Saudaraku, jangan pernah remehkan pengaruh doa Anda apalagi jika mendoakan saudara muslim tanpa sepengetahuan fihak yang didoakan. Doa Qunut Nazilah yang kita bacakan sekarang berkaitan dengan pembantaian pasukan Zionis Israel atas saudara-saudara kita kaum muslimin di Gaza, Palestina. Intinya kita memohon kepada Allah Yang Maha Kuasa agar menolong dan memenangkan kaum muslimin dan mujahidin Palestina di Gaza sembari mengharapkan kekalahan bahkan kehancuran fihak Yahudi Zionis Israel.

Biasanya doa Qunut Nazilah diawali dengan pembacaan doa Qunut seperti biasa oleh Imam Sholat berjamaah. Lalu sesudah itu barulah sang Imam memimpin doa yang lebih spesifik berkenaan dengan penderitaan saudara-saudara kita di Gaza. Doa Qunut yang biasa berbunyi sebagai berikut:

اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيمَنْ هَدَيْتَ ، وَعَافِنَا فِيمَنَ عَافَيْتَ ، وتَوَلَّنَا فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ ،

وَبَارِكْ لَنَا فِيمَا أَعْطَيْتَ ، وَقِنَا بفضلك شَرَّ مَا قَضَيْتَ ،فانك تَقْضِي وَلا يُقْضَى عَلَيْكَ ،

وَإِنَّهُ لا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ ولا يعز من عديت، تَبَارَكْتَ ربنا وَتَعَالَيْتَ فلك الحمد علي ما قضيت استغفرك واتوب اليك

“Ya Allah, berilah kami petunjuk sebagaimana orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk. Selamatkanlah kami dalam golongan orang-orang yang Engkau telah pelihara. Uruslah kami di antara orang-orang yang telah Engkau urus. Berkahilah kami dalam segala sesuatu yang Engkau telah berikan. Hindarkanlah kami dari segala bahaya yang Engkau telah tetapkan. Sesungguhnya Engkaulah yang menentukan dan bukan yang ditentukan. Sesungguhnya tidak akan jadi hina orang yang telah Engkau lindungi. Engkau wahai Rabb kami adalah Maha Mulia dan Maha Tinggi.” (HR Thabrani 3/123)

Sesudah itu barulah Imam berdoa sambil diamini oleh jamaah. Doa spesifik ini bisa berbeda antara satu Imam dengan Imam lainnya. Ia boleh mengembangkannya sendiri. Yang penting isinya adalah mengharapkan kebaikan bagi fihak kaum muslimin dan kekalahan atas fihak musuh yang menganiaya atau memerangi kaum muslimin. Di antaranya ia bisa berbunyi seperti di bawah ini:

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِين اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِين اللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ وَ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْ

اللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ اللَّهُمَّ دَمِّرِ الْيَهُود وَ إِسْرَآئِل

وَ شَتِّتْ شَمْلَهُم وَ فَرِّقْ جَمْعَهُمْ اللَّهُمَّ انْصُرْ المُجَاهِدِينَ عَلَى أَعْدَائِنَا أَعْدَاءَ الدِّين بِرَحْمَتِكَ يَآ أَرْحَمَ الرَّحِمِينَ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ

“Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin. Ya Allah, tolonglah kaum Muslimin [ KHUSUSHON WNI ]dan Mujahidin di Palestina. Ya Allah, teguhkanlah Iman mereka dan turunkanlah ketenteraman di dalam hati mereka dan satukanlah barisan mereka. Ya Allah, hancurkanlah kaum kuffar dan kaum musyrikin. Ya Allah, binasakanlah kaum Yahudi dan pasukan Israel dan cerai-beraikanlah kesatuan mereka. Ya Allah, menangkanlah kaum Mujahidin atas musuh kami musuh agama dengan RahmatMu, Wahai Yang Maha Pengasih. Dan sampaikanlah Sholawat kami kepada Nabi Muhammad.”

Saudaraku, tidak banyak yang bisa kita lakukan. Sungguh, kita sangat geram, sedih sekaligus menyesal bahwa tidak banyak yang bisa kita lakukan untuk kaum Muslimin Palestina di Gaza. Mereka dizalimi oleh kekuatan terlaknat pasukan Zionis Israel. Mereka diharuskan berada di dalam sebuah pertempuran tidak seimbang. Hanya doa yang bisa kita kirim untuk mereka. Ingatlah, doa bukan perkara ringan. Ia merupakan senjata orang beriman. Marilah kita mengharuskan diri membaca doa Qunut Nazilah dalam sholat-sholat kita pada hari-hari ini.

