IMAM NAWAWI
Jilid 1 dan JILID 2
(Indonesia VERSIOn)
Taman Orang-Orang Shalih
Ikhlas dan Niat dalam Segala Perilaku
Kehidupan
1. Dari Amiril Mukminin Abu Hafsh Umar bin Khathab bin Naufal
bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin
Adiy bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib Al-Qurasyiy Al-Adawiy ra.,
ia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap amal disertai dengan niat. Setiap amal seseorang
tergantung dengan apa yang diniatkannya. Karena itu, siapa
saja yang hijrahnya (dari Mekkah ke Madinah) karena Allah
dan Rasul-Nya. (mekakukam hijrah demi mengagungkan dan
melaksanakan perintah Allah dan utusan-Nya), maka
hijrahnya tertuju kepada Allah dan Rasul-Nya (diterima dan
diridhai Allah). Tetapi siapa saja yang melakukan hijrah demi
kepentingan dunia yang akan diperolehnya, atau karena
perempuan yang akan dinikahinya, maka hijrahnya sebatas
kepada sesuatu yang menjadi tujuannya (tidak diterima oleh
Allah).” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Ummul Mukminin Ummu Abdillah Aisyah ra. ia berkata:
Rasulullah SAW Bersabda: “Ada sekelompok pasukan yang
akan menyerang Ka’bah, namun ketika mereka sampai di
tanah lapang, maka mereka dibinasakan dari muka sampai
yang paling belakang. Aisyah bertanya: “Wahai Rasulullah,
bagaimana mereka dibinasakan dari depan sampai yang
paling belakang, padahal di antara mereka ada orang yang
berbelanja serta ada pula orang yang bukan dari golongan
mereka?” Beliau menjawab: “Mereka dibinasakan dari depan
sampai yang paling akhir, kemudian mereka akan
dibangkitkan sesuai dengan niatnya masing-masing.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
3. Dari Aisyah ra. Ia berkata: Nabi SAW bersabda: “Tidak ada
hijrah lagi setelah dibukanya kota Makkah, tetapi yang ada
adalah jihad (berjuang di jalan Allah) dan niat untuk selalu
berbuat baik. Oleh karena itu, jika kalian dipanggil untuk
berjuang, maka berangkatlah!” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Dari Abu Abdillah Jabir bin Abdillah Al-Anshariy ra. Ia berkata:
Kami bersama Nabi SAW dalam salah satu peperangan,
kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya di Madinah ada
beberapa orang, apabila kalian menempuh perjalanan atau
menyeberangi lembah, mereka senantiasa mengikuti,
sedangkan yang mengahalangi mereka hanyalah sakit.”
Dalam salah satu riwayat disebutkan, Rasulullah bersabda:
“Melainkan mereka selalu menyertai kalian di dalam mencari
pahala.” (HR. Muslim)
5. Dari Anas ra., ia berkata: Kami bersama-sama dengan Nabi
SAW kembali dari peperangan Tabuk, kemudian beliau
menjelaskan: “Sesungguhnya masih ada beberapa kaum atau
orang yang kami tinggalkan di Madinah, mereka senantiasa
menyertai kita, baik sewaktu keluar masuk pedusunan
maupun sewaktu menyeberangi lembah, yang menghalangi
mereka hanya uzur.” (HR. Bukhari)
6. Dari Abu Yazid Ma’an bin Yazid bin Al-Akhnas ra. Ia berkata:
“Ayahku Yazid biasa mengeluarkan beberapa dinar untuk
disedekahkan, dan dipercayakan kepada seseorang di masjid
untuk membaginya. Kemudian aku pergi ke masjid untuk
meminta dinar itu, dan menunjukkan kepada ayahku, lalu
ayahku berkata: “Demi Allah, dinar itu tidak aku sediakan
untukmu.” Peristiwa itu kemudian aku sampaikan kepada
Rasulullah SAW, maka beliau bersabda: “Bagimu apa yang
kamu niatkan hai Yazid, dan bagimu apa yang kamu ambil hai
Ma’an.” (HR. Bukhari)
7. Dari Abu Ishaq Sa’ad bin Abi Waqqash Malik bin Uhaib bin
Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin
Lu’ay Al-Qurasyiy Az-Zuhriy ra. (beliau salah seorang dari
sepuluh orang yang dijamin masuk surga), ia berkata:
“Rasulullah SAW menjenguk saya ketika haji Wada’, karena
sakit keras, kemudian saya berkata: “Wahai Rasulullah,
sesungguhnya sakit saya sangat keras sebagaimana engkau
lihat, sedangkan saya mempunyai harta yang cukup banyak
dan yang mewarisi hanyalah seorang anak perempuan.
Bolehkah saya sedekahkan dua pertiga dari harta saya itu?”
Beliau menjawab: “Tidak boleh.” Saya bertanya lagi:
“Bagaimana kalau separuhnya?” Beliau menjawab: “Tidak
boleh.” Saya bertanya lagi: “Bagaimana kalau sepertiganya?”
Beliau menjawab: “Sepertiga itu banyak dan cukup besar.
Sesungguhnya jika kamu meninggalkan ahli warismu kaya, itu
lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam
keadaan miskin, sehingga mereka terpaksa meminta-minta
kepada sesama manusia. Sesungguhnya apa yang kamu
nafkahkan dengan maksud untuk mencari ridha Allah pasti
kamu diberi pahala, termasuk apa yang dimakan oleh
istrimu.” Kemudian saya bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah
saya akan segera berpisah dengan kawan-kawanku?” Beliau
menjawab: “Sesungguhnya kamu belum akan bepisah. Kamu
masih akan menambah amal yang kamu niatkan untuk
mencari ridha Allah, sehingga akan bertambah derajat dan
keluhuranmu. Dan barangkali kamu akan segera meninggal
setelah sebagian orang dapat mengambil manfaat darimu,
sedangkan yang lain merasa dirugikan olehmu. Seraya
berdoa, Abu Ishaq berkata: “Ya Allah, mudah-mudahan
sahabat-sahabatku dapat melanjutkan hijrah mereka dan
janganlah engkau mengembalikan mereka ke tempat yang
mereka tinggalkan, tetapi kasihan Sa’ad bin Kaulah yang
selalu disayangkan oleh Rasulullah karena ia mati di Makkah.”
(HR. Bukhari dan Muslim) )
8. Dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Shakhr ra., ia berkata
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak
memandang kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa
kalian, tetapi Dia memandang kepada hati kalian.” (HR.
Muslim)
9. Dari Abu Musa Abdullah bin Qais Al-Asy’ariy ra., ia berkata:
“Rasulullah SAW pernah ditanya, manakah yang termasuk
berperang di jalan Allah? Apakah berperang karena
keberanian, kesukuan, ataukah berperang karena ria’?
Rasulullah SAW menjawab: “Siapa saja yang berperang agar
kalimat Allah terangkat, maka itulah perang di jalan Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
10. Dari Abu Bakrah Nufa’i bin Harits Ats-Tsaqafiy ra., ia
berkata: Nabi SAW bersabda: “Apabila ada dua orang Islam
yang bertengkar dengan pedangnya, maka orang yang
membunuh dan yang terbunuh sama-sama berada dalam
neraka.” Saya bertanya: “Wahai Rasulullah, sudah wajar yang
membunuh masuk neraka, tetapi mengapa yang terbunuh
juga masuk neraka?” Beliau menjawab: “Karena ia sangat
berambisi untuk membunuh kawannya.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
11. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Rasulullah SAW
bersabda: “Shalat seseorang dengan berjamaah, lebih banyak
pahalanya daripada shalat sendirian di pasar atau di
rumahnya, selisih dua puluh derajat. Karena seseorang yang
telah menyempurnakan wudhunya, kemudian pergi ke masjid
dan hanya bertujuan untuk shalat, maka setiap langkah
diangkatlah satu derajat dan diampuni satu dosa, sampai ia
masuk masjid. Apabila ia berada dalam masjid ia dianggap
mengerjakan shalat selama menunggu dilaksanakannya. Para
malaikat mendoakan: “Ya Allah, kasihanilah dia, ampunilah
dosa-dosanya, terimalah taubatnya selama tidak berbuat
gaduh dan berhadats.” (HR. Bukhari dan Muslim)
12. Dari Abil Abbas Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib
ra., ia berkata: Rasulullah SAW menjelaskan apa yang
diterima dari Tuhannya, yaitu: “Sesungguhnya Allah SWT.,
sudah mencatat semua perbuatan baik dan buruk, kemudian
Allah menerangkannya kepada para malaikat, mana
perbuatan yang baik dan mana pula perbuatan buruk yang
harus dicatat. Oleh karena itu, siapa saja bermaksud
melakukan perbuatan baik, lalu tidak mengerjakannya, maka
Allah mencatat maksud baik itu sebagai satu amal baik yang
sempurna. Jika orang itu bermaksud melakukan kebaikan,
lalu mengerjakannya, maka Allah mencatat disisi-Nya sebagai
sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat, dan dilipat
gandakannya lagi. Siapa saja yang bermaksud melakukan
keburukan, lalu tidak jadi melakukannya, maka Allah
mencatatnya sebagai satu amal baik yang sempurna. Apabila
ia bermaksud melakukan keburukan kemudian
mengerjakannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu
kejelekan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
13. Dari Abu Abdirrahman bin Abdullah bin Umar bin
Khaththab ra., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW,
bercerita: “Sebelum kalian, ada tiga orang sedang berjalanjalan,
kemudian mereka menemukan sebuah gua yang dapat
digunakan untuk berteduh dan mereka pun masuk, tiba-tiba
ada batu yang besar dari atas bukit menggelinding dan
menutupi pintu gua, sehingga mereka tidak dapat keluar.
Salah seorang diantara mereka berkata “Sungguh tidak ada
yang dapat menyelamatkan kalian dari bahaya ini, kecuali bila
kalian berdoa kepada Allah SWT., dengan menyebutkan amalamal
shalih yang pernah kalian perbuat.” Kemudian salah
seorang diantara mereka berdoa: “Ya Allah, Saya mempunyai
orang tua yang sudah renta. Kebiasaanku, mendahulukan
mereka minum susu sebelum saya berikan kepada anak isteri
dan budakku. Suatu hari, saya terlambat pulang karena
mencari kayu namun keduanya sudah tidur, aku enggan
untuk membangunkannya, tetapi saya terus memerah susu
untuk persedian minum keduanya. Walaupun demikian saya
tidak memberikan susu itu kepada keluarga maupun kepada
budakku sebelum keduanya minum. Dan saya menunggunya
hingga terbit fajar. Ketika keduanya bangun, kuberikan susu
itu untuk diminum, padahal semalam anakku menangis
terisak-isak minta susu sambil memegangi kakiku. Ya Allah,
jika berbuat itu karena mengharapkan ridha-Mu, maka
geserkanlah batu yang menutupi gua ini.” Kemudian
bergeserlah sedikit batu itu, tetapi mereka belum bisa keluar
dari gua itu. Orang kedua pun melanjutkan doanya: “Ya Allah,
sesungguhnya saya mempuyai saudara sepupu yang sangat
saya cintai.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Saya sangat
mencintainya sebagaimana orang laki-laki mencintai orang
perempuan, saya selalu ingin berbuat zina dengannya, tetapi
ia selalu menolaknya. Beberapa tahun kemudian, ia tertimpa
kesulitan. Ia pun datang untuk meminta bantuanku, dan saya
berikan kepadanya seratus dua puluh dinar dengan syarat
menyerahkan dirinya kapan saja saya menginginkan.” Pada
riwayat yang lain: “Ketika saya berada diantara kedua
kakinya, ia berkata: “Takutlah kamu kepada Allah. Janganlah
kamu sobek selaput darahku kecuali dengan jalan yang
benar.” Mendengar yang demikian saya meninggalkannya dan
merelakan emas yang aku berikan, padahal dia orang yang
sangat saya cintai. Ya Allah, jika perbuatan itu karena
mengharapkan ridha-Mu, maka geserkanlah batu yang
menutupi gua ini.” Kemudian bergeserlah batu itu, tetapi
mereka belum bisa keluar dari gua itu. Orang yang ketiga
melanjutkan doanya: “Ya Allah, saya mempekerjakan
beberapa karyawan dan digaji dengan sempurna, kecuali ada
seorang yang meninggalkan saya dan tidak mau mengambil
gajinya terlebih dahulu. Kemudian gaji itu saya kembangkan
kemudian menjadi banyak. Selang beberapa tahun, dia
datang dan berkata: “Wahai hamba Allah, berikanlah gajiku!”
Saya berkata: “Semua yang kamu lihat baik unta, sapi,
kambing, maupun budak yang menggembalakannya, semua
adalah gajimu.” Ia berkata: “Wahai hamba Allah, janganlah
engkau mempermainkan aku!” Saya menjawab: “Saya tidak
mempermainkanmu.” Kemudian dia mengambil semuanya itu
dan tidak meninggalkannya sedikitpun. Ya Allah, jika
perbuatan itu karena mengharapkan ridha-Mu, maka
singkirkanlah batu yang menutupi pintu gua ini.” Kemudian
bergeserlah batu itu dan mereka pun bisa keluar dari dalam
gua.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Taubat
1. Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata: Saya mendengar dari
Rasulullah SAW, bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya saya
membaca istighfar dan bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuh
puluh kali setiap hari.” (HR. Bukhari)
2. Dari Al-Aghar bin Yasar Al-Muzanniy ra., ia berkata:
Rasulullah SAW, bersabda: “Wahai manusia, bertaubatlah
kalian kepada Allah dan mohonlah ampun kepada-Nya,
sesungguhnya saya bertaubat seratus kali setiap hari.” (HR.
Muslim)
3. Dari Abu Hamzah Anas bin Malik Al-Anshariy (pembantu
Rasulullah SAW) berkata: Rasulullah SAW, bersabda:
“Sesungguhnya Allah gembira menerima taubat hamba-Nya,
melebihi kegembiraan seseorang diantara kalian ketika
menemukan kembali untanya yang hilang di padang yang
luas.” (Muttafaqalaih)
Dalam riwayat Imam muslim disebutkan, beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah sangat gembira menerima taubat
hamba-Nya ketika bertaubat kepada-Nya, melebihi dari
kegembiraan seseorang yang berkendaraan di tengah padang
pasir tetapi hewan yang dikendarai lari meninggalkannya,
padahal di atas hewan itu terdapat makanan dan minuman,
kemudian dia berteduh di bawah pohon, dan membaringkan
badannya, sedang ia benar-benar putus asa untuk
menemukan kembali hewan yang dikendarainya. Ketika
bangkit, tiba-tiba ia menemukan kembali hewan yang
dikendarainya lengkap dengan bekal yang dibawanya, ia pun
segera memegang tali kekangnya, seraya berkata karena
sangat gembira: “Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku
adalah Tuhan-mu.” Ia keliru mengucapkan kalimat itu karena
luapan kegembiraannya.”
4. Dari Abu Musa Abdullah bin Qais Al-Asy’ariy ra., dari Nabi
SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu
membentangkan tangan-Nya (memberikan kesempatan) pada
waktu malam, untuk taubat orang yang berbuat dosa pada
waktu siang hari. Dan Allah membentangkan tangan-Nya
pada waktu siang, untuk taubat orang yang berbuat dosa di
malam hari, hingga matahari terbit dari barat.” (HR Muslim)
5. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW, bersabda:
“Siapa saja bertaubat sebelum matahari terbit dari barat,
niscaya Allah menerima taubatnya.” (HR Muslim)
6. Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Khaththab ra.
Dari Nabi SAW, beliau bersabda : “ Sesungguhnya Allah Yang
Maha Agung akan menerima taubat seseorang sebelum
nyawa sampai di tenggorokan (sebelum sekarat).” ( H.R.
Tirmidzi )
7. Dari Zir bin Hubais, ia berkata : “Saya mendatangi Shafwan
bin `Assal ra. untuk menanyakan tentang mengusap ke dua
khuf, kemudian dia menanyaiku: “Wahai Zir, mengapa
engkau kemari?” . Saya menjawab : “Untuk mencari ilmu.” Ia
pun berkata : “Sesungguhnya malaikat membentangkan
sayapnya bagi orang yang mencari ilmu, karena senang
terhadap apa yang dicarinya.” Kemudian aku melanjutkan
pertanyaanku : “Wahai Shafwan saya masih belum jelas
tentang cara mengusap kedua sepatu sesudah berak dan
kencing sedangkan engkau adalah salah seorang sahabat Nabi
SAW, maka saya datang ke sini untuk bertanya kepadamu,
apakah engkau pernah mendengar beliau menjelaskan
masalah itu?” Ia menjawab : “Ya, beliau menyuruh kami bila
dalam perjalanan agar tidak melepas khuf selama tiga hari
tiga malam kecuali berjanabat6, tetapi kalau hanya berak,
kencing, atau tidur tidak perlu dilepas.” Saya bertanya lagi
:”Apakah engkau pernah mendengar Rasulullah SAW,
menyebut tentang cinta?” Ia menjawab : “Betul, ketika kami
datang bepergian bersama Rasulullah SAW mendadak
seorang Badui memanggil Rasulullah SAW dengan suara
keras: Ya..Muhammad,” maka Rasulullah pun menjawab
menyerupai suaranya. Kemudian saya berkata kepada orang
Badui itu : “Rendahkanlah suaramu, karena engkau
berhadapan dengan Nabi SAW Dan kamu dilarang berkata
seperti itu.” Dan orang Badui itu berkata lagi: “Bagaimana
seseorang yang mencintai sekelompok orang, tetapi ia tidak
boleh berkumpul bersamanya?” Nabi SAW menjawab :
“Seseorang itu akan bersama dengan orang yang dicintainya
di hari kiamat.” Beliau selalu bercerita kepada kami, sampai
akhirnya beliau menceritakan tentang sebuah pintu yang
berada di sebelah barat, pintu itu sebesar 40 atau 70 tahun
perjalanan.” Menurut Sufyan, salah seorang perawi dari
daerah Syiria berkata : “Allah Ta`ala menciptakan pintu itu
ketika Ia menciptakan langit dan bumi; pintu itu senantiasa
terbuka untuk menerima taubat dan tidak akan ditutup
sebelum matahari terbit dari arah barat. ( H.R Tirmidzi ) Bab
Taubat, Hal 20-21.
6.Apabila keluar air mani karena mimpi atau bersetubuh
dengan istrinya.
8. Dari Abu Sa`id Sa`ad bin Malik bin Sinan Al- Khudriy ra. Nabi
SAW bersabda : “Sebelum kalian, ada seorang laki-laki
membunuh 99 orang. Kemudian ia bertanya kepada penduduk
sekitar tentang seorang yang alim, maka ia ditunjukkan
kepada seorang rahib ( pendeta Bani Israil). Setelah
mendatanginya, ia menceritakan bahwa ia telah membunuh
99 orang, kemudian ia bertanya : “ Apakah ia bisa
bertaubat?”. Ternyata pendeta itu menjawab : “Tidak” Maka
pendeta itupun dibunuh sehingga genaplah jumlahnya
seratus. Kemudian ia bertanya lagi tentang seorang yang
paling alim di atas bumi ini. Ia ditunjukkan kepada seorang
laki-laki alim. Setelah menghadap ia bercerita bahwa dirinya
telah membunuh seratus jiwa, dan bertanya : “ Bisakah saya
bertaubat?” Orang alim itu menjawab: “Ya, siapakah yang
akan menghalangi orang bertaubat? Pergilah kamu ke kota ini
(menunjukkan ciri-ciri kota yang dimaksud) sebab di sana
terdapat orang-orang yang menyembah Allah Ta`ala.
Beribadahlah kepada Allah bersama mereka dan jangan
kembali ke kotamu. Karena kotamu kota yang jelek!” Lelaki
itupun berangkat, ketika menempuh separuh perjalanan maut
menghampirinya. Kemudian timbullah perselisihan antara
malaikat Rahmat dengan malaikat Azab, siapakah yang lebih
berhak membawa rohnya. Malaikat Rahmat beralasan bahwa
: “Orang ini datang dalam keadaan bertaubat, lagi pula
menghadapkan hatinya kepada Allah.” Sedangkan malaikat
Azab (bertugas menyiksa hamba Allah yang berdosa)
beralasan: “Orang ini tidak pernah melakukan amal baik.”
Kemudian Allah SWT. mengutus malaikat yang menyerupai
manusia mendatangi keduanya untuk menyelesaikan masalah
itu dan berkata: “ Ukurlah jarak kota tempat ia meninggal
antara kota asal dan kota tujuan, Manakah lebih dekat, maka
itulah bagiannya.” Para malaiakat itu lalu mengukur, ternyata
mereka mendapati si pembunuh meninggal dekat kota tujuan,
maka malaikat Rahmatlah yang berhak membawa roh orang
tersebut.” ( H.R Bukhari dan Muslim ).
Pada riwayat lain di dalam kitab Ash-Shahih disebutkan : “Ia lebih
dekat sejengkal untuk menuju daerah tujuan, maka ia dimasukkan
dalam kelompok mereka.”
Dalam riwayat lain, di dalam kitab Ash-Shahih disebutkan :
“Kemudian Allah Ta`ala memerintahkan kepada daerah hitam itu
untuk menjauh dan memerintahkan kepada daerah yang baik itu
untuk mendekat kemudian menyuruh kedua malaikat itu
mengukurnya, akhirnya mereka mendapakan daerah yang baik itu
sejengkal lebih dekat sehingga ia diampuni.”
Di dalam riwayat lain disebutkan: “Allah mengarahkan hatinya
untuk menuju ke daerah yang baik itu”
9. Dari Abdullah bin Ka`ab bin Malik ra. ( beliau adalah seorang
panglima perang), dari anaknya, ia berkata : “Saya
mendengar Ka`ab bin Malik bercerita tentang tertinggalnya
(tidak bersama) Rasulullah SAW Dalam perang Tabuk, Ka`ab
bin Malik berkata : “ Saya selalu bersama Rasulullah SAW
Dalam setiap peperangan, kecuali dalam perang Tabuk.
Memang saya juga tidak bersama beliau dalam perang Badar,
tetapi tak seorang pun dicela, karena tidak ikut perang
tersebut. Sebab waktu itu Rasulullah SAW bersama kaum
muslimin keluar bertujuan menghadang rombongan Quraisy,
lalu tanpa terduga Allah mempertemukan mereka dengan
musuh. Sungguh aku mengikuti pertemuan bersama
Rasulullah SAW pada malam hari di dekat Jumrah Aqabah,
ketika kami berjanji memeluk Agama Islam. Saya tidak
merasa lebih senang seandainya saya bisa mengikuti perang
Badar, tetapi tidak mengikuti ba`iat di Jumrah Aqabah,
meskipun perang Badar lebih banyak disebut-sebut
keutamaanya di kalangan manusia daripada Ba`iat Jumrah
Aqabah. Adapun cerita tentang diriku tidak ikut perang Tabuk,
waktu itu saya sama sekali tidak merasa lebih kuat ataupun
lebih mudah (mencari perlengkapan perang), daripada ketika
aku tertinggal Rasulullah SAW daripada ketika aku tertinggal
dari perang Tabuk. Demi Allah sebelum perang Tabuk saya
tidak dapat mengumpulkan dua kendaraan sekaligus, tetapi
waktu perang Tabuk kalau mau saya bisa melakukannya.
Dikarenakan Rasulullah SAW berangkat ke Tabuk ketika hari
itu sangat panas, menghadapi perjalanan jauh dan sulit, serta
menghadapi musuh yang berjumlah besar, maka Rasulullah
merasa perlu membekali kaum muslimin akan kesulitankesulitan
yang mungkin dihadapi, agar kaum muslimin
membuat persiapan yang cukup. Rasulullah juga menjelaskan
tentang tujuan mereka.
Waktu itu, kaum muslimin yang ikut perang Tabuk bersama
Rasulullah SAW cukup banyak (sekitar 30.000 orang), tetapi
nama-nama mereka tidak tercatat dalam buku. Sedikit sekali
di antara mereka yang absen (bersembunyi dan tidak ikut
perang). Orang-orang yang absen itu mengira bahwa
Rasulullah SAW tidak mengetahuinya, selama wahyu Allah
Ta`ala tidak turun.
Rasulullah berangkat ke Tabuk ketika buah-buahan dan
tetumbuhan kelihatan bagus. Karena itu, hatiku lebih condong
ke sana (kepada buah-buahan dan tetumbuhan). Tatkala
Rasulullah dan kaum muslimin hendak berangkat
mempersiapkan segala sesuatunya, akupun bergegas keluar,
guna mempersiapkan diri bersama mereka. Namun saya
kembali tanpa menghasilkan apa-apa, padahal dalam hati aku
berkata: “Saya mampu mempersiapkannya jika bersungguhsungguh.“
Demikian itu berlangsung terus, dan saya selalu
menundanya untuk mempersiapkan perlengkapan perang,
sampai kesibukan kaum muslimin memuncak. Pada akhirnya,
di pagi hari Rasulullah SAW beserta kaum muslimin
berangkat, sementara saya belum mengadakan persiapan.
Lalu saya keluar (untuk mencari perlengkapan), tetapi saya
kembali dengan tangan kosong. Hingga kaum muslimin
bertambah jauh dan pertempuran semakin dekat. Kemudian
saya putuskan untuk menyusul kaum muslimin. Dengan
perasaan menyesal ia berkata: “Andai saja saya berbuat
demikian, namun takdir menentukan lain,”
Akhirnya, apabila saya keluar dan bergaul dengan masyarakat
sesudah berangkatnya Rasulullah SAW Hatiku resah dan saya
menganggap diri ini tidak lebih sebagai seorang munafiq, atau
lelaki yang diberi keringanan oleh Allah karena lemah (pada
saat itu, di Madinah yang tinggal hanyalah orang-orang yang
disebut munafiq dan orang-orang yang udzur karena amat
lemah, seperti orang yang tidak dapat berjalan, buta, sakit,
dan sebagainya). (Menurut keterangan teman-teman)
Rasulullah SAW tidak pernah menyebut-nyebut saya, hingga
sampai ke Tabuk. Sesampainya di Tabuk, barulah beliau
bertanya : “Apa sebenarnya yang dikerjakan oleh Ka`ab Bin
Malik?” Salah seorang dari Bani Salimah menjawab : “Ya
Rasulullah, dia terhalang oleh selendangnya dan sedang
memandang kedua pinggangnya (sedang bersenang-senang
memakai pakaiannya). “Tetapi Mu`adz bin Jabal
menghardiknya : “Betapa buruk perkataanmu, Demi Allah,
yang kami ketahui pada Ka`ab hanyalah kebaikan.”
Rasulullah SAW pun diam. Pada saat itulah melihat seorang
lelaki berpakaian putih sedang berjalan di kejauhan.
Rasulullah bersabda: “Mudah-mudahan itu adalah Abu
Khaitsamah.” Ternyata benar, orang itu adalah Abu
Khaitsamah Al-Anshariy. Dialah orang yang bersedekah
segantang kurma, ketika diolik-olok oleh orang munafiq.
Ka`ab meneruskan ceritanya: ”Tatkala saya mendengar,
bahwa Rasulullah berada dalam perjalanan pulang dari Tabuk,
maka kesusahan pun mulai menyelimuti saya. Saya mulai
mereka-reka, alasan apa yang bisa menyelamatkan saya dari
Rasulullah SAW Saya juga meminta bantuan keluargaku
mencari alasan dan jalan keluar yang sangat baik. Tetapi,
ketika mendengar bahwa Rasulullah SAW sudah dekat,
hilanglah segala macam kebohongan yang saya siapkan,
hingga saya yakin tidak ada alasan yang dapat
menyelamatkan dari Rasulullah SAW selamanya. Karena itu
saya mengatakan yang sebenarnya. Keesokan harinya,
Rasulullah SAW tiba. Biasanya, kalau beliau datang dari
bepergian, yang beliau tuju pertama kali adalah masjid.
Beliau mengerjakan shalat dua raka`at lalu duduk menunggu
kaum muslimin melaporkan sesuatu dan sebagainya.
Maka berdatanganlah orang-orang yang tidak ikut ke Tabuk,
menemui beliau. Mereka mengemukakan berbagai alasan
kepada Rasulullah SAW disertai dengan sumpah. Mereka yang
tidak ikut perang Tabuk ada delapan puluh orang lebih.
Rasulullah SAW Menerima mereka, beliau memperkenankan
memperbaharui bai`at dan memohonkan ampun bagi
mereka, sedangkan batin mereka, beliau serahkan kepada
Allah Ta`ala. Tibalah giliran saya menghadap. Ketika saya
mengucapkan salam beliau tersenyum sinis, kemudian
bersabda : “Kemarilah” Ka`ab berjalan mendekat dan duduk
di hadapan beliau. Lalu beliau mulai bertanya: “Apa yang
menyebabkan engkau tidak ikut berangkat? Bukankah engkau
telah membeli kendaraan?” Saya menjawab: “Ya, Rasulullah!
Demi Allah, andaikan saya duduk di hadapan orang selainmu,
saya yakin dapat bebas dari kemarahannya dengan
menggunakan berbagai alasan yang bisa diterima. Sungguh,
saya telah dikaruniai kepandaian berbicara. Namun, demi
Allah aku benar-benar yakin, seumpama hari ini saya berkata
bohong dan engkau menerimanya, pasti sebentar lagi Allah
Ta`ala menggerakan hatimu untuk marah kepada saya.
Sebaliknya, jika saya berkata benar yang membuatmu marah,
maka saya dapat mengharapkan penyelesaian yang baik dari
Allah. Demi Allah, aku tidak mempuyai udzur7.” Demi Allah,
diriku sama sekali tidak merasa kuat dan lebih mudah
daripada ketika aku tidak mengikutimu ke Perang Tabuk.
Sekarang ini, saya merasa cukup segalanya”
Rasulullah SAW, bersabda : Orang ini (Ka`ab bin Malik) telah
berkata benar. Berdirilah! Tunggulah keputusan Allah
terhadap dirimu. Akupun berdiri. Beberapa orang dari Bani
Salimah menghampiri saya. Mereka berkata kepada saya :
“Demi Allah, kami tidak pernah melihatmu melakukan dosa
sebelum ini. Engkau benar-benar tidak mampu
mengemukakan alasan kepada Rasulullah SAW seperti yang
dilakukan oleh orang-orang lain yang tidak ikut ke Tabuk.
Mestinya cukuplah bagimu, jika Rasulullah SAW memintakan
ampun untukmu.”
Ka`ab melanjutkan : “Demi Allah, orang-orang Bani Salimah
itu terus menerus menyalahkan diriku, sehingga ingin rasanya
saya kembali kepada Rasulullah SAW Untuk meralat
perkataanku. Tetapi kemudian aku bertanya kepada orangorang
Bani Salimah itu: “Adakah orang lain yang mengalami
seperti yang saya alami?” Mereka menjawab: “Ya, memang
ada. Ada dua orang yang mengatakan seperti apa yang
engkau katakan dan mereka mendapat jawaban sama seperti
jawaban yang engkau terima.” Saya bertanya :”Siapa
mereka?” Mereka menjawab:” Murarah bin Rabi`ah Al-Amiriy
dan Hilal bin Umayyah Al-Waqifiy.”
Dua orang lelaki shalih itu telah mengikuti perang Badar dan
dapat kuikuti karena akhlaknya. Sejak saat itu, Rasulullah
SAW melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga.
Sejak itu pula mereka telah mengubah sikap dan menjauhi
kami, sehingga bumi terasa asing bagiku, seolah-olah bumi
yang saya pijak ini bukanlah bumi yang sudah kukenal.
Keadaan seperti ini berlangsung selama lima puluh hari.
Dua orang temanku ( Murarah dan Hilal) menyembunyikan
diri dan diam di rumahnya masing-masing, sambil tiada hentihentinya
menangis mohon ampun kepada Allah karena tidak
ikut perang.
Di antara kami bertiga, akulah orang yang paling muda dan
paling kuat. Aku tetap keluar rumah untuk mengikuti salat
jama`ah bersama kaum muslimin, juga pergi ke pasar, tetapi
tak seorangpun mau diajak bicara. Saya pergi menghadap
Rasulullah SAW Untuk sekadar mengucapkan salam kepada
beliau di tempat duduk beliau sesudah salat. Tetapi hati ini
berkata: “Apakah Rasulullah SAW, akan menggerakan bibir
beliau untuk menjawab salam, ataukah tidak?” Kemudian
saya mengerjakan salat berdekatan dengan beliau, sesekali
aku melirik beliau. Apabila menghadap ke salat, beliau
memandangku, kalau menengok ke arah beliau, beliau
berpaling dari saya.
Hal ini terjadi berturut-turut sampai suatu hari saya berjalanjalan,
lalu melompati pagar pekarangan Abu Qatadah. Dia
adalah saudara sepupu dan orang yang paling kusayangi.
Kuucapkan salam kepadanya, demi Allah, bukankah engkau
tahu bahwa aku ini cinta kepada Allah dan Rasul-Nya?” Abu
Qatadah diam saja. Sehingga kuulangi pertanyaanku, dia
tetap diam, sesudah saya ulangi pertanyaan saya sekali lagi,
barulah dia menjawab:”Allah dan Rasul-Nya lebih tahu!”
Seketika itu mengalirlah air mata saya dan saya pun pulang.
Pada suatu hari, ketika saya sedang berjalan-jalan di kota
Madinah, tiba-tiba ada seorang petani beragama Kristen dari
Syam yang datang ke Madinah untuk menjual bahan
makanan. Petani itu bertanya (kepada orang-orang yang
berada di pasar) :” Siapakah yang dapat menunjukkanku
kepada Ka`ab bin Malik?” orang-orang memberikan isyarak
ke arahku. Petani itu mendatangiku dan menyerahkan
sepucuk surat kepadaku, dari Raja Ghassan. Setelah saya
baca ternyata isinya sebagai berikut: ”Amma ba`du. Sungguh
kami mendengar bahwa temanmu (Nabi Muhammad SAW)
mendiamkanmu, sedangkan Allah sendiri tidak menjadikanmu
untuk tinggal di tempat hina dan tersia-sia. Karena itu
datanglah ke negeri kami. Kami pasti menolongmu.”
Saat membaca surat itu aku berpikir: ”Ini juga merupakan
cobaan.” Kemudian saya bakar surat itu di dapur. Selang
empat puluh hari, tiba-tiba seorang utusan Rasulullah SAW
Datang kepadaku dan berkata : “Rasulullah SAW
memerintahkanmu untuk menjauhi isterimu.” Ka`ab
bertanya: “Apakah saya harus menceraikannya atau
bagaimana?”
Utusan itu menjawab :”Tidak, tetapi hindarilah dia, jangan
dekat-dekat padanya!”
Rasulullah SAW juga mengirimkan utusan kepada kedua
orang temanku (Murarah dan Hilal), yang maksudnya sama
dengan yang kuterima. Saya berkata kepada isteriku:
”Pulanglah kepada keluargamu. Sementara menetaplah
engkau di sana, sampai keputusan Allah datang.
Suatu saat isteri Hilal bin Umayyah menghadap kepada
Rasulullah SAW Memohon kepada beliau :”Ya Rasulullah!
Suamiku, Hilal bin Umayyah, adalah seorang tua
sebatangkara dan tidak mempunyai pelayan, Apakah engkau
keberatan bila aku melayaninya?” Rasulullah SAW menjawab:
”Tidak, tetapi yang saya maksud jangan sampai dia dekatdekat
padamu.” Isteri Hilal pun berkata: ”Demi Allah, Hilal
sudah tidak lagi mempunyai keinginan sedikitpun(gairah)
terhadapku. Dan demi Allah, tak henti-hentinya dia menangis
sejak engkau melarang kaum muslimin berbicara dengannya,
sampai hari ini.”
Sebagian keluarga berkata kepada saya : “Hai Ka`ab! Kalau
saja engkau meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk
isterimu tentu itu lebih baik, sebagaimana isteri Hilal bin
Umayyah untuk melayani suaminya.” Saya menjawab: ”Saya
tidak akan meminta izin kepada Rasulullah SAW Saya tidak
tahu apa yang akan dikatakan Rasulullah SAW Apabila saya
meminta izin beliau, sedangkan saya seorang yang masih
muda.”
Saya lalui kehidupan tanpa isteri itu selama sepuluh hari
(menunggu keputusan Allah). Genaplah sudah bagi kami, lima
puluh hari sejak ada larangan berbicara dengan kami.
Kemudian pada hari ke lima puluh, di bagian atas rumahku
pada saat aku sedang duduk ketika shalat shubuh, Allah
menyebut-nyebut tentang kami. Di saat itu pula hatiku sangat
resah, bumi yang sedemikian luas seakan sempit bagiku.
Kemudian aku mendengar suara orang yang berteriak-teriak
naik ke atas Sal`i. “Hai Ka`ab bin Malik, bergembiralah !”
Serta merta aku menjatuhkan diri bersujud syukur dan aku
tahu. Bahwa saya dapat penyelesaian.
Rasulullah SAW memberi tahu kepada kaum muslimin, bahwa
Allah Yang Mahaagung dan Maha Tinggi telah menerima
taubat kami bertiga. Kabar itu disampaikan seusai beliau
mengerjakan shalat Subuh. Maka kaum muslimin
berdatangan mengucapkan selamat dan ikut bergembira, juga
kepada kedua orang teman (Murarah dan Hilal). Mereka ada
yang datang berkuda, ada lagi penduduk Aslam yang berjalan
kaku dan ada pula yang naik gunung berteriak mengucapkan
selamat, sehingga suaranya lebih cepat dari larinya kuda.
Ketika saya mendengar ucapan selamat dari orang pertama
dan datang kepada saya, seketika itu juga saya melepaskan
pakaian dan saya kenakan kepadanya. Padahal demi Allah
waktu itu saya tidak memiliki pakaian.
Setelah itu, saya meminjam pakaian dan berangkat untuk
menghadap Rasulullah SAW Sementara kaum muslimin
menyambutku, mengucapkan selamat atas diterimanya
taubatku. Mereka berkata kepada saya : “Selamat atas
pengampunan Allah kepadamu.”
Demikianlah, sepanjang jalan kaum muslimin memberikan
selamat. Sesampainya di masjid, ternyata Rasulullah SAW
Sedang duduk dikelilingi oleh para sahabat. Melihat
kedatanganku, sahabat Thalhah bin Ubaidillah segera berdiri
menyongsongku. Menjabat tangan saya dan memberi
selamat. Demi Allah! Tak seorangpun di antara para sahabat
Muhajirin yang berdiri, kecuali dia. Karena itulah Ka`ab tak
bisa melupakan kebaikannya.
Ka`ab meneruskan ceritanya.:”Tatkala saya mengucapkan
salam kepada Rasulullah SAW Beliau menyambut saya
dengan wajah berseri-seri dan berkata:”Bergembiralah!
Karena, hari ini merupakan hari paling baik bagimu, sejak
kamu dilahirkan ibumu.”Aku bertanya: “Wahai Rasulullah
apakah darimu sendiri ataukah dari sisi Allah?” Beliau SAW
Menjawab :”Dari Allah yang Mahaagung dan Maha Tinggi.”
Jika merasa senang, wajah Rasulullah SAW, bersinar terang,
seolah-olah merupakan potongan rembulan. Melalui
wajahnya, kami mengetahui bahwa Rasulullah SAW sedang
senang hatinya.
Ketika saya duduk menghadap beliau, aku berkata:”Ya
Rasulullah, sungguh, termasuk taubat saya (sebagai
pernyataan rasa syukurku), aku hendak menyerahkan harta
bendaku sebagai sedekah untuk (mendapakan ridha) Allah
dan Rasul-Nya.” Rasulullah SAW, bersabda: ”Simpanlah
sebagian harta bendamu (Jangan engkau serahkan
seluruhnya). Itu lebih baik. ”Kemudian saya menjawab: ”Saya
masih mempunyai tanah yang menjadi bagian saya hasil dari
rampasan perang di Khaibar.” Lebih lanjut saya berkata:”Ya
Rasulullah, sesungguhnya, Allah telah menyelamatkanku
karena kejujuran. Dan saya nyatakan, bahwa termasuk
taubatku (sebagai pernyataan rasa syukur kepada Allah).
Saya tidak akan berbicara selain yang benar, selama hidup
saya.” Demi Allah, saya tidak pernah melihat seorangpun di
antara kaum muslimin yang diuji Allah Ta`ala untuk berkata
jujur, lebih baik dari saya semenjak berjanji kepada Rasululah
SAW Hingga kini, aku tidak pernah sengaja berbohong. Dan
saya berharap semoga Allah menjagaku dalam sisa hidupku.
Kemudian Allah menurunkan ayat surat At-taubah.:”
Sesungguhnya Allah telah benar-benar menerima taubat Nabi,
sahabat-sahabat Muhajirin dan Anshar yang mengikuti Nabi
(Berangkat ke Tabuk) dalam masa kesulitan (mencari
perlengkapan perang), sesudah hati segolongan dari para
sahabat tersebut hampir saja berpaling (saking berat dan
payahnya), kemudian Allah menerima taubat mereka,
Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
terhadap mereka. Dan juga terhadap tiga orang (Ka`ab, Hilal,
dan Murarah) yang ditangguhkan (keputusan penerimaan)
taubat mereka, sehingga manakala bumi telah menjadi
sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan merekapun
telah sempit pula dirasakan oleh mereka, serta mereka tahu
bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah melainkan
kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka,
agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah
Zat Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang. Hai orangorang
yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan
hendaklah kalian berkumpul dengan orang-orang yang
benar.” Menurut Ka`ab, demi Allah! Belum pernah Allah
memberikan nikmat, sesudah Dia memberi saya petunjuk
memeluk islam yang melebihi kejujuran saya kepada
Rasulullah SAW Sebab, andaikata saya berbohong kepada
beliau, pastilah bencana menimpa saya (rusak agamaku),
sebagaimana orang-orang munafiq yang berdusta kepada
beliau. Sungguh, Allah berfirman untuk orang-orang yang
mendustai Rasulullah SAW dan mengecam betapa jelek orang
tersebut.
Sebagaimana firman Allah dalam surat At-Taubah, ayat 95
dan 96:”Orang-orang munafik itu akan bersumpah dengan
nama Allah kepada kalian, apabila kalian kembali kepada
mereka (di Madinah), agar kalian berpaling dari mereka (tidak
mencela mereka). Maka berpalinglah kalian dari mereka,
karena sesungguhnya mereka itu najis (hatinya) dan tempat
mereka adalah Jahannam (di Akhirat), sebagai balasan atas
apa yang mereka perbuat. Mereka akan bersumpah kepada
kalian, supaya kalian ridha terhadap mereka. Tetapi, jika
sekiranya kalian ridha terhadap mereka, maka ketahuilah
sesungguhnya Allah ridha terhadap orang-orang yang fasik.”
Lebih lanjut Ka`ab berkata: ”Urusan kami bertiga ditunda dari
urusan orang-orang munafiq, ketika mereka bersumpah
kepada Rasulullah SAW lalu beliau menerima bai`at mereka
dan meminta ampun kepada Allah. Tetapi masalah kami
ditunda Rasulullah SAW Sampai Allah memutuskan menerima
taubat kami.
Sebagaimana firman Allah Ta`ala :”Dan terhadap tiga orang
yang ditangguhkan taubatnya.”
Firman Allah tersebut menurut Ka`ab, bukan berarti kami
bertiga ketinggalan dari perang Tabuk, tetapi mempunyai arti
bahwa persoalan kami bertiga diundur dari orang munafiq
yang bersumpah kepada Rasulullah SAW Dan menyampaikan
bermacam-macam alasan yang kemudian diterima oleh
Rasulullah SAW”
( H.R Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain : “ Nabi SAW Pada waktu perang Tabuk keluar
pada hari kamis; dan memang sudah menjadi kesukaan beliau
untuk bepergian pada hari kamis”
Dalam salah satu riwayat disebutkan :”Biasanya beliau kalau datang
dari bepergian pada waktu pagi, dan bila datang biasanya langsung
ke masjid dan salat dua rakaat kemudian duduk di dalamnya.”
10. Dari Abu Nujaki Imran bin Al-Husain Al-Khuza`iy ra., ia
berkata :”Ada seorang wanita dari Juhainah datang kepada
Rasulullah SAW, sedangkan ia sedang hamil karena berzina
dan berkata:”Ya Rasulullah, saya telah melakukan kesalahan,
dan saya harus di had(hukum), maka laksanakanlah had itu
pada diri saya. ”Kemudian Nabi SAW memanggil walinya9
seraya bersabda: “perlakukanlah baik-baik wanita ini, apabila
sudah melahirkan, bawalah kemari.”Maka dilaksanakan
perintah itu oleh walinya. Kemudian setelah wanita itu
melahirkan, dibawalah ke hadapan Rasulullah SAW Dan
memerintahkan untuk wanita, maka diikatkanlah pakaiannya
untuk dirajam.
Setelah ia mati, maka Rasulullah SAW menyalatkannya.
Namun Umar berkata kepada beliau: ”Ya Rasulullah, mengapa
engkau menyalatkan wanita itu, padahal ia telah berzina.”
Beliau menjawab : “Wanita itu benar-benar bertaubat, dan
seandainya taubatnya dibagi pada tujuh puluh penduduk
Madinah, niscaya masih cukup. Pernahkah kamu
mendapatkan orang yang lebih utama daripada seseorang
yang telah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Tang
Maha Mulia lagi Maha Agung?” ( H.R Muslim)
9 Orang yang bertanggung jawab terhadap dia, di antaranya
orang tua, saudara laki-laki, pamannya atau kerabat dekat yang
lain.
11. Dari Ibnu Abbas dan Anas bin Malik ra., Rasulullah SAW
bersabda : ”Seandainya seorang mempunyai satu lembah dari
emas, niscaya ia ingin mempunyai dua lembah, dan tidak
akan merasa puas kecuali tanah sudah memenuhi mulutnya10.
Dan Allah senantiasa menerima taubat orang yang
bertaubat.” ( H.R Bukhari dan Muslim)
10 Tidak akan puas untuk mengumpulkan harta , sebelum ia
meninggal dunia.
12. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW Bersabda: ”Allah
gembira manakala ada dua orang yang saling membunuh dan
keduanya masuk surga. Pertama, seseorang yang mati
berjuang di jalan Allah. Yang kedua, orang yang membunuh
itu bertaubat kepada Allah, kemudian masuk Islam dan
terbunuh di Jalan Allah (mati syahid)”.
