A K H L A K

Pengertian Akhlak

Akhlak merupakan bentuk jamak (plural) dari kata khuluk, berasal dari bahasa Arab yang berarti perangai, tingkah laku, atau tabiat.

Sedang arti akhlak secara istilah sebagai berikut;

Ibnu Miskawaih (w.421 H/1030 M) mengatakan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

Sementara itu, Imam Al-Ghazali (1015-1111 M) mengatakan akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gamblang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

Perintah Akhlak

Alloh Ta’ala memuji tentang akhlaq Nabi Muhammad Shollallaahu ‘alaihi wa sallam,

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS. Al-Qalam 68: 4)

Dari Aisyah radliyallaahu ‘anha yang begitu dekat dengan Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam mengakui dengan jujur bahwa akhlaq Nabi adalah Alqur’an, sehingga tatkala ditanya tentang akhlaq Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam ia menjawab;

“Kaa na khuluquhul qur’an” (Bahwa Akhlak beliau adalah Alquran). (HR. Bukhori)

Maka karena pentingnya akhlaq bagi setiap muslim, Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam telah mensinyalir dalam salah satu haditsnya, yang secara tersurat hadits ini memerintahkan agar setiap muslim berakhlaq yang mulia.

“Sesempurna sempurnanya iman seorang mukmin adalah mereka yang paling bagus akhlaqnya” (Hr. Muslim)

Macam-macam Akhlak

a. Akhlak Kepada Allah

Banyak macam akhlak kepada Allah subhaanahu wata’ala, diantaranya;

1. Mensyukuri nikmatnya, yaitu dengan cara melakukan ketaatan kepada-Nya dengan hati, ucapan lisan dan perbuatan seluruh anggota badan. Firman Allah,

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (Qs. Al Baqarah : 152)

2. Malu untuk melakukan kedurhakaan. Karena ia meyakini bahwa Allah mengawasinya.

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). (Qs. Yuunus 10 : 61)

3. Shidqul Inabah yaitu kita betul-betul bertaubat dengan taubatan nasuha dan benar-benar kembali kepada_Nya dengan sungguh-sungguh dan ikhlas yang diaplikasikan ke dalam ketaatan kepada-Nya serta takut akan adzab-Nya yang amat pedih. Firman Allah subhaanahu wata’aala,

Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu Kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). (Qs. Az Zumar: 54)

Sabda Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam :

“Wahai sekalian manusia bertaubatlah kalian kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat dalam satu hari 100 kali” (Hr. Muslim)

Jelaslah bahwa taubat untuk menghapus dosa dan kesalahan kita kepada Allah adalah perkara penting bagi seluruh manusia. Karena taubatlah yang akan menghapus dosa dan kesalahan kita dan merupakan pintu menuju kemenangan abadi. Dosa-dosa yang pernah kita perbuat akan menutupi hati kita dan akan kembali jernih apabila bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

4. Tawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla disetiap saat dan setiap keadaan yang dibarengi dengan mengharap rohmat Allah ‘Azza wa Jalla.

Jika Allah menolong kamu, Maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (Tidak memberi pertolongan), Maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal. (Qs. Ali ‘Imraan 3 : 160)

Benar janji Allah bahwa barangsiapa yang kuat tawakalnya kepada-Nya dan selalu menjaga dan konsisten dengannya, maka sungguh Allah akan cukupi segala kebutuhannya, Allah ta’ala berfirman :

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Qs. Ath Thalaaq 65 : 2-3)

Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam,

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sungguh-sungguh, maka sungguh Allah akan berikan rizqi-Nya kepada kalian, sebagaimana burung-burung mendapatkan rizqinya, berangkat pagi hari dengan perut kosong dan pulang sore hari dengan perut kenyang. (HR. Tirmidzi dengan hadits hasan shohih)

5. Senantiasa husnudzdzon kepada Allah ‘Azza wa Jalla baik terhadap taqdir-Nya yang telah Ia taqdirkan untuk kita dan telah berjalan, atau yang belum dijalani dan baik terhadap taqdir-Nya yang baik maupun yang buruk, yang dengan lapang dan ikhlas kita husnudzdzon bahwa dibalik semua itu pasti ada hikmah dan nilai disisi-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan. QS. An-Nahl 16 : 97

b. Akhlak terhadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, yaitu dengan mengikuti sunnah-sunnahnya, mentaatinya, mencintainya dan mencintai keluarganya serta tidak menyelisihi dari apa yang diperintahkannya. Menghormati beliau baik ketika hidupnya atau setelah kematiannya saat ini.

c. Akhlak kepada Alquran Karim. Yaitu membacanya dengan tidak tergesa-gesa, sesuai dengan kaidah tajwid, mentadabburi isinya, mengamalkannya dengan sepenuh hati dan berusaha untuk menjadi ahlul quran, yaitu yang senantiasa mensifati dirinya sesuai dengan sifat Alquran dan juga menghafalnya.

b. Akhlak kepada Makhluk. Yaitu bermuamalah kepada mereka dengan akhlak yang mulia.

(Penjelasan lengkap mengenai akhlak-akhlak ini akan menyusul di edisi-edisi mendatang, insya Allah)

http://buletinalhikmah.wordpress.com/2010/06/03/a-k-h-l-a-k/