Mari kita bacakan doa ini untuk saudara-saudara kita kaum muslimin dimana saja berada, khususnya di PALESTINA, yang sedang terkena ancaman, penganiayaan, dan penindasan musuh-musuh Allah.
Inilah Doa Qunut Nazilah (Hadist diriwayatkan oleh Umar Bin Khatab) :

Alloohummaghfir lilmu’miniina wal mu’minaat
Wal muslimiina wal muslimaat
Wa allif baina quluubihim
Wa ashlih dzaata bainahum
Wanshur ‘Alaa ‘Aduwwika wa’aduwwihim

Allohummal’in kafarota ahlil kitaabil ladziina
Yukadzibuuna rusulaka wayuqottiluuna auliyaa aka
Alloohumma khollif baina kalimaatihim
Wazalzil Aqdaamahum
Wa anzilbihim ba’sakalladzii layuroddu ‘anil
qaumil mujrimiin

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Allohumma innaanasta’iinuka

“Ya Allah ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat,
Ya Allah jinakkan, satu padukan hati orang-orang muslimin,
Perbaikilah keadaan mereka,
Tolonglah kaum muslimin utuk melawan musuh-musuh-Mu, dan musuh-musuh mereka

Ya Allah, laknatlah orang-orang kafir yang mendustakan para RasulMu dan membunuh para kekasih-Mu,
Ya Allah cerai-beraikan kesatuan kata mereka,
Hancur leburkan kekuatan mereka,
Dan turunkanlah bencana-Mu yang tiada tertolak lagi untuk orang-orang yang penuh dengan dosa

Dengan menyebut nama-Mu ya Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang,
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon perlindungan kepadaMu”

Qunut Nazilah adalah pembacaan do’a yang dilakukan umat Islam untuk menolak kezhaliman musuh-musuh Islam dan menghindarkan diri dari berbagai fitnah serta musibah. Do’a Qunut diucapkan pada saat sholat fardhu, yaitu ketika i’tidal setelah ruku’ pada rakaat terakhir.
Rasulullah saw mencontohkan kepada umatnya bagaimana melakukan Qunut Nazilah. Ketika sahabat Nabi saw. yang diutus untuk mengajarkan Islam dan Alqur’an dikhianati dan dibantai oleh kaum kafir pada peristiwa yang dikenal sebagai Ba’tsul Raji’ (10 sahabat) dan Bi’ru Ma’unah (70 sahabat). Rasulullah saw melakukan Qunut Nazilah pada setiap shalat wajib sebagaimana disebutkan dalam hadits:

قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا بَعْدَ الرُّكُوعِ يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنَ الْعَرَبِ متفق عليه
Artinya:”Rasulullah saw melakukan qunut (Nazilah) selama satu bulan setelah ruku’ mendo’akan untuk kebinasaan suatu wilayah dari bangsa Arab” (Mutafaqun alaihi).
قَنَتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا فِي صَلاةِ الْفَجْرِ
Artinya: “Rasulullah SAW melakukan qunut (Nazilah) selama satu bulan dalam shalat Shubuh.” (HR Bukhari)
قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلاَةِ الصُّبْحِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ إِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ الآخِرَةِ يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ رواه أبو داود وأحمد
Artinya:” Rasulullah saw melakukan qunut(Nazilah) satu bulan berturut-turut dalam shalat Dhuhur, Asar, Maghrib, Isya dan Shubuh, tatkala berkata sami’allahu liman hamidah pada rakaat terakhir. Mendo’akan untuk kebinasaan perkampungan Bani Sulaim, kabilah Ri’l, Dzikwan dan ‘Ushiyyah. Sahabat di belakangnya mengamini” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Do’a Qunut yang dapat diucapkan di antaranya:

عن الحسن بن عليّ رضي اللّه عنهما قال:علّمني رسولُ اللّه صلى اللّه عليه وسلم كلماتٍ أقولُهُنَّ في الوتر: “اللَّهُمَّ اهْدِني فِيمَنْ هَدَيْتَ، وعَافِني فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلّني فِيمَن تَوَلَّيْتَ، وبَارِكْ لِي فِيما أَعْطَيْتَ، وَقِني شَرَّ ما قَضَيْتَ، فإنَّكَ تَقْضِي وَلا يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنا وَتَعالَيْتَ
Dari Al-Hasan bin Ali ra. berkata, Rasulullah saw. mengajarkanku kalimat yang aku ucapkan dalam shalat witir: “Ya Allah berilah keteguhan padaku bersama orang yang mendapat hidayah, berikanlah padaku afiyah( kesehatan dan keselamatan) bersama orang yang engkau beri afiyah,, jadikanlah padaku pelindung bersama orang yang Engkau lindungi, berkanlah kepadaku keberkahan dari apa yang Engkau berikan kepadaku, selamatkanlah aku dari keburukan yang Engkau telah tetapkan. Sesungguhnya Engkaulah yang memutuskan dan bukan yang diputuskan, sesungguhnya Engkau tidak menghinakan orang yang berlindung pada-Mu, Maha Suci Engkau dan Maha Agung.”