(H.R Bukhari dan Muslim)’
SABAR
1. Dari Abu malik al-Harits bin Ashim Al-Asy`ariy ra., ia berkata
: Rasulullah SAW bersabda: ”Suci adalah sebagian dari iman,
membaca Alhamdulillah dapat memenuhi timbangan,
Subhanallah dan Alhamdulillah itu dapat memenuhi semua
yang ada di antara langit dan bumi, salat itu adalah cahaya,
sedekah itu adalah bukti iman, sabar itu adalah pelita dan Al
Quran untuk berhujjah (berargumentasi) terhadap yang tidak
kamu sukai. Semua orang pada waktu pagi menjual dirinya,
kemudian ada yang membebaskan dirinya dan ada pula yang
membinasakan dirinya.” (H.R Muslim)
2. Dari Abu Sa`id bin Malik bin Sinan Al-Khudriy ra. Berkata:
“Ada beberapa sahabat Anshar meminta sesuatu kepada
Rasulullah SAW, maka beliau memberinya, kemudian mereka
meminta lagi dan beliau pun memberinya sehingga habislah
apa yang ada pada beliau. Ketika beliau memberikan semua
yang ada di tangannya, beliau bersabda kepada mereka :
”Semua kebaikan yang ada padaku tidak akan aku
sembunyikan pada kalian. Siapa saja yang menjaga
kehormatan dirinya, maka Allah pun akan menjaganya dan
siapa saja yang menyabarkan dirinya, maka Allah pun akan
memberikan kesabaran. Dan seseorang tidak akan
mendapatkan anugerah yang lebih baik atau lebih lapang
melebihi kesabaran.” (H.R Bukhari dan Muslim)
3. Dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan ra. Ia berkata: Rasulullah
SAW bersabda : ”Sangat menakjubkan bagi orang mukmin,
apabila segala urusannya sangat baik baginya, dan itu tidak
akan terjadi bagi seorang yang beriman, kecuali apabila
mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka yang demikian
itu sangat baik, dan apabila ia tertimpa kesusahan ia
bersabar, maka yang demikian itu sangat baik baginya.” (H.R
Muslim)
4. Dari Anas ra ., ia berkata : Ketika Nabi SAW menderita sakit
keras, Fathimah ra., mengeluh : “ Aduh ayah sakit keras.”
Kemudian beliau bersabda : “ Ayahmu tidak akan menderita
sakit lagi setelah hari ini.” Ketika beliau wafat, Fathimah ra.
berkata : “ Wahai ayahku, engkau telah memenuhi panggilan
Tuhan. Wahai ayahku, surga Firdauslah tempat kembalimu.
Wahai ayahku, kepada Jibril kami memberitakan wafatmu.”
Ketika beliau telah dikubur, Fathimah ra. berkata : “Apakah
kalian menyukai untuk menaburkan tanah di atas makam
Rasulullah SAW ?” (HR. Bukhari)
5. Dari Abu Zaid Usamah bin Zaid bin Haritsah, (dia adalah
pelayan,kekasih dan anak kekasih Rasulullah SAW ) ia
berkata : “ Salah seorang putri Nabi SAW mengutus
seseorang untuk memberitahu kepada beliau bahwa anaknya
sedang sakaratul maut, maka kami diminta untuk datang,
kemudian beliau hanya mengirimkan salam, seraya bersabda
: “Sungguh menjadi hak Allah untuk mengambil dan memberi
dan segala sesuatunya telah ditentukan di sisi Allah, maka
hendaklah kamu sabar dan mohonlah pahala kepada Allah .”
Kemudian orang itu disuruhnya kembali, menghadap Nabi
SAW, seraya meminta yang disertai dengan sumpah agar
beliau berkenan hadir. Maka pergilah beliau beserta Sa’ad bin
Ubadah, Mu’adz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit dan
beberapa sahabat yang lain. Maka diberikan anak yang sakit
itu kepada Rasulullah SAW dan didudukkan di pangkuan
beliau, sedangkan nafasnya tersengal-sengal, maka
meneteslah air mata beliau, kemudian Sa’ad bertanya :
“Wahai Rasulullah, mengapa engkau meneteskan air mata ?”
Beliau menjawab : “Tetesan air mata adalah rahmat yang
dikaruniakan Allah Ta’ala ke dalam hati hamba-hamba-Nya.”
Dalam riwayat lain disebutkan : “Ke dalam hati hamba-hamba yang
dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah menyayangi hamba-hamba-
Nya yang mempunyai rasa sayang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
6. Dari Shuhaib ra., Rasulullah SAW bersabda : “Pada zaman
dahulu ada seorang raja yang mempunyai seorang tukang
sihir. Ketika tukang sihir itu sudah lanjut usia, ia berkata
kepada rajanya : “Sesungguhnya saya sekarang sudah lanjut
usia. Oleh karena itu, perkenankanlah saya meminta kepada
tuan untuk mengirimkan seorang pemuda dan saya akan
mengajarinya ilmu sihir.” Raja itupun mengirimkan seorang
pemuda untuk belajar ilmu sihir. Akan tetapi di tengah
perjalanan ke tempat tukang sihir, ia bertemu dengan
seorang pendeta,1 kemudian pemuda itu berhenti untuk
mendengarkan apa yang disampaikan oleh pendeta itu, oleh
karena itu, ia terlambat datang ke tempat tukang sihir. Ketika
pemuda itu sampai ke tempat tukang sihir, maka pemuda itu
dipukul. Kemudian ia mengadukan kepada pendeta, dan si
pendeta itu berkata : “Apabila kamu takut terhadap tukang
sihir itu, maka katakanlah bahwa keluargamu menahanmu,
dan apabila kamu takut terhadap keluargamu maka
katakanlah bahwa tukang sihir itu menahanmu.” Suatu hari
ketika dalam perjalanan, dijumpai di tengah jalan seekor
binatang yang sangat besar, sehingga orang-orang tidak
berani meneruskan perjalanan. Pada saat itulah si pemuda
berkata : “Nah, hari ini aku akan mengetahui tukang sihirkah
yang lebih utama ataukah pendeta ?”
Pemuda itu mengambil batu seraya berkata : “Ya Allah,
apabila ajaran pendeta itu lebih Engkau sukai maka
matikanlah binatang yang sangat besar itu agar orangpun
dapat meneruskan perjalanannya.” Kemudian ia lemparkan
batu itu, dan matilah binatang itu, sehingga orang-orangpun
dapat melanjutkan perjalanannya. Ia lalu mendatangi pendeta
itu dan menceritakan apa yang baru saja terjadi. Pendeta itu
berkata : “Wahai anakku, kamu sekarang lebih utama dari
saya karena kamu telah menguasai segala yang aku ketahui,
dan ketahuilah, kamu nanti akan mendapat ujian ; tetapi
ingatlah, apabila kamu diuji, janganlah kamu menyebutnyebut
namaku.” Setelah itu pemuda tadi dapat
menyembuhkan orang buta, penyakit belang, dan berbagai
jenis penyakit lain.
Tersebarlah berita, bahwa kawan raja sakit mata hingga buta
dan sudah diusahakan ke mana-mana tetapi belum juga
sembuh. Kemudian datanglah ia kepada pemuda itu dengan
membawa beraneka macam hadiah dan berkata : “
Seandainya kamu dapat menyembuhkan saya, akan saya
penuhi semua permintaanmu.” Pemuda itu menjawab :
“Sesungguhnya saya tidak bisa menyembuhkan seseorang,
tetapi yang menyembuhkan adalah Allah Ta’ala. Apabila
engkau beriman kepada Allah Ta’ala niscaya saya akan
berdo’a kepada-Nya agar menyembuhkan penyakitmu.” Maka
berimanlah orang itu kepada Allah Ta’ala dan sembuhlah
penyakitnya.
Orang itu datang ke tempat sang raja dan duduk bersama
sebagaimana biasanya, kemudian sang raja bertanya
kepadanya : “Siapakah yang menyembuhkan matamu itu ?”
Ia menjawab : “Tuhanku.” Sang raja berkata : “Apakah kamu
mempunyai Tuhan selain aku ?” Ia menjawab : “Tuhanku dan
Tuhanmu adalah Allah.” Maka raja itu langsung menyiksanya
sehingga orang itu menunjuk kepada pemuda tadi. Maka
dipanggillah pemuda itu dan berkatalah sang raja kepadanya
: “Hai anakku, sihirmu sangat ampuh sehingga dapat
menyembuhkan orang buta, penyakit belang dan kamu bisa
berbuat ini dan itu.” Pemuda itu menjawab : “Sesungguhnnya
yang bisa menyembuhkan hanya Allah Ta’ala.” Maka
disiksalah pemuda itu sehingga ia menunjuk kepada sang
pendeta, maka dipangillah pendeta itu. Raja itupun berkata
kepadanya : ”Kembalilah kamu kepada agamamu semula.”
Tetapi pendeta itu tidak mau, kemudian raja itu menyuruh
untuk menggergajinya dari atas kepala, sehingga badannya
terbelah dua. Kemudian dipanggilah kawan raja itu dan
dikatakan kepadanya : “Kembalilah pada agamamu semula.”
Tetapi orang itu tidak mau, ia pun digergaji dari atas kepala
sampai badannya terbelah dua. Kemudian dipanggillah
pemuda itu. Raja itu kemudian berkata : “Kembalilah pada
agamamu semula.” Tetapi pemuda itu menolak, kemudian ia
diserahkan kepada pasukan dan memerintahkan untuk
membawanya ke suatu gunung. Ketika sampai di puncak
gunung, paksalah supaya kembali kepada agamanya semula.
Bila tidak, lemparkan ia dari atas gunung biar mati. Pasukan
itu pun membawa pemuda tadi ke puncak gunung, dan di
sana pemuda itu berdo’a : “Ya Allah, hindarkan saya dari
kejahatan mereka sesuai dengan apa yang Engkau
kehendaki.” Kemudian bergoncanglah gunung itu sehingga
pasukan tadi bergulingan dari atas gunung. Pemuda itu
mendatanginya, dan sang raja bertanya keheranan : “Apa
yang diperbuat oleh pasukan itu ?” Pemuda itu menjawab :
“Allah Ta’ala telah menghindarkan saya dari kejahatan
mereka.” Pemuda itu ditangkapnya dan diserahkan kembali
kepada sekelompok pasukan yang lain, untuk membawa
pemuda itu naik kapal, untuk menenggelamkan di tengah
lautan. Pasukan itu membawanya naik kapal, kemudian
pemuda itu berdo’a : “Ya Allah, hindarkanlah saya dari
kejahatan mereka sesuai dengan yang Engkau kehendaki.”
Kemudian kapal itu terbalik dan tenggelamlah mereka.
Pemuda itupun kembali kepada sang raja, dan sang raja
bertanya lagi keheranan : “Apakah yang diperbuat oleh
pasukan itu ?” Pemuda itu menjawab : “Allah Ta’ala telah
menghindarkan aku dari kejahatan mereka.” Kemudian
pemuda itu berkata kepada sang raja : “Sesungguhnya
engkau tidak akan bisa mematikan saya sebelum engkau
memenuhi permintaanku.” Raja bertanya : “Apakah yang
engkau inginkan ?” Pemuda itu menjawab : “Engkau harus
mengumpulkan orang banyak dalam satu lapangan dan
saliblah saya di atas sebuah tiang, kemudian ambillah anak
panahku dari tempatnya serta letakkanlah pada busurnya,
kemudian bacalah : “Dengan menyebut nama Allah, Tuhan
pemuda ini,” kemudian lepaskanlah anak panah itu ke arahku.
Apabila engkau berbuat seperti itu, maka engkau akan
berhasil membunuhku. “ Mendengar yang demikian, raja itu
mengumpulkan orang banyak di salah satu lapangan dan
menyalib pemuda itu di atas tiang kemudian ia mengambil
anak panah dari tempatnya dan diletakkan pada busurnya
kemudian ia membaca : “Dengan menyebut nama Allah,
Tuhan pemuda ini,” dan dilepaskanlah anak panah itu ke arah
pelipisnya, kemudian pemuda itu meletakkan tangannya pada
pelipis yang terluka, lalu ia pun mati. Pada saat itu juga
serentak orang-orang berkata : “Kami beriman dengan
Tuhannya pemuda itu .” Ada seorang yang menyampaikan
berita itu kepada sang raja seraya berkata : “Tahukah
engkau, apa yang engkau khawatirkan sekarang telah
menjadi kenyataan. Demi Allah, kekhawatiranmu tidak ada
gunanya sama sekali karena orang-orang sudah beriman .”
Kemudian raja itu memerintahkan membuat parit yang besar
pada setiap persimpangan jalan, di dalamnya dinyalakan api,
kemudian memerintahkan kepada siapa saja yang tidak mau
kembali pada agama semula, maka akan dilemparkan ke
dalam parit. Perintah itu dilaksanakan. Ada seorang wanita
yang berpegang teguh pada agama yang hak, namun ia
membawa bayinya dan merasa sangat kasihan kepada
anaknya kalau ia beserta anaknya masuk ke dalam parit,
akan tetapi bayi itu berkata : “Wahai ibu, sabarlah, karena
engkau berada dalam kebenaran .”
(HR. Muslim)
1 Pada masa itu, yang dimaksud dengan kata ar-rahib atau
pendeta, adalah pendeta yang masih kuat memegang ajaran
Tauhid dan menyembah Allah SWT.
7. Dari Anas ra., ia berkata : “Sewaktu Nabi SAW menjumpai
seorang wanita sedang menangis di atas kubur, maka beliau
bersabda : “Bertakwalah kepada Allah dan sabarlah !” Wanita
itu berkata : “Pergilah dairi sini karena sesungguhnya engkau
tidak tertimpa musibah sebagaimana yang aku alami !”
Wanita itu tidak tahu bahwa yang berkata adalah Nabi.
Kemudian ada seseorang yang memberitahukan kalau itu
adalah Nabi SAW Maka wanita itu segera datang ke rumah
Beliau SAW dan ia tidak menjumpai para penjaga pintu,
sehingga dengan mudah ia memasukinya kemudian ia berkata
: “Saya tidak tahu kalau yang berkata tadi adalah engkau.”
Maka beliau bersabda : “Sesungguhnya sabar itu hanyalah
pada hari pertama dari musibah itu.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Dalam riwayat Muslim disebutkan : “Wanita itu menangisi
anaknya yang baru meninggal.”
8. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW bersabda : “Allah
Ta’ala berfirman : “Tidak ada balasan kecuali surga bagi
hamba-Ku yang mukmin, yang telah Aku ambil kembali
kekasihnya dari ahli dunia, dan ia hanya mengharapkan
pahala dari-Ku.” (HR. Bukhari)
9. Dari Aisyah ra., ia bertanya kepada Rasulullah SAW tentang
wabah penyakit yang tersebar di seluruh negeri, kemudian
beliau memberitahu, bahwa wabah itu merupakan siksaan
yang ditimpakan oleh Allah Ta’ala kepada siapa saja yang
dikehendaki-Nya, akan tetapi Allah Ta’ala menjadikannya
sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman, maka
seseorang yang tetap tinggal pada suatu daerah yang
kejangkitan wabah dan ia sabar serta hanya memohon
kepada Allah kemudian sadar bahwa ia tidak akan tertimpa
wabah kecuali Allah akan menakdirkannya, maka ia mendapat
pahala seperti pahalanya orang yang mati syahid.”
(HR.Bukhari)
10. Dari Anas ra., ia berkata : “Saya mendengar Rasulullah
SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman :
“Apabila Aku menguji salah seorang hamba-Ku dengan
kubutaan pada kedua matanya kemudian ia sabar, maka Aku
akan menggantikannya dengan surga .” (HR. Bukhari)
11. Dari Atha’ bin Abu Ribah, ia berkata : “Ibnu Abbas ra.
berkata kepadaku : “Maukah saya tunjukkan seorang wanita
yang termasuk ahli surga ?” Saya menjawab tentu saja saya
mau. “ Ia berkata : “Adalah wanita berkulit hitam yang
pernah datang kepada Nabi SAW, waktu itu berkata :
“Sesungguhnya saya mempunyai penyakit ayan, dan aurat
saya terbuka karenanya; oleh karena itu mohonkanlah
kepada Allah agar penyakit saya sembuh.” Beliau kemudian
bersabda : “Apabila kamu mau sabar maka kamu akan masuk
surga, dan apabila kamu tetap meminta maka saya pun akan
berdoa kepada Allah agar engkau sembuh dari penyakitmu.”
Wanita itu menjawab : “Kalau begitu saya akan bersabar.”
Kemudian wanita itu berkata lagi : “Sesungguhnya aurat saya
terbuka karenanya, oleh karena itu, mohonkanlah kepada
Allah agar aurat saya tidak terbuka.”Maka Nabi pun berdoa
untuknya agar auratnya tidak terbuka.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
12. Dari Abi Abdurrahman bin Abdillah bin Mas’ud ra., ia
berkata : “Seakan-akan saya masih melihat Rasulullah SAW,
sewaktu menceritakan salah seorang dari para Nabi ketika
dipukuli kaumnya sehingga berlumuran darah, dan ia
mengusap darah dari mukanya sambil berdoa : “Ya Allah,
ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak
mengetahui.” (HR. Bukhari dan Muslim)
13. Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, ia
berkata : “Seorang muslim yang tertimpa kecelakaan,
kemelaratan, kegundahan, kesedihan, kesakitan, maupun
kedukacitaan, sampai yang tertusuk duripun niscaya Allah
akan mengampuni dosanya sesuai apa yang menimpanya .”
(HR. Bukhari dan Muslim)
14. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata : “Saya masuk ke
tempat Nabi SAW, waktu itu beliau sedang sakit panas.
Kemudian saya berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya
engkau benar-benar menderita sakit yang sangat panas. “
Beliau memberitahukan : “Benar, sakit panas yang saya
derita ini dua kali lipat lebih panas dari yang biasa diderita
kalian.” Saya bertanya : “Kalau begitu engkau mendapat
pahala dua kali lipat?” Beliau menjawab : “Benar, memang
demikianlah keadaannya.” “Seorang muslim yang tertimpa
suatu kesakitan, baik itu tertusuk duri maupun lebih dari itu,
niscaya Allah mengampuni kesalahan-kesalahannya dan
menghapus dosa-dosanya sebagaimana daun-daun yang
berguguran dari pohon.” (HR. Bukhari dan Muslim)
15. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW
bersabda : “Siapa saja yang dikehendaki Allah menjadi orang
baik, maka diberikan cobaan kepadanya.” (HR. Bukhari)
16. Dari Anas ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda :
“Janganlah salah seorang di antara kamu sekalian
menginginkan mati karena tertimpa kesulitan. Seandainya
terpaksa harus berbuat demikian, maka ucapkanlah : “Ya
Allah, biarkanlah saya hidup apabila hidup lebih baik bagiku,
dan matikanlah saya apabila mati itu lebih baik bagiku.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
17. Dari Abu Abdillah Khabbab bin Arati , ia berkata : “Kami
mengadu kepada Rasulullah SAW Saat ini beliau sedang
berbantalkan sorbannya di bawah lindungan Ka’bah. Kami
bertanya : “Apakah engkau tidak memintakan pertolongan
buat kami ? Apakah engkau tidak mendoakan kami ?“ Beliau
menjawab : “Orang-orang sebelum kalian, ada yang ditanam
hidup-hidup, digergaji dari atas kepalanya sehingga tubuhnya
terbelah dua dan ada pula seseorang yang disisir dengan sisir
besi sehingga mengenai daging kepalanya, yang demikian itu
tidak menggoyahkan agama mereka. Demi Allah, Allah pasti
akan mengembangkan agama Islam ini hingga merata di
Shan’a sampai ke Hadramaut dan masing-masing dari mereka
tidak takut melainkan hanya kepada Allah, melebihi takutnya
kambing terhadap serigala. Tetapi kalian sangat tergesa-gesa
.” (HR. Bukhari)
Dalam suatu riwayat disebutkan : “Beliau sedang berbantalkan
sorbannya sedangkan kami baru saja bertemu dengan orangorang
musyrik yang menyiksa kami dengan siksaan yang sangat
berat .”
18. Dari Ibnu Mas’ud ra., dia berkata : “Setelah perang
Hunain Rasulullah SAW mendahulukan orang-orang yang
terkemuka didalam membagi rampasan perang. Beliau
memberikan masing-masing seratus onta kepada Al-Aqra’ bin
Habis dan kepada ‘Uyainah bin Hishn. Dalam pembagian
rampasan perang pada beberapa hari itu, yang didahulukan
oleh beliau beberapa pemuka Arab. Ada seorang laki-laki yang
berkata : “Demi Allah sesungguhnya pembagian rampasan
perang ini tidak adil dan nampaknya semata-mata bukan
karena Allah.” Maka saya berkata : “Demi Allah, saya benarbenar
akan menyampaikan hal ini kepada Rasulullah SAW”
Kemudian saya datang kepada beliau dan menceritakan apa
yang dikatakan oleh laki-laki tadi. Tiba-tiba berubahlah wajah
beliau bagaikan kesumba merah, kemudian bersabda :
“Siapakah yang adil bila Allah dan Rasul-Nya dianggap tidak
adil ?” Beliau bersabda lagi : “Semoga Allah senantiasa
melimpahkan rahmat kepada Nabi Musa karena beliau telah
disakiti hatinya melebihi diriku, tetapi beliau tetap sabar.“
Saya berkata : “Tidak apa-apa, saya tidak menyampaikan
berita semacam itu lagi kepada beliau sesudah peristiwa itu .”
(HR. Bukhari dan Muslim)
19. Dari Anas ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda :
“Apabila Allah menghendaki hamba-Nya menjadi orang yang
baik, maka ia menyegerakan siksaannya di dunia, dan apabila
Allah menghendaki hamba-Nya menjadi orang jahat, maka ia
menangguhkan balasan dosanya sehingga Allah akan
menuntutnya pada hari kiamat .” (Perawi tidak tercantum)
20. Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya besarnya pahala
itu tergantung besarnya ujian. Apabila Allah Ta’ala mencinta
suatu bangsa, maka Allah akan menguji mereka. Sehingga
siapa saja yang ridha, maka Allah akan meridhainya dan siapa
saja yang murka, maka Allah akan memurkainya .” (HR.
Tirmidzi)
21. Dari Anas ra., ia berkata : “Abu Thalhah mempunyai
anak yang sedang sakit. Sewaktu Abu Thalhah pergi, anaknya
meninggal dunia. Ketika Abu Thalhah pulang, ia bertanya :
“Bagaimana kondisi anak kita ?” Ummu Sulaim, ia menjawab
: “Anak kita lebih tenang.” Kemudian isterinya
menghidangkan makanan lalu Abu Thalhah pun makan.
Selesai makan, isterinya berkata : “Kuburkanlah anak itu !”
Kemudian pada pagi harinya, Abu Thalhah datang kepada
Rasulullah SAW dan menceritakan hal itu. Beliau bertanya :
“Apakah tadi malam kamu bersetubuh dengan dengan
isterimu ?” Abu Thalhah menjawab : “Ya.” Kemudian
Rasulullah SAW mendoakan keduanya : “Ya Allah mudahmudahan
Engkau memberkahi keduanya.” Selang beberapa
bulan, isterinya melahirkan bayi laki-laki. Kemudian Abu
Thalhah menyuruh saya ( Anas ) untuk membawa bayi itu
kepada Nabi SAW dengan menyertakan beberapa kurma.
Setelah sampai di hadapan Nabi, beliau bertanya : “Adakah
sesuatu yang disertakan bersama bayi ini ?“ Ia menjawab :
“Ya, beberapa buah kurma.” Beliau mengambil kurma-kurma
itu, dan dikunyah sampai halus, kemudian diambil kembali
dari mulut beliau lalu dimasukkannya ke dalam mulut bayi itu.
Ia diberi nama Abdullah . (HR. Bukhari dan Muslim )
Di dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari, disebutkan, Ibnu
Uyainah berkata : “Ada seorang sahabat Anshar yang berkata :
“Saya melihat ada sembilan anak yang kesemuanya telah pandai
membaca Al-Quran.” Salah seorang di antaranya adalah Abdullah.”
Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim, disebutkan : “Sewaktu
anak Abu Thalhah dari Ummu Sulaim meninggal dunia, Ummu
Sulaim berkata kepada segenap keluarganya : “Janganlah kalian
menceritakan peristiwa anakku kepada Abu Thalhah sebelum saya
sendiri menceritakannya.” Setelah Abu Thalhah datang, isterinya
segera menghidangkan makan, maka makan dan minumlah Abu
Thalha, setelah itu isterinya mengajak bercanda sehingga
bersetubuh dan memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya.
Setelah isterinya tahu bahwa suaminya telah kenyang dan puas,
maka berkatalah Ummu Sulaim : “Wahai Abu Thalhah, bagaimana
pendapatmu seandainya ada sekelompok orang yang meminjamkan
sesuatu kepada salah satu keluarga kemudian orang itu meminta
kembali pinjamannya, apakah pantas keluarga itu menolaknya ?”
Abu Thalhah menjawab : “Tidak pantas.” Isterinya berkata :
“Relakan putramu.” Abu Thalhah marah-marah seraya berkata :
“Kenapa kamu diam saja sejak tadi sehingga saya bersetubuh
denganmu, barulah kamu memberitahu tentang anak kita.”
Kemudian Abu Thalhah pergi dan datang kepada Rasulullah SAW
serta menceritakan apa yang terjadi. Kemudian Rasulullah SAW
bersabda : “Semoga Allah memberkahi apa yang telah kalian
lakukan tadi malam .”
Selang beberapa bulan hamillah isterinya. Setelah itu Rasulullah
SAW bepergian bersama-sama Abu Thalhah dan isterinya. Ketika
kembali dan akan masuk kota Madinah, Ummu Sulaim tidak bisa
melanjutkan perjalanan. Abu Thalhah berdoa : “Ya Allah,
sesungguhnya saya sangat senang kalau keluar masuk kota
bersama dengan Rasulullah SAW tetapi sewaktu saya akan masuk
kota, ditahan di sini sebagaimana Engkau ketahui.” Kemudian
Ummu Sulaim berkata : “Wahai Abu Thalhah, rasa sakit perutku kini
hilang, maka mari kita berjalan terus.” Dan mulai terasa kembali
perutnya ketika telah masuk kota Madinah. Di sanalah kemudian
Ummu Sulaim melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia berkata :
“Janganlah ada seorang pun yang menetekinya sebelum engkau
bawa kepada Rasulullah SAW” Maka pada pagi harinya saya
membawa bayi itu ke hadapan Rasulullah SAW kemudian Rasulullah
menyuapkan makanan yang telah dikunyah dan bayi itu diberi
nama “Abdullah”.
22. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW bersabda : “Yang
dikatakan orang kuat bukanlah orang yang menang bergulat.
Tetapi, yang dikatakan orang kuat adalah orang yang dapat
mengendalikan dirinya ketika sedang marah.” (HR. Bukhari
dan Muslim)
23. Dari Sulaiman bin Shurad ra., ia berkata : “Saya duduk
bersama Nabi SAW, tiba-tiba ada dua orang yang saling
memaki, salah seorang di antara mereka merah mukanya dan
pertikaian hampir terjadi, kemudian Rasulullah SAW bersabda
: “Sesungguhnya saya mengetahui sebuah kalimat, apabila
kalimat itu dibaca niscaya hilanglah apa yang sedang terjadi ;
yaitu apabila ia membaca : “A’UUDZU BILLAAHI
MINASYSYAITHAANIRRAJIIM “ ( saya berlindung kepada Allah
dari godaan syaitan yang terkutuk ), niscaya hilanglah apa
yang sedang terjadi.” Maka para sahabat mengatakan kepada
orang yang sedang bertengkar itu : “Sesungguhnya Nabi SAW
menyuruh kalian supaya berlindung kepada Allah dari syaitan
yang terkutuk .” (HR. Bukhari dan Muslim)
24. Dari Mu’adz bin Anas ra., Nabi SAW bersabda : “Siapa
saja yang menahan marah padahal sebenarnya ia bisa untuk
melampiaskannya, maka pada hari kiamat Allah SWT. akan
memanggilnya di hadapan para makhluk, kemudian ia disuruh
untuk memilih bidadari yang cantik jelita sesuai dengan yang
diinginkannya .” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
25. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Ada seseorang
berkata kepada Nabi SAW : “Nasihatilah aku!” Beliau
bersabda : “Janganlah kamu marah ! “ Orang itu berkali-kali
minta nasihat kepada Nabi, tetapi Nabi SAW, tetap
menjawabnya : “Janganlah kamu marah !” (HR. Bukhari)
26. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW,
bersabda : “Orang mukmin, baik laki-laki maupun
perempuan, senantiasa mendapatkan cobaan, baik dirinya,
anaknya, maupun hartanya sehingga ia menghadap Allah
Ta’ala tanpa membawa dosa. “ (HR. At-Tirmidzi)
27. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata : “Ketika Uyainah bin
Hishn datang, ia menginap di tempat kemenakannya Al Hurr
bin Qais, ia termasuk orang yang dekat dengan Umar ra. dan
Umar memang mengangkat orang-orang yang pandai di
dalam Al-Qur’an sebagai kawan duduk dan kawan
bermusyawarah, baik tua maupun muda. Uyainah berkata
kepada kemenakannya : “Wahai kemenakanku kamu adalah
orang yang dekat dengan Amirul Mukminin, maka mintakan
izin agar saya dapat menghadap kepadanya !” Kemudian
kemenakannya memintakan izin, Umar pun mengizinkan.
Ketika Uyainah masuk ia berkata : “Wahai putra Al-
Khaththab, demi Allah engkau tidak berbuat banyak terhadap
kami dan engkau tidak adil di dalam mengadili kami.” Maka
marahlah Umar dan hampir saja ia dipukulnya. Kemudian Al-
Hurr berkata kepada Umar : “Wahai Amirul Mukminin,
sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman kepada Nabi-Nya
SAW : “Berikanlah maaf, suruhlah untuk berbuat baik dan
janganlah kamu hiraukan orang-orang yang bodoh .” Dan
sebenarnya orang ini adalah termasuk orang yang bodoh.
Demi Allah, ketika ayat ini dibaca, Umar seakan-akan belum
pernah mendengarnya, padahal Umar adalah orang yang
sangat teliti terhadap kitab Allah Ta’ala. “ (HR. Bukhari)
28. Dari Ibnu Mas’ud ra., Rasulullah SAW bersabda :
“Sepeninggalanku akan ada orang yang hanya mementingkan
dirinya sendiri dan ada pula hal-hal yang diingkarinya.” Para
sahabat bertanya : “Wahai …Rasulullah, apa yang harus kami
lakukan ?” Beliau menjawab : “Kamu harus menyampaikan
kebenaran yang kamu ketahui dan memohonlah kepada Allah
agar mendapatkan hakmu .” (HR. Bukhari dan Muslim)
29. Dari Abu Yahya Usaid bin Hudhair ra., ia berkata : “Ada
seorang sahabat Anshar bertanya : “Wahai Rasulullah,
mengapa engkau tidak memperkerjakanku sebagaimana
engkau telah memperkerjakan si Fulan ?” Beliau menjawab :
“Sesungguhnya sepeninggalku nanti kamu akan mendapatkan
orang yang suka mementingkan diri sendiri maka bersabarlah
kamu sampai bertemu denganku di dekat Telaga Kautsar .”
(HR. Bukhari dan Muslim)
30. Dari Abu Ibrahim Abdullah bin Abi Aufa ra., dikatakan
kali tertentu : Rasulullah SAW menanti kedatangan musuh
sehingga matahari tergelincir, maka bangkitlah beliau di
tengah-tengah para sahabat seraya bersabda : “Wahai
manusia, janganlah kalian berharap bertemu dengan musuh
dan mintalah selalu pengampunan-Nya, serta sabarlah.
Ketahuilah, bahwa surga itu di bawah naungan pedang.”1
Kemudian Nabi SAW berdoa : “Wahai Allah yang menurunkan
Kitab, yang menjalankan awan, dan yang mengalahkan
musuh, kalahkanlah mereka dan tolonglah kami untuk
mengalahkan mereka .” (HR. Bukhari dan Muslim)
1 Maksudnya dengan jalan jihad fi sabilillah
JUJUR
1. Dari Ibnu Mas’ud ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda :
“Sesungguhnya kebenaran itu membawa kepada kebaikan
dan kebaikan itu membawa ke surga. Seseorang akan selalu
bertindak jujur sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang
yang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu membawa kepada
kejahatan dan kejahatan itu membawa ke neraka. Seseorang
akan selalu berdusta sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai
pendusta .” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Muhammad Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra., ia
berkata : “Saya menghafal beberapa kalimat dari Rasulullah
SAW, yaitu : “Tinggalkanlah apa yang kamu ragukan dan
kerjakanlah apa yang tidak kamu ragukan. Sesungguhnya
jujur itu menimbulkan ketenangan dan dusta itu menimbulkan
kebimbangan .” (HR. Tirmidzi)
3. Dari Abu Sufyan Shahr bin Harb ra., di dalam haditsnya yang
panjang tentang cerita pertanyaan Heraklius kepadanya :
“Apa saja yang diperintahkan oleh Nabi SAW kepada kamu ?”
Abu Sufyan berkata : “Nabi SAW bersabda : “Sembahlah Allah
Yang Maha Esa dan janganlah kamu menyekutukan apapun
dengan-Nya, tinggalkanlah ajaran-ajaran nenek moyangmu.
Beliau juga menyuruh kami untuk melaksanakan salat, jujur,
pemaaf dan menghubungkan sanak kerabat .” (HR. Bukhari
dan Muslim)
4. Dari Abu Tsabit, (Abu Sa’id atau Abul Walid Sahl bin Hunaif),
ia adalah orang yang ikut perang Badar. Menurut beliau, Nabi
SAW bersabda : “Siapa saja yang benar-benar mohon untuk
mati syahid kepada Allah Ta’ala niscaya Allah akan
mengabulkan ke tingkat orang yang mati syahid walaupun ia
mati di atas tempat tidur . “ (HR. Muslim)
5. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda
: “Ada salah seorang di antara para nabi sewaktu akan
berangkat perang, ia berpesan kepada kaumnya : “Janganlah
mengikuti kami, yaitu orang yang baru kawin, sedangkan ia
belum berkumpul dengan isterinya. Orang membangun
rumah, sedangkan ia belum selesai membangunnya. Dan
janganlah mengikuti kami orang yang baru membeli kambing
atau onta, dan ia menunggu kelahiran anaknya .” Kemudian
Nabi berangkat berperang dan ketika mendekati sebuah
dusun kira-kira menjelang Nabi itu berkata kepada matahari
: “Wahai matahari, sesungguhnya kamu diperintah dan saya
pun diperintah. Ya Allah, tahanlah ia untuk membantu kami.”
Maka tertahanlah matahari itu, sehingga Allah memberikan
kemenangan kepada nabi itu. Kemudian Nabi itu
mengumpulkan barang-barang rampasan perang dan
mendatangkan api untuk memakannya, tetapi api itu tidak
mau memakannya, oleh karenanya Nabi itu bersabda:
“Sesungguhnya ada di antara kamu sekalian yang tidak
ikhlas, maka setiap kelompok harus mengirimkan seorang
laki-laki untuk berbai’at kepadaku.” Kemudian melekatlah
tangan dua atau tiga orang dengan tangan Nabi, maka beliau
bersabda : “Kalianlah yang tidak ikhlas.” Orang-orang itu lalu
membawa emas sebesar kepala sapi kemudian diletakkan di
hadapan Nabi dan datanglah api, memakan emas tadi.
Barang-barang rampasan perang belum dihalalkan bagi
seseorang sebelum kami. Kemudian Allah melihat kelemahan
kami, karena Allah itu menghalalkan barang rampasan itu
bagi kami.” (HR. Bukhari dan Muslim)
6. Dari Abu Khalid Hakim bin Hizam ra., ia masuk Islam sewaktu
pembukaan kota Makkah, sedangkan ayahnya termasuk tokoh
Quraisy, baik di zaman Jahiliyah maupun setelah masuk
Islam, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Dua orang
yang berjual beli itu haruslah bebas memilih sebelum mereka
berpisah. Apabila keduanya jujur dan berterus terang di
dalam berjual beli, maka keduanya akan mendapatkan
berkah. Tetapi apabila keduanya menyembunyikan dan dusta,
maka jual belinya itu tidak akan membawa berkah.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Muroqobah
1. Dari Umar bin Khaththab ra., ia berkata : “Ketika kami sedang
duduk di dekat Rasulullah SAW tiba-tiba muncul seorang lelaki
berpakaian putih, berambut hitam pekat, bekas jalannya tidak
terlihat dan tidak seorangpun di antara kami mengenalinya.
Ia duduk menghadap Beliau SAW, lalu menyandarkan kedua
lututnya ke lutut Nabi dan meletakkan kedua telapak
tangannya di atas kedua paha Nabi, seraya berkata : “Wahai
Muhammad, terangkan kepadaku tentang Islam!” Rasulullah
SAW menjawab: Islam adalah hendaknya engkau bersaksi
bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan
Allah, mendirikan salat, memberikan zakat, berpuasa di bulan
Ramadhan dan melakukan ibadah haji ke Baitullah jika
memenuhi syaratnya.” Ia berkata : “Engkau benar!” Kami
keheranan karenanya, dia bertanya tetapi membenarkannya.
Lebih lanjut ia berkata : “Sekarang terangkanlah kepadaku
tentang Iman!” Rasulullah SAW menjawab : “Yaitu engkau
beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-
Nya, para Rasul-Nya dan hari akhir, serta engkau beriman
kepada baik dan jeleknya taqdir. Ia berkata : “Engkau benar.”
Selanjutnya terangkan kepadaku tentang ihsan!” Rasulullah
menjawab : “Yaitu hendaknya engkau beribadah kepada Allah
seakan-akan melihat-Nya. Ketahuilah, bahwa Dia selalu
melihatmu.” Orang itu kembali bertanya: “Beritahukan
kepadaku kapan terjadinya hari kiamat?” Rasulullah SAW
menjawab : “Tidaklah orang yang bertanya lebih mengetahui
daripada yang ditanya.”1 Orang itu berkata lagi : “Kalau
begitu beritahukanlah tanda-tanda (terjadinya) hari kiamat!”
Rasulullah SAW menjawab: “yaitu apabila budak perempuan
melahirkan bayi perempuan yang akan menjadi majikannya
dan engkau akan melihat orang yang asalnya tidak bersandal,
telanjang, papa, penggembala kambing, menjadi orang-orang
yang saling berlomba meninggikan bangunan rumahnya.”
Kemudian orang itu berlalu. Kami terdiam beberapa saat. Lalu
Rasulullah SAW bertanya : “Hai Umar, tahukah engkau siapa
yang bertanya tadi?” Umar menjawab: “Allah dan Rasul-Nya
lebih tahu.” Rasulullah SAW memberitahukan : “Dia adalah
Jibril. Ia datang untuk mengajari kalian tentang agama
Islam.” (HR. Muslim)
2. Dari Abu Dzar bin Junadah dan Abu Abdurrahman Muadz bin
Jabal ra., dari Rasulullah SAW, beliau bersabda :
“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada.
Sertailah (tutuplah) kejelekan itu dengan kebaikan, niscaya
kebaikan tadi akan menghapus kejelekan dan gaulilah
manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi)
3. Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata : “Kali tertentu saya berada di
belakang Nabi SAW, kemudian beliau bersabda : “Hai anak
kecil, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat,
yaitu : “Jagalah (perintah) Allah, niscaya ia akan menjaga
dirimu, jagalah (larangan) Allah niscaya kamu dapati Allah
selalu dihadapanmu. Jika engkau minta, mintalah kepada
Allah, dan jika engkau meminta pertolongan maka mintalah
pertolongan kepada Allah. Dan ketahuilah, jika umat manusia
bersatu untuk memberikan manfaat (kebaikan) kepadamu
niscaya mereka tidak akan dapat melakukan hal itu kepadamu
kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan Allah
kepadamu. Dan jika mereka bersatu hendak mencelakakan
dirimu, niscaya mereka tidak akan dapat mencelakakanmu
kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan Allah padamu.
Telah diangkat pena dan telah keringlah (tinta) lembaranlembaran
itu.” (HR. Imam Tirmidzi)
Dalam riwayat selain Tirmidzi dikatakan, Rasulullah SAW
bersabda : “Peliharalah (perintah) Allah niscaya engkau akan
menemui-Nya di hadapanmu. Hendaklah engkau mengingat
Allah di waktu lapang (senang), niscaya Allah akan mengingatmu
di waktu susahmu. Ketahuilah, sesungguhnya sesuatu yang
seharusnya luput mengenaimu, tentulah sesuatu itu tidak akan
mengenaimu. Ketahuilah, sesungguhnya kemenangan itu disertai
kesabaran, kesenangan itu ada kesudahan dan sesudah kesulitan
pasti ada kemudahan.”
4. Dari Anas ra., ia berkata : “Sesungguhnya kalian sekarang
melakukan perbuatan-perbuatan yang sangat mudah, padahal
pada masa Rasulullah SAW perbuatan-perbuatan semacam itu
kami anggap termasuk hal-hal yang merusak agama.” (HR.
Bukhari)
5. Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi SAW, beliau bersabda :
“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu cemburu; dan cemburunya
Allah Ta’ala yaitu, apabila ada seseorang yang melakukan
perbuatan-perbuatan yang diharamkannya.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
6. Dari Abu Hurairah ra., ia mendengar Nabi SAW bersabda :
“Ada tiga orang Bani Israil yang mempunyai penyakit belang,
botak dan buta. Kemudian Allah hendak menguji mereka,
maka Allah mengutus malaikat kepada mereka. Malaikat itu
datang kepada Si belang dan bertanya : “Apakah yang paling
kamu inginkan?” Si belang menjawab : “Saya menginginkan
paras yang tampan dan kulit yang bagus serta hilang
penyakitku yang menjadikan orang-orang jijik melihatku.
Malaikat itu kemudian mengusap Si belang, maka hilanglah
penyakit yang menjijikannya, ia juga diberi paras yang
tampan dan kulit yang bagus. Malaikat itu bertanya lagi :
“Harta apakah yang paling kamu senangi?” Si belang
menjawab : “Unta,” ada yang mengatakan “sapi”. Kemudian
ia diberi unta yang sedang bunting sepuluh bulan, dan
Malaikat tadi berkata : “Semoga Allah memberi berkah atas
rahmat yang kamu terima.”
Kemudian malaikat mendatangi Si botak, dan bertanya :
“Apakah yang paling kamu inginkan ?” Si botak menjawab :
“Rambut yang rapi dan hilangnya penyakitku, yang
menyebabkan orang-orang jijik kepadaku.” Malaikat itu lalu
mengusap si botak dan hilangkah penyakitnya, serta
tumbuhlah rambut yang rapi. Malaikat itu bertanya lagi :
“Harta apakah yang paling kamu senangi ?” Si botak
menjawab : “Sapi.” Malaikat pun memberinya sapi yang
sedang bunting. Dan ia berkata : “Semoga Allah memberi
berkah atas rahmat yang kamu terima.”
Selanjutnya malaikat itu mendatangi Si buta dan bertanya :
“Apakah yang paling kamu inginkan ?” Si buta menjawab :
“Allah mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat
melihat orang.” Malaikat itu lantas mengusap Si buta dan
Allah mengembalikan penglihatannya. Malaikat itu bertanya
lagi: “Harta apakah yang paling kamu senangi?” Si buta
menjawab : “Kambing.” Kemudian ia diberi kambing yang
sedang bunting.
Selang beberapa tahun, unta, sapi dan kambing berkembang
biak yang akhirnya unta itu memenuhi suatu lapangan,
demikian pula dengan sapi dan kambing. Kemudian malaikat
tadi datang kepada Si belang dengan menyerupai orang yang
berpenyakit belang seperti keadaan Si belang waktu itu, dan
berkata: “Saya adalah orang miskin, yang kehabisan bekal di
tengah-tengah perjalanan. Sampai hari ini tidak ada yang
mau memberi pertolongan kepada saya kecuali Allah, saya
harap engkau mau memberi pertolongan. Saya benar-benar
minta pertolongan kepadamu dengan menyebut yang telah
memberi engkau paras yang tampan dan kulit yang halus
serta harta kekayaan, dan saya minta seekor unta untuk
bekal di dalam melanjutkan perjalanan saya.” Si belang
berkata : “Hak-hak yang harus saya berikan masih banyak
saya tidak bisa membekali apa-apa.”
Malaikat itu berkata: “Kalau tidak salah saya kenal dengan
kamu. Bukankah kamu dulu orang yang berpenyakit belang
sehingga orang-orang lain merasa jijik kepadamu. Bukankah
kamu dulu orang yang miskin kemudian Allah memberi
rahmat kepadamu?” Si belang berkata : “Harta kekayaanku
ini adalah dari nenek moyang.” Malaikat itu berkata: “Jika
kamu berdusta, semoga Allah mengembalikanmu seperti
keadaan semula.” Kemudian malaikat itu datang kepada Si
botak seperti keadaan Si Botak waktu itu, dan berkata seperti
yang dikatakan pada Si belang. Si botak juga menjawab
seperti jawaban Si belang. Kemudian malaikat itu berkata :
“Jika kamu berdusta semoga Allah mengembalikanmu seperti
semula.” Malaikat tadi terus ke tempat Si buta dengan
menyerupai orang yang buta seperti keadaan Si buta waktu
itu, dan berkata: “Saya adalah orang miskin yang kehabisan
bekal di tengah-tengah perjalanan dan sampai hari ini tidak
ada yang mau memberi pertolongan kepada saya kecuali
Allah, saya berharap mudah-mudahan kamu mau memberi
pertolongan. Saya benar-benar minta pertolongan kepadamu
dengan menyebut yang telah mengembalikan penglihatanmu
dan saya minta satu ekor kambing untuk bekal di dalam
melanjutkan perjalanan saya.” Si buta berkata : “Saya dahulu
adalah orang buta kemudian Allah mengembalikan
penglihatan saya. Maka ambillah apa yang kamu inginkan dan
tinggalkanlah apa yang tidak kamu senangi. Demi Allah
sekarang saya tidak akan memberatkan sesuatu kepadamu
yang kamu ambil karena Allah Yang Maha Agung. Malaikat itu
berkata : “Peliharalah harta kekayaanmu, sebenarnya kamu
hanyalah diuji dan Allah benar-benar ridha kepadamu dan
Allah telah memurkai kedua kawanmu.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
7. Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus ra., dari Nabi SAW,. beliau
bersabda : “Orang yang cerdik adalah orang yang selalu
menjaga dirinya dan beramal untuk bekal sesudah mati.
