IBADAH & KERJA

Istilah Ibadah dan Kerja atau sebaliknya mengesankan bahwa ibadah berbeda
dengan kerja. Padahal, lebih baik secara konseptual juga secara praktis, bila
kita berkata bahwa “ibadah adalah kerja” atau “kerja adalah ibadah”, sehingga
menjadikan aktivitas yang dilakukan menjadi ibadah dan pengabdian kepada Tuhan
Yang Mahaesa.

Ibadah dan Kerja atau sebaliknya mengesankan bahwa ibadah berbeda dengan
kerja. Ini karena dua hal itu diselingi oleh kata dan yang mengandung arti
bahwa keduanya berbeda. Dengan demikian, Ibadah berbeda dengan kerja. Hal
tersebut dapat dibenarkan, karena memang banyak orang yang membedakannya dalam
praktik hidup mereka. Misalnya, seseorang beribadah di masjid atau gereja dalam
arti menyadari kehadiran Tuhan dan melakukan apa yang diperintahkan-Nya. Namun,
ketika di kantor atau pasar, ia bekerja tanpa mengingat kehadiran Tuhan, bahkan
bisa jadi melanggar perintah-Nya. Padahal, lebih baik secara konseptual juga
secara praktis, bila kita berkata bahwa “ibadah adalah kerja” atau “kerja
adalah ibadah”, sehingga menjadikan aktivitas yang dilakukan menjadi ibadah dan
pengabdian kepada Tuhan Yang Mahaesa.

Kerja didefinisikan sebagai penggunaan daya. Manusia secara garis besar
dianugerahi Tuhan empat daya pokok, yaitu daya fisik, yang menghasilkan
kegiatan fisik dan keterampilan; daya pikir yang mendorong pemiliknya berfikir
dan menghasilkan ilmu pengetahuan; daya kalbu yang menjadikan manusia mampu
berkhayal, mengekspresikan keindahan, serta beriman, merasakan, dan berhubungan
dengan Allah Sang Maha Pencipta; dan daya hidup yang menghasilkan semangat
juang, kemampuan menghadapi tantangan, serta menanggulangi kesulitan.

Penggunaan salah satu dari daya-daya tersebut — betapapun sederhananya —
melahiran kerja, atau “amal” dalam istilah agama. Anda tidak dapat hidup tanpa
menggunakan (paling sedikit) salah satu dari daya itu. Untuk melangkah, anda
memerlukan daya fisik, paling tidak guna menghadapi daya tarik bumi. Karena
itu, kerja adalah keniscayaan. Tetapi, perlu diingat bahwa kerja atau amal
yang dituntut oleh-Nya bukan asal kerja, tetapi kerja yang baik (amal saleh).
Saleh adalah yang sesuai, bermanfaat, lagi memenuhi syarat-syarat dan
nilai-nilainya. Sebuah kursi yang tidak hanya memiliki tiga kaki, sehingga
tidak dapat diduduki, maka ia bukan kursi yang saleh. Ia tidak bermanfaat
karena tidak memenuhi nilai-nilai yang menjadikannya dapat dijadikan tempat
duduk. Seseorang dituntut untuk melakukan yang saleh, karena itu bila ia
bertemu dengan sesuatu yang tidak memenuhi nilai-nilainya, maka ia dituntut
untuk melakukan perbaikan (ishlâh) dengan menambah yang kurang dari nilainya
itu, yakni menambah satu kaki bagi kursi tadi. Bahkan, ishlâh yang lebih baik
lagi adalah memberi nilai tambah bagi kursi yang saleh, sehingga ia bukan saja
dapat diduduki, tetapi juga nyaman dan indah dipandang.

