http://www.tasawufislam.blogspot.com: Segala sesuatu ada intinya, apa, siapa, kenapa dan bagaimanapun dia, dengan itu kita jadi tahu, mengerti, memahami dan menghayatinya sebagai bekal kita untuk tidak salah faham terhadap segala hal yang telah, sedang dan akan terjadi. Inti itulah yang disebut dengan hakikat di dunia tasawuf. Jika kita telah tahu, mengerti, memahami dan menghayati hakikat segala sesuatu, maka hati akan mudah bahagia dan fikiran akan mudah terpositifkan sehingga terjauh dari segala kenegatifan yang Allah dan Rasul tidak inginkan. Dengan hati yang bahagia, fikiran mudah tenang seberat apapun problema yang sedang dihadapi di jagat Allah ini, sehingga tidak perlu stress dan stroke tatkala sesuatu yang diinginkan belum tercapai seperti yang ditargetkan, sebab dalam hakikat ada hikmah yang terkandung di dalamnya dan hikmah itu merupakan hidayah tersendiri buat kita untuk menentukan sikap tariqat pada jenjang maqam selanjutnya.

Hakikat ajaran tasawuf adalah mensucikan diri kepada Allah SWT dari segala noda dosa masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Mensucikan diri merupakan perintah Allah SWT sebagaimana firmanNya:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Artinya: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (Q. S. 24. An-Nur, A. 30).

وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَالَّذِينَ يَبْتَغُونَ الْكِتَابَ مِمَّا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا وَءَاتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي ءَاتَاكُمْ وَلَا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِتَبْتَغُوا عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَنْ يُكْرِهُّنَّ فَإِنَّ اللَّهَ مِنْ بَعْدِ إِكْرَاهِهِنَّ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: “Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan budak-budak yang kamu miliki yang ingin mengadakan perjanjian, maka hendaklah kamu buat perjanjian itu, sekiranya kamu mengetahui ada baiknya buat mereka. Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang telah dikaruniakanNya kepadamu (agar ia cepat merdeka). Dan janganlah kamu paksa hamba-hamba wanita untuk melakukan pelacuran, sedangkan mereka ingin kesucian, karena kamu hendak keuntungan hidup di dunia. Barangsiapa yang memaksa mereka (melakukan pelacuran), maka sesungguhnya Allah sesudah paksaan itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada hamba-hamba wanita yang kamu paksa itu).” (Q. S. 24. An-Nur, A. 33).

Penyucian diri menurut ilmu tasawuf harus dilakukan dengan mendekatkan diri kepada Zat Yang Maha Suci yaitu kepada Allah dengan cara memperbanyak zikrullah (mengingat Allah seperti sholat, puasa dan lain sebagainya menurut tuntunan Al-Qur’an dan Al-Hadits) sebagaimana firman Allah:
فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ

Artinya: “(Orang-orang yang mendapat cahaya Allah itu) Bertasbih mengingat Allah di rumah-rumah (masjid-masjid) yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.” (Q. S. 24. An-Nur, A. 36).

Dalam ajaran ilmu tasawuf diyakini bahwa dengan selalu mengingat Zat Yang Maha Suci dapat membuat diri kita menjadi suci, sebab hanya Allah sajalah yang mampu mensucikan jiwa makhluk ciptaan Allah dan semata haq Allah pula yang mensucikan jiwa hambaNya. Keyakinan tersebut sangat benar sekali, karena terbukti bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. http://www.tasawufislam.blogspot.com