Sedangkan orang yang kerdil yaitu orang yang hanya
mengikuti hawa nafsunya tetapi ia mengharapkan berbagai
harapan kepada Allah.” (HR. Tirmidizi)
8. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda
: Termasuk kesempurnaan Islam seseorang, apabila ia
meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi dirinya.”
(HR. Tirmidizi)
9. Dari Umar ra. dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Seorang
suami tidak akan ditanya kenapa ia memukuli isterinya?” (HR.
Abu Dawud)
Takwa
1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Ada beberapa orang
bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, siapakah
orang yang paling mulia?” Rasulullah SAW menjawab : “Orang
yang paling bertakwa.” Para sahabat berkata: “Bukan itu yang
kami tanyakan.” Rasulullah SAW bersabda : “Kalau begitu,
Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim.” Para sahabat
berkata: “Bukan hal itu yang kami tanyakan.” Rasulullah SAW
balik bertanya : “Apakah yang kalian tanyakan itu berkenaan
dengan keturunan Arab yang baik? Kalau demikian, maka
orang yang mulia adalah orang Arab yang paling baik budi
pekertinya di zaman Jahiliyah dan baik pula budi pekertinya
ketika Islam dan mereka memahami agama Islam.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Sa’id Al-Khudriy ra. dari Nabi SAW, beliau bersabda:
“Sesungguhnya dunia itu manis dan indah dan sesungguhnya
Allah mengusahakan kepada kalian untuk mengelola yang ada
di dalamnya, kemudian Allah mengawasi apa yang kalian
perbuat. Maka hati-hatilah kalian terhadap dunia dan wanita.
Sesungguhnya bencana yang pertama kali timbul pada Bani
Israil adalah karena wanita.” (HR. Muslim)
3. Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata : “Nabi SAW sering berdo’a :
“ALLAHUMMA INNI AS ALUKAL HUDA WATTUQAA WAL
‘AFAAFA WAL GHINAA (Ya Allah, sungguh aku mohon kepada-
Mu semoga Engkau berkenan memberikan petunjuk,
ketakwaan, kehati-hatian dan perasaan cukup).” (HR. Muslim)
4. Dari Abu Tharif ‘Adiy bin Hatim Ath-Tha’i ra., berkata : “Aku
mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Siapa saja yang
bersumpah, kemudian dia beranggapan dengan sumpahnya
itu dia telah bertakwa kepada Allah maka hendaklah dia
melaksanakan sesuatu yang menunjang takwaannya itu.”
(HR. Muslim)
5. Dari Abu Umamah Shuday bin ‘Ajlan Al-Bahiliy ra., ia berkata
: Saya mendengar Rasulullah SAW berkhutbah pada haji
Wada’ : “Bertakwalah kamu sekalian kepada Allah, salatlah
kalian lima kali sehari semalam, berpuasalah pada bulan
Ramadhan, tunaikanlah zakat harta bendamu serta patuhlah
kepada pemimpin-pemimpin kalian, maka kalian akan masuk
surga.” (HR. Tirmidizi)
Yakin dan Tawakal
1. Dari Ibnu ‘Abbas ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda :
“Ditampakkan kepadaku umat-umat terdahulu. Kulihat ada
seorang Nabi yang disertai dengan rombongan kecil, ada pula
Nabi yang disertai dengan satu dua orang saja, bahkan ada
seorang Nabi yang tanpa pengikut seorangpun. Kemudian
tampak satu rombongan besar yang aku sangka mereka
adalah umatku, akan tetapi dikatakan kepadaku : “Ini adalah
Musa dan kaumnya tetapi lihatlah ke ufuk sana.” Kemudian
aku melihat ke ufuk itu. Tiba-tiba aku melihat satu
rombongan besar, lantas dikatakan kepadaku : “Lihatlah ke
ufuk yang lain.” Di sana aku melihat satu rombongan yang
besar lagi, kemudian dikatakan kepadaku : “Itulah umatmu
yang didalamnya terdapat tujuh puluh ribu orang yang akan
memasuki surga tanpa hisab1 dan tanpa disiksa lebih dahulu.”
Beliau kemudian bangkit dan masuk ke dalam rumah.
Orang-orang ramai membicarakan tentang orang-orang yang
akan masuk surga tanpa dihisab dan disiksa. Salah seorang di
antara mereka berkata : “Mungkin saja mereka adalah
sahabat-sahabat Rasulullah SAW” Dan ada pula yang
mengatakan : “Mungkin saja mereka adalah orang-orang
yang dilahirkan dalam keadaan Islam dan dia tidak
menyekutukan Allah.” Dan mereka menafsirkan bermacammacam.
Kemudian Rasulullah SAW keluar dan bersabda
kepada mereka : “Apa yang sedang kalian bicarakan?”
Kemudian mereka menceritakannya, maka beliau bersabda:
“Mereka itu adalah orang-orang yang tidak menjampi, dan
mereka tidak pernah minta dijampi, mereka yang tidak
meramal dan hanya kepada Tuhan sajalah mereka
bertawakkal.” Kemudian ‘Ukasyah bin Mihshan berkata : “Ya
Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar saya termasuk
golongan mereka.” Beliau menjawab : “Engkau termasuk
golongan mereka.” Kemudian berdirilah orang lain sambil
berkata : “Ya Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar saya
termasuk golongan mereka.” Beliau menjawab : “Engkau
telah didahului oleh Ukasyah. (HR. Bukhari dan Muslim)
1 Tanpa dihitung atau diperiksa amal perbuatannya
2. Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata : “Sesungguhnya Rasulullah
SAW berdoa : “ALLAHUMMA LAKA ASLAMTU WABIKA
AAMANTU WA’ALAIKA TAWAKKALTU WA ILAIKA ANABTU
WABIKA KHAASHAMTU ALLAHUMA A’UUDZU BI’IZZATIKA LAA
ILAAHA ILLAA ANTA ANTUDHILLANI ANTAL HAYYUL LADZII
LAA YAMUUTU WAL JINNU WAL INSU YAMUUTUUNA.” (Ya
Allah, hanya kepada-Mu saya berserah diri, dan kepada-Mu
saya percaya sepenuh hatu, dan hanya kepada Engkau-lah
saya kembali dan untuk-Mulah saya berjuang. Ya Allah, saya
berlindung dengan kemuliaan-Mu yang tiada Tuhan selain
Engkau dan aku mohon agar Engkau tidak menyesatkan
diriku. Engkau adalah Zat Yang Hidup yang tidak akan pernah
mati, sedangkan jin dan manusia semuanya akan mati.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
3. Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata : “HASBUNALLAH WANIKMAL
WAKIL, kalimat ini pernah dibaca oleh Nabi Ibrahim as. Ketika
beliau dilemparkan ke dalam api, dan juga dibaca oleh Nabi
Muhammad SAW ketika orang-orang kafir mengatakan :
“Sesungguhnya orang-orang Quraisy telah mengumpulkan
pasukan untuk menyerang kalian. Oleh karena itu, takutlah
kalian kepada mereka.” Akan tetapi perkataan itu malah
menambah keimanan mereka serta mereka mengucapkan
“HASBUNALLAAHU WANIKMAL WAKIIL.” (HR. Bukhari)
Pada riwayat Bukhari yang lain, bahwa Ibnu Abbas ra. berkata :
“Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim ketika
dilemparkan ke dalam api adalah “HASBUNALLAHU WANIKMAL
WAKIIL” (Allah cukup menjadi Penolong bagi kami, Allah adalah
sebaik-baik pelindung).”
4. Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Akan
masuk surga orang-orang yang mempunyai hati berpendirian
seperti pendirian burung.” (HR. Muslim)
5. Dari Jabir ra., ia berkata : “Saya berperang bersama Nabi
SAW menuju ke arah Najd. Tatkala Rasulullah kembali kami
pun ikut kembali. Di suatu lembah yang banyak pohon
berduri, kami merasa payah dan mengantuk, Rasulullah SAW
pun turun dan berpencar untuk berteduh di bawah pohon,
kemudian beliau menggantungkan pedangnya, sedangkan
kami semua tertidur. Tiba-tiba Rasulullah SAW memanggil
kami, sedangkan di dekat beliau ada seorang Badui,
kemudian beliau bersabda “Sesungguhnya orang ini telah
menghunus pedangku sewaktu aku tertidur, setelah aku
terbangun pedang itu sedang terhunus di tangannya.” Lalu
orang ini berkata : “Siapakah yang dapat mencegah kamu
dari seranganku ?” Aku menjawab : “Allah” (tiga kali).
Kemudian orang itu tidak melakukan apa-apa dan langsung
duduk. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan : Jabir berkata : “Kami bersama
Rasulullah SAW berperang di Dzatur riqa’. Tatkala kami sampai
pada salah satu pohon yang rindang kami meninggalkan Rasulullah
SAW, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki musyrik sedangkan
pedang Rasulullah SAW bergantung di pohon dan laki-laki itu
menghunusnya seraya berkata : “Apakah kamu takut kepadaku?”
Beliau menjawab : “Tidak.” Dia bertanya lagi : “Siapakah yang
dapat mencegah kamu dari seranganku ?” Beliau menjawab :
“Allah.”
Dan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Bakar Al-Isma’iliy di
dalam shahihnya dikatakan : “Laki-laki itu bertanya : “Siapakah
yang dapat mencegah kamu dari serangan ini?” Beliau menjawab :
“Allah,” maka jatuhlah pedang itu dari tangannya, kemudian
Rasulullah SAW mengambil pedang itu seraya bertanya : “Siapakah
yang dapat mencegah kamu dari seranganku ini?” Dia menjawab
“Jadilah engkau sebaik-baik orang yang memegang pedang.” Beliau
bersabda : “Hendaklah kamu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain
Allah dan sesungguhnya saya adalah pesuruh Allah.” Ia menjawab :
“Tidak, tetapi saya berjanji tidak akan memerangi kamu dan saya
tidak akan bergabung dengan orang-orang yang memerangi kamu.”
Kemudian Rasulullah melepaskan orang itu dan mendatangi
sahabatnya seraya bersabda : “Baru saja bertemu dengan sebaikbaik
manusia.”
6. Dari Umar ra., ia berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW
bersabda : “Andaikata kalian benar-benar bertawakkal kepada
Allah niscaya Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana
Dia memberi rezeki kepada burung, yaitu keluar dengan perut
kosong di pagi hari dan kembali dengan perut kenyang di sore
hari. (HR. Tirmidzi)
7. Dari Umarah Al-Barra’ bin ‘Azib ra., ia berkata : “Rasulullah
SAW bersabda : “Hai fulan apabila kau hendak tidur maka
bacalah “ALLAHUMMA ASLAMTU NAFSII ILAIKA WAWAJJAHTU
WAJHII ILAIKA WAFAWWADTU AMRII ILAIKA WA ALJA’TU
DHAHRII ILAIKA RAGHBATAN WARAHBATAN ILAIKA LAA
MALJA’A WALAA MANJAA MINKA ILLAA ILAIKA AAMANTU
BIKITAABIKAL LADZII ANZALTA WA NABIYYIKAL LADZII
ARSALTA.” (Ya Allah, saya menyerahkan diri kepada-Mu. Saya
hadapkan wajahku kehadirat-Mu, saya menyerahkan segala
urusanku kepada-Mu dan saya menyandarkan punggungku
kepada-Mu karena mengharap dan takut kepada-Mu. Tidak
ada tempat kembali dan tidak ada tempat berlindung kecuali
hanya kepada-Mu. Saya percaya dengan sepenuh hati
terhadap Kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan terhadap
Nabi-Mu yang telah engkau utus.) Dengan membaca doa ini,
apabila kalian mati pada malam itu, maka matinya dalam
keadaan bersih dari dosa, dan jika kamu masih hidup sampai
pagi harinya maka kamu akan memperoleh kebaikan.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain yang juga diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim
dari Al-Barra’, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda kepadaku :
“Jika engkau hendak tidur maka berwudhulah terlebih dahulu
sebagaimana kamu wudhu akan shalat, kemudian berbaringlah
pada pinggangmu yang sebelah kanan lalu bacalah doa seperti
tersebut di atas.” Ia meneruskan hadis itu seperti hadis di atas,
kemudian beliau bersabda : “Dan jadikanlah doa sebagai akhir
(penghabisan) dari apa yang kamu ucapkan.”
8. Dari Abu Bakar As Shiddiq Abdullah bin Utsman bin Amir bin
‘Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin
Luay bin Ghalib Al-Quraisy At-Taimiy ra., ia ayah dan ibunya
termasuk sahabat Nabi, ia berkata : “Tatkala kami berada di
gua Tsur, saya melihat kaki-kaki orang musyrik berada di atas
kepala kami, kemudian saya berkata : “Wahai Rasulullah,
seandainya salah seorang di antara mereka melihat ke bawah
telapak kakinya dia pasti akan melihat kita.” Beliau menjawab
: “Wahai Abu Bakar, apakah yang kamu cemaskan terhadap
dua orang sedangkan Allah ketiganya ?” (HR. Bukhari dan
Muslim)
9. Dari Ummul Mukminin Ummu Salamah, nama sebenarnya
adalah Hindun binti Abu Umayyah Hudzaifah Al-Makhzumiyah
ra., ia berkata : Sesungguhnya Nabi SAW jika keluar dari
rumahnya, beliau berdoa : “BISMILLAAHI TAWAKKALTU
‘ALALLAAH. ALLAHUMMA INNII A’UUDZU BIKA ‘AN ADHILLA
AU UDHALLA WA ‘AZILLA AU UZALLA AU ADZLIMA AU
AUDZLAMA AU AJHALA AU YUJHALA ‘ALAYYA (Dengan
menyebut nama Allah saya bertawakkal kepada Allah. Ya
Allah, sesungguhnya saya berlindung diri kepada-Mu dari
sesuatu yang menyesatkan, dari sesuatu yang
menggelincirkan atau digelincirkan dari sesuatu yang
menganiaya atau teraniaya, atau dari sesuatu yang
membodohkan atau diperbodohkan.” (HR. Abu Dawud dan At
Tirmidzi dan yang lain dengan sanad yang sahih).
10. Dari Anas ra., ia berkata : Rasulullah
SAW bersabda : “Siapa saja yang keluar dari rumahnya
membaca : “BISMILLAAHI TAWAKKALTU ‘ALALLAAHI WALAA
HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH (Dengan menyebut
nama Allah, saya bertawakkal kepada Allah, tiada daya dan
kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah),” maka dikatakan
kepadanya : “Kamu telah mendapat petunjuk, kamu telah
dijamin, kamu dipelihara dan dijauhkan dari setan.” (HR. Abu
Dawud dan Tirmidzi, Nasa’i dan yang lain)
Akan tetapi dalam riwayat Abu Dawud ada tambahan : “Maka setan
yang satu berkata kepada setan yang lain : “Bagaimana kamu
dapat menggoda orang itu sedangkan dia telah diberi petunjuk,
telah dijamin dan dipelihara oleh Allah.”
11. Dari Anad ra., ia berkata : “Masa Nabi SAW ada dua
orang yang bersaudara, yang satu suka datang kepada Nabi
SAW dan yang lain giat berusaha. Kemudian orang yang giat
berusaha mengadu kepada Nabi SAW tentang keadaan
saudaranya itu, lantas beliau bersabda : “Barang kali kamu
mendapatkan rezeki karena saudaramu.” (HR. At Tirmidzi)
Istiqamah (Teguh Pendirian)
1. Dari Abu ‘Amr, ada yang mengatakan Abi Amrah Sufyan bin
Abdullah ra., ia berkata : “Saya berkata kepada Rasulullah :
“Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepada saya suatu ucapan yang
mengandung ajaran Islam dan saya tidak akan bisa
menanyakan kepada orang selain engkau !” Beliau menjawab
: “Katakanlah, saya beriman kepada Allah, kemudian teguhlah
kamu dalam pendirian itu . (HR.Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Biasakanlah kalian dalam mendekatkan diri kepada Allah dan
berpegangteguhlah pada keyakinan kalian. Ketahuilah, tidak
ada seorang pun di antara kalian yang selamat karena amal
perbuatannya.” Para sahabat bertanya : “Tidak juga engkau
wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab : “Tidak juga saya,
kecuali jika Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya.”
(HR.Muslim
Anjuran berbuat baik
1. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata : “Sesungguhnya Rasulullah
SAW bersabda : “Bersegeralah kalian untuk mengerjakan
amal-amal saleh, karena akan terjadi bencana yang
menyerupai malam yang gelap gulita, yaitu seseorang pada
waktu pagi dia beriman tetapi pada waktu sore dia kafir, atau
pada waktu sore dia beriman tetapi pada waktu paginya dia
kafir, dia rela menukar agamanya dengan sedikit keuntungan
dunia .” (HR.Muslim)
2. 2.. Dari Abu Sirwa’ah Uqbah bin Al-Harits ra., ia berkata :
“Aku salat Ashar di belakang Nabi SAW ketika di Madinah.
Setelah salam, beliau cepat-cepat bangkit melangkahi barisan
para sahabat menuju kamar salah seorang isterinya. Para
sahabat terkejut, karena beliau tergesa-gesa. Setelah itu
Rasulullah keluar. Beliau heran melihat para sahabat yang
terkejut itu, kemudian beliau bersabda : “Aku teringat
sepotong emas dan aku tidak ingin terganggu karenanya
maka aku menyuruh untuk membagi-baginya.”
3. Dalam riwayat yang lain disebutkan : “Aku meninggalkan
sepotong emas yang harus kusedekahkan tetapi tertinggal di
rumah, maka aku tidak ingin emas itu menginap di
tempatku.” (HR.Bukhari)
4. Dari Jabir ra., ia berkata : Pada Perang Uhud, ada seseorang
yang bertanya kepada Nabi SAW : “Apakah engkau tahu di
manakah tempatku seandainya aku terbunuh ?” Beliau
menjawab : “Di dalam surga.” Kemudian orang itu terus
melemparkan biji-biji kurma yang ada di tangannya lalu dia
maju perang sehingga mati terbunuh .” (HR.Bukhari dan
Muslim)
5. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Ada seseorang yang
datang kepada Nabi SAW bertanya : “Wahai Rasulullah,
sedekah apakah yang paling besar pahalanya ?” Beliau
menjawab : “Bersedekahlah selama kamu masih sehat, suka
harta, takut miskin dan masih berkeinginan kaya. Dan
janganlah kamu menunda-nunda, sehingga apabila nyawa
sudah sampai di tenggorokan, maka kamu baru berkata :
“Untuk fulan sekian dan untuk fulan sekian, padahal harta itu
sudah menjadi hak si fulan (ahli warisnya).” (HR.Bukhari dan
Muslim)
6. Dari Anas ra., ia berkata : Ketika Perang Uhud Rasulullah
SAW mengambil pedang seraya bersabda : “Siapakah yang
bersedia menerima pedang ini ?” Maka setiap orang
mengulurkan tangannya seraya berkata : “Saya,saya.” Beliau
bersabda lagi : “Siapakah yang bersedia menerimanya
dengan penuh tanggung jawab ?” Maka semua orang terdiam,
kemudian Abu Dujanah ra. berkata : “Saya akan
menerimanya dengan penuh tanggung jawab .” Maka pedang
itu diberikan kepada Abu Dujanah. Digunakan pedang itu
olehnya untuk memenggal leher orang-orang musyrik .”
(HR.Muslim)
7. Dari Zubair bin Adiy., ia berkata : “Kami mendatangi Anas ra.,
dan mengadukan penderitaan yang kami alami dari
kekejaman Al-Hajjaj, kemudian Anas menjawab : “Sabarlah
kamu semua, sesungguhnya akan datang suatu masa di mana
penderitaan lebih berat lagi, sehingga kamu semua bertemu
dengan Tuhanmu (meninggal dunia). Saya mendengar hal itu
dari Nabi SAW” (HR.Bukhari)
8. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata : “Sesungguhnya Rasulullah
SAW bersabda : “Bersegeralah kalian untuk beramal sebelum
datangnya tujuh perkara. Apakah kamu harus menantikan
kemiskinan yang dapat melupakan, kekayaan yang dapat
menimbulkan kesombongan, sakit yang dapat mengendorkan,
tua renta yang dapat melemahkan, mati yang dapat
menyudahi segala-galanya, atau menunggu datangnya Dajjal,
padahal ia adalah sejelek-jelek sesuatu yang ditunggu, atau
menunggu datangnya hari kiamat, padahal kiamat adalah
sesuatu yang amat berat dan amat menakutkan .”
(HR.Turmudzi)
9. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah
SAW ketika Perang Khaibar bersabda : “Aku benar-benar akan
menyerahkan panji ini kepada seseorang yang mencintai Allah
dan Rasul-Nya, dan Allah akan memberikan kemenangan
melalui tangannya .” Umar ra. berkata : “Saya tidak begitu
antusias menjadi pemimpin kecuali hari ini. Maka saya
menampakkan diri dengan harapan supaya dipanggil oleh
Nabi .” Akan tetapi Rasulullah SAW memanggil Ali bin Abi
Thalib dan menyerahkan panji itu kepadanya, seraya
bersabda : “Majulah ke depan dan janganlah kamu menoleh
ke belakang sebelum Allah memberi kemenangan kepadamu
.” Kemudian Ali melangkah beberapa langkah lalu berhenti
tetapi tidak menoleh ke belakang dan berteriak : “Wahai
Rasulullah, siapakah yang harus aku perangi ?” Beliau
menjawab : “Perangilah mereka, sehingga mereka mau
bersaksi, bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan
sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah. Apabila
mereka telah bersaksi, berarti terpelihara harta dan darah
mereka kecuali dengan haknya, adapun mengenai
perhitungan amal mereka terserah pada Allah .” (HR.Muslim)
Bersungguh-sungguh dalam beramal
1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman : “Siapa saja yang
memusuhi kekasih-Ku maka Aku nyatakan perang
terhadapnya. Sesuatu yang paling Aku sukai yang dikerjakan
oleh hamba-Ku untuk mendekatkan diri adalah ia
mengerjakan apa yang Aku wajibkan kepadanya, dan tidak
henti-hentinya mendekatkan diri dengan amalan-amalan
sunnah, sehingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya,
maka Aku merupakan pendengaran yang ia gunakan, Aku
merupakan penglihatan yang ia gunakan, Aku merupakan
tangan yang ia gunakan untuk menyerang dan Aku
merupakan kaki yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia
memohon kepada-Ku niscaya Aku mengabulkannya dan jika
ia memohon perlindungan kepada-Ku niscaya Aku
melindunginya .” (HR.Bukhari)
2. Dari Anas ra., dari Nabi SAW, beliau menceritakan yang
difirmankan oleh Tuhan Yang Mahamulia lagi Mahaagung :
“Apabila seseorang mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal,
maka Aku mendekat sehasta, apabila ia mendekatkan diri
kepada-Ku sehasta, maka aku mendekat sedepa, dan apabila
ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku datang
dengan berlari .” (HR.Bukhari)
3. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Ada dua nikmat di mana manusia banyak tertipu karenanya,
yaitu kesehatan dan kesempatan .” (HR.Bukhari)
4. Dari Aisyah ra., ia berkata : Sesungguhnya Nabi SAW selalu
bangun untuk mengerjakan salat malam sampai kedua
kakinya bengkak. Aisyah bertanya : “Wahai Rasulullah,
mengapa engkau berbuat demikian, sedangkan Allah telah
mengampuni semua dosamu, baik yang telah lampau maupun
yang akan datang ?” Beliau menjawab : “Apakah tidak
sepantasnya jika aku menjadi seorang hamba yang selalu
bersyukur ?” (HR.Bukhari dan Muslim)
5. Dari Aisyah ra., ia berkata : Rasulullah SAW apabila
memasuki pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan
beliau senantiasa beribadah pada malam hari dan
membangunkan keluarganya dan beliau bersungguh-sungguh
serta mengikat erat tali pinggangnya .” (HR.Bukhari dan
Muslim)
6. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah
daripada orang mukmin yang lemah. Masing-masing ada
kebaikannya. Bersemangatlah untuk mengerjakan sesuatu
yang bermanfaat bagi dirimu, serta mohonlah pertolongan
kepada Allah dan janganlah lemah ! Kalau tertimpa sesuatu,
janganlah kamu mengucapkan : “Seandainya saya berbuat
begini tentu akan terjadi begini dan begitu,” tetapi katakanlah
: “Apa yang telah ditentukan Allah dan apa yang dikehendaki-
Nya pasti akan terjadi .” Karena kata seandainya itu akan
memberi jalan kepada setan .” (HR.Muslim)
7. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah
SAW bersabda : “Neraka itu tertutup dengan berbagai macam
kesenangan dan surga itu tertutup dengan berbagai macam
ketidaksenangan .” (HR.Bukhari dan Muslim)
8. Dari Abu Abdullah Hudzaifah bin Yaman Al- Anshari ra., beliau
dikenal sebagai spionase (mata-mata) Rasulullah SAW, ia
berkata : “Suatu malam aku salat bersama-sama Nabi SAW
sesudah membaca Al-Fatihah beliau membaca surat Al-
Baqarah, di dalam hati saya berkata : “Mungkin beliau akan
rukuk jika sudah mencapai seratus ayat .” Tetapi sesudah
mendapat seratus ayat beliau tetap membacanya. Dalam hati
saya berkata lagi, mungkin beliau akan membaca satu surat
Al-Baqarah dalam satu raka’at, tetapi setelah selesai satu
surat beliau membaca lagi surat An-Nisa’ dan beliau
membacanya sampai selesai. Setelah itu beliau mulai lagi
membaca surat Ali Imran sampai selesai. Beliau membacanya
dengan tartil. Jika menemukan ayat yang mengandung tasbih
maka beliau membaca tasbih. Jika menemukan ayat yang
mengandung perintah agar memohon, maka beliau memohon.
Dan jika beliau menemukan ayat yang menyuruh untuk
berlindung diri, maka beliau berlindung diri. Sesudah itu
beliau rukuk dan membaca : “SUBHAANA RABBIYAL ‘ADHIIM”
(Maha Suci Tuhanku yang Maha Agung). Lamanya hampir
sama dengan berdiri. Kemudian beliau bangkit dari rukuk
mengucapkan : “SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANA
LAKAL HAMDU” (Allah mendengar orang yang memuji-Nya.
Wahai Tuhan kami, hanya bagi-Mu lah segala puji), dan
berdiri lama hampir sama dengan rukuk. Kemudian beliau
sujud dan membaca : “SUBHAAN RABBIYAL A’LAA (Maha Suci
Tuhanku Yang Maha Luhur), lamanya hampir sama dengan
berdiri .” (HR.Muslim)
9. Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata : “Pada suatu malam, saya
mengerjakan salat bersama Nabi SAW Beliau berdiri lama
sekali, sehingga timbullah niat jelek saya.” Setelah selesai
beliau bertanya : “Niat jelek apakah yang timbul di hatimu ?”
Saya menjawab : “Saya berniat akan duduk dan akan
meninggalkan salat .” (HR.Bukhari dan Muslim)
10. Dari Anas ra., dari Rasulullah SAW beliau bersabda :
“Yang mengikuti mayat itu ada tiga, yaitu keluarga, harta
benda, dan amal perbuatannya. Yang dua kembali dan yang
satu tetap bersamanya, yaitu keluarga dan harta bendanya
kembali dan amal perbuatannya tetap bersamanya .”
(HR.Bukhari dan Muslim)
11. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata bahwa Nabi SAW
bersabda : “Surga itu lebih dekat kepada salah seorang di
antara kalian dari sandal yang dipakainya, begitu juga neraka
.” (HR.Bukhari)
12. Dari Abu Firas Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslamiy, ia termasuk
pelayan Rasulullah SAW dan termasuk Ahli Shuffah, ia berkata
: “Saya bermalam bersama Rasulullah SAW, kemudian saya
menyediakan air untuk wudhu dan kepentingan beliau yang
lain, kemudian beliau bersabda : “Mintalah sesuatu kepadaku
!” “Saya berharap agar dapat menemani engkau di surga.”
Beliau bertanya : “Apakah tidak ada permintaan yang lain ?”
Saya menjawab : “Hanya itu saja wahai Rasulullah .” Beliau
bersabda : “Bantulah saya untuk mengabulkan permintaanmu
itu dengan memperbanyak sujud .” (HR.Muslim)
13. Dari Abu Abdullah ( Abu Abdurrahman Tsauban )
sahaya Rasulullah SAW, ia berkata : “Saya mendengar
Rasulullah SAW bersabda : “Hendaklah kamu memperbanyak
sujud. Sesungguhnya jika kamu sujud satu kali saja sujud
karena Allah, niscaya Allah mengangkat satu derajat dam
Allah menghapus satu kesalahanmu .” (HR.Muslim)
14. Dari Abu Shafwan Abdullah bin Busrin Al-Aslamiy ra., ia
berkata : “Rasulullah SAW bersabda : “Sebaik-baik manusia
adalah yang panjang umurnya serta baik pula amal
perbuatannya .” (HR.Turmudzi)
15. Dari Anas ra., ia berkata : Pamannya Anas bin An
Nadhir ra., tidak mengikuti perang Badr, ia mengaku : “Wahai
Rasulullah, sesungguhnya saya tidak bisa mengikuti awal
peperangan melawan orang-orang musyrik. Seandainya Allah
menakdirkan saya untuk bisa mengikuti peperangan melawan
orang-orang musyrik niscaya Allah benar-benar melihat apa
yang saya perbuat.” Ketika perang Uhud kaum Muslimin
banyak yang melarikan diri, dia berkata : “Ya Allah, saya
mohon maaf kepada-Mu dari apa yang dilakukan oleh kawankawanku,
di mana mereka banyak yang melarikan diri dan
musyrik .” Kemudian dia maju dan menghampiri Sa’adz bin
Mu’adz seraya berkata : “Wahai Sa’adz bin Mu’adz, demi
Tuhannya Ka’bah, sesungguhnya saya mencium bau surga di
dekat Uhud.” Sa’ad berkata : “Wahai Rasulullah saya tidak
sanggup berbuat seperti apa yang diperbuatnya.” Anas
berkata : “Setelah perang Uhud usai saya menemukan pada
dirinya delapan puluh lebih luka pedang, satu tikaman tombak
dan satu tusukan panah. Kami menemukannya sudah
terbunuh dan dicincang oleh orang-orang musyrik sehingga
tidak ada satupun orang yang mengenalinya kecuali saudara
perempuannya dengan mengamati jari-jemarinya.” Kemudian
Anas berkata lagi : “Kami meyakini bahwa ayat yang artinya :
“Orang-orang yang menepati terhadap apa yang telah mereka
janjikan kepada Allah, itu diturunkan berhubungan dengan
peristiwa orang-orang mukmin seperti Anas bin Nadhir ini .”
(HR.Muslim)
16. Dari Abu Mas’ud Uqbah bin ‘Amr Al-Anshariy Al-Badriy
ra., ia berkata : “Tatkala ayat tentang sedekah diturunkan,
kami membawa (memanggul) sedekah kami. Ada seseorang
yang datang dengan membawa harta sebanyak-banyaknya
untuk disedekahkan. Kemudian orang-orang munafik berkata
: “Allah tidak membutuhkan jika hanya satu gantang .”
Kemudian turunlah ayat : “Orang-orang munafik yaitu orangorang
yang mengejek orang-orang mukmin yang sukarela di
dalam bersedekah dan orang-orang yang tidak mampu
bersedekah kecuali dengan sekuat tenaganya .” (HR.Bukhari
dan Muslim)
17. Dari Sa’id bin Abdul Aziz, dari Rabi’ah bin Yazid, dari
Abu Idris Al-Khaulaniy, dari Abu Dzarr Jundub bin Junadah
ra., dari Nabi SAW, beliau menceritakan apa yang difirmankan
oleh Allah : “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku
mengharamkan menzalimi diri-Ku dan Aku juga
mengharamkannya kepada kamu semua, maka semua saling
menganiaya. Hai hamba-Ku kamu semua itu tersesat kecuali
orang yang telah Aku beri petunjuk, maka mohonlah petunjuk
kepada-Ku niscaya Aku berikan petunjuk kepadamu. Wahai
hamba-Ku kalian itu lapar kecuali orang-orang yang Aku beri
makan, maka mohonlah makan kepada-Ku, niscaya Aku akan
memberi makan kepada kamu semua. Wahai hamba-Ku,
kalian orang yang telanjang kecuali orang yang Aku beri
pakaian, maka mohonlah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku
akan memberi pakaian kepada kamu semua. Wahai hambaKu,
kamu semua selalu berbuat dosa baik di malam maupun
di siang hari, dan Aku adalah Dzat Yang Mengampuni semua
dosa, maka mohonlah ampun kepada-Ku, niscaya Aku
memberi ampunan kepadamu. Wahai hamba-Ku, kamu
semua tidak akan dapat berbuat sesuatu yang dapat
merugikan-Ku dan tidak pula berbuat sesuatu yang
menguntungkan Aku. Wahai hamba-Ku, seandainya orang
yang pertama dan terakhir dari kamu, manusia dan jin
mereka itu berhati takwa seperti paling takwanya seseorang
di antaramu, itu tidak menambah kerajaan-Ku sedikitpun.
Wahai hamba-Ku, seandainya orang pertama dan yang
terakhir dari kamu, manusia dan jin, berhati jahat seperti
sejahat-jahatnya seseorang di antara kamu, itu tidak akan
mengurangi kerajaan-Ku barang sedikitpun juga. Wahai
hamba-Ku, jika orang yang terdahulu dan orang yang terakhir
di antaramu, manusia dan jin, mereka berada di bumi yang
satu kemudian mereka minta kepada-Ku, maka Aku
memenuhi permintaannya, hal yang demikian itu, tidaklah
mengurangi sesuatu yang ada pada-Ku, sebagaimana
sebatang jarum apabila dimasukkan ke laut. Wahai hamba-
Ku, sesungguhnya itu semua adalah amal perbuatanmu. Aku
mencatat semuanya, kemudian Kami membalasnya. Maka
siapa saja yang mendapatkan kebaikan, hendaklah bersyukur
kepada Allah, dan siapa saja yang mendapatkan selain
daripada itu, maka janganlah ia menyalahkan kecuali dirinya
sendiri .” (HR.Muslim)
Memperbanyak amal kebajikan
utamanya ketika lanjut usia.
1. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Allah
telah memberi kesempatan kepada seseorang yang
dipanjangkan usianya sampai enam puluh tahun.”
(HR.Bukhari)
2. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata : “Umar mengajak aku ke
sebuah diskusi yang diikuti orang-orang yang pernah
mengikuti perang Badr, yang terdiri dari orang tua, seakanakan
saya disejajarkan dengan mereka, kemudian ada
seseorang yang bertanya : “Kenapa pemuda ini dimasukkan
dalam kelompok kita, padahal kita juga mempunyai anak
yang sebaya dengannya ?” Umar menjawab : “Itu pendapat
kalian ?” Pada suatu hari Umar memanggil saya dan saya
datang bersama-sama dengan para sahabat, dan saya tahu
bahwa Umar memanggil saya pada hari itu, adalah untuk
menunjukkan kelebihan saya kepada mereka. Kemudian Umar
berkata : “Apakah pendapat kalian terhadap firman Allah yang
berbunyi : “IDZAA JAA-A NASHRULLAAHI WAL FATH ?” Salah
seorang di antara mereka menjawab : “Kami diperintahkan
untuk memuji dan memohon ampunan kepada Allah, apabila
kita mendapat pertolongan dan kemenangan .” Para sahabat
yang lain terdiam, kemudian Umar bertanya kepada saya :
“Apakah pendapatmu juga seperti itu wahai Ibnu Abbas ?”
Saya menjawab : “Tidak.” Umar bertanya lagi : “lalu
bagaimana pendapatmu ?” Saya menjawab : “Allah
memberitahu kepada Rasulullah SAW bahwa ayat itu
merupakan isyarat dekatnya kewafatan beliau. Yaitu Allah
berfirman : “IDZAA JAA-A NASHRULLAAHI WAL FATH”
(Apabila telah datang pertolongan dan kemenangan dari
Allah), itu adalah tanda dekatnya ajalmu wahai Muhammad,
maka sucikanlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah
ampunan kepada-Nya karena Dialah Dzat Yang Maha
Penerima Taubat .” Kemudian Umar ra. berkata : “saya tidak
mengetahui kandungan ayat itu melebihi apa yang kamu
katakan .” (HR.Bukhari)
3. Dari Aisyah ra., ia berkata : “Sesudah turun ayat : “IDZAA
JAA-A NASHRULLAAHI WAL FATH .” dalam salatnya beliau
membaca : “SUBHAANAKA RABBANA WABIHAMDIKA
ALLAAHUMMAGHFIRLII “ (Maha Suci Engkau wahai Tuhan
kami, dengan memuji-Mu ya Allah, ampunilah saya).”
(HR.Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Bukhari dan Muslim yang lain, Aisyah berkata :
“Rasulullah SAW sebelum meninggal dunia memperbanyak
bacaan : “SUBHANAKALLAHUMMA RABBANAA WABIHAMDIKA
ALLAAHUMMAGHFIRLII”, di dalam rukuk dan sujudnya, untuk
memenuhi perintah Al-Quran.
Dikatakan dalam riwayat Muslim, Rasulullah sebelum meninggal
memperbanyak bacaan : “SUBHANAKA WABIHAMDIKA
ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA” (Maha Suci Engkau Ya
Allah, saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu), kemudian
Aisyah bertanya : “Ya Rasulullah, apakah pengertian dari
bacaanmu ?” Beliau menjawab : “Saya diberi tanda tentang
umatku, bila saya melihat tanda itu, maka saya membaca
kalimat : “IDZAA JAA-A NASHRULLAAHI WAL FATH, sampai akhir
surat.”
Dalam riwayat Muslim yang lain disebutkan bahwa Rasulullah
SAW senantiasa memperbanyak bacaan : SUBHANAAKALLAAHI
WABIHAMDIHI ASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIH.” Aisyah
bertanya : “Wahai Rasulullah, mengapa engkau sekarang
memperbanyak bacaan : SUBHANAAKALLAAHI WABIHAMDIHI
ASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIH ?” Beliau menjawab :
“Tuhan telah memberi tahu bahwa bila saya melihat tanda
tentang umatku, maka saya memperbanyak bacaan :
SUBHANAAKALLAAHI WABIHAMDIHI ASTAGHFIRULLAAHA WA
ATUUBU ILAIH., dan aku benar-benar telah melihat tanda itu,
yaitu dengan turunnya surat yang artinya : “Apabila telah datang
pertolongan Allah dan kemenangan yaitu dengan dibukanya kota
Makkah, dan kamu melihat manusia itu , masuk agama Allah
dengan berbondong-bondong, maka bertasbilah dengan memuji
Tuhanmu dan memohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya
Dia adalah Maha Penerima Taubat .”
4. Dari Anas ra., ia berkata : “Sesungguhnya Allah selalu
menyambungkan wahyu kepada Rasulullah SAW, terutama
menjelang kewafatan beliau, sampai saat-saat
kewafatannya,beliau sering sekali menerima wahyu .”
(HR.Bukhari dan Muslim)
5. Dari Jabir ra., ia berkata, Nabi SAW bersabda : “Setiap
hamba itu akan dibangkitkan dari kuburnya sesuai dengan
keadaannya ketika dia mati .” (HR.Muslim)
Banyaknya jalan kebaikan
1. Dari Abu Dzarr Jundub bin Junadah ra., ia bertanya kepada
Rasulullah SAW : “Amal apakah yang paling utama ?” Beliau
menjawab : “Iman kepada Allah dan berjuang di jalan-Nya.”
Saya bertanya : “Memerdekakan budak yang bagaimana yang
paling utama ?” Beliau menjawab : “Memerdekakan budak
ketika sangat disayang oleh tuannya dan yang paling mahal
harganya .” Saya bertanya : “Seandainya saya tidak mampu
berbuat yang sedemikian, lalu bagaimana ?” Beliau menjawab
: “Kamu membantu orang yang bekerja atau kamu
menyibukkan diri agar hidupmu tidak sia-sia.” Saya bertanya
lagi : “Wahai Rasulullah, bagaimana jika saya tidak mampu
melakukan sebagian pekerjaan itu ?” Beliau menjawab : “
Janganlah kamu berbuat kejahatan kepada sesama manusia,
karena sesungguhnya yang demikian itu termasuk sedekah
untuk dirimu .” (HR.Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Dzarr ra., ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah
SAW bersabda : “Setiap pagi, pada ruas tulang kalian
terdapat sedekah, setiap ucapan tasbih (SUBHANALLAH)
adalah sedekah, setiap ucapan tahmid (ALHAMDULILLAH)
adalah sedekah, setiap ucapan tahlil (LAA ILAHA ILLALLAH)
adalah sedekah, setiap ucapan takbir ( ALLAHU AKBAR)
adalah sedekah, memerintah kebaikan adalah sedekah,
mencegah perkara mungkar (yang dibenci) adalah sedekah,
dan dua raka’at yang dikerjakan seseorang dalam salat Dhuha
telah mencakup semuanya .” (HR.Muslim)
3. Dari Abu Dzarr ra., ia berkata : Nabi SAW bersabda :
“Diperlihatkan kepadaku amal-amal perbuatan umatku, yang
baik maupun yang jelek. Aku mendapatkan dalam kelompok
amal perbuatan yang baik, di antaranya menghilangkan
gangguan dari jalan, dan aku mendapatkan dalam kelompok
amal perbuatan yang jelek, di antaranya, ingus yang
dibiarkan di masjid tanpa ditutupi atau dibuang .”
(HR.Muslim)
4. Dari Abu Dzarr ra., ia berkata: “Orang-orang protes kepada
Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah
memborong pahala, mereka mengerjakan shalat sebagaimana
kami shalat, dan mereka berpuasa sebagaimana kami
berpuasa. Tetapi mereka bersedekah dengan kelebihan harta
mereka.” Nabi bersabda: “Bukankah Tuhan telah menjadikan
sesuatu bagimu untuk sedekah? Sesungguhnya tiap-tiap
tasbih, tahmid, adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan,
melarang berbuat kemungkaran, dan bersetubuh (dengan
istrinya) adalah sedekah.” Mereka bertanya: “Wahai
Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami
mendapatkan pahala sedangkan ia mengikuti syahwatnya?”
Rasulullah bersabda: “Bukankah seseorang yang menyalurkan
syahwatnya pada yang haram ia berdosa? Maka demikian
pula apabila ia menempatkan syahwatnya itu pada yang halal,
ia akan mendapat pahala.” (HR. Muslim)
5. Dari Abu Dzarr ra., ia berkata: “Nabi SAW bersabda:
‘Janganlah sekali-kali engkau meremehkan suatu kebaikan,
walaupun hanya menemui saudaramu (sesama muslim)
dengan wajah yang ramah.’” (HR. Muslim)
6. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda:
‘Setiap ruas tulang manusia sebaiknya disedekahi (oleh
pemiliknya) setiap hari terbitnya matahari (sebagai
pernyataan syukur kepada Allah untuk keselamatan tulangtulangnya).
Dan macam sedekah itu banyak sekali, di
antaranya berlaku adil di antara dua orang (yang sedang
bertengkar), membantu teman ketika hendak menaiki
tunggangannya atau memuatkan barang temannya ke
punggungnya, ucapan yang baik, setiap langkah untuk
melakukan shalat, dan menyingkirkan sesuatu yang
membahayakan orang di jalan, adalah sedekah.’” (HR.
Bukhari dan Muslim)
7. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda:
‘Sesungguhnya setiap anak cucu Adam diciptakan sebanyak
360 ruas tulang. Maka siapa saja mengagungkan Allah
(membaca takbir), memuji Allah membaca hamdalah
(alhamdulillah), membaca tahlil (laa ilaaha illallaah),
membaca tasbih (subhanallah), membaca istighfar
(astaghfirullah), menyingkirkan batu dari jalanan,
menyingkirkan duri atau tulang dari jalan umum,
memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran,
hingga genap tiga ratus enam puluh kali, berarti pada sore
hari ia telah menjauhkan dirinya dari neraka.’” (HR Muslim)
8. Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW beliau bersabda: “Siapa
saja yang pergi ke masjid di pagi hari maupun sore hari, Allah
menyediakan hidangan surga baginya sepanjang pagi maupun
sore.” (HR Bukhari dan Muslim)
9. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda:
‘Wahai kaum muslimah, janganlah sekali-kali seorang
tetangga itu merasa terhina untuk memberi sedekah kepada
tetangganya, walaupun hanya berupa kikil kambing.’” (HR.
Bukhari dan Muslim)
10. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda:
“Iman itu mempunyai tujuh puluh atau enam puluh lebih
cabang, yang paling utama adalah ucapan: ‘LAA ILAAHA
ILLALLAAH’ (Tidak ada Tuhan selain Allah), dan yang paling
rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.
Sedangkan malu adalah cabang dari iman.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
11. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah
SAW bersabda: “Kali tertentu ada seorang laki-laki yang
berjalan. Di tengah perjalannya ia kehausan, ia menemukan
sebuah sumur maka iapun turun ke dalamnya dan
meminumnya. Kemudian ia keluar, tiba-tiba ada seekor anjing
yang menjilat-jilat tanah karena kehausan, lantas orang itu
berkata: ‘Anjing ini benar-benar kehausan sebagaimana
diriku.’ Kemudian ia turun lagi dan mengisi sepatunya dengan
air sampai penuh, kemudian ia menggigit sepatunya dan naik
ke atas lalu ia memberinya minum. Allah memuji perbuatan
orang itu karena menolong anjing dan Allah mengampuni
dosanya.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah
menolong binatang juga memperolah pahala?” Beliau
menjawab: “Menolong setiap makhluk yang mempunyai limpa
itu mendapatkan pahala.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan : “Allah memuji perbuatan
orang itu dan memberi ampunan kepadanya serta memasukkannya
ke dalam surga.” Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang lain
disebutkan : “Kali tertentu ada seekor anjing yang berputar-putar di
sekeliling sumur, ia hampir mati karena kehausan, ada seorang
penjahat dari Bani Israil yang melihat anjing itu. Melihat yang
demikian, ia melepaskan sepatunya dan mengambil air untuk
diminurnkan pada anjing itu. Karena perbuatannya itu, diampunilah
dosa-dosa penjahat itu.”
