatakan, apabila seorang perempuan mengahadap ke muka
maka Iblis duduk di bagian kepalanya. Lalu Iblismemperindah diri perempuan
itu yang di peruntukkan bagi orang yang memperhatikannya. Kalau seorang
perempuen bernalik menghadap kebelakang maka Iblis duduk di pantatnya.
Lalu Iblis memperindah perempuan itu yang di peruntukkan bagi orang yang
memperhatikannya.
Seorang bertanya kepada Nabi Isa As, Apa permulaan yang menyebabkan
orang berzina?. Beliau bersabda :Yaitu akibat memperhatikan perempuan
dan memperhatikan dirinya.
Al Fudhail mengatakan, Iblis berkata bahwa pandangan yang di lepaskan
pada suatu perkara yang tidak halal itu adalah merupakan panahku yang
sudah tua dan busurku yang tak pernah luput jika aku pergunakan.
Tersebut dalam sya’ir:
Segala sesuatu yang baru terjadi
Permulaannya dari pandangan
Nyala api yang besar
Permulaannya dari pelatuk yang kecil
Orang yang mempermainkan mata
Sangat di khawatirkan akibatnya
Berapa banyak pandangan
Yang masuk dan bekerja dalam hati
Bagaikan anak panah yang dilepas busur dan tali
Orang yang memperhatikan
Perkara yang membahayakan
Akan menyenangakan orang yang mempunyai kekhawatiran
Tetapi kalau akhirnya mencelakakan
Kitab Uquudu Lujain Fii Bayaani Huquuzzaujaini
35
Itu tidak membahayakan
Ummu salamah Ra mengatakan bahwa Ibnu Ummi maktum meminta izin
kepada Rasulullah S.A.W. Saat itu aku dam maimunah Ra duduk bersama,
maka Rasulullah bersabda: ”Bertakbirlah kalian “. Kami menimpali:”Bukankah
dia orang buta yang tidak dapat memandang kami?”. Rasulullah
bersabda:”Apa kalian tidak dapat melihatnya juga ?”.
Rasulullah S.A.W mengingatkan : ”LA’ANALLAAHUNNAADZIRA
WALMANDZUURA ILAIHI” “Allah melaknat orang yang dipandang dan orang
yang dipandangi (membalas pandangan).
Bagi perempuan yang beriman pada Allah, tidak dibenarkan memperlihatkan
diri pada setiap orang asing, karena yang tidak terikat oleh pernikahan atau
muhrim karena nasab atau sesusuan. Demikian pula orang lelaki tidak
dibenarkan memperhatikan kaum wanita, sebaliknya kaum wanita balas
memperhatikan pandangannya.
Sebagaimana kaum lelaki menundukkan pandangannya kepada kaum wanita,
maka menjadi kewajiban pula kaum wanita menundukkan pandangan mata
terhadap kaum lelaki. Pendapat itu sebagaimana di tekankan oleh Ibnu Hajar
dalam kitab AZ ZAWAJIR.
Tidak pula diperbolehkan lelaki bermusafahah(bersalaman) dengan
perempuan yang bukan muhrim. Larangan ini berlaku juga pada perbuatan
salingmemberikan. Sebab itu perkara yang di haramkan memandangnya
diharamkan pula memegangnya. Mengingat dengan cara memegangnya itu ia
dapat merasakan kelezatan. Hal ini didasarkan pada dalil bahwa, kalau orang
berpuasa lalu berpegangan dengan lawan jenisnya yang menyebabkan
inzal(keluar mani), maka puasanya batal. Tetapi kalau keluarnya mani
disebabkan oleh pandangan, puasanya tidak batal. Demikian menurut
penjelasan kitab An Nihayah.
Diriwayatkan oleh Thabrani di dalam kitab Al Kabir dari mu’qal bin Yasar
bahwa, salah seorang di antaramu yang di lukai kepalanya oleh jarum, itu
lebih baik dari pada memegang perempuan yang tidak dihalalkan untuknya.
Rasulullah S.A.W memperingatkan : ”ITTAQUU FITNATADDUN-YAA
WAFITNA-TANNISAA FA-INNA AWWALA FITNATI BANII ISRA-IILA
KAATAT MINQIBA-LINNISAA. ”
“Takutlah kalian terhadap fitnah dunia dan fitnah kaum wanita. Sebab
permulaan fitnah yang menimpa bani isra-il itu adalah kaum wanita”.
Rasulullah S.A.W bersabda:”WAMAA TARAKTU BA’DII FITNATAN
ADHARRU ‘ALARRIJAALI MINANNISAA”. (al hadits)
“Dan setelah masaku tidak ada fitnah yang lebih membahayakan terhadap
kaum lelaki ketimbang fitnah akibat perempuan”.
Kitab Uquudu Lujain Fii Bayaani Huquuzzaujaini
36
BAB 21
LARANGAN BERDUAAN DI TEMPAT YANG SUNYI
Tersebut dalam riwayat bahwa Rasulullah S.A.W bersabda : ”Takutlah kamu
dari menyepi (berduaan) dengan perempuan. Demi Dzat yang diriku berada
dalam kekuasaanNYA, tidaklah orang lelaki yang menyepi ber sama dengan
orang perempuan (yakni berpacaran), kecuali syethan menyusup di antara
mereka berdua. Sungguh seorang yang berdesak desakkan dengan babi
yang berlepotan lumpur itu jauh lebih baik dari pada berdesak
desakkan(bersenggolan)dengan pundak perempuan yang tidak halal
baginya”.
Rasulullah S.A.W bersabda:”Orang perempuan itu merupakan jerat-jeratnya
syethan (yakni perangkapnya), dan kalaulah bukan karena syahwat, tentu
kaum wanita tidak akan menguasai (menundukkan) kaum lelaki”. (al hadits)
Ada pepatah mengatakan “IDZAA QAAMA DZAKARUR RAJULI DZAHABA
TSULUUTSA ‘AQLIHI”Apabila kelamin lelaki bangkit maka hilanglah sepertiga
akalnya”.