Ibadah terambil dari akar kata yang sama dengan ‘abid. Lalu, darinya dibentuk
kata Abdullah yang arti harfiyahnya adalah “hamba Allah”. Dalam kamus-kamus
bahasa, ‘abid (atau abdi) mempunyai sekian banyak arti. “Hamba sahaya,
anak panah yang pendek dan lebar, serta “tumbuhan yang memiliki aroma
yang harum”. Apabila seseorang menjadi ‘abid/”abdi” sesuatu, anggaplah
sebagai abdi negara, maka ketiga arti di atas merupakan sifat dan sikapnya
yang menonjol.

Seorang hamba sahaya tidak memiliki sesuatu. Apa yang dimilikinya adalah
milik tuannya. Dia adalah anak panah yang dapat digunakan tuannya untuk
tujuan yang dikehendaki sang tuan, dan dalam saat yang sama dia juga harus
mampu memberi aroma yang harum bagi lingkungannya. Pengabdian bukan hanya
sekedar ketaatan dan ketundukan, tetapi ia adalah satu bentuk ketundukan dan
ketaatan yang mencapai puncaknya akibat adanya rasa keagungan dalam jiwa
seseorang terhadap siapa yang kepadanya ia mengabdi, serta sebagai dampak dari
keyakinan bahwa pengabdian itu tertuju kepada yang memiliki kekuasaan yang
tidak terjangkau arti hakikatnya.

Sementara pakar berkata bahwa ada tiga unsur pokok yang merupakan hakikat
ibadah kepada Allah: Pertama, si pengabdi tidak menganggap apa yang berada
dalam genggaman tangannya sebagai miliknya, karena yang dinamai hamba tidak
memi liki sesuatu. Apa yang dimilikinya adalah milik tuannya. Kedua, segala
usahanya hanya berkisar pada mengindahkan apa yang diperintahkan oleh siapa
yang kepadanya ia mengabdi. Ketiga, tidak memastikan sesuatu untuk
dilaksanakan, kecuali mengaitkannya dengan izin dan restu siapa yang kepadanya
ia mengabdi.

Ada dua ragam ibadah, yaitu: Pertama, ibadah murni, yaitu kegiatan yang telah
ditentukan Tuhan atau Nabi-Nya dalam hal cara, waktu, kadar, atau tempatnya.
Bagi seorang muslim, shalat, zakat, puasa, dan haji adalah ibadah murni, karena
cara, waktu, atau kadarnya telah ditentukan Tuhan. Kedua, ibadah umum, yaitu
semua aktivitas yang dilakukan dengan motivasi memenuhi perintah Tuhan.
Berdandan, misalnya, dapat bernilai ibadah jika motivasinya ingin tampil indah
sebagaimana diperintahkan Tuhan, bukan untuk merayu dan menggoda. Bahkan, Nabi
Muhammad Saw. pernah menyatakan bahwa hubungan seks dengan pasangan yang sah
pun merupakan ibadah, selama motivasinya dibenarkan agama. Dengan demikian,
motivasi-lah yang menjadikan satu aktivitas dinilai ibadah atau bukan. Dua
orang yang menggunakan pisau yang sama dalam memotong kaki seseorang, dapat
berbeda nilai kegiatannya tergantung dari motivasinya. Jika yang pertama
seorang dokter yang mengamputasi pasiennya, maka aktivitasnya ini dapat menjadi
ibadah, berbeda dengan seorang penjahat yang melakukan hal serupa. Jika
demikian, semua aktivitas dapat menjadi ibadah, selama motivasinya sejalan
dengan tuntunan Tuhan.

Dalam konteks beribadah, kita harus pandai-pandai memilih apa yang disenangi
Tuhan bukan apa yang kita senangi. Dari sini ada prioritas-prioritas yang harus
menjadi pilihan. Secara umum, membersihkan diri dari yang kotor lebih baik
daripada menghiasi diri dengan yang indah. Mandi tanpa parfum lebih baik
daripada memakai parfum tanpa mandi. Ironinya, sementara kita melakukan
kegiatan ibadah yang bersifat menghiasi diri (tidak wajib), tetapi tidak
meninggalkan larangan Tuhan yang bersifat wajib. Ini adalah kekeliruan umum
dalam ibadah kita.

