Category: Seputar Agama Islam


Rahmat Dibalik Cobaan (Ridho Menerima Ketetapan Illahi)
Firman Allah SWT, pada Al-Baqarah:156-157 :Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan : Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun (arti:sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka ialah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Al-Baqarah : 156-157)

Tujuan musibah atau cobaan yang diturunkan Allah kepada hamba-Nya adalah :

1. Untuk membersihkan dan memilih, mana orang mukmin yang sejati dan mana yang munafik.
2. Untuk mengangkat derajat serta menghapuskan dosa.
3. Untuk melihat sejauh mana kesabaran dan ketaatan seorang hamba.
4. Untuk membentuk dan mendidik manusia, sehingga menjadi umat dgn keimanan yang tinggi.
5. Sebagai latihan supaya manusia terbiasa menerima berbagai ujian, dengan demikian akan bertambah kesabaran, kuat cita-cita dan tetap pendiriannya.
Baca lebih lanjut

KEUTAMAAN SHOLAWAT

Keutamaan Shalawat Untuk
NABI
(Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam)
( باللغة الإندونيسية )

Disusun Oleh:
Penerbit Darul Qosim

Penerjemah :
Sholahuddin Abdul Rahman, Lc

Murajaah :
Abu Ziyad

فضل الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم
إعداد:
القسم العلمي بدار القاسم
ترجمة:
صلاح الدين عبد الرحمن
مراجعة:
أبو زياد

Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah
المكتب التعاوني للدعوة وتوعية الجاليات بالربوة بمدينة الرياض
1428 – 2007

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam, sholawat dan salam untuk Nabi dan Rasul yang paling mulia, Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.
Sesungguhnya Allah dengan segala kekuasaan-Nya telah mengutus nabi-Nya Muhammad dan telah memberinya kekhususan dan kemuliaan untuk menyampaikan risalah. Ia telah menjadikannya rahmat bagi seluruh alam dan pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa serta menjadikannya orang yang dapat memberi petunjuk ke jalan yang lurus. Maka seorang hamba harus taat kepadanya, menghormati dan melaksanakan hak-haknya. Dan di antara hak-haknya adalah Allah mengkhususkan baginya sholawat dan memerintahkan kita untuk itu di dalam kitab-Nya yang agung (Al-Qur’an) dan Sunnah nabi-Nya yang mulia (Hadits). Di mana orang yang yang bersholawat untuknya akan memperoleh pahala yang berlipat ganda. Maka sungguh berbahagialah orang yang mendapatkan itu. Dan karena masalah ini memiliki urgensi yang sangat besar dan pahala yang besar pula, maka kami merasa perlu untuk mengeluarkan tulisan-tulisan sederhana ini, yang di dalamnya terdapat motivasi untuk memperbanyak sholawat dan salam untuk nabi dan rasul yang paling mulia ini.
Ya Allah! Berilah Sholawat dan Salam atas nabi dan kekasih-Mu Muhammad selama siang dan malam yang silih berganti.
Baca lebih lanjut

Saat Ajal Menjemput (1)
Dipublikasi pada Jum’at, 18 Juli 2008 oleh abufaiz97
Artikel ini telah dibaca 3275 kali.
Topik: Hikmah

Kematian adalah muara kehidupan manusia dan akhir perjalanannya di dunia, tidak ada yang lolos dari lubang jarum kematian, besar dan kecil, tua dan muda, sehat dan sakit, laki-laki dan wanita, semua yang hidup pasti akan meneguk gelas kematian dan memasuki gerbangnya yang berat. Beratnya kematian bisa kita lihat dari sejarah kematian manusia yang terekam kepada kita, bagaimana calon mayit mengalami sakaratul maut yang jika dia bisa berlari darinya niscaya dia akan berlari, tetapi ke mana?

Berikut ini adalah sejarah yang terekam tentang kematian manusia terbaik, sayid para nabi dan rasul, Muhammad saw.

