بسم الله الرحمن الرحيم

Pembicaraan seperti ini selalu mengisi zaman dan waktu. Sebagaimana juga “pacaran”, topik bertajuk “ta’aruf” tidak lekang oleh zaman. Karena setiap manusia pasti membutuhkan “ta’aruf”. Bahkan seorang Hasan Al Banna selalu ‘menargetkan’ diri untuk memiliki kawan baru jika beliau bepergian. Karena tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri, dan untuk itu dia pasti membutuhkan orang lain. Dan jangan lupa, bahwa saling mengenal (untuk kebaikan) adalah bagian dari ibadah kita kepada Allah SWT karena bisa memperluas silaturahim dan lain sebagainya. Allah SWT pun berfirman

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Adz-dzariyat:25)

Jadi makna ta’aruf ini luas sekali. Orang yang ingin membeli dan menjual(misalkan rumah) pasti lah terlebih dahulu saling berkenalan. Siswa pindahan yang baru masuk sekolah untuk pertama kali, pasti lah mesti berkenalan terlebih dahulu,dan masih banyak model kenalan lainnya termasuk ketika ada dua orang lain jenis yang masing-masingnya memiliki keinginan untuk menikah, entah karena pertemuan mereka dimediasikan atau pun karena yang lain, tetap keduanya harus berkenalan terlebih dahulu, “ta’aruf” dulu istilah Al Quran-nya.

Bagaimana jika ada yang mengatakan bahwa “pacaran” juga adalah “ta’aruf”(pernikahan). Nah..hal ini mestinya dijelaskan terlebih dahulu kedudukan masing-masing istilah itu. Yang pertama (pacaran) berasal dari akar bahasa barat (”date”), dimana aktifitasnya pun jelas-jelas sangat bertentangan dengan nilai-nilai islam(mendekati zina) sedangkan yang kedua(ta’aruf) bermakna positif(menjadi sarana kita untuk memperbaiki diri, misalkan dengan banyaknya orang yang kita kenal, banyak pula hal yang bisa kita pelajari dari orang lain tersebut, dan insyaAllah dapat menurunkan rasa “lebih baik, lebih alim, lebih sempurna, dll” kita atas orang lain), apalagi “ta’aruf” dalam rangka menuju pernikahan pastinya berlandaskan kepada dalil-dalil Qurani yang pasti. Sehingga tidak pada tempatnya mengatakan “pacaran” = “ta’aruf”.

Tetapi kita hanya akan membicarakan ta’aruf untuk pernikahan saja kali ini, misalkan.. apa yang mesti dipersiapkan sebelum memulai ta’aruf dan bagaimana mekanisme ta’aruf itu sendiri secara praktis, karena bukan rahasia lagi, kadang-kadang ikhwan dan akhwat juga rada-rada malu atau ga ‘pede’ kalau membaca buku-buku tentang persiapan pernikahan dan sejenisnya, padahal ketika mereka sudah bisa mengelola tanggungjawab secara dewasa, maka “tantangan” untuk segera berumah tangga bergerak mendekati “wajib”, karena pernikahan itu sendiri adalah perkara 1/2 agama.

nah tanpa perlu berpanjang2..langsung aja kita ngobrolin apa yang mesti dipersiapkan sebelum memulai ta’aruf??

1. niat menikah

Nikahnya mo kapan? sama siapa(karakter)?..pertanyaan2 seperti ini ada baiknya dijawab dengan jujur..kemudian jika didapati ternyata, dari sekian “motivasi” kita menikah adalah karena dunia,segera dibenahi..niatkanlah karena Allah SWT..misalkan, salah duanya untuk menjaga diri dan kehormatan..melengkapi 1/2 agama..dll, jangan karena ’suka sama si dia’ saja yang dijadikan alasan utama dalam hati, tetapi alasan2 yang kembali kepada Allah SWT.

2. kriteria pasangan

seperti pertanyaan diatas..nikahnya sama siapa?? “gue nikahnya harus sama itu si…. ga mau kalo ga sama dia”..ya..ga gitu kali yah..pernikahan kan ga bisa dipaksa..harus dilihat juga prinsip si wanita..kali aja beda, dan kita mesti siap untuk segala kemungkinan. jangan prinsip kita aja yang diutamakan. “Emang beda prinsipnya kaya apaan sih??”..Bedanya kalo kamu(yang laki-laki) prinsipnya ‘pokoknya harus nikah sama cewek itu’, nah kalau cewek itu prinsipnya ‘asal ga nikah sama kamu’..hehehe. Kan beda tuh..nah yang seperti itu jangan dipaksakan. Agar ketika suatu saat kita sudah siap dicarikan..dan memulai ta’aruf..kemungkinan kita merasa kecewa tidak terlalu besar..dan sebagaimana niat diatas..jika kriterianya sudah mulai yang aneh-aneh, misalkan kriteria wajah mesti kaya Tamara Blezinsky, body kaya Naomi C dll, mendingan diperbaiki dulu deh. Lha wong kita juga ga seganteng Tukul ‘koper boy’, dan segagah Ade Ray

3. perbaiki diri

bisa dengan mulai banyak membaca buku tentang tazkyatun nafs dan pernikahan, perbanyak doa, perbaiki dan jaga kualitas ibadah kepada Allah SWT. Karena Allah SWT “pemegang kunci” keberhasilan hidup kita. Sering2 introspeksi diri tentang step2 atau langkah2 yang akan dipilih nanti, dimana biasanya ujian akan semakin berat ketika memasuki step ta’aruf dan setelahnya, harus banyak belajar seni jaga hati gitu.

4. kesiapan materi

yang terakhir..hitung dan persiapkan budget untuk surat2 Kelurahan, KUA, mahar, resepsi serta uang belanja segera setelah menikah (apakah langsung mengontrak rumah bagi yang belum punya rumah.. serta untuk belanja dalam bulan pertama).

Kemudian pada saat ta’aruf nanti, apa saja yang perlu kita ketahui? Berikut beberapa point yang mungkin bisa membantu.

1. mekanisme ta’aruf

setelah merasa2 dan menimbang2 data yang diterima, maka proses berlanjut ke ta’aruf(perkenalan) fisik..sampaikan kepada mediator(muhrim/teman atau ustadz/ah)agar proses ta’aruf dengan calon dapat dilaksanakan. Bicarakan mengenai tempat dan waktu pertemuan serta siapa saja yang akan hadir disitu. Jika pihak keluarga masing2 calon agak sensitif dengan klasifikasi tertentu (seperti suku, pekerjaan, dll), usahakan proses ini tidak dulu melibatkan orang tua, sambil terus mensosialisasikan calon kita ini secara umum kepada keluarga besar. Disamping itu, hal ini juga bermanfaat jika ternyata proses ta’aruf ini tidak berlanjut, ortu / keluarga tidak kemudian ‘apatis’ dengan proses ini.

2. isi ta’aruf

ta’aruf dihadiri oleh lelaki dan wanita yang ingin ta’aruf serta didampingi oleh para mediator(muhrim/teman/ustadz/ah). Siapkan pertanyaan2 penting baik yang berkaitan dengan isi biodata calon ataupun yang terkait dengan hal2 setelah pernikahan. Misalkan pertanyaan seperti, “apakah suami tetap diijinkan ‘menafkahi’ orang tua?”..atau “apakah setelah ini langsung mengontrak/ tinggal dengan mertua?”..”apakah nantinya istri boleh tetap bekerja kantoran(jika ia karyawan?”dll. Pertanyan-pertanyaan ini menjadi ‘catatan’ komitmen masing-masing calon setelah pernikahan dilaksanakan.

jika proses ini berlanjut, artinya setelah ta’aruf, laki2 dan wanita tsb ingin melanjutkan proses ke ‘tingkat’ yang lebih ‘tinggi’, lanjutkan dengan proses ta’aruf dengan keluarga. Sebelum sang calon datang pada hari “H” silaturahim keluarga, ceritakan kepada keluarga tentang perihal calon ini sedetail-detailnya, kenapa kita menyukai dia, betapa bahagianya kita mengenal pribadinya, dan tunjukkan keyakinan untuk segera melamarnya. Umumnya pihak yang pertama kali silaturahim adalah pihak laki2 ke keluarga perempuan boleh juga sebaliknya. Karena ini adalah silaturahim, ada baiknya membawa penganan kecil, sebagai sarana untuk mencairkan suasana. Tetapi ini bukanlah sebuah kewajiban, kalau memang ga bawa..ya kelewatan kali yah..hehehe.

Setelah itu, boleh jadi proses diatas tidak berlanjut, maka tidak perlu berkecil hati, lakukan introspeksi dan tetap istiqomah dijalan ta’aruf ini, karena yakinlah jodoh kita insyaAllah jauh lebih baik pada dita’aruf yang akan datang. Jika berlanjut, tinggal menentukan hari lamaran dan pernikahan, alhamdulillah

okay..mungkin itu aja yang bisa ana sampaikan, bagi yang ingin menambahkan dipersilahkan..

oya..bagi yang lagi ta’aruf..semoga diridhoi Allah dan berhasil..aamiin
and say no to pacaRan..

wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.
والله اعلم بالصواب