Sekian banyak hal yang berkaitan dengan aktivitas kerja dan ibadah yang harus
mendapat perhatian, antara lain: Pertama, motivasi mesti menjadi landasan
setiap aktivitas agar lebih terarah. Guna bernilai ibadah, maka aktivitas harus
tertuju kepada Tuhan, yang dalam bahasa agama disebut ikhlash. Ikhlas
menjadikan pelakunya tidak semata-mata menuntut atau mengandalkan imbalan di
sini dan sekarang (duniawi), tetapi pandangan dan visinya harus melampaui
batas-batas kekinian dan kedisinian, yaitu kekal di akhirat sana. Berangkat
dari hal ini, setiap pekerjaan hendaknya dihiasi dengan niat yang tulus, serta
hendaknya juga dimulai dengan membaca Basmalah untuk mengingatkan pelakunya
tentang tujuan akhir yang diharapkan dari kerjanya, serta menyadarkan dirinya
tentang anugerah Allah yang menjadikannya mampu melaksanakan pekerjaan itu.

Kedua, tiada waktu tanpa kerja (amal saleh) dalam hidup. Al-Quran tidak
memberi peluang bagi seseorang untuk menganggur sepanjang saat yang dialami
dalam kehidupan dunia ini. Faidzâ faraghta fanshab (QS. 94: 7). Kata
faraghta terambil dari kata faragha, yang berarti “kosong setelah
sebelumnya penuh”. Kata ini tidak digunakan kecuali untuk menggambarkan
kekosongan yang didahului oleh kepenuhan, termasuk keluangan yang didahului
oleh kesibukan. Seseorang yang telah memenuhi waktunya dengan pekerjaan,
kemudian ia menyelesaikan pekerjaan tersebut, maka waktu antara selesainya
pekerjaan pertama dan dimulainya pekerjaan selanjutnya dinamai faragha.
Ayat di atas berpesan, “Kalau engkau dalam keluangan sedang sebelumnya engkau
telah memenuhi waktumu dengan kerja, maka fanshab”. Kata fanshab antara lain
berarti berat, letih. Pada mulanya ia berarti “menegakkan sesuatu sampai
nyata dan mantap”. fanshab seakar dengn kata “nasib” yang biasa difahami
sebagai “bahagian tertentu yang diperoleh dalam kehidupan yang telah
ditegakkan, sehingga menjadi nyata dan tidak dapat (sulit) dielakkan”. Atas
dasar ini, ayat di atas dapat diterjemahkan, “Maka apabila engkau telah berada
di dalam keluangan (setelah tadinya engkau sibuk), maka
(bersungguh-sungguhlah bekerja) sampai engkau letih, atau tegakkanlah
(persoalan baru ) sehingga menjadi nyata”.

Ketiga, bertebaran ayat dan hadis Nabi yang menuntut umat Islam agar bekerja
dengan penuh kesungguhan, apik, dan bukan asal jadi. “Sesungguhnya Allah
senang apabila salah seorang di antara kamu mengerjakan satu pekerjaan,
(bila) dikerjakannya dengan baik (jitu)”, demikian sabda Nabi Muhammad Saw.
Di sisi lain perlu dicatat bahwa Nabi pernah menjelaskan kepada malaikat Jibril
tentang makna Ihsân (kebajikan) dengan sabdanya: “Ihsân adalah beribadah kepada
Allah sekan-akan engkau melihat-Nya. Bila tak mampu, maka yakinlah bahwa Allah
melihatmu”. Ibadah ritual atau ibadah secara umum bila didasari oleh petunjuk
ini pastilah akan lahir bentuk keindahan dan keapikan yang mengagumkan.