KEWAJIBAN PEREMPUAN JIKA KELUAR
Kalaulah perempuan bermaksud keluar rumah, ia berkewajiban menutup
seluruh tubuhnya tampa kecuali termasuk kedua tangannya dari perhatian
orang banyak. Tidak hanya itu bahkan hendaknya ia menyamarkan diri dari
perhatian orang yang mungkin mengenalnya.
Jika seseorang kawan suaminya berkunjung, sementara suaminya tidak ada
di rumah, hendaknya dia tidak perlu bertanya panjang lebar. Hal itu di maksud
untuk memelihara diri dan suaminya. Demikian yang diungkapkan Imam
Ghazali dan beberapa imam lainnya.
Rasulullah S.A.W bersabda:”Sudah menjadi ketentuan bagi manusia bahwa
bagian bagian dari tubuhnya melakukan zina, hal itupasti did lakukan. Kedua
mata zinanya memandang, Kedua telinga zinanya mendengar, lisan zinanya
berbicara. Kedua tangan zinanya memaksa, kedua kaki zinanya berjalan, dan
hati zinanya menyenangi dan mengharap harap. Semmua itu di benarkan
oleh kelamin atau di dustakannya”. (riwayat Muslim dari Abu Hurairah)
Rasulullah S.A.W bersabda : ”Perkara apakah yang lebih baik bagi kaum
wanita?. Fathimah menjawab : ”Hendaknya ia tidak memandang kaum lelaki
dan lelaki tidak memandanginya. Kemudian Rasulullah S.A.W merangkul
Fathimah dna beliau bersabda:”Anak turun sebagian manusia dari sebagian
yang lain hendaknya saling menolong. Rasulullah S.A.W, merasa terharu
atas pendapat puterinya itu”.
Kitab Uquudu Lujain Fii Bayaani Huquuzzaujaini
37
PERILAKU KAUM WANITA DEWASA INI
Ketahuilah bahwa sebagian besar wanita dewasa ini telah kena penyakit
suka memperlilhatkan dandanannya secara berlebihan kepada kaum lelaki.
Mereka sedikit sekali mempunyai rasa malu. Kalau berjalan mereka suka
membuat buat, dengan melenggak lenggokkan pinggulnya. Kenyataaan itu
sering mereka perlihatkan di muka golongan kaum lelaki, baik sewaktu di
pasar atau bahkan ketika berjalan menuju masjid. terutama di waktu siang
atau malam hari di bawah cahaya lampu.
Ada yang mengatakan bahwa, apabila seorang perempuan perilakunya
menyimpan tiga perkara ini maka di namakan Qahbah(semacam biduan)
yang sangat buruk. Pertama, kalau perempuan itu keluar rumah diwaktu siang
hari dengan mengenakan dandanan yang berlebihan untuk di pamerkan
kepada kaum lelaki secara umum. Kedua, perempuan yang mempunyai
kebiasaan meperhatikan kaum lelaki lain. Ketiga, perempuan yang gemar
memperdengarkan suaranya di telinga orang lain, sekalipun perempuan itu
tergolong bisa menjaga kehormatannya. Karena dengan begitu dirinya
mempersamakan dengan perempuan yang tidak baik.
Tentang mempersamakan (penyerupaan itu) Rasulullah S.A.W
memperingatkan : ”MANTASABBAHA BIQAUMIN FAHUWA MINHU” “Barang
siapa yang membuat penyerupaan dengan suatu kaum maka dia termasuk
golongan mereka”.
Orang yang menyerupakan dirinya sebagai golongan orang shalih
(maksudnya bergaul dengan mereka), niscaya akan ikut di hormati,
sebagaimana orang yang shalih itu menerima penghormatan. Sebaliknya
orang yang bergaul dengan orang orang yang fasik, niscaya akan menjadi
sasaran cercaan. Yang berarti tidak akan dihormati oleh orang lain.
Perempuan hendaknya membersihkan diri dan memperhias perangainya
dengan sikap pemalu. Jangan sampai seorang perempuan berperangai yang
menyebabkan dirinya memperoleh predikat “Quhbah”.
Maka alangkah baiknya bagi perempuan yang mempunyairasa takut keada
Allah dan rasul-NYA, serta bagi orang orang yang mempunyai budi pekerti
yang tinggi, supaya mencegah isterinya(atau anak perempuannya)keluar
rumah dengan dandanan yang mencolok. larangan keluar rumah itu memang
tidak mutlak tanpa ada pengecualian dalam suatu waktu. Setidaknya
Rasulullah S.A.W memberi kelonggaran kepada kaum wanita pada hari raya.
Di hari raya itu, kaum wanita yang dapat menjaga kehormatannya di beri izin
keluar rumah, setelah mendapat keridhoan suaminya. Tetapi berdiam diri
tinggal di rumah itu lebih menyelamatkan diri dari godaan.
Hendaknya seorang perempuan jangan kemana-mana. Jangan keluar rumah
kecuali ada keperluan yang mendesak. Kalau keluar rumah hendaknya
menundukkan pandangannya dari kaum lelaki. Memang kami tidak
mengatakan bahwa wajah lelaki menurut haknya adalah aurat, sebagaimana
wajah perempuan menurut haknya. Tetapi wajah anak lelaki itu seperti wajah
anak lelaki yang tampan. Orang di haramkan memperhatikan wajah anak
Kitab Uquudu Lujain Fii Bayaani Huquuzzaujaini
38
lelaki yang tampan, jika dikhawatirkan timbulnya fitnah. Hanya itu. Kalau tidak
mengkhawatirkan terjadinya fitnah tidak di haramkan. Sebab, sejak semula
tidak ada perintah kepada kaum lelaki untuk menutup wajah. Sebagaimana
perintah yang di tekankan kepada kaum wanita supaya menutup wajahnya.
