Al Hikam ayat 31-40

31. “Jangan menantikan selesai (habis)nya perintang-perintang untuk lebih mendekat kepada Allah, sebab yang demikian itu akan memutuskan engkau dari kewajiban menunaikan hak terhadap apa yang Allah telah mendudukkan engkau di dalamnya. (Sebab yang demikian itu memutuskan kewaspadaanmu terhadap kewajibanmu)”.

Pergunakan kesempatan kesempatan di waktu muda, sehat, kuat dan kaya untuk menghadapi masa tua, sakit, lemah dan miskin.

Ujian itu berupa : sehat, sakit, kelapangan, kesukaran, kaya dan miskin.Ujian itu adalah untuk mengukur sejauh mana syukurnya menerima nikmat dan bagaimana sabarnya menghadapi ujian kesukaran/bala’.

32. “Jangan heran atas terjadinya kesukaran-kesukaran selama engkau masih di dunia ini, sebab ia tidak melahirkan kecuali yang layak atau asli menjadi sifatnya.”

Dunia adalah tempat dimana kerisauan dan duka cita, apabila terdapat kesenangan adalah suatu keuntungan. Dan sesungguhnya sabar menghadapi kerisauan dan duka cita adalah suatu keuntungan yang besar.

Umar bin Khothob ra. berkata pada seorang yang dinasehatinya :”Jika engkau sabar, maka hukum Allah tetap berjalan dan engkau mendapat pahala atas itu, dan apabila engkau tidak sabar tetap berlaku ketentuan Allah sedang engkau berdosa atas itu.”

33. “Tidak akan terhenti (macet) suatu permintaan yang semata-mata engkau minta (engkau sandarkan) kepada karunia (kekuasaan) Tuhanmu, dan tidak mudah tercapai permintaan (pengharapan) yang engkau sandarkan kepada kekuatan dan daya upaya serta kepandaian dirimu sendiri.”

34. “Suatu tanda akan lulusnya seorang pada akhir perjuangannya, jika selalu bertawakal, menyerah kepada Allah sejak mulai perjuangannya.”

Siapa yang menyangka bahwa ia akan dapat sampai kepada Allah, dengan perantara sesuatu selain Allah dan dirinya sendiri, pasti akan putus karenanya.

Dan barang siapa yang menyandarkan diri kepada Allah dan benar-benar bertaqwa, maka ia akan dapat kebahagian-kebahagiaan dari Allah.

35. “Siapa yang terang (makmur) waktunya dengan ta’at dimasa permulaan, pasti akan terang pula dimasa akhirnya (sampainya) dengan cahaya nur ma’rifat.”

36. “Apa yang tersembunyi dalam rahasia ghaib, yaitu berupa nur Ilahi dan ma’rifat, pasti akan tampak bekas (pengaruhnya) pada anggota lahir.”

Bagusnya adab kesopanan lahir, membuktikan adanya adab didalam batin.

37. “Jauh berbeda antara orang yang berdalil : adanya Allah menunjukkan adanya alam, dengan orang yang berdalil : bahwa adanya alam inilah yang menunjukkan adanya Allah. Orang yang berdalil adanya Allah menunjukkan adanya alam, yaitu orang yang mengenal hak dan menempatkan pada tempatnya, sehingga menetapkan adanya sesuatu dari asal mulanya. Sedang orang yang berdalil adanya alam menunjukkan adanya Allah, karena ia tidak sampai kepada Allah. Maka bilakah Allah itu ghaib sehingga memerlukan dalil untuk mengetahuin.”ya. Dan bilakah Allah itu jauh sehingga adanya alam ini dapat menyampaikan kepadanya.”

Memang asal mula kejadian manusia itu bodoh tidak mengetahui apa-apa, kemudian Allah memberinya alat untuk mengetahui dan mengenal Tuhannya, dengan pendengaran, penglihatan, perasaan dan fikiran, semua alat untuk mengenal Allah itu supaya manusia bersyukur, sebab dengan bersyukur itu manusia menjadi sempurna dan sejahtera hidupnya, yaitu setelah mengenal Tuhan Allah yang menjadikan dan menjamin segala hajat kebutuhannya.

38. “Hendaknya membelanjakan tiap orang kaya menurut kekayaannya, ialah mereka yang telah sampai kepada Allah. Dan orang yang terbatas rizqinya yaitu orang sedang berjalan menuju kepada Allah.”

Orang yang telah sampai kepada Allah, karena mereka telah terlepas dari kurungan melihat kepada sesuatu selain Allah, kealam tauhid maka luaslah pandangan mereka, maka mereka berbuat di alam mereka lebih leluasa, sebaliknya orang yang masih merangkak-rangkak di dalam ilmu dan alamnya yang terbatas, mereka inipun mengeluarkan sekedarnya.

39. “Orang-orang yang salih (menuju kepada Allah) telah mendapat hidayat dengan nur (pelita) ibadat yang merupakan amalan untuk taqarrub (mendekat) kepada Allah, sedang orang-orang yang telah sampai, mereka tertarik oleh nur yang langsung dari Tuhan bukan sebagai hasil ibadat, tetapi semata-mata kurnia rahmat Allah. Maka orang-orang salih menuju ke alam nur, sebab orang yang telah sampai itu telah bersih dari segala sesuatu selain Allah.”

Hakikat tauhid itu bila telah tidak melihat pengaruh-pengaruh sesuatu selain Allah, dan inilah yang bernama haqqul-yaqin, dan melihat, merasa adanya pengaruh dari suatu selain Allah itu hanya permainan belaka, dan itu bersifat penipuan/munafiq.

40. “Usahamu untuk mengetahui ciri-ciri yang masih ada di dalam dirimu, itu lebih baik dari usahamu untuk terbukanya bagi tirai ghaib.”

Jadilah hamba Allah yang selalu ingin mencapai istiqomah, dan jangan menjadi hamba yang menuntut keramat. Istiqomah berarti menunaikan kewajiban, sedang keramat berarti menuntut kedudukan. Sedang karamah atau kedudukan yang diberikan Allah kepada seorang wali itu, sebagai hasil istiqomah.

Istiqomah berarti tetap dalam ubudiya, tidak berubah iman kepada Allah, ke Tuhanan Allah, kekuasaan Allah dan kebijaksanaan Allah, baik dalam sehat atau sakit, senang atau susah, suka atau duka, kaya atau miskin.