Manusia penuh dengan pengorbanan. Insan yang tak pernah mengeluh menghadapi ujian untuk anakmu semata… Berbulan-bulan engkau mengandungku. Dengan perut buncit yang serba sakit.

Tatap matamu yang lelah dan letih, tak menyurutkan semangatmu demi melihat tangis-senang anakmu. Anak yang akan menantang congkaknya dunia yang semakin maju….

Ku-Bayangkan perjuanganmu???

Helai rambutmu memutih

Jemarimu bergetar..

Letih terlihat di wajahmu

Namun. . . .

Kau tempuh ribuan jalan

Untuk aku anakmu

Kaki melangkah semakin perlahan

Tak pernah engkau merasa kesal

Walau tampak kaki penuh darah penuh nanah . .

30 November 1992

Ibu . . . . Ibu-Ku tersayang. . . .

Rasa sakitmu adalah demi melihat senyum bahagiaku

Tangisanmu adalah rasa syukur kepada Tuhan melihat anakmu selamat

Jeritanmu bagaikan petir yang menyambar-nyambar… Seakan menggema ditengah kesunyian..

Betapa sayangMu kepada aku seorang….

Tak terukur dengan apapun kasih sayang yang engkau berikan. . . dari waktu ku keluar dari rahimMu, dari waktuQ kau timang hingga saat ini . . . Kau didik aku sejak kecil, sejak aku tak bisa berjalan, belum pun merangkak yang pertama kali guling sana guling sini.. ”hehe”.

Dari-Mu lah Ibu, pendidikan pertama engkau berikan kepadaku.. walaupun itu belum terasa namun itu sangat bermakna.. . .

Engkau didik aku sampai mengerti.. hingga ku tahu makna sesuatu..

Kau tak ingin aku mengalami masa seperti kehidupanMu yang dulu.

Kehidupan yang pernah engkau alami bunda… yang mana Ibu pernah ceritakan ke aku, sampai aku tak kuasa menahan air mata. Air mata untuk menggugah semangat pada diriku…

Kau mendorong diriku untuk selalu maju..

Engkau ingin aku lebih darimu . .

Engkau ingin melihat aku bahagia . . .

Hingga rasa lelah dan letih dalam dirimu tak kau rasa

Engkau terus membanting tulangMu..

Untuk aku.. Untuk Diriku…

Oh Ibu . . Begitu banyak cinta yang Engkau taburkan.. . . tak bisa dihitung rasa SAYANG yang engkau berikan kepada diriku…

S_emua nasihatmu akan terus kunanti demi kebaikanku

A_hklak dan tingkah lakumu yang harus aku tiru untuk kesopananku

Y_ang selalu hadirkan semangat pada diriku untuk selalu maju

A_kan merasuk di nadi pesan-pesan yang engkau berikan kepadaku

N_asihat-nasihatmu selalu ku ingat meski dalam keadaan pilu

G_ak akan pernah aku lupakan..demi meraih cita-cita untuk membalas seluruh kasih sayangMu…

Amin… aku minta do’a engkau ibu…

Pernah engkau cerita kepada aku tentang kehidupan masa lalu yang engkau jalani.

”Berasal dari keluarga yang kurang mampu, demi keinginan untuk menuntut ilmu atau bersekolah. Ibu rela dihajar sama Bapak (kakek aku).. Aku bertanya, ”Lha kenapa emangnya?? Kan baik bu…”. Ibu menjawab,”Karena gak ada uang le.. buat makan aja susah apalagi untuk biaya sekolah. Saudara ibu juga banyak.. Kurang lebih 7 bersaudara. Ibu Menjelaskan, ” Hingga aku rela mencuri mangga untuk dijual demi biaya sekolah.. mencari rosokan dandang(wadah buat masak/baskom) hanya demi pengennya bersekolah”. Aku jujur pada siriku sendiri.. aku menangis di depan ibu..

aku berpikir sejenak…

Sampai seperti itu ibu menjalani hidupnya.. Beliau tak memikirkan lelah untuk menuntut ilmu. Untuk kasih sayang yang diberikan kepadaKu, ibu juga rela membanting tulang demi kebahagianKu…

Tapi seperti sekarang.. aku tak dapat menutupi apa yang telah aku lakukan kepadaNya. Misalnya saja ”jika aku disuruh membantu menata tahu, kadang aku masih mengeluh.. rasanya terpaksa membantu ibu. Apa aku pantas menerima kasih sayangmu jikalau aku masih seperti itu… aku kadang membuat ibu gelo.. sakit hati dan lain-lain.. Dari semua itu aku tak mampu menutupi rasa malu kepada diriku sendiri..

Aku minta maaf yang sebesar-besarnya ibu.. Dengan bergulirnya waktu, aku akan terus belajar untuk memperbaiki sikap ku terhadap engkau Ibu… terhadap kasih sayang yang tak terukur dengan apapun…

Aku ingin melihat engkau bahagia . . aku minta do’a-do’a Mu selalu mengiringi disetiap langkahku.. demi menuntunku kejalan kesuksesan di masa depan…

Amin… amin.. amin…

Lewat ini aku turut mengucapkan ”Selamat Hari Ibu”

Selasa 22 Desember 2009.
Diposkan oleh Faris Fandianto | di 12:37 |