Sekiranya wajah kaum lelaki itu termasuk auratnya dalam pandangan kaum
perempuan niscaya mereka di perintah untuk menutup wajahnya, atau
bahkan dilarang keluar rumah kecuali ada kebutuhan yang mendesak.
Bagi kaum lelaki yang mempunyai tangggung jawab dalam rumahtangganya,
berkewajiban untuk menjaga orang orang perempuan yang berada di bawah
kekuasaanya. Terutama dizaman sekarang. Jangan sampai memberi
kelonggaran kepada mereka yang memungkinkan mereka melakukan
pelanggaran. Hendaknya mereka tidak diberi izin keluar rumah, kecuali
dimalam hari beserta muhrimnya, atau dengan perempuan lainnya yang
dapat di percaya. Pembantu saja belum cukup di percaya, jika tidak disertai
perempuan yang lain yang lebih dapat dipercaya. Sebab kelurusan amanat
yang di berikan kepada pembantu sangat jarang dilaksanakan.
Dalam sejarah, dimasa jahilliyah ada seeorang perempuan anak Taimilah bin
tsa’labah bekerja sebagai penjual samin. Suatu ketika Khawat bin Jubair Al
Anshari datang untuk membeli minyak samin. lalu mereka terlibat tawar
menawar. Perempuan itu membuka tali penutup wadah yang penuh berisi
samin.
Khawwat berkata:”Pegangi wadah ini, aku hendak melihat lihat wajah yang
lain”. Lalu Khawaat membuka wadah yang lain. Setelah dilihat, Ia berkata
:”Pegagi Wadah ini”.
Ketika perempuan itu sedang terlena dengan wadah wadah samin yang di
peganginya. tanpa terduga Khawat menubruk dirinya lalu berbuat yang tidak
senonoh hingga terlampiaskan keinginannya. Setelah melakukan perbuatan
itu Khawwat lari dan masuk Islam. Ia ikut perang badar.
Suatu hari Rasulullah S.A.W berkata kepadanya :”Hai khawwat, bagaimana
ceritanya ketika membeli samin”, Rasulullah S.A.W tersenyum.
Khawwat menjawab:”Wahai Rasulullah benar benar Allah telah melimpahkan
rezki pada saya, Rizki yang baik. Sekarang aku berlindung kepada Allah dari
kekurangan setelah mengalami penambahan”.
BAB 22
HIKAYAT
Ada sebuah keluarga yang sangat terpandang. Suatu hari keluarga itu
membeli seorang pembantu (budak) yang berkebangsaan hindi(Hindia).
Keluarga itu terus merawatnya dan akhirnya di ambil sebagai anak.
Setelah dewasa, ia jatuh cinta pada tuan puterinya, yang ketika itu telah
menjadi ibu angkatnya sendiri. Ia terus menerus menggoda ibu angkatnya,
Kitab Uquudu Lujain Fii Bayaani Huquuzzaujaini
39
dan ibunyapun melayani. Hingga suatu hari terjadilah hubungan layaknya
hubungan suami istri.
Ketika pembantu itu sedang asyik di atas dada ibu angkatnya, Tiba tiba ayah
angkatnya datang. Ia marah. Ia segera mengambil pisau, lalu di potongnya
kelamin anak angkatnya itu. Namun pada akhirnya Ia menyesal. Ia
membawanya ketabib untukdi obati.
Setelah sembuh si anak angkat itu tidak di usir. Ia tetap diberi kesempatan
tinggal di rumah orang tuanya yang telah menjadi orang tua angkatnya, tetapi
secara diam diam ia ( anak angkat ) itu mendendam, Ia menunggu
datangnya kesempatan untuk melakukan pembalasan.
Keluarga yang sangat terpandang itu sebenarnya mempunyai dua anak yang
sangat tampan. Salah satunya masih berusia anak-anak sedang yang
lainnya mendekati remaja. Suatu hari kedua anak itu hilang dibawa
pembantunya yang telah di angkat menjadi anaknya. Tanpa diketahui
keduanya dibawa naik ke atas loteng. Disana keduanya diajak bermain-main,
diperlakukan secara baik hingga tak ada kesan di sandera.
Hingga manakala orang tuanya telah kebingungan mencari, tanpa sengaja ia
mendongak keloteng. Disana anak-anak disandera anak hindi tadi. Ia
berteriak “Celaka benar Kau. Apakah engkau menghendaki kematian kedua
anakku?”
Bekas pembantunya menjawab:”Ya benar, Kedua anakmu mesti akan mati
kalau Kau tidak menuruti perintahku”. ”Apa kemauanmu?”, tanya orang yang
terpandang itu. ”Aku menghendaki supaya kamu memotong kelaminmu
sendiri”. Demi mendengar permintaan itu, Ia terperanjat bukan kepalang,
katanya, ”Takutlah kepada Allah, takutlah kamu. Bukankah dirimu telah
kupelihara. Hentikan perbuatan jahatmu itu”. Ia terus mengulang -ulang
permintaanya. Namun anak hindi itu tidak ambil peduli.
Ketika tuannya akan naik keatas loteng, sianak Hindi itu menyeret kedua
anaknya dibawa kepinggir loteng. Lelaki yang malang itu berteriak, ”Celaka
benar kamu !Tunggu sebentar. tentu aku akan menuruti tuntutanmu”. Ia pergi
sebentar lalu datang dengan membawa pisau. tanpa di minta lagi kelaminnya
di potongnya sendiri di depan mata si anak Hindi. setelah puas menyaksikan
dendamnya, si anak Hindi itupun mencampakkan kedua anak bekas
majikannya itu hingga tewas seketika. Apa katanya. ”Tuntutan memotong
kelamin sendiri itu adalah sebagai pembalasan atas perbuatanmu tempo hari
memotong kelaminku. Dan kematian kedua anakmu itu sebagai tambahan
atas kerugianku”.