عن عمر بن الخطاب رضي اللّه عنه أنه قنت في الصبح بعد الركوع فقال: ” اللَّهُمَّ إنَّا نَسْتَعِينُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَلاَ نَكْفُرُكَ، وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَخْلَعُ مَنْ يَفْجُرُكَ، اللَّهُمَّ إيَّاكَ نَعْبُد، ولَكَ نُصَلِّي وَنَسْجُد، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنحْفِدُ، نَرْجُو رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ، إنَّ عَذَابَكَ الجِدَّ بالكُفَّارِ مُلْحِقٌ. اللَّهُمَّ عَذّبِ الكَفَرَةَ الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِكَ، ويُكَذِّبُونَ رُسُلَكَ، وَيُقاتِلُونَ أوْلِيَاءَكَ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ للْمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِناتِ والمُسْلِمِينَ والمُسْلِماتِ، وأصْلِح ذَاتَ بَيْنِهِمْ، وأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ، وَاجْعَلْ فِي قُلُوبِهِم الإِيمَانَ وَالحِكْمَةَ، وَثَبِّتْهُمْ على مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صلى اللّه عليه وسلم، وَأَوْزِعْهُمْ أنْ يُوفُوا بِعَهْدِكَ الَّذي عاهَدْتَهُمْ عَلَيْهِ، وَانْصُرْهُمْ على عَدُّوَكَ وَعَدُوِّهِمْ إِلهَ الحَقّ وَاجْعَلْنا مِنْهُمْ
Dari Umar bin Khattab ra. bahwa ia membaca do’a Qunut pada shalat Shubuh setelah ruku’ dan berkata, “Ya Allah kami memohon pertolongan kepada-Mu, beristighfar pada-Mu dan tidak kufur pada-Mu, kami beriman pada-Mu dan berlepas dari orang yang bermaksiat kepada-Mu. Ya Allah hanya pada-Mu lah kami beribadah, shalat dan sujud, kepada Engkau kami beramal dan berusaha, kami mengharap rahmat-Mu dan takut akan adzab-Mu. Sesungguhnya adzab-Mu pasti sampai pada orang kafir. Ya Allah siksalah orang-orang kafir yang menghalangi jalan-Mu, mendustakan para nabi-Mu, memerangi kekasih-Mu. Ya Allah ampunilah orang-orang beriman lelaki dan perempuan, umat Islam lelaki dan perempuan, perbaikilah urusan diantara mereka, lembutkanlah hati-hati mereka, berilah pada hati mereka keimanan dan hikmah, berilah keteguhan pada mereka atas agama Islam, berilah motivasi kepada mereka untuk senantiasa menepati janji yang telah Engkau buat perjanjian dengan mereka, tolonglah atas musuh-Mu dan musuh mereka, Allah yang Maha Benar dan jadikanlah kami termasuk golongan mereka.”
Do’a Qunut dapat diucapkan salah satunya, atau keduanya atau dapat juga ditambah dengan do’a-do’a yang ma’tsur lainnya, seperti:
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِين اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِين اللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ وَ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْ
اللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ اللَّهُمَّ دَمِّرِ الْيَهُود وَ إِسْرَآئِل
وَ شَتِّتْ شَمْلَهُم وَ فَرِّقْ جَمْعَهُمْ اللَّهُمَّ انْصُرْ المُجَاهِدِينَ عَلَى أَعْدَائِنَا أَعْدَاءَ الدِّين بِرَحْمَتِكَ يَآ أَرْحَمَ الرَّحِمِينَ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ
“Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin. Ya Allah, tolonglah kaum Muslimin dan Mujahidin di Palestina. Ya Allah, teguhkanlah Iman mereka dan turunkanlah ketenteraman di dalam hati mereka dan satukanlah barisan mereka. Ya Allah, hancurkanlah kaum kuffar dan kaum musyrikin. Ya Allah, binasakanlah kaum Yahudi dan pasukan Israel dan cerai-beraikanlah kesatuan mereka. Ya Allah, menangkanlah kaum Mujahidin atas musuh kami musuh agama dengan RahmatMu, Wahai Yang Maha Pengasih. Dan sampaikanlah Sholawat kami kepada Nabi Muhammad.”
Untuk menyertai Qunut Nazilah –di luar shalat-, kita memperbanyak istighfar dan taubat sesuai petunjuk Al Qur’an dan As-Sunnah:

وَأَنِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنِّيَ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ
“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.”