12. Dari Abu Hurairah ra., Nabi SAW bersabda: “Kulihat ada
seseorang yang bersenang-senang di dalam surga disebabkan
ia memotong dahan yang berada di tengan jalan karena
mengganggu kaum muslimin yang lewat. (HR. Bukhari)
Dalam riwayat lain : “Ada seseorang yang berjalan dan ia terganggu
sebuah dahan yang menghalanginya, kemudian ia berkata: ‘Demi
Allah saya akan menyingkirkan dahan ini dari jalan, agar tidak
mengganggu kaum muslimin yang lewat.’ Karena perbuatannya itu,
ia dimasukkan surga.”
Dalam riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan: “Ada seseorang
yang berjalan dan menemukan dahan yang berduri di jalan,
kemudian ia menyingkirkannya, maka Allah memuji orang itu dan
mengampuni dosa-dosanya.”
13. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Rasulullah SAW
bersabda: ‘Siapa saja yang berwudhu dengan sempurna,
kemudian menunaikan salat Jumat dan mendengarkan serta
memperhatikan khutbah, maka diampunilah dosa-dosa yang
dikerjakannya antara hari itu sampai hari Jumat berikutnya,
ditambah tiga hari berikutnya. Dan siapa saja yang
mempermainkan batu sewaktu ada khutbah maka sia-sialah
Jumatnya.’” (HR. Muslim)
14. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Rasulullah.SAW
bersabda: ‘Jika orang muslim atau mukmin itu berwudhu,
maka ketika ia membasuh mukanya, keluarlah setiap dosa
yang dilakukan oleh kedua matanya, karena melihat sesuatu
yang diharamkan. Hilangnya bersama-sama dengan air itu
atau bersama-sama dengan tetesan air terakhir. Jika ia
membasuh kakinya, maka keluarlah dosa yang diperbuat oleh
kedua kakinya, karena dipergunakan berjalan pada jalan yang
tidak benar, bersama-sama dengan air atau bersama-sama
dengan tetesan air terakhir, sehingga ia bersih dari dosa.’”
(HR. Muslim)
15. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW, bersabda : “Salat
lima waktu, antara salat Jumat yang satu ke salat Jumat
berikutnya, dan puasa pada bulan Ramadhan ke puasa
Ramadhan berikutnya, menjadi penebus atas dosa-dosa yang
dilakukan, selama dosa-dosa besar dijauhinya.” (HR. Muslim)
16. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah SAW bertanya:
“Maukah kalian kutunjukkan sesuatu yang dapat menghapus
dosa-dosa dan dapat mengangkat derajat (di surga)?” Para
sahabat menjawab: “Tentu saja, Ya Rasulullah.” “Yaitu
menyempurnakan wudhu pada waktu-waktu yang tidak
disukai, memperbanyak langkah ke masjid dan menunggu
salat setelah selesai salat. Itulah yang harus kalian
utamakan.” (HR. Muslim)
17. Dari Abu Musa Al-Asy’ari ra., ia berkata: Rasulullah SAW
bersabda: “Siapa saja yang selalu menjaga salat Subuh dan
salat Ashar niscaya ia masuk surga.” (HR. Rukhari dan
Muslim)
18. Dari Abu Musa Al-Asy’ari ra., ia berkata: Rasulullah SAW
bersabda: “Apabila seseorang menderita sakit atau sedang
bepergian, maka dicatatlah pahala baginya amal perbuatan
yang biasa dikerjakannya pada waktu tidak bepergian dan
pada waktu sehat.” (HR. Bukhari)
19. Dari Jabir ra., ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Setiap
perbuatan baik adalah sedekah.” (HR. Bukhari)
20. Dari Jabir ra., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:
“Seorang muslim yang menanam tanaman, kemudian ia
makan dari hasil tanaman itu termasuk sedekah baginya, juga
bila hasil tanaman itu dicuri atau diambil orang, maka ia
termasuk sedekah baginya.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan: “Seorang muslim yang menanam
tanaman atau menabur benih kemudian hasil tanamannya itu
dimakan oleh manusia, binatang, maupun sesuatu yang lain, maka
semua itu merupakan sedekah baginya sampai hari kiamat.”
21. Dari Jabir ra., ia berkata: “Orang-orang Bani Salimah ingin
berpindah rumah dekat dengan masjid, kemudian kabar itu
terdengar Rasulullah SAW maka beliau bersabda kepada
mereka: “Aku mendengar bahwa kalian ingin pindah tempat
yang dekat dengan masjid.” Mereka menjawab: “Benar wahai
Rasulullah, kami ingin pindah dekat dengan masjid.” Beliau
bersabda: “Wahai Bani Salimah tetaplah kamu di rumahmu
yang sekarang, karena bekas langkahmu akan dicatat.” (HR.
Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan : “Setiap langkah itu mengangkat satu
derajat.”
22. Dari Abul Mundzir Ubay bin Ka’ab ra., ia berkata: “Ada
seseorang yang sepanjang pengetahuan saya, tidak ada
seorang pun yang lebih jauh tempatnya dari masjid dan ia
tidak pernah tertinggal salat di masjid. Ada seseorang yang
menyarankan: “Seandainya kamu membeli keledai yang
dapat kamu naiki pada waktu gelap dan pada waktu panas,
niscaya kamu tidak begitu lelah.” la menjawab: “Saya tidak
suka bila rumah saya dekat dengan masjid. Sesungguhnya
saya menginginkan agar perjalanan saya, baik sewaktu pergi
ke masjid maupun pulang ke rumah, itu selalu dicatat.”
Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Allah telah
mengumpulkan semua catatan itu bagi kamu.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan: “Bagimu akan mendapatkan apa
yang kamu inginkan.”
23. Dari Abu Muhammad Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash ra., ia
berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Ada empat puluh
perbuatan, dan yang paling utama adalah mendermakan
seekor kambing untuk diperas susunya. Dan siapa saja yang
mengerjakan salah satu di antara empat puluh itu hanya
mengharapkan pahala dan melaksanakan apa yang pernah
dijanjikannya, niscaya Allah akan memasukkan surga karena
amalnya.” (HR. Bukhari)
24. Dari ‘Adiy bin Hatim ra., ia berkata: “Saya mendengar
Rasulullah SAW bersabda: “Takutlah kamu sekalian terhadap
api neraka walaupun hanya bersedekah dengan separuh biji
kurma.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan, sesungguhnya Rasulullah SAW
bersabda: “Salah seorang di antara kalian nanti akan berbicara
langsung dengan Tuhannya, padahal antara dia dengan Tuhannya
tidak ada penerjemah, kemudian ia melihat ke kanan tiada terlihat
kecuali amal yang pernah dilakukannya, kemudian ia melihat ke kiri
tiada terlihat kecuali api tepat di depan mukanya, maka takutlah
kalian terhadap api itu walaupun hanya bersedekah dengaan
separuh biji kurma. Siapa saja yang tidak mampu, maka cukup
dengan kata-kata yang baik.”
25. Dari Anas ra., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah ridha terhadap seseorang, yang apabila
makan makanan, ia memuji kepada-Nya.” (HR. Bukhari)
26. Dari Abu Musa ra. dari Nabi SAW beliau bersabda: “Setiap
orang Islam itu wajib bersedekah.” Salah seorang sahabat
bertanya: “Bagaimana jika ia tidak mempunyai apa-apa ?”
Beliau menjawab: “Hendaklah ia berbuat dengan kedua
tangannya, sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan bagi
dirinya dan dapat pula untuk di sedekahkan!” Ia bertanya:
“Bagaimana seandainya ia tidak mampu untuk berbuat seperti
itu?” Beliau menjawab: “Hendaklah ia membantu orang yang
sangat membutuhkan bantuannya!” Ia bertanya Iagi:
“Bagaimana seandainya ia tidak mampu memberi bantuan?”
Beliau menjawab: “Hendaknya ia menyuruh orang untuk
berbuat baik!” Ia bertanya lagi: “Bagaimana seandainya ia
juga tidak mampu untuk berbuat seperti itu?” Beliau
menjawab: “Hendaklah ia mencegah dirinya dari perbuatan
keji, karena mencegah dirinya dari perbuatan keji termasuk
sedekah!” (HR. Muslim)
Hemat dalam beribadah
1. Dari Aisyah ra., ia berkata : Sesungguhnya Nabi SAW masuk
ke rumah ‘Aisyah waktu itu ada seorang perempuan, dan
beliau bertarnya : “Siapakah dia?” ‘Aisyah menjawab : “Ini
adalah si Fulanah yang terkenal salatnya.” Nabi bersabda :
“Wahai fulanah, beramallah sesuai kemampuanmu. Demi
Allah, Dia tidak akan jemu untuk menerima amalmu, sehingga
kamu sendirilah yang merasa jemu. Sesungguhnya amalan
yang paling disukai Allah, yaitu yang dikerjakan secara terusmenerus.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Anas ra., ia berkata : “Tiga orang datang ke rumah isteri
Nabi SAW, mempertanyakan tentang ibadah Nabi SAW
Setelah diberitahu, mereka menganggap seakan-akan amal
ibadah Nabi itu hanya sedikit dan mereka berkata :
“Dimanakah tempat kami dibanding Nabi SAW, padahal beliau
telah diampuni semua dosanya baik yang telah lalu maupun
yang akan datang?” Salah seorang di antara mereka berkata :
“Saya selamanya salat sepanjang malam.” Yang lain berkata :
“Saya selamanya berpuasa.” Yang lain lagi berkata : “Saya
akan menjauhkan diri dari perempuan dan tidak akan kawin
selama-lamanya.” Kemudian Rasulullah SAW datang dan
bersabda kepada mereka: “Kalian tadi yang berbicara begini
dan begitu? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang
paling takut dan paling takwa kepada Allah di antara kalian,
tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku salat dan aku tidur
malam, aku juga mengawini perempuan. (Itulah sunahsunahku)
siapa saja yang benci terhadap sunnahku; maka ia
bukan termasuk golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata : Nabi SAW bersabda :
“Binasalah orang-orang yang keterlaluan dan berlebihlebihan.”
Beliau mengulanginya sebanyak tiga kali. (HR.
Muslim)
4. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda :
“Sesungguhnya agama itu mudah, dan siapa saja yang
mempersulitnya agama, maka ia akan kalah. Oleh karena itu
sedang-sedanglah, dekatkan diri kalian (kepada Allah) dan
bersuka hatilah kalian serta pergunakanlah waktu pagi, sore
serta sedikit dari waktu malam (untuk mendekatkan diri)!”
(HR. Bukhari)
Dalam riwayat lain dikatakan, Rasulullah SAW bersabda : “Sedangsedanglah,
dekatkanlah dirimu dan pergunakan waktu pagi dan
serta sedikit dari waktu malam. Bersahajalah, niscaya kalian akan
sampai tujuan.”
5. Dari Anas ra., ia berkata : Nabi SAW masuk ke dalam masjid
dan menemukan tali yang terpasang memanjang antara dua
tiang, beliau lantas bertanya : “Tali apakah ini?” Para sahabat
menjawab: “Zainab yang memasangnya, dan dipergunakan
tali ini digunakan sebagai pegangan bila terasa sampai dalam
salatnya. “Nabi SAW bersabda : “Lepaskanlah tali itu, jika di
antara kalian salat dalam keadaan segar, jika merasa capai,
tidurlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
6. Dari Aisyah ra., ia berkata : “Sesungguhnya Rasulullah SAW
bersabda : “Jika salah seorang di antara kalian mengantuk
dalam salatnya hendaklah ia tidur, sehinggga hilang rasa
kantuknya. Karena apabila seseorang di antara kalian salat
sedangkan ia mengantuk, maka ia tidak akan tahu, mungkin
ia bermaksud meminta ampun tetapi ia malahan mencela
dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
7. Dari Abu Abdullah Jabir bin Samurah As-SAWani ra., Ia
berkata : “Sering kali saya salat bersama Nabi SAW, tetapi di
dalam salat dan khutbah beliau tidak terlalu lama dan tidak
terlalu pendek.” (HR.Muslim)
8. Dari Abu Juhaifah Wahab bin Abdullah ra., ia berkata : “Nabi
SAW mempersaudarakan Salman dan Abu Darda’. Tatkala
Salman berkunjung ke rumah Abu Darda’, ia mendapatkan
Ummu Darda’ (isteri Abu Darda’) sedang mengenakan
pakaian kerja, lantas Salman bertanya : “Mengapa kamu tidak
berhias?” Ummu Darda’ menjawab : “Abu Darda’ sudah tidak
lagi memperhatikan kepentingan duniawi.” Kemudian Abu
Darda’ datang dan dihidangkanlah makanan, berkata kepada
Salman : “Silakan makan, saya sedang berpuasa.” Salman
menjawab : “Saya tidak akan makan sebelum engkau
makan.” Maka Abu Darda’ pun makan. Di malam harinya Abu
Darda’ bangun untuk mengerjakan salat malam, maka
Salman berkata kepadanya : “Tidurlah,” maka Abu Darda’ pun
tidur kembali. Ketika Abu Darda’ bangun guna mengerjakan
salat malam, namun Salman berkata kepadanya : “Tidurlah!”
Kemudian di akhir malam, Salman berkata : “Bangunlah! Kita
salat bersama-sama.” Dan Salman berkata pula kepadanya :
“Sesungguhnya bagi Tuhanmu ada hak, bagi dirimu ada hak,
dan bagi keluargamu ada juga hak, maka penuhilah
semuanya.” Kemudian Nabi SAW datang dan Salman
menceritakan apa yang baru saja terjadi, maka beliau
memutuskan: “Salman benar.” (HR. Bukhari)
9. Dari Abu Muhammad Abdullah bin Amr bin Ash ra., ia
berkata: Nabi SAW diberitahu tentang ucapanku, yaitu: “Demi
Allah, sungguh saya akan selalu berpuasa pada siang hari dan
bangun sepanjang malam untuk mengerjakan salat selama
saya hidup.” Kemudian Rasulullah SAW bertanya: “Kamukah
yang mengucapkan ucapan seperti itu?” Kemudian saya
menjawab: “Benar saya mengucapkannya.” Beliau bersabda:
“Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup untuk berbuat
demikian, maka berpuasalah dan berbukalah, tidur dan
bangunlah untuk salat, serta berpuasalah tiga hari setiap
bulan karena pahalanya dilipatkan sepuluh kali. Jadi, jika
setiap bulan kamu berpuasa tiga hari, maka itu seperti
berpuasa sepanjang masa.” la berkata, “Sesungguhnya saya
mampu untuk berpuasa melebihi tiga hari setiap bulan.”
Beliau menjawab : “(Kalau begitu) berpuasalah satu hari dan
berbukalah dua hari.” Itulah cara puasa Nabi Dawud as. dan
itu adalah puasa yang paling utama.”
Dalam riwayat lain, dikatakan : “Itu adalah puasa yang paling
utama.” Saya berkata lagi : “Sesungguhnya saya mampu untuk
puasa lebih dari itu.” Beliau bersabda : “Sungguh tidak ada puasa
melebihi keutamaan puasa Nabi Dawud.” Kemudian Abu
Muhammad berkata : “Seandainya saya dulu menerima anjuran
Rasulullah SAW berupa puasa tiga hari setiap bulannya maka itu
lebih saya sukai daripada keluarga dan harta benda.”
Dalam riwayat lain dikatakan, Rasulullah SAW bersabda : “Saya
mendengar bahwa kamu berpuasa sepanjang hari dan bangun
sepanjang malam untuk salat malam?” Saya menjawab : “Benar,
wahai Rasulullah.” Beliau bersabda : “Janganlah berbuat demikian.
Berpuasa dan berbukalah, tidur dan bangunlah untuk mengerjakan
salat! karena sesungguhnya tubuhmu, kedua matamu, isterimu dan
tamumu mempunyai hak. Cukuplah kamu berpuasa tiga hari setiap
bulannya, karena setiap satu kebaikan itu diberi balasan sepuluh
kali lipat. Dan jika kamu berpuasa tiga hari setiap bulannya berarti
kamu seperti berpuasa sepanjang masa.” Maka saya
memperberatnya sehingga aku diperberat. Saya bertanya: ‘”Wahai
Rasulullah, saya merasa masih kuat, Nabi menjawab, “Berpuasalah
seperti puasanya Nabi Dawud. Jangan lebih dari itu!” Saya bertanya
: “Bagaimana puasanya Nabi Dawud?” Beliau menjawab :
“Setengah masa.” Ketika Abdullah sudah tua ia berkata : “Aduh
menyesal sekali, sekiranya dahulu saya menerima keringanan yang
diberikan oleh Rasulullah SAW niscaya akan lebih baik bagiku.”
Dalam riwayat lain dikatakan : “Saya mendengar bahwa kamu
berpuasa sepanjang masa dan membaca Al-Quran sepanjang
malam, benarkah demikian?” Saya menjawab : “Benar wahai
Rasulullah, dan saya berbuat demikian tiada lain yang kuharapkan
adalah kebaikan.” Beliau bersabda : “Berpuasalah sebagaimana
puasa Nabi Dawud, karena dialah yang paling banyak ibadahnya di
antara manusia. Dan hatamkanlah Al-Quran itu setiap bulan sekali.”
Saya menyatakan : “Wahai Nabi Allah, saya kuat melebihi dari itu.”
Beliau bersabda : “Hatamkantah Al-Qur’an itu setiap dua puluh hari
sekali.” Ia berkata : “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya saya mampu
untuk berbuat lebih dari itu.” Beliau bersabda : “Hatamkanlah Al-
Qur’an itu setiap sepuluh hari sekali.” la tetap berkata : “Wahai Nabi
Allah, sesungguhnya saya mampu untuk berbuat lebih dari itu.”
Beliau bersabda : “Hatamkanlah Al-Qur’an setiap seminggu sekali
dan janganlah kamu berbuat Iebih dari itu.” Saya merasa sangat
kuat dan minta diberi tambahan, kemudian Nabi SAW bersabda :
“Sesungguhnya kamu tidak tahu, mungkin kamu dipanjangkan
umurmu.” Abdullah berkata : “Maka benarlah apa yang disabdakan
oleh Nabi SAW kepadaku. Ketika sudah tua, saya menyesal, kenapa
dulu tidak mau menerima keringanan yang diberikan oleh Nabi Allah
SAW”
Dalam riwayat lain Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya
anakmu mempunyai hak yang harus kau tunaikan.”
Dalam riwayat lain dikatakan, Rasulullah SAW bersabda : “Tidak
dikatakan puasa bagi orang yang berpuasa sepanjang masa.” Beliau
mengulanginya tiga kali.
Dalam riwayat lain Rasulullah SAW bersabda : “Puasa yang paling
disukai Allah adalah puasanya Nabi Bawud, salat yang paling disukai
oleh Allah Ta’ala cara salat Nabi Dawud di mana beliau tidur sampai
tengah malam dan bangun pada sepertiganya kemudian tidur Iagi
pada seperenam malam terakhir. Beliau berpuasa sehari serta
berbuka sehari, dan tidak pernah lari ketika bertemu dengan
musuh.
Dalam riwayat lain dikatakan : “Abdullah berkata : “Ayahku telah
mengawinkan aku dengan wanita bangSAWan, dan ayahku selalu
mendatangi isteriku dan menanyakan keadaanku, kemudian isteriku
menjawab : “Suamiku adalah sebaik-baik orang laki-laki, hanya
saja tidak pernah tidur bersama dan juga tidak begitu
memperhatikan keadaan isterinya sejak saya di sini.” Setelah hal itu
berjalan lama, kemudian ayah memberitahukan kepada Nabi SAW,
maka beliau bersabda : “Hadapkan dia padaku!” Saya lalu
menghadap, dan beliau bertanya : “Bagaimanakah cara kamu
berpuasa?” Saya menjawab : “Setiap hari.” Beliau bertanya :
“Bagaimana kamu menghatamkan Al-Quran?” Saya menjawab:
“Setiap malam.” Kemudian Abdullah melanjutkan hadisnya
sebagaimana di atas. (Semua riwayat hadis ini terdapat dalam
Sahih Bukhari dan Muslim)
10. Dari Abu Rib’i Handzalah bin Robi’ Al-Usayyidiy, salah
seorang sekretaris Rasulullah SAW, ia berkata : Saya bertemu
dengan Abu Bakar ra., kemudian ia bertanya :
“Bagaimanakah keadaanmu, hai Handzalah?” Saya menjawab
: “Handzalah kini telah munafik.” Abu Bakar mengaku :
“SUBHAANALLAH, Apa yang kamu katakan?” Saya
menjelaskan : “Kalau kami di hadapan Rasulullah SAW
kemudian beliau menceritakan tentang surga dan neraka,
maka seakan-akan kami melihat dengan mata kepala, tetapi
bila kami pergi dari beliau dan bergaul dengan isteri dan
anak-anak serta mengurusi berbagai urusan maka kami
sering lupa.” Abu Bakar berkata : “Demi Allah, kami juga
begitu.” Kemudian saya dan Abu Bakar pergi menghadap
Rasulullah SAW lalu saya berkata : “Wahai Rasululah,
Handzalah telah munafik.” Rasulullah SAW bertanya :
“Mengapakah demikian?” Saya berkata : “Wahai Rasulullah,
apabila kami berada di hadapanmu kemudian engkau
menceritakan tentang neraka dan surga, maka seolah-olah
kami melihat dengan mata kepala, namun bila kami keluar
dan bergaul bersama isteri dan anakanak serta mengurusi
berbagai macam persoalan, maka kami sering lupa.”
Rasulullah SAW bersabda : “Demi Zat yang jiwaku berada
dalam genggaman-Nya, seandainya kamu tetap sebagaimana
keadaanmu di hadapanku dan mengingat-ingatnya niscaya
para maiaikat akan menjabat tanganmu di tempat tidurmu
dan di jalan. Tetapi, hai Handzalah sesaat dan sesaat.” Beliau
mengulanginya sampai tiga kali.” (HR. Muslim)
11. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata : Tatkala Nabi SAW
berkhutbah tiba-tiba ada seorang lelaki berdiri, kemudian
beliau menanyakannya. Para sahabat menjawab : “Dia adalah
Abu Israil, ia bernazar akan berdiri pada waktu panas, tidak
akan duduk, dan tidak akan berteduh juga tidak akan
berbicara sedangkan dia sedang berpuasa.” Kemudian Nabi
SAW bersabda: “Perintahkanlah dia supaya berbicara,
berteduh, duduk, dan perintahkanlah dia supaya
menyempumakan puasanya!” (HR. Muslim)
Menjaga amal-amal
1. Dari ‘Aisyah, ia berkata : Rasululah SAW bersabda :
“Perbuatan baik yang paling disukai Allah perbuatan yang
terus-menerus dikerjakan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Umar bin Khaththab ra., ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda: “Siapa saja yang tertidur tidak membaca hizibnya
(bacaan wirid yang biasa dibacanya) atau bacaan lainnya
pada waktu malam kemudian ia membacanya pada waktu
antara salat Subuh dengan Dzuhur (waktu pagi), maka ditulis
baginya seolah-olah ia membaca pada waktu malam.” (HR.
Muslim)
3. Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash ra., ia berkata : Rasulullah
SAW bersabda : “Wahai Abdullah, janganlah kamu seperti si
fulan, tadinya ia suka bangun untuk salat malam, kemudian ia
meninggalkan salat malamnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW apabila tidak
mengerjakan salat malam, baik disebabkan sakit atau yang
lain, maka beliau mengerjakannya pada waktu siang dengan
dua belas rakaat.” (HR. Muslim)
Menjaga sunnah – sunnah Nabi SAW
1. Dari Abu hurairah ra. Dari Nabi SAW beliau bersabda :
“Biarkanlah jangan kalian pertanyakan suatu hukum
meninggalkannya (selagi aku tidak menerangkan hukumnya)
pada kalian. Sebab, orang-orang sebelum kalian celaka,
karena banyaknya bertanya dan perselisihan mereka dengan
para Nabi. Jadi, apabila aku mencegah sesuatu kepada kamu,
maka jauhilah, dan apabila aku mememrintahkan kamu
sesuatu maka kerjakanlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Najih Al-‘Irbadh bin Sariyah ra., ia berkata :
Rasulullah SAW memberi nasihat kepada kami. Nasihat itu
menggetarkan hati dan mencucurkan air mata kami. Maka
kami bertanya: “Wahai Rasulullah, nasihat itu seakan-akan
merupakan nasihat merupakan nasihat yang terakhir, maka
berilah kami wasiat.” Beliau bersabda :”Aku wasiatkan
kepadamu agar tetap selalu bertakwa kepada Allah Yang
Maha Tinggi dan Maha Mulia, serta tetap mendengar perintah
dan taat, walaupun yang memerintah kalian itu seorang
budak. Sesungguhnya orang yang masih hidup diantaramu,
akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib atasmu
memegang teguh akan sunnahku dan sunnah Khulafaur
Rasyidin yang diberi petunjuk oleh Allah. Dan berpegang
teguhlah pada sunnah itu dan jauhilah urusan-urusan yang
dibuat-buat (bid’ah) sesungguhnya setiap bid’ah itu
sesat.”(HR Abu Daud dan At-Tirmidzi)
3. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda
: “Semua umatku masuk surga, kecuali orang-orang yang
berpaling.” Ada yang bertanya : “Wahai Rasulullah, siapa saja
mereka?” Rasulullah SAW bersabda :”Siapa saja yang taat
kepadaku pasti masuk surga. Dan siapa saja mendurhakaiku
dialah termasuk orang-orang yang berpaling.” (HR Bukhari)
4. Dari Abu Muslim, ada yang mengatakan Abu Iyas Salamah bin
‘Amr Al-Akwa’ra., ia berkata : Ada seorang laki-laki makan di
hadapan Rasulullah SAW dengan tangan kirinya, kemudian
beliau bersabda : ”Makanlah dengan tangan kananmu!” Ia
menjawab : “Saya tidak dapat makan dengan tangan kanan.”
Beliau bersabda lagi : “Tidak, sebenarnya kamu bisa, yang
menyebabkanmu tidak mau menggunakan tangan kanan
karena kesombonganmu.” Akhirnya, ia tidak dapat
mengangkat tangannya ke mulutnya.” (HR. Muslim)
5. Dari Abu Abdullah Nu’man bin Basyir ra’, ia berkata :”Saya
mendengar Rasulullah SAW bersabda :”Luruskanlah dan
samakanlah barisan shalatmu, atau kalau tidak, niscaya Allah
akan benar-benar merubah bentuk wajahmu.” (HR. Bukhari
dan Muslim)
Dalam riwayat Muslim dikatakan :”RasulullahSAW Senantiasa
meluruskan shaf-shaf kami, seakan-akan beliau meluruskan kayukayu
panah. Kemudian ketika beliau menganggap bahwa kami
sudah mengerti, pada suatu hari beliau keluar langsung siap untuk
salat, tetapi beliau melihat ada seseorang yang dadanya menonjol
ke depan, kemudian beliau bersabda : ”Wahai hamba Allah, kamu
semua harus benar-benar meluruskan barisanmu, atau kalau tidak,
niscaya Allah akan benar-benar merubah bentuk wajahmu.”
6. Dari Abu Musa ra’, ia berkata :”Pada suatu malam di Madinah
ada satu rumah terbakar disebabkan penghuninya lalai.
Ketika peristiwa tersebut diceritakan kepada Rasulullah SAW,
beliau bersabda : ”Sesungguhnya api ini bisa menjadi musuh
bagi kalian, maka dari itu, jika kalian tidur, padamkanlah api
itu (lampunya).” (HR Bukhari dan Muslim)
7. Dari Abu Musa ra., ia berkata :Rasulullah SAW bersabda :
”Sesungguhnya perumpamaan petunjuk dan ilmu yang
ditugaskan oleh Allah untukku menyiarkannya adalah
bagaikan hujan yang jatuh ke bumi. Sebagian bumi ada yang
baik, sehingga dapat menerima air dan menyimpannya
kemudian menumbuhkan rerumputan dan tetumbuhan yang
lain. Sebagian ada yang kering tapi dapat menyimpan air lalu
Allah memberikan manfaat kepada manusia dengan bumi
yang kering yang mengandung air itu, sehingga manusia
minum, menyiram dan bertanam darinya. Sebagian lagi
adalah tanah berbatu yang tidak bisa menyimpan air dan
tidak dapat pula menumbuhkan rerumputan. Demikianlah
perumpaman orang yang pandai dengan agama Allah dan
ilmu atau petunjuk-petunjuk dari Allah yang bisa memberi
manfaat pada dirinya, dia belajar hingga pandai lalu
mengajarkan ilmunya (kepada orang lain). Demikian pula
perumpamaan orang yang tidak peduli yang tidak dapat
menerima petunjuk ajaran Allah yang diutuskan untukku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
8. Dari Jabir ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Perumpamaan diriku di antara kalian adalah bagaikan
seorang laki-laki yang menyalakan api, lalu mulailah laronlaron
dan serangga-serangga mengerumuni api. Sementara
itu, laki-laki tersebut mencegat laron dan serangga-serangga
itu, jangan sampai tercebur ke dalam api. Saya akan selalu
menarik kalian dari belakang,jangan sampai kalian tercebur
kedalam api, tetapi (diantara) kalian memberontak lepas dari
tanganku.” (HR Muslim)
9. Dari Jabir ra., ia berkata :”Sesungguhnya Rasulullah SAW
menyuruh untuk membersihkan tangan dan piring ketika
makan. Beliau bersabda : “Sesungguhnya kalian tidak tahu
dimana letak keberkahan makanan itu.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan, Rasulullah SAW bersabda : “Jika
makanan salah seorang di antara kamu jatuh, hendaklah ia
mengambilnya dan membersihkan kotoran yang melekat kemudian
makanlah, dan jangan biarkan makanan itu untuk setan. Dan
janganlah kamu membersihkan tangan dengan sapu tangan
sebelum membersihkan jari-jari tangan dengan mulut, karena
sesungguhnya ia tidak tahu di mana letak keberkahan makanan
itu.”
Dalam riwayat lain dikatakan, Rasulullah SAW bersabda : “Setan itu
selalu hadir menyertai salah seorang di antara kalian dalam segala
hal, juga ketika ia makan. Oleh sebab itu, jika makanan salah
seorang di antara kalian itu terjatuh, maka hendaklah ia
membersihkan kotoran yang melekat kemudian makanlah dan
janganlah ia meninggalkan makanan itu untuk setan.”
10. Dari Ibnu Abbas ra’, ia berkata : ”Rasulullah SAW berdiri
di tengah-tengah kami untuk memberi nasihat : “Hai sekalian
manusia, sesungguhnya kalian akan dikumpulkan di hadapan
Allah Ta’ala dalam keadaan telanjang bulat dan tidak beralas
kaki sebagaimana pertama kali kita diciptakan. Itu adalah
janji Allah untuk kita dan sesungguhnya janji itu pasti akan
dilaksanakan. Ingatlah! Sesungguhnya pertama kali makhluk
yang diberi pakaian kelak di hari kiamat adalah Nabi Ibrahim
as. Ingatlah! Sesungguhnya nanti akan ada dari umatku yang
didatangkan dari sebelah kiri dan mereka akan disiksa,
kemudian aku berkata : “Wahai Tuhanku, mereka itu adalah
umatku.” Allah berfirman : “Sesungguhnya kamu tidak
mengetahui apa yang diperbuat mereka sepeninggalanmu.”
Maka saya berkata sebagaimana perkataan Nabi yang lain :
“Sesungguhnya saya menjadi saksi mereka selama saya
berada di sisi mereka dan sesudah saya mati, Engkau pulalah
yang mengetahui segala sesuatuanya. Apabila engkau
menyiksa mereka maka sesungguhnya mereka adalah
hamba-Mu dan jika Engkau mengampuni mereka maka
sesungguhnya engkau adalah Zat Yang Maha Mulia lagi Maha
Bijaksana.” Kemudian aku diberitahu :”Sesungguhnya mereka
itu murtad dari agama Islam semenjak engkau tinggalkan
mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
11. Dari Abu Said Abdullah bin Mughaffal ra’, ia berkata :
“Rasulullah SAW melarang bermain ketepil dan bersabda :
“Ketepil itu tidak dapat membunuh binatang buruan, dan
tidak dapat untuk melukai musuh, hanya saja ia akan
mencukil mata dan mematahkan gigi.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Dalam riwayat lain. Rasulullah SAW bersabda : “Kerabat Ibnu
Mughaffal ada yang bermain ketepil kemudian ia dilarangnya dan
dikatakan, bahwa Rasulullah SAW melarang untuk bermain ketepil,
dan ia mengatakan pula bahwa ketepil itu tidak dapat digunakan
untuk berburu. Setelah itu mereka masih tetap terus bermain
ketepil. Akhirnya ia berkata : “Kata telah saya beri tahu, bahwa
Rasulullah SAW melarang bermain ketepil, oleh sebab itu saya tidak
akan berbicara lagi denganmu selamanya.”
12. Dari ‘Abbas bin Rabi’ah, ia berkata : “Saya pernah
melihat Umar bin Khattab ra. Mencium Hajar Aswad, seraya
berkata: “Aku tahu engkau adalah batu, engkau tidak bisa
memberi manfaat dan tidak pula membahayakan. Seandainya
aku tidak pernah dan tidak pula membahayakan. Seandainya
aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW menciummu, tentu
akupun tidak menciummu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Wajib melaksanakan hukum-hukum
Allah
1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Ketika Rasulullah SAW
menerima ayat : “LILLAHI MAA FIS SAMAAWAATI WAMAA FIL
ARDHI WA INTUBDUU MAA FII ANFUSIKUM AU TUKHFUUHU
YUHAASIBKUM BIHILLAH” (Kepunyaan Allahlah apa yang ada
di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu
mengungkapkan apa yang ada di dalam hatimu atau
menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat
perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu). Para
sahabat Rasulullah SAW merasa berat dengan kandungan
ayat tersebut. Kemudian mereka menemui Rasulullah sambil
berjongkok dan berkata : “Wahai Rasulullah, kami dapat
melakukan amal-amal yang dibebankan kepada kami sekuat
tenaga, yaitu salat, jihad, berpuasa dan sedekah, tetapi
mengenai kandungan ayat ini, kami merasa tidak mampu
untuk melaksanakannya. “Beliau bersabda: “Apakah kamu
akan berkata seperti yang dikatakan oleh para ahli kitab
sebelummu. Mereka mengatakan ‘Kami mendengar dan kami
melanggarnya’. Janganlah seperti mereka, tetapi katakanlah
:”SAMI’NAA WA ATHA’NAA GHUFRANAAKA RABBANAA WA
ILAKIAL MASHIIR” (Kami mendengar dan kami mentaatinya.
Ampunilah kami wahai Tuhan kami dan kepada Engkaulah
tempat kami kembali). Ketika ayat tersebut dibaca dan lidah
mereka terasa ringan untuk membacanya, kemudian Allah
Ta’ala menurunkan ayat selanjutnya :”AAMANAR RASUULU
BIMAA UNZILA ILAIHI MIN RABBIHI WAL MU’MINUUNA
KULLUN AAMANA BILLAAHI WA MALLA-IKATIHI WA KUTUBIHI
WARUSULUHI LAA NUFARRIQU BAINA AHADIM MIRRUSULIHI
WA QAALUU SAMI’NA WA ATHA’NA GHUFRANNAKA
RABBANAA WA ILAIKAL MASHIIR” (Rasul telah beriman
kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya,
demikianlah pula orang-orang yang beriman. Semuanya
beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya
dan rasul-rasul-Nya.” (Mereka mengatakan) : ”Kami tidak
membeda-bedakan antara seorang (dengan yang lain) dari
rasul-rasul-Nya, dan mereka mengatakan: “Kami
mendengarkan dan kami mentaati.” (Mereka Berdoa) :
“Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah
tempat kembali). “Ketika mereka telah melakukan kandungan
ayat tersebut, kemudian Allah Ta’ala memasuhkan kandungan
ayat selanjutnya yaitu : ”LAA YUKALLIFULLAAHU NAFSAN
ILLAA WUSAHAA LAHAA MAA KASABAT WA’ALAIHA
MAKTASABAT. RABBANAA LAA TUAAKHIDZNAA IN NASIINA
AU AKHTA’NAA” (Allah tidak memebebani seseorang
melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat
pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat
siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa)
:”Ya Tuhan kami janganlah Engkau hukum kami jika kami
lupa atau kami bersalah).
Di jawab: “Ya”,”RABBANAA WALAA TAHMIL ‘ALAINAA ISHRAN
KAMAA HAMALTAHU ‘ALAL LADZIINA MIN QABLINAA” (“Ya
Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban
yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orangorang
sebelum kami). Dijawab : “Ya”,”RABBANAA WA LAA
TUHAMMILNAA MAA LAA THAAQATA LANAA BIH” (Ya Tuhan
Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami
tidak sanggup memikulnya). Dijawab : “Ya”, “WA’FU ‘ANNAA
WAGHFIR LANAA WARHAMNAA ANTA MAULAANA
FANSHURNAA ‘ALAL QAUMIL KAAFIRIIN” (Beri maaflah kami,
ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong
kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir).
Dijawab :”Ya.” (HR. Muslim)
Bid’ah
1. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata, Rasulullah SAW bersabda : “Siapa
saja yang menngada-ada tentang sesuatu dalam urusan
(agama) kami, yang tidak kami perintahkan, maka hal itu
ditolak.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda : “Siapa saja
yang mengerjakan suatu pekerjaan yang tidak cocok dengan syariat
kami, maka ditolak.”
2. Dari Jabir., ia berkata : “Apabila Rasulullah SAW berkhutbah,
kedua matanya memerah, suaranya dan kelihatan sangat
marah seakan-akan beliau seorang panglima yang kejam,
seraya bersabda : “(Hati-hatilah) Dari pagi sampai sore
musuh mengancam kalian!” Selanjutnya beliau bersabda :
“Aku diutus sedangkan hari kiamat itu bagaikan dua jari ini,
sambil mensejajarkan jari telunjuk dan jari tengah. Beliau
bersabda : “Ketahuilah bahwa sebaik-baik petunjuk adalah
petunjuk Muhammad SAW dan sejelek-jelek perkara agama
sepeninggalku adalah melakukan sesuatu yang baru dalam
agama, yang demikian itu disebut bid’ah dan setiap bid’ah itu
pasti sesat.” Selanjutnya bersabda : “Aku lebih utama (dalam
segala hal) dibanding orang mukmin yang lain. Siapa saja
meninggalkan hutang atau keluarga yang tersia-sia, maka
sayalah walinya atas tanggungan.” (HR. Muslim)
Orang yang pertama kali melakukan
kebaikan dan kejahatan
1. Dari Abu ‘Amr Jarir bin Abdullah ra., ia berkata : “Suatu siang
kami bersama-sama Rasulullah SAW, tiba-tiba datanglah
serombongan orang tak beralas kaki, berkemul kain wol yang
dilubangi pada bagian kepala dan bersenjatakan pedang.
Mereka kebanyakan dari suku Mudhar, bahkan semuanya dari
suku Mudhar. Melihat kemiskinan yang mereka derita,
berubahlah wajah Rasulullah SAW, beliau kemudian masuk
rumah dan segera keluar lagi, kemudian menyuruh bilal untuk
mengumandangkan adzan dan ikamah, sesudah
menyelesaikan salatnya beliau bersabda: “Wahai sekalian
manusia, bertakwalah kalian kepada Tuhanmu yang telah
menciptakan kamu dari seorang diri, daripadanya Allah
menciptakan istri, dan dari keduanya Allah
memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang
banyak. Dan bertakwalah kamu kepada Allah yang dengan
mempergunakan nama-Nya, kalian saling meminta satu sama
lain, serta peliharalah hubungan silaturrahim. Sesungguhnya
Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian.” Beliau juga
menyampaikan firman Allah yang lain yang artinya : “Wahai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu semua kepada
Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah
diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). “Seusai beliau
berpidato, ada seseorang yang bersedekah dengan sebagian
dinarnya, dirham, pakaian, satu gantang gandul dan dengan
satu gantang kormanya sehingga Jarir mengatakan : “Bahkan
tidak ada yang ingin ketinggalan sekalipun hanya bersedekah
dengan separuh biji kurma.” Kemudian datanglah seorang
sahabat Anshar yang membawa pundi-pundi besar, hampir
saja ia tidak kuat untuk mengangkatnya, yang diikuti oleh
para sahabat yang lain. Akhirnya, saya melihat wajah
Rasulullah SAW tampak sangat gembira sehingga berkilauan
seperti emas, beliau kemudian bersabda : “Siapa saja yang
yang pertama memberi contoh prilaku yang baik dalam Islam,
maka ia mendapatkan pahala kebaikannya dan mendapatkan
pahala orang-orang yang meniru perbuatannya itu tanpa
dikurangi sedikitpun. Dan siapa saja yang pertama memberi
contoh perilaku yang jelek dalam Islam, maka ia
mendapatkan dosa kejahatan itu dan mendapatkan dosa
orang yang meniru perbuatannya tanpa dikurangi sedikitpun.”
(HR Muslim)
2. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah
SAW bersabda : “Tiap-tiap jiwa yang terbunuh dengn
penganiayaan, maka putra Adam yang pertama (Qabil),
mendapat bagian dari dosa penumpahan darah, karena dialah
orang pertama yang melakukan pembunuhan.” (HR Bukhari
dan Muslim)
Ajakan kepada yang benar dan yang
sesat
1. Dari Ibnu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr Al-Anshariyah Al-Badriy ra.,
ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Siapa saja yang
menunjukkan (mengajak) kepada kebaikan, maka ia
mendapat pahala seperti pahala orang yang mengerjakan
kebaikan itu.” (HR Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah
SAW bersabda : “Siapa saja yang mengajak kepada
kebenaran, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang
yang mengerjakannya tanpa dikurangi sedikitpun. Dan siapa
saja yang mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapat
dosa seperti dosa orang yang mengerjakannya tanpa
dikurangi sedikitpun.” (HR Muslim)
3. Dari Baul ‘Abas Sahl bin Sa’Ad As-Sa’idiy ra., ia berkata :
Ketika perang Khaibar Rasulullah SAW bersabda : “Esok akan
kuserahkan panji ini kepada seseorang. Allah akan
memberikan kemenangan melalui tangannya. Ia mencintai
Allah dan Rasul-Nya, Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya.”
Semalaman orang-orang ramai membicarakan, siapakah
gerangan di antara mereka yang akan diserahi panji itu.
Keesokan harinya Rasulullah SAW bersabda : “Di manakah Ali
bin Abi Thalib ?” seseorang menjwab : “Wahai Rasulullah, ia
sedang sakit mata. “Beliau bersabda : Panggillah ia kemari.”
Setelah dihadapannya, Rasulullah SAW meludahi kedua
matanya dan mendoakannya. Lalu sembuhlah penyakit itu
seakan-akan ia tidak pernh sakit mata, kemudian ia diberi
panji. Ali ra. Bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah saya harus
memerangi mereka sampai bersaksi bahwa tidak ada Tuhan
selain Allah?” Beliau menjawab : “Laksanakanlah dengan
tenang, sehingga kamu sampai di daerah mereka, lalu ajaklah
masuk agama Islam dan beritahukanlah kepada mereka
tentang hak Allah Ta’ala yang harus mereka laksanakan. Demi
Allah, seandainya Allah memberi petunjuk disebabkan
ajakanmu, itu lebih bik bagimu daripada memperoleh
rampasan perang berupa ternak-ternak yang paling bagus.”
(HR Bukhari dan Muslim)
4. Dari Anas ra., ia berkata : Seorang pemuda dari suku Aslam
berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya ingin ikut
berperang, tetapi tidak mempunyai bekal. “Beliau bersabda :
“Datangalah kepada si Fulan karena ia suah mempersiapkan,
tetapi ia sakit. “ Kemudian pemuda itu datang ke tempat si
Fulan dan berkata : “Rasulullah mengucapkan salam untuk
kamu, “ kemudian melanjjutkan perkataannya : “Berikanlah
perbekalan perangmu untukku.” Kemudian si Fulan tadi
berkata : “Wahai istriku, berikanlah perbekalan yang telah
aku siapkan dan jangan kamu simpan sedikitpun demi Allah,
jangan kamu simpan sedikitpun bekal yang telah
kupersiapkan, karena hal itu pasti akan membawa berkah
bagi dirimu!” (HR Muslim)
Tolong menolong dalam kebajikan dan
takwa
1. Dari Abu Abdirrahman bin Zaid bin Khalid Al-Juhaniy ra., ia
berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Siapa saja yang
menyediakan perbekalan perang di jalan Allah, maka ia
disamakan dengan perang, dan siapa saja yang tidak ikut
perang lalu menjaga baik-baik keluarga yang ditinggalkan
orang yang ikut perang, berarti ia ikut berperang.” (HR
Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Sa’id Al-Khudry ra., ia berkata : Rasulullah SAW
mengutus sepasukan tentara ke Bani Lihyan yang termasuk
suku Huzail, kemudian beliau bersabda : “Hendaknya tiap dua
orang dalam satu keluarga, yang satu keluar dan yang lain
menjaga keluarga-keluarga yang ditinggal, niscaya pahalanya
terbagi antara keduanya sama.”
3. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata : Rasulullah SAW bertemu
dengan sebuah rombongan di Rauha’, kemudian beliau
bertanya: “Siapakah kalian ini?” mereka menjawab: “Kami
umat Islam.” Mereka balik bertanya: “Siapakah engkau?”