Memperhatikan kisah tersebut, dapat di ambil pelajaran bahwa, bilamana
pembantu telah memasuki usia baligh hendaknya dilarang masuk kamar
majikannya. Sebab pada umumnya godaan mulai terjadi setelah memasuki
usia itu. Disamping menjaga keturunan itu termasuk perkara terpenting.
Kitab Uquudu Lujain Fii Bayaani Huquuzzaujaini
40
K E C E M B U R U A N
Rasulullah S.A.W bersabda : ”INNII LAGHAAYUURUN WAMAA MINIMRI-IN
LAA YAGHAARUILLAA MANKUUSUL QALBI”
Sesungguhnya aku ini pecemburu. setiap orang yang tidak mempunyai rasa
pecemburu, maka tidak lain kecuali orang itu berhati terbalik” (Al hadits)
Rasulullah S.A.W bersabda:”Sesungguhnya Allah S.W.T itu pecemburu, dan
orang mukmin itu hendaknya pecemburu. Kecemburuan Allah adalah jika ada
orang mukmin yang melakukan prbuatan yang diharamkan oleh Allah.
(Diriwayatkan oleh Ahmad, bukhari, muslim dan turmudzi dari abu hurairah)
Imam Ali Ra mengatakan, ”Apakah kalian tidak malu. Apa kalian tidak
cemburu membiarkan perempuan-perempuan(istri-istri)mu keluar ketengah
tengah kaum lelaki. Ia melihatnya dan mereka memperhatikan dirinya”.
Sebaliknya cemburu yang berlebihan juga tidak baik. Imam Ali Ra
mengatakan hal itu, ”Janganlah kamu berlebihan mencemburu. Sebab
dengan kecemburuan yang berlebihan itu sama artinya menuduh istrimu
berbuat buruk”.
Rasulullah S.A.W bersabda : ”Sesungguhnya di antara kecemburuan ada
yang di cintai Allah dan ada pula kecemburuan yang di benci Allah. Di antara
sikap berbangga diri ada yang di sukai Allah dan ada pula sikap berbangga
diri yang di murkai Allah. Adapun kecemburuan yang di sukai Allah adalah
kecemburuan (Dalam hal keragu-raguan). Kecemburuan yang di benci Allah
adalah kecemburuan di luar hal itu. Adapun sikap berbangga diri yang di
sukai Allah adalah keberbanggaan seseorang ketika maju kemedan
pertempuran di saat terjadinya bencana. Sikap keberbanggaan yang dibenci
Allah adalah dalam hal kebatilan”.
Di Era globalisasi dewasa ini, kalau ada perempuan keluar rumah maka
hampir di pastikan menjadi sasaran godaan kaum lelaki. Mungkin dengan
cara mengedipkan matanya atau disentuh. Ada pula yang sekedar di pegang
dan ada pula yang disindir dengan kata kata yang jorok yang tidak
mengenakan telinganya.
Yang terakhir itu tentu saja khusus bagi orang baik-baik dan orang sholehah
serta selalu menjaga kehormatannya. Ibnu Hajar mengatakan, jika seorang
perempuan (istri)bermaksud hendak keluar untuk menjenguk orang tua,
misalnya, sebenarnya tidak dilarang. Tetapi terlebih dulu harus memperoleh
izin dari suaminya. yang perlu diperhatikan pula, hendaknyaketika keluar
jangan memamerkan perhiasan dan dandanannya. Sebaiknya bahkan dirinya
dianjurkan agar berdandan sebagaimana seorang pelayan yang kotor
tubuhnya.
Pakaian yang dikenakannya tidak perlu bagus, melainkan pakaian yang
sederhana. Pandangan hendaknya dijaga, di tundukkan sepanjang jalan.
Tidak perlu tengok kanan dan kiri. Kalau tidak begitu justru akan membuka
kesempatan untuk melakukan kemaksiatan kepada Allah, Rasul-NYA dan
kemaksiatan kepada suaminya.
Kitab Uquudu Lujain Fii Bayaani Huquuzzaujaini
41
BAB 23
KISAH
Dikisahkan ada seorang perempuan yang gemar memamerkan dandanannya
di depan kaum lelaki. Ia mati. Hingga suatu malam di antara saudaranya ada
yang bermimpi melihat dirinya di hadirkan kehadapan Allah dengan
mengenakan busana yang sangat tipis. Saat itu angin bertiup menerpa
busananya, tersingkaplah busananya. Allah berpaling tidak sudi
memperhatikannya. Allah berfirman:”Seret dia ke NERAKA ………………!!!
Sesungguhnya perempuan itu termasuk orang yang suka memamerkan
dandanannya sewaktu di dunia.
Ketika suami rabi’ah Adawiyah mati, beberapa waktu kemudian Hasan Al
Basri dan kawan kawannya datang menghadap Rabi’ah. Mereka meminta izin
di perkenankan masuk, mereka di perkenankan masuk. Rabi’ah segera
mengenakan cadarnya, dan mengambil tempat duduk di balik tabir.
Hasan AlBasri mewakili kawan kawannya mengutarakan maksud
kedatangannya. Ia berkata : ”Suamimu telah tiada, sekarang Kau sendirian.
Kalau kmu menghendaki silahkan memilih salah seorang dari kami. Mereka
ini orang orang yang ahli zuhud”.
Jawab Rabi’ah Adawiyah:”ya, aku suka saja mendapat kemuliyaan ini. Namun
aku hendak menguji kalian, siapa yang paling ‘alim(pandai) diantara kalian
itulah yang menjadi suamiku”.