مَنْ أَكْثَرَ مِنَ الاِسْتِغْفَارِ جَعَلَ اللّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًاً وَمِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًاً وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِب .رواه أحمد والنسائى وابن ماجه
“Siapa yang memperbanyak istighfar, maka Allah akan memberikan kelapangan dari setiap kesusahan, jalan keluar dari setiap kesempitan dan Allah memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
Dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam selalu memperbanyak membaca:

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إليه
“Maha Suci Allah dan segala pujian bagi-Nya, aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nnya.”
Demikian, penjelasan singkat dari kami semoga bermanfaat. Jadi aminkan do’a-do’a imam shalat yang melakukan qunut nazilah atau lakukan sendiri dalam shalat-shalat sunnah Anda. Anda akan lebih dekat kepada Allah swt. sekaligus Anda mendapatkan kebaikan atas do’a-do’a yang Anda lantunkan sendiri, karena do’a terhadap orang lain tanpa sepengetahuan mereka akan sangat mustajab dan bagi yang berdo’a mendapatkan kebaikan itu, tanpa beda sedikitpun. Allahu a’lam.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabaraktuh
Tim baitul-hikmah.com

“Ya Hayyu Ya Qayyum, Wahai Yang Maha Hidup Yang Maha Memelihara,
Ya Hayyu Ya Qayyum, Wahai Yang Maha Hidup Yang Maha Memelihara,
Ya Hayyu Ya Qayyum, Wahai Yang Maha Hidup Yang Maha Memelihara,
turunkan para Malaikatmu untuk membantu para Mujahidin di Gaza dan Seluruh Palestina,
sebagaimana telah kau turunkan ribuan Malaikat di Badar, di Khandaq dan di Tabuk.
Ya Hayyu Ya Qayyum, Wahai Yang Maha Hidup Yang Maha Memelihara,
ringankanlah penderitaan saudara-saudara kami di Gaza,
kuatkanlah terus generasi baru dari antara anak-anak mereka,
menjadi generasi yang akan membawa kami pada kejayaan Islam lewat Jihad fii Sabiilillah.

Qunut Nazilah untuk Gaza
QUNUT NAZILAH UNTUK GAZA
Oleh: Abu Hamzah al-Qomari
(Dirut majalah Qiblati dan Kinan)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam atas nabi kita Muhammad Sholallohu ‘alaihi wa sallam -,beserta keluarga dan sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti sunnah beliau hingga hari kiamat.
Amma ba’du:
Hikmah Allah Subhanaahu wa Ta’ala – telah menghendaki bahwa pada zaman ini Allah Subhanaahu wa Ta’ala – menjadikan Palestina sebagai duri di dalam tenggorokan orang-orang Yahudi. Tahun-tahun ini telah menetapkan bahwa orang-orang Palestina adalah sebaik-baik orang yang berdiri di hadapan orang-orang Yahudi, yang bengis dan kejam dalam memusuhi kaum muslimin. Tidak ditemukan kata kalah dan menyerah dalam kamus mereka.
Orang-orang Yahudi itu menyangka bahwa bumi Palestina seperti benua Australia yang bisa dirampas dari pribuminya. Orang-orang Yahudi menyangka bahwa Palestina seperti bumi Amerika yang orang-orang putih mampu menyingkirkan suku Indian merah, penduduk aslinya. Orang-orang Yahudi menyangka bahwa bumi Palestina seperti Afrika Selatan yang bangsa pendatang mampu mengalahkan orang-orang hitam, penduduk aslinya.
Sesungguhnya bumi itu adalah bumi Palestina, bumi Isra’ Mi’raj, Baitul Maqdis, Palestina dalah tanah air para Nabi. Allah –Subhanahu wa ta’ala- telah menjadikan para penjaga untuk bumi itu orang-orang kuat yang tidak gentar dengan kematian, merekalah sebaik-baik contoh dalam pertempuran, kesabaran dan ketegaran.
________________________________________
Sejak 27 Desember 2008 hingga hari ini (6 januari 2009 saat makalah ini kami tulis- Entah sampai kapan. Semoga Allah menghentikan penjajah Yahudi), orang-orang Yahudi terus melancarkan serangan liar pada Gaza, mereka hantam dari udara, mereka serang dari laut, mereka serbu dari daratan. Sekalipun demikian, kaum muslimin Gaza tetap berdiri tegar sambil mengisahkan untuk umat ini bentuk kecintaan mereka kepada bumi Palestina, dan kecintaan mereka kepada Syahadah (mati syahid).
Sesungguhnya penduduk gaza pada hari ini berdiri melawan orang-orang Yahudi sebagai wakil seluruh kaum muslimin. Bersamaan dengan kekurangan dan keterbatasan kita dalam membantu mereka, maka minimal kewajiban kita adalah menolong mereka dengan do’a, khususnya doa qunut nazilah dan doa pada khutbah jum’at. Alhamdulilah solidaritas islam dalam bentuk doa qunut dilakukan oleh berbagai lapisan manusia muslim di dunia ini, tidak ketinggalan mufti umum KSA (Kerajaan Saudi Arabia) Syaikh Abdul Aziz ibn Abdillah Alu Syaikh juga mengeluarkan fatwa wajibnya membela penduduk Gaza dengan segala usaha yang mungkin, termasuk doa untuk mengangkat bala’ (Nazilah) sejak 3 Muharram (31 Desember) lalu..
Mengingat pentingnya tema ini, dan banyaknya orang islam yang belum memahaminya maka kami akan menjelaskannya secara singkat, agar mudah dimengerti dan segera di amalkan.

