NU Anjurkan Khitan bagi Perempuan
Muhammad Nur Abdurrahman – detikNews

Makassar – Kedudukan khitan perempuan dalam Islam menjadi semakin istimewa bagi pemeluknya, setelah sidang komisi Batsul Masail Maudluiyah dalam Muktamar NU ke-32 di Makassar, menyimpulkan hukum khitan bagi kalangan muslimah sebagai Masyru’. Artinya, adanya dua pendapat para ulama yang menganggap hukum khitan adalah wajib dan pendapat lainnya hanya sebatas sunnah.

Hal ini disampaikan oleh ketua komisi Batsul Masail Maudluiyah, KH Masyhuri Naim, dalam keterangan persnya di Media Center Muktamar, Jumat (26/3/2010). Sebelum disimpulkan, menurut Masyhuri, telah terjadi perdebatan panjang soal kedudukan khitan bagi perempuan di komisinya.

“Kajian para syuriah NU tidak terhenti pada halal, sunnah atau wajibnya saja, tapi hal teknis dan waktu pemotongannya juga dibahas, agar umat mendapat juklaknya (petunjuk pelaksanaan),” ungkap Masyhuri.

Khitan perempuan yang mendapat tentangan keras dari kalangan aktivis perempuan internasional ini, dianjurkan oleh para syuriah NU, dilaksanakan pada hari ketujuh kelahiran bayi. Namun, para ulama-ulama NU juga tidak berkeberatan, lanjut Masyhuri, jika waktu pelaksanaannya telah lewat tujuh hari usia bayi perempuan, atau dilakukan saat usia dewasa.

Masyhuri juga menyebutkan tata cara penyunatan bagi perempuan sebaiknya tidak memotong klitoris atau bagian vagina seperti jengger ayam terlalu banyak. “Sesuai anjuran Rasulullah, sebaiknya jangan terlalu banyak yang dipotong, tata cara yang benar aman buat bayi perempuan dan dijamin tidak ada darah yang keluar,” pungkas Masyhuri.

Rencananya, para musyawirin di Muktamar NU juga menghendaki adanya pelatihan tata cara pelaksanaan khitan perempuan bagi kalangan warga NU.
(mna/anw)