Ketahuilah bahwa rasa takut terhadap neraka dan rindu terhadap syurga adalah bagian iman yang sangat penting. Bagian ini pulalah yang menyebabkan seorang mampu mengorbankan apa saja untuk Rabnya dan rela meninggalkan hawa nafsunya agar terhindar dari neraka. Marilah kita simak kembali lembaran hidup generasi terbaik umat ini, salafus saleh, yang telah berhasil meresapkan rasa takut terhadap neraka dan rindu terhadap surga ke dalam sanubari mereka.

Sahabat Anas bin Malik berkisah tentang Perang Badar, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Bangkitlah kalian menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi.’ Seorang sahabat yang bernama Umair bin Hamam .a. berkata, ‘Seluas langit dan bumi ya Rasulullah?’ Rasulullah menjawab, ‘Ya.’ Umair bergumam, ‘Bakh, bakh.’ Rasulullah bertanya, ‘Apa maksud perkataanmu?’ Umair menjawab, ‘Demi Allah wahai Rasulullah, tidak ada maksud dari perkataanku tadi, kecuali aku mengharap untuk menjadi salah seorang penghuninya.’ Lalu Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesungguhnya kamu termasuk penghuninya.’ Umair kemudian mengeluarkan beberapa kurma dari kantongnya dan memakan sebagaian. Kemudian ia berkata, ‘Jika saya harus memakan kurma-kurma ini semua, tentu merupakan kehidupan yang terlalu lama.’ Lalu ia lemparkan sisa kurma, kemudian segera maju menyerang musuh sehingga ia terbunuh dan syahid.” (Sirah Ibnu Ishaq, II/179).

Begitu juga Amru bin Jamuh .a., lelaki ini diberi uzur untuk tidak ikut perang karena kepincangannya. Namun, cacat tersebut tidak menghalangi tekadnya untuk memasuki surga dengan jalan jihad. Ketika para putranya mencoba untuk menghalanginya agar tidak berperang, ia justru mengadu kepada Rasulullah saw. tentang keinginannya masuk surga dengan kakinya yang pincang. Akhirnya, ia diizinkan ikut dalam Perang Uhud. Ketika perang sedang berkecamuk, Rasulullah saw. bersabda, “Bersegeralah untuk bangkit menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disiapakan bagi orang-orang yang bertakwa.” Maka, Amru bin Jamuh .a. segera bangkit dengan kakinya yang pincang seraya berkata, “Demi Allah. Aku akan segera kepadanya.” Kemudian ia berperang sampai terbunuh. (Shifatus Shafah Ibnu Jauzi).

Sekarang marilah kita melihat gambaran lain dari generasi yang mulia ini tentang rasa takut mereka terhadap neraka. Mereka adalah orang-orang yang menjadikan malam penuh tangis dan harap agar terselematkan dari neraka. Mereka adalah sejauh-jauh manusia yang meninggalkan larangan Allah.

Suatu ketika Abu Bakar .a. makan dari makanan yang didapat oleh seorang budak. Akan tetapi, kemudian beliau menanyakan asal makanan yang dimakan itu. Budak tadi menjawabnya bahwa makanan itu diperoleh ketika pada masa jahiliah. Yaitu, ia meruqyah seseorang dan diberi imbalan. Maka, seketika itu juga Abu Bakar memuntahkan makanan yang telah dimakannya. Karena, makanan itu adalah hasil dari perbuatan yang haram. Hanya karena sesuap makanan saja beliau melakkan itu. Lalu, bagaimana dengan hal-hal yang lebih besar dari itu? Itulah rasa takutnya orang-orang yang sangat bertakwa kepada Allah SWT. Orang yang melihat (budak itu) berkata, “Semoga Allah merahmatimu. Hanya karena sesuap makanan itukah kamu lakukan semua ini?” Abu Bakar menjawab, “Seandainya ia tidak bisa keluar kecuali bersama jiwaku, pasti aku akan mengeluarkannya. Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Setiap jasad yang tumbuh dari harta yang haram, maka neraka adalah lebih pantas baginya.’ Maka. Aku takut jika tubuhku ini tumbuh dari sesuap makanan tersebut.”

Khalifah Umar bin Abdul Aziz suatu saat menangis, sehingga istrinya ikut menangis. Karena tangisan mereka berdua, para tetangganya pun ikut menangis. Setelah tangisnya reda, istrinya, Fatimah, bertanya keapdanya, “Wahai amirul mukminin, apa yang membuatmu menangis?” Ia menjawab, “Saya membayangkan keadaan manusia nanti di hadapan Allah. Sebagian masuk surga dan lainnya masuk neraka.” Kemudian, ia menjerit dan pingsan.

Begitu pula dengan Abdullah bin Mubarak yang pada suatu malam lampu penerangnya padam. Setelah dihidupkan kembali ternyata jenggotnya basah dengan air mata karena membayangkan kegelapan hari akhirat nanti.

Demikian pula yang terjadi pada diri Umar bin Khattab. Adalah Umar pingsan setelah ia mendengar sebuah ayat dari Alquran.

Kondisi jiwa seperti inilah yang membuat mereka menjadi manusia yang paling zuhud dan wara terhadap dunia dan takut berbuat dosa sekecil apa pun.

Apabila kita melihat pada generasi saat ini, kita dapati mereka jauh dari rasa takut terhadap akhirat dan rakus terhadap dunia. Seluruh waktunya dikerahkan untuk meraih dunia, tidak peduli apakah itu halal atau haram. Bayangan surga dan neraka sudah terkikis dari diri mereka. Ini ditambah lagi dengan kondisi saat ini yang sangat mendorong manusia untuk mencintai dunia dan melupakan akhirat.

Namun demikian, ada beberapa tips yang dapat dipergunakan untuk melunakkan hati sehingga mudah untuk mengingat akhirat (nikmat surga atau azab neraka).

Pertama, Tinggalkan Maksiat

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa banyaknya maksiat yang kita lakukan akan menjadikan hati gelap dan keras, lebih keras dari batu sehingga enggan untuk mengingat akhirat.

Imam Malik pernah menasihati muridnya, Imam Syafii, dengan berkata, “Wahai anak muda, sesungguhnya saya melihat bahwa Allah telah memasukkan cahaya ke dalam hatimu. Maka, janganlah kau padamkan api itu dengan kegelapan maksiat.”

Kedua, Tadabbur (Menghayati Alquran)

Banyak sekali ayat dalam Alquran yang bercerita tentang surga dan neraka. Apabila kita berhasil menghayati ayat-ayat tersebut, tentu akan timbul rasa rindu terhadap surga dan takut terhadap neraka.

Ibrahim bin Basyar .a. berkata bahwa ketika ia memebaca ayat yang artinya, “Andaikan engkau tahu, ketika mereka diberdirikan di mulut neraka, mereka berkata, ‘Duhai, andaikan aku dikembalikan (hidup) lagi’.” Ali bin Fudahil tersunggkur dan meninggal. Saya adalah seorang yang menyolati jenazahnya.

Riwayat lain menyebutkan Umar bin Khattab sakit ketika mendengar firman Allah SWT yang artinya, “Sesungguhnya siksa Rabmu pasti terjadi. Tidak ada yang menghalianginya.”

Karena itu, berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk menghayati Alquran, sehingga hati kita hidup. Bila perlu ulangilah beberapa ayat tentang nikmat dan azab yang sedang kita baca agar dapat meninggalkan bekas di dalam hati.

Ketiga, Membayangkan Surga dan Neraka dalam Keseharian Kita

Apabila melihat api, ingatalah bahwa neraka 70 kali lipat lebih dahsyat dari panasanya api di dunia. Begitu pula bila melewati sungai yang mengalir jernih, ingatlah kejernihan sungai di surga, termasuk pula apa yang dicontohkan oleh Abdullah bin Mubarak di atas. Tetapi, kita mesti sadar bahwa segala yang terjadi di akhirat nanti tidaklah seperti yang kita banyangkan. Semua itu harus kita lakukan dalam batas yang diperbolehkan syar’i. Tidak boleh seseorang melihat lawan jenis yang bukan mahram dalam rangka untuk membayangkan salah satu kenimatan surga, seperti bidadari-bidadari yang cantik jelita.

Bila kondisi di atas kita wujudkan, insya Allah derajat kita akan naik bersama orang-orang yang bertakwa, berkumpul bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat Allah, yaitu para nabi, shiddiiqiin, syuhada, dan shalihin. Mereka itulah teman yang sebaik-baik teman