Setiap amal perbuatan manusia pasti ada balasannya di akhirat kelak. Bahkan, amal sepele yang beratnya tak lebih dari biji sawi pun ada hitungannya. Amal-amal itulah yang nanti akan menentukan kemana akhirnya seorang hamba kembali, ke surga atau neraka. Yang pasti, tak ada seorang manusia pun yang ingin dirinya kekal di neraka.
Setiap manusia yang meyakini akan adanya hari pembalasan, ia akan berusaha melakukan amal-amal kebaikan yang akan membawanya ke surga. Bahkan, Rasulullah mengingatkan kepada umatnya untuk tidak meremehkan sekecil apapun kebaikan yang berpotensi membawa sang pelakunya ke surga.
Begitu banyak amalan yang terlihat ringan dan sepele, dikatakan oleh Rasulullah sebagai pembuka pintu surga. Karena bisa saja amalan ringan tersebut justru berkadar tinggi di sisi Allah. Dan sungguh beruntung orang yang bisa memberatkan timbangan amal kebaikannya dengan amal-amalan ringan namun bisa membawanya ke surga.
40 amalan yang dipilih oleh Fakhruddin Nursyam, sang penulis, dikatakan dalam buku ini adalah bersumber dari hadis rasulullah yang telah terseleksi dan dapat dipertanggungjawabkan. Di beberapa hadis, penulis memang memberikan penjelasan mengenai tingkat keshahihannya dan memperkuat dengan ayat dan hadis lain yang saling berkaitan.
Diantara amalan ringan yang diuraikan penulis dalam buku yang bersumber dari buku Tamamul Minnah bi al-Bayaani al-Khisha al-Mujibah lil Jannah karya syaikh Abu al-Fadhl al-Hasani ini, adalah Menjenguk Orang Sakit.
“Barang siapa menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, maka malaikat berseru, “engkau adalah orang yang baik, langkahmu adalah langkah yang baik, dan engkau telah mendapatkan suatu posisi di surga” (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah ra)
Menjenguk orang sakit memang merupakan amalan yang terlihat mudah dan ringan. Semua orang mungkin saja bisa melakukannya. Baik ia miskin maupun kaya, asalkan mau menyempatkan diri menengok saudaranya yang sedang sakit, atau sekadar berkunjung untuk bersilaturrahmi kepada saudaranya yang lain, ia bisa mendapatkan kesempatan meraih keutamaan amalan ini.
Selain hadis di atas, penulis juga menguraikan hadis mengenai Menutup Aib Seorang Muslim.
“Tidak ada seorang mukmin yang melihat aurat saudaranya lalu ia menutupinya, melainkan Allah akan memasukkannya ke dalam surga.”
Pada buku ini penulis mengutip pendapat syaikh Utsaimin mengenai pengertian aurat dalam hadis di atas. Menurut beliau, aurat di atas yang dimaksud adalah aurat maknawiyah (aurat yang berupa aib, maksiat dan keburukan sifat atau tindakan).
Dalam hadis lain disebutkan bahwa Allah akan menutupi aib seorang muslim di dunia dan di akhirat bagi mereka yang menutupi aib saudaranya. Amalan ini juga terlihat ringan, namun sangat sulit dilakukan bagi sebagian orang pada saat ini, apalagi ditambah dengan pemberitaan di televisi -terutama infotainment- yang mengumbar aib seseorang tanpa melalui proses tabayun (‘cek dan ricek’). Tetapi jika hal ini dilakukan demi untuk penegakkan hukum dan dijadikan pelajaran bagi orang lain, maka membuka aib orang tersebut menjadi sah-sah saja. Kita pun dapat menilai mana yang lebih utama, apakah dengan menutupi aib seseorang lebih mendatangkan maslahat dibandingkan mafsadat, atau malah sebaliknya.
Keempat puluh amalan ringan yang ada di buku ini merupakan amalan sosial yang bersifat materi maupun immateri, seperti memberikan kemudahan dalam berjual beli, memasukkan kegembiraan ke dalam hati seorang muslim, santunan kecil kepada orang lain, mendamaikan dua pihak yang berseteru, menyingkirkan kotoran dan gangguan dari mesjid, dan amalan lainnya.
Semua amalan ringan yang disebutkan dalam buku ini bisa saja menjadi amalan luar biasa yang dapat mengantarkan pelakunya ke surga. Namun, semua itu kembali lagi kepada ikhlas atau tidaknya niat sang pelaku. Jika tidak, amalan tersebut akan menjadi amalan ringan dan sepele yang biasa saja.