17Sep2008 Filed under: Daily Author: Aan

Bulan Juni 2008 yang lalu saya dan kakak saya ngobrol-ngobrol singkat tentang perubahan seorang manusia menuju ke jalan kebaikan yang sesuai dengan syariat Allah SWT. Keesokan harinya saya meminta kakak untuk mengirimkan kembali poin-poin obrolan kami waktu itu via sms yang isinya …

” Satu pekerjaan atau perbuatan akan dihitung sebagai satu amalan atau kebaikan dan pahala jika memenuhi 3 syarat, diantaranya adalah; 1) Niat ikhlas karena Allah SWT, 2) Sesuai dengan syariat Allah SWT, 3) Sungguh-sungguh dalam berbuat. ”

(Syukran ya kak atas sms nya .. semoga Allah senantiasa selalu merahmati dan memberkahi kakak sekeluarga dan saudara-saudara sekalian. Amiiin)

Biasanya kita akan melontarkan seribu satu alasan jika kita belum siap dan ikhlas untuk memperbaiki diri dan berubah semata-mata hanya karena Allah, misalkan belum adanya Hidayah dari Allah ataupun hal-hal senada dengan itu. Mendengar keterangan dari kakak itu saya seolah bercermin pada diri sendiri. Dalam perjalanan hidup yang saya lewati hingga saat ini tentunya hal itu pernah saya alami dan memang akan terasa berat dilakukan jika kita belum bisa meninggalkan pengaruh duniawi yang sedikit banyaknya telah menguasai diri kita hingga kita enggan mematuhi syariat Allah dan tuntunan Rasulullah Muhammad SAW.

Ada satu hal yang sering membuat saya lupa yaitu kehidupan ini hanya sesaat dan kita nggak akan pernah tahu kapan Allah akan memisahkan raga ini dari ruh nya. Sementara itu kita masih setia larut dalam kenikmatan duniawi yang sesaat ini dan timbangan amalan-amalan kita hingga saat ini … apakah ia dapat untuk menghapus dan melepas nista serta dosa yang telah melekat dalam ruhani ini? Anehnya saya menyadari hal itu namun saya seolah ngga’ tahu dan ngga’ mau tahu akan hal itu. Hanya rasa malu yang amat besar terhadap Allah pada saat taubat dan penyeselan dari dosa-dosa ini yang sering menjadi ‘mainan’ hidup.

Saat sedang menyelesaikan tulisan ini saya teringat akan sebuah syair indah yang dilantunkan oleh group Nasyid Raihan yang berjudul “Damba Cinta-Mu”, …

Tuhanku ampunkanlah segala dosaku
Tuhanku maafkanlah kejahilan hambaMu

Ku sering melanggar laranganMu
Dalam sedar ataupun tidak
Ku sering meninggalkan suruhanMu
Walau sedar aku milikMu

Bilakah diri ini kan kembali
Kepada fitrah sebenar
Pagi ku ingat petang ku alpa
Begitulah silih berganti

Oh Tuhanku Kau pimpinlah diri ini
Yang mendamba cintaMu
Aku lemah aku jahil
Tanpa pimpinan dariMu

Ku sering berjanji depanMu
Sering jua ku memungkiri
Ku pernah menangis keranaMu
Kemudian ketawa semula

Kau Pengasih Kau Penyayang Kau Pengampun
Kepada hamba-hambaMu
Selangkah ku kepadaMu
Seribu langkah Kau pada ku

Tuhan diri ini tidak layak ke syurga Mu
Tapi tidak pula aku sanggup ke neraka Mu

Ku takut kepadaMu
Ku harap jua padaMu
Moga ku kan selamat dunia akhirat
Seperti rasul dan sahabat

Semoga syair diatas bisa menjadi renungan bagi kita agar tidak terlalu larut dalam kenikmatan duniawi yang sesaat ini dan senantiasa selalu mengingat Allah SWT.

Ngga’ terasa postingan kali ini jadi agak panjang, padahal tadinya ngga’ punya punya niat akan sepanjang ini…hehe. Mungkin pagi ini Allah telah menggerakkan jemari ini untuk menuliskan sepenggal “The Inside of Me” ini ya ^^. Alhamdulillah hati ini jadi sedikit lebih lega setelah bisa berbagai kepada sobat-sobat semua. Semoga ini akan menjadi peringatan untuk diri saya sendiri dan Insya Allah kita benar-benar bisa mengambil hikmah nya … Insya Allah.