Biasanya di negara kita ini, Khutbah Jum’ah mengunakan atau memakai bahasa arab. yang banyak kurang dimengerti isi dan kandungan khutbah tersebut oleh para jamaahnya, Bagaiman hukumnya khutbah yang dalam khutbahnya, sang khatib mengunakan bahasa daerah atau bahasa Indonesia.

Jawaban:
1. Rukun-rukun khutbah jumuah (baca hamdalah, shalawat Nabi, berwasiat dengan taqwa, membaca ayat Alquran dalam salah satu dari dua khutbah, dan mendoakan kepada orang Mu’min laki-laki dan perempuan) harus diucapkan dengan bahasa Arab sekalipun kita tidak mengerti isinya, . Adapun selain rukun, boleh diterjemahkan ke dalam bahasa selain Arab. Dengan syarat tidak terlalu panjang dan harus ada kaitannya dengan nasihat-nasihat.

2. Persyaratan khutbah dan bacaan-bacaan salat dengan bahasa Arab sekalipun kita tidak mengerti isinya, itu dapat kita mengerti dan kita pahami, karena jika diperbolehkan dengan bahasa daerah dan diharuskan mengerti isinya, maka bagaimana khutbah bacaan-bacaan salat tersebut dapat dimengerti oleh orang asing yang kebetulan bermakmum? Di samping itu peryataan bahasa arab tersebut mendorong kaum muslimin untuk mempelajarinya, sehingga dengan demikian kaum muslimin tidak hanya mengerti dan memahami isi khutbah. Akan tetapi sekaligus mengerti isi dari Alquran dan Al Hadits serta kitab-kitab ilmu pengetahuan tentang agama yang sembilan puluh persen berbahasa Arab.

Dasar pengambilan Kitab Irsyadul Ibad halaman 27 disebutkan:

شُرُوْطُ صِحَّةِ الجُمُعَةِ سِتَةُ… وَتَقْدِيْمُ خُطْبَتَيْنِ بِالعَربِيَّةِ وَاِنْ لَمْ يَفْهَمُوا…

Syarat-syarat keabsahan salat jumu’ah itu ada enam… Dan mendahulukan dua khutbah dengan dua bahasa Arab, meskipun para jamaah tidak memahaminya…

Dalam Kitab Nihayatuz Zein halaman 140 disebutkan:

(وَعَرَ بِيَّةٌ) بِاَنء تَكُوْنَ اَركَانَ الخُطْبَتَيْنِ بِالْعَرَبِيَّتةِ .فَانْ لَمْ يَكُنْ ثمَّ مَنْ يُحْسِنُ العَرَبِيَّةَ وَلَمْ يَمْكِنْ تَعَلَّمُهَا خَطَبَ بِغَيْرِهاَ.فَاِنْ اَمْكَن وَجَبَ عَلَى سَبِيْلِ فَرْضِ الكِفَابَةِ, فَيَكْفِى فِي ذَلِكَ وَاخِدٌ.فَلَوْ تَرَكُوْا التَّعَلُّمَ مَعَ اِمْكَا نِهِ عَصَوْا وَلاَ جَمْعَةُ لَهُمْ فَيُصَلّو نَ الظُّهْرَ.

(Dan bahasa Arab) artinya hendaklah rukun-rukun khutbah adalah dengan bahasa Arab. Jika di sana (tempat melakukan salat jumuah) tidak ada orang yang dapat berbahasa Arab dengan baik dan tidak mungkin dapat mempelajarinya, maka khatib dapat/boleh berkhutbah dengan bahasa selain Arab. Jika memungkinkan belajar bahasa Arab, maka wajib atas semua orang secara wajib kifayah, dan dalam hal tersebut cukup dilakukan oleh satu orang. Dan jika mereka meninggalkan belajar bahasa Arab beserta kemampuan mereka untuk mempelajarinya, maka mereka telah berbuaat ma’siat dan salat jumuah yang mereka lakukan tidak sah, sehingga harus melakukan salat dhuhur.

Penulis : KH.MIFTAH.
Pst.Darulfikar Cianjur