1. Disyariatkan qunut nazilah pada saat ada bencana.
Imam Nawawi –Rahimahullah- berkata dalam Syarah Muslim, ‘Yang shahih lagi masyhur (terkenal), adalah bahwa jika turun sebuah bencana, seperti serangan musuh, paceklik, wabah penyakit, kekeringan, serta bahaya yang nampak jelas terhadap kaum muslimin dan semacamnya, maka mereka qunut pada seluruh shalat fardhu.’
Syaikhul Islam –Rahimahullah – berkata, ‘Qunut disyariatkan pada saat adanya bencana, dan ini adalah pendapat yang dipegang oleh para ulama fiqih ahlul hadits, dan itu diambil dari khulafaur rasyidin.’ (Majmu’ al-Fatawa (23/108)) Abu Bakar as-Shiddiq –Radiallahu anhu- membaca qunut pada saat perang melawan Musailamah, dan saat perang melawan ahlul kitab, (lihat Kitab I’lâus Sunan (683)). Umar –Radiallahu anhu-, qunut saat berperang melawan orang-orang Nashrani. (majmu’ al-Fatawa (23/108), dan bila berita tentang pasukan kaum muslimin datang terlambat al-Fatawa (23/108). Demikian pula Ali bin Abi Thalib –Radiallahu anhu-, beliau qunut saat memerangi khawarij, dan saat memerangi penduduk Syam dalam perang Shiffin. al-Fatawa (23/103).

2. Nabi –Shalallahu alaihi wa salam- qunut nazilah dalam seluruh shalat lima waktu; subuh, dzuhur, maghrib dan ‘isya’. Adapun pada waktu ashar, maka telah valid dalam hadits Ahmad, Abu Dawud dengan sanad yang jayyid (bagus) seperti di atas

3. Bahwasannya qunut Nabi –Shalallahu alaihi wa salam- yang paling banyak adalah dilakukan pada waktu subuh, kemudian maghrib, dan ‘isya’, kemudian dzuhur, kemudian ashar. Ibnul Qayyim –Rahimahullah- berkata, ‘Petunjuk beliau –Shalallahu alaihi wa salam- adalah qunut pada saat bencana secara khusus, dan meninggalkannya saat tidak ada bencana, dan tidaklah beliau mengkhususkan qunut tersebut pada shalat subuh, akan tetapi kebanyakan qunut beliau adalah pada shalat subuh.’ (Zadul Ma’ad (1/273))

4. Qunut nazilah hanya berada pada rakaat terakhir, dan tempatnya yang benar adalah setelah bangkit dari ruku’. Imam al-Bukhari telah membuat sebuah bab Bab al-Qunut Qobla ar-Ruku’ waba’dah (Bab Qunut Sebelum dan Sesudah Ruku’). Akan tetapi qunut setelah ruku’ lebih banyak diriwayatkan dalam hadits-hadits Nabi –Shalallahu alaihi wa salam-, sebagaimana sekumpulan ulama telah menyatakan adanya nash dalam masalah ini.