Beliau menjawab: “Rasulullah.” Tiba-tiba ada seorang wanita
yang mengangkat anaknya sambil bertanya : “Apakah sah
hajinya anak ini? “ Beliau menjawab : “Ya, dan pahalanya
untukmu.” (HR Muslim)
4. Dari Abu Musa Al’Asy’ariy ra., dari Nabi SAW beliau bersabda
: “Seorang muslim yang menjadi bendahara, adalah orang
yang dapat dipercaya. Ia melaksanakan tugas yang
dilimpahkan dengan sempurna dan senang hati, serta
memberikan sesuatu kepada siapa yang diperintahkan, maka
ia termasuk salah seorang yang mendapat pahala
bersedekah.” (HR Bukhari dan Muslim)
Nasihat
1. Dari Abu Ruqayyah Tamin bin Aus Ad-Daariy ra., ia berkata :
“Nabi SAW bersabda : “Agama itu adalah nasihat. “Kami
bertanya: ‘Bagi siapa?: Belaiu bersabda : “Bagi Allah, kitab-
Nya, Rasul-Nya, pemimpin-pemimpin umat Islam dan umat
Islam pada umumnya.” (HR. Muslim)
2. Dari Jarir bin Abdullah ra., Ia berkata : “Saya berbai’at
kepada Rasulullah SAW untuk senantiasa mengerjakan shalat,
menunaikan zakat dan memberi nasihat kepada sesama
muslim.” (HR Bukhari dan Muslim)
3. Dari Anas ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Tidaklah
sempurna iman seseorang di antara kalian sebelum ia
mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya
sendiri.” (HR Bukhari dan Muslim)
Amar ma’ruf dan nahi munkar
1. Dari Abu Sa’id Al-Khudriy ra., ia berkata : “Saya mendengar
Rasulullah SAW bersabda : “Siapa saja di antara kalian
melihat kemunkaran, maka ubahlah dengan tangannya,
apabila ia tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya, bila
ia tidak mampu, ubahlah dengan hatinya, dan itu adalah
paling lemahnya iman.” (HR.Muslim)
2. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Nabi-nabi yang diutus sebelumku pasti didampingi sahabatsahabat
yang setia. Mereka mengikuti sunnahnya dan
mengerjakan apa yang diperintahkan. Sesudah mereka,
muncullah orang-orang yang suka berbicara dan tidak suka
beramal, mereka berbuat sesuatu yang tidak diperintahkan.
Siapa saja yang memerangi mereka dengan tangannya
(kekuasaannya), maka ia adalah orang yang beriman, siapa
saja yang memerangi mereka dengan lisannya, maka ia
adalah orang yang beriman dan siapa saja yang memerangi
mereka dengan hatinya, maka ia juga orang yang beriman.
Selain dari itu, maka tidak ada lagi iman walaupun sebesar
biji SAWi.” (HR.Muslim)
3. Dari Abul Walid ‘Ubadah bin Shamit ra., ia berkata : “Kami
berbai’at kepada Rasulullah SAW untuk selalu mendengar dan
taat, baik dalam kesusahan maupun dalam kesenangan, baik
pada yang disenangi maupun yang dibenci, bahkan terhadap
perebutan kekuasaan atas kami, dan kami berbai’at pula
untuk tidak menentang pemerintahan dari yang berhak
kecuali terbukti adanya pelanggaran yang jelas sesuai adanya
dalil-dalil yang datangnya dari Allah Ta’ala, serta kami
berbai’at untuk selalu berkata benar di mana saja kami
berada. Kami tidak takut terhadap celaan siapapun dalam
membela (agama) Allah.” (HR.Bukhari dan Muslim)
4. Dari Nu’man bin Basyir ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda :
“Perumpamaan orang yang selalu melaksanakan hukumhukum
Allah dan orang yang terjerumus1 di dalamnya,
bagaikan orang yang membagi tempat di dalam kapal,
sebagian mendapat bagian di atas dan sebagian di bawah.
Ketika orang-orang yang di bawah membutuhkan air, mereka
harus naik ke atas, tentunya akan mengganggu orang yang di
atas. Sehingga (yang di bawah) berkata : “Kami akan
melubangi kapal ini agar tidak mengganggu orang-orang yang
berada di atas.” Jika yang di atas membiarkan hal itu, niscaya
semuanya akan binasa, tetapi jika yang di atas menyadari
dan mencegah mereka yang di bawah, maka semua akan
selamat.” (HR.Bukhari)
1 Salah dalam memahami atau mempergunakannya
5. Dari Ummul Mukminin Ummu Salamah Hindun binti Abu
Umayyah Hudzaifah ra. dari Nabi SAW, beliau bersabda :
“Sesungguhnya akan diangkat untuk kalian beberapa
penguasa dan kalian akan mengetahui kemunkarannya. Maka
siapa saja yang benci bebaslah ia, dan siapa saja yang
mengingkarinya, maka selamatlah ia, tetapi orang yang
senang dan mengikuti, maka tersesatlah ia.” Para sahabat
bertanya : “Apakah tidak sebaiknya kita memerangi mereka?”
Beliau menjawab : “Jangan, selama mereka masih
mengerjakan salat bersamamu.” (HR.Muslim)
6. Dari Ummul Mukminin Ummul Hakam Zainab binti Jahsy ra.,
ia berkata : “Nabi SAW masuk ke rumah dengan perasaan
cemas seraya bersabda : “Tidak ada Tuhan selain Allah,
hendaknya bangsa Arab harus selalu waspada terhadap
bencana yang hampir menimpanya, di mana saat ini telah
terbuka tirai Ya’juj dan Ma’juj sebesar ibu jari. Saya bertanya
: “Wahai Rasulullah, apakah kami akan binasa sedangkan di
tengah-tengah kami banyak orang-orang yang berbuat
kebajikan ?” Beliau menjawab : “Ya, apabila kejahatan
merajalela.” (HR.Bukhari dan Muslim)
7. Dari Abu Sa’id Al-Khudriy ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda
: “Jauhilah duduk-duduk di tepi jalan !” Para sahabat bertanya
: “Wahai Rasulullah kami tidak bisa meninggalkan tempattempat
itu, karena di tempat itulah kami membicarakan
sesuatu.” Rasulullah SAW bersabda : “Apabila kalian merasa
tidak bisa untuk meninggalkan duduk-duduk di sana, maka
penuhilah hak jalan itu.” Para sahabat bertanya : “Apakah hak
jalan itu, wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab :
“Memejamkan mata, tidak mengganggu, menjawab salam,
amar ma’ruf dan nahi munkar .” (HR.Bukhari dan Muslim)
8. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata : Rasulullah SAW melihat
cincin emas yang dipakai oleh seseorang, kemudian beliau
melepas dan membuangnya seraya bersabda : “Salah seorang
di antara kalian sengaja mengambil bara api dan meletakkan
di tangannya !” Setelah Rasulullah SAW pergi, ada seseorang
yang berkata kepadanya : “Ambillah cincinmu dan
manfaatkan.” Ia menjawab : “Tidak, demi Allah saya tidak
akan mengambil cincin itu selamanya, karena Rasulullah SAW
telah membuangnya .” (HR. Muslim)
9. Dari Abu Sa’id Al-Hasan Al-Bashriy, ia berkata : ‘Aidz bin ‘Amr
ra. datang ke rumah ‘Ubaidillah bin Ziyad kemudian ia berkata
: Hai anakku, sesungguhnya saya mendengar Rasulullah SAW
bersabda : “Sejahat-jahat pemimpin adalah pemimpin yang
kejam, maka janganlah kamu termasuk golongan mereka.”
Kemudian ‘Ubaidillah berkata kepadanya : “Duduklah,
sesungguhnya kamu hanyalah sahabat Muhammad yang
terbuang.” Ia pun bertanya : “Apakah ada di antara sahabatsahabat
beliau yang terbuang ? Sesungguhnya yang terbuang
adalah mereka yang hidup sesudah para sahabat dan orangorang
yang bukan sahabat .” (HR.Muslim)
10. Dari Hudzaifah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda :
“Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya,
seharusnyalah kalian menyuruh untuk berbuat baik dan
mencegah dari perbuatan yang munkar. Jika tidak, sungguh
Allah akan menurunkan siksa kepada kalian, kemudian kamu
berdoa kepada-Nya, tetapi ia tidak mengabulkan doamu.”
(HR.Tirmidzy)
11. Dari Abu Sa’id Al-Khudriy ra., dari Nabi SAW, beliau
bersabda : “Paling utamanya jihad adalah mengatakan
keadilan di hadapan penguasa yang menyeleweng.” (HR.Abu
Daud dan Tirmidzy)
12. Dari Abu Abdullah Thariq bin Syihab Al-Bajaliy Al-
Ahmasiy ra., ia berkata : Sesungguhnya ada seorang lelaki
bertanya kepada Nabi SAW padahal ia sudah meletakkan
kakinya di atas pelana : ‘Wahai Rasulullah, jihad apa yang
paling utama ?” Beliau menjawab : “Mengatakan kebenaran
kepada penguasa yang menyeleweng.” (HR.An-Nasa’i)
13. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda : “Penyebab pertama terjadinya kerusakan pada
Bani Israel yaitu, apabila seseorang bertemu dengan
kawannya berbuat sesuatu yang dilarang Allah, ia berkata :
“Hai kawanku, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah
apa yang kamu lakukan ini.” Akan tetapi keesokan harinya, ia
bertemu kembali, dan kawannya sedang melakukan
perbuatan itu lagi, tetapi ia tidak mengingatkan bahkan
menemaninya untuk makan, minum, dan duduk-duduk. Jika
mereka telah berbuat seperti itu, maka Allah mengunci hati
masing-masing dari mereka. Rasulullah pun kemudian
membacakan ayat Al-Qur’an yang artinya : “Telah dilaknati
orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa
putera Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka
durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain
tidak saling melarang tindakan munkar yang selalu mereka
perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu
mereka perbuat. Kamu melihat kebanyakan dari mereka
tolong menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik).
Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan
untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka ;
dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka
beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa
yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak
akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong,
tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.”
Kemudian beliau bersabda pula : “Janganlah kalian seperti
mereka. Demi Allah, kalian harus selalu mengajak untuk
berbuat baik dan melarang dari perbuatan munkar, segahlah
orang yang berbuat aniaya dan kembalikanlah ia ke jalan
yang benar serta batasilah diri dalam mengajak kepada
kebenaran! Tidak, Allah pasti akan mengunci hati kalian,
kemudian Allah akan mengutuk kalian sebagaimana Bani
Israil. “ (HR.Abu Daud dan Tirmidzy)
Hadis di atas adalah hadis menurut lafalnya Abu Daud, adapun
menurut lafal yang disampaikan Tirmidzy : Rasulullah SAW
menceritakan tentang keadaan Bani Israil, yaitu : “Ketika orangorang
Bani Israil tenggelam dalam kemaksiatan, maka ulama-ulama
mereka memperingatkannya, namun mereka tidak mau berhenti.
Akhirnya para ulama itu ikut serta dalam majelis mereka, makan
dan minum yang dilarang Allah. Maka Allah SWT. menutup hati
mereka melalui lisan Nabi Daud dan Nabi Isa putera Maryam. Hal
itu disebabkan karena mereka durhaka dan senantiasa melampui
batas. “ Rasulullah yang tadinya bersandar kemudian duduk seraya
bersabda : “Janganlah kalian berbuat demikian, demi Allah yang
jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, kalian luruskan mereka ke
jalan yang benar.”
14. Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq ra., ia berkata : “Wahai
manusia, hendaknya kalian membaca ayat ini: “YAA AYYUHAL
LADZIINA AAMANUU ‘ALAIKU, ANFUSAKUM LAA
YADHURRUKUM MAN DHALLA IDZAHTADAITUM” (Hai orangorang
yang beriman, jagalah dirimu ; tiadalah orang yang
sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu
telah mendapat petunjuk) . Dan sesungguhnya saya
mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya
apabila orang-orang melihat orang yang bertindak aniaya
kemudian mereka tidak mencegahnya, maka kemungkinan
besar Allah akan meratakan siksaan kepada mereka,
disebabkan perbuatan tersebut . “ (HR.Abu Daud, Tirmidzi
dan An-Nasa’i)
Beratnya siksaan bagi orang yang tidak
konsekuen
1. Dari Abu Zaid Usamah bin Zaid bin Haritsah ra., ia berkata :
“Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Setelah hari
kiamat, ada seseorang yang didatangkan dan dilemparkan ke
dalam neraka, kemudian dikeluarkan ususnya, lalu berputarputar
di dalamnya bagaikan berputarnya keledai yang sedang
menggiling.1 Melihat yang demikian, berkerumunlah ahli
neraka seraya berkata : “Hai Fulan, mengapa kamu seperti
itu? Bukankah engkau yang menyuruh untuk berbuat baik dan
melarang dari perbuatan munkar ?” Ia menjawab : “Benar,
akulah yang menganjurkan kebaikan, tetapi aku tidak
mengerjakannya dan aku melarang dari perbuatan munkar,
tetapi aku melakukannya.” (HR.Bukhari dan Muslim)
1 Bagaikan keledai yang dipergunakan membuat gula di
penggilingan.
Perintah menunaikan amanah
1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga yaitu : apabila
berkata ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari dan bila
dipercaya ia berkhianat.” (HR.Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan : “Walaupun ia berpuasa dan
mengerjakan salat serta mengaku bahwa dirinya muslim.”
2. Dari Hudzaifah bin Al-Yaman ra., ia berkata : “Rasulullah SAW
bercerita tentang dua peristiwa ; yang pertama saya sudah
mengetahui kenyataannya, sedangkan yang kedua itu saya
masih menunggunya.
Pertama beliau bercerita bahwa amanat itu datang ke lubuk
hati manusia, kemudian turunlah Al –Qur’an maka mereka
mau mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Kedua, beliau menceritakan tentang dicabutnya amanat, yaitu
: “Ada seseorang laki-laki yang sedang tidur kemudian
dicabutlah amanat itu dari hatinya, sehingga sisa sedikit saja,
kemudian ia tidur lagi maka tercabut pula sisa amanat itu,
dan yang ada hanya bekasnya seperti bara api yang terinjak
telapak kaki dan menimbulkan bengkak, sedangkan kamu
melihat bahwa di situ tidak ada apa-apa.” Sambil memberi
contoh, beliau lalu mengambil batu kecil dan diinjak dengan
kakinya. Setelah itu orang-orang seperti biasanya (berjual
beli), tetapi tidak terdapat lagi orang-orang yang jujur
(amanat). Sehingga kalau ada seseorang yang dapat
dipercaya dan mendapat pujian : Alangkah sabarnya,
alangkah cerdiknya, dan alangkah pandainya, padahal
menurut beliau di dalam hatinya tidak sedikitpun terselip
keimanan walau sebesar biji SAWi.” Hudzaifah berkata :
“Sungguh saya telah mengalami suatu masa, di mana saya
tidak memilih orang dalam ber-bai’at, bila ia seorang muslim,
ia patuh dan ta’at pada agamanya. Apabila ia Nasrani atau
Yahudi, ia takut kepada hukum negara. Adapun kini, saya
tidak bisa mempercayai dalam berbai’at kecuali kepada si
fulan dan si fulan.” (HR.Bukhari dan Muslim)
3. Dari Hudzaifah dan Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah
SAW bersabda : “Allah Yang Maha Memberi Berkah lagi Maha
Tinggi, kelak akan mengumpulkan manusia, kemudian orangorang
mukmin berdiri di dekat surga. Mereka lalu mendatangi
Nabi Adam as. dan berkata : “Wahai bapak kami, bukakan
pintu surga ini untuk kami.” Beliau menjawab : “Bukankah
yang mengeluarkan kalian dari surga adalah dosa bapakmu?
Datanglah kepada Ibrahim Khalillullah.” Merekapun
mendatanginya, tetapi beliau menjawab : “Itu bukan hak-ku,
aku hanyalah khalillullah (kekasih Allah) dan berada di
belakang sekali, datanglah kepada Musa ! Karena Allah
berfirman langsung kepadanya.” Merekapun mendatanginya,
tetapi beliau menjawab : “Itu bukan hak-ku. Datanglah
kepada Nabi Isa Kalimah dan Ruhullah ! “ Maka Isapun
menjawab : “Itu bukan bagianku.” Kemudian mereka
mendatangi Nabi Muhammad SAW, dan diminta untuk
membuka pintu surga, beliau berdiri dan diizinkan untuk
membukanya, kemudian dilepaskanlah amanat dan kasih
sayang dan keduanya itu berada di kanan kiri beliau sebagai
titian menuju ke surga. Beliau bersabda : “Orang pertama
yang melewatinya, berjalan secepat kilat.” Hudzaifah bertanya
: “Apakah ada yang berjalan secepat kilat ?” Beliau menjawab
: “Bukankah kalian dapat membayangkan bagaimana berjalan
hanya sekejap mata ? Kemudian ada seseorang yang
melewatinya bagaikan terbangnya burung dan ada pula yang
melintasinya bagaikan orang yang berlari kencang sekali.
Semua itu, menurut beliau, tergantung amal perbuatan
mereka.” Sedangkan Nabi Muhammad SAW berdiri di atas
shirat (titian) seraya berdoa : “Wahai Tuhanku,
selamatkanlah-selamatkanlah.” Sehingga sampai pada giliran
orang-orang yang amal baiknya sedikit bahkan sampai datang
seseorang yang tidak bisa berjalan melainkan dengan
merangkak. Dan di antara kedua tepi shirat (titian),
tergantung alat-alat yang dibuat dari besi, dan bertugas
mengambil orang-orang yang harus diambilnya. Di antaranya
ada orang yang terluka tetapi selamat dan ada pula orangorang
yang dicakar-cakarnya lalu dilemparkan ke dalam api
neraka.” Menurut Abu Hurairah : “Sesungguhnya dasar
neraka Jahannam itu sejauh perjalanan tujuh puluh tahun.”
(HR.Muslim)
4. Dari Abu Khubaib Abdullah bin Az-Zubair bin Al-Awwam Al-
Qurasyi ra., ia berkata : “Tatkala Az-Zubair (ayahku) berdiri
pada perang Jamal, ia memanggilku maka akupun berdiri di
sampingnya. Ia berkata : “Hai anakku, sesungguhnya hari ini
tidak ada yang terbunuh kecuali orang yang menganiaya atau
teraniaya. Saya merasa hari ini saya akan dibunuh teraniaya,
dan yang paling saya takuti adalah hutang saya, apakah
kamu menyadari bahwa hutang itu akan meninggalkan sisa
dari harta kekayaan kita ?” Kemudian ia berkata : “Hai
anakku, juallah semua harta benda yang kita miliki dan
lunasilah hutangku itu !” Juga berwasiat, bahwa sepertiga dari
hartanya, sedang sepertiganya dari sepertiga itu diwasiatkan
untuk cucu-cucunya yakni untuk anak-anak Abdullah bin Az-
Zubair. Anak-anak az-Zubair waktu itu ada delapan belas
orang, sembilan laki-laki dan sembilan perempuan. Menurut
Abdullah : Az-Zubair selalu berwasiat untuk melunasi
hutangnya. Ia berkata : “Hai anakku, seandainya kamu tidak
mampu untuk melunasinya, maka hendaklah memohon
pertolongan kepada Pemimpinku.” Abdullah berkata : “Demi
Allah saya tidak mengetahui apa yang dimaksud olehnya,
sehingga saya berkata : “wahai ayahku siapa Pemimpinmu?”
Ia menjawab : “Allah.” Abdullah berkata : “Maka demi Allah,
seandainya saya mengalami kesulitan dalam melunasi
hutangnya saya berdoa : “Wahai Pemimpin Zubair ,
lunaskanlah hutangnya.” Akhirnya ia dapat melunasi
hutangnya. Abdullah mengatakan : “Setelah itu terbunuhlah
Az-Zubair, dan ia tidak meninggalkan dinar ataupun dirham,
kecuali beberapa bidang tanah di Ghobah, sebelas buah
rumah di Madinah, dua rumah di Bashrah, satu buah rumah di
Kufah dan sebuah rumah di Mesir.
Hutang itu disebabkan seseorang yang datang dengan
membawa harta dan menitipkan kepadanya, kemudian Az-
Zubair berkata : “Tidak, saya tidak senang dititipi, khawatir
kalau hilang, tetapi saya hutang saja.” Sebenarnyalah Az-
Zubair tidak pernah menjadi petugas penarik pajak, dan ia
selalu ikut berperang bersama-sama Rasulullah SAW, Abu
Bakar, Umar, dan Ustman ra. Lanjutnya, setelah saya hitung
ternyata saya mempunyai hutang dua juta dua ratus ribu.”
Kali tertentu Abdullah bin Hizam bertemu dengan Abdullah bin
Az-Zubair dan berkata : “Wahai keponakanku, berapakah
hutang saudaraku?” Saya sembunyikan dan saya mengatakan
: “Seratus ribu.” Hakim berkata : “Demi Allah, saya tidak tahu
apakah engkau dapat melunasinya ?” Abdullah berkata :
“Bagaimana pendapatmu apabila hutangnya mencapai dua
juta dua ratus ribu ?” Ia menjawab : “Saya tidak tahu apakah
kamu dapat melunasinya atau tidak, jika kamu tidak mampu
melunasinya, mintalah bantuan kepadaku.”
Menurut Abdullah : “Az-Zubair dulu membeli tanah Al-Ahobah
seharga seratus tujuh puluh ribu.” Abdullah bermaksud untuk
menjualnya seharga satu juta enam ratus ribu, kemudian ia
berdiri dan berkata : “Siapa saja yang menghutangi Az-
Zubair, maka saya akan melunasinya, dan datanglah kepada
kami di Ghobah.” Maka datanglah Abdullah bin Ja’far ra., ia
menghutangi Zubair sebanyak empat ratus ribu, dan ia
berkata kepada Abdullah : “Kalau kamu mau, saya tidak akan
menagihnya kepadamu.” Abdullah bin Zubair berkata : “Kalau
kamu suka, lunasilah belakangan.” Abdullah bin Zubair
berkata : “Tidak.” Abdullah bin Ja’far menjawab : “Abdullah
bin Ja’far berkata : “Kalau begitu berilah saya sebagian tanah
di Ghobah ini.” Abdullah bin Zubair berkata : “Kalau begitu,
kamu mendapat bagian dari sini sampai sini.”
Abdullah kemudian menjual sisa hutan itu untuk melunasi
hutang ayahnya dan masih tersisa empat setengah bagian.
Kemudian ia datang ke tempat Mu’awiyah. Waktu itu di
tempat Mu’awiyah ada beberapa orang, yaitu ‘Amr bin
Utsman, Al-Mundzir bin Zubair dan Ibnu Zam’ah. Mu’awiyah
pun bertanya kepada Abdullah : “Hutan itu dijual berapa?”
Abdullah menjawab : “Setiap bagian seratus ribu.” Mu’awiyah
bertanya : “Masih tersisa berapa ?” Abdullah menjawab :
“Masih tersisa empat setengah bagian.” Al-Mundzir bin Zubair
berkata : “Kalau begitu saya mengambil sebagian dengan
harga seratus ribu.” Demikian pula dengan Ibnu Zam’ah :
“Saya mengambil sebagian dari seratus ribu.” Kemudian
Mu’awiyah bertanya : “Masih sisa berapa ?” Abdullah
menjawab : “Masih tersisa satu setengah bagian.”
Mu’awiyah berkata : “Saya yang mengambilnya dengan harga
seratus lima puluh ribu.” Kemudian Abdullah bin Ja’far
menjual bagiannya kepada Mu’awiyah dengan harga enam
ratus ribu.
Setelah Abdullah bin Zubair selesai melunasi hutang ayahnya,
maka putri-putri Az-Zubair berkata : “Bagilah warisan kami.”
Abdullah menjawab : “Demi Allah, saya membagi untuk kalian
sebelum empat tahun, sebab pada setiap musim, saya akan
menyiarkan siapa saja yang menghutangi Zubair hendaknya
datang kepada kami, dan kami pasti akan melunasinya.
Demikianlah, pada setiap tahunnya Abdullah menyiarkannya.
Sesudah melewati empat tahun maka Abdullah membagi
harta warisan itu dan mengambil sepertiga yang diwasiatkan.
Dan Az-Zubair meninggalkan empat istri, masing-masing
mendapat bagian satu juta dua ratus ribu. Jadi semua
kekayaan Az-Zubair berjumlah lima puluh juta dua ratus
ribu.” (HR.Bukhari)
Perintah tidak berbuat aniaya
1. Dari Jabir ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Takutlah kalian pada kezaliman karena kezaliman itu
merupakan kegelapan pada hari kiamat, dan takutlah kamu
pada kekikiran sebab orang-orang sebelum kalian binasa
karena kekikiran, dan hal itulah yang menyebabkan mereka
mengadakan pertumpahan darah dan menghalalkan yang
haram.” (HR.Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya kalian pada hari kiamat diperintahkan untuk
mengembalikan semua hak yang diambil kepada yang berhak,
sehingga kambing yang tidak bertanduk karena ditanduk yang
lain, diberi hak untuk membalas kepada kambing yang
bertanduk.” (HR.Muslim)
3. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : “Ketika kami
memperbincangkan haji Wada’, Nabi SAW berada di antara
kami. Kami belum tahu apakah sebenarnya haji Wada’ itu.
Tiba-tiba Rasulullah SAW memuji dan menyanjung Allah serta
menceritakan tentang Al-Masih Dajjal, sambil memperpanjang
ceritanya, beliau bersabda : “Tidak ada seorang Nabi pun
yang diutus Allah melainkan ia memperingatkan umatnya.
Nabi Nuh telah memperingatkan umatnya, demikian pula
dengan Nabi sesudahnya. Ketika Dajjal keluar di tengahtengah
kalian, maka apapun sifat yang disembunyikannya,
niscaya terungkap bagi kalian. Sesungguhnya Tuhanmu
tidaklah buta mata sebelah, tetapi Dajjal matanya buta
sebelah kanan, seperti buah anggur. Ingatlah, sesungguhnya
Allah telah mengharamkan darah dan hartamu sebagaimana
haramnya hari ini, di negeri ini, dan di bulan ini. Ingatlah,
bukankah aku telah menyampaikannya ?” Para sahabat
menjawab : “Ya.” Kemudian Nabi berdoa : “Ya Allah
saksikanlah, Ya Allah saksikanlah, Ya Allah saksikanlah!
Berhati-hatilah dan ingatlah, jangan kalian kembali kafir
sepeninggalku, ketika salah seorang di antara kalian
membunuh yang lain!” (HR.Bukhari)
4. Dari Aisyah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Siapa
saja yang mengambil hak orang lain walaupun hanya
sejengkal tanah, maka akan dikalungkan kepadanya tujuh
lapis bumi.” (HR.Bukhari dan Muslim)
5. Dari Abu Musa ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya Allah memberi kebebasan kepada orang yang
berlaku aniaya, tetapi apabila datang siksaan-Nya, maka ia
tidak akan dapat menghindarinya, kemudian beliau membaca
ayat : “WAKADZAALIKA AKHDZU RABBIKA IDZAA AKHADZAL
QURAA WAHIYA DZAALIMATUN INNA AKHDZAHUU ALIIMUN
SYADIID” (Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia
mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim.
Sesungguhnya azab-Nya itu sangat pedih lagi keras).”
(HR.Bukhari dan Muslim)
6. Dari Mu’adz ra., ia berkata : Rasulullah SAW mengutus saya
sebagai gubernur Yaman. Beliau berpesan : “Sesungguhnya
kamu akan menghadapi kaum ahli kitab, ajaklah mereka
untuk bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan
sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Apabila mereka
mematuhi ajakanmu, beri tahukan kepada mereka, bahwa
Allah mewajibkan untuk mereka mengerjakan salat lima kali
sehari semalam. Apabila mereka telah mematuhinya
(memenuhinya), maka beritahukan kepada mereka bahwa
Allah mewajibkan untuk mereka menunaikan sedekah yang
diambil dari orang-orang kaya dan diberikan kepada orangorang
fakir miskin. Apabila mereka telah mematuhinya, maka
lindungilah kehormatan dan harta bendanya. Takutlah kamu
terhadap doa orang yang teraniaya karena tidak ada tirai
yang menghalangi antara doanya dengan Allah.” (HR.Bukhari
dan Muslim)
7. Dari Abu Humaid Abdurrahman bin Sa’ad As-Sa’idiy ra., ia
berkata : “Rasulullah SAW menugaskan seseorang dari suku
Azdi yang bernama Ibnu Al-Lutbiyyah untuk mengumpulkan
sedekah, tatkala orang itu datang kepada beliau, ia berkata :
“Ini untuk engkau, dan ini hadiah untuk saya.” Rasulullah
SAW kemudian berdiri di atas mimbar, dan membuka
khutbahnya dengan menyanjung Allah SWT., sambil
melanjutkan khutbahnya : “Sesungguhnya aku telah
menugaskan seseorang di antara kalian, tugas itu diberikan
Allah kepadaku, kemudian ia datang dan berkata : “Ini untuk
engkau dan ini hadiah untuk saya.” Andaikata ia memang
benar, mengapa ia tidak duduk saja di rumah ayah dan
ibunya, sehingga hadiah itu diberikan padanya. Demi Allah,
siapa saja di antara kalian yang mengambil sesuatu yang
bukan haknya niscaya di hari kiamat ia menghadap Allah
sambil memikul yang diambilnya di dunia. Demi Allah, saya
tidak ingin melihat seorang pun di antara kalian menghadap-
Nya dengan memikul unta, lembu, atau kambing yang
mengembik.” Kemudian beliau menengadahkan kedua
tangannya hingga terlihat putih ketiak beliau, seraya
bersabda : “Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikannya
?“ (HR.Bukhari dan Muslim)
8. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda :
“Siapa saja yang pernah menganiaya saudaranya, baik
kehormatannya maupun sesuatu yang lain, hendaklah ia
minta maaf Semarang juga sebelum datang saatnya dinar dan
dirham tidak berguna. Jika tidak, apabila ia mempunyai amal
saleh, maka amalnya akan diambil sesuai dengan kadar
penganiayaan, namun apabila ia tidak mempunyai amal
kebaikan, maka kejahatan orang yang dianiaya itu diambil
dan dibebankan kepadanya.” (HR. Bukhari)
9. Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash ra., dari Nabi SAW, beliau
bersabda : “Orang Islam adalah orang yang menjaga umat
Islam lainnya selamat dari lisannya dan tangannya. Dan orang
yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja
yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
10. Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-Ash ra., ia berkata :
“Kirkirah adalah orang yang menjaga perbekalan Nabi SAW
Ketika ia meninggal dunia. Rasulullah SAW bersabda :
“Tempatnya di dalam neraka.” Para sahabat kemudian
menyelidiki sebab musabab ia masuk neraka, kemudian
mereka menemukan sebabnya, bahwa ia pernah
menyembunyikan mantel hasil rampasan perang.” (HR.
Bukhari)
11. Dari Abu Bakrah Nufa’i bin Al-Harits ra., dari Nabi SAW,
beliau bersabda : “Sesungguhnya masa itu berputar,
sebagaimana ketika Allah menjadikan langit dan bumi.
Setahun, dua belas bulan. Empat bulan di antaranya adalah
bulan mulia, yang tiga berturut-turut, yaitu : “Dzulqo’dah,
Dzul hijjah dan Muharram, serta bulan Rajab, di antara
Jumadil Akhir dan Sya’ban. Kemudian Nabi bertanya : “Bulan
apakah ini ?” Kami menjawab : “Allah dan Rasul-Nya yang
lebih mengetahui.” Beliau diam, sehingga kami menyangka,
akan diganti dengan yang lain. Beliau bersabda : “Bukankah
ini bulan Dzul hijjah ?” Kami menjawab : “Benar.” Beliau
bertanya lagi: “Negeri apakah ini ?” Kami menjawab : “Allah
dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau diam, sehingga
kami menyangka, akan diganti dengan nama yang lain. Beliau
bersabda: “Bukankah ini tanah Haram?” Kami menjawab:
“Benar.” Beliau bertanya lagi: “Hari apakah ini ?” Kami
menjawab : “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.”
Beliau diam, sehingga kami menyangka, kalau-kalau akan
diganti dengan nama yang lain. Kemudian beliau bersabda:
“Bukankah ini hari Nahr ?” Kami menjawab : “Benar.” Beliau
lantas bersabda: “Sesungguhnya darah, harta dan
kehormatanmu adalah mulia, sebagaimana mulianya hari,
negeri dan bulanmu ini. Kamu semua akan bertemu dengan
Tuhanmu dan Dia akan mempertanyakan tentang segala amal
perbuatanmu. Ingatlah, jangan sampai kamu berbalik menjadi
kafir sepeninggalku, di mana salah seorang di antara kalian
membunuh yang lain. Ingatlah, hendaklah yang hadir ini
menyampaikan kepada yang tidak hadir, mungkin saja orang
yang diberi tahu itu lebih taat dari orang yang langsung
mendengarnya.” Kemudian beliau bersabda : “Ingatlah,
bukankah aku telah menyampaikannya ?” Kami menjawab :
“Ya.” Beliau bersabda : “Ya Allah, saksikanlah.” (HR. Bukhari
dan Muslim)
12. Dari Abu Umamah Iyas bin Tsa’labah Al-Haritsiy ra., ia
berkata: Rasulullah SAW bersabda : “Siapa saja yang
merampas hak seorang muslim dengan sumpahnya, maka
Allah benar-benar mewajibkan neraka baginya dan
diharamkan surga untuknya.” Setelah seorang sahabat
bertanya : “Walaupun yang dirampas itu sesuatu yang amat
sedikit wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab : “Walau sekecil
batang kayu arok.” (HR. Muslim)
13. Dari ‘Adiy bin ‘Amirah ra., ia berkata : Saya mendengar
Rasulullah SAW bersabda : “Siapa saja yang kami serahi
tugas, lalu ia menyembunyikannya walaupun sekecil jarum
atau lebih kecil dengan maksud untuk mengambilnya, kelak di
hari kiamat ia datang dengan membawa apa yang
disembunyikannya.” Berdirilah seorang kulit hitam dari
sahabat Anshar, yang seakan-akan saya pernah melihatnya,
ia kemudian berkata : “Wahai Rasulullah, terimalah kembali
tugas yang telah engkau serahkan kepada saya.” Beliau
bertanya : “Mengapa demikian ?” Ia menjawab : “Karena saya
mendengar engkau bersabda begini dan begitu.” Beliau
bersabda : “Sekarang saya tegaskan siapa saja yang saya
serahi tugas, maka ia harus melaksanakannya, baik
mendapatkan hasilnya sedikit maupun banyak. Dan apa saja
yang diberikan kepada dirinya, maka ia boleh mengambilnya
dan apa yang dilarang untuk dirinya, maka janganlah ia
mengambilnya.” (HR. Muslim)
14. Dari Umar bin Khaththab ra., ia berkata : “Ketika
perang Khaibar selesai, beberapa sahabat Nabi SAW pulang
dan mereka menyebut-nyebut, bahwa si Fulan mati syahid,
sampai akhirnya mereka bertemu dengan seseorang di jalan,
mereka mengatakan: “Si Fulan mati syahid.” Kemudian Nabi
SAW bersabda : “Tidak, saya telah melihatnya berada di
neraka karena ia menyembunyikan kain mantel hasil
rampasan perang yang belum dibagi.” (HR. Muslim)
15. Dari Abu Qatadah Al-Harits bin Rib’iy ra., dari Rasulullah
SAW, waktu itu beliau berdiri di tengah-tengah para sahabat
dan mengatakan, bahwa berjihad (berjuang) di jalan Allah
dan beriman kepada Allah adalah paling utama amalnya.
Kemudian seseorang berdiri dan bertanya : “Wahai
Rasulullah, bagaimana kalau saya terbunuh di jalan Allah,
apakah dosa-dosa saya terampuni ?” Rasulullah SAW
menyatakan : “Ya, apabila kamu terbunuh di jalan Allah
sedangkan kamu tabah, hanya mengharapkan pahala dari
Allah, bersemangat dan pantang mundur.” Kemudian
Rasulullah SAW bertanya : “Bagaimana pertanyaanmu tadi ?”
Ia menjawab : “Bagaimana seandainya saya terbunuh di jalan
Allah, apakah dosa-dosa saya terampuni ?” Maka Rasulullah
SAW menjelaskan : “Ya, apabila kamu tabah, hanya
mengharapkan pahala dari Allah, bersemangat dan pantang
mundur, kecuali hutang. Sesungguhnya Jibril mengatakan
yang demikian itu kepadaku.” (HR. Muslim)
16. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda : “Tahukan kalian orang yang bangkrut?” Para
sahabat menjawab: “Orang bangkrut adalah orang yang tidak
punya uang dan tidak punya harta benda.” Beliau bersabda :
“Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah
orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa salat,
puasa dan zakat, tetapi ia suka mencaci maki, menuduh,
makan harta orang lain, menumpahkan darah, serta memukul
orang lain. Kemudian pahalanya diberikan kepada orang yang
dianiayanya. Jika kebaikannya sudah habis sedangkan
kesalahan-kesalahannya belum terbayar, maka ia
dilemparkan di tengah-tengah orang-orang yang pernah
dianiayanya, yang akhirnya ia dilemparkan ke dalam neraka.”
(HR. Muslim)
17. Dari Ummu Salamah ra., ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda : “Sesungguhnya aku adalah manusia biasa
sedangkan kalian mengadukan persoalan kepadaku. Mungkin
salah seorang di antara kalian lebih pandai menjelaskan
hujjah (argumentasi)nya daripada yang lain, kemudian saya
putuskan baginya sesuai keterangan yang saya dengar. Maka,
siapa saja yang telah aku menangkan dengan mengalahkan
yang benar, itu berarti sama saja saya memberinya sepotong
(bagian) api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
18. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : “Rasulullah SAW
bersabda : Orang mukmin senantiasa berada dalam
kelapangan dalam agamanya, selama ia tidak menumpahkan
darah yang haram.” (HR. Bukhari)
19. Dari Khaulah binti Tsamir Al-Anshariyah, ia adalah istri
Hamzah ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW
bersabda : “Sesungguhnya orang yang menyalahgunakan
harta Allah (baitul mal), di hari kiamat mereka dimasukkan
neraka.” (HR. Muslim)
Menjunjung kehormatan umat Islam
1. Dari Abu Musa ra., ia berkata, Rasulullah SAW bersabda :
“Orang mukmin dengan mukmin yang lain bagaikan satu
bangunan, satu bagian dengan yang lain saling
mengokohkan.” Sambil memperagakan dengan menyusupkan
jari-jemarinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Musa ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda :
“Siapa saja yang berjalan di masjid dan pasar sedangkan ia
membawa anak panah, hendaklah ia menyembunyikan atau
memegang ujungnya agar jangan sampai mengenai
(mengganggu) seseorang diantara umat Islam.” (HR. Bukhari
dan Muslim)
3. Dari Nu’man bin Basyir ra., ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda: “Perumpamaan orang yang beriman yang saling
mencintai dan saling menyayangi serta saling mengasihi
bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota menderita sakit,
maka yang lain ikut merasakan hingga tidak bisa tidur dan
merasa demam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW mencium
cucunya Al-Hasan bin Ali. Waktu itu Al-Aqra’ berada di
hadapan beliau, kemudian Al-Aqra’ berkata : “Wahai
Rasulullah, saya mempunyai sepuluh orang anak, dan belum
pernah kucium seorangpun.” Rasulullah SAW menoleh kepada
Al-Aqra’ seraya bersabda : “Siapa saja yang tidak mau
mengasihani, maka tidak akan dikasihani.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
5. Dari Aisyah ra., ia berkata : “Beberapa orang Badui datang
menghadap Rasulullah SAW, sebagian bertanya kepada yang
lain “Apakah kamu biasa mencium anak-anakmu? Sebagaian
menjawab: “Ya,” dan yang lain ada yang menjawab : “Demi
Allah, kami tidak pernah menciumnya.” Kemudian Rasulullah
SAW bersabda : “Bagaimana jika Allah mencabut rasa kasih
sayang dari kalian ? (HR. Bukhari dan Muslim)
6. Dari Jarir bin Abdullah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW
bersabda: “Siapa saja yang tidak mengasihi sesama manusia,
maka Allah tidak akan mengasihinya.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
7. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Apabila salah seorang dari kamu menjadi Imam salat bagi
orang banyak hendaknya ia memperingan (mempercepat)nya,
karena di antara mereka, ada orang yang lemah, ada yang
sakit dan ada pula yang sudah lanjut usia. Apabila ia salah
sendirian, perpanjanglah sesuai kemampuannya.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan : “karena di antaranya ada yang
mempunyai keperluan lain.”
8. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata : “Apabila Rasulullah SAW
meninggalkan amal yang beliau sukai, hal itu dikarenakan
beliau khawatir jika umat Islam menganggap, bahwa amal itu
diwajibkan atas mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
9. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata : “Nabi SAW melarang umat Islam
puasa wishal (bersambung siang malam), dikarenakan rasa
sayang terhadap mereka.” Para sahabat berkata :
“Sesungguhnya engkau sendiri berpuasa Wishal.” Beliau
menjawab : “Sesungguhnya keadaanku lain dengan
keadaanmu. Aku selalu diberi makan dan minum oleh
Tuhanku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maksudnya : Aku diberi kekuatan oleh Allah sebagaimana
kekuatannya orang yang makan dan minum.
10. Dari Abu Qatadah Al-Harits bin Rabiiy ra., ia berkata :
Rasulullah SAW bersabda : “Ketika saya sedang salat dan
hendak memperpanjangnya, tiba-tiba mendengar tangisan
anak kecil, maka kusegerakan salat, karena tidak ingin
merepotkan ibunya.” (HR. Bukhari)
11. Dari Jundub bin Abdullah ra., ia berkata : “Rasulullah
SAW bersabda : “Siapa saja yang mengerjakan salat Subuh
berjamaah, maka ia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena
itu, jangan sampai Allah meminta jaminan sedikitpun. Dan
siapa saja yang dituntut jaminan-Nya, maka Allah akan
menemukan, kemudian menjerumuskannya ke dalam api
neraka.” (HR. Bukhari)
12. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda : “Sesama muslim itu bersaudara. Karena itu,
jangan menganiaya dan mendiamkannya. Siapa saja yang
memperhatikan kepentingan saudaranya, maka Allah akan
memperhatikan kepentingannya. Siapa saja yang
melapangkan satu kesulitan terhadap sesama muslim, maka
Allah akan melapangkan satu kesulitan dari beberapa
kesulitan di hari kiamat. Dan siapa saja yang menutupi
kejelekan orang lain, maka Allah akan menutupi kejelekannya
di hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
13. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda : “Sesama muslim, jangan mengkhianati, mendustai
dan membiarkannya. Sesama muslim haram mengganggu
kehormatan, harta dan darahnya. Takwa itu ada di sini
(sambil menunjuk dadanya). Seseorang cukup dianggap jahat
apabila ia menghina saudaranya yang muslim.” (HR. Tirmidzi)
14. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda : “Janganlah kalian saling dengki, saling menipudan
saling membelakangi, dan jangan menjual atas penjualan
orang lain, dan jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara.
Sesama muslim bersaudara. Oleh karena itu, jangan
menganiaya, membiarkan dan menghinanya. Takwa itu ada di
sini (sambil menunjuk dadanya, beliau mengucapkan tiga
kali). Seseorang cukup dianggap jahat, apabila ia menghina
saudaranya yang muslim.” (HR. Muslim)
1 Berpaling dan acuh serta menjadikannya seperti sesuatu
yang dibelakang punggung.
15. Dari Anas ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda :
“Tidaklah dianggap sempurna iman seseorang, sebelum ia
mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya
sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
16. Dari Anas ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Tolonglah saudaramu yang berbuat aniaya dan yang
teraniaya.” Kemudian ada yang bertanya : “Wahai Rasulullah,
saya menolongnya jika ia teraniaya, lalu bagaimana saya
menolongnya jika ia berbuat aniaya?” Beliau menjawab :
“Kamu cegah atau kamu larang dia dari berbuat aniaya.
Demikianlah cara menolongnya.” (HR. Bukhari)
17. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda : “Hak seorang muslim terhadap muslim yang lain
ada lima, yaitu membalas salam, menjenguk orang sakit,
mengiringi jenazah, memenuhi undangannya dan menjawab
apabila ia bersin.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis riwayat Muslim dikatakan, Rasulullah bersabda : “Hak
seorang muslim terhadap muslim yang lain ada enam, yaitu:
Apabila bertemu, ucapkanlah salam. Apabila ia mengundangmu,
penuhilah undangannya. Apabila ia meminta nasihat, nasihatilah
dia. Apabila ia bersin kemudian ia membaca “alhamdulillah”, maka
jawablah (dengan ucapan “yarhamukallah” (semoga Allah
mengasihimu). Apabila ia sakit, jenguklah dan apabila ia meninggal
iringilah jenazahnya.” (HR. Muslim)
18. Dari Abu ‘Umarah Al-Barra’ bin ‘Azib ra., ia berkata :
“Rasulullah SAW menyuruh dan melarang kami, dalam tujuh
hal. Yaitu, beliau menyuruh kami untuk menjenguk orang
yang sakit, mengiring jenazah, menjawab orang yang bersin
ketika mengucapkan Alhamdulillah, menepati sumpah,
menolong orang yang teraniaya, mendatangi undangan dan
menyebarluaskan salam. Kemudian beliau melarang kami dari
memakai cincin emas, minum dari bejana perak, memujimemuji
keledai, bersikap keras, mengenakan kain sutera baik
sutera tipis maupun yang tebal.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan : “Dan menanyakan barang yang
hilang.” Sebagai tambahan tujuh yang pertama.
1. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda :
“Orang yang menutupi kejelekan orang lain di dunia, kelak
Allah akan menutupi kejelekannya di hari kiamat.” (HR.
Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Saya mendengar
Rasulullah SAW bersabda : “Umatku akan mendapat
ampunan, kecuali orang yang terang-terangan berbuat dosa.
Di antaranya, orang berbuat dosa di malam hari dan pada
pagi hari ia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi.
Ia bercerita : “Hai fulan, saya tadi malam berbuat begini dan
begitu.” Sesungguhnya malam itu Allah telah menutupi
perbuatannya, namun pagi harinya ia malah membuka sendiri
perbuatannya yang telah Allah tutup. (HR. Bukhari dan
Muslim)
3. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Jika
seorang budak melakukan zina dan nyata zinanya, hendaklah
ia didera dan jangan diejek. Jika ia berbuat zina lagi, maka
deralah ia dan jangan diejek. Jika ia berbuat zina untuk kali
ketiga, maka juallah ia walaupun seharga tali yang terbuat
dari bulu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Ada seseorang yang
minum-minuman keras, kemudian dihadapkan kepada Nabi
SAW, maka beliau bersabda : “Pukullah orang itu.” Abu
Hurairah berkata: “Di antara kami ada yang memukulnya
dengan tangan, sandal dan kain. Tatkala orang itu akan
pulang, sebagian orang berkata : “Semoga Allah
menghinamu.” Maka beliau bersabda : “Janganlah kalian
berkata seperti itu, jangan kalian membantu setan.” (HR.