Ketiga, penghargaan kepada waktu. Al-Quran mengaitkan dengan sangat erat antara
waktu dan kerja keras, antara lain melalui surah al-‘Ashr. ‘Ashr berarti
memeras. Waktu dinamai ‘ashr karena seseorang dituntut untuk memeras tenaga
dan fikirannya untuk mengisi waktunya. Mereka yang tidak memerasnya akan rugi
dan kerugian itu akan dirasakannya pada ‘ashr umurnya, yakni pada saat tua atau
menjelang kehadiran ajalnya. Dalam konteks menghargai waktu, apabila ada dua
alternatif untuk melakukan satu pekerjaan yang sama dan nilainya sama, maka
hendaknya dipilih yang menggunakan waktu lebih singkat.

Di sisi lain, apabila ada pekerjaan yang mengandung nilai tambah dan dapat
diselesaikan dalam waktu yang sama tanpa nilai tambah, maka pilihlah yang
memiliki nilai tambah. Itu sebabnya shalat jamaah jauh lebih dianjurkan
daripada shalat sendirian, karena waktu yang digunakan untuk kedua shalat sama
atau tidak jauh berbeda, tetapi nilai tambah berupa ganjarannya adalah 27:1.

Kelima, kerja sama dalam melakukan sesuatu (bekerja). Pernyataan seorang muslim
dalam shalat, iyyâka na’budu (hanya kepada-Mu kami beribadah), yang dikemukakan
dalam bentuk jamak itu — walau yang bersangkutan shalat sendirian —
menunjukkan bahwa Islam sangat mendambakan kerjasama dalam melaksanakan
ibadah, termasuk dalam bekerja. Dengan kerjasama akan lahir harmonisme,
yang pada gilirannya akan mempercepat penyelesaian pekerjaan dan
mempermudahnya. Kerjasama akan meningkatkan produktivitas.

Keenam, optimisme dalam bekerja. Kerja harus dibarengi dengan optimisme dan
harapan akan bantuan Ilahi, sebagaimana ditegaskan dalam surah asy-Syarh: fa
inna ma’al ‘usri yusran, inna ma’al ‘usri yusran. Ayat ini menegaskan bahwa
satu kesulitan akan dibarengi dengan dua kemudahan. Karena itu, akhir surah
tersebut menyatakan, wa ilâ Rabbika farghab (Hanya kepada Tuhanmulah,
hendaknya engkau berharap).

Manusia dituntut untuk melakukan usaha, atau dalam bahasa al-Quran disebut
sa’y. Usaha tersebut harus bertolak dari Shafâ yang arti harfiahnya adalah
“kesucian” dan berakhir di Marwah. Bila terpenuhi usahanya akan berakhir
dengan “kepuasaan” (Marwah). Insya Allah, ia akan memperoleh hasil dari sumber
yang ia sendiri tidak pernah menduganya.

Ketujuh, rejeki yang diraih dari hasil kerja seseorang. Rejeki ada dua macam,
yaitu “rejeki materil” dan “rejeki spirituil”. Jangan pernah menduga bahwa
rejeki hanya sesuatu yang bersifat materil. Seorang yang berpenghasilan
sepuluh juta belum tentu mendapat rejeki lebih banyak daripada yang
berpenghasilan lima juta. Karena, yang berpenghasilan sepuluh juta itu boleh
jadi tidak meraih ketenangan, sehingga – katakanlah – bila anaknya sakit, ia
cepat-cepat membawanya ke dokter dan memberikannya obat. Sedangkan yang
mendapat rejeki materil hanya lima juta, bila disertai dengan rejeki spirituil,
boleh jadi dia membeli untuk anaknya salah satu obat di kedai obat dan sembuh.
Jika kecemasan berlarut-larut, maka rejeki materil yang diperoleh pada akhirnya
akan sangat berkurang, bahkan lebih kurang daripada yang tadinya hanya
memperoleh setengah penghasilannya. Demikian, Wallahu a’lam.

Sumber :
Disunting dari Ceramah M. Quraish Shihab pada “Pembekalan Karyawan” di Garuda
Indonesia, 01 November 2006.