Dengan wajah sayu, lelaki paruh baya itu melangkah gontai ke masjid jamik Basrah ‘tuk menghadiri Salat Jumat. Wajahnya tidak dapat menyembunyikan gejolak batin yang sedang menderanya. Lima belas hari sudah ia menyendiri di rumahnya yang sederhana. Usai pelaksanaan salat, dengan langkah tegap penuh keyakinan, ia menaiki mimbar masjid. Ia pandangi seluruh penjuru masjid, lalu dengan lantang ia berkata, “aku bertobat atas apa yang telah aku yakini selama ini. Dan, aku nyatakan keluar dari Mu‘tazilah seperti halnya aku lepas baju ini!” serentak ia mencopot baju yang ia kenakan. Kontan seluruh hadirin kaget. Betapa tidak, lelaki yang berdiri di depan mereka itulah yang digadang-gadang menjadi salah satu generasi emas kelompok Mu‘tazilah (Rasionalis) kala itu. Tak pelak, keputusan mengejutkan ini menjadi topik hangat setiap pembicaraan di seluruh sudut kota Basrah. Penduduk Basrah pun mulai mencoba mereka-reka alasan lelaki itu hengkang dari kelompok ini. Mereka semua mafhum kalau sejak kecil, ia memang dipersiapkan untuk membentengi kelompok rasionalis ini. Tak ada yang mengira kalau lelaki hebat ini kelak justru menyerang dan membleteti ajaran-ajaran kelompok yang membesarkannya.

Keturunan Abu Musa al-Asy‘ari

Lelaki yang bernama lengkap Ali bin Ismail bin Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abi Musa al-Asy‘ari ini dilahirkan di Basrah pada tahun 260 H.
Namanya dinisbatkan pada Abu Musa al-Asy‘ari, seorang Sahabat Nabi yang juga salah satu juru runding kubu Ali bin Abi Thalib dalam perundingan Ali-Muawiyah usai perang Shiffin.
Sejak kecil, ia memang dikenal cerdas dan terampil. Pada awalnya, ia adalah pengikut setia aliran Mu‘tazilah. Ia berguru pada Abu Ali al-Jubba’i, seorang pemimpin Mu‘tazilah di Basrah. Ia mempelajari aliran ini hingga mencapai tingkatan atas dalam mengkaji ajarannya. Hingga tak jarang ia menggantikan guru-gurunya untuk memberi ceramah dan menghadiri perdebatan-perdebatan ilmiah. Pada masa itu ia banyak mengarang kitab yang membela dan mem-back-up ajaran Mu‘tazilah. Aktifitas itu ia lakukan hingga umur 40 tahun.
Untuk membekali ilmu agamanya, ia belajar fikh pada Abu Ishaq al-Marwazi. Yang kelak gurunya ini belajar Ilmu Kalam kepadanya.
Spekulasi Perpindahan dari Mu‘tazilah

Setelah 40 tahun menganut aliran Mu‘tazilah, ia akhirnya hengkang dari kelompok itu. Banyak kalangan yang mulai menebak-nebak alasan al-Asy‘ari. Ada beberapa opini publik yang mengemuka kala itu tentang alasan al-Asy‘ari menarik diri dari Mu‘tazilah. Di antaranya, 1) beliau bermimpi bertemu Nabi Muhammad saw. Dalam mimpinya Nabi memerintahkannya untuk kembali ke aliran yang sesuai dengan sunnah Nabi; 2) al-Asy‘ari tidak puas terhadap jawaban dan penjelasan gurunya, al-Jubba’i, dalam berbagai perdebatan tentang masalah keagamaan; 3) dia menilai bahwa ajaran Mu‘tazilah tidak dapat diterima oleh mayoritas umat Islam yang cenderung memilih sederhana dalam pemikiran; 4) al-Asy‘ari kalah bersaing dengan Abu Hasyim (putra al-Jubba’i) untuk menggantikan posisi al-Jubba’i sebagai tokoh Mu‘tazilah di Basrah.

