QIBLAT SUFI
Oleh: Drs. P.M. Gunawan Nst.

http://www.tasawufislam.blogspot.com: Sufi adalah kaum muslimin yang berupaya mensucikan dirinya dari segala dosa dan kesalahan masa lalu, sekarang dan yang akan datang, baik secara zhohir maupun batin, dengan memilih jalan zuhud dan kerendahan hati, sehingga terdelete semua sifat-sifat buruk dari dalam dirinya dan terisi dirinya dengan sifat-sifat kebajikan, maka dengan itu pulalah terbuka pintu hijab antara dirinya dengan Allah Subhanahu Wa ta’ala.

Bukanlah sufi jika merunduk sujud di depan para benda, tumbuhan, makhluk hidup dan makhluk mati. Para sufi hanya tunduk, sujud, patuh dan ta’at kepada Allah saja dengan bimbingan Allah dan Rasul (Al-Qur’an Dan Al-Hadits). Namun sufi bukanlah orang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai zimat, tetapi menjadi Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam berjalan menuju Allah Zat yang sangat dirindukan. Perjalanan sufi disebut tariqat, karena tariqat artinya adalah jalan. Jalan yang harus ditempuh telah jelas dan dijelaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan Rasul dalam Al-Hadits.

Rasul walaupun manusia, namun Rasul adalah orang-orang yang telah terlebih dulu disucikan oleh Allah, diawasi oleh Allah, dibimbing dan dilindungi oleh Allah. Jalan para Rasul sejak Adam sampai Muhammad SAW menuju Allah itulah yang dilanjutkan dalam perjalanan para sufi sepanjang hayat di kandung badan. Tidak ada manusia yang lebih suci dari para Rasul/Nabiyullah. Tidak ada manusia yang lebih pintar dari para Rasul/Nabiyullah. Tidak ada manusia yang lebih hebat dari para Rasul/Nabiyullah. Maka para sufi wajiblah mengikuti jejak langkah yang telah dirintis oleh para Rasul/Nabiyullah, seperti yang telah dijelaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan Muhammad SAW dalam Al-Hadits.

Maka kiblat yang dipilih oleh para sufi adalah kiblat yang dipilih oleh para Nabi/Rasulullah. Setelah ditelusuri dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, ternyata para Nabi/Rasulullah hanya memilih Allah sebagai kiblatnya, maka Allah pulalah yang menjadi kiblatnya para sufi. Mulut bisa saja berkata apa saja, karena lidah tidak bertulang, tetapi hati tetap berkiblat hanya kepada Allah, terbukti dengan zikir Allah yang selalu terucap di hati para sufi, online 24 jam/hari, walau mulut berbicara, namun sambil bicara hatinya berzikir kepada Allah, sehingga mulut para sufi tidaklah berkata apapun tanpa izin dan ridho Allah saja, tiada terhalang oleh apapun di jagat ini.

Mata bisa saja melihat apapun yang disuka, namun hati sufi tetap online berzikir, sambil mata melihat segala, hati berzikir, sehingga mata tidak mampu lagi melihat segala hal yang tidak diizinkan oleh Allah, jika mata itu ngotot juga melihat hal yang tidak diridho Allah, maka mata itupun jadi buta.

Telinga bisa saja mendengar apapun yang telinga inginkan, namun sambil mendengar, hati sang sufi online berzikir kepada Allah, sehingga telinga tidak mampu lagi mendengar apapun tanpa izin dan mardhotillah. Jika telinga masih ngotot mendengar hal-hal yang Allah tidak suka, maka telinga itu jadi tuli. Maka jika hati tetap online berzikir kepada Allah, pastilah telinga takut mendengar hal-hal yang Allah tidak suka, sebab telinga berkiblat kepada Allah, telinga juga sujud dan patuh kepada Allah. Lihatlah telinga kita, dia tidak mampu terdiri tegak semua, para hujung atas daun telinga merunduk kepada kepada Allah, itu tandanya telinga ta’at kepada Allah, namun harus diiringi dengan keta’atan hati kepada Allah, agar telingapun ikut ta’at kepada Allah.

Tangan bisa saja meraba, memegang, menjangkau dan meraih apapun yang dia suka, namun tatkala tangan jasad bergerak, hati sufi online zikir kepada Allah, sehingga para tangannya tidak lagi mampu menjangkau sesuatu yang tidak diridhoi Allah. Maka sukseslah tujuan wudhu’nya tatkala membasuh tangan untuk mensucikan tangannya dari segala dosa dan kesalahan yang pernah diperbuat oleh tangannya. Selanjutnya tangannya hanya mampu menjangkau segala hal yang Allah izinkan saja.

Kaki bisa saja melangkah kemanapun yang dia suka, namun tatkala para sufi melangkah, hatinya online menghadap Allah, sehingga kakinya tidak lagi mampu melangkah ketujuan yang Allah tidak izinkan. Jika si kaki ngotot juga melangkah, maka kaki itu bukan kakinya para sufi, sebab kaki sufi perjalannya sudah ditetapkan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan oleh Rasul dalam Al-Hadits.

Aqal bisa saja berfikir apa saja yang difikirkannya, namun sambil berfikir, para sufi tetap online menyebut asma zatillah. Asma Zatillah adalah ALLAH. Sehingga aqal para sufi tidak mampu lagi menerawang segala hal yang Allah tidak izinkan, maka aqal sufi hanya menerawang segala hal yang Allah ridhoi saja. Jika aqal itu memaksakan diri berfikir segala hal yang tidak diizinkan Allah, maka aqal itu bukanlah aqal sufi, kemungkinan besar adalah aqal-aqalan. Aqal-aqalan bukanlah aqalnya para sufi, sebab aqal sufi berkiblat kepada Allah, karena sambil berfikir para sufi juga online hatinya berzikir kepada Allah.

Mata bisa saja tidur jika telah mengantuk, namun hati sufi di haramkan tertidur, untuk itu sebelum tidak di samping membaca do’a mau tidur seperti yang diajarkan oleh para faqih, maka para sufi juga berdo’a kepada Allah: Yaa Allah, izinkan dan biarkanlah mataku tertidur dalam kuasaMu, namun tetapkanlah hatiku selalu menyebut ZatMu. Maka irama yang mengiringi para sufi dalam pembaringannya adalah irama hati menyebut AsmaNya, sehingga mimpi yang mendatangi dalam tidur sufi adalah mimpi-mimpi ilhamullah atau hidayatullah. Jika para sufi bermimpi negatif dalam tidurnya, kemungkinan besar disebabkan ada sesuatu yang kurang pas dalam perjalanan hidupnya di bumi Allah ini.

Sungguh mulia para sufi tercerahkan, hatinya penuh cahaya, sebab sufi selalu berdo’a: Allahumma Robbi habli Nuurun ‘alan Nuurin fi qolbi. Yang dipinta bukan sekedar cahaya, sebab banyak cahaya pada benda-benda angkasa seperti matahari, rembulan, bintang gemintang, listrik, lampu, api dll. Para sufi tidak memandang cahaya, namun memandang cahaya di atas cahaya. Cahaya di atas cahaya itu adalah Annuur, dan Annur itu adalah Allah Zat yang Maha Bercahaya. http://www.tasawufislam.blogspot.com