Oleh: Imdad Fahmi Azizi

Sebagaimana pernah saya tulis di kolom ini dengan judul Dunia Wayang bahwa dalam hal kebudayaan kita sedang dijajah; mulai dari bidang fun (hiburan), food (gaya makan), fashion (mode pakaian). Warisan budaya kenusantaraan semakin tercerabut, dan perekonomian semakin tenggelam. “Kita memang suka meniru negara maju, tanpa dikaji terlebih dahulu,” kata KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) ketika saya dan teman saya, Muhsin, berdiskusi di kediamannya di Rembang, Jawa Tengah, 22 Januari lalu.

Dalam bahasa lain, penjajahan demikian bermuara pada show (pertunjukan-pertunjukan modern ala Barat), sex (industri pornografi, atau agenda terselubung yang mengatasnamakan gender), dan sport (proyek globalisasi melalui media olahraga).

Saya kemudian teringat pendapat Prof Dr Faisal Ismail bahwa zaman sekarang adalah era libidonomic, di segala bidang-sosial, politik, dan bahkan ekonomi-menggunakan cara ‘mengumbar syahwat’, merangsang libido, sampai melampaui wilayahnya sendiri.

Otomotif, misalnya, ketika menjual mobil keluaran terbaru, menggunakan perempuan seksi yang semitelanjang sebagai model. Tentu bertujuan agar barang dagangannya cepat laku. Indonesia memang lengkap, kata Gus Mus. Budayanya kaya, pulaunya ribuan jumlahnya, sumber daya alamnya luar biasa. Indonesia tidak kurang apa-apa. “Hanya kurang satu: bangsa kita kurang mencintai Tanah Air-nya,” jelas Gus Mus, mengutip pendapat mufti besar Syiria, Syaikh sahabatnya.

“Saya malu ketika dikatakan begitu. Ini pasti menyindir negara kita yang korupsinya luar biasa. Iya kan, para koruptor itu berarti tidak mencintai negara kita?!” jelas Gus Mus sambil tertawa ringan.

Saya lalu mengutarakan pikiran kepada Gus Mus. “Kembali ke penjajahan tadi. Kiai, dalam dunia pergerakan, kita tidak hanya dijajah dalam hal kebudayaan. Tapi, sampai kepada mind set kita. Demikian penjajahan terbaru…,” tanggapan saya.

“Kalau penjajahan seperti itu, tempatnya kan di kepala. Berbicara tentang kepala orang Indonesia, ada dua. Pertama, yang menjajah. Kedua, yang dijajah,” terangnya.

Diskusi semakin hangat. Muhsin teman saya menatap tajam Gus Mus. Matanya terbelalak. Mulutnya menganga seperti ikan koi yang seharian tidak makan. Gus Mus tetap santai sesekali menikmati hidangan. Saya fokus saja sambil meneguk teh hangat.

Menurut Gus Mus, orang-orang yang mengatasnamakan Islam, tapi menganjurkan atau berbuat kekerasan perlu dikecam dan selayaknya keluar dari negeri ini. Mereka tidak membaca sejarah perjuangan para pendahulu yang rela hidup-mati membela Ibu Pertiwi. Mereka mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Ingat, Doktor Azhari, Noordin M Top, mereka itu bukan orang Indonesia! Mereka peduli apa dengan kemaslahatan bangsa kita? Yang penting mengebom sana, mengebom sini. Mereka ingin merusak negara kita!” jelas Gus Mus, dengan suara tinggi.

Gus Mus menekankan lagi tentang satu hal. “Kepada umat Islam, ingat, kita makan-minum dari Tanah Air ini, Tanah Air Ibu Pertiwi. Jadilah Indonesia yang Islam, bukan Islam yang Indonesia! Kata kuncinya satu: cinta Indonesia,” tekan Gus Mus. Inilah nasionalisme santri.

Penulis adalah Koordinator Komunitas Penulis Nurul Jadid (KPNJ), Probolinggo. Tulisan ini pernah dimuat di Harian Surya, 25 Februari 2010.