5. Qunut nazilah disyariatkan untuk kaum muslimin, untuk para imam masjid, bukan khusus untuk khalifah (sultan) dan bukan untuk masjid istana atau ibu kota saja. Syaikhul Islam –Rahimahullah- berkata, ‘Qunut itu disyariatkan bagi setiap orang yang shalat (fardhu), baik sebagai imam, atau sebagai makmum, atau (bahkan saat) shalat sendirian. Dan ini adalah pendapat yang paling shahih.’ (lihat al-Inshaf (4/136), Fatawa Ibnu ‘Utsaimin (14/175)) Akan tetapi hendaknya perkara tersebut ditentukan, yaitu tidak qunut kecuali dalam sebuah bencana yang menimpa kaum muslimin.

6. Sifat Qunut, Imam berdo’a dengan keras, serta mengangkat kedua tangannya. Al-Hafidz –Rahimahullah- telah menukil adanya kesepakatan atas hal ini (Fathul Bari (2491)), berdasarkan hadits Anas -Radiallahu anhu-, dia berkata, ‘Tidak pernah aku melihat Rasulullah –Shalallahu alaihi wa salam- berduka sama sekali atas sesuatu melebihi duka cita beliau –Shalallahu alaihi wa salam- atas apa yang menimpa mereka –yaitu para qurra’-. Sungguh aku melihat Rasulullah –Shalallahu alaihi wa salam- dalam shalat subuh mengangkat kedua tangan beliau, kemudian berdo’a atas mereka (yang mengkhianati dan membunuh para qura’).’ (HR. Ahmad dengan sanad Shahih, Imam Nawawi –Rahimahullah- berkata, diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad shahih atau hasan (al-Majmu’ (3/479))
Imam Nawawi –Rahimahullah- berkata, ‘Hadits qunut nabi –Shalallahu alaihi wa salam- saat para qurra’ tersebut dibunuh mengandung makna beliau mengeraskannya pada seluruh shalat, ini adalah ucapan ar-Rafi’i. dan yang shahih atau benar adalah disunnahkannya keras.’ (al-Majmu’ (3/482))
Orang-orang yang ada dibelakang beliau –Shalallahu alaihi wa salam- mengamininya, sebagaimana hadits Ibnu ‘Abbas –Radiallahu anhuma- diatas, beliau mengangkat kedua tangan, dan makmumpun mengangkat kedua tangan mereka. Ini telah shahih dari Umar. (HR. al-Baihaqiy, dishahihkan oleh al-Bukhari dalam hal mengangkat tangan)
Setelah berdo’a, imam tidak mengusap wajahnya, tidak juga makmum mengusap wajah mereka. Hadits-hadits tentang mengucap wajah dengan kedua tangan setelah berdo’a di luar shalat adalah dha’if. Sedang hadits-hadits yagn shahih tentang mengangkat kedua tangan tidak disebutkan di dalamnya pengusapan wajah. Maka tidak disyariatkan. Wallahu a’lam.
Dari Abu Rafi’, dia berkata, ‘Aku shalat dibelakang Umar bin al-Khaththab –Radiallahu anhu-, maka dia qunut setelah ruku’, mengangkat kedua tangannya dan keras dalam berdo’a.’ (HR. al-Baihaqiy, dia berkata, ‘ini dari Umar, shahih (Sunan al-Baihaqiy (2/212)); lihat pula al-Majmu’ (3/490))

7. Sifat Do’a. kita berdo’a dengan apa yang sesuai dengan bencana tersebut, dan dengan apa yang bisa mencukupi tujuannya.
Al-Hafidz ibnu Hajar –Rahimahullah- berkata dalam Badzlul Ma’un Fi Fadhlit Tha’un (334), ‘Aku tidak pernah mendapatkan sesuatupun dari kitab-kitab para ulama ahli fiqih tentang do’a apa yang mereka baca dalam qunut nazilah. Yang tampak adalah bahwa mereka menyerahkan hal itu kepada pemahaman pendengar, yaitu bahwa mereka berdo’a pada setiap bencana dengan do’a yang sesuai.’ (Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin (14182))
Syaikhul Islam –Rahimahullah- berkata, ‘Yang sunnah adalah qunut saat bencana, dan berdo’a di dalamnya dengan do’a yang sesuai dengan kaum yang memeramgi.’ (Majmu’ al-Fatawa (21/155))
Beliau –Rahimahullah- juga berkata, ‘Yang qunut hendaknya berdo’a pada setiap bencana dengan do’a yang sesuai untuk bencana tersebut. Dan jika dia menyebut nama orang yang dia tuju dengan doanya dari kaum mukminin serta menyebut orang yang dia berdo’a atasnya dari orang-orang kafir yang memerangi maka itu baik.’ (Majmu’ al-Fatawa (22/271))
Beliau –Rahimahullah- juga berkata, ‘Umar –Radiallahuanhu- qunut saat terjadi sebuah bencana yang menimpa kaum muslimin. Kemudian dia berdo’a dalam qunutnya dengan do’a yang sesuai dengan bencana tersebut. Sebagaimana nabi –Shalallahu alaihi wa salam- tatkala qunut pertama kali atas kabilah Bani Sulaim yang telah membunuh para qurra’, beliau –Shalallahu alaihi wa salam- berdo’a atas mereka dengan do’a yang sesuai dengan tujuan beliau –Shalallahu alaihi wa salam-. Kemudian tatkala beliau qunut do’a untuk para sahabat beliau yang lemah (tidak mampu hirjah), beliau berdo’a dengan do’a yang sesuai dengan tujuan beliau –Shalallahu alaihi wa salam-.
Barangsiapa berdo’a dengan do’a Nabi –Shalallahu alaihi wa salam- maka afdhal, dikarenakan do’a beliau –Shalallahu alaihi wa salam- sesuai dengan bencana kaum muslimin. Seperti jika kita berdo’a pada bencana yang menimpa kita pada hari ini dengan doa:

