Ditulis oleh Dewan Asatidz
Santri, secara total pada hakikatnya hanya orsinilitas spesipik budaya bangsa kita, sebagai honoris causa dari masyarakat kepada individual dengan kriteria tertentu, sebagaimana sang kiai, berdasarkan aspirasi masyarakat. Keberadaannya terus eksis di tengah-tengah aneka ragam suku, kasta dan pergeseran budaya bangsa kita. Dan honoris causa tersebut sama sekali tidak berlaku di negara lain. Santri, secara total pada hakikatnya hanya orsinilitas spesipik budaya bangsa kita, sebagai honoris causa dari masyarakat kepada individual dengan kriteria tertentu, sebagaimana sang kiai, berdasarkan aspirasi masyarakat. Keberadaannya terus eksis di tengah-tengah aneka ragam suku, kasta dan pergeseran budaya bangsa kita. Dan honoris causa tersebut sama sekali tidak berlaku di negara lain. Dalam iklim bermasyarakat praktisi universitas, telah melekat dan membudaya sebutan akademisi. Kini, dengan terus bertambah variatifnya aktivitas dan model pondok pesantren yang ada, seiring dengan terus berkembangnya pola bahasa, sudah saatnya pula berlaku dan mensosialisasikan istilah ‘’pesantrenisi’’, yakni status bagi praktisi dan atau komunitas yang setidaknya punya hubungan darah dengan ‘’urat nadi’’ pondok pesantren. Disisi lain. Dari aspek etimologis, jika gelar pesantrenik(gelar santri) disetarakan dengan posisi gelar akademik(mahasiswa), yakni kata siswa yang ditambah dengan awalan kata maha, sehingga menjadi mahasiswa. Umpamanya saja, kata santri ditambah maha, kemudian menjadi mahasantri, misalnya saja, Abdurrahman Mas’ud.[1] Dengan sendirinya telah menggeser komunitas santri dari posisi tawaddu-isme(baca: golongan yang rendah hati), baik secara individual santri, maupun totalitas institusi pesantren, karena dari kata santri itu pula, nama pesantren diambil dan dinisbatkan. Sekaligus merupakan faktor yang “memproklamirkan diri� komunitas santri sebagai komunitas mu’adzom nafsah(mengagungkan diri). Realitasnya, dengan menyandang gelar maha itu, juga tidak jelas kualitas “maha apa� yang disandangnya ?. Sedikit pun tidak tepat, kalau memberlakukan istilah ‘’pesantrenisasi’’, yang ‘’terkesan promosi’’ menggalakkan masyarakat untuk berhubungan dengan institusi pesantren. Bukan pula ‘’santrinisasi’’, sebagaimana pendapat Dr. Azyumardi Azra.[2] Yang terkesan “memaksakan kehendak’’ kepada pihak lain, dengan gerakan mengsantrikan berbagai lapisan masyarakat. Jelaslah, dari aspek lain tetap sangat tidak tepat, bila gelar santri (status pesantrenik) disetarakan dengan gelar mahasiswa (status akademik), baik dengan penambahan kata maha di awalnya, atau -isasi di akhirnya. Peta Komunitas Santri ? Realitas sekarang ini, secara total sangat tepat komunitas santri dibagi ke dalam dua golongan. Pertama, santri profesi, sebuah gelar pesantrenisi, yakni gelar bagi praktisi, umumnya mereka yang menempuh pendidikan atau setidaknya punya hubungan darah dengan pesantren. Kedua, santri kultur, yaitu gelar santri yang disandangkan berdasarkan oleh budaya yang berlaku atau membudaya dalam kehidupan masyarakat. Meskipun orang tersebut tidak pernah ‘’bersentuhan’’ dengan bancik(bangku) pendidikan pesantren. Pertama; Santri Profesi
Sedikit pun, tetap tidak tepat, kalau dalam jama’ah santri, disebut adanya santri Abangan, atau Santri Kejawen dan sejenisnya. Karena jelas, baik secara faktor individual, maupun faktor “warisanâ€? dari leluhurnya, tetap “tidak ada peluangâ€? untuk berposisi sebagai Santri Kejawen, atau Santri Abangan, yang istilah tersebut terdapat dan sering berlaku digunakan dalam konteks gelar; Islam Kejawen karena model faham yang diyakininya, atau Islam Abangan, berdaskan percampuran aliran “Islam warisanâ€? dari leluhurnya, dengan tanpa adanya ketaatan beribadah. Santri, pada asalnya adalah honoris causa bagi orang yang bernaung di sebuah pondok pesantren, sehingga dalam konteks pendidikan, oleh para peneliti sering dikatakan bahwa santri adalah salah satu unsur dari pondok pesantren.