Pada saat tanda-tanda sakit mulai terlihat pada diri Rasulullah saw, beliau bersabda, “Aku ingin mengunjungi syuhada perang Uhud.” Beliau berangkat dan berdiri di atas kubur mereka dan berkata, “Assalamu’alaikum wahai syuhada Uhud, kalian adalah orang-orang yang mendahului, kami, insya Allah, akan menyusul kalian dan aku pun insya Allah akan menyusul kalian.”
Baca lebih lanjut

1. Wajibkah mendirikan khilafah?
Tidak wajib! Yang wajib itu adalah memiliki pemimpin, yang dahulu disebut khalifah, kini bebas saja mau disebut ketua RT, kepala suku, presiden, perdana menteri, etc. Ada pemelintiran seakan-akan para ulama mewajibkan mendirikan khilafah, padahal arti kata “khilafah” dalam teks klasik tidak otomatis bermakna sistem pemerintahan Islam (SPI) yang dipercayai oleh para pejuang pro-khilafah.
Masalah kepemimpinan ini simple saja: “ Nabi mengatakan kalau kita pergi bertiga, maka salah satunya harus ditunjuk jadi pemimpin”. Tidak ada nash yang qat’i di al-Qur’an dan Hadis yang mewajibkan mendirikan SPI (baca: khilafah ataupun negara Islam). Yang disebut “khilafah” sebagai SPI itu sebenarnya hanyalah kepemimpinan yang penuh dengan keragaman dinamika dan format. Tidak ada format kepemimpinan yang baku. Baca lebih lanjut

KHILAFAH atau penguasa umat Islam itu sudah selesai sejak masa terakhir khulafaurasyidin selama 30 tahun saja. Setelahnya hanyalah sultan, malik atau raja. Anehnya,SLh st organisasi islam berteriak “histeris” agar mengganti UUD 45 dan Pancasila dengan konsep Islam. Bagaimana Al Qur’an dan Rasulullah saw menginformasikan tentang khilafah ini?

Khilafah dalam Al Qur’an
Saya bertanya kepada seorang kyai dari Buntet Pesantren ketika ditanyakan mengenai persoalan khilafah, beliau menyarankan agar membuka tafsir ayat 55 surat An Nur. Selengkapnya ayat itu berbunyi sebagai berikut:
وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (النور 55)
Artinya: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An Nur: 55) Baca lebih lanjut

