Eksistensi bahasa Sunda di kalangan generasi muda kembali dipertanyakan. Bahasa Sunda sering dikatakan kalah populer dibandingkan dengan dialek Betawi yang sering diucapkan artis di televisi. Ada yang mengatakan tidak menggunakan bahasa Sunda karena menghargai teman yang bukan orang Sunda, merasa sulit mengucapkan, atau bahkan malu mengucapkannya.

Berkurangnya penggunaan bahasa Sunda disebabkan adanya pergeseran paradigma di kalangan generasi penutur asli saat ini. Masyarakat sering kali merasa gengsi berbahasa ibu (Sunda), dan sebaliknya lebih nyaman jika menggunakan bahasa asing atau serapannya.
Pelestarian bahasa ibu harusnya dimulai dari rumah. Sebab, inilah lingkungan yang terdekat. Yang menjadi soal, sering kali si ibu justru enggan atau tidak membiasakan diri mengobrol dengan anak menggunakan bahasa daerahnya.

Dewasa ini peran keluarga mengajarkan bahasa Sunda mulai jarang dilakukan. Meskipun dalam satu keluarga dan orangtuanya asli Sunda, kebiasaan menuturkan bahasa Sunda semakin jarang dilakukan. Alasan yang paling banyak dilontarkan, mereka takut anaknya kesulitan bergaul di sekolah.
Selain keluarga, pemerintah, dalam hal ini Dinas Pendidikan Jawa Barat, harus bekerja keras. Metode pembelajaran bahasa Sunda jauh dari harapan. Salah satunya, perhatian terhadap sumber daya manusia. Mayoritas guru bahasa Sunda di banyak sekolah bukan berasal dari pendidikan bahasa Sunda. Bahkan, karena dianggap tidak penting, guru Olahraga pun sering kali merangkap guru Bahasa Sunda karena bisa berbicara Sunda.

Ironisnya, masyarakat dari negara lain justru tertarik mendalami bahasa ini. Ini terbukti dari banyaknya disertasi atau penelitian mahasiswa asing yang bertopik bahasa dan sastra Sunda. Misalnya, Mikihiro Moriyama dari Jepang yang meneliti bahasa dan kesusastraan Sunda abad ke-19. Kuatnya pengaruh budaya pop yang terfragmen di dalam siaran televisi dan radio kian memperburuk kondisi.

Jangan sampai terjebak dalam ketakutan. Selalu ada jalan dan kreativitas melestarikan bahasa Sunda.

Kalau bukan oleh kita sebagai orang Sunda sendiri, lalu siapa lagi??
Sanes kitu lur!!
Diposkan oleh “eka d’putra” di 19:06
Label: Catetan …