Hasan Al Basri dan kawan kawannya menyanggupi. Kemudian Rabi’ah
Adawiyah bertanya: ”Jawablah empat pertanyaanku ini kalau bisa aku siap di
peristri oleh kamu”.
Hasan Al Basri berkata :”Silahkan bertanya, kalau Allah memberi pertolongan
aku mampu menjawab tentu aku jawab”.
“Bagaimana pendapatmu kalau aku mati kelak, kematianku dalam muslim
(husnul khatimah) atau dalam keadaan kafir(suul khatimah)”. kata Rabi’ah
bertanya.
Jawab Hasan Al basri : ”Yang kau tanyakan itu hal yang ghaib, mana aku
tahu. . ”.
“Bagaimana pendapatmu, kalau nanti aku sudah di masukkan kedalam kubur
dan mungkar-nakir bertanya kepadaku, apakah aku sanggup menjawab atau
tidak. . ”
“Itu persoalan ghaib lagi”. Jawab Hasan Al Basri.
“Kalau seluruh manusia di giring di MAUQIF (padang mahsyar) pada hari
kiamat kelak, dan buku buku catatan amal yang dilakukan oleh malaikat
HAFAZHAH beterbangan dari tempat penyimpanannya di bawah ‘arsy.
Kemudian buku buku catatan itu di berikan kepada pemiliknya. Sebagian ada
yang melalui tangan kanan saat menerima dan sebagian lagi ada yang lewat
tangan kiri dalam menerimanya. Apakah aku termasuk orang yang
menerimanya dengan tangan kanan atau tangan kiri. . ?, tanya Rabi’ah.
“Lagi lagi yang kau tanyakan hal yang ghaib”, jawab Hasan Al Basri.
Kitab Uquudu Lujain Fii Bayaani Huquuzzaujaini
42
Tanya Rabi’ah sekali lagi:”Manakala pada hari kiamat terdengar
pengumuman bahwa, sebagian manusia masuk surga dan sebagian yang
lain masuk neraka, apakah aku termasuk ahli syurga atau ahli neraka. . ?”.
“Pertanyaanmu yang ini juga termasuk persoalan yang ghaib”, jawab Hasan
Al basri.
Rabi’ah berkata :”Bagaimana orang yang mempunyai perhatian kuat terhadap
empat persoalan itu masih sempat mamikirkan nikah. . ?”.
Coba perhatikanlah kisah dialog tersebut. Betapa besar perasaan takut
Rabi’ah Adawiyah terhadap persoalan itu. Kendati ia seorang sholehah.
namun masih diikuti perasaan takut yang luar biasa jika akhir hayatnya tidak
baik.
Diceritakan bahwa, Rabi’ah Adawiyah itu mempunyai tingkah laku yang
berubah ubah. Suatu ketika perasaan cintanya kepada Allah begitu berat,
hingga ia tidak sempat lagi berbuat apa-apa. Diwaktu lain ia kelihatan tenang
nampak seperti tidak ada masalah, dan lain waktu ia kelihatan sangat takut
dan cemas.
Suaminya menceritakan, suatu hari aku duduk sambil menikmati makanan.
Sementara ia duduk di sampingku dalam keadaan termenung lantaran di
hantui peristiwa kiamat.
Aku berkata :”Biarkan aku sendirian menikmati makanan ini”.
Ia menjawab aku dan dirimu itu bukanlah termasuk orang yang dibuat susah
dalam menyantap makanan, lantaran mengingat akherat”. Lebih lanjut Ia
berkata:”Demi Allah, sesungguhnya bukanlah aku mencintaimu seperti
kecintaannya orang yang bersuami istri pada umumnya. hanyalah
kecintaanku padamu sebagaimana kecintaan orang yang bersahabat”.
Kalau Rabi’ah Adawiyah memasak makanan, Ia berkata:”Majikanku,
makanlah masakan itu. Karena tidak patut bagi badanku kecuali membaca
tasbih saja”. (yang di maksud majikan adalah suami dari Rabi’ah Adawiyah
sendiri).
Hingga suatu hari Rabi’ah berkata pada suaminya:”Tinggalkan diriku, silahkan
kamu menikah lagi”. Hal itu dikatakan ketika suaminya masih hidup. Maka
Aku (suaminya)pun menikah lagi dengan tiga orang perempuan. Saat itu
Rabi’ah masih setia melayani keperluan suaminya, termasuk memasakkan
makanan. Suatu hari Rabi’ah Adawiyah memasakkan daging untuk suaminya,
Ia berkata:”Tinggalkanlah diriku dengan membawa kekuatan yang baru
menujuistri-istrimu yang lain”.
Dikisahkan bahwa Rabi’ah Adawiyah juga mempunyai sahabat sahabat yang
lain dari bangsa jin, yang sanggup mendatangkan apa saja yang di
kehendakinya. Wali perempuan ini dalam kehidupannya dikenal pula
mempunyai berbagai kekeramatan hingga wafatnya. Di antara
kekeramatannya adalah bahwa pada suatu malam ada pencuri masuk
menjarahi isi rumahnya. Ia sendiri masih terlelap tidur. Ketika pencuri itu
hendak keluar dengan menjinjing barang-barang yang telah di kemasi,
Kitab Uquudu Lujain Fii Bayaani Huquuzzaujaini
43
mendadak pintu rumahnya hilang semua. Pencuri itu lalu duduk disamping
pintu yang di pandang semula belum lenyap. Tiba tiba saat itu terdengar
suara halus menyapanya:”Letaakkan barang -barang yanga kau kemasi.
Keluarlah dari pintu ini”.