اللَّهُمَّأَنْجِ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِي فِلِسْطِيْنِ وَ الْعِرَاقِ وَأَفْغَانِسْتَانَ وَالشِّيْشَانَ وَكَشْمِيْرَ،اللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ ، اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلىَ الْيَهُوْدِ وَالنَّصَارَى وَالْهِنْدُوْسِ وَالْمَلاَحِدَةِ وَمَنْشَايَعَهُمْ وَأَعَانَهُمْ، اللَّهُمَّ الْعَنْهُمْ، اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِيْنَ كَسِنِيْ يُوْسُفَ
“Ya Allah, selamatkanlah saudara-saudara kami, kaum muslimin di Palestina, Iraq, Afghanistan, Checnya, dan Kasymir. Ya Allah tolonglah mereka, ya Allah keraskanlah himpitan-Mu atas orang-orang Yahudi, Nashrani, Hindu dan kaum atheis serta orang-orang yang mendukung dan membantu mereka. Ya Allah laknatlah mereka, ya Allah jadikanlah laknat-Mu atas mereka bertahun-tahun atas mereka seperti tahun-tahun Nabi Yusuf (tahun-tahun kekeringan dan kelaparan).”
Imam al-Baihaqi –Rahimahullah- meriwayatkan qunut Umar –Radiallahuanhu-, dan dia menshahihkannya sebagaimana diriwayatkan pula darinya oleh Imam Nawawi –Rahimahullah- dalam al-Majmu’, yaitu dari ‘Abdullah bin Umar, bahwasannya dia qunut setelah ruku’ dengan membaca:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلىَ عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ، اللَّهُمَّ الْعَنْ كَفَرَةَ أَهْلِ الْكِتَابِ الَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ وَيُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَاءَكَ اللَّهُمَّ خَالِفْ بَبْنَ كَلِمَتِهِمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِيْ لاَ تَرُدُّهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِيْنَ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ وَلاَ نَكْفُرُكَ وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَكَ نُصَلِّيْ وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ نَخْشَى عَذَابَكَ وَنَرْجُوا رَحْمَتَكَ إِنَّ عَذَابَكَ الْجِدَّ بِاْلكُفَّارِ مُلْحِقٌ

“Ya Allah, ampunilah kami, dan orang mukmin serta mukminah, orang-orang muslim serta muslimah, persatukanlah hati-hati mereka, perbaikilah permusuhan diantara mereka, tolonglah mereka atas musuh-Mu dan musuh mereka. Ya Allah, laknatlah orang-orang kafir ahli kitab yang menghalang-halangi dari jalan-Mu, mendustakan Rasul-Mu, serta memerangi kekasih-kekasih-Mu. Ya Allah, perselisihkan kalimat-kalimat mereka, goncangkanlah kaki-kaki mereka, turunkanlah siksamu terhadap mereka, siksaan-Mu yang tidak akan Engkau angkat dari kaum yang berbuat jahat. Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang, ya Allah, sesungguhnya kami memohon pertolongan kepada-Mu, kami memohon ampunan kepada-Mu, kami memuji-Mu, kami tidak mengkufuri-Mu, kami lepas dan tinggalkan orang-orang yang menentang-Mu. Dengan asma Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, ya Allah, kepada-Mulah kami menyembah, untukmulah kami shalat dan sujud, kepada-Mulah kami bersegera, dan bergegas, kami takut siksa-Mu, dan kami berharap rahmat-Mu. Sesungguhnya adzab-Mu yang keras akan mengenai orang-orang kafir.”