Bukhari)
Memenuhi kepentingan orang islam
1. Dari Umar ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Sesama muslim itu bersaudara. Oleh karena itu, jangan
menganiaya dan jangan mendiamkannya. Siapa saja yang
memperhatikan kepentingan saudaranya, Allah akan
memperhatikan kepentingannya. Siapa saja yang
melapangkan satu kesulitan sesama muslim, niscaya Allah
akan melapangkan satu kesulitan dari beberapa kesulitannya
pada hari kiamat. Siapa saja yang menutupi kejelekan
seorang muslim Allah akan menutupi kejelekannya pada hari
kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda :
“Siapa saja yang menghilangkan satu kesulitan dari beberapa
kesulitan yang dialami orang mukmin, maka Allah akan
menghilangkan satu kesulitan dari beberapa kesulitannya
pada hari kiamat. Siapa saja yang memudahkan urusan orang
yang mengalami kesulitan, maka Allah akan memudahkan
urusannya baik di dunia maupun di akhirat. Siapa saja yang
menutupi kejelekan seorang muslim, maka Allah akan
menutupi kejelekannya di dunia dan di akhirat, dan Allah
senantiasa memberi pertolongan kepada hamba-Nya selama
ia menolong saudaranya. Siapa saja yang menempuh jalan
guna menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya
jalan menuju surga. Dan siapa saja yang berkumpul di salah
satu rumah Allah Ta’ala dengan membaca kitab-Nya dan
memperdalam kandungannya, maka akan turunlah kepada
mereka suatu ketenangan dan mereka selalu diliputi rahmat
dan para malaikat selalu memohonkan ampun buat mereka,
kemudian Allah menyebut-nyebut siapa saja yang berada di
sisi-Nya. Dan siapa saja yang lambat beramal, maka ia tidak
akan cepat meraih derajat.” (HR. Muslim)
Syafaat
1. Dari Abu Musa Al-Asy’ariy ra., ia berkata : “Apabila ada orang
yang datang kepada Nabi SAW untuk meminta pertolongan,
maka beliau memandang siapa saja yang berada di
hadapannya dan bersabda : “Berilah pertolongan, niscaya
kamu akan memperoleh pahala, karena Allah selalu
memenuhi apa yang diucapkan oleh nabi-Nya apapun yang
disukainya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan : “Apapun yang
dikehendakinya.”
2. Dari Ibnu Abbas ra., ia menceritakan tentang Barirah dan
suaminya : “Nabi SAW bersabda kepada Barirah : “Andai saja
kamu mau kembali kepada suamimu.” Barirah berkata:
“Wahai Rasulullah, engkau menyuruh saya?” Beliau bersabda
: “Tidak, saya hanya menganjurkan.” Barirah menjawab :
kalau begitu saya tidak ingin kembali kepadanya.”1 (HR.
Bukhari)
1 Barirah adalah isteri Mughtis. Keduanya hamba sahaya.
Ketika Barirah merdeka; ia berhak meneruskan perkawinan
atau melepaskan, sedangkan suaminya masih mencintainya.
Oleh karena itu, Nabi SAW menganjurkan: “Andai saja kamu
mau kembali kepadanya, kasihan suamimu.” Ini contoh
Syafaat, atau suatu usaha kebaikan dengan jasa-jasa baik.
Mendamaikan orang yang bersengketa
1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW, bersabda
: “Setiap ruas tulang manusia sebaiknya disedekahi (oleh
pemiliknya) setiap hari, (sebagai pernyataan syukur kepada
Allah atas keselamtan tulang-tulangnya. Dan macam sedekah
itu banyak sekali), di antaranya berlaku adil di antara dua
orang yang bersengketa, membantu teman ketika menaiki
tunggangannya atau menaikkan barang temannya ke
punggung tunggangannya, ucapan yang baik, setiap langkah
yang kamu ayunkan untuk melakukan salat adalah sedekah
dan menyingkirkan sesuatu yang merugikan di jalan, juga
sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Ummu Kultsum binti ‘Uqbah bin Abu Mu’aith ra., ia
berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Bukan
pendusta orang yang mendamaikan orang yang sedang
bersengketa, karena ia bermaksud baik atau berkata baik.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis riwayat Muslim ada tambahannya, yaitu : Ummu
Kultsum berkata : “Saya tidak pernah mendengar beliau
membolehkan orang berkata dusta kecuali dalam tiga hal,
yaitu: Di dalam peperangan, dalam mendamaikan orang yang
sedang bersengketa dan seseorang yang menceritakan
keadaan istri atau suaminya (untuk menjaga hubungan baik
keduanya).
3. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW mendengar
suara orang yang bertengkar amat keras di depan pintu.
Salah satunya ada yang meminta keringanan (hutang) dan
meminta bantuan kepada yang lain, tetapi yang mengutangi
menjawab : “Demi Allah, saya tidak akan memenuhi
permintaanmu.” Kemudian Rasulullah SAW keluar dan
mendekati keduanya dan bertanya : “Mana yang bersumpah
dengan nama Allah untuk tidak akan berbuat kebaikan?” Ia
menjawab : “Saya wahai Rasulullah.” Maka bagi orang itu apa
saja yang disukainnya.”1 (HR. Bukhari dan Muslim) hlm. 274
(terjemahannya apakah salah ?)
1 Meminta untuk dikurangi hutangnya dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Allah melarang mempergunakan nama Allah
untuk menghalangi berbuat kebaikan. Sebagaimana firman-
Nya yang artinya : “Janganlah kamu menjadikan nama Allah,
sebagai penghalang dalam sumpahmu tidak akan berbuat
kebaikan, dan takwa atau mendamaikan di antara manusia.”
4. Dari Abu Abbas Sahl bin Sa`idiy ra. , ia berkata :” Rasulullah
SAW Mendengan berita, bahwa di kalangan Bani `Amr bin
`Auf terjadi persengketaan, maka Rasulullah SAW, bersama
beberapa sahabat pergi ke sana untuk mendamaikan mereka.
Setelah selesai mendamaikan beliau dijamu padahal waktu
salat telah tiba, maka Bilal datang kepada Abu Bakar ra., dan
berkata : “ Wahai Abu Bakar, sesungguhnya Rasulullah SAW,
sedang ditahan untuk dijamu oleh Bani`Amr, bagaimana jika
kamu menjadi imam bagi orang-orang yang akan
mengerjakan salat?” Abu Bakar menjawab: “Baiklah, jika
kamu menghendaki demikian.” Kemudian Bilal
mengumandangkan ikamah, lalu Abu Bakarpun maju dan
bertakbir, dan orang-orangpun ikut bertakbir. Tiba-tiba
Rasulullah datang berjalan di tengah-tengah shaf dan berdiri
pada shaf pertama. Orang-orang bertepuk tangan
memberikan isyarat, tetapi Abu Bakar tidak menoleh di dalam
salatnya. Ketika orang-orang ramai bertepuk memberi isyarat
iapun menoleh dan melihat Rasulullah SAW Beliaupun
memberi isyarat kepadanya agar ia meneruskan salatnya,
tetapi Abu Bakar ra. mengangkat tangannya seraya memuji
Allah dan melangkah mundur sehingga ia berdiri pada shaf
pertama. Rasulullah SAW lalu maju dan meneruskan salatnya
menjadi imam. Setelah salat usai, beliau menoleh kepada
para sahabat dan bersabda : “Wahai sekalian manusia,
mengapa ketika terjadi sesuatu di dalam salat kalian bertepuk
tangan? Padahal tepuk tangan itu untuk perempuan yang
memberi isyarat. Siapa saja yang mengalami sesuatu di
dalam salat hendaklah ia membaca: “SUBHANALLAH” (Maha
Suci Allah). Dan bagi imam jika mendengar bacaan
“SUBHANALLAH” hendaklah ia menoleh. Hai Abu Bakar,
mengapa engkau tidak meneruskan menjadi imam ketika aku
memberikan isyarat kepadamu?” Abu Bakar menjawab:
“Tidaklah selayaknya bagi anak Abu Quhafah untuk menjadi
imam di hadapan Rasulullah SAW (HR. Bukhari dan Muslim)
Keutamaan orang Islam yang lemah dan
fakir
1. Dari Haritsah bin Wahab ra. Ia berkata : Saya mendengar
Rasulullah SAW Bersabda : “ Maukah kamu aku beritahu
tentang penghuni Surga? Yaitu orang yang lemah dan
diremehkan, tetapi kalau dia minta sesuatu kepada Allah,
tentu dikabulkan. Dan maukah kamu aku beritahu tentang
penghuni Neraka ? Yaitu setiap orang yang kasar, keras lagi
sombong.” ( HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abul Abbas Sahl bin Sa`idiy ra., ia berkata :” Ada
seorang laki-laki lewat di depan Nabi SAW, kemudian beliau
bertanya kepada sahabat yang duduk di sampingnya
:”Bagaimana pendapatmu tentang laki-laki yang baru lewat
itu?” sahabat itu menjawab: “Orang itu golongan bangSAWan,
demi Allah orang itu sangat pantas diterima jika meminang,
apabila ia meminta sesuatu untuk orang lain pasti berhasil.”
Rasulullah SAW pun diam. Kemudian ada lagi yang lewat,
lantas Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabatnya : “
Bagaimana pendapatmu tentang orang yang baru lewat itu?”
Sahabat itu menjawab : “Wahai Rasulullah, orang itu dari
golongan umat Islam yang fakir, apabila meminang pantasnya
ia ditolak, apabila meminta sesuatu untuk orang lain pasti
tidak akan berhasil, dan apabila berbicara tidak akan
didengar.” Kemudian Rasulullah SAW Bersabda : “Orang ini
lebih baik dari sepenuh bumi orang yang pertama lewat itu.” (
HR. Bukhari dan Muslim)
3. Dari Abu Sa`id Al-Khudriy ra. Dari Nabi SAW Beliau bersabda
: “Kali tertentu surga dan neraka berdebat tentang siapa saja
bagiannya. Neraka berkata : “Bagianku orang-orang yang
sombong dan takabur. “Surga berkata : “Bagianku orangorang
yang lemah dan orang-orang miskin.” Kemudian Allah
memberi keputusan kepada keduanya : “Wahai surga
sesunggunya kamu adalah rahmat-Ku, dengan keberadaanmu
Aku memberi rahmat kepada siapa saja yang Aku kehendaki.
Dan kamu wahai neraka, sesungguhnya kamu adalah siksaan-
Ku, dengan adanya kamu Aku menyiksa kepada siapa saja
yang Aku kehendaki. Dan kamu berdua (surga dan neraka),
Akulah yang menetukan isinya.:” (HR.Muslim)
4. Dari Abu Hurairah ra., dari Rasulullah SAW, beliau bersabda :
“Kelak pada hari kiamat akan datang seseorang yang
berperawakan besar lagi gemuk tetapi di sisi Allah ia tidak
bernilai walaupun seberat sayap nyamuk.” (HR.Bukhari dan
Muslim)
5. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Ada seseorang perempuan
berkulit hitam atau seorang pemuda yang biasa menyapu
mesjid. Sudah beberapa hari Rasulullah SAW Tidak
melihatnya lagi. Kemudian beliau mempertanyakannya. Para
sahabat menjawab, bahwa orang itu telah mati. Beliau
bertanya : “Mengapa kalian tidak memberi tahu aku?
“Seakan-akan para sahabat menganggap remeh pekerjaan
orang yang biasa menyapu masjid itu.” Lalu beliau bersabda :
“Tunjukkan kuburannya!” Para sahabat menunjukkan
kuburnya, kemudian beliau salat untuknya dan bersabda.
“Sesungguhnya kuburan ini dipenuhi kegelapan bagi
penghuninya, tetapi Allah meneranginya lantaran salatku atas
mereka.” (H.R Bukhari dan Muslim)
6. Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata: Nabi SAW Bersabda :
“Banyak orang yang kusut dan berdebu, bahkan tertolak dari
semua pintu, tetapi apabila ia bersungguh-sungguh minta
kepada Allah, niscaya Dia akan menerimanya.” (H.R Muslim)
7. Dari Usamah ra., Nabi SAW Beliau bersabda : “ Aku berdiri di
pintu surga, sedangkan yang aku lihat masuk ke dalamnya
kebanyakan orang-orang miskin, sedangkan orang-orang
kaya itu masih tertahan oleh perhitungan kekayaannya.
Orang-orang yang ahli neraka telah diperintah masuk neraka.
Dan berdiri dipintu neraka, ternyata kebanyakan yang masuk
ke dalamnya adalah perempuan. (H.R Bukhari dan Muslim)
8. Dari Abu Hurairah ra. Dari Nabi SAW Beliau bersabda :
“Hanya tiga orang yang dapat berbicara ketika masih bayi.
Pertama, Isa putra Maryam. Kedua, anak yang membebaskan
Juraij. Juraij adalah seorang laki-laki yang rajin beribadah dan
ia membuat biara (untuk tempat peribadatannya), dia selalu
berada di dalamnya. Kali tertentu ibunya datang memanggil :
“Hai Juraij “ sedangkan ia mengerjakan Salat. Dan ia berkata
dalam hatinya ”Tuhanku, ibuku memanggilku tetapi aku
sedang salat” ia menyelesaikan salatnya. Keesokan harinya
ibunya pun mendatangi dan memanggilnya lagi :”Hai Juraij,”
namun ia sedang salat dan iapun berkata dalam hati:
“Tuhanku, ibuku memanggilku tetapi saya baru salat.” Ia pun
menyelesaikan salatnya. Karena kesal, ibunya berdo`a: “Ya
Allah, janganlah engkau mematikan Juraij sebelum ia
mempunyai masalah dengan pelacur.”
Juraij adalah salah seorang Bani Israil yang terkenal tekun
beribadah. Waktu ada perempuan pelacur yang sangat cantik,
ia berkata :”Jika kalian menghendaki hai Bani Israil, saya
akan menguji Juraij, tetapi ia tidak tergoda sedikitpun. Pada
akhirnya, perempuan itu mendatangi seorang pengembala
dan diajaknya kebiara Juraij untuk berbuat zina, pengembala
itupun mau berzina sehingga perempuan itu hamil.
Ketika melahirkan seorang bayi ia berkata : “Bayi ini adalah
hasil persetubuhanku dengan Juraij.” Mendengar berita itu,
orang-orang Bani Israil datang kepada Juraij dan
memaksanya untuk turun dan merobohkan biara itu serta
memukulinya. Juraij bertanya : “mengapa kalian berbuat
seperti ini?” mereka menjawab : “Engkau telah berbuat zina
dengan pelacur ini, sehingga melahirkan seorang bayi?” Juraij
bertanya: “Di mana bayinya?” mereka membawa bayi itu dan
Juraij berkata : “Tunggu sebentar saya akan salat dulu.”
Ketika Juraij telah menyelesaikan salatnya, ia mendatangi
bayi itu, sambil memijit perutnya, ia bertanya : “Hai Bayi,
akuilah siapakah bapakmu ?” Bayi itu menjawab : “Bapakku
seorang penggembala.” Mendengar jawaban itu, orang-orang
Bani Israil, menciumi Juraij dan meminta maaf. Dan berkata.”
Juraij menjawab : “Jangan, bangunlah, kembalikan biara dan
tanah seperti semula.” Maka merekapun membangunkan
biara untuk Juraij.
Bayi ketiga adalah seorang bayi yang sedang menetek,
kemudian lewatlah seorang laki-laki yang berkendaraan bagus
dan berwajah tampan, maka ibunya berdo`a : “ Ya Allah,
jadikan anak saya seperti orang itu.” Tiba-tiba bayi itu
melepaskan tetekannya dan berpaling melihat orang itu.”
Kemudian bayi itu berdoa: “Ya Allah, janganlah Engkau
jadikan saya seperti orang itu. “Kemudian ia menetek lagi,
saya masih teringat ketika Rasulullah SAW menceritakan cara
meneteknya bayi itu sambil menghisap jari telunjuk beliau
dalam mulut kemudian bersabda: “Kemudian ibu bersama
bayinya berjalan lagi dan mendapatkan seorang budak
perempuan sedang dipukuli orang banyak dan mereka
berkata: “Kamu melakukan zina, kamu mencuri.” Tetapi
budak itu hanya mengucapkan : “HASBIYALLA HU WANI`MAL
WAKIIL.” Maka ibu bayi itu berdo`a : “Ya Allah, janganlah
Engkau jadikan anak saya seperti budak perempuan itu.”
Tiba-tiba bayi itu melepaskan teteknya dan melihat budak itu
seraya berdo`a : “Ya Allah, jadikanlah saya seperti budak
itu.” Setelah kejadian tersebut, terjadilah perbincangan antara
ibu dan bayi itu.
Ibunya berkata: “Tadi ada seorang laki-laki yang sangat
bagus dan saya berdoa : “Ya Allah, jadikan anak saya seperti
orang itu.”. Dan tatkala ada seorang budak perempuan
dipukuli orang banyak dan dituduh : “Kamu melaukan zina,
kamu mencuri.” Dan saya berdoa : “Ya Allah, janganlah
Engkau jadikan anakku ini seperti budak perempuan itu.”
Tetapi kamu malah berdoa :”Ya Allah, jadikanlah aku seperti
budak itu.”
Bayi itu menjawab : “ Sesungguhnya lelaki itu orang yang
sombong, oleh karena itu saya berdoa: “Ya Allah, janganlah
Engkau jadikan saya seperti orang itu.” Adapun budak yang
dituduh melakukan zina, sebenarnya ia tidak berzina, dan ia
dituduh mencuri, sebenarnya ia tidak mencuri. Oleh karena
itu saya berdoa : “Ya Allah, jadkanlah saya seperti budak itu.”
(H.R Bukhari dan Muslim)
Kasih sayang dan berbuat baik terhadap
anak yatim, perempuan, orang lemah
dan miskin.
1. Dari Sa`ad bin Abi Waqqash ra. Ia berkata : “ Kami berenam
bersama Nabi SAW Kemudian berkatalah pemuka-pemuka
kaum musyrik : “Usirlah mereka dari sisimu, agar tidak
kurang ajar kepada kami.” Saya, Ibnu Mas`ud dan orang dari
suku Hudzail, serta Bilal dan dua orang yang sengaja tidak
saya sebutkan namanya. Maka tergeraklah dalam hati
Rasulullah SAW, apa yang akan terjadi pada dirinya, tiba-tiba
Allah Ta`ala menurunkan ayat: “WALAA TATHRUDIL
LADZIINA YUD`UUNA RABBAHUM BIL GHADAATI WAL
`ASYIYYI YURIIDUUNA WAJHAH” (Dan janganlah kamu
mengusir orang-orang yang selalu berdoa kepada Tuhannya
pada waktu pagi dan petang dengan mengharapkan
Keridhaan-Nya.) (H.R Muslim)
2. Dari Abu Hurairah `Aidz bin `Amr Al-Muzzanniy ra. Dia salah
seorang yang ikut dalam Bai`atur Ridwan, ia berkata : “Ketika
Abu Sufyan mendatangi majlis rombongan Salma, Shuhaib
dan Bilal, mereka berkata : “Sebenarnya pedang-pedang Allah
belum selesai untuk memerangi musuh-musuh Allah.” Maka
Abu Bakar berkata: “Mengapa kalian berkata seperti kepada
tokoh dan pimpinan bangsa Quraisy?” kemudian Abu Bakar
mendatangi Rasulullah SAW Dan menceritakan peristiwa yang
baru saja terjadi, kemudian beliau bersabda : “Wahai Abu
Bakar, kalau kamu menjengkelkan hati mereka, berarti telah
menyebabkan murka Tuhanmu.” Kemudian Abu Bakar
menemui mereka dan bertanya “Wahai saudara-saudaraku,
apakah aku telah memarahi kalian?” Mereka menjawab :
“Tidak, semoga Allah mengampuni kamu wahai saudaraku.”
(H.R Muslim)
3. Dari Sahl ra. Ia berkata : Rasulullah SAW Bersabda : “Saya
dan orang yang menanggung anak yatim berada di surga
seperti begini” Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk
dan jari tengah dan merenggangkan sedikit antara kedua jari
tersebut. (H.R Bukhari)
4. Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata : Rasulullah SAW Bersabda :
“Orang yang menanggung anak yatim baik anak yatim itu ada
hubungan famili ataupun tidak, maka saya dan dan orang
yang menanggungnya seperti dua jari ini, di dalam surga.”
Malik bin Anas perawi hadis itu mengatakan, beliau memberi
isyarat dengan jari telunjuk dari jari tengah. (H.R Bukhari)
5. Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata : Nabi SAW Bersabda :
“Bukanlah termasuk orang miskin orang yang tidak makan
satu atau dua biji kurma dan bukan pula yang tidak bisa
makan dua suap makanan, tetapi orang miskin yang
sebenarnya, adalah orang yang sopan segan meminta-minta.”
(H.R Bukhari dan Muslim)
6. Dari Abu Hurairah ra. Dari Nabi SAW Beliau bersabda : “Orang
yang mengurus janda dan orang miskin, bagaikan orang yang
berjuang di jalan Allah.” Saya juga menduga beliau bersabda
: “Bagaikan orang yang selalu salat malam tetapi tidak pernah
merasa lelah dan bagaikan orang berpuasa yang tidak pernah
berbuka.” (H.R Bukhari dan Muslim)
7. Dari Abu Hurairah ra. Dari Nabi SAW Beliau bersabda :
“Seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah. Yang
orang berkeinginan datang, tidak diundang. Sedangkan orang
yang tidak membutuhkan, diundang. Siapa saja yang tidak
memenuhi undangan walimah, maka ia durhaka kepada Allah
dan Rasul-Nya.” (H.R Muslim)
Dalam Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah, ia
berkata, Rasulullah SAW Bersabda : “Seburuk-buruk makanan
adalah makanan walimah (pesta) di mana yang diundang hanyalah
orang-orang kaya sedangkan orang-orang fakir tidak diundang.”
8. Dari Anas ra. Dari nabi SAW Beliau bersabda : “Siapa saja
yang mengasuh dua anak perempuannya hingga dewasa, di
hari kiamat aku bersama dua orang itu seperti dua jari ini.’
Beliau menempelkan dua jarinya (jari tengah dan telunjuk).”
(H.R Muslim)
9. Dari `Aisyah ra. Ia berkata : “Ada seorang perempuan yang
meminta-minta kepadaku dengan membawa kedua anak
perempuannya, ketika itu hanya mempunyai satu biji kurma
dan saya berikan kepadanya. Perempuan itu membagi biji
kurma itu kepada dua orang anaknya dan ia sendiri tidak ikut,
kemudian ia berdiri keluar. Setelah Nabi SAW datang, maka
aku menceritakan kepada beliau tentang peristiwa yang baru
saja terjadi. Maka beliau bersabda : “Siapa saja yang diuji
dengan anak-anak perempuannya, kemudian ia dapat
mengasuhnya dengan baik, maka anak-anak perempuannya
akan menjadi tirai api neraka.” ( H.R Bukhari dan Muslim)
10. Dari `Aisyah ra. Ia berkata : “Kali tertentu ada
perempuan Miskin dengan menggendong kedua putrinya
mendatangiku, maka aku memberinya tiga butir kurma. Dan
ia memeberikan kepada masing-masing anaknya sebutir biji
kurma dan yang sebutir lagi sudah di angkat ke mulutnya
untuk dimakan, tetapi itu tiba-tiba diminta oleh kedua
anaknya, lalu ia membelah kurma itu menjadi dua bagian dan
diberikan kepada kedua anaknya.
Saya merasa heran melihat perilaku orang perempuan tiu.
Setelah Rasulullah SAW Datang, saya ceritakan kepadanya
kejadian itu, kemudian beliau bersabda : “Sesungguhnya
Allah telah menentukan surga baginya atau Allah telah
membebaskan dari api neraka karena perbuatannya itu.” (
H.R Muslim)
11. Dari Abu Syuraih Khuwalid bin `Amr Al-Khuza`iy ra. Ia
berkata : “Rasulullah SAW Bersabda : “Ya Allah,
sesungguhnya saya menganggap berdosa bagi orang yang
menyia-nyiakan hak dua orang lemah, yaitu: Anak yatim dan
perempuan.” ( H.R An-Nasa`i)
12. Dari Mush`ab bin Sa`ad bin Abi Waqqash ra. Ia berkata
: “Sa`ad merasa bahwa dirinya memiliki kelebihan dibanding
orang-orang di sekitarnya, kemudian Nabi SAW Bersabda :
“Bukankan kamu mendapatkan pertolongan dan rezeki
disebabkan orang-orang yang lemah di sekitarmu ?” ( H.R
Bukhari )
13. Dari Abu Darda` `Uwaimir ra. Ia berkata : “Saya
mendengar Rasulullah SAW Bersabda : “Carikan untukku
orang-orang yang lemah, karena sesungguhnya kamu
mendapatkan pertolongan dan rezeki berkat adanya orangorang
yang lemah di sekitarmu.” (H.R Abu Daud)
Bergaul dengan wanita
1. Dari Abu Hurairah ia berkata : “Rasulullah SAW Bersabda :
“Berpesan baiklah kamu terhadap wanita, sesungguhnya
wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Dan paling bengkok
adalah bagian atas. Oleh karena itu, apabila kamu paksa
untuk meluruskannya, maka akan hancurlah ia, dan apabila
kamu membiarkannya, maka akan bengkoklah ia selama
lamanya. Oleh karena itu berpesan baiklah terhadap wanita.
(H.R Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abdullah bin Zam`ah ra. Ia mendengar Nabi SAW
Berkhutbah dan bercerita tentang unta sebagai mu`jizat Nabi
Shaleh dan orang yang membunuhnya. Rasulullah SAW,
bersabda: “Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara
mereka, yaitu seorang laki-laki yang amat kuat dan gagah
perkasa serta disegani kaumnya. Setelah selesai, beliau
melanjutkan khutbahnya tentang wanita, dan memberi
nasihat tentang cara bergaul dengan wanita. Beliau bersabda
: “Salah seorang di antara kalian ada yang sengaja memarahi
isterinya bahkan memukul bagaikan budaknya, lalu pada
malam harinya mungkin ia bersetubuh dengannya.”
Selanjutnya beliau menasihati para sahabat karena mereka
tertawa ada yang buang angin, beliau bertanya : “Mengapa
salah seorang di antara kamu menertawakan sesuatu yang ia
sendiri juga melakukannya?” (H.R Bukhari dan Muslim)
3. Dari Abu Hurairah ra. Berkata : Rasulullah SAW Bersabda :
“Janganlah seorang laki-laki mukmin memarahi seorang
perempuan mukmin! Apabila tidak suka terhadap salah satu
perangainya, maka masih ada perangai lain yang
menyenangkan.” ( H.R Muslim)
4. Dari `Amr bin Al-Ahwash Al-Jusyamiy ra. Ia mendengar Nabi
SAW, pada haji Wada` berkhutbah. Setelah beliau
memanjatkan pujian, sanjungan kepada Allah Ta`ala dan
selesai memberi peringatan dan nasihat, beliau bersabda:
“Ingatlah, berpesan baiklah terhadap isteri-isteri kalian.
Sesungguhnya mereka memerlukan perlindunganmu.
Sedikitpun kamu tidak boleh berbuat kejam terhadap mereka,
kecuali mereka telah nyata melakukan kejahatan. Jika mereka
melakukan kejahatan, janganlah kamu menemani mereka di
dalam tidur dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak
melukai. Bila mereka telah taat, janganlah kalian, berlaku
keras terhadap mereka. Ingatlah! Sesungguhnya kalian
mempunyai hak atas isterimu dan isterimu juga mempunyai
hak pada diri kalian. Hak kamu atas mereka, yaitu tidak boleh
memasukkan orang yang tidak kamu sukai ke dalam
kamarmu dan tidak mengizinkan orang yang tidak kamu sukai
masuk ke dalam rumahmu. Ingatlah, hak mereka atas kamu
adalah kamu bergaul dengan cara yang baik. Terutama dalam
memberi pakaian dan makanan. ( H.R Tirmidzi )
5. Dari Mu`awiyah bin Haidah ra. Ia berkata : Saya bertanya
kepada Rasulullah : “ Apakah hak isteri atas suaminya?”
Beliau menjawab : “ Kamu harus memberinya makan apabila
kamu makan, harus memberinya pakaian apabila kamu
berpakaian, tidak boleh memukul mukanya dan tidak boleh
menjelek-jelekkannya, serta tidak boleh mendiamkannya
kecuali di dalam rumah.” (H.R Abu Daud)
6. Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata : “Rasulullah SAW Bersabda:
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang
yang paling baik budi pekertinya. Dan orang yang paling baik
di antara kalian adalah orang yang paling baik terhadap
isterinya.” (HR.Tirmidzi)
7. Dari Iyas bin Abdullah bin Abu Dzubab ra. Ia berkata :
Rasulullah SAW Bersabda : “Janganlah kamu memukul kaum
wanita !” Kemudian Umar mendatangi Rasulullah SAW Dan
berkata : “Wanita-wanita itu kini berani kepada suaminya.”
Mendengar yang demikian beliau membolehkan untuk
memukulnya.” Kemudian banyak wanita yang mengerumuni
Rasulullah SAW, mengadukan perlakuan suaminya. Lalu
Rasulullah sw. bersabda: “Sungguh banyak wanita yang
mengerumuni rumah Muhammad untuk mengadukan
perlakuan suaminya, maka mereka (suaminya) itu bukanlah
orang-orang yang terbaik di antara kalian.” (H.R Abu Dawud)
8. Dari Abdullah bin `Amr Al-Ash ra. Ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda : “Dunia adalah suatu kesenangan, dan sebaik-baik
kesenangan di dunia adalah wanita yang shalihah.” ( H.R
Muslim)
Hak suami atas istri
1. Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata : Rasulullah SAW Bersabda :
“Apabila seorang suami mengajak isterinya untuk tidur
bersama, kemudian ia menolak lalu suaminya marah kepada
isterinya pada malam itu, maka isterinya akan mendapatkan
laknat (Kutukan) malaikat sampai pagi hari” (H.R Bukhari dan
Muslim)
Dalam Riwayat lain, Rasulullah SAW Bersabda : “Apabila seorang
isteri meninggalkan tempat tidur suaminya semalam, maka akan
mendapat laknat (kutukan) malaikat sampai pagi”
Riwayat lain : Rasulullah SAW Bersabda : “Demi zat yang
jiwanya berada dalam genggaman-Nya, seorang suami yang
mengajak isterinya untuk tidur bersama, kemudian isterinya
menolak, maka semua makhluk yang ada di langit memarahi
isterinya sampai suaminya meridhai.”
2. Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata : Rasulullah SAW Bersabda :
“Seorang isteri tidak diperbolehkan berpuasa sunnat sewaktu
suaminya ada di rumah, kecuali dengan seijin suaminya, juga
tidak diperbolehkan mengijinkan orang masuk ke rumahnya
kecuali dengan seijin suaminya.” (H.R Bukhari dan Muslim)
3. Dari Ibnu Umar ra. Dari Nabi SAW Beliau bersabda : “Kalian
adalah pemimpin dan kalian akan dimintai
pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian. Seorang
peguasa adalah pemimpin, seorang suami adalah seorang
pemimpin seluruh keluarganya, demikian pula seorang isteri
adalah pemimpin atas rumah suami dan anaknya. Kalian
adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban
atas kepemimpinan kalian.” (H.R Bukhari dan Muslim)
4. Dari Abi Ali Thalq bin Ali ra. Ia berkata: Rasulullah SAW
Bersabda : “Apabila seorang suami mengajak isterinya untuk
bersetubuh, maka ia harus memenuhi walaupun ia sedang
masak di dapur.” (H.R Tirmidzi dan Nasa`i)
5. Dari Abu Hurairah ra. Dari Nabi SAW Beliau bersabda : “
Seandainya aku boleh memerintah seseorang untuk bersujud
kepada seseorang niscaya aku menyuruh seorang isteri untuk
bersujud kepada suaminya.” (H.R Tirmidzi)
6. Dari Ummu Salamah ra. Ia berkata : Rasulullah SAW
Bersabda : ”Setiap isteri yang meninggal dunia dan suaminya
meridhainya, ia pasti masuk surga.” (H.R Tirmidzi)
7. Dari Mu`adz bin Jabal ra. Dari Nabi SAW Beliau bersabda :
“Tiada seorang isteri yang menyakiti suaminya di dunia,
melainkan calon isterinya di akhirat (bidadari) berkata :
“Janganlah kamu menyakitinya, semoga Allah mencelakakan
kamu, sebab ia hanya sementara berkumpul denganmu,
sebentar lagi ia akan berpisah dan akan kembali kepada
kami.” ( H.R Tirmidzi)
8. Dari Usamah bin Zaid ra. Dari Nabi SAW Beliau bersabda :
“Tiada aku tinggalkan suatu fitnah (ujian) yang lebih
berbahaya bagi laki-laki dan fitnah perempuan.2” (H.R Bukhari
dan Muslim)
2Pada dasarnya tidak ada ujian yang lebih berat dari laki-laki,
golongan wanita.
Memberi nafkah lepada keluarga
1. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Satu Dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah, satu dinar
yang kamu nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu
dinar yang kamu berikan kepada orang orang miskin dan satu
dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka yang
paling besar pahalanya yaitu satu dinar yang kamu nafkahkan
kepada keluargamu.” (H.R Muslim)
2. Dari Abu Abdullah (Abu Abdurrahman) Tsauban bin Bujdud. Ia
berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Dinar yang paling
utama adalah dinar yang dinafkahkan seseorang kepada
keluarganya, dinar yang dinafkahkan untuk kendaraan di
jalan Allah, dan dinar yang dinafkahkan untuk membantu
teman seperjuangan di jalan Allah.” (H.R Muslim)
3. Dari Ummu Salamah ra. ia berkata : Saya bertanya kepada
Rasulullah SAW : “Apakah saya mendapat pahala apabila saya
memberi nafkah kepada putera-putera Abu Salamah, karena
saya tidak akan membiarkan mereka berkeliaran mencari
makan kesana-kemari. Sesungguhnya merekapun anak-anak
saya ?” Beliau menjawab : “Ya, kamu mendapatkan pahala
terhadap apa yang kamu nafkahkan kepada mereka.” (H.R
Bukhari dan Muslim)
4. Dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra. dalam hadis yang panjang
yang kami tulis pada bab niat, ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda kepadanya: “Sesungguhnya apa saja yang kamu
nafkahkan dengan maksud kamu mencari keridhaan Allah,
niscaya kamu akan diberi pahala sampai apa saja yang kamu
sediakan untuk isterimu.“ (H.R Bukhari dan Muslim)
5. Dari Abu Mas’ud Al-Badriy ra. dari Nabi SAWbeliau bersabda :
“Apabila seseorang menafkahkan harta untuk keperluan
keluarganya dan hanya berharap dapat memperoleh pahala,
maka hal itu akan dicatat sebagai sedekah baginya.” (H.R
Bukhari dan Muslim)
6. Dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash ra. ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda : “Seseorang cukup dianggap berdosa apabila ia
menyia-nyiakan orang yang harus diberi belanja.” (H.R
Bukhari dan Muslim)
7. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Nabi SAW bersabda :
“Setiap pagi ada dua malaikat yang datang kepada seseorang,
yang satu berdoa : “Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang
yang menafkahkan hartanya, “dan yang lain berdoa : “Ya
Allah, binasakanlah harta orang yang kikir.” (H.R Bukhari dan
Muslim)
8. Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi SAW beliau bersabda :
“Tangan yang di atas (pemberi) itu lebih baik daripada tangan
yang di bawah (yang meminta) dan dahulukanlah orang yang
menjadi tanggunganmu. Sebaik-baik sedekah adalah sedekah
yang diberikan oleh orang yang mempunyai kelebihan. Siapa
saja yang menjaga kehormatan dirinya, maka Allah akan
menjaga kehormatannya, dan siapa saja yang merasa dirinya
cukup, maka Allah akan mencukupkannya.” (H.R Bukhari)
Mendermakan sebagian harta yang
dicintai dan yang baik
1. Dari Anas ra. ia berkata : “Abu Thalhah ra. adalah seorang
sahabat Anshar yang terkaya dengan pohon kurma di
Madinah. Harta yang paling disukainya adalah kebun Bairuha’
yang terletak di dekat Masjid. Rasulullah SAW, sering masuk
kebun itu dan minum air bersih yang ada di dalamnya.” Anas
berkata : “Ketika turun ayat yang berbunyi : “LAN TANAALUL
BIRRA HATTA TUNFIQUU MIMMAA TUHIBBUUN (Kamu sekalikali
tidak sampai kepada kebaktian (yang sempurna),
sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu
cintai), maka Thalhah datang kepada kepada Rasulullah SAW,
dan berkata : “Wahai Rasulullah sesungguhnya Allah Ta’ala
berfirman : “LAN TANAALUL BIRRA HATTA TUNFIQUU
MIMMAA TUHIBBUUN, dan sesungguhnya harta yang paling
saya cintai adalah kebun Bairuha’, maka pergunakanlah wahai
Rasulullah sesuai petunjuk Allah kepada engkau.”
Rasulullah SAW, bersabda : “Bagus, itulah harta (yang
mendatangkan) untung. Saya telah mendengar apa yang
kamu katakan, dan kebun itu akan saya bagikan kepada
sanak kerabat.” Maka Abu Thalhah berkata: “Wahai
Rasulullah, saya akan melaksanakan petunjukmu.” Kemudian
Abu Thalhah membagi-bagi kebun itu kepada sanak kerabat
dan anak pamannya. (H.R Bukhari dan Muslim)
Wajib mendidik keluarga agar taat
lepada Allah ta’ala
1. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Al- Hasan putera Ali ra.
mengambil sebutir kurma sedekah dan ia menyuapnya,
kemudian Rasulullah SAW bersabda : “Ikh,ikh, buanglah
kurma itu! Tidakkah kau ketahui bahwa keluarga kami
(Keluarga Bani Hasyim) tidak boleh makan sedekah.” (H.R
Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan: Rasulullah SAW bersabda :
:Sesungguhnya sedekah itu tidak halal bagi keluarga kami.”
2. Dari Abu Hafs Umar bin Abu Salamah Abdullah bin Abdul
Asad, anak tiri Rasulullah SAW ia berkata : “Ketika saya
masih kecil, saya berada dalam asuhan Rasulullah SAW, dan
saya sering berganti-ganti tangan untuk mengambil makanan
di piring, kemudian Rasulullah SAW, bersabda kepada saya:
“Hai anak, sebutlah nama Alah Ta’ala dan makanlah dengan
tangan kananmu (dan makanlah dari makanan yang
terdekat).” Seperti itulah cara makan saya setelah itu.” (H.R
Bukhari dan Muslim)
3. Dari Ibnu Umar ra, ia berkata : “Saya mendengar Rasulullah
SAW bersabda : “Kalian adalah pemimpin dan yang dimintai
pertanggungjawaban tentang kepemimpinan kalian. Seorang
penguasa adalah pemimpin dan akan dimintai
pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang isteri
adalah pemimpin terhadap rumah suaminya dan akan
dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Kamu
semua adalah pemimpin dan kamu semua akan dimintai
pertanggungjawaban akan kepemimpinanmu.” (H.R Bukhari
dan Muslim)
4. Dari ‘Amr bin Syu’aib , dari ayahnya dari kakeknya ra, ia
berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Perintahlah anakanakmu
mengerjakan salat ketika berusia tujuh tahun, dan
pukullah mereka mengerjakan salat bila berumur sepuluh
tahun, dan pisahlah tempat tidur mereka (laki-laki dan
perempuan)! (H.R Abu Daud)
5. Dari Abu Tsurayyah Sabrah bin Ma’bad Al-Juhanniy ra, ia
berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Ajarilah anakmu
mengerjakan salat apabila berumur tujuh tahun dan pukullah
mereka karena meninggalkan salat apabila berumur sepuluh
tahun.!’ (H.R Abu Dawud dan Tirmidzi)
Dalam riwayat lain dikatakan : Rasulullah SAW bersabda :
“Perintahkanlah anakmu mengerjakan salat apabila mencapai
usia tujuh tahun!”
Adab bertetangga
1. Dari Ibnu Umar ra. Dan ‘Aisyah ra. mereka berkata :
Rasulullah SAW bersabda : “Malaikat Jibril selalu berpesan
kepadaku untuk senantiasa berbuat baik kepada tetangga,
sehingga aku menyangka bahwa tetangga itu akan ikut
mewarisinya.” (H.R Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Dzar ra. ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda :
“Wahai Abu Dzar, apabila kamu memasak makanan yang
berkuah, maka perbanyaklah airnya dan perhatikanlah
tetanggamu!” (H.R Muslim)
Dalam riwayat lain, diriwayatkan dari Abu Dzar, ia berkata :
“Sesungguhnya kekasih saya Rasulullah SAW berpesan : “Kamu
memasak makanan yang berkuah, maka perbanyaklah airnya,
kemudian perhatikanlah tetangga-tetanggamu dan berilah
mereka dengan cara yang baik.”
3. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Demi Allah, seseorang itu belum bisa dikatakan sempurna
imannya (diulangi sampai tiga kali).” Ada seorang sahabat
yang bertanya : “Siapakah seorang yang belum sempurna
imannya itu?” Beliau menjawab : “Orang yang tetangganya
tidak aman karena gangguannya.” (H.R Bukhari dan Muslim)
Dalam Riwayat Muslim dikatakan : “Tidaklah masuk surga orang
yang tetangganya tidak aman karena gangguannya.”
4. Dari Abu Hurairah. ia berkata: Rasulullah SAW bersabda :
“Wahai kaum muslimah, janganlah kalian merasa hina untuk
memberi sesuatu kepada tetangga kalian, walaupun hanya
kikil kambing.” (H.R Bukhari dan Muslim)
5. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Rasulullah SAW bersabda:
“Janganlah seorang tetangga menolak tetangganya yang akan
menancapkan kayu pada dindingnya.” Kemudian Abu Hurairah
berkata : “Kenapa saya masih melihat kalian mengabaikan
tuntunan ini, demi Allah saya akan memikulkan tanggung
jawab atas ajaran beliau di atas bahumu.” (H.R Bukhari dan
Muslim)
6. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka
tidak boleh mengganggu tetangganya. Dan siapa saja yang
beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia
memuliakan tamunya. Dan siapa saja yang beriman kepada
Allah dan hari akhir, hendaknya ia berkata yang baik atau
kalau tidak hendaklah ia diam!” (H.R Bukhari dan Muslim)
7. Dari Syuraih Al-Khuza’i ra. ia berkata : Nabi SAW bersabda :
“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari Akhir,
hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya, siapa saja
yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia
memuliakan tamunya, siapa saja yang beriman kepada Allah
dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik, kalau tidak,
hendaklah ia diam!” (H.R Muslim)
8. Dari ‘Aisyah ra. ia berkata : Saya bertanya: “Wahai
Rasulullah, sesungguhnya saya mempunyai dua tetangga,
maka siapakah yang harus saya dahulukan?” Beliau
menjawab : “Kepada tetangga yang lebih dekat pintunya.”
(H.R Bukhari)
9. Dari Abdullah bin Umar ra. ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda : “Sebaik-baik teman di sisi Allah adalah orang yang
paling baik terhadap temannya, dan sebaik-baik tetangga di
sisi Allah Ta’ala adalah orang yang paling baik terhadap
tetangganya.” (H.R Tirmidzi)
Berbuat baik lepada kedua orang tua
dan bersilaturahim
1. Dari Abu Abdurrahman bin Mas’ud ra. ia berkata: “Saya
bertanya kepada Nabi SAW: “Amal apakah yang paling disukai
oleh Allah Ta’ala?” Beliau menjawab : “Salat pada waktunya.”
Saya bertanya lagi : “Kemudian apa?” Beliau menjawab :
“Berbuat baik kepada kedua orang tua.” Saya bertanya lagi :
“Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Berjihad (berjuang) di
Jalan Allah.” (H.R Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Seseorang tidak dapat membalas budi kedua orang tuanya,
kecuali jika mendapatkan orang tuanya menjadi budak,
kemudian ia beli dan memerdekakannya.” (H.R Muslim)
3. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka
tidak boleh mengganggu tetangganya. Dan siapa saja yang
beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia
memuliakan tamunya. Dan siapa saja yang beriman kepada
Allah dan hari akhir, hendaknya ia berkata yang baik atau
kalau tidak hendaklah ia diam!” (H.R Bukhari dan Muslim)
4. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Siapa saja yang beriman kepada Allah Ta’ala menciptakan
makhluk, bangkitlah rahimnya makhluk dan berkata: “Ini
adalah tempat orang meminta perlindungan kepada-Mu dari
pemutusan hubungan persaudaraan.” Allah berfirman : “Ya,
Belum puaskah engkau, bahwa Aku akan menghubungi orang
yang menghubungimu, dan memutus orang yang
memutuskan hubungan. Rahim menjawab : “Ya, baiklah.”
Allah berfirman : “Itulah bagianmu. “Kemudian Rasulullah
SAW melanjutkan sabda beliau: “Bacalah jika kalian mau ayat
: “FAHAL ‘ASAITUM IN TAWALLAITUM ANTUFSIDUU FIL
ARDHA WA TUQATHTHI’UU ARHAAMAKUM ULAA-IKA
LA’ANAHAHUMULLAAHU FAASHAMMAHUM WA A’MAA
ABSHAARAHUM” (Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa
kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan
memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orangorang
yang dilaknati Allah dan ditulikan telinga mereka dan
dibutakan penglihatan mereka).” (H.R Bukhari dan Muslim)
5. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata : “Kali tertentu seorang lelaki
datang kepada Rasulullah SAW lalu bertanya : “Wahai
Rasulullah, siapakah yang paling berhak aku pergauli dengan
baik?” Rasulullah menjawab : “Ibumu!” Lalu siapa?” Rasululah
menjawab : “Ibumu!” Sekali lagi orang itu bertanya :
“Kemudian siapa ?” Rasulullah menjawab : “Ibumu!” Sekali
lagi orang itu bertanya: “Kemudian siapa?” Rasulullah
menjawab : “Bapakmu!” (H.R Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan : “Wahai Rasulullah siapakah yang
paing berhak aku pergauli dengan baik?” Beliau menjawab :
‘Ibumu, ibumu, ibumu, kemudian bapakmu, dan orang yang
labih dekat serta orang yang lebih dekat dengan kamu!”
6. Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi SAW beliau bersabda :
“Sungguh hina, sungguh hina, dan sungguh hina, orang yang
salah satu atau keduanya masih hidup, ia tidak bisa masuk
surga.”1 (H.R Muslim)
1Artinya : Tidak mau berbuat baik kepada keduanya, sehingga
menyebabkannya tidak dapat masuk surga.
7. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Ada seseorang yang
berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami mempunyai
beberapa saudara, dan saya menghubungkan tali
kekeluargaan dengan mereka, tetapi mereka
memutuskannya. Saya berbuat baik kepada mereka tetapi
mereka berbuat jahat kepada saya. Saya senantiasa berbuat
ramah kepada mereka, tetapi mereka tidak tahu diri.” Beliau
bersabda : “Seandainya benar seperti apa yang kamu
katakan, maka seakan-akan kamu menyuapkan abu panas
kepada mereka. Dan Allah senantiasa memberi pertolongan,
karena perbuatan mereka jika kamu tetap berbuat demikian.”
(H.R Muslim)
8. Dari Anas ra. ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Siapa
saja yang menyukai untuk mendapatkan kelapangan rezeki
dan panjang umurnya, hendaklah ia menyambung hubungan
dengan familinya.” (H.R Bukhari dan Muslim)
9. Dari Anas ra. ia berkata : “Abu Thalhah adalah sahabat
Anshar yang mempunyai harta yang banyak dengan pohon
kurma di Madinah. Harta yang paling disukainya adalah kebun
Bairuha’. Terletak di dekat Masjid. Rasulullah SAW sering
masuk kebun itu dan minum air bersih di dalamnya. Tatkala
turun ayat yang berbunyi : “LAN TANAALUL BIRRA HATTAA
TUNFIQUU MIMMA TUHIBBUN.” (Kamu sekalian tidak sampai
kepada kebaktian (yang sempurna), sebelum kamu
menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai), maka Abu
Thalhah mendatangi Rasulullah SAW dan berkata : “Wahai
Rasulullah, sesungguhnya Allah Yang Maha Pemberi berkah
lagi Maha Tinggi berfirman: “LAN TANAALUL BIRRA HATTAA
TUNFIQUU MIMMA TUHIBBUN., adapun harta yang paling
saya cintai adalah kebun Bairuha’, oleh karenanya kebun itu
saya sedekhakan karena Allah Ta’ala, dengan harapan bisa
menjadi kebaikan dan simpanan di sisi Allah. Pergunakanlah
wahai Rasulullah sesuai petunjuk Allah kepada engkau.”
Rasulullah SAW bersabda ; “Bagus, itu adalah harta yang
beruntung. Itu adalah harta yang beruntung. Aku telah
mendengar perkataanmu, aku berpendapat bahwa kebun itu
akan aku bagi-bagikan kepada sanak kerabatmu.” Abu
Thalhah berkata : “Wahai Rasulullah, saya akan
melaksanakan petunjukmu.” Kemudian Abu Thalhah
membagi-bagikan kebun itu untuk sanak kerabat dan
saudara-saudara sepupunya.” (H.R Bukhari dan Muslim)
10. Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-Ash ra. ia berkata :
“Seorang lelaki datang menghadap Rasulullah SAW lalu
berkata : “Aku akan berbai’at kepadamu, untuk hijrah dan
jihad demi mengharapkan pahala dari Allah Ta’ala.” Rasulullah
bertanya : “Apakah salah seorang dari kedua orang tuamu
masih hidup?” Orang itu menjawab : “Ya, bahkan keduaduanya.”
Beliau bertanya lagi : “Apakah kamu mengharapkan
pahala dari Allah?” Orang itu menjawab : “Ya.” Rasulullah
bersabda : “Kembalilah kepada kedua orang tuamu, layani
mereka dengan baik.” (H.R Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan : “Seorang laki-laki datang
menghadap Nabi SAW dan minta ijin untuk ikut berjihad.
Rasulullah bertanya : “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?”
Orang itu menjawab : “Ya.” Rasulullah bersabda : “Berjuanglah
dengan berbakti kepada mereka.”
11. Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-Ash ra. dari Nabi SAW
beliau bersabda : “Yang dimaksud penyambung hubungan
kekeluargaan bukan sekedar mengimbangi kebajikan sanak
keluarga, tetapi penyambung hubungan kekeluargaan.’
Adalah orang ketika ada sanak keluarga yang memutuskan
hubungan orang ketika ada sanak keluarga yang memutuskan
hubungan dengannya, maka ia mau menyambungnya.” (H.R
Bukhari)
12. Dari ‘Aisyah ra. dari Nabi SAW beliau bersabda : “Rahim
(Kekeluargaan) itu tergantung di ‘Arasy. Rahim itu berkata :
“Siapa saja menyambungku, Allah akan menyambungnya dan
siapa saja memutuskan denganku, Allah akan memutuskan
hubungan dengannya.” (H.R Bukhari dan Muslim)
13. Dari Ummul Mukminin Maimunah binti Al-Harits ra.
waktu itu ia memerdekakan budak perempuannya dan tidak
minta ijin kepada Nabi SAW ketika tiba gilirannya, ia berkata:
“Wahai Rasulullah SAW apakah engkau merasa bahwa saya
telah memerdekakan budak perempuan saya?” Beliau
bertanya : “Seandainya kamu memberikan kepada bibimu,
niscaya engkau mendapat pahala lebih besar.” (H.R Bukhari
dan Muslim)
14. Dari Asma’ binti Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. ia berkata :
Pada masa Rasulullah SAW ibuku yang masih musyrik
mendatangi aku. Maka saya bertanya kepada Rasulullah :
“Wahai Rasulullah, ibuku mengunjungiku dengan
mengharapkan hubungan baik, apakah boleh aku
menyambung hubungan dengan ibuku tadi?” Rasulullah
bersabda : “Ya, jalinlah hubungan dengannya.” (H.R Bukhari
dan Muslim)
15. Dari Isteri Abdullah bin Mas’ud, Zainab Ats-Tsaqafiyah
ra. ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Hai Kaum wanita,
bersedekahlah kalian walaupun dari perhiasanmu!” Kemudian
saya pulang menemui Abdullah bin Mas’ud dan berkata :
“Sesungguhnya kamu adalah orang yang tidak mampu dan
Rasulullah SAW menyuruh kami untuk bersedekah. Pergilah
dan tanyakan kepada beliau, apakah aku diperbolehkan
bersedekah kepadamu. Jika tidak, aku akan memeberikannya
kepada orang lain.” Abdullah berkata : “Kamu sajalah yang
akan datang ke sana.” Maka sayapun berangkat ke tempat
Rasulullah dan di sana ada seorang wanita Anshar berada di
pintu rumah beliau untuk menyampaikan permasalahan yang
sama. Maka keluarlah Bilal untuk menemui kami dan kami
berkata: “Beritahukan kepada Rasululah SAW bahwa ada dua
orang wanita berada di depan pintu akan menanyakan kepada
beliau, apakah sedekah boleh diberikan kepada suami dan
anak-anak yatim yang diasuhnya?”, tetapi jangan kamu
beritahukan siapa kami.” Bilal kemudian masuk dan
menanyakan hal itu kepada Rasulullah SAW sebelum
menjawab beliau bertanya: “Siapakah dua orang wanita itu?”
Bilal menjawab : Seorang wanita Anshar dan Zainab.” Beliau
bertanya lagi : ”Zainab yang mana?” Ia menjawab : “Istri
Abdullah.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda : “Kedua
wanita itu mendapatkan dua macam pahala, yaitu pahala
membantu kerabat dan pahala sedekah.” (H.R Bukhari dan
Muslim)
16. Dari Abu Sufyan Shakr bin Harb ra. di dalam hadits
yang panjang tentang kisah Heraklius, ia berkata : Heraklius
bertanya kepada Abu Sufyan : “Apakah yang diperintahkan
oleh Nabi kepada kalian?” Abu Sufyan menjawab, Nabi
bersabda : “Sembahlah Allah Yang Maha Esa dan jangan
mempersekutukan-Nya. Tinggalkanlah kepercayaankepercayaan
nenek moyangmu. Nabi SAW juga
memerintahkan kami untuk mendirikan salat, berlaku jujur,
menjaga diri, dan menyambung tali kekeluargaan.” (H.R
Bukhari dan Muslim)
17. Dari Abu Dzar ra. ia berkata : Rasulullah SAW bersabda
: “Nanti kalian akan menaklukkan suatu tempat yang disebut
Al-Qirath.” Dalam riwayat lain dikatakan Rasulullah SAW
bersabda : “kamu semua akan menaklukkan Mesir, yaitu
tempat yang disebut dengan Al-Qirath. Maka berwasiat
baiklah terhadap warganya karena diantara mereka ada yang
harus dilindungi, termasuk sanak kerabat.”
Dalam riwayat lain dikatakan : “Jika kamu menaklukkannya
maka berbuat baiklah terhadap warganya, karena di antara
mereka ada yang harus dilindungi, termasuk sanak kerabat.”
Atau beliau bersabda : “Ada yang harus dilindungi dan termasuk
ipar.” (H.R Muslim)
Para Ulama berkata, yang dimaksud dengan “sanak kerabat”
dikarenakan Hajar ibu Nabi Isma’il as. Berasal dari Mesir.
Sedangkan yang dimaksud dengan “ipar” dikarenakan Mariyah
isteri Nabi berasal dari Mesir.
18. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata : “Tatkala turun ayat
“WA ANDZIR ‘ASYIIRATAKAL AQRABIIN” (Dan berilah
peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat),
Rasulullah memanggil bangsa Quraisy. Sesudah mereka
berkumpul, kemudian beliau memanggil secara umum dan
khusus. Beliau memanggil : “Hai Bani Ka’ab bin Lu’ay
selamatkanlah dirimu dari api neraka! Hai Bani Murrah bin
Ka’ab selamatkan dirimu dari api neraka! Hai Bani Abdi Manaf,
selamatkan dirimu dari api neraka! Hai Bani Hasyim,
selamatkan dirimu dari api neraka! Hai Bani Abdul Muththalib,
selamatkan dirimu dari api neraka! Hai Fatimah, selamatkan
dirimu dari api neraka! Sungguh aku tidak mempunyai
kemampuan untuk menolong diri kalian dari siksa Allah,
namun aku masih mempunyai hubungan kekeluargaan
dengan kalian, maka akupun akan menjalin hubungan dengan
sebaik-baiknya.” (H.R Muslim)
19. Dari Abu Abdullah ‘ Amr Al-‘Ash ra. ia berkata : “Aku
mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya
keluarga Bani Fulan bukan waliku. Sesungguhnya yang
menjadi waliku adalah Allah dan orang-orang mukmin yang
saleh. Tetapi, bagi mereka yang mempunyai hubungan
kerabat, aku akan melakukan hubungan itu dengan sebaikbaiknya.”
(H.R Bukhari dan Muslim)
20. Dari Abu Ayyub Khalid bin Zaid Al-Anshariy ra. ia
berkata : “Ada seseorang bertanya kepada Rasulullah :
“Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku amal apa yang
dapat measukkanku ke dalam surga.” Nabi SAW menjawab :
“Sembahlah Allah dan jangan mempersekutukan-Nya,
dirikanlah salat, bayarkanlah zakat, dan sambunglah tali
kekerabatan.” (H.R Bukhari dan Muslim)
21. Dari Salman bin ‘Amr ra. dari Nabi SAW beliau bersabda
: “Jika salah seorang di antara kalian berbuka puasa,
hendaklah ia berbuka dengan kurma, karena mengandung
berkah. Jika tidak ada, hendaklah dengan air, karena air itu
suci.” Beliau juga bersabda : “Sedekah kepada orang miskin
hanya mendapatkan pahala sedekah saja, sedangkan sedekah
kepada sanak kerabat, mengandung dua macam keutamaan,
yaitu sedekah dan menghubungkan tali kekerabatan.” (H.R
Tirmidzi)
22. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata: “Saya mempunyai istri
yang sangat saya cintai, namun ayahku tidak senang
padanya, sehingga ia berkata: “Talaklah istrimu.” Tetapi saya
enggan untuk menceraikannya. Maka Umar ra., mendatangi
Nabi SAW, dan menceritakan kepada beliau, kemudian beliau
bersabda: “Ceraikanlah istrimu!” (HR. Abu Dawud dan
Tirmidzi)
23. Dari Abu Darda’ ra., ia berkata: Ada seseorang
mendatanginya dan berkata: “Wahai Abu Drada’ saya
mempunyai istri, dan ibu menyuruhku untuk
menceraikannya.” Kemudian Abu Darda’ berkata: “Saya
mendengar Rasulullah SAW, bersabda: “Orang tua itu
bagaikan pintu surga yang paling tengah. Terserah kamu
apakah akan menyia-nyiakan ataukah menjaganya.” (HR.
Tirmidzi)
24. Dari Al-Barra’ bin ‘Azib dari Nabi SAW, beliau bersabda:
“Bibi kedudukannya sama dengan Ibu.” (HR. Tirmidzi)
25. Dari ‘Amr bin ‘Abasah ra., ia berkata: Saya mendatangi
Rasulullah SAW, di Mekkah pada permulaan kenabiannya, dan
saya bertanya: “Apakah jabatanmu?” Beliau menjawab:
“Nabi.” Saya bertanya lagi: “Apakah nabi itu?” Beliau
menjawab: “Allah Ta’ala mengutusku.” Saya bertanya: “Untuk
apa Allah mengutusmu?” Beliau menjawab: “Allah
mengutusku untuk menghubungkan tali persaudaraan,
menghancurkan berhala, dan meng-Esakan Allah dengan
tidak menyekutukan-Nya.” Hadits ini masih ada terusannya.
Haram durhaka lepada kedua orang
tua dan memutuskan tali persaudaraan.
1. Dari Abu Bakrah Nufai’ bin Al-Harits ra., ia berkata: Rasulullah
SAW, bertanya: “Tidakkah kalian ingin tahu tentang tiga dosa
terbesar diantara dosa-dosa besar?” Kami menjawab: “Tentu,
kami ingin mengetahuinya.” Rasulullah menjelaskan: “Yaitu
menyekutukan Allah dan mendurhakai kedua orang tua.”
Semula Rasulullah bersandar, lalu beliau duduk tegak, seraya
meneruskan sabdanya: “Ingatlah, Juga perkataan bohong dan
persaksian palsu.” Rasulullah mengulang-ulang perkataan itu,
sampai-sampai kami berkata dalam hati: “Semoga beliau
diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al‘Ash ra., dari Nabi SAW, beliau
bersabda: “Dosa-dosa besar adalah menyekutukan Allah,
mendurhakai orang tua, membunuh orang, dan bersumpah
palsu.” (HR. Bukhari)
3. Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-Ash ra., dari Nabi SAW, beliau
bersabda: “Diantara dosa-dosa besar, yaitu seseorang
memaki kedua orang tuanya.” Para sahabat bertanya: “Wahai
Rasulullah, apakah ada seseorang yang akan memaki kedua
orang tuanya?” Beliau menjawab: “Ya, apabila seseorang
memaki ayah orang lain, kemudian orang itu membalas
memaki ayahnya kemudian ia memaki ibu orang lain, dan
orang itu memaki ibunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat yang lain dikatakan: “Sesungguhnya yang
termasuk dosa terbesar diantara dosa-dosa besar adalah orang
yang mengutuk kedua orang tuanya.” Ada sahabat yang
bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana munkin seseorang
mengutuk kedua orang tuanya?” Beliau menjawab: “Ia memaki
ayah orang lain, kemudian orang itu membalas memaki
ayahnya, dan ia memaki ibu orang lain kemudian orang itu
membalas memaki ibunya.”
4. Dari Abu Muhammad Juair bin Muth’im ra., ia berkata:
Rasulullah SAW, bersabda: “Tidak akan masuk surga orang
yang suka memutuskan tali persaudaraan.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
5. Dari Abu ‘Isa Al-Mughirah bin Syu’bah ra., dari Nabi SAW,
beliau bersabda: “Sungguh Allah Ta’ala mengharamkan kalian
durhaka kepada ibu, menolak kewajiban, meminta yang
bukan haknya dan mengubur hidup-hidup anak perempuan.
Allah juga membenci orang yang banyak bicara, banyak
pertanyaan dan menyia-nyiakan harta.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Keutamaan berbuat baik Kepada teman
ayah dan ibu, kerabat, isteri dan orangorang
yang pantas dihormati
1. Dari Ibnu Umar ra, ia berkata: Nabi SAW, bersabda: “Sebaikbaik
kebajikan adalah seseorang yang menyambung tali
persaudaraan kenalan bapaknya.”
2. Dari Abdullah bin Dinar, dari Abdullah bin Umar ra., ia
berkata: Kami bertemu seseorang lelaki badui di tengah
perjalanan menuju ke Mekkah, kemudian Abdullah bin Umar
memberi salam dan mengajaknya untuk naik ke atas kedelai
serta memberikan surban yang dipakai di kepalanya. Ibnu
Dinar berkata kepada Ibnu Umar: “Semoga Allah selalu
memberikan kebaikan kepadamu, sesungguhnya orang itu
adalah orang badui dan mereka senang sekali diberi,
walaupun hanya sedikit.” Abdullah bin Umar berkata:
“Sesungguhya orang itu adalah kenalan baik (ayahku) Umar
Ibnul Khaththab ra., sesungguhnya sebaik-baik kebajikan
adalah seseorang yang menyambung tali persaudaraan
dengan kenalan ayahnya.”
Dalam riwayat lain, Ibnu Dinar bercerita tentang Ibnu Umar ra.,
menurutnya apabila Ibnu Umar pergi ke Makkah selalu
membawa keledai sebagai gantinya unta apabila ia merasa jemu,
dan ia memakai surban dikepalanya. Kali tertentu, ketika ia pergi
ke Mekkah dengan kedelainya, tiba-tiba seorang badui lewat dan
bertanya: “Apakah kamu Fulan bin Fulan?” orang badui itu
menjawab: “Benar”. Kemudian Ibnu Umar memberikan keledai
itu kepadanya dan berkata: “Naiklah keledai ini.” Ia juga
memberikan surbannya seraya berkata: “Pakailah surban ini di
kepalamu.” Salah seorang teman Ibnu Umar berkata kepadanya:
“Semoga Allah memberikan ampunan kepadamu yang telah
memberikan orang Badui ini seeokor keledai yang biasa untuk
gantian, dan surban yang biasa kamu pakai di kepalamu.” Ibnu
Umar berkata: “Sesungguhnya sebaik-baik kebajikan yaitu
seseorang yang menyambung tali persaudaraan dengan kenalan
baik ayahnya setelah meninggal dunia, sesungguhnya ayah
orang ini adalah kenalan baik (ayahku) Umar ra.” (HR. Muslim)
3. Dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-Sa’idiy ra., ia berkata:
“Tatkala kami duduk di hadapan Rasulullah SAW, tiba-tiba
datanglah seorang laki-laki dari Bani Salimah dan bertanya:
“Wahai Rasulullah, apakah ada kebaikan yang dapat saya
lakukan untuk berbakti kepada kedua orang tua setelah
mereka meninggal dunia?” Beliau menjawab: “Ya, yaitu
menyolati, memohonkan ampun, melaksanakan janji
menghubungi keluarga yang tidak dapat dihubungi, kecuali
dengan keduanya dan memuliakan kenalan baik mereka. (HR.
Abu Dawud)
4. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata: “Saya tidak pernah merasa
cemburu terhadap istri-istri nabi SAW, yang lain kecuali
terhadap Siti Khadijah ra., padahal saya tidak pernah
berjumpa dengannya, tetapi karena Nabi sering menyebutnyebutnya,
dan beliau sering menyembelih kambing
kemudian memotong beberapa bagian dan dikirimkan kepada
kenalan-kenalan baik Khadijah, saya sering berkata
kepadanya: “Seolah-olah di dunia ini tidak ada wanita selain
Khadijah”. Maka beliau menjawab: “Sesungguhnya Khadijah
itu begini dan begitu, dan hanya dengan dialah aku dikaruniai
anak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
5. Dalam riwayat lain dikatakan: “Apabila beliau menyembelih
kambing, beliau memberi kenalan-kenalan baik Khadijah apa
yang mereka inginkan.” Dalam riwayat lain dikatakan:
“Apabila beliau menyembelih kambing, beliau bersabda:
“Kirimlah daging ini kepada kenalan-kenalan Khadijah.”
Dalam riwayat lain dikatakan: “Halah binti Khuwailid saudari
Khadijah pernah meminta izin untuk masuk ke rumah
Rasulullah SAW, kemudian beliau teringat cara Khadijah
meminta izin, maka terharulah beliau seraya bersabda: “Ya
Allah, inilah Halah binti Khuwailid”
6. Dari Anas bin Malik ra., ia berkata: “Aku keluar bersamasama
Jabir Ibnu Abdullah Al-Bajaliy ra., dalam suatu
perjalanan, ia selalu melayani saya, maka saya berkata
kepadanya: “Kamu jangan berbuat seperti itu.” Ia menjawab:
“Sesungguhnya saya melihat sahabat Anshar senantiasa
melayani Rasulullah SAW, dalam segala hal, maka akupun
bersumpah pada diriku untuk tidak berkawan dengan sahabat
anshar kecuali saya harus melayaninya.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Memuliakan keluarga Rasulullah SAW
1. Dari Yazid bin Hayyan., ia berkata: “Saya, Hushain bin Sairah
dan ‘Amr bin Muslim datang ke tempat Zaid bin Arqam ra.,
Setelah kami duduk, Hushain berkata kepada Zaid: “Wahai
Zaid, sungguh kamu telah mendapatkan keuntungan yang
besar, yaitu kamu bertemu Rasulullah SAW, dan mendengar
haditsnya, berperang bersamanya, shalat bersamanya,
sungguh kamu benar-benar mendapatkan keuntungan yang
besar. Oleh karena itu ceritakanlah wahai Zaid tentang apa
saja yang perah kamu dengar dari Rasulullah SAW,” Zaid
menjawab: “hai keponakanku, demi Allah usiaku telah lanjut,
sudah lama aku ditinggal beliau dan aku lupa sebagian apa
yang aku peroleh dari beliau. Maka apa yang dapat aku
sampaikan, terimalah dengan baik sedangkan yang tidak
dapat, janganlah kamu menuntutnya.” Kemudian Zaid
melanjutkan ceritanya: “Pada suatu hari Rasululllah SAW,
berdiri di tengah-tengah kami di Khum, yaitu sebuah tempat
diantara Makkah dan Madinah guna menyampaikan khubah.
Waktu itu, beliau memuji serta menanjung Allah, memberi
nasihat dan peringatan. Setelah itu beliau bersabda:
“Ketahuilah wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku ini
adalah manusia biasa, mungkin saja utusan Tuhanku
(malaikat izrail) hampir datang dan aku harus menerimanya.
Aku tinggalkan kamu dua perkara yang berat yang pertama
yaitu Kitabullah yang di dalamnya penuh dengan petunjuk
dan cahaya, maka ambilah dan pegang teguhlah kitabullah
itu.” Beliau menegaskan agar kita benar-benar berpegang
teguh pada kitabullah. Lanjutnya, beliau bersabda lagi: “Dan
ahli baitku (keluargaku). Aku memperingatkan kamu sekalian
kepada Allah tentang ahli baitku (keluargaku).” Hushain
menyela “Wahai Zaid, siapakah ahli bait beliau, bukankah
istri-istri beliau itu ahli baitnya?” Zaid menjawab: “Ya, juga
orang-orang yang diharamkan menerima sedekah sesudah
beliau wafat.” Hushain bertanya lagi: “Siapakah mereka itu?”
Zaid menjawab: “Mereka adalah keluarga/keturunan Ali, Aqil,
Ja’far, dan Abbas.” Hushain bertanya lagi: “Apakah masingmasing
dari mereka diharamkan menerima sedekah?” Zaid
menjawab: “Benar” (HR.Muslim)
Dari riwayat lain dikatakan: “Ingatlah, sesungguhnya aku
tinggalkan untuk kamu semua dua perkara yang berat, salah
satunya adalah kitabullah yaitu tali (pedoman hidup) dari Allah.
Siapa saja yang mengikutinya, maka ia berada dalam petunjuk,
dan siapa saja yang meninggalkannya maka ia dalam
kesesatan.”
2. Dari Ibnu Umar ra., dari Abu Bakar Ash-Shiddiq ra., ia
berkata: “Peliharalah kehormatan nabi Muhammad SAW,
yaitu dengan memuliakan ahli baitnya (keluarganya).” (HR.
Bukhari)
MENGHORMATI ULAMA, ORANG-ORANG
TERPANDANG DAN ORANG-ORANG BERJASA
1. Dari Abu Mas’ud Uqbah bin ‘Amr Al-Badriy Al-Anshariy ra., ia
berkata: “Rasulullah SAW, bersabda: “Yang berhak
mengimami suatu kaum adalah yang paling ahli baca Al-
Qur’an. Jika dalam bacaan mereka sama saja, maka (yang
berhak menjadi imam ialah) yang paling mengerti tentang
sunnah Rasulullah SAW, Kalau hal ini sama, maka (yang
berhak menjadi imam ialah) di antara mereka yang lebih
dahulu hijrahnya. Jika hijrah mereka sama, maka (yang
berhak menjadi imam ialah) orang yang lebih dahulu masuk
islam. Dan janganlah seseorang mengimami di daerah
kekuasaan orang lain, dan jangan pula ia berdiam di rumah
orang lain pada tempat khusus, kecuali dengan seizin
pemiliknya.” (HR. Muslim)
2. Dari Abu Mas’ud Uqbah bin ‘Amr Al-Badriy Al-Anshariy ra., ia
berkata: “Rasulullah SAW, selalu menyamakan pundakpundak
kami menjelang shalat dan beliau bersabda: “Ratakan
shaf kalian dan jangan sampai tidak rata, yang akan
mengakibatkan berbedanya hati kalian. Hendaknya mendekat
kepadaku orang-orang dewasa dan yang pandai-pandai,
kemudian berikutnya dan yang berikutnya lagi.” (HR. Muslim)
3. Dari Abdullah bin Mas’ud ra., ia berkata: “Rasulullah SAW,
bersabda: “Orang-orang yang dewasa dan yang pandai
hendaklah mendekat denganku. Kemudian berikutnya
kemudian berikutnya lagi. Janganlah kamu sekalian
bercampur dan berdesak-desakan di pasar.” (HR. Muslim)
4. Dari Abu Yahya (Sahl) bin Abu Hatsamah Al-Anshariy ra., ia
berkata: “Abdullah bin Sahl dan Muhayyishah bin Mas’ud pergi
ke Khaibar, pada masa damai, kemudian berpisahlah
keduanya. Tatkala Muhayyishah mendatangi tempat Abdullah
bin Sahl, didapatinya mati berlumuran darah dan
Muhayyishah langsung menguburnya. Setelah itu ia lalu ke
Madinah, kemudian Abdurrahman din Sahl, Muhayyishah bin
Mas’ud dan Huwayyishah bin Mas’ud datang ke Madinah
menemui Nabi SAW, dan memberitahu tentang peristiwa itu.
Ketika Abdurrahman membuka pembicaraan, Rasulullah
menyela dan bersabda: “Dahulukan orang tua, dahulukan
orang tua.” Abdurrahman yang termuda, maka ia pun diam,
lalu Muhayyishah dan Huwayyishah berbicara. Beliau
bersabda: “Apakah kamu mau bersumpah dan menuntut hak
kepada pembunuhnya?” (Hadits ini masih ada terusannya.).
(HR. Bukhari dan Muslim)
5. Dari Jabir ra., ia berkata: Nabi SAW, mengumpulkan dua
orang yang mati terbunuh dalam perang Uhud di dalam satu
liang kubur, kemudian beliau bersabda: “Yang mana diantara
keduanya yang lebih mengerti tentang Al-Qur’an?” Tatkala
ada seseorang yang menunjuk kepada salah satunya, maka
bacaan mendahulukannya (orang yang lebih banyak mengerti
tentang Al-Qur’an) ke dalam liang lahat.” (HR. Bukhari)
6. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata: Nabi SAW, bersabda: “Dalam
tidurku aku bermimpi bahwa aku sedang bersiwak (bersuci)
dengan sebatang kayu siwak, lalu datang dua orang lelaki.
Salah seorang diantaranya lebih tua dari yang lain. Aku lalu
memberikan siwak kepada orang yang lebih muda. Kemudian
berkata kepadaku: “Dahulukanlah yang lebih tua!” Akupun
memberikan siwak itu kepada orang yang lebih tua.”
7. Dari Abu Musa ra., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda:
“Sesungguhnya termasuk mengagungkan kehormatan Allah
dengan memuliakan orang islam yang tua usia, orang yang
pandai tentang Al-Qur’an yang tidak sombong dan tidak
mengabaikannya, serta memuliakan penguasa yang adil.”
(HR. Abu Dawud)
8. Dari ‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya ra., ia
berkata: “Rasulullah SAW, bersabda: “Tidak termasuk
golonganku orang yang tidak belas kasih terhadap yang lebih
muda dan tidak mau menghormati orang yang lebih tua.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
9. Dari Maimun bin Abi Syabib, ia berkata: Ada seorang
pengemis lewat di depan Aisyah, maka ia memberinya
sepotong roti. Kemudian datang lagi seorang peminta-minta
yang berpakaian compang-camping dan berperilaku sopan
kemudian ia mempersilakannya duduk dan disuruh makan.
Ketika ia ditegur tentang sikapnya, maka ia berkata:
“Rasulullah SAW, bersabda: “Tempatkanlah manusia itu
sesuai dengan kedudukannya.” (HR. Abu Dawud)
10. Dari Ibnu ‘Abbas ra., ia berkata: “Uyainah bin Hishn
datang ke tempat keponakannya Al-Hurr bin Qais dan
menginap. Al-Hurr termasuk orang –orang yang dekat dengan
Umar ra., karena Umar memang menjadikan orang-orang
yang pandai tentang Al-Qur’an sebagai teman duduk dan
teman musyawarah, baik tua maupun muda, maka ‘Uyainah
berkata kepada Al-Hurr: “Hai keponakannku, kamu adalah
orang yang dekat dengan Amirul Mukminin (Umar), maka
mintakan aku izin untuk menghadapnya.” Al-Hurr pun
memohonkan izin untuk ‘Uyainah kemudian ‘Uyainah masuk
dan berkata: “Wahai putera Khaththab, demi Allah engkau
tidak memperhatikan kami dan tidak mengadili kami dengan
adil.” Mendengar hal itu mendadak Umar ra., marah, hampir
saja ia memukulnya. Kemudian Al-Hurr berkata: “Wahai
Amirul mukminin, sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman
kepada nabi-Nya: “KHUDZIL ‘AFWA WA’MUR BIL I’URFI WA
A’RID ‘ANIL JAAHILIIN (Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah
orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari
orang-orang yang bodoh). Demi Allah, Umar ra., seolah-olah
belum pernah mendengar ketika ayat itu dibaca, padahal
Umar adalah orang yang paling jeli terhadap Kitab Allah
Ta’ala.” (HR.Bukhari)
11. Dari Abu Sa’id Samurah bin Jundub ra., ia berkata:
“Pada masa Rasulullah SAW, aku masih muda belia. Aku
selalu hapal apa yang datangnya dari Rasulullah. Beliau tidak
mencegahku berbicara, kecuali jika disana ada orang-orang
yang lebih tua dariku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
12. Dari Anas ra., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda:
“Orang muda yang memuliakan orang yang tua karena
usianya, kelak Allah akan membalas kepadanya, yaitu orangorang
muda akan memuliakannya apabila ia telah tua.” (HR.
Tirmidzi)
Berkunjung dan bergaul dengan orangorang
shalih.
1. Dari Anas ra., ia berkata: ketika Rasulullah SAW, wafat, Abu
Bakar mengajak Umar ra., seraya berkata: “Mari kita
berkunjung ke tempat Ummu Aiman ra., sebagaimana
Rasulullah SAW, sering mengunjunginya.” Ketika keduanya
sampai di tempat Ummu Aiman, wanita itu menangis.
Keduanya berkata: “Apa yang menyebabkan engkau
menangis, bukankah apa yang disediakan Allah untuk
Rasulullah itu sangat baik?” Ia menjawab: “Saya menangis
bukan karena itu, saya tahu bahwa apa yang disediakan Allah
untuk rasul-Nya, sangat baik. Saya menangis karena wahyu
dari langit telah terputus.” Perkataan Ummu Aiman membuat
keduanya terkesan, sehingga membuat mereka menangis.”
(HR. Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda:
“Sesungguhnya ada yang akan berkunjung ke tempat
saudaranya yang berada di desa lain, kemudian Allah Ta’ala
mengutus malaikat untuk mengujinya, setelah malaikat itu
berjumpa dengannya, ia bertanya: “Hendak kemanakah
kamu?” Ia menjawab: “Saya akan berkunjung ke tempat
saudaraku yang berada di desa itu.” Malaikat itu bertanya:
“apakah kamu merasa berhutang budi sehingga kamu
mengunjunginya?” Ia menjawab: “Tidak, saya mengunjungi
dan mencintainya karena Allah Ta’ala” Malaikat itu berkata:
“Sesungguhnya saya adalah utusan Allah untuk
menjumpaimu, dan Allah telah mencintaimu sebagaimana
kamu mencintai saudaramu karena Allah.” (HR.Muslim)
3. Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda:
“Siapa saja yang menjenguk orang sakit atau mengunjungi
saudaranya karena Allah, maka ada dua malaikat yang
memuji dan mendo’akan: “Bagus kamu dan bagus pula
perjalananmu, maka surgalah tempatmu.” (HR.Tirmidzi)
4. Dari Abu Musa Al-Asy’ari ra., berkata: Nabi SAW, bersabda:
“Sesungguhnya perumpamaan orang yang bergaul dengan
orang yang shalih dan orang jahat, seperti orang yang
bergaul dengan orang yang membawa minyak kasturi dan
orang yang meniup api. Orang yang membawa minyak
kasturi, mungkin memberi minyak kepadamu atau membeli
minyak kepadanya, paling tidak kamu mendapatkan bau
harum darinya. Sedangkan orang yang meniup api, mungkin
ia akan membakar kainmu atau kamu akan mendapatkan bau
yang tidak enak darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
5. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda:
“Pilihlah perempuan yang dinikahi karena empat perkara:
Hartanya, derajatnya, kecantikannya, atau karena agamanya.
Utamakanlah agamanya niscaya kamu beruntung.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
6. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata: “Nabi SAW, bertanya kepada
Jibril as.: “Apa yang mencegahmu untuk sering datang
kepada kami?” Maka turunlah ayat: “Wamaa natanazzalu illa
bi amri rabbika lahu maa baina aidiina wa maa khalafnaa wa
maa baina dzaalik. (Dan tidaklah kami (jibril) turun, kecuali
dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nyalah semua yang
ada dihadapan kita, di belakang kita, dan diantara
keduanya.)” (HR. Bukhari)
7. Dari Abu Sa’id Al-Khudriy ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda:
“Janganlah kalian berteman kecuali dengan orang yang
beriman dan janganlah ada yang memakan makananmu
kecuali orang yang bertakwa.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
8. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Sesungguhnya nabi SAW,
bersabda: “Seseorang bisa terpengaruh oleh agama sahabat
karibnya. Oleh sebab itu, perhatikanlah salah seorang
diantara kamu dengan siapa ia bergaul.” (HR. Abu Dawud dan
Tirmidzi)
9. Dari Abu Musa Al-Asy’ari ra., ia berkata: Sesungguhnya Nabi
SAW, bersabda: “Seseorang itu akan bersama dengan orang
yang dicintainya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam riwayat
lain disebutkan: “Ada seseorang yang bertanya kepada nabi
SAW, tentang orang yang mencintai suatu kaum, tetapi ia
belum pernah bertemu dengan mereka, maka ia menjawab:
“Ia akan bersama-sama dengan orang yang dicintainya.”
10. Dari Anas ra., sesungguhnya ada seorang Badui
bertanya kepada Rasulullah SAW “Kapankah hari kiamat?”
Rasulullah SAW, balik bertanya: “Bekal apakah yang telah
kamu siapkan untuk menghadapinya?” Ia menjawab:
“Mencintai Allah dan Rasul-Nya” Beliau bersabda: “kamu akan
bersama-sama dengan orang yang kamu cintai (nanti di
akhirat)” (HR. Bukhari dan Muslim)
11. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata: Seseorang mendatangi
Rasulullah SAW, dan bertanya: “Bagaimana pendapatmu
tentang seseorang yang mencintai suatu kaum, tetapi ia
belum pernah bertemu dengan mereka?” Rasulullah SAW,
menjawab: “Seseorang akan bersama-sama dengan orang
yang dicintainya (kelak di akhirat)” (HR. Bukhari dan Muslim)
12. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda:
“Manusia itu berbeda-beda dalam watak baik dan buruknya,
begaikan tambang emas dan perak. Orang yang paling baik
pada masa jahiliyah adalah orang yang terbaik pula di masa
islam, apabila mereka memahami syari’at. Roh itu
berkelompok-kelompok dan berpisah-pisah. Roh yang saling
mengenal itu berkumpul dan yang tidak saling mengenal
berpisah.” (HR. Muslim)
13. Dari Umar bin ‘Amr (Ibnu Jabir), ia berkata: “Tatkala
Umar bin Khaththab ra. kedatangan serombongan penduduk
Yaman, ia bertanya: “Apakah ada diantara kamu yang
bernama Uwais bin ‘Amir?” ia menjawab: “Ya” Umar bertanya
lagi: “Apakah kamu dari Murad dan Qaran?” Ia menjawab:
“Ya” Umar bertanya: “Apakah kamu dulu pernah mengalami
sakit belang kemudian sembuh kecuali tinggal sebesar
dirham?” ia menjawab: “Ya” Umar kembali bertanya: “Apakah
kamu masih mempunyai ibu?” Ia menjawab: “Ya” Umar
menjelaskan: Saya mendengar Rasulullah SAW, bersabda:
“Nanti kamu akan kedatangan orang bernama Uwais bin ‘Amir
bersama dengan serombongan penduduk Yaman. Ciri-cirinya,
ia dari Murad dan Qaran, pernah berpenyakit belang lalu
sembuh, kecuali sebesar dirham. Dia masih mempunyai ibu
dan ia sangat berbakti kepadanya. Seandainya dia berbuat
baik karena Allah, pasti Allah akan berbuat baik kepadanya.
Mintalah agar ia memohonkan ampun buat dirimu. Oleh
karena itu, mohonkanlah ampun buat diriku. Kemudian dia
memohonkan ampun untuk Umar. Setelah itu Umar bertanya:
“Engakau akan kemana lagi?” ia menjawab: “Ke Kufah” Umar
menawarkan: “Bolehkah aku menulis surat kepada ‘Amil
(bendaharawan) di Kufah untuk membantu kamu?” Ia
menjawab: “Saya lebih senang menjadi orang biasa.”
Pada tahun berikutnya, ada seorang terkemuka dari penduduk
Yaman mengerjakan ibadah haji dan berjumpa dengan Umar.
Kemudian Umar menanyakan kepadanya tentang Uwais.
Orang itu menjawab : “Saya meninggalkan dia dalam keadaan
sangat menyedihkan, rumahnya sangat kecil dan tergolong
miskin.” Umar berkata : “Sesungguhnya saya mendengar
Rasulullah SAW bersabda : “Nanti kamu akan kedatangan
seseorang bernama Uwais bin ‘Amir bersama-sama dengan
serombongan penduduk Yaman. Ciri-cirinya ia dari Murad dan
Qaran, pernah berpenyakit belang kemudian sembuh kecuali
sebesar dirham. Dia masih mempunyai ibu dan sangat
berbakti kepadanya. Seandainya dia berbuat baik karena
Allah, niscaya Allah akan berbuat baik kepadanya. Mintalah
agar ia memohonkan ampun buat dirimu. Setelah pulang,
orang itu menemui Uwais dan berkata : “Mohonkan ampun
buat diriku.” Uwais menajwab : “Sebenarnya Engkaulah yang
mendoakan saya, katrena baru pulang dari bepergian yang
baik. Maka mohonkan ampun buat diriku.”
Orang itu bertanya : “Kamu pernah bertemu Umar ? “ Uwais
menjawab : “Ya.” Kemudian Uwais menyadari dan
memohonkan ampun buat orang itu. Sesudah itu orang-orang
mengenalnya dan berbondonh-bondong meminta agar dia
memohonkan ampun buat mereka. Melihat yang demikian
Uwais pergi untuk menyendiri.” (HR.Muslim)
Dalam riwayat Muslim yang lain, Dari Usair bin Jabir ra. Ia berkata :
Penduduk Kufah mengutus suatu rombongan untuk menghadap
Umar ra. Di antara mereka ada seseorang yang mengejek Uwais,
kemudian Umar bertanya : “Apakah di sini ada seseorang yang
berasal dari Qaran?” maka Uwais mendekatinya, dan Umar berkata
: Rasululllah SAW bersabda :”Nanti kamu akan kedatangan
seseorang dari Yaman bernama Uwais, dia tidak meninggalkan apaapa
di Yaman selain ibu yang ditaatinya. Dia berpenyakit belang,
setelah berdoa, Allah menyembuhkannya kecuali sebesar dinar atau
dirham. Siapa saja di antara kamu bertemu dengannya, mintalah
agar dia memohonkan ampun buat kalian. “Pada riwayat lain, dari
Umar ra. Ia berkata : “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya sebaik-baik tabi’in adalah seseorang yang bernama
Uwais, dia mempunyai ibu dan pernah berpenyakit belang, maka
mintalah kalian kepadanya agar memohonkan ampun buat kamu.”
14. Dari Umar bin Khaththab ra., ia berkata : Saya minta
izin kepada Nabi SAW untuk mengerjakan umrah. Beliau
mengizinkanku, seraya bersabda: “Wahai saudaraku, jangan
kau lupakan kami dari doamu. ”Umar berkata : “itu adalah
suatu ungkapan yang sangat menggembirakan saya, dan
ungkapan itu lebih berharga dariku daripada dunia.” (HR. Abu
Daud dan Tirmidzi)
Dalam riwayat lain, Nabi SAW bersabda :Wahai saudaraku,
sertakanlah kami dalam doamu.”
15. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : “Nabi SAW sering
beziarah ke Kuba’, baik naik kendaraan maupun berjalan. Di
sana beliau salat dua rakaat.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan : “Setiap hari Sabtu Nabi SAW
datang ke masjid Kuba’, baik berkendaraan maupun berjalan.
Ibnu Umar juga mencontohnya.”
Mencintai Allah
1. Dari Anas ra., dari Nabi SAW beliau bersabda : “Siapa saja
yang memiliki tiga sifat ini, akan merasakan manisnya iman,
yaitu : (1) Mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi segalagalanya.
(2) Mencintai seseorang hanya karena Allah. (3)
Enggan untuk kembali kafir setelah diselamatkan Allah
sebagaimana enggannya apabila dilemparkan ke dalam
neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW beliu bersabda : “Ada
tujuh kelompok yang akan mendapat naungan Allah pada hari
yang tiada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu : (1)
Pemimpin yang adil. (2) Pemuda yang senantiasa beribadah
kepada Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung. (3) Seorang
yang hatinya selalu digantungkan (dipertautkan) dengan
masjid. (4) Dua orang yang saling mencintai karena Allah,
keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah. (5) Seorang
laki-laki ketika dirayu untuk berzina oleh wanita bangSAWan
yang berwajah cantik rupawan, laliu ia berkata :
“Sesungguhnya aku takut kepada Allah.” (6) Seseorang yang
mengelurkan sedekah, secara sembunyi-sembunyi, sehingga
tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikn oleh
tangan kanannya. (7) Dan seseorang yang mengingat Allah di
tempat sunyi dan kedua matanya bercucuran air mata.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
3. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya Allah Ta’ala pada hari kiamat akan berfirman
: “Manakah orang-orang yang saling mencintai karena
keagungan-Ku? Pada hari ini Aku menaungi mereka di bawah
naungan-Ku, dan tidak ada nungan kecuali naungan-Ku.” (HR.
Muslim)
4. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, kalian
tidak akan masuk surga sebelum beriman. Maukah kalian aku
tunjukkan sesuatu, jika kalian mengerjakannya, maka akan
timbul rasa saling mencintai di antara kalian. Yaitu
sebarkanlah salam” (HR Muslim)
5. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW beliau bersabda : “Ada
seseorang yang berkunjung ke tempat saudaranya karena
Allah yang berada di desa lain, kemudian Allah mengutus
malaikat untuk menghadang dan mengujinya, namun orang
itu tetap pada pendiriannya, kemudian malaikat itu berkata :
“Sesungguhnya Allah telah mencintaimu sebagaimana kamu
mencintai saudaramu karena-Nya.” (HR. Muslim)
6. Dari Al-Barra’ bin ‘Azib ra., dari Nabi SAW beliau
menceritakan tentang sahabat Anshar : “bahwa mereka tidak
mencintai kecuali orang yang beriman dan mereka tidak
membenci kecuali orang munafik. Siapa saja yang mencintai
mereka, maka Allah mencintainya, dan siapa saja membenci
mereka, maka Allah membencinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
7. Dari Mu’adz ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW
bersabda : “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : “Siapa saja yang
saling mencintai karena keagungan-Ku, mereka akan
mendapatkan beberapa mimbar terbuat dari cahaya yang
diinginkan oleh para Nabi dan orang-orang yang mati syahid.
(HR. Tirmidzi)
8. Dari bu Idris Al-Khaulaniy, ia berkata : “Saya masuk masjid
Damsyik. Di sana ada seorang pemuda yang giginya
mengkilat. Orang-orang senantiasa mengerumuninya. Apabila
mereka berbeda pendapat, mereka menyerahkan dan minta
pertimbangan kepadanya, maka saya menanyakan tentang
pemuda itu, dan dijawab bahwa pemuda itu adalah Mu’adz bi
Jabal ra.
