Al Hikam ayat 19-30

19. “Bagaimana akan dapat ditutupi oleh sesuatu, padahal Ia yang tampak pada tiap segala sesuatu.”

Bagaimana akan dapat dibayangkan, bahwa Allah dapat dihijab oleh sesuatu, padahal yang ada dhahir sebelum adanya sesuatu.

20. “Bagaimana akan mungkin dihijab oleh sesuatu, padahal Dia lebih jelas (tampak) dari segala sesuatu.”

21. “Bagaimana mungkin akan dihijab oleh sesuatu, padahal Dia yang Esa (tunggal) yang tidak ada disampingnya sesuatu apapun.”

22. “Bagaimana akan dihijab oleh sesuatu, padahal Dia (Allah) lebih dekat kepadamu dari segala sesuatu.”

23. “Bagaimana akan mungkin dihijab oleh sesuatu, padahal andaikan tidak ada Allah, niscaya tidak akan ada segala sesuatu.”

Demikian tampak jelas sifat-sifat Allah di dalam (pada) tiap sesuatu di alam ini, yang semua isi alam ini sebagai bukti kebesaran, kekuasaan, keindahan, kebijaksanaan dan kesempurnaan dzat Allah yang tidak menyerupai sesuatu apapun dari makhluk-Nya. Sehingga bila masih ada manusia yang tidak mengenal Allah (tidak melihat Allah), maka benar-benar ia telah silau oleh cahaya yang sangat terang, dan telah terhijab dari surya ma’rifat oleh awan tebal yang berupa alam sekitarnya.

24. “Alangkah ajaibnya (sungguh sangat ajaib), bagaimana tampak wujud di dalam adam (tidak ada). Atau bagaimana dapat bertahan sesuatu yang hancur itu, disamping dzat yang bersifat qidam.”

Yakni sesuatu yang hakikatnya tidak ada bagaimana tampak ada wujudnya.
Hakikat Adam (tidak ada) itu gelap, sedangkan wujud itu bagian nur terang. Demikian pula batil dan hak. Batil itu harus rusak hancur. Sedang hak itulah yang harus tetap kuat bertahan.

25. “Tiada meninggalkan sedikitpun dari kebodohan, siapa yang berusaha akan mengadakan sesuatu dalam suatu masa, selain dari apa yang dijadikan oleh Allah di dalam masa itu.”

Sungguh amat bodoh seorang yang akan mengadakan sesuatu yang tidak dikehendaki oleh Allah.
Di dalam lain fasal ada keterangan : Tiada suatu saat yang berjalan melainkan disitu pasti ada takdir Allah yang dilaksanakan.
Tiap hari Allah menentukan urusan. Menciptakan, menghidupkan, mematikan, emulyakan, menghinakan dan sebagainya.
Maka sebaiknya seorang hamba menyerah dengan rela hati kepada hokum ketentuan Allah pada tiap waktu, sebab ia harus percaya kepada rahmat dan kebijaksanaan kekuasaan Allah.

26. “Menunda amal perbuatan (kebaikan) karena menantikan kesempatan yang lebih baik, suatu tanda kebodohan yang mempengaruhi jiwa.”

Kebodohan itu disebabkan oleh:
a. Karena ia mengutamakan duniawi. Padahal Allah berfirman “Tetapi kamu mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan kekal selamanya”
b. Penundaan amal itu kepada masa yang ia sendiri tidak mengetahui ian akan dapat kesempatan itu, atau kemungkinan ia dilanda oleh ajal (mati) yang telah menantikan masanya.
c. Kemungkinan azam, niat dan hasrat itu menjadi lemah dan berubah.

27. “Jangan anda meminta kepada Allah supaya dipindah dari suatu hal kepada yang lain, sebab sekiranya Allah menghendakinya tentu telah memindahmu, tanpa merobah keaadanmu yang lama”.

Dalam hikayat : Ada seorang salih biasa bekerja dan beribadah, lalu ia berkata : “Andaikan aku bisa mendapatkan untuk tiap hari, dua potong roti, niscaya aku tidak susah bekerja dan dapat selalu beribadat. Tiba-tiba ia tertuduh dan karenanya ia harus masuk penjara, dan tiap hari ia menerima dua potong roti, kemudian setelah beberapa lama ia menderita dalam penjara, ia berfikir : Bagaimana sampai terjadi hal yang demikian ini? Tiba-tiba ia teringat dalam perasaannya : Engkau minta dua potong roti, dan tidak minta selamat, maka Kami (Allah) memberi permintaanmu”.
Setelah itu ia minta ampun dan membaca istighfar, maka ketika itu pula pintu penjara terbuka dan dilepaskan dari penjara.
Sebab Allah menjadikan manusia dengan segala hajat kebutuhannya, sehingga tidak usah kuatir atau ragu atau jemu terhadap sesuatu pemberian Allah, meskipun berbentuk penderitaan bala’ pada lahirnya, sebab hakikatnya ni’mat dan keuntungan yang besar bagi siapa yang mengetahui hakikatnya, sebab tidak ada sesuatu yang tidak terbit dari rahmat kurnia dan hikmat Allah ta’ala.

