Ngga terasa saya udah melewati 11 hari dari awal tahun baru 2009. Tentunya banyak episode-episode yang udah singgah dalam perjalanan hidup saya. Dengan tidak mengurangi rasa syukur saya kepada Allah SWT, saya merasa bahwa belum banyak yang dapat saya lakukan baik untuk orang lain maupun untuk diri saya sendiri. Namun demikian saya bersyukur hingga detik ini Allah masih memberikan nafas dan kesempatan bagi saya untuk dapat meraih dan menjemput kembali apa yang tertunda, apa yang terlewatkan dan apa yang belum tercapai.

Saya sering merasa sebagai manusia yang menyedihkan. Begitu luas dan lapangnya nikmat dan kesempatan yang dianugerahkan Allah SWT kepada saya namun detik-detik yang berharga itu terlewatkan begitu saja. Saya terlanjur larut dalam khayalan semu yang selama ini hanya menjadi sketsa yang begitu nyata dalam dunia saya. Mengharapkan kebahagiaan seperti orang-orang disekitar membuat saya lalai dalam menentukan prioritas dalam hidup. Khayalan-khayalan itu telah berhasil mengalahkan akal sehat saya untuk tetap menjadi HambaNya yang selalu berada dalam kesabaran dan penuh rasa syukur walau dalam keadaan bagaimanapun.

Apa arti air mata penyesalan ini jika kesungguhan untuk merubah nasib tak mampu dikikis olehnya. Saya malu karena pernah memberikan kata-kata optimis bagi sahabat-sahabat saya, namun saya sendiri belum mampu melakukannya untuk diri saya sendiri. Positif thinking itu pupus seiring dengan ketidakmampuan saya dalam meraih apa yang saya impikan. Semoga ketidakmampuan itu bukanlah harga mati dan itu akan menjadi sebuah keberhasilan yang tertunda. Saya sadari bahwa kesalahan terbesar saya adalah melakukan perbuatan salah terhadap hal yang saya tahu benar itu salah, mengingkari komitmen dan kesungguhan saya selama ini untuk memperbaiki diri. Banyak yang dikorbankan karenanya… waktu, saudara dan sahabat. Kita tidak bisa berharap banyak agar orang-orang disekitar kita dapat memahami diri kita, mungkin kita harus lebih bijaksana menyikapi ini dengan berbesar hati berbalik memahami mereka yang tidak paham akan diri kita.

Januari ini bagaikan melewati ucapan ‘Selamat Menempuh Hidup Baru’ bagi saya. Namun sayangnya bahtera kehidupan baru ini belum dapat saya kayuh bersama dengan teman hidup yang disunnahkan. Bicara tentang ‘teman hidup’ … mengingatkan saya akan sebuah sms ucapan Selamat Tahun Baru Hijriyah dari seorang teman yang isinya …

Semoga tahun kemarin menjadi cerminan terhadap kekurangan & kelebihan yang kita miliki. Muhasabah telah tiba saatnya, teman yang disunnahkan sudah saatnya ada ..

Subhanallah, semoga ini menjadi doa sekaligus cambuk buat saya untuk tetap istiqamah dalam memperbaiki diri dengan segenap kesungguhan yang Insya Allah nantinya akan berbuah manis. Amiiin.
Syukran ya sahabat, semoga Allah SWT memberkahi rezki, kesehatan dan kebahagiaan selalu kepada kamu sekeluarga. Amiiin.

Salah satu daftar kesalahan saya adalah meninggalkan penulisan skripsi dalam waktu yang begitu lama. Kenapa? Ternyata saya mencintainya ’setengah hati’ dan melalui nya dengan ’separuh nafas’ (halah.. lagu Ada Band sama Dewa 19 jadi kebawa-bawa). Sekarang saya harus mengejar deadline yang tinggal hanya sampai awal bulan depan saja untuk dapat mencapai gelar S1. Disamping itu, kini status sebagai seorang pengangguran mulai saya sandang setelah masa kontrak kerja saya yang telah habis akhir Desember 2008 kemarin. Semoga Allah SWT memudahkan dan melapangkan jalan saya untuk dapat menjemput gelar sarjana saya dan kembali mendapatkan pekerjaan baru. Amiin.

Adalah harapan dan cita-cita terbesar saya untuk dapat memaknai hidup ini dengan penuh arti dan tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa lalu. Akan terasa mubazirnya sisa-sisa nafas ini jika saya ngga’ sungguh-sungguh untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik dan berarti bagi diri sendiri maupun orang lain.

Semoga masih ada waktu untuk bertaubat dan memperbaiki diri serta menjadi HambaNya yang mempunyai arti.
Amiiin …