9. Pada esok harinya saya pagi-pagi datang ke masjid tetapi
pemuda itu lebih pagi dari pada saya dan saya dapatkan ia
sedang shalat. Saya menunggunya sampai selesai, dan
mendatanginya dari arah depan. Saya ucapkan salam dan
berkata kepadanya : “Demi Allah saya mencintai kamu karena
Allah.” Dia bertanya : “Apakah benar, karena Allah?” Saya
menjawab : “Ya, karena Allah.” Dia bertanya “Apakah benar
karena Allah?” saya menjawab ”Ya, karena Allah.” Kemudian
ia menarik ujung selendangku untuk mendekatkanku
kepadanya dan dia berkata : “Sambutlah berita gembira ini,
saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Allah Yang Maha
Pemberkah lagi Maha Luhur Berfirman : “Kecintaan-Ku
tercurah untuk mereka yang saling mencintai karena Aku,
mereka yang berteman karena Aku, mereka yang saling
mengunjungi karena Aku dan mereka yang saling membantu
karena Aku,” (HR. Malik)
10. Dari Abu Karimah Al-Miqdad bin Ma’dikariba ra., dari
Nabi SAW, beliau bersabda : “Apabila seseorang mencintai
saudaranya, beritahukanlah kepadanya bahwa ia
mencintainya,” (HR. Abu daud)
11. Dari Mu’adz ra. Ia berkata : Rasulullah SAW memegang
tangannya seraya berkata : “Hai Mu’adz, janganlah sekali-kali
kamu lupakan setiap selesai salat untuk membaca :
“ALLAHUMMA A’INNII ‘ALAA DZIKRIKA WA-SYUKRIKA
WAHUSNI IBAADATIK (Ya Allah, berilah saya pertolongan
untuk selalu ingat kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu dan
menyempurnakannya).” (HR Abu daud dan Nasa’i)
12. Dari Anas ra., ia berkata : Ada seorang laki-laki duduk
di hadapan Nabi SAW kemudian ada seseorang yang lewat di
situ, lalu orang yang duduk di hadapan Nabi berkata : “Ya
Rasulullah, sesungguhnya saya mencintai orang itu,” Nabi
SAW bertanya : “apakah kamu sudah memberitahukan
kepadanya?” Dia menjawab : “Belum.” Beliau bersabda :
“Beritahukanlah kepadanya. “Kemudian dia menemui orang
itu dan berkata : “Sesungguhnya saya mencintaimu karena
Allah.” Orang itu menjawab : “Semoga kamu dicintai oleh Zat
yang menjadikanmu mencintaiku karena-Nya.” (HR. Abu
Daud)
tanda-tanda kecintaan Allah ta’ala
kepada hambanya
1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda,
bahwa Allah Ta’ala berfirman : “Siapa saja yang memusuhi
kekasih-Ku, maka aku nyatakan perang kepadanya. Sesuatu
yang paling Aku sukai dari yang dikerjakan hamba-Ku untuk
mendekatkan diri kepada-Ku, yaitu apabila ia mengerjakan
apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Seseorang itu
senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan mengerjakan
amalan-amalan sunnah, sehingga Aku mencintainya. Apabila
Aku mencintainya, maka Aku merupakan pendengaran yang
ia pergunakan untuk mendengar, Aku merupakan penglihatan
yang ia pergunakan untuk melihat, Aku merupakan tangan
yang ia pergunakan untuk menyerang dan Aku merupakan
kaki yang ia pergunakan untuk berjalan. Seandainya ia
memohon kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya,
seandainya ia berlindung diri kepada-Ku, niscaya Aku
melindunginya.” (HR. Bukhari)
2. Dari Abu hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda :
“Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Allah
memanggil Jibril seraya berfirman : “Sesungguhnya Allah
Ta’ala mencintai Fulan, maka cintailah ia, “Kemudian jibril
mencintai orang itu dan berkata kepada penghuni langit :
“Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah ia.“
Penghuni langit pun akhirnya mencintai orang itu. Setelah
kecintaannya diteruskan kepada penghuni bumi. (HR Bukhari
dan Muslim)
Dalam riwayat Muslim yang lain dikatakan : “Rasulullah SAW
bersabda : “Sesunguhnya apabila Allah Ta’ala mencintai
seseorang, maka Allah memanggil Jibril dan berfirman :
“Sesungguhnya Aku mencintai fulan, maka cintailah ia.”
Kemudian jibril mencintai orang itu, setelah itu Jibril berkata
kepada penghuni langit : “Sesungguhnya Allah mencintai Fulan,
maka cintailah ia.” Penghuni langit pun mencintai orang itu.
Setelah itu, kecintaannya diteruskan kepada penghuni bumi. Dan
apabila Allah membenci seseorang, maka Allah memanggil Jibril
dan berfirman : “Sesungguhnya Aku membenci Fulan, maka
bencilah ia. “Kemudian Jibril membenci orang itu. Setelah itu
Jibril berkata kepada penghuni langit : “Sesungguhnya Allah
membenci Fulan, maka bencilah ia.” Kemudian kebencian
tersebut diteruskan kepada penghuni bumi.”
3. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW mengutus
seseorang untuk mengimami salat pada suatu pasukan.
Dalam salatnya, ia selalu menutup bacaannya dengan ucapan
: “QUL HUWALLAHU AHAD” (Surat Al-Ikhlsah) Ketika pulang,
mereka menceritakan hal yang demikian itu kepada
Rasulullah SAW beliau bersabda : “Tanyakan kepadanya,
mengapa ia berbuat seperti demikian?” merekapun
menanyakannya dan orang itu menjawab : “Karena ayat itu
mengandung sifat Zat yang Maha Pemurah, maka saya
senang membacanya.” Setelah disampaikan kepada
Rasulullah SAW, beliau bersabda : “Beritahukan kepadanya,
bahwa Allah ta’ala mencintainya.” (HR. Bukhari dan Muslim )
Larangan untuk menyakiti atau
mengganggu orang-orang yang shaleh,
lemah dan miskin
1. Di antara hadis yang membicarakan masalah ini adalah hadis
yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. Yang termuat pada
bab sebelum bab ini, yaitu hadis yang artinya : “Siapa saja
yang memusuhi kekasih-Ku, maka Aku nyatakan perang
padanya.”
2. Juga hadis yang diriwayatkan Sa’ad bin Abi Waqqah ra., pada
bab yang lalu, yitu pada bab, “menyayangi anak yatim,” dan
sabda Rasulullah SAW, “Wahai Abu Bakar, seandainya kamu
membenci mereka, berarti kamu membenci Tuhanmu.”
3. Dari Jundub bin Abdullah ra., ia berkata : “Siapa saja yang
mengerjakan salat Shubuh, berarti ia berada dalam keadaan
jaminan Allah. Oleh karena itu, jangan sekali-kali Allah
sampai meminta jaminan-Nya itu sedikitpun, karena siapa
saja yang diminta jaminan-Nya, maka Allah akan
mendapatkannya, kemudian akan mencampakkan dirinya ke
dalam api neraka.” (HR. Muslim)
Melaksanakan hukuman dan
menyerahkan urusan mereka kepada
Allah ta’ala
1. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Aku diperintah untuk memerangi manusia, sehingga mereka
bersaksi, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi
Muhammad SAW adalah utusan Allah, mendirikan salat, dan
menunaikan zakat. Apabila mereka telah melaksanakan,
maka terjagalah darah dan harta mereka, kecuali dalam
kewajiban Islam. Adapun perhitungan mereka terserah pada
Allah Ta’ala.” (HR. Bukhari dan Muslim )
2. Dari Abdullah Thariq bin Asy-yam ra., ia berkata : Saya
mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Siapa saja yang
mengucapkan “LAA ILAAHA ILLALLAAH (Tidak ada Tuhan
kecuali Allah) dan ingkar terhadap semua yang disembah
kecuali Allah, maka haramlah diganggu harta dan darahnya.
Adapun perhitungannya terserah pada Allah Ta’ala.” (HR
Muslim)
3. Dari Ma’bad Al-Miqdad bin Al-Aswad ra., ia berkata : “Saya
bertanya kepada Rasulullah SAW : “Bagaimana pendapatmu
seandainya saya bertemu dengan seorang kafir dan kami
berperang kemudian ia memotong salah satu tengan saya,
kemudian ia menyembunyikan diri daripadaku dengan
berlindung di belakang pohon serta berkata, “saya sekarang
masuk Islam karena Allah,” maka apakah boleh saya
membunuhnya setelah ia mengucapkan perkataan itu, wahai
Rasulullah?” Beliau menjawab : “Janganlah kamu
membunuhnya, seandainya kamu membunuhnya, maka ia
menduduki kedudukanmu sebelum kamu membunuhnya, dan
kamu menduduki kedudukannya sebelum ia mengucapkan
perkataan yang diucapkannya itu.” (HR Bukhari dan Muslim)
4. Dari Usamah bin Zaid ra., ia berkata : Rasulullah SAW
mengutus kami ke Huraqah di suku Juhainah. Pada suatu pagi
kami menyerbu mereka. Saya dan seorang sahabat Anshar,
berpapasan dengan salah seorang di antara mereka. Ketika
kami telah mengepungnya, ia mengucapkan : “LAA ILAAHA
ILLALLAAH” (Tiada Tuhan kecuali Allah) ; sahabat Anshar tadi
melepaskannya, tetapi saya menikamnya dengan tombak
sehingga terbunuh. Ketika kami sampai di Madinah, berita itu
telah sampai pada Nabi SAW maka beliau memanggil saya :
“Hai Usamah, kenapa kamu membunuh orang, padahal ia
telah mengucapkan : “LAA ILAAHA ILLALLAH ?” Saya
menjawab, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ia hanya
berusaha untuk menyelamatkan diri.” Beliau bersabda :
“Kenapa kamu membunuh seseorang padahal ia telah
mengucapkan “LAA ILAAHA ILLALLAH ?” Beliau mengulangulangi
sabdanya itu, sehingga perasaan saya ingin andaikan
saya baru masuk Islam pada hari itu.” (HR Bukhari dan
Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan : Rasulullah SAW bertanya :
“Apakah ia telah membaca “LAA ILAAHA ILLALLAH” sebelum
kamu membunuhnya ?” Saya menjawab : “Wahai Rasulullah,
sesungguhnya ia mengucapkan kalimat itu karena takut pada
pedang.” Belliau bertanya : “Apakah kamu sudah belah dadanya,
sehinga kamu mengetahui isi hatinya, apakah ia mengucapkan
kalimat itu tulus atau tidak ?” beliau mengulang-ulangi
pertanyaan itu sehingga perasaan saya ingin untuk baru masuk
Islam pada hari itu.”
5. Dari Jundub bin Abdullah ra., ia berkata : Rasulullah SAW
mengutus suatu pasukan muslimin untuk memerangi pasukan
musyrik. Ketika kedua pasukan itu saling berhadapan, ada
seorang musyrik yang mendekati seorang muslim dan
membunuhnya. Kemudian ada seorang muslim yang mencari
lengahnya. Dan kami yakin bahwa orang itu adalah Usamah
bin Zaid. Ketika Usamah mengangkat pedangnya, orang
musyrik itu mengucapkan “LAA ILAAHA ILLALLAH,” tetapi
kemudian Usamah membunuhnya. Ketika juru kabar sampai
di hadapan Rasulullah SAW, ia menanyakan dan menceritakan
tentang jalannya peperangan, sehingga ia menceritakan
tentang bagaimana seseorang itu bertindak. Setelah itu beliau
memanggil Usamah dan beranya : “Kenapa kamu
membunuhnya?” Usamah menjawab, “Wahai Rasulullah,
sesungguhnya ia sangat merugikan pasukan muslimin dan ia
telah membunuh si Fulan dan si Fulan. Ia mmbahayakan
pasukan kita. Oleh karena itu saya bermaksud untuk
menyerangnya. Tetapi, ketika melihat pedang, ia
mengucapkan “LAA ILAAHA ILLALLAH,” Rasulullah SAW
bertanya, “Kamu terus membunuhnya ?” Usamah menjawab :
“Ya.” Beliau bersabda : “Bagaimana kamu
mempertanggungjawabkan “LAA ILAAHA ILLALLAH” pada hari
kiamat tiba?” Usamah berkata : “Wahai Rasulullah,
mohonkanlah ampun untuk diri saya.” Beliau bersabda :
“Bagaimana kamu mempertanggungjawabkan “LAA ILAAHA
ILLALLAH” pada hari kiamat tiba?” Beliau tidak bersabda apaapa
selain hanya : “Bagaimana kamu
mempertanggungjawabkan “LAA ILAAHA ILLALLAH” pada hari
kiamat tiba?” (HR Muslim)
6. Dari Abdullah bin Utbah bin Mas’ud, ia berkata : saya
mendengar Umar bin Khaththab ra. berkata : “Sesungguhnya
manusia pada masa Rasulullah SAW itu diberi keputusan
dengan petunjuk wahyu, dan sekarang wahyu sudah terhenti.
Oleh karena itu, sekarang kami memberi keputusan kepada
kalian sesuai dengan perbuatan yang nampak bagi kami.
Maka siapa saja yang nampak berbuat baik kepada kami
niscaya kami mempercayai dan mendekatinya dan bagi kami
tidak perlu mempermasalahkan urusan batin, Allah-lah yang
memperhitungkan masalah batinnya. Dan siapa yang nampak
berbuat jahat kepada kami niscaya kami tidak mempercayai
dan membenarkannya walaupun ia mengatakan bahwa
batinnya (niat)nya baik.” (HR. Bukhari)
Takut kepada Allah
1. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata : Rasulullah SAW yang selalu
benar dan dipercaya itu, bercerita kepada kami : bahwa tiaptiap
manusia itu terkumpul penciptaannya dalam perut ibu
selama empat puluh hari berupa air mani, kemudian berupa
gumpalan darah selama empat puluh hari, kemudian berupa
daging selama empat puluh hari, lalu diutuslah malaikat dan
meniupkan roh ke dalamnya serta diperintah pula untuk
mencatat empat kalimat, yaitu mencatat tentang rezeki, ajal,
amal perbuatan dan tentang celaka atau bahagianya. Demi
Zat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang
di antara kamu beramal dengan amalnya ahli surga, sehingga
jarak antara dia dengan surga hanya sehasta, namun karena
ia telah tercatat sebagai ahli neraka, maka tiba-tiba ia
melakukan amalan ahli neraka, sampai ia akhirnya ia masuk
neraka. Dan salah seorang di antara kamu sekalian beramal
dengan amalnya ahli neraka, sehingga jarak antara dia
dengan neraka hanya sehasta, tetapi karena ia telah tercatat
sebagai ahli surga, maka tiba-tiba dia mengamalkan amalan
ahli surga sampai akhirnya ia masuk surga.” (HR Bukhari dan
Muslim)
2. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Pada hari kiamat neraka Jahannam itu akan didatangkan
dengan tujuh puluh ribu kendali, tiap-tiap kendali ditarik oleh
tujuh puluh ribu malaikat.” (HR Muslim)
3. Dari Nu’man bin Basyir ra., ia berkata : Saya mendengar
Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya seringan-ringan
siksa ahli neraka pada hari kiamat, ialah seseorang yang di
bawah kedua tumitnya diletakkan dua bara api yang dapat
mendidihkan otaknya. Sedangkan ia berpendapat bahwa tidak
ada seorang pun yang lebih berat siksaannya daripada itu,
padahal itu adalah siksaan yang paling ringan bagi ahli
neraka.” (HR Bukhari dan Muslim)
4. Dari Samurah bin Jundub ra., ia berkata : Nabi SAW bersabda
: “Di antara ahli neraka ada yang disiksa dengan api sebatas
pada kedua mata kakinya, sebatas kedua lututnya, sebatas
pusarnya, dan ada pula yang disiksa dengan api sebatas
bahunya.” (HR Muslim)
5. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Di kala manusia berdiri, menunggu panggilan Tuhan semesta
alam, ada salah seorang di antara mereka yang terbenam
dalam keringatnya sampai pada kedua daun telinganya.” (HR
Bukhari dan Muslim)
6. Dari Anas ra., ia berkata : “Rasulullah SAW pernah
berkhutbah, dan saya belum pernah mendengar khutbah yang
seperti itu. Beliau bersabda : “Seandaimya kamu mengetahui
apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit sekali
tertawa dan pasti akan banyak menangis.” Kemudian para
sahabat Rasulullah SAW menutup wajah mereka sambil
menangis terisak-isak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
7. Dari Al-Miqdad ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah
SAW bersabda : “Pada hari kiamat matahari didekatkan
kepada para makhluk, sehingga jaraknya kira-kira hanya satu
mil.” Sulaim bin ‘Amir yang meriwayatkan dari Al-miqdad,
berkata : “Demi Allah, saya tidak mengerti yang dimaksud
oleh Rasulullah dengan mil itu; apakah ukuran jarak pada
perjalanan ataukah mil yang biasa dipakai untuk mencelaki
mata.” Rasulullah SAW bersabda lagi : “Manusia tenggelam
dalam keringat sesuai dengan amal perbuatannya. Di antara
mereka ada yang terbenam sebatas kedua mata kakinya,
sebatas pusarnya, dan ada pula yang terbenam sampai pada
mulutnya.” Rasulullah SAW memberikan isyarat dengan
tangan ke arah mulut beliau.” (HR Muslim)
8. Dari Abu Hamzah ra. ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Pada hari kiamat manusia akan berkeringat, sehingga
setinggi tujuh puluh hasta, dan mereka akan tenggelam
dalam lautan keringat sehingga ada yang mencapai telinga
mereka.” (HR Bukhari dan Muslim)
9. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Kami bersama-sama
Rasulullah SAW, tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Beliau
bertanya : “Apakah kamu tahu, bunyi apakah ini?” Kami
menjawab : “Allah dan Rasul-Nya-lah yang lebih tahu.” Beliau
bersabda : “Ini adalah suaru batu yang dilemparkan ke dalam
neraka sejak tujuh puluh tahun. Batu itu sekarang baru
sampai ke dasar neraka, maka kalian mendengar suara
gemuruhnya.” (HR Muslim)
10. Dari ‘Adiy bin Halim ra., ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda : “Seorang di antara kalian akan berbicara langsung
dengan Tuhannya, padahal di antara dia dengan tuhannya
tidak ada juru bahasa, kemudian ia melihat ke kanan, tiada
terlihat kecuali amal yang pernah diperbuatnya, ia melihat ke
kiri, tiada terlihat kecuali amal yang pernah diperbuatnya, dan
ia melihat ke depan, tiada yang terlihat kecuali api yang tepat
di depannya. Maka takutlah kalian terhadap neraka walaupun
hanya bersedekah dengan separuh biji kurma.” (HR Bukhari
dan Muslim)
11. Dari Abu Zarr ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda
: “Sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kamu lihat.
Langit itu berkeriat-keriut ; di situ tidak ada tempat untuk
bisa menyisipkan empat jari-jari melainkan ada malaikat yang
meletakkan dahinya untuk bersujud kepada Allah Ta’ala. Demi
Allah, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui,
niscaya kalian akan sedikit sekali tertawa dan pasti akan
benyak menangis, dan kamu tidak akan bersuka ria dengan
istrimu diperaduan. Bahkan, kalian akan keluar ke tempattempat
yang ramai untuk mohon pertolongan kepada Allah
Ta’ala.” 1
1 Atau juga keluar ke jalan-jalan (tempat-tempat yang ramai)
sambil berdoa dengan suara yang keras meneriakkan nama
Allah
12. Dari Abu Barzah Nadlah bin `Ubaid Al –Aslamy ra. Ia
berkata : Rasulullah SAW Bersabda : “Kedua kaki seseorang
tidak akan bergerak, sebelum ditanya tentang umurnya,
untuk apa ia habiskan. Tentang ilmunya, untuk apa ia
pergunakan. Tentang hartanya, darimana ia peroleh dan
untuk apa ia belanjakan. Dan tentang badannya, untuk apa ia
rusakkan.” (H.R.Tirmidzi)
13. Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata : Rasulullah SAW
Membaca ayat “YAUMAIDZIN TUHADDITSU AKHBAARAHAA”
(Pada hari itu bumi menceritakan beritanya). Kemudian beliau
bertanya: “Tahukah kalian, apa yang diberitakan oleh bumi?”
Para sahabat menjawab : “Allah dan rasul-Nya yang lebih
tahu.” Beliau bersabda : “Sesungguhnya berita bumi, adalah
bumi menjadi saksi terhadap semua perbuatan manusia, baik
laki-laki maupun perempuan, yang mereka perbuat di
atasnya. Bumi itu akan berkata : “Ia telah berbuat begini dan
begitu pada hari ini dan hari itu : “Inilah yang diberitakan oleh
bumi” (H.R Tirmidzi)
14. Dari Abu Sa`id Al-Khudriy ra. Ia berkata : Rasulullah
SAW Bersabda : “Bagaimana aku bisa bersenang-senang
padahal malaikat peniup sangkakala telah memasukkannya ke
dalam mulut dan ia hanya menunggu ijin, kapan ia diperintah
untuk meniup sangkakalanya.” Berita ini terasa berat sekali
oleh para sahabat, kemudian beliau bersabda : “Ucapkanlah
“HASBUNALLAAHU WANI`MAL WAKIIL” (Allah yang
mencukupi kami dan Ia sebaik-baik yang menjamin)” (H.R
Tirmidzi)
15. Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata : “Rasulullah SAW
Bersabda : “Siapa saja yang takut, ia harus berangkat lebih
pagi, dan siapa saja yang berangkat lebih pagi, ia pasti akan
lebih cepat sampai pada tempat tujuan.. Ingatlah bahwa
dagangan Allah itu mahal. Ingatlah bahwa dagangan Allah itu
Surga.” (H.R Tirmidzi)
16. Dari `Aisyah ra, ia berkata : “Saya mendengar
Rasulullah SAW Bersabda : “Manusia akan dikumpulkan nanti
pada hari kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki dan
telanjang bulat.” Saya bertanya : “Wahai Rasulullah, waktu
itu laki-laki dan perempuan berkumpul, mereka dapat saling
memandang kepada yang lain?” Beliau menjawab : “Wahai
`Aisyah, pada saat itu urusannya sangat berat, sehingga
mereka tidak sempat memperhatikan hal-hal demikian itu.”
(H.R Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan “Urusan pada saat itu lebih penting
daripada saling pandang di antara mereka.”
Berharap kepada Allah
1. Dari `Ubadah bin Shamit ra. Ia berkata: “Rasulullah SAW
Bersabda : “Siapa saja yang bersaksi, bahwa tidak ada Tuhan
kecuali Allah Yang Maha Esa dan tidak menyekutukannya, dan
sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya,
dan bahwa Isa as. adalah hamba dan utusan-Nya serta bukti
kekuasaannya yang diberikan kepada Maryam dan ruh
daripada-Nya ; serta bersaksi bahwa surga dan neraka itu
adalah hak (benar-benar ada), maka Allah akan
memasukkannya ke dalam surga sesuai dengan amal
perbuatannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Muslim dikatakan : “Siapa saja yang bersaksi,
bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah
utusan Allah, maka Allah mengharamkannya dari api neraka.”
2. Dari Abu Dzar ra, ia berkata : Rasulullah SAW, bersabda :
“Allah `Azza wa Jalla berfirman : “Siapa saja yang
mengerjakan satu kebaikan, ia akan dibalas dengan sepuluh
kali lipat atau lebih, dan siapa saja yang mengerjakan satu
kejahatan, ia dibalas dengan satu kejahatan atau Aku
mengampuninya. Siapa saja yang mendekat kepada-Ku
sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta,. Siapa
saja yang mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat
kepadanya sedepa. Siapa saja yang datang kepada-Ku
dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan
berlari. Dan siapa saja yang menghadap kepada-Ku dengan
membawa dosa seisi bumi banyaknya, sedangkan ia tidak
menyekutukan Aku dengan sesuatupun, maka Aku akan
menerimanya dengan ampunan sebanyak isi bumi juga.” (H.R
Muslim)
3. Dari Jabir ra, ia berkata : “Seorang Badui datang kepada Nabi
SAW Dan bertanya : “Apakah dua hal yang sudah pasti itu?”
Beliau menjawab : “Siapa saja meninggal dunia sedangkan ia
tiadk menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia masuk
surga. Dan siapa saja yang meninggal dunia sedangkan ia
menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia masuk neraka.”
(H.R Muslim)
408
4. Dari Anas ra, ia berkata : Ketika Nabi SAW, bepergian,
ditemani Mu`adz, beliau memanggil : “Wahai Mu`adz.” Ia
menjawab : “Ya ada apa ya Rasulullah?”, beliau memanggil
lagi : “Wahai Mu`adz “, Ia menjawab : “Ya ada apa ya
Rasulullah?” Beliau memanggil lagi : “Wahai Mu`adz”. Ia
menjawab : “Ya ada apa ya Rasulullah ?”. ini adalah panggilan
yang ketiga kalinya. Kemudian beliau bersabda : “Seorang
hamba yang bersaksi, bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah
dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya dengan
sebenar-benarnya keluar dari lubuk hati, Allah pasti
mengharamkan dirinya dari api neraka.” Kemudian Mu`adz
bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah saya diperbolehkan
memberitahukan hal ini kepada orang banyak supaya mereka
gembira?” Beiau bersabda : “Kalau mereka mengetahui,
mungkin akan sembrono.” Tatkala Mu`adz akan meninggal ia
memberitakan hal itu karena takut berdosa.” (H.R Bukhari
dan Muslim)
5. Dari Abu Hurairah ra, atau Abu Sa`id Al-Khudriy, ia berkata :
Ketika perang Tabuk, para sahabat menderita kelaparan,
maka mereka berkata : “Wahai Rasulullah, andaikan engkau
mengijinkan, kami akan menyembelih binatang kami untuk
dimakan, sehingga dapat menambah kekuatan kami.
“Rasulullah SAW, bersabda : “Laksanakalah!” Kemudian Umar
ra, datang dan berkata : “Wahai Rasulullah, andaikan engkau
memberi izin mereka, maka kendaraan kita tinggal sedikit,
tetapi perintahkan mereka yang masih mempunyai sisa-sisa
bekal makanan, untuk mengumpulkannya kemudian
berdo`alah kepada Allah agar sisa bekal makanan itu
membawa berkah bagi mereka. Dengan demikian, semoga
Allah memberi keberkahan terhadap sisa bekal makanan itu
bagi mereka .” Rasulullah SAW, bersabda : “Ya, benar.”
Kemudian beliau menghamparkn kain dan menyeru kepada
orang-orang yang masih mempunyai sisa bekal makanan
untuk mengumpulkan pada kain itu. Ada seseorang yang
menyerahkan segenggam jagung, ada yang menyerahkan
sepotong roti, sehingga terkumpullah sisa-sisa bekal makanan
yang sedikit itu. Kemudian Rasulullah berdoa agar sisa-sisa
bekal makanan yang sedikit itu diberi berkah. Sesudah itu,
beliau bersabda : “Ambillah dengan membaaw bejana
(wadah) kalian masing-masing .” Maka mereka membawa
bejana dan diisi dengan makanan di kain yang terhampar itu
sampai akhirnya semua bejana mereka penuh, dan makan
dengan kenyang, bahkan pada kain itu masih tersisa
makanan. Kemudian Rasulullah SAW bersabda : Aku bersaksi
bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan aku adalah utusan-
Nya. Tidak ada seorang hambapun yang merasa bimbang
terhalang dari surga, ketika menghadap kepada Allah dengan
dua kalimat ini.” (H.R Muslim)
6. Dari `Itban bin Malik ra, salah seorang yang mengikuti perang
badar, ia berkata : “Saya biasa menjadi imam bagi kaumku,
Bani Salim. Antara tempatku dan tempat mereka terdapat
sebuah lembah. Apabila hujan turun, saya kesulitan
mendatangi masjid mereka. Maka saya menghadap Rasulllah
SAW Dan berkata : “Sesungguhnya penglihatanku sudah
berkurang, dan lembah antara tempat tinggal saya dan
tempat mereka banjir, apabila turun hujan. Sehingga saya
kesulitan untuk mendatangi tempat itu. Oleh karena itu,
sudilah kiranya engkau datang ke rumah saya, dan rumah itu
akan saya jadikan Mushalla. “ Rasulullah SAW Bersabda :
“Baiklah.” Keesokan harinya ketika cuaca tidak begitu panas
Rasulullah SAW, dan Abu Bakar ra, datang ke tempat saya.
Rasulullah SAW, minta ijin untuk masuk, dan saya
mempersilahkannya, tetapi beliau tidak langsung duduk dan
bertanya : “Bagian manakah yang kamu inginkan agar aku
salat di rumahmu ?” Saya menunjukkan tempatnya,
kemudian Rasulullah brediri dan bertakbir. Kami mengikuti
beliau beliau salat dua rakaat kemudian salam, dan kami pun
mengucapkan salam ketika beliau mengucapkannya.
Kemudian saya mempersilahkan beliau untuk menikmati
hidangan bubur dari tepung gandum yang saya sediakan.
Para tetangga mendengar bahwa Rasulullah berada di rumah
saya, maka berbondong-bondonglah mereka memenuhi
rumah saya. Lalu salah seorang berkata: “Apa yang sedang
dikerjakan oleh Malik, saya tidak tahu.” Lantas ada orang
yang berkata : “Dia adalah orang munafik yang tidak cinta
kepada Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah bersabda : “Kamu
jangan berkata seperti itu, apakah kamu tidak tahu bahwa ia
mangucapkan “LAA ILAAHA ILLALLAAH” (Tidak ada Tuhan
selain Allah), dengan itu ia mengharapkan keridhaan Allah
Ta`ala?” Ia menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.
Adapun kami, demi Allah tidak mengetahui kecintaan dan
pembicaraannya melainkan lebih condong kepada orangorang
munafik.” Rasulullah SAW, bersabda : “Sesungguhnya
Allah mengharamkan api neraka kepada orang yang
mengucapkan “LAA ILAAHA ILLALLAAH MUHAMMADUR
RASUULULLAAH ” (Tidak ada Tuhan kecuali Allah dan
Muhammad adalah utusan Allah) dengan tujuan untuk
mencari Ridha Allah .” (H.R Bukhari Muslim)
7. Dari Umar bin Khaththab ra, ia berkata : “Beberapa orang
tawanan di hadapkan kepada Rasulullah SAW, tiba-tiba ada
seorang wanita dalam tawanan itu bingung mencari anaknya.
Setiap ia melihat anak kecil dalam rombongan tawanan itu
diangkatnya dan disusuinya. Kemudian Rasulullah SAW,
bertanya : “Apakah kamu berpendapat bahwa perempuan ini
akan melemparkan anaknya ke dalam api ?” Kami menjawab
: “Demi Allah, tidak.” Beliau bersabda : “Allah itu lebih sayang
kepada hamba-Nya melebihi sayangnya perempuan ini
kepada anaknya.” (H.R Bukhari dan Muslim)
8. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda:
“Tatkala Allah menciptakan makhluk, ia menulis pada suatu
kitab. Kitab itu berada di sisinya di atas `Arasy, bertuliskan :
“Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku.” (H.R
Bukhari dan Muslim)
9. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah
SAW, bersabda : “Allah menjadikan rahmat itu seratus
bagian. Sembilan puluh sembilan ditahan di sisi-Nya, satu
bagian ia turunkan ke bumi. Dari satu bagian itulah semua
makhluk saling menyayangi sampai binatang itu mengangkat
kakinya, karena khawatir menginjak anaknya.” (H.R Bukhari
dan Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan, Rasulullah SAW, bersabda:
“Sesungguhnya Allah mempunyai seratus rahmat dan ia
menurunkan satu di antara seratus rahmat itu untuk jin,
manusia, binatang dan serangga. Dengan satu rahmat itulah
mereka saling menyayangi dan dengan satu rahmat itulah
binatang buas mempunyai rasa kasih sayang terhadap anaknya.
Adapun rahmat yang sembilan puluh sembilan, Allah
menyimpannya untuk diberikan pada hari kiamat, sebagai rasa
sayang terhadap hamba-hamba-Nya,”
Dalam hadits riwayat Muslim dari Salman Al-Farisi ra, ia berkata
: Rasulullah SAW, bersabda : “Sesunggunhya Allah mempunyai
rahmat seratus, satu diantaranya rahmat yang menjadikan
makhluk itu saling menyayangi. Dan yang sembilan puluh
sembilan, diturunkan pada hari kiamat.”
Dalam riwayat lain dikatakan, Rasulullah SAW Bersabda :
“Sesungguhnya Allah menciptakan langit dan bumi. Satu di
antaranya sebagai rahmat di muka bumi, dengan satu rahmat
itulah seorang ibu mempunyai rasa sayang terhadap anaknya,
demikian pula binatang dan burung, mereka saling menyayangi.
Apabila hari kiamat tiba, maka disempurnakanlah rahmat itu.”
10. Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW Dalam
menceritakan wahyu yang diterima dari Tuhannya Yang Maha
Pemberi Berkah lagi Maha Luhur, beliau bersabda : “Seorang
hamba berdosa, kemudian ia berdoa : “Ya Allah ampunilah
dosaku.” Maka Allah Yang Maha Pemberi Berkah lagi Maha
Luhur berfirman : “Hamba-Ku berbuat dosa kemudian ia
mengetahui bahwa ia mempunyai Tuhan yang mengampuni
dosa dan akan menuntut dosanya.”
Kemudian ia melakukan dosa lagi dan berdoa : “Ya Tuhanku,
ampunilah dosaku.”, maka Allah Yang Maha Pemberi
Berkah lagi Maha Luhur berfirman : “Hamba-Ku berbuat
dosa kemudian ia mengetahui bahwa ia mempunyai Tuhan
yang mengampuni dosa, dan akan menuntut dosanya”
Kemudian ia melakukan dosa lagi dan berdoa : “Ya
Tuhanku, ampunilah dosaku, maka Allah Yang Maha Pemberi
Berkah lagi Maha Luhur berfirman : Hamba-Ku berbuat
dosa kemudian ia mengetahui, bahwa ia mempunyai Tuhan
yang mengampuni dosa dan akan menuntut dosanya. Aku
benar-benar memberi ampunan kepada Hamba-Ku, maka
hendaklah ia berbuat menurut apa yang dikehendakinya.”
(H.R Bukhari dan Muslim)
11. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Rasulullah SAW,
bersabda : “Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-
Nya, andaikan kalian tidak berdosa, Allah pasti akan
memusnahkan kalian dan mendatangkan kaum yang berdosa
kemudian mereka memohon ampunan kepada Allah, maka
Allah pun mengampuni dosa mereka.” (H.R Muslim)
12. Dari Abu Ayyub Al-Anshariy, ia berkata : Saya
mendengar Rasulullah SAW, bersabda : “Andaikan kalian
tidak berbuat dosa, Allah pasti menciptakan makhluk lain
yang berbuat dosa, kemudian mereka memohon ampunan,
Allah pun mengampuni dosa mereka.” (H.R Muslim)
13. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : “Kami duduk-duduk
dengan Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar ra, serta para
sahabat yang lain, kemudian Rasulullah SAW Berdiri dan
meninggalkan kami. Maka kami menunggu-nunggu, tetapi
beliau tidak kembali. Kami merasa khawatir dan cemas kalaukalau
beliau terhalang oleh sesuatu, maka kami semuad
berdiri dan sayalah orang yang pertama kalu merasa cemas.
Saya lalu keluar mencari Rasulullah SAW, sehingga saya
sampai ke paar tembok seorang Anshar.” Ia bercerita panjang
lebar, sampai ia mengucapkan : “Kemudian Rasulullah SAW,
bersabda : “Pergilah, dan kami jumpai siapa saja yang kamu
temui dip agar tembok ini menyaksikan bahwa tidak ada
Tuhan kecuali Allah dengan keyakinan hatinya, maka
gembirakanlah dia dengan surga.” (H.R Muslim)
14. Dari Abdullah bin Amr bin Al-`Ash ra, ia berkata :
Ketika Nabi SAW, membaca firman Allah yang menceritakan
tentang keadaan Nabi Ibrahim as. : “RABBI INNAHUNNA ADLLALNA
KATSIIRAN MINANNAASI FAMAN TABI`ANNI
FAINNAHU MINNII” (Wahai Tuhanku, sesungguhnya berhalaberhala
itu telah menyesatkan kebanyakan manusia. Maka
siapa saja yang mengikuti aku, maka sesungguhnya ia
termasuk golonganku)” Dan juga tentang keadaan Nabi Isa :
“IN TU`ADZDZIBHUM FAINNAHUM `BAADUKA WA IN
TAGHFIR LAHU FA INNAKA ANTAL`AZIIZUL HAKIIM” (Jika
Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka
adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni
mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana)” Kemudian Rasulullah mengangkat kedua
tangannya seraya berdo`a : “ALLAAHUMMA
UMMATII,UMMATII” ( ya Allah tolonglah umatku, tolonglah
umatku). “ dan beliau terus menangis. Kemudia Allah `Azza
wa Jalla berfirman: “Hai Jibril, datanglah kepada Muhammad,
dan tanyakan kenapa ia menangis?” Kemudian Jibril
mendatangi Rasulullah SAW, dan menceritakan semua yang
baru saja difirmankan-Nya kepada Jibril setelah kembali,
kemudian Allah Ta`ala berfirman: “Hai Jibril datanglah kepada
Muhammad dan katakan: “Sesungguhnya Kami (Allah) akan
memberikan keridhaan (kesenangan) kepadamu tentang
umatmu dan Kami tidak sampai menyakiti hatimu” (H.R
Muslim)
15. Dari Mu`adz bin Jabal ra, ia berkata : “Saya menemani
Nabi SAW, di atas keledai, kemudian beliau bertanya : “Wahai
Mu`adz tahukah kamu apakah hak Allah atas hamba-Nya dan
apakah hak hamba atas Allah ? “ saya menjawab : “Allah dan
Rasul-Nya yang lebih tahu. “ Beliau bersabda :
“Sesungguhnya hak Allah atas hamba-Nya, adalah mereka
menyembah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan
sesuatupun. Sedangkan hak hamba atas Allah, adalah tidak
menyiksa orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan
sesuatupun. “Kemudian saya bertanya: “Wahai Rasulullah,
bolehkan saya menyampaikan kabar gembira ini kepada
orang banyak?” Beliau menjawab : “Janganlah kamu
kabarkan berita gembira ini kepada mereka, karena mereka
nanti akan berlaku seenaknya.” (H.R Bukhari dan Muslim)
16. Dari Al-Barra` bin `Azib ra, dari Nabi SAW, beliau
bersabda : “Seorang muslim, apabila ditanya di dalam kubur,
maka ia bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan
Muhammad adalah utusan Allah,” Hal ini sesuai dengan firman
Allah Ta`ala yang artinya : “Allah akan menetapkan orangorang
yang beriman dengan ucapan yang baik di kala hidup di
dunia maupun akhirat.” (H.R Bukhari dan Muslim)
17. Dari Anas ra, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda :
“Sesungguhnya orang kafir itu apabila melakukan kebaikan, ia
langsung diberi balasan yang ia rasakan di dunia. Sedangkan
bagi orang mukmin, sesungguhnya Allah Ta`ala menyimpan
kebaikan-kebaikannya untuk di akhirat, dan ia dikaruniai
rezeki di dunia karena ketaatannya.”
Dalam riwayat lain dikatakan Rasulullah SAW, bersabda :
“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya kebaikan bagi orang
mukmin, ia diberi karunia di dunia, karena kebaikannya dan
kebaikan itu masih dibalas lagi kelak di akhirat. Adapun orang
kafir, ia mendapatkan karunia di dunia, karena kebaikankebaikan
yang ia kerjakan tidak karena Allah Ta`ala. Sehingga
apabila ia pulang ke akhirat, maka ia tidak akan memperoleh
balasan apa-apa atas kebaikan yang ia kerjakan itu.” (H.R
Muslim)
18. Dari Jabir ra, ia berkata : Rasulullah SAW, bersabda ”
Perumpamaan salat lima waktu, bagaikan sungai yang penuh
dengan air mengalir pada pintu salah seorang di antara
kalian. Dan ia mandi lima kali setiap hari dari sungai itu.” (H.R
Muslim)
19. Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata : Saya mendengar
Rasulullah SAW, bersabda : “Seorang muslim yang meninggal
dunia, kemudian jenazahnya disalati oleh empat puluh orang
yang tidak mempersekutukan Allah, maka Allah menerima
syafa`at dan do`a mereka terhadap orang yang meninggal
dunia itu.” (H.R Muslim)
20. Dari Ibnu Mas`ud ra, ia berkata : “Kami bersama-sama
Rasulullah SAW, di dalam suatu majelis yang berbentuk
lingkaran berjumlah kurang lebih empat puluh orang,
kemudian beliau bertanya : “Apakah kalian suka, seandainya
kalian merupakan seperempat penghuni surga ? “ Kami
menjawab : “Ya suka”. Beliau bertanya lagi : “Apakah kalian
suka, jika kalian merupakan sepertiga penghuni surga? “ Kami
menjawab : “Ya suka.” Beliau bersabda : “Demi Zat yang
jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, Aku
berharap semoga kalian merupakan setengah dari penghuni
surga. Dan surga itu hanya akan dimasuki oleh orang Islam.
Kalian di tengah-tengah orang musyrik itu, bagaikan rambut
putih pada kulit lembu hitam, atau bagaikan rambut hitam
pada kulit lembu merah.” (H.R Bukhari dan Muslim)
21. Dari Abu Musa Al-Asy`ariy ra, ia berkata : “Rasulullah
SAW Bersabda : “Jika hari kiamat tiba, Allah akan memberi
untuk orang Islam masing-masing seorang Yahudi atau
seorang Nasrani seraya berfirman : “Inilah tebusanmu dari
neraka.”
Dalam riwayat lain dikatakan : “Dari Abu Musa Al-Asy`ariy ra,
dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Kelak di hari kiamat
orang-orang islam datang dengan membawa dosa sebesar
gunung, kemudian Allah memberi ampunan kepada mereka.”
(H.R Muslim)
22. Dari Ibnu Umar ra, ia berkata : “Saya mendengar
Rasulullah SAW, bersabda : “Di hari Kiamat, orang mukmin
didekatkan kepada Tuhannya, kemudian memberikan
perlindungan kepadanya dan, bertanya: “Tahukah kamu dosa
ini?” Orang mukmin itu menjawab : “Wahai Tuhanku, saya
tahu.” Tuhan berfirman : “Sesungguhnya Aku telah menutupnutupi
dosamu di dunia, dan sekarang Aku ampuni dosadosamu
itu.” Kemudian diberikan kepadanya catatan amal
kebaikannya.” (H.R Bukhari dan Muslim)
23. Dari Ibnu Mas`ud ra. Ia berkata : Ada seorang lakilaki
mencium seorang wanita kemudian ia menghadap kepada
Nabi SAW Dan menceritakan kepada beliau tentang apa yang
telah ia kerjakan. Kemudian turunlah firman Allah Ta`ala :
“AQIMISH SHALATA THARAFAYIN NAHARI WA ZULAFAN
MINALLAILI INNAL HASANAATI YUDZIBNAS SAYIA-AAT (Dan
dirikanlah salat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang )
dan pada bahagian permulaan malam. Sesungguhnya
perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa)
perbuatan-perbuatan yang buruk.” Orang itu bertanya
:”Wahai Rasulullah, apakah ini hanya untuk saya?” Beliau
menjawab : “Untuk semua umatku” (H.R Bukhari dan Muslim)
24. Dari Anas ra. Ia berkata: Ada seorang datang kepada
Nabi SAW Dan berkata : “Wahai Rasulullah, saya telah
berbuat sesuatu yang harus dikenakan hukuman, maka
laksanakanlah hukuman itu kepada saya.” Kemudian tibalah
waktu salat, maka ia salat bersama-sama beliau. Setelah
selesai, ia berkata lagi: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya
saya telah berbuat sesuatu yang harus dikenakan hukuman,
maka laksanakanlah hukuman itu kepada saya, sesuai dengan
ketentuan Allah.” Beliau bersabda : “Bukankah kamu tadi
salat bersama-sama kami?” ia menjawab: “Ya” Belaiu
bersabda : “Dosamu telah diampuni”25
(H.R Bukhari dan Muslim)
25Perbuatan yang dikerjakan orang tersebut, tidaklah termasuk
perbuatan yang harus dikenakan hukuman berat seperti berbuat
zina dan meminum khamr.
25. Dari Anas ra. ia berkata : Rasulullah SAW Bersabda :
“Sesungguhnya Allah sangat ridha (senang) kepada orang
yang apabila makan ia memuji kepada-Nya, atau apabila ia
minum, ia memuji kepada-Nya, karena merasa telah
mendapatkan rahmat.” (H.R Muslim)
26. Dari Abu Musa ra, dari Nabi SAW Beliau bersabda :
“Sesungguhnya Allah Ta`ala membentangkan tangan-Nya
pada waktu malam untuk menerima taubat orang yang
berdosa pada waktu siang, dan Ia membentangkan tangan-
Nya pada waktu siang untuk menerima taubat orang yang
berbuat dosa pada waktu malam, sampai matahari terbit dari
barat(hari kiamat).” (H.R Muslim)
27. Dari Abu Najih `Amr bin `Abbash As-Sulamiy ra, Ia
berkata : “Pada zaman Jahiliyah, saya menduga bahwa
semua manusia itu berada dalam kebenaran, serta semua
manusia menyembah berhala. Kemudian saya mendengar,
bahwa di Mekkah ada seseorang yang mengajarkan ajaranajaran
yang baik, maka saya segera kesana dengan
kendaraan. Di masa itu Rasulullah SAW, masih sembunyisembunyi
dan dianiaya oleh kaumnya. Saya merasa iba.
Sesampainya di Mekkah dan berjumpa dengannya, saya
bertanya : “Siapakah engkau?” . Beliau menjawab : “Aku
adalah seorang Nabi.” Saya bertanya :”Apakah Nabi itu?”
Beliau menjawab : “Allah mengutusku.” Saya bertanya :
“Untuk apa Allah mengutusmu?” Beliau menjawab : “Allah