28. “Tiada berkehendak semangat seorang salih (yang berjalan menuju kepada Allah) untuk berhenti ketika terbuka baginya sebagian yang ghaib, melainkan segera diperingatkan oleh suara hakikat. Bukan itu tujuan, dan teruslah berjalan ke depan. Demikian pula tiada tampak baginya keindahan alam, melainkan diperingatkan oleh hakikatnya : Bahwa kami semata-mata sebagai ujian, maka janganlah tertipu hingga kafir”.

Di dalam jalan menuju Allah jangan menoleh kepada yang lain, dan pergunakan selalu dzikir kepada Allah, itu sebagai benteng pertahananmu. Sebab segala sesuatu selain Allah, akan menghambat perjalananmu.
Abul-Hasan (Ali) Asysyadzily ra. Berkata : Jika engaku ingin mendapat apa yang telah dicapai oleh para waliyullah, maka hendaknya engkau mengabaikan semua manusia, kecuali orang-orang yang menunjukkan kepadamu jalan menuju Allah, dengan isyarat (teori) yang tepat atau perbuatan yang tidak menyalahi Kitabullah dan Sunnaturrasul, dan abaikan dunia tetapi jangan mengabaikan sebagian untuk mendapat bagian yang lain, sebaliknya hendaknya engkau menjadi hamba Allah yang diperintah mengabaikan musuh-Nya. Apabila engkau telah melakukan dua sifat itu, yaitu : Mengabaikan manusia dan dunia maka tetaplah tunduk kepada hukum ajaran Allah dengan Istiqomah dan selalu tunduk, Istighfar.

Pengertian keterangan ini : Supaya engkau benar-benar merasa diri sebagai hamba Allah dalam semua yang engkau kerjakan atau engkau tinggalkan, dan menjaga hati perasaan, jangan sampai merasa seolah-olah di dalam alam ini ada kekusaan bagi lain Allah, yakni bersungguh-sungguh dalam menanggapi (memfahami).

“Tiada daya dan tiada kekuatan sama sekali, kecuali dengan bantuan pertolongan Allah”.
Maka apabila masih merasa ada kekuatan diri sendiri berarti belum sempurna mengaku diri hamba Allah. Sebaliknya bila telah benar-benar perasaan La Haula Wala Quwwata illa Billah itu, dan tetap demikian beberapa lama niscaya Allah membukakan pintu rahasia-rahasia yang tidak pernah mendengar dari manusia seisi alam.

29. “Permintaanmu dari Allah mengandung pengertian menuduh Allah, kuatir tidak memberi kepadamu. Dan mintamu kepada Allah supaya mendekatkan dirimu kepadaNya, berarti engkau masih merasa jauh daripadaNya”.

Dan mintamu kepada Allah untuk mencapai kedudukan dunia akherat, membuktikan tiada malumu kepadaNya, dan permintaanmu kepada sesuatu selain dari Allah menunjukkan jauhmu daripadaNya. Permintaan seorang hamba kepada Allah terbagi dalam empat macam, dan kemudian kesemuanya itu tidak tepat bila diteliti lebih jauh dan mendalam.

Permintaan kepada Allah mempunyai pengertian menuduh, sebab sekiranya ia percaya bahwa Allah akan memberi tanpa diminta, maka hendaknya kuatir tidak diberi apa yang dibutuhkannya menurut pendapatnya, atau menyangka Allah melupakannya, dan lebih jahat lagi bila ia merasa berhak, tetapi tak kunjung diberi oleh Allah. Dan permintaanmu untuk taqarrub, menunjukkan bahwa engkau merasa ghaib daripadaNya. Sedang permintaanmu sesuatu dari kepentingan-kepentingan duniawi membuktikan tiada malunya daripadaNya, sebab sekiranya engkau malu dari Allah tentu tidak merasa ada kepentingan bagimu selain medekat kepadaNya. Sedang bila engkau minta dari sesuatu selain Allah, membuktikan jauhmu daripadaNya, sebab sekiranya engkau mengetahui bahwa Allah dekat denganmu tentu engkau takkan minta kepada lainNya. Kecuali permintaan yang semata-mata untuk menurut perintah Allah. Hanya inilah yang tepat dan benar.

30. “Tiada sesuatu nafas terlepas daripadamu, melainkan disitu pula takdir Allah yang berlaku di atasmu”.

Sebab pada tiap nafas hidup manusia pasti terjadi suatu ta’at atau ma’siyat, nikmat atau bala’ (ujian). Berarti nafas yang keluar sebagai wadah bagi sesuatu kejadian, karena itu jangan sampai nafas itu terpakai untuk ma’siyat dan perbuatan yang terkutuk oleh Allah.