[3] Sekarang ini, telah berlakunya “monopoliâ€? dua gelar santri dan mahasiswa, persisnya “santri dari pesantren mahasiswaâ€?, yakni sebagaimana yang telah marak sekarang-sekarang ini, “meskipun, kadar ke-santriannya masih sering perlu dipertanyakan dan dipertimbangkanâ€? kembali. Karena mereka, sifatnya “santri baruâ€?, yang sebelumnya –mayoritas– identik dengan pergaulan bebas di tempat kost-kostan. Terlebih lagi, dengan maraknya bermunculan institusi yang menamakan diri pondok pesantren mahasiswa. Dengan berbagai ragam karakter ummat akademisi itu, kalau mereka sebagai mahasiswa “merebut peluang santriâ€?, maka dapat dipastikan akan lahirnya komunitas “santri kombinasiâ€?. Level santri, jelas jauh sangat kecil dibandingkan dengan besarnya bendera Islam, yang secara bahasa kini telah ternoda oleh kalimat liberal, sekuler dan sejenisnya. Dengan semakin kencangnya gerbong pemikiran di Indonesia yang menamakan diri Islam liberal (atau sejenisnya). Maka dapat lebih dipastikan lagi, untuk muncul dan bangkitnya komunitas “santri liberal dan sejenisnyaâ€?, meski pun tidak muncul secara terorganisir, tetapi akan liberalis atau sekularis secara individual dan sangat alamiah, atas hembusan (liberalis, sekularis) yang terus dialirkan oleh para promotor dengan masing-masing kepentingannya itu. Tentunya, sangat wajar pula akan berlaku gelar santri liberal, santri sekuler dan sejenisnya. Sebagaimana yang dikatakan di awal tadi. Bahwa komunitas santri adalah identik dengan akhlakulkarimah dan berbagai aspeknya. Bukti, loyalitas, toleransi dan tawaddu(rendah hati) dalam kehidupan komunitas santri, baik santri di dalam pesantren(santri profesi), maupun komunitas santri di luar pesantren(santri kultur). Di antaranya, bisa dilihat dari etika sosial sesama santri dengan saling memanggil kakang (bahasa Jawa yang berarti kakak) atau yang singkatnya kang (kak). Juga para kiai pengasuh pesantren biasa memanggil kang atau kakang kepada para santrinya, sebagai proses pembelajaran etika sosial terhadap para santrinya. Meskipun, juga tetap terdapat “jarak” antara santri unior dengan santri senior yang sudah menamatkan jenjang pendidikan, dan menjadi tenaga pengajar di pesantren tersebut, yakni para santri unior biasa memanggil bapak(pak guru) atau ustadz. Hal itu masih tetap sebagai expresi tawaddu dari sesama santri(antara santri unior-senior).[4] Beda halnya dalam “iklim bermasyarakatâ€? dunia akademisi, sangat nampak jarak antara unior-senior. Misalnya saja, hanya para unior yang memanggil kakak kepada senior, tapi tidak adanya interaksi dari senior untuk memanggil kakak kepada unior. Memang, hal itu secara etika beragama benar, dengan adanya posisi unior (sebagai adik) dan senior(sebagai kakak). Tetapi dari etika sosial, di sinilah salah satu hal dominan yang membedakan kondisi pesantren(dalam konteks pendidikan) dengan lembaga pendidikan lainnya. Yakni di dalam pesantren(baca: komunitas santri) terciptanya interaksi dan generalisasi dalam iklim bermasyarakat. Baik sesama santri, maupun antara kiai dan santri, meski pun jarak disebabkan oleh “posisi” yang berbeda-beda, baik santri-kiai, santri unior-santri senior, di antara mereka tetap tercipta. “Iklim bermasyarakatâ€? tersebut, juga berlaku bagi komunitas santri kultur(santri di luar pesantren) yang akan kita bahas berikut. Kedua ; Santri Kultur