Keilmuannya Setelah Beralih Madzhab

Setelah mengubah jalur akidahnya, ia mulai mengajar di masjid jamik Basrah. Tak hanya mengajar, ia juga menjawab semua permasalahan akidah yang datang dari berbagai pelosok daerah. Ia juga kembali menulis beberapa kitab. Sebanyak 55 judul kitab yang sudah ia karang. Semua karangannya ia kupas tuntas dalam kitabnya, al-Amd. Ia juga membantah teori-teori Aristoteles dalam kitabnya al-Samâ’ wa al-‘Âlam.
Lewat beberapa kitabnya, ia menentang tokoh-tokoh Mu‘tazilah seperti al-Jubba’i, al-Balkhi, al-Iskafi, Abi al-Hazil, Abi Hasyim, Wara’, dan lainnya. Bahkan ia mengarang kitab yang mengkritik dirinya sendiri ketika masih beraliran Mu‘tazilah.
Selain itu, Ia juga dikenal sebagai seorang sejarawan tentang perkembangan akidah Islam. Kemampuannya dalam mengurai sejarah bisa dilihat dalam kitabnya, Maqâlât al-Islâmîyîn. Yang cukup mengagumkan, ia juga seorang yang punya kemampuan di bidang fikih. Karya fikihnya antara lain, al-Qiyâs dan al-Ijtihâd. Ia juga meluangkan waktunya untuk mengarang tafsir yang konon ia karang ketika masih beraliran Mu‘tazilah. Dia sering berdebat melawan ulama-ulama Mu‘tazilah mengenai teori-teori Mu‘tazilah. Dalam berdebat, ia menggunakan senjata yang digunakan Mu‘tazilah, yaitu akal (rasio). Satu pendekatan ilmiah yang tidak disukai madzhab Hanbali. Jika melihat arah pemikirannya, sejatinya ia mengambil jalan moderat antara dua sisi ekstrem; Mu‘tazilah dan pengikut Ahmad bin Hanbal.
Bahkan dalam satu kesempatan, ia mengaku sebagai pengikut setia Ibnu Hanbal. Dalam salah satu tulisannya, ia berkata, “Ucapan kami yang terucapkan dan agama yang kami anut berpegang teguh pada Kitabullah, sunnah Nabi-Nya, riwayat Sahabat, Tabi’in, dan ahli Hadis. Kami sangat memegang teguh hal-hal tersebut, serta apa yang disampaikan Ibnu Hanbal. Orang-orang yang menentang pendapatnya menjauh, karena dia adalah imam yang memiliki kelebihan, kesempurnaan, dan diberi kebenaran oleh Allah ketika muncul kesesatan”

Pokok-Pokok Pemikiran Al-Asy‘ari

1.Membenarkan teori Mu‘tazilah tentang berbagai istilah dalam al-Quran seperti Yadul-lâh dan Wajhul-lâh yang menurutnya tidak harus digambarkan bahwa Allah memiliki tangan dan wajah.
2.Menentang Mu‘tazilah yang berpendapat bahwa al-Quran adalah makhluk. Al-Asy‘ari sendiri dengan lantang menegaskan kalau kalamullah itu qadîm. Dengan menyodorkan dalil naqlî dan ‘aqlî dalam kitabnya, al-Luma‘ fî al-Radd ‘alâ Ahl al-Ziyâgh wa al-bida‘ dan al-Ibânah ‘an Ushûl al-Diyânah.
3.Menentang Mu‘tazilah yang berpandangan bahwa manusia bebas melakukan perbuatan yang diinginkannya (Jabariah/Fatalisme). Sedangkan menurutnya, semua perbuatan baik dan buruk bergantung kepada kehendak Allah yang menciptakan semua perbuatan hamba-Nya.
4.Menentang Mu‘tazilah yang berpendapat bahwa orang Islam yang melakukan dosa besar tidak lagi mukmin dan juga bukan orang kafir. Menurut al-Asy‘ari, ia berada di tengah-tengah antara keduanya. Artinya, Ia tetap muslim tapi diancam dengan siksa neraka.
5.Dalam pandangan al-Asy‘ari, akal tidak memiliki kedudukan seperti yang diyakini Mu‘tazilah. Kelompok ini berpendapat bahwa kekuatan akal sanggup membedakan antara hal yang baik dan yang buruk. Sedangkan menurutnya, wahyu adalah satu-satunya perangkat untuk mengetahui Allah dan syariat-Nya. Akal hanya berguna untuk mengetahui saja, tidak lebih.

Penganut Ajarannya

Pemikiran-pemikiran al-Asy‘ari banyak diterima oleh semua lapisan umat Islam, karena sederhana dan tidak terpengaruh filsafat. Perkembangan alirannya sangat pesat. Hal itu disebabkan dukungan dari pemerintah dinasti Abbasyiah. Terutama pada masa kekuasaan al-Mutawakkil. Kemampuan al-Asy‘ari dalam mempertahankan pendapatnya dari serangan lawan juga membantu penyebaran ajarannya.
Pengikut al-Asy‘ari (lebih dikenal dengan sebutan al-Asyâ‘irah) mengalami tekanan keras pada zaman Buwayhi yang menganut Mu‘tazilah dan Syi‘ah. Namun, dengan kedatangan Bani Saljuk, komunitas ini kembali mendapat dukungan kuat dari pemerintah. Salah satunya dukungan dari menteri yang terkenal kala itu, Nizham al-Mulk (1063-1092). Pendapat-pendapat al-Asy‘ari banyak mendapat dukungan dari tokoh-tokoh besar Islam semisal, al-Ghazali, Abu Bakar Muhammad al-Baqillani, al-Isfirayaini, al-Qusyairi, al-Juwaini, dan as-Sanusi. Bahkan, dalam Ihya’, al-Ghazali menulis, “Jika anda mendapati kata ahlussunnah wal Jamaah, maka yang dimaksud adalah pengikut al-Asy‘ari dan al-Maturidi.”

Wafat

Setelah berjuang keras mempertahankan pendapat-pendapatnya, akhirnya pada tahun 324 H, ia meninggal dunia dan dimakamkan di Baghdad. Pusaranya berdekatan dengan pusara Imam Ahmad. Setelah meninggal, banyak yang memperdebatkan perihal mazhab fikihnya. Tapi dalam kitab al-Thabaqât ditegaskan bahwa al-Asy‘ari adalah bermadzhab Syafii.

Ya Allah, curahkan dan limpahkanlah keridhoan atasnya dan anugerahilah kami dengan rahasia-rahasia yang Engkau simpan padanya, Amin