Jihad Menurut Kitab Fathul Muin, Perjuangkan Muslim dan Non Muslim
Rabu, 3 Desember 2008 19:14
Jakarta, NU Online
Jihad, kata yang oleh sebagian orang diidentikkan dengan perang melawan non muslim sehingga kata ini sudah identik dengan arti kekerasan dan merusak, meskipun makna sebenarnya tidaklah begitu.

Kalau dilihat dari makna jihad yang terungkap dalam kitab Fathul Muin, salah satu kitab kuning yang menjadi rujukan di kalangan pesantren, makna jihad sangat luas, termasuk pembelaan terhadap non muslim.

Ketua PBNU KH Said Agil Siradj dalam sebuah acara di gedung PBNU baru-baru ini menjelaskan, terdapat empat kategori jihad seperti yang dijelaskan dalam kitab Fathul Muin tersebut.

Jihad pada tingkatan pertama adalah mengajak umat untuk beriman kepada Allah dengan iman yang rasional dan argumentatif sehingga merupakan iman yang berkualitas, bukan iman hanya karena keturunan saja.

Pada tahap kedua, jihad adalah menjalankan perintah syariat agama seperti menjalankan sholat lima waktu, puasa, membayar zakat dan kewajiban agama lainnya.

Selanjutnya, baru pada tataran ketiga, kalau umat Islam diganggu, boleh melaksanakan perang. Hal inilah yang dilakukan oleh KH Hasyim Asy’ari yang mengeluarkan resolusi jihad untuk mengusir penjajah dari Surabaya.

Pada tahapan selanjutnya, jihad adalah memberikan perlindungan kepada setiap warga masyarakat, muslim atau non muslim, yang memiliki kepribadian baik. Perlindungan tersebut mencakup pemberian makan, pakaian, tempat tinggal, termasuk kesehatan.

“Jika kita bisa membangun masyarakat seperti ini, kita sudah ummatan wasathon, umat yang beradab, ngga usah menyebut diri sebagai umat Islam, sebaliknya kalau tidak bisa menjalankan perintah itu, ya ummatan jahiliyyatan,” katanya.

Sayangnya, meskipun sudah benar secara syariat, banyak umat Islam yang belum beranjak dari peradaban jahiliyah dengan mengutamakan tindakan-tindakan kekerasan seperti yang terjadi di Afganistan, Pakistan dan negara lainnya. (mkf)
Kata-kata “jihad” bagi sebagian orang sudah menimbulkan makna negatif yang menakutkan, kekerasan yang mengatasnamakan nama agama yang dilakukan oleh orang Islam.

Lalu, apa makna jihad dimana seorang atropolog Amerika Serikat, Prof Ronald Alan Lukers-Bull, PhD? Pandangannya ditulis dalam sebuah buku “Jihad ala Pesantren di Mata Antropolog Amerika” yang didiskusikan oleh Badan Litbang dan Diklat Depag, Kamis, (11/9) di Jakarta.

“Jihad bagi pesantren adalah menghadapi globalisasi, merekonsepsi kembali modernitas yang didasarkan pola pemikiran yang cocok untuk umat Islam dan yang cocok untuk Indonesia agar bisa bersaing di psar dunia,” katanya.

Ia menjelaskan, masyarakat muslim merespon modernitas dengan berbagai cara. Turki pada masa lalu dengan mengadopsi modernitas seutuhnya seperti di Barat, tetapi ada kelompok Islam yang menolak semua yang berasal dari Barat. “Indonesia merupakan campuran yang memadukan keduanya,” jelasnya.

Sayangnya, mengutip ahli sejarah Islam Bernard Lewis, yang banyak terjadi bukanlah perkawinan antara tradisi Islam dan Barat yang baik, tetapi “kumpul kebo”, yaitu perpaduan yang jelek-jelek dari kedua tradisi tersebut.

Kalangan pesantren, menurutnya mampu mengaplikasikan prinsip al muhafadhotu ala kodimis sholih wal ahdu bil jadidil aslah atau mempertahankan tradisi lama yang masih baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.

“Modernitas diambil oleh kalangan pesantren, tetapi yang diambil yang bermanfaat” tandasnya.

Tentang adanya keyakinan sebagian orang atau peneliti bahwa pesantren merupakan ladang persemaian gerakan radikal, ia dengan tegas menolak hal tersebut. Diakuinya ada beberapa pesantren yang memang demikian, tetapi tidak mewakili pesantren secara umum yang toleran. Jumlah pesantren yang digolongkan radikal ini juga masih simpang siur, ada yang menyebut 30, tetapi ada yang 100 pesantren.

“Misalnya ada 100 pesantren, ini kan sangat kecil dibandingkan dengan 18.000 pesantren yang ada di Indonesia,” tandasnya.

Jihad pendidikan yang dilakukan oleh kalangan pesantren telah mampu merubah dunia, yang pengaruhnya jauh lebih besar dan lebih lama daripada upaya secara politik atau kekerasan.