Ia pun segera meletakkan barang-barang yang telah dikemasi. Mendadak
pintu itu kelihatan lagi. Begitu ia melihat pintu maka ia segera menyambar lagi
barang-barang hasil curian tadi. Tiba-tiba pintu itu hilang lagi seketika ia
letakkan lagi barang hasil jarahannya. Pintu kelihatan lagi. Ia mengambil
kembali barang haasil jarahannya. Pintu hilang lagi. Dan begitu seterusnya.
Tiba-tiba terdengar lagi suara lembut menyapa :”Kalau Rabi’ah adawiyah
tertidur, Tetapi Allah tidak tertidur dan tidak pula terserang rasa kantuk”, maka
ia pun sadar. barang barang yang di kemasinya pun Ia tinggalkan, lalu ia pun
keluar melalui pintu tadi.
BAB 24
TANDA-TANDA ISTRI YANG SHALEHAH
Diantara tanda-tanda istri yang shalehah adalah, bilamana ia melakukan
kesalahan terhadap suaminya, ia menyesal sekali dan segera meminta maaf
dan memohon keridhoannya. Kesalahan itu ia sesali dan ia tangisi sepanjang
hari, karena takut mendapat siksa dari Allah.
Tanda-tanda yang lain adalah misalnya, ia melihat suaminya sedang diliputi
perasaan duka dan sedih, Maka ia menghibur, ”Kalau yang kamu sedihkan
berhubungan dengan urusan akherat, sesungguhnya hal itu sangat
menguntungkan bagimu, tetapi jika yang kau sedihkan berhubungan dengan
urusan dunia, sama sekali aku tidak membebanimu dengan perkara yang
berat.
K I S A H
Dikisahkan bahwa Rabi’ah binti Isma’il Asy Syamsiah, Seorang istri Ahmad
bin Abu Al huwari, suatu hari memasak makanan yang enak. Masakan itu di
beri campuran aroma yang harum. Suami Rabi’ah juga mempunyai istri yang
lain. Setelah masak dan menyantap makanan itu, Rabi’ah berkata pada
suaminya:”pergilah kamu keistri yang lain dengan tenaga yang baru”.
Rabi’ah yang satu ini memang mirip dengan rabi’ah Adawiyah yang
berdomisili di bashrah. Rabi’ah Asy Syamsiah ini setelah menunaikan shalat
‘isya ia berdandan lengkap dengan busananya. Setelah itu baru mendekati
tempat tidur suaminya. Ia tawarkan pada suaminya, ”Apakah malam ini kamu
membutuhkan kehadiranku atau tidak”. Jika suaminya sedang berhasrat
untuk menggaulinya, maka ia melayaninya hingga puas. kalau malam itu
suaminya sedang tidak berminat menggaulinya, maka ia menukar pakaian
yang ia kenakan tadi dan berganti dengan pakaian lain yang di gunakan untuk
beribadah. malam itu ia tenggelam di tempat shalatnya hingga subuh.
Kitab Uquudu Lujain Fii Bayaani Huquuzzaujaini
44
Rabi’ah binti Isma’il Asy Syamsiah bersuamikan Ahmad bin Abu huwar itu
memang dikehendaki Rabi’ah sendiri. Ia pula yang pertama-tama melamar
syeikh Ahmad supaya berkenan memperistri dirinya.
Ceritanya demikian, Rabi’ah binti Ismail itu semula mempunyai suami yang
kaya. Setelah kematiannyaIa memperoleh harta waris yang sangat besar. Ia
kesulitan menafkahkan harta itu, Mengingat ia seorang perempuan yang
terbata gerakannya. maka ia bermaksud melamar syeikh Ahmad, dengan
tujuan agar dapat menasarufkan (menghibahkan) hartanya demi kepentingan
islam dan di berikan kepada orang orang yang membutuhkan. yang
deemikian itu karena Rabi’ah binti Ismail memandang syeikh Ahmad sebagai
orang yang dapat menjalankan amanat, sedang Rabi’ah sendiri seorang yang
adil.
Ketika mendapat lamaran dari Rabi’ah syeikh Ahmad berkat :”Demi Allah,
sesungguhnya aku tidak berminat lagi untuk menikah. Sebab aku ingin
berkonsentrasi untuk beribadah”.
Rabi’ah menjawab :”Syeikh Ahmad, sesungguhnnya kosentrasiku dalam
beribadah adalah lebih tinggi dari pada kamu. Aku sendiri sudah memutuskan
untuk tidak menikah lagi. tetapi tujuanku menikah kali ini tidak lain adalah
agar dapat menasarufkan harta kekayaan yang kumiliki kepada saudarasaudara
yang muslim, Dan untuk kepentingan islam sendiri. Akupun mengerti
bahwa engkau itu orang yang shalih, tapi justru dengan begitu aku akan
memperoleh keridhoan dari Allah S.W.T”.
Syeikh Ahmad berkata :”Baiklah, tapi aku minta waktu, Aku hendak meminta
izin dari Guruku”. Lalu syeikh Ahmad mengahadap gurunya, yakni Syeikh Abu
Sulaiman AD Darani. Sebab gurunya itu dulu pernah melarang dirinya untuk
menikah lagi. Katanya:”Setiap orang yang menikah, sedikit atau banyak pasti
akan terjadi perobahan atas dirinya”.
Tetapi setelah Abu Sulaiman mendapat penjelasan dari muridnya mengenai
rencana Rabi’ah, ia berkata:”kalau begitu Nikahilah Ia. Karena perempuan itu
seorang wali”.
Kisah kisah yang serupa seperti kisah Rabi’ah Adawiyah itu sesunggguhnya
cukup banyak. lazimnya terjadi pada masa lalu, tetapi untuk masa sekarang,
hampir tidak pernah di jumpai, adanya seorang wanita yang bertingkah baik
seperti mereka.
