Langit: Kajian Tafakkur ala Imam Ghazali

Dalam kitab ini Imam al-Ghazali mencoba menjembatani antara ilmu dunia dengan ilmu akhirat lewat proses tadabbur bil kholqillah (perenungan ciptaan Allah). Tadabbur yang sering kita lakukan akan membawa kita pada puncak keimanan yang luar biasa (Rusyukhul Yaqin), maka dengan dasar ini tidak ada salah kalau kita gunakan waktu sejenak untuk menambah kualitas Iman kita.

Alam dengan segala isinya akan mengantarkan kita pada pengamatan suatu konstruksi bangunan rumah dengan segala perabotnya. Kedudukan langit yang meninggi di angkasa diibaratkan sebuah atap rumah, sedangkan bumi terhampar seperti permadani dihiasi dengan berbagai motif alami, bintang-bintang gemerlapan layaknya lampu menerangi rumah kita. Sedangkan permata-permata tersimpan dalam lautan yang luas. Tidak ada satupun yang diciptakan Allah di bumi ini sia-sia.
ربنا ما خلقت هذا باطلا

Di sisi lain Allah menciptakan langit dan menjadikan warnanya paling indah dan kuat, dengan keserasian warna yang cocok untuk mata, malahan dari sisi medis bisa memperkuat daya pandang kita. Itulah Allah yang maha Bijaksana, dalam menciptakan langit dengan durasi warna yang tidak terlalu kuat (kontras), dengan itu akan menghindari kita dari kerusakan mata.

Fenomena lain yang Allah menanamkan dalam diri kita bahwa sifat warna hijau sangat di sukai oleh jiwa kita. Sebagaimana dengan warna biru pada langit yang cerah, senantiasa menyimpulkan kita pada pernyataan bahwa langit adalah pemandangan yang luar biasa. Disaat malam tiba, langit mulai beranjak kelam, karena matahari sedikit demi sedikit meninggalkan daerah yang disinarinya. Bintang dan bulan kembali menghiasi langit dengan kemiliau cahayanya, hingga manusiapun tak sanggup menandingi keindahan yang tiada habisnya ini.

Alam menjadi suatu konstruksi yang maha dahsyat indahnya. Allah sebagai Sang Pencipta (the Most Creator) senantiasa membuka lautan ilmunya bagi orang-orang yang mau bertafakkur, sebagai mana hadist Nabi :
تفكروا فى خلق الله ولا تفكر فى ذات الله

Dengan dalil itu merupakan dasar kuat, akan turunnya ilmu Allah pada diri manusia. Mungkin saja Istana yang megah tidak pernah dijamah oleh manusia sekalipun, membawa manusia akan keindahan ukiran/pahatan batu nan artistik. Akan tetapi manusia lambat laun akan merasa bosan dengan pemandangan yang ada. Yang menjadi pertanyaan apakah manusia bosan dengan tebaran bintang yang gemerlap di angkasa, atau cahaya rembulan yang bersinar menerangi kepekatan malam ?

Atas dasar pertanyaan itu, kemudian para raja zaman dahulu menjadikan penyejuk pandangan dan penawar kegelisahan hatinya atas problem-problem yang selama ini menghantuinya. Sebagian ahli hikmah bertutur,

“Kamu tidak akan mendapatkan ketenangan dan kepuasan di rumahmu, sebagaimana apa yang kamu dapatkan ketika memandang keindahan langit yang dihiasi oleh jutaan bintang, bulan dan galaksi di jagad raya ini”.

Sebagian ahli tafsir menafsiri ayat ke-7 surah ad-Dzaariyah yang berbunyi :
والسماء ذات الحبك

Langit-langit itu mempunyai hiasan sebagai petunjuk yang jelas akan subyek keagungan ciptaan dan dari luasnya ilmu Allah. Hal itu semua menjadi bukti atas kehendak Allah dalam membedakan kecepatan gerak antara bulan, bumi, matahari dan planet lain yang banyak jumlahnya.

Dengan ayat tersebut Penciptaan Allah yang berada pada langit itu, menjadikan sumber keilmuan yang luar biasa. Adanya hari, bulan, tahun dan keilmuan astronomi lainnya merupakan bukti atas keagungan ciptaan Allah. Keberlanjutan kita yang senantiasa bertadabbur pada ciptaan Allah akan mendekatkan kita pada Allah dan menghilangkan keraguan kita akan kekuasaan Allah.

Terakhir kalinya Imam al-Ghazali menganjurkan kita akan mudawamah ala dzikrillah (keberlanjutan dalam berdzikir) baik itu dalam hati, lisan maupun pikiran kita, lewat proses tadabbur fi kholqillah. Dengan dalil Firman Allah:
واذكر الله قياما وقعودا

“Ingatlah Allah dalam segala aktifitasmu”