1. Bagaimana hukum menikahkan perempuan yang sedang hamil ?
2. Bolehkah wanita tersebut dikumpuli (dijimak) setelah melangsungkan akad nikah?
3. Bagaimanakah status anak yang dilahirkan itu (waris) ?
4. Bila anak yang dilahirkan itu perempuan siapa wali nikahnya ?

Jawaban:

1. Wanita yang hamil di luar nikah boleh dinikahkan oleh walinya, karena kehamilan tersebut tidak dihormati oleh agama.
2. Wanita tersebut boleh dijimak oleh suami yang baru menikahinya.
3. Status dari anak yang lahir dari wanita tersebut hanya dapat menjadi ahli waris dari ibunya saja dan tidak kepada bapaknya yang menikahi ibunya setelah hamil, meskipun benih yang menjadi anak tersebut adalah benihnya sendiri (bila yang mengawini adalah yang menghamili).
4. Jika anak tersebut perempuan, maka yang menjadi walinya adalah hakim.
5. Jika laki-laki yang benihnya menjadi anak tersebut itu tidak mengawini ibunya, maka laki-laki yang benihnya menjadi anak perempuan tersebut (ayah biologis) boleh mengawininya.
6. Jika laki-laki yang benihnya menjadi anak tersebut itu mengawini ibunya, dan kebetulan belum bersetubuh, maka laki-laki yang benihnya menjadi anak perempuan tersebut (ayah biologis) boleh mengawininya sesudah menjatuhkan tolaq kepada ibunya.
7. Jika laki-laki yang benihnya menjadi anak tersebut itu mengawini ibunya, dan kebetulan sudah bersetubuh, maka laki-laki yang benihnya menjadi anak perempuan tersebut (ayah biologis) Tidak boleh mengawininya, dan tidak membatalkan Wudu anak perempuan tersebut sebab tergolong mahrom

Tentang dasar hukumnya, kami persilahkan meneliti dalil-dalil berikut ini.

1. Fiqh ala Madzahibil Arbaah juz 4 halaman 533

أَمَّا وَطْء الزِّنَا فَإنَّهُ لاَ عِدَّةَ فِيْهِ وَيَحِلُّ التَّزْوِيْجُ بِالحَامِلِ مِنَ الزِّنَا وَوَطْئهَا وَهِيَ حَامِلٌ عَلَى الأصَحِّ وَهَذَا عِنْدَ الشَّافِعِى

Adapun hubungan seksual dari perzinaan, maka sesungguhnya tidak ada ‘iddah padanya. Halal mengawini wanita yang hamil dari perzinaan dan halal menyetubuhinya sedangkan wanita tersebut dalam keadaan hamil menurut pendapat yang lebih kuat. Pendapat ini adalah pendapat Syafii.

2. Al-Muhadzdzab juz 2 halaman 113

وَيَجُوزُ نِكَاحُ الحَامِلِ مِنَ الزِّنَا لأَنَّ حَمْلَهَا لاَيَلْحَقُ بِأَحَدٍ فَكَانَ وُجُودُهُ كَعَدَمِهِ

Boleh menikahi wanita hamil dari perzinaan, karena sesungguhnya kehamilannya itu tidak dapat dipertemukan kepada seseorangpun, sehingga wujud dari kehamilan tersebut adalah seperti ketiadaannya.

3. Bughyatul Musytarsyidin halaman 201

مَسْأَلَةُ ش- وَيَجُوزُ نِكَاحُ الحَامِلِ مِنَ الزِّنَا سَوَاءُ الزَّانِى وَغَيْرهِ وَوَطْءُهَا حِيْنَئِذٍ مَع الكَرَاهَةِ

(masalah shin); Boleh menikahi wanita yang hamil dari perzinaan, baik oleh laki-laki yang menzinainya atau oleh lainnya dan menyetubuhi wanita pada waktu hamil dari zina tersebut adalah makruh.

4. Mughni Muhtaj juz 3 halaman 152

لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ … فَالسُّلْطَانُ وَلِيٌّ لِمَنْ لاَ وَلِيَ لَهُ.

… karena sabda Nabi saw maka sultan/pemerintah adalah wali dari orang yang sama sekali tidak ada wali baginya.

5. Hamsi kitab Al Baijuri juz 2 hal. 166:

وَالْمُحَرٌَماَتُ بِالنَصِ اَرْبَعُ. .. اِلَي اَنْ قَالَ: (وَالرَبِيْبةَُ) اي بِنْتُ ألزٌَوْجَةِ (اِذَا دَخَلَ بِاْلاُم ٌِ) (قَوْلُهُ اِذَا دَخَلَ بِاْلاُم ٌِ) خِلاَفاً مَا اِذَا لَمْ يَدْخُلْ بِهَا.

(dan wanita-wanita yang haram untuk dinikahi sebab nash ada empat). … sampai pada ucapan mushonnif: (dan rabibah) yaitu anak perempuan dari istri (jika dia telah menyetubuhi ibunya) —ucapan mushonnif “jika dia telah menyetubuhi ibunya—adalah berbeda jika dia belum bersetubuh dengan ibunya.
Penulis : KH.MIFTAH.
Pst.Darulfikar Cianjur