Re: Tausiah: Godaan Orang Berilmu

— In pakguruonline@yahoogroups.com, “Zulfikri” wrote:
> Saya sangat terenyuh dan bergetar membaca taushiyah yang dikirim
oleh P’Zul tentang godaan orang berilmu. Sebagai hamba yang dho’if
terkadang rasa dan sifat yang P’Zul ungkapakn itu muncul pada benak
dan hati kita. “Allahumma Aaarinalhaqqo haqqo warzuqnattiba’ah wa
aarinal bathila bathila warzuqnajtinabah” Allahumma q’inna ‘alaa
dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika.”aamiin.
> Tausiah :
>
> GODAAN ORANG BERILMU
>
> Jangan disangka bahwa seseorang yang berilmu sudah otmatis
terlindungi dari kebodohan dan terlepas dari godaan. Meskipun orang
berilmu berada di tingkatan yang lebih tinggi daripada makhluk-makhluk
lain, ia juga tetap menghadapi godaan yang tidak kalah besar. Bahkan
godaan orang yang berilmu jauh lebih besar dibandingkan godaan
orang-orang selainnya. Begitu pula dalam akibatnya, bila ia berhasil
maka jadilah ia orang yang paling takut [dekat] di sisi Allah.
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya,
hanyalah ulama. [QS. Al-Fathir: 28]. Dan sebaliknya, ketika ia gagal
dalam menghadapi godaan, maka ia hanya menjadi penyebab kerusakan di
muka bumi. Dia jugalah yang disinyalir oleh Rasulullah SAW sebagai
manusia selain Dajjal lebih ditakuti “karena sangat halus geraknya“
dari pada Dajjal itu sendiri. Rasul SAW ditanya, Siapakah mereka wahai
Rasulallah? Mereka adalah ulama-ulama yang jahat (ulama al-sui).
(Muslim: 5/145).
>
> Apa saja godaan orang berilmu?
>
> Yang pertama adalah harta benda atau duniawi. Ini adalah cobaan yang
paling ringan. Orang yang berilmu seringkali dihadapkan pada
pilihan-pilihan yang terkadang menyulitkan. Ketika seseorang menjadi
ilmuwan, maka dengan sendirinya harta dunia itu datang. Kesempatan
orang yang berilmu dalam mendapatkan dunia lebih besar daripada orang
yang tidak berilmu. Di sinilah orang yang berilmu digoda. Apakah ilmu
yang dimilikinya bisa mengatur nafsu syahwatnya [yang cenderung pada
dunia]? Ataukah sebaliknya, nafsu syahwatnyalah yang menjadi pengatur
ilmunya?
>
> Apakah yang terakhir ini bisa terjadi pada orang yang berilmu?
Bagaimana bisa?
>
> Memang tidak salah bila orang berilmu mendapatkan harta dunia dari
ilmu-ilmunya. Tidak salah bila seorang dokter mendapatkan upahnya. Pun
tidak salah bagi seorang guru/dosen mendapatkan bisyarahnya. Namun
yang disalahkan adalah bila ilmu dijadilakn legitimasi dari
keinginan-keinginan duniawinya. Yang salah adalah dokter yang
menyalahgunakan keilmuannya demi sejumlah rupiah. Yang berbahaya
adalah ulama/ilmuwan/cendekiawan yang memanfaatkan kedalaman ilmu
[baca penegtahuan] nya demi sejumlah harta. Kalau apa yang dibuat oleh
dokter dalam penyahgunaannya mungkin menyebabkan malpraktek, atau
paling parah bisa menyebabkan kematian fisik manusia, maka kesalahan
ulama terhadap penyalahgunaan ilmunya bisa lebih berbahaya dari
sekedar kematian fisik. Kesalahan bisa menyebabkan kebingungan umat
serta menjadi penyulut para hamba Allah untuk bermaksiat kepada-Nya.
Yang paling berbahaya adalah tingkah ulama ini bisa juga menghancurkan
akidah umat. Hal tersebut bisa terjadi hanya karena kecenderungannya
pada harta benda.
>
> Godaan yang kedua adalah kehormatan dan nama baik di mata makhluk.
Ini adalah penyakit jiwa. Mungkin saja orang berilmu terhindar dari
godaan harta yang hina karena ketampakannya, maka ia tidak begitu saja
lepas dari godaan kedua yang halus ini. Ia adalah godaan yang lembut
dalam jiwa manusia. Kecenderungan orang yang berilmu setelah
penguasaan yang mendalam dalam keilmuan adalah keinginan untuk
dihormati. Ia merasa berhak dengan penghormatan semua makhluk karena
ketinggian ilmunya.
>
> Bila cinta/gila hormat dari makhluk ini dibiarkan begitu saja, maka
orang berilmu akan terjangkit pada penyakit ketiga yang paling
berbahaya, yaitu kesombongan. Pada godaan ini, orang berilmu memang
tidak lagi berhadapan dengan harta dunia. Mungkin saja ia berhasil
melewati harta dunia. Tapi kesombongan adalah hal yang sangat halus
yang masuk ke dalam jiwa manusia. Bila orang yang berilmu lengah
sedikit saja, ia akan dimasuki rasa ini. Bahwa akulah orang yang
paling berilmu. Bahwa akulah orang yang paling dekat di sisi Allah.
Tidak ada orang yang lebih alim dariku. Begitu kira-kira godaan yang
ada di dalam hatinya.
>
> Akibatnya, ia akan menyepelekan orang lain, mengaggap orang lain
lebih bodoh dan rendah, serta enggan menolak apa yang datang dari
orang lain, walau itu suatu yang benar. Ia mengaggap bahwa ia adalah
segala-galanya, yang lebih mengetahui dan memahami setiap sesuatu
dibanding lainnya.
>
> Pada tahap yang lebih berbahaya adalah penolakan orang berilmu pada
keberadaan Allah dan kenyataan akan kebesaran-Nya. Ia tiada segan
untuk menafikan Allah dalam kehidupannya. Ia hanya mengagungkan
ilmunya. Ia lupa kepada Sang Pemberi ilmu, Sang Mahatahu. Kemudian
apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami, ia berkata,
Sesungguhnya aku diberi nikmat ini hanya karena kepintaranku.
Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak
mengetahui. [QS. Al-Zumar: 49]. Na’udzubillah. Padahal, apa yang
diketahui oleh manusia hanyalah setetes dari luasnya samudera
pengetahuan Allah.
>
> Sejatinya, ilmu adalah perantara yang mengantarkan kita semua pada
kedekatan kepada-Nya. Itu pula yang diisyaratkan oleh al-Qur`an.
Karena tujuan sejati dalam pencarian ilmu adalah pendekatan
kepada-Nya. Orang yang berilmu adalah orang yang paling bertakwa. Dan
barang siapa yang bertakwa maka Allah akan lebih mencurahkan ilmu-Nya.
[QS. Al-Baqarah: 282]. Bukan harta, kehormatan, maupun kesombongan
yang diharapkan dari orang-orang yang berilmu.
>
> Maka, marilah kita menjadi padi, semakin berisi ia akan semakin
merunduk. Semakin berilmu sudah semestinya membawa kita pada
ketundukan kepada Allah, serta membawa kita pada kesadaran pada kita
tidak ada apa-apanya dibanding kekuasaan Allah. Ilmu kita tidak ada
bandingannnya dengan ilmu Allah, bahkan seujung kuku pun. Ya Allah,
zidni ilman warzuqni fahman.
>
> Cinangka, 25 April 2008
>
> Sumber : http://www.zuh86.multiply.com
>