8. Para ulama berselisih tentang penutupuan qunut nazilah dengan shalawat kepada Nabi –Shalallahu alaihi wa salam-, dikarenakan tidak ada satupun riwayat tentang hal ini yang valid dari Nabi –Shalallahu alaihi wa salam- dan sahabat, yang ada hanya dalam qunut witir. Akan tetapi jika dia melakukannya maka boleh, karena telah datang yang demikian dalam qunut Ramadhan yang isinya juga ada pelaknatan terhadap orang kafir. (lihat al-hafidz dalam Nataijul Afkar (2/156).

9. Para ulama telah khilaf tentang qunut shalat jumah. Syaikhul Islam –Rahimahullah- menyukai yang tidak qunut. Syaikh ibnu ‘Utsaimin –Rahimahullah-, berkata, ‘Para ulama berkata bahwa tidak ada qunut dalam shalat jum’ah, dikarenakan pada khutbah terdapat do’a untuk kaum mukminin.
Syaikhul Islam –Rahimahullah- memilih disyariatkannya qunut bagi orang yang shalat sendirin (lihat al-Inshaf (2/175)
Maka permasalahan ini, yaitu qunut dalam shalat jum’at, shalat sunnah, dan shalat sendirian, membutuhkan tambahan penelitian dan pembahasan. Wallahu a’lam.

10. Sebagian ulama ahli fiqih berkata, ‘Sesungguhnya qunut nazilah hanyalah dilakukan oleh imam kaum muslimin, adapun orang awam kaum muslimin, maka tidak melakukannya.
Pendapat ini dikritisi dari beberapa segi;
1. Bahwa hukum asal perbuatan Nabi –Shalallahu alaihi wa salam- adalah bersifat umum untuk keseluruhan kaum muslimin, kecuali jika ada dalil sharih (nyata) yang menunjukkan pengkhususannya. Dan ternyata tidak ada satu dalil validpun yang menunjukkan adanya pengkhususan
2. Hadits Malik bin al-Huwairits –Radiallahuanhu- secara marfu’ yang menyebutkan Nabi –Shalallahu alaihi wa salam- bersabda, ‘Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat’ (HR. al-Bukhari) adalah bukti bahwa perbuatan-perbuatan Nabi –Shalallahu alaihi wa salam- dalam shalat adalah untuk kaum muslimin secara umum.
3. Abu Hurairah –Radiallahuanhu- telah qunut, dan beliau bukanlah imam kaum muslimin. Sebagaimana telah valid dalam shahihain, bahkan telah valid dari Anas bin Malik, Ibnu ‘Abbas, al-Barra’ bin ‘Azib, Muawiyah, dan Abu Musa –Radiallahu anhum- bahwa mereka qunut, sementara mereka bukanlah imamul a’zham, dan masjid mereka bukanlah masjid imamul a’zham. Itulah enam sahabat Rasulullah –Shalallahu alaihi wa salam-, sebagian mereka termasuk orang yang meriwayatkan hadits-hadits qunut nazilah dan melakukannya.

11. Hikmah Qunut Nazilah
Ibnu Hajar –Rahimahullah- berkata, ‘Tampak bagiku bahwa hikmah menjadikan qunut pada saat i’tidal tidak pada sujud, -padahal sujud adalah tempat dikabulkannya do’a sebagaimana telah valid dari nabi –Shalallahu alaihi wa salam- bahwa waktu yang terdekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah saat dia sujud, dan juga perintah yang telah valid bahwa r memerintahkan untuk berdo’a di dalamnya- adalah bahwa yang dituntut dari qunut nazilah adalah agar makmum mengikuti imam dalam do’a sekalipun hanya dengan mengucapkan amin, lebih-lebih lagi para ulama telah sepakat bahwa qunut dibaca dengan keras.’ (Fathul Bari (2/570))
Qunut adalah hak ukhuwwwah (persaudaraan) yang disyi’arkan. Para mujahid lebih senang dengan do’a kita daripada sumbangan sembako dan demo kita, dikarenakan do’a untuk mereka adalah sebuah bukti bahwa kita berada di pihak mereka, bersama mereka, dzahir dan batin. Berbeda dengan bantuan material yang bisa saja dari orang muslim maupun kafir, atau hanya karena kemanusiaan, bukan karena persaudaraan dalam keimanan.
(Makalah ini dimuat di buletin Qiblati edisi 2, Pebruari 09, http://www.qiblati.com, dan lebih detail ada di Majalah Qiblati edisi 5, bulan Pebruari tahun IV/ 2009)