Bila ada orang dari komunitas terpelajar mana pun, baik pelajar non-pesantren maupun pelajar pesantren sekali pun, tetapi tidak jelas akhlaknya, atau ber akhlakussayyiah(berakhlak buruk) alias tidak mampu i’ffah(jaga diri) dari ikhlasnya honoris causa(santri), maka, kultural atau budaya masyarakat pasti mempertanyakan ke-santrian orang tersebut !!. Realitasnya, dalam kultural atau budaya masyarakat, selama ini telah mengakar sebuah fenomena, gelar santri juga berhak di sandang oleh siapa pun yang memaksimalkan akhlakulkarimah(baca: taat kepada Allah) dalam berbagai aspek kehidupannya. Meski pun mereka tidak pernah “menyentuhâ€? pendidikan pada pondok pesantren. Sesuai asal-usul gelar santri, selama ini adalah honoris causa dari masyarakat(sebagaimana gelar sang kiai), yang dianugerahkan kepada para pelajar yang menempuh studi di pondok pesantren(baca: santri profesi). Hal itu, dikarenakan pelajar pesantren identik dengan ruh religius yang tercermin dalam akhlakulkarimahnya. Tentunya(gelar santri) identik dengan siapa pun yang memaksimalkan akhlakulkarimah, sebagaimana pandangan masyarakat selama ini. Jadi, pada hakekatnya dalam kultur masyarakat, gelar santri tidak harus “dimonopoliâ€? oleh pelajar dan alumni serta komunitas(jama’ah) pesantren saja. Dengan demikian, sesuai pendapat Clifford Geertz(1958) ; bahwa gelar santri juga berlaku bagi siapa pun yang taat beribadah[5], meski pun tidak pernah “menyentuhâ€? pondok pesantren. Tentunya, sudah saatnya kultur masyarakat pun menyatakan ‘’sungguh sangat naif dan disayangkan, honoris causa santri, selama ini hanya didominasi bahkan ‘dimonopoli’ oleh para praktisi pesantren, dan sedikit sekali membuka jalur kepada pihak lain untuk ‘ambil bagian’ dalam menyandang gelar tersebut’’. Hal tersebut cukup wajar. Sebab, santri dari aspek etimologi, jelas sangat terpancar tawaddu atau rendah hati(baca: ber akhlakulkarimah), sesuai dengan posisi yang semestinya harus dipertahankan dan dijaga atau i’ffah, oleh inidividu komunitas penyandangnya. Sehingga, juga sering berlaku penyebutan keluarga santri, yang dimaksud adalah keluarga yang taat, atau minimalnya oleh publik dianggap taat beribadah. Meskipun sering juga pendidikan dan pengetahuan agama yang pernah ditempuh apa adanya. Memang, dewasa ini, sebagaimana gelar kiai yang telah kita bahas sebelumnya. Gelar santri pun terdapat berbagai macam dan bentuknya. Misalnya, “santri gaul” gelar bagi santri yang nakal misalnya, atau “santri kalong” yakni anak-anak kampung di sekitar pesantren yang hanya numpang belajar mengaji di pesantren pada malam hari. “santri endablegâ€?(istilah Jawa Timur), yakni santri yang seenaknya sendiri, dan seterusnya. Itu semua hanya sebuah “reaksi budaya bahasa” dari pergantian iklim budaya yang terus bergejolak di dalam pranata sosial kehidupan masyarakat, dan pola perubahan “gelar” tersebut berubah berdasarkan individual santri. Dan sama sekali tidak akan mempengaruhi terhadap hakikat santri secara global atau total, serta hal tersebut hanya merupakan suatu pola bahasa yang cukup wajar. *Nasrul Afandi, alumni pesantren Lirboyo Kediri; mahasiswa universitas al-Qurawiyien Marocco; anggota pembina pesantren asy-Syafi’i Kedungwungu Krangkeng Indramayu Jawa Barat. nasrulafandi@yahoo.com Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya ________________________________________ [1] Misalnya saja, Abdurrahman Mas’ud dalam bukunya “Intelektual Pesantren, Perhelatan Agama dan Tradisi”, LKiS, Yogyakarta, 2004. [2] Azra, Azyumardi, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 2001, h, 80. [3] Bisa lihat, Dinamika Pondok Pesantren di Indonesia, Direktorat Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren; Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam; Departemen Agama Republik Indonesia, 2003, h, 8. [4] Kondisi seperti ini, sampai sekarang masih sangat dominan terdapat di berbagi pesantren yang sering disebut tradisional. Di antaranya pesantren Lirboyo Kediri, Lasem dan Karangmangu(Sarang) Rembang, Tegalrejo Magelang dan sejenisnya. Sedangkan di pesantren yang berlabel modern, hal itu sudah mulai terkikis, di antara penyebabnya karena penggunaan bahasa asing lebih dominan. [5] Clifford Geertz, 1958, The Javanese Kyai: ‘The Changing Role of a Cultural Broker’, Comparative Studies in Society and History, vol. 2, no. 2, hlm. 228-249; Clifford Geertz, The religion of Java.- Chicago and London: The university of Chicago press, 1960, h, 127.