Wajar sekali jika para ulama di NU menolak wacana khilafah. Sebab disamping tidak mau melanggar sabda Nabi saw: ”khilafatu ummati tsalatsuna sanatan” khilafah itu berlangsung 30 tahun yang telah dipimpin oleh Khulafaurrasyidin dan sudah selesai. Selebihnya kemudian adalah system kerajaan.
Para ulama rupanya tidak mau menyaingi para khulafaurrasyidin. Sebab kekuasaan Khalfiah meliputi dunia dan akhirat. Sebab mereka terjaga dalam keagamaanya.
Di Indonesia sendiri kita bisa melihat contoh sejarah. Sebuah organisasi bernama “Persis” (Persatuan Islam) dulunya berdiri karena merasa “capek deeh” melihat NU – Muhammadiyah “berantem” terus masalah qunut, tahlil dll. Lalu muncullah organsiasi ini yang salah satu maksudnya adalah bagaimana persatuan umat Islam di Indonesia itu terwujud. Tapi ternyata, NU tetap ada; Muhammadiyah pun hingga kin tetap.
Dasar Mendukung Pemerintah
Salah satu alasan para kyai mengapa sangat mendukung pemerintah sekalipun pemerintah itu jelek, korup, kapitalis dan segudang sebutan oleh para pengkritik. Sebab mengikuti sabda Rasulullah saw: ”Assultonul jaairu khoirum minal fitnah” Pemerintah yang jelek, ”nakal”, ”korupsi” itu (dianggap) lebih baik dari pada fitnah.
Konteknya, dari sabda Rosul tersebut bahwa bahaya dari sebuah fitnah (adu domba, mengkafirkan, menyebut thagut pihak lain, menuduh antek Yahudi, membid’ahkan dan menjelek-jelekkan komunitas lain) berdampak luas sekali. Karenanya masih lebih baik dari pemerintah yang jair. Sebab bukankah fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Al fitnatu Asyaddu minal qotl.
Sementara itu yang namanya jair suatu kejahatan yang sifatnya lokal. Perbandingan antara bahaya jair dengan fitnah bisa digambarkan sebagai berikut:
Para pemabuk minuman, tukang judi malam-malam keluyuran itu masuk pada katogori jair. Kejatahannya bersifat lokal. Namun jika berceramah di depan 100 ribu penonton kemudian men-thagutkan pemerintah, menuduh komunitas lain sebagai kafir bukankah itu merupakan ftinah yang didengar langsung oleh 100 ribu penonton, kemudian bisa jadi fitnah itu menyebar barang cetakan: buku, pamflet, selebaran dan brosur.
Kyai di Pesantren akan setia mengakui Ulil Amri. Bahkan kebijakannya cenderung dituruti. Maksudnya di situ mengakui pemerintah resmi. Sebuah contoh, KH. Maemoen Zubeir, (Mbah Maimun), sering bicara pada santrinya, ketika ditanya tanggal 1 ramadan dan lebaran, beliau selalu bilang: ”gimana pemerintah”, bagaimana puasa, ”terserah pemerintah”. Di Buntet Pesantren sendiri semisal almarhum KH. Nu’man Zen suatu ketika ditanya oleh warganya, ”Kyai bagaimana dengan pemilu?” dijawab: ”Anang ambekan bae ana itungane jeh, apamaning pemilu yaa wajib. (bernafas saja ada hitungan kebaikannya, apalagi pemilu, karnanya wajib ikut). Baca lebih lanjut

Bismillahirrohmanirrohim.
Abul Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Ayyub r.a. berkata: “Seorang Badwi menhadang Nabi Muhammad s.a.w. dan memegang kendali untanya lalu berkata: “Ya Rasulallah, beritahukan kepadaku apakah yang dapat mendekatkan aku kesyurga dan menjauhkan diriku dari api neraka?” Jawab Baginda s.a.w.: “menyembah Allah s.w.t. dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apa pun dan mendirikan sembahyang dan mengeluarkan zakat dan menghubungi kerabat.”
Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Abi Aufa r.a. berkata: “Pada suatu waktu petang hari Arafah kami bersama Baginda s.a.w. tiba-tiba Baginda s.a.w. bersabda: “Jangan duduk bersama kami siapa yang memutuskan hubungan kekeluargaan, supaya bangun dari tengah-tengah kami.” Maka tidak ada orang kecuali seorang dibelakang Baginda s.a.w. sendiri, tetapi tidak lama ia kembali maka ditanya oleh Baginda s.a.w.: “Mengapakah engkau , sebab tidak ada orang yang bangun kecuali engkau?” Jawabnya: “Ya Rasulullah, ketika saya mendengar sabdamu itu, segera saya pergi kerumah makcikku yang memutuskan hubungan dengan aku, lalu dia bertanya: Mengapa kau datang, ganjil sekali kedatangan mu ini?” Maka saya beritahukan apa yang saya dengar daripadamu, maka ia membaca istighfar untuk ku dan aku juga membaca istighfar untuknya.” Baginda s.a.w. bersabda: “Bagus engkau, duduklah sekarang sebab rahmat tidak akan turun pada suatu kaum jika ada diantara mereka seorang yang memutuskan hubungan kekeluargaan.” Baca lebih lanjut

