H. Achmad
SAJAK SAKARATUL MAUT

Sakarat…! Sakarat…! Sakaratul maut…!

Dini hari itu,

seorang OB rebah di kamar mandi

diserang lemah jantungnya

yang menggugat nyawanya

Tengah malam

pulang dari sebuah hotel di KL

Bersama puan mudanya,

bersama mulut dan lidahnya

yang dinajisi alkohol

Dan banglonya di atas bukit

Puan muda menelifon doktor pribadi OB

Dan doktor berkejaran

bersama beg perubatannya

Dan sebatang jarum injeksen dibenamkan ke urat OB

Dan berombak-ombaklah nafasnya

Bergelombang dadanya

Dilambung nazak hempas-menghempas

Tujuh hari tujuh malam

OB bergelitikan

Golek gelentang di pembaringan

Dan seluruh dunia dan isinya

berkumpul di dalam kepalanya:

Bangloku!

Mercedesku!

Uangku dalam bank!

Saham-sahamku di syarikat-syarikat!

Rumah-rumah sewaku!

Pengarah-pengarah kuda-kudaku di padang lumba!

Padang golfku!

Anak-anakku di luar negeri!

Dan istri mudaku!

Nazak hempas-menghempas

pulas-memulas

dan pintal-memintal

Makan?

Geleng kepala!

Minum?

Geleng kepala!

Arak?

Geleng kepala!

Isteri muda?

Geleng kepala!

Mau ke padang lumba kuda?

Geleng kepala!

Mau pergi ke Genting Highland?

Geleng kepala!

Melancong ke Eropah?

Geleng kepala!

Ke Mekkah naik haji?

Geleng kepala!

Apa yang kau mau!

Oh, Tuhan panjangkan umurku

Panjang umur?

Berapa tahun kau mau?

Seratus tahun cukup?

Ya, seratus tahun!

Enam puluh tiga tahun tidak cukup?

Tak puas hidup?

Tidak kenyang makan maksiat?

Belum bosan mengumpul dosa?

Kau mau panjang umur lagi!

Sedetik lagi sakaratul maut datang

Sedetik lagi Izrail datang

Sedetik lagi malaikatul maut datang

Kau di ambang sakaratul maut

Kau nazak sekarang, wahai OB

Aku makin tegang

dan makin sendat nafas di dada

Kedinginan mulai mulai memanjat dan merayap kaki

Perlahan-lahan menjalar

ke seluruh jasad dan tubuhku

Aku dilambung resah, gelisah, keluh kesah

Keluhan dan rintihan:

Panas!

Dahaga!

Haus!

Panas!

Air tujuh lautan mau di teguk

Sebesar tujuh dunia kelaparan merobek usus-usus

Syaitan-syaitan datang berbondong-bondong

Menginjak-injak aku,

menggoda aku,

mau memurtadkan aku

: Nenekku datang,

Nenek!

Kau dahaga cucu? Kau lapar cucu? Mau air?

Ini bejana penuh air madu!

Kalau cucu mau masuk surga

minum air ini

Ibu!

Ibuku menggoyangkan buah susunya

Ini ibumu!

Air susu ini membesarkan kau, nak!

Buangkan Islam!

Matilah dalam agama Yahudi

Ayah!

Kau datang ayah

Matilah dalam agama Yahudi, wahai anakku,

Matilah dalam agama Kristian

Itulah agama yang membawa kau ke surga, katanya!

Ucaplah: Laa ilaaha illallaah!

Tidak! Tidak! Tidak…!

Ucaplah: Laa ilaaha illallaah!

Tidak! Tidak! Tidak…!

Rumahku!

Mercedesku!

Uangku dalam bank!

Saham-sahamku!

Kuda-kudaku!

Kolam mandiku!

Padang golfku!

Isteri-isteriku!

Dan duniaku!

Sakaratul maut pun datang

Pak lebai dari rumah setinggan

dipanggil oleh pemandu dengan mercedes

dan memanjat bukit ke bangloku

di puncak desir angin

Tapi lidahku telah kelu

Dan sakaratul maut kian detik tiba

Manusia-manusia berjubah hitam datang

Mari ikut kami!

Manusia-manusia berjubah hijau datang, membawa payung hijau.

Katanya: Mari ikut kami!

Cahaya putih datang

Datang sinar kuning

Datang kilatan hitam

Cahaya merah datang

Apa ini…?

Apa ini!

Aku sakaratul maut!

Kedinginan menjalar

merayap perlahan-lahan

dari ujung kaki ke ujung rambut

Dan kini seluruh jasadku diselimuti sejuk

Dan dingin singgah di tenggorokan

Kemudian datanglah malaikat maut diujung kepalaku

Hai, jiwa yang keji!

Keluarlah kepada kemurkaan Alloh!

Rohku berselerak ke seluruh tubuhku

Lalu

Innaa lillaahi wainnaa ilayhi raaji’uun

Malaikat-malaikat yang menunggu

Sesayup mata memandang

Dan menghamburlah bau bangkai

sebusuk-busuknya

Tuliskan suratannya dalam sijjin

pada bumi yang terbawah

Roh aku dicampakkan,

dikembalikan ke dalam jasad

Lalu datang dua orang malaikat

dan didudukinya aku

Siapa Tuhanmu?

Ah! Ah! Ah! Aku tidak tahu!

Apa agamamu?

Ah! Ah! Ah! Aku tidak tahu!

Siapa lelaki ini yag diutus kepadamu?

Ah! Ah! Ah! Aku tidak tahu!

Datanglah kepadaku

seorang lelaki yang huduh wajahnya,

buruk pakaiannya, busuk baunya!

Siapa engkau?

Akulah amalanmu yang keji!

Kini aku diazab

dan disiksa di dalam kubur

Menunggu!

Menunggu doa anak yang soleh

: Mana doa anakku seorang peguam?

Mana doa anakku seorang doktor?

Mana doa anakku seorang jurutera?

Mana doa anakku seorang arkitek?

Mana doa anakku seorang professor?

Mana…?

Mana…?

Mana…?

Puisi “Sajak Sakaratul Maut” ini digunakan sebagai materi Uji Praktik Kelas IX tahun 2006/2007 di MTs Negeri 02 Semarang pada tanggal 7 -10 Mei.