Zuhud

PENDAHULUAN

Zuhud menurut para ahli sejarah tasawuf adalah fase yang mendahului tasawuf . Zuhud adalah hikmah pemahaman yang membuat para penganutnya mempunyai pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi, dimana mereka tetap bekerja dan berusaha akan tetapi kehidupan duniawi itu tidak menguasai kecenderungan hati mereka serta tidak membuat mereka mengingkari Tuhannya. Zuhud ditimba dari Al-Qur’an, sunnah Nabi, dan para sahabatnya.
Zuhud adalah termasuk salah satu ajaran agama yang sangat penting dalam rangka mengendalikan diri dari pengaruh kehidupan dunia. Orang yang zuhud lebih mengutamakan kehidupan akherat yang kekal dan abadi dari pada mengejar kehidupan dunia yang fana dan sepintas lalu. Hal ini dapat dipahami dari isyarat Al-Qur’an yang artinya sebagai berikut: “katakanlah kesenangan dunia hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun”
Dengan zuhud mereka tidak diperbudak oleh harta, kekuasaan ataupun hawa nafsu. Sehingga dengan begitu mereka bisa mewujudkan keadilan sosial dalam bentuknya yang luhur. Karena itu zuhud adalah suatu metode kehidupan dan tonggak-tonggaknya adalah mengurangi nikmat kelezatan hidup dan berpaling dari keterpesonaan terhadap kelezatan itu.


PEMBAHASAN

Pengertian Zuhud
Suatu cara hidup yang dipilih oleh orang-orang yang cenderung bertaqorrub kepada Alloh adalah Zuhud. Menurut bahasa Zuhud adalah menentang kesenangan atau keinginan. Sedang hakikat zuhud adalah berpaling dari mencintai sesuatu menuju sesuatu yang lebih baik. Dalam istilah ada beberapa pengertian yang diungkapkan oleh ahli-ahli tasawuf antara lain:
=> Benci kepada dunia dan berpaling kepadanya
=>Membuang kesenangan dunia untuk mencapai kesenangan akhirat
=>Hati tidak mempedulikan kekosongan tangan
=>Membelanjakan apa yang dimiliki dan tidak menghargakan apa yang didapat
=>Tidak menyesal atas apa yang tidak ada dan tidak bergembira dengan apa yang ada

Akan tetapi jika kita memperhatikan semangat syariat islam, maka diantara pengertian itu ada yang kurang tepat. Islam tidak mengharuskan manusia menolak kesenangan sama sekali dan tidak mengharuskan hidup menderita. Apabila nikmat itu diberikan oleh Allah maka hendaknya diterima dengan segala kesukuran, tidak rakus dan tidak meremehkanya.
Karena itu maka zuhud bila diartikan dengan semangat syariat islam dapat diformulasikan sebagai berikut menghindari perbudakan harta benda, tidak rakus terhadap kemewahanduniawi, menerima nikmat Allah dengan perasaan qonaah dan cenderung mengutamakan ganjaran pahala akhirat, memilih hidup sederhana karena percaya bahwa hazanah rezeki yang tidak terkira ada ditangan Allah, rajin bekerja dan berderma, sabar menjauhi subhat dan tidak meminta-minta.

Menolak Perbudakan Harta Benda
Jika kamu zuhud terhadap dunia, kamu adalah orang yang cerdik diantara manusia. Sedang zuhud adalah menghilangkan rasa cinta hati terhadap harta benda, bukan sunyi dari harta benda. Prinsip zuhud dengan menolak perbudakan harta benda, tidak rakus kepada kemegahan duniawi ditegaskan dalam Al-Qur’an :”Harta anak-anak itu perhiasan penghidupan dunia, dan amal shalih itulah yang tinggal (buahnya), lebih baik pada sisi Tuhanmu ganjaranya dan sebaik-baikpengharapan”
Dunia ini penuh dengan keindahan, perhiasan dan kemegahan yang banyak sekali menyilaukan pandangan. Karena itu hendaklah diterima dengan penuh kewaspadaan jangan sampai diperbudak olehnya.mengenai bahayanya rakus dan penghambaan harta benda digambarkan dalam sabda rosul “celakalah penyembah dinar dirham dan kain bludru jika diberi dia ridho dan jika tidak diberi ia tidak ridlo.”
Sebagai mata rantai dari sikap zuhud adalah qona’ah, perasaan cukup dan ridlo menerima pemberian Allah, sekalipun sedikit menurut pandangan orang lain.

Hidup Sederhana
Sebagai konsekwensi dari pada hidup dengan memilih hidup sederhana, yakni sederhana dalam pakaian sederhana dalam makanan dan sederhana dalam tempat tinggal sesuai dengan contoh kehidupan Rosullaloh. Ketika wafat Rosulalloh tidak meninggalkan dinar, dirham, hamba sahaya laki ataupun wanita. Dan tidak meninggal sesuatu apapun kecuali keledai putih siapa yang biasa dikendarainya dan sebidang tanah yang disedekahkan untuk kepentingan orang rantau. Yang terpenting baginya adalah terpenuhinya kebutuhan primer berupa makanan, pakaian dan tempat tinggal.

Kerja Keras dan Persiapan Akherat
Kegiatan zuhud yang ditunjukan oleh Rosulullah bukanlah manifestasi dari pada kemalasan dan pengangguran. Beliau rajin bekerja tetapi hasil kerjanya tidak dinikmatinya sendiri.melainkan diambil seperlunya selainya didistribusikan untuk kepentingan umat. Dengan demikian hidup zuhud yang dikehendaki syariat bukanlah penganguran dan kemalasan berusaha. Syariat mendorong umat islam supaya rajin bekerja dan banyak berproduksi.

Menjauhi Syubhat (Wara’)
Menjauhi syubhat adalah rangkaian dalam pola kehidupan zuhud, yakni berhati-hati agar tidak sampai terjatuh kepada perbuatan yang samar halal haramnya.

Ada beberapa faktor yang membuat berkembangnya Zuhud yaitu :
1. Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Faktor yang pertama dan yang utama yang mengembangkan zuhud adalah ajaran-ajaran islam yang terkandung dalam al-Qur’an dan Hadist. Al-Quran telah mendorong manusia agar hidup sholeh, taqwa kepada Allah menghindari dunia beserta hiasanya, memandang rendahhal-hal yang duniawi, dan memandang tinggi kehidupan diakherat. Selain itu Qur’an juga menyeru manusia agar beribadah bertingkah laku bauk, shalat malam dll yang menjadi inti dari Zuhud.
Disini akan dikemukakan beberapa ayat al-Quran atau Hadist yang mengisyaratkan kefanaan dunia dan perlunya menahan diri darinya
“Ketahuilah sesungguhnya kehidupan dunia ini hanya permainan serta melalaikan hiasan-hiasan, megah-megahan diantara kamu dan bangga-banggaan tentang banyak harta maupun anak, seperti hujan yang tanaman-tanamanya mengagumkan para petani , lalu tanaman itu menjadi kerinng dan kamu lihat warnanya menguning sampai nanti terus hancur. Dan diakherat nanti ada azab keras dan ampunan Allah maupun keridoan-Nya, sementara kehidupan dunia ini tidak lain hanya kesenangan yang menipu.”
Menurut Al-Quran kehidupan dunia adalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, tidak kekal dan kesenangan yang menipu. Karena itu seorang mukmin harus berusaha untuk menemui Allah bahkan hendaklah tidak tidak lebih mementingkan kehidupan dunia terpukau olehnya dan menjadikanya sebagai pengganti akherat.
2. kondisi-kondisi sosio politik
Konflik-konflik yang terjadi sejak akhir masa kholifah usman bin affan mempunyai dampak terhadap kehidupan religius, sosial dan politik kaum muslimin. Konflik politik ini bukanya untuk mengingkari agama , sebab masing –masing kelompok yang saling bertentangan itu selalu menggunakan teks-teks agama untuk mengokohkan dan menguatkan sikapnya. Dengan sendirinya hal ini mendorong adanya upaya untuk memahami teks-teks itu atau mengterpretasikanya secara khusus. Ketikan itulah masing-masing kelompok memiliki golongan keagamaan dengan doktrin tersendiri, dan masing-masing kelompok berusaha menarik para penyair dan ulama kepihaknya untuk menarik masa sebanyak-banyaknya.
Dengan adanya kericuhan kondisi poliik ini maka mendorong sebagian kaum muslimin sejak waktu yang dini memilih kehidupan yang mengisolasi diri untuk beribadah serta menjauhi keterlibatan dalam konflik-konflik politik.
SEBUAH MAKALAH

KESIMPULAN

Dengan memperhatikan karateristik kehidupan zuhud yang digariskan syariat Islam, maka alangkah mulianya cara kehidupan yang semacam itu. Apalagi seseorang dapat mensuri tauladani kehidupan zuhud yang ditempuh oleh para Anbiya’ dan siddiqin, maka ditemukanlah mutiara kehidupan yang suci. Ternyata kehidupan mereka lebih tentrem tenang dan bahagia.sebaliknya kehidupan yang dimotivasi dengan rakus dan tama’ terhadap kemegahan seperti Fir’aun dan Qorun justru itu yang celaka. Dengan demikian cara hidup zuhud sesuai garis agama itulah yang mengantarkan kepada kebahagiaan dunia dan akherat yakni kehidupan yang ditegakan diatas prinsip-prinsip iman, takwa dan wara’, rajin bekerja, tidak rakus dan tidak tama’suka berderma dan penuh kesibukan mempersiapkan bekal akherat. Pada prinsipnya dua keuntungan besar yang diharapkan dalam kehidupan zuhud adalah memperoleh mahabah Allah dan mahabah sesama manusia. Ada dua faktor yang menyebabkan berkembangnya zuhud yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah dan kondisi-kondisi sosio-politik.