Dalam situasi memilukan seperti yang terjadi di Palestina saat ini, kita sering terjebak pada ketergesaan dan kecerobohan. Namun dalam sebuah kesempatan, saya diingatkan oleh seorang ustadz akan pentingnya do’a, dan tentu ini bukan lip service atau basa-basi.

Kerap kali kita mendengar nada-nada meremehkan pada kekuatan sebuah do’a, misalnya ungkapan seperti: ”jangan cuma do’a”, ”tidak cukup dengan do’a”, atau ”hanya do’a yang kita punya” dan sebagainya. KIta sering terjebak pada materi, bahwa bantuan material lebih penting dari do’a. Padahal jika hanya materi negara-negara Eropa tak kurang besar bantuannya, “orang-lain” pun melakukannya, mungkin lebih besar dari kita yang memang tak punya lebih banyak. Namun yang jelas, mereka tidak melakukan do’a, tak ada harapan yang mereka tujukan pada Allah zat yang berhak diharapkan pertolongannya. Bantu sebisa mungkin dengan materi apa saja, namun do’a adalah perkara yang tidak boleh disepelekan bagi ummat beriman.

Do’a adalah senjatanya bagi orang-orang beriman : “Ad-Du’aa silaahul mu’miniin”, bahkan Rasulullah SAW. Mengatakan bahwa do’a adalah pangkal segala ibadah:

“Doa adalah pangkal (otak)-nya Ibadah.” (HR. Tirmidzi)

Sungguh, telah rapuh aqidah kita jika meremehkan do’a. Sebab keyakinan pada do’a adalah keyakinan pada Allah sebagai Pelindung dan tempat meminta. Nabi SAW dalam kesempatan lain menggambarkan kedudukan do’a seorang mu’min:

“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah, selain daripada doa.” (HR. Ibnu Majah dan Abu Hurairah)

“Siapa saja yang tidak mau memohon (sesuatu) kepada Allah, maka Allah akan murka kepadanya.” (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah)

“Mintalah kepada Allah akan kemurahan-Nya, karena sesungguhnya Allah senang apabila dimintai (sesuatu).” (HR Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud)

Hadits-hadits tersebut di atas menunjukkan urgensi dan keharusan berdoa yang berupa Permohonan hamba kepada Tuhannya, untuk mendapatkan sesuatu.

Tentu saja, jika do’a sepenuh hati sudah dipanjatkan maka bentuk bantuan lain berupa harta benda, waktu, suara, dan tenaga harus dioptimalkan semampu kita, namun jangan remehkan urgensi do’a. Tentu saja, bukan do’a sebarang do’a. Do’a seorang hamba yang dipanjatkan dengan ikhlash dan diijabah tentu akan jauh lebih bernilai dari uang jutaan dolar, meski akan lebih baik jika keduanya dilakukan.

Kekuatan sebuah do’a bagi seorang mu’min merupakan sesuatu yang pasti. Semakin tebal keimanan seorang mu’min, maka tak mungkin ia meremehkan do’a. Meskipun Israel memiliki ribuan pasukan terlatih, mesin dan senjata modern, dan di sisi lain ummat Islam di Palestina hanya bersenjatakan batu dan roket sederhana, namun kekuatan dan kedahsyatan doa adalah pengimbang dan penentu bagi orang beriman.

Doa-doa adalah senjata para Nabi dan para ‘ulamaa. Do’a lah senjata yang mampu menyelamatkan Nuh as dengan diturunkannya banjir. Melalui do’a Nabi Sholeh as selamat dari dzalimannya kaum Tsamud. Do’a juga senjata yang menyelamatkan Musa as. Melalui do’a Nabi Sholeh as selamat dari kedzoliman kaum Tsamud, melalui do’a juga Nabi Hud as selamat dari kaum ‘Aad. Dan tentu saja di berbagai keadaan kritis, do’a lah yang menyelamatkan serta memberikan kemenangan kepada Rasulullah SAW dan para sahabat.

Do’a lebih bermanfaat dari kutukan, meski kecaman pun sebuah ungkapan solidaritas. Do’a lebih penting dari demonstrasi, meski demonstrasi pun merupakan perangkat berjuang yang bermanfaat dan penting.

Teruslah berdo’a untuk Palestina dan seluruh ummat Islam setiap kesempatan. Siapa tahu anda adalah salah satu hambanya yang diijabah, meski hanya do’a sederhana :

“Allahummanshur ikhwaana al-mujahidiina fii Filistin (Ya Allah tolonglah saudara-saudara kami mujahidin di Palestina).”