K I S A H
Di kisahkan ada seorang pandai besi yang mempunyai keajaiban luar biasa.
kalau ia memanggang besi didalam bara api tangannya tidak kepanasan
sekalipun saat mengambilnya menggunakan tangannya secara telanjang.
Ketika itu ada seorang yang tergerak hatinya bermaksud menyaksikan
keajaiban itu. Apakah benar ataukah sekedar berita bohong. Hingga suatu
Kitab Uquudu Lujain Fii Bayaani Huquuzzaujaini
45
hari orang tersebut datang kerumah si pandai besi. Ia bertanya tentang berita
itu. Setelah melihat sendiri Ia memandangi dengan penuh kekaguman.
Setelah pandai besi itu menyelesaikan pekerjaannya, lelaki tadi memberi
salam. pandai besi menjawab. Lalu kata lelaki tadi:”Malam ini aku menjadi
tamumu, kamu tidak keberatan bukan?’
Sipandai besi menjawab:”Dengan suka hati aku menerima kehadiranmu”.
Lelaki tadi diajak masuk kerumah. hingga setelah makan malam tiba ia
disuguhi makan malam. Selesai makan hingga menjelang tidur lelaki itu tidak
menjumpai suatu kelebihan di lakukan si pandai besi. Ibadah fardunya hanya
seperti itu. Ia tidur malah hingga subuh. Dalam hati ia berkata: ”Barangkali
malam ini ia sengaja merahasiakan ibadahnya”. Lelaki tadi meminta izin agar
di perbolehkan bermalam untuk yang kedua kalinya. Ia mencoba
memperhatikan amaliyahnya. Ternyata tidak ada kelebihannya dalam
menjalankan kewajiban dan kesunahan beribadah.
Akhirnya lelaki itu berkata : ”Sudah seringkali aku mendengar, betapa besar
Allah memuliakan dirimu. Kebetulan aku sendiri juga menyaksikan
kekeramatanmu itu. Tetapi setelah aku perhatikan secara lahiriyah ternyata
tidak ada kelebihan yang aku jumpai dalam ibadah fardu atau sunnahmu.
Kalau begitu dari manakah tingkatan itu kamu peroleh?”.
Sipandai besi itu menjawab :”Saudaraku, sesungguhnya akukisah yang
sangat menarik. ceritanya begini, Aku bertetangga dengan seorang
perempuan yang sangat cantik sekali. Aku cinta sekali padanya. Setiap saat
aku menggoda dan merayunya supaya mau memenuhi keinginanku. Namun
sejauh itu aku tidak dapat menundukkan dirinya. Rupanya Ia perempuan ahli
wara’ yang sangat bagus segalanya.
Bulan demi bulan terus bergulir, hingga tibalah masa paceklik, makanan sulit
diperoleh. Kelaparan merata dimana-mana. Suatu hari ketika aku sedang
menikmati udara dirumah, tiba-tiba pintu rumahku diketuk oleh seseorang.
Aku keluar utuk melihat siapa yang datang. ternyata perempuan yang cantik
itu yang datang. Ia berdiri didepan pintu, katanya:”Tuan aku ini sedang
kelaparan, Apa ada makanan yang bisa tuan berikan
kepadaku?”Jawabku:”Apa kau tidak merasa bahwa aku sangat mencintaimu?.
Aku tidak akan memberi makanan kecuali kau bersedia menyerahkan dirimu
padaku”.
Sesungguhnya aku takut menghadapi bahaya dalam kematian. Aku telah
berjanji untuk tidak berma’syiat kepada Allah”. Lalu Ia kembali.
Dua hari kemudian Ia datang lagi. Ia meminta makanan seperti yang
dikatakan tempo hari. Aku juga memberi jawaban seperti jawabanku yang
kemarin. Saat itu tubuhnya kelihatan sangat kusut dan rusak. Ia masuk dan
duduk didalam rumah. Aku menyodorkan makanan didepannya. Tiba-tiba
airmata perempuan cantik itu terus mengalir deras seraya berkata:”Apakah
makanan ini Kau berikan semata hanya karena Allah?”
Kitab Uquudu Lujain Fii Bayaani Huquuzzaujaini
46
Aku menjawab:”Aku berikan makanan itu agar kau bersedia menyerahkan
dirimu kepadaku”. Ia bangkit dan meninggalkan makanan itu tanpa
menjamahnya sedikitpun. Ia terus melangkah keluar rumah menuju rumahnya
sendiri, yang berada tak jauh dari rumahku.
Dua hari kemudian ia datang lagi. Ia mengetuk pintu sambil berdiri didepan
pintu, Kulihat tubuhnya kian kurus kering. Suaranya terbata-bata.
Punggunbgnya membungkuk karena menahan lapar.
Ia berkata :”Tuan aku telah merasa kesulitan, untuk mencari makanan, dan
aku tak sanggup lagi untuk berjalan jauh untuk mencari makanan kecuali
kepada tuan. Apakah tuan punya makanan yang bisa diberikan kepadaku
ikhlas karena Allah?”
Ya tentu ada kalau kamu bersedia menyerahkan dirimu kepadaku”. Ia
kemudian menundukkan wajah beberapa saat, ia masuk dan duduk didalam.
Saat itu aku benar benar tidak mempunyai makanan yang dapat kuberikan
untuknya. Maka aku segera menghidupkan api untuk memasak makanan
untuknya.
Setelah masak dan makanan kuletakkan didepannya tiba-tiba aku tersadar
memperoleh petunjuk Allah. Dalam hati aku berkata:”Hai rusak amat diriku ini,
sesungguhnya perempuan ini termasuk orang yang di beri akal sedikit dan
begitu pula ketaatannya pada agamanya. Ia tidak mampu mencari mana dan
sudah berulang kali merasakan betapa pedihnya kelaparan. Tetapi kamu
tidak mau menahan kemaksiatan, padahal ia dapat mencegah kemaksiatan
tanpa mau menyentuh makanan, jika diberikan dengan syarat”.
Kemudian aku berdoa kepada Allah : ”Wahai Allah sesungguhnya aku
sekarang bertaubat kepada-MU atas segala perbuatanku. Aku berjanji tidak
akanmendekati lagi kepada perempuan itu untuk bermaksiat”.
Aku dekati dia yang masih terpaku didepan makanan. Aku berkata:Sekarang
makanlah, Kamu tidak perlu khawatir bahwa aku akan meminta
persyaratanitu. Kuberikan itu hanya karena Allah”.
Begitu mendengar ucapanku itu, ia mengangkat wajahnya kelangit seraya
berucap:”Wahai Allah, jika ucapannya itu benar, hindarkanlah dirinya dari api
dunia dan api akhirat”. Lalu perempuan cantik itu ku biarkan menyantap
makanan. Aku sendiri berkemas dari hadapannya untuk memadamkan api.
Tanpa sengaja sebuah bara api jatuh mengenai kakiku. Ternyata tidak
melepuh. Aku kembali lagi menjumpainya dengan penuh kegembiraan. Aku
berkata:”Bergembiralah kamu, sesungguhnya Allah telah mengabulkan
doamu”.
Lalu Ia buang sesuap makanan yang masih ada di tangannya. Ia bersujud
syukur seraya berucap : ”Wahai Allah sesungguhnya Engkau telah
memperlihatkan kepadaku apa yang kuhendaki terhadap lelaki ini. Maka
cabutlah ruhku sekarang juga”. Selesai berucap begitu, perempuan cantik itu
mati dalam keadaan masih bersujud. Demikianlah ceritaku, saudara”.
Wallaahu a’lam
Kitab Uquudu Lujain Fii Bayaani Huquuzzaujaini
47
BAB 25
K I S A H
Ada seseorang perempuan keluar rumah dengan tujuan untuk memperoleh
pelajaran islam dari Nabi S.A.W bersama para sahabat lain. Di pertengahan
ada seorang lelaki yang masih muda melihatnya, Ia bertanya:”Hai perempuan
yang mulia, hendak kemana kamu?”. Ia menjawab:”Aku hendak menghadap
Rasulullah S.A.W untuk mendapatkan pengajaran dari beliau”. Balas pemuda
:”Apakah dirimu cinta benar terhadap nabi S.A.W?”. Ia menjawab:”Ya, Aku
sangat mencintainya”. ”Kalau kamu benar-benar cinta kepada Rasulullah aku
minta supaya engkau membuka cadarmu, agar aku bisa melihat wajahmu”.
Manakala anak muda itu bersumpah-sumpah demi kecintaan perempuan itu
kepada Rasulullah S.A.W, maka perempuan itu tadi membuka cadarnya,
Anak muda itu dapat melihat dengan jelas wajahnya.
Setelah kembali dari pelajaran agama, perempuan itu tadi memberi tahu pada
suaminya tentang peristiwa yang di alaminya bersama seorang pemuda,
ketika suaminya mendengar penuturan cerita istrinya maka hatinya
bimbang:”Hal itu perlu di uji kebenarannya. Agar aku puas dan jelas
persoalannya”.
Lalu suami perempuan itu membuat perapian yang sangat besar dimasukkan
kedalam tungku. Tungku itu biasanya di gunakan untuk memasak roti, yang
menyerupai sebuah kentongan. Suami perempuan itu menunggu beberapa
saat agar api membesar.
Ketika jilatan api telah membesar maka suaminya berkata:”Demi Kebenaran
Rasulullah S.A.W, masuklah kamu kedalam tungku itu!”.
Begitu istrinya mendengar suaminya bersumpahyang meminta dirinya agar
masuk kedalam tungku yang membara, tanpa ragu ia masuk kedalamnya. Ia
tidak memperdulikan lagi nyawanya demi kecintaannya kepada Rasulullah
S.A.W.
Manakala suami perempuan itu melihat isterinya benar benar masuk kedalam
tungku dan lenyap di selimuti jilatan api, timbullah penyesalan di dalam
hatinya. ia menyadari behwa apa yang di katakan itu benar, maka suami
perempuan itu tadi menghadap Rasulullah S.A.W. Ia menceritakan kejadian
yang berlangsung. Nabi S.A.W bersabda:”kembalilah. Bongkarlah tungku itu”.
Ia segera kembali dan membongkar tungku itu yang masih padas, ternyata di
balik tungku itu ia menemukan istriny a dalamkeadaan selamat tanpa kurang
suatu apapun. Hanya sekujur tubuhnya basah oleh keringatnya sendiri,
bagaikan orang yang sedang mandi air panas.
Wahai Allah, Jadikanlah kebaikan kepada kami, keluarga kami, anak cucu
kami dan segenap kaum muslimin. Segala puji bagi-Mu ya Allah, Tuhan
semesta Alam. Segala puji bagi Allah, Dzat yang telah menyempurnakan
berbagai kebaikkan dengan nikmat-Nya, dan dengan anugerah-Nya kita
berbahagia memperoleh syorga.
Kitab Uquudu Lujain Fii Bayaani Huquuzzaujaini
48
Shalawat dan salam selalu terlimpahkan kepada junjungan Kita Nabi
Muhammad S.A.W, dan semoga terlimpahkan pula kapada keluarga,
sahabat, dan istri-istrinya selama masih ada langit dan bumi.
Segala puji bagi Allah sendiri-Nya. Tidak ada daya dan kekuatan selain
dengan daya dan kekuatan Allah Yang Maha Tinggi lagi Besar. Cukuplah
Allah menjadi penolong kita dan memberi kenikmatan kepada kita……. .
Amiin