Berta’aruf artinya berupaya untuk dapat saling mengenal dan memahami satu sama lain baik untuk keperluan yang umum maupun keperluan yang khusus dengan cara-cara yang ma’ruf (sesuai syari’at). Aktifitas berta’aruf terjadi karena memang Allah Swt menciptakan manusia antara satu sama lainnya dengan saling memiliki perbedaan agar dapat saling mengenal pula. Allah swt berfirman:
’Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)-nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang yang mengetahui’ (TQS. Ar-Ruum [30]:24)
’Hai manusia sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari seorang pria dan seorang wanita, lalu menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal’ (TQS. Al-Hujurat [49]:13)
Berdasarkan ayat di atas, maka aktifitas saling mengenal antara seorang manusia dengan yang lainnya merupakan aktifitas yang lumrah dilakukan karena fitrah manusia memang diciptakan saling berbeda-beda. Sebagai seorang muslim, arahan kita dalam menjalani kehidupan umum adalah kita diperintahkan oleh Allah Swt untuk dapat saling mengenal, bahkan dianjurkan pula saling mengikatkan silaturrahim dan berbuat kebaikan terhadap satu sama lain yang semuanya dilakukan dalam rangka ketaatan kepada Allah Swt. Dari nu’man bin basyir bahwa rasulullah saw bersabda: Baca lebih lanjut

HAYU GEURA SARADIA MENGPENG KEUR HIRUP DI DUNYA
LOBAKEUN AMAL HADENA SAMPEUREUN KE URANG JAGA
SABAB MAOT NGADODOHO ULAH SOK DI POHO-POHO
URANG LUMPAT KA BELAH KIDUL MAOT OGE MILU KA KIDUL
URANG LUMPAT KA BELAH KALER MAOT OGE MILU KA KALER
URANG LUMPAT KA BELAH KULON MAOT OGE MILU KA KULON
URANG LUMPAT KA BELAH WETAN MAOT OGE MILU KA WETAN
SABAB KITU SALILANA KUDU ELING KANA AJALNA
كل نفس ذاءقة الموت

Tanda-Tanda Ketika Ajal Kematian Akan Datang “NGeri “

Semua yang bernyawa pasti akan mati. Apakah kita sudah mempersiapkan diri untuk menyambut kematian itu datang menjemput kita?? Bahkan kita tak tahu kapan kita akan mati. Tapi ada tanda-tanda yang mungkin bisa kita rasakan saat ajal kita sudah dekat & ada baiknya kita merenungi tanda – tanda kematian ini agar saat ajal menjemput, kita sudah siap menyambutnya dengan ikhlas.
Baca lebih lanjut

Kitab Uquudu Lujain Fii Bayaani Huquuzzaujaini
1
BAB 1
Shahabat-shahabat yang dirahmati oleh Alloh S.W.T, Alhamdulillah segala
puji tersanjung kehadirat Alloh S.W.T Sholawat dan salam selalu terlimpahkan
kepada sayyidina Muhammad S.A.W beserta keluarganya dan para shahabat,
sejumlah bilangan semua perkara yang diketahui Alloh. “Amma ba’du”.
Izinlah kami menulis buletin ini dengan suatu pegangan kitab, yang insya
Alloh kami ambil dari kitab “UQUUDU LUJAIN FII BAYAANI
HUQUUQUZZAUJAINI” Kami sangat berharap memperoleh pertolongan
Alloh, keikhlasan, diterima dan ber manfa’at dalam segala hal yang berkaitan
dengan risalah yang kami tulis ini, semata karena kemuliaan sayyidina
Muhammad S.A.W para istrinya anak cucunya dan golongan beliau.
Risalah ini kami hadiahkan kepada kedua orang tua kami, dengan harapan
memperoleh pengampuan dari Alloh, dan mudah-mudahan derajatnya
ditinggikan. Sesungguhnya Alloh S.W.T adalah dzat yang maha luas
pengampunan Nya dan dzat Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
PASAL I
HAK-HAK ISTRI TERHADAP SUAMI Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.