Oleh : Frans Hendarsah, SE

Kaulinan Sunda, selain memiliki banyak manfaat, juga memiliki nilai-nilai filosofis yang sangat mendidik. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh M.Zaini Alif, pengelola Komunitas Hong, “ Banyak nilai-nilai filosofis dan kearifan lokal yang tertanam di sana(kaulinan). Permainan tradisi juga merupakan salah satu bentuk ketahanan budaya…“

Selain itu, Sri Wahyuningsih dari Pusat Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal Regional I Jawa Barat juga menyatakan, permainan tradisional banyak mengandung nilai-nilai pendidikan yang dapat menumbuhkembangkan seluruh dimensi kecerdasan anak, lebih mengutamakan kelompok dan kebersamaan, sederhana, dan memiliki nilai-nilai perilaku filosofi.

Namun demikian, ternyata tidak mudah untuk mengetahui secara pasti nilai-nilai filosofis dari kaulinan Sunda ini karena terbatasnya referensi yang mengungkap hal tersebut. Adapun dalam tulisan ini, saya akan mengungkapkan beberapa nilai filosofi yang bisa saya eskplore. Saya harap dari pembaca yang mengetahui lebih banyak, bisa berbagi kembali.

1. Nilai Filosofi Kaulinan Ucing Sumput

Nilai ini saya peroleh ketika saya berjumpa dengan Kang Zaini di Kota Baru Padalarang. Menurut beliau, ketika para pemain yang bersembunyi berhasil mendahului ucing, ada yang bilang 25, tapi ada juga yang mengucapkan hong. Kata hong berarti pertemuan, juga bisa diartikan sebagai pertemuan dengan yang Maha Esa. Dari penjelasan itu, saya jadi merenung. Ternyata ucing sumput ini bisa mengingatkan kita bahwa manusia pada akhirnya pasti akan bertemu dengan Yang Maha Kuasa. Apabila ini dibiasakan, maka bisa tertanam dalam diri anak/siswa, bahwa hidup ini hanya sementara dan pasti akan kembali pada-Nya. Jadi apabila siswa ingin melakukan sesuatu yang tidak baik, dia bisa diingatkan dengan kata Hong: Ingat, apa yang akan kamu lakukan pasti akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak karena kamu akan bertemu dengan Yang Maha Kuasa.

2. Nilai Filosofi Kaulinan Paciwit-ciwit Lutung

Menurut Dadan Suwarna (Dosen Fakultas Sastra Universitas Pakuan, Bogor), kaulinan Paciwit-ciwit Lutung tidak semata-mata menggambarkan aktivitas saling mencibit di ujung lengan, tetapi kata lutung jadi kunci maknawi kepongahan sikap yang selalu ingin berkuasa. Si lutung selalu berada di atas tangan siapa pun. Paciwit-ciwit Lutung juga merupakan ekspresi satu rasa ihwal kejujuran dan suratan betapa jadi juragan dan bawahan, juga adalah menikmati nasib sepenanggungan.

Dengan demikian, kita bissa mengibaratkan bahwa orang yang serakah dalam hal kekuasaan memiliki sifat seperti Lutung yang ingin selalu berkuasa. Sehingga harapannya adalah siswa menjadi berusaha untuk tidak menjadi orang yang serakah.

3. Nilai Filosofi Kaulinan Perepet Jengkol

Masih menurut Dadan Suwarna, kakawihan Perepet Jengkol berisi keriangan dan guyonan akan penderitaan hidup karena seseorang terbebani pemukul kentongan dan si penderita menjerit-jerit menahan sakit.Maksudnya,kondisi yang saat ini dihadapi jangan sampai menghilangkan kreativitas kita dalam berkarya. Buktinya, walau dalam kesusahan, kaulinan ini justeru muncul dengan nuansa yang penuh keriangan dan guyonan.