Sahabatku, setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan. Tidak bisa kita mengatakan bahwa kita selalu merasa kekurangan. Karena hal itu berarti mengingkari nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Sedangkan orang yang sombong merasa dirinya lebih daripada orang lain, sehingga dia meremehkan orang itu. Dia tidak melihat di dalam dirinya ada kekurangan yang mungkin orang lain punya kelebihan pada kekurangannya itu. Dia tidak melihat ada yang tidak ada pada dirinya yang mungkin ada pada diri orang lain.

Orang yang kekurangan selalu merasa bersedih dan perbuatan yang dia lakukan serba salah. Melakukan ini salah, melakukan itu salah. Dia selalu mengeluh dan mengeluh tetapi dia tidak pernah mau belajar untuk memperbaiki diri. Keluhannya menutupi semangatnya dalam mencari ilmu. Dia akhirnya jatuh pada penderitaan yang berkepanjangan. Orang sombong dan yang selalu kurang sama-sama orang yang tidak pandai bersyukur.

Orang yang merasa kurang seharusnya sadar bahwa dirinya hadir di dunia melalui suatu perlombaan yang sangat sengit. Perlombaan itu dimenangi oleh dirinya. Sekitar tiga ratus juta sel sperma saling berebut untuk dapat membuahi sel ovum, namun hanya satu yang berhasil dibuahi, yaitu dirinya. Ya, kita yang hadir di dunia ini adalah para juara sejati. Namun sedikit dari kita yang menyadarinya.

Kita harus yakin bahwa kita bisa melakukan apa yang bisa dilakukan orang lain. Hanya saja orang yang satu dapat lama dalam mempelajari sesuatu, sementara yang lain dapat lebih cepat. Yang satu jago matematika, sedangkan yang lain jago di bidang sastra, apakah orang yang masuk ke dalam kelas bahasa disebut orang yang bodoh, dan yang masuk ke kelas IPA disebut orang yang pintar? Standar yang mengunggulkan logis-matematis itu sudah kuno. Generasi muda kita seharusnya diberi tempat untuk mendapatkan pujian, “sepintar” atau “sebodoh” apapun mereka.

Sudah tidak zamannya lagi si fulan di sebut pintar karena jago matematika, sementara fulan yang lain disebut bodoh karena tidak jago. Para ilmuwan kenamaan seperti Howard Gardner dan Thomas Amstrong telah mulai merumuskan kecerdasan manusia dalam delapan, sembilan, hingga lebih dari sepuluh kecerdasan. Setiap manusia memiliki kecerdasan yang mungkin berbeda antara satu dengan yang lain.

Kita akhirnya menyadari dengan potensi yang Allah berikan kepada kita. Bakat dan ketrampilan yang kita miliki, menjadikan kita menjadi diri kita sendiri. Yakin dengan diri kita sendiri. Percaya diri bahwa di dunia ini semua manusia di pandang sama dan sederajat. Siapa yang menyangka seorang bekas budak berkulit hitam legam, Bilal, menjadi muadzin masjid Rasulullah dan menjadi salah seorang sahabat kesayangan Rasulullah Saw.. Bahkan Rasul mendengar suara terompah Bilal di surga!

Banyak sekali contoh perbedaan karakter yang dimiliki para sahabat. Ada yang ahli memanah seperti Sa’ad bin Abi Waqqash, ada yang ahli strategi perang seperti Khalid bin Walid, ada yang ahli membuat syair seperti Hisan bin Tsabit, ada yang menjadi negarawan seperti Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, dan sebagainya. Khalid Muhammad Khalid telah menulis buku yang sangat bagus berjudul “60 Karakteristik Sahabat Nabi”. Rasulullah Saw. ternyata toleran dalam melihat beragamnya karakter yang dimiliki para sahabat. Justru dengan keberagaman itu, beliau satukan menjadi sebuah kekuatan yang sangat dahsyat sehingga mampu menyebarkan dakwah Islam hingga ke luar jazirah Arab.

Sahabatku, semoga kita menyadari kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri kita. Jika kita sanggup menutup kekurangan-kekurangan itu, maka lakukanlah. Tetapi, penting kita sadari bahwa makhluk tidak ada yang sempurna. Segala sesuatu yang diciptakan manusia selalu saja ada kekurangannya. Allah-lah yang menciptakan kekurangan tersebut agar manusia tidak sombong, namun Allah pula yang menghargai setiap kesalahan kita dalam proses berijtihad dengan memberikan kita satu pahala. Menunggu menjadi sempurna sama dengan menunggu diri kita menjadi Tuhan. Jika kita gagal mendarat di bulan, kita dapat mendarat di salah satu bintang. Yang gagal justru mereka yang tidak mau mengakui bahwa dirinya punya kelebihan sekaligus kekurangan.