Ada seorang isteri shalihah dan kaya namun bukan hasil kerja suaminya; sehingga karena kekayaannya dia mampu naik haji tanpa suaminya karena suaminya tidak mampu membayar ONH; akan tetapi suaminya melarangnya naik haji.

1. Bagaimana sikap isteri tadi, apakah harus melaksanakan haq Allah atau haq Adami?
2. Apabila isteri tadi tidak melaksanakan haji karena dilarang suaminya, apakah dianggap punya hutang yang harus dibayar, seandainya isteri tadi di kemudian hari tidak dapat melaksanakan haji (jatuh miskin)?

Jawaban

1. Sang isteri wajib menta’ati larangan suaminya, lebih-lebih ibadah haji itu memakan waktu yang lama.

Dasar pengambilan:

Kitab Fiqhul Islamy wa Adillatuhu juz 3 halaman 35

وَقَالَ الشَّافِعِيَّةُ: لِلزَّوْجِ مَنْعُ الزَّوْجَةِ مِنَ الْحَجِّ الْفَرْضِ وَالْمَسْنُوْنِ ؛ لأَنَّ حَقَّهُ عَلَى الْفَوْرِ، وَالنُّسُكَ عَلَى التَّرَاخِيْ ، وَلَيْسَ لَهُ مَنْعُهَا مِنَ الصَّوْمِ وَالصَّلاَةِ ، وَالْفَرْقُ: طُوْلُ مُدَّةِ الْحَجِّ ، بِخِلاَفِهِمَا.

Para ulama’ madzhab Syafi’i berpendapat: “Suami berhak melarang isteri untuk melakukan ibadah haji yang wajib dan yang sunnat; karena hak suami yang harus dilayani isteri adalah seketika, sedangkan ibadah haji dapat ditunda. Suami tidak berhak melarang isteri untuk berpuasa dan shalat. Perbedaannya adalah Masa haji itu lama, berbeda dengan puasa dan shalat.

2. Isteri tersebut tidak mempunyai tanggungan hutang, karena biaya untuk melaksanakan ibadah haji bagi isteri itu menjadi tanggungan suami, kecuali jika isteri yang kaya raya mau bersedekah kepada suaminya untuk melakukan haji bersama,
Penulis : KH.MIFTAH.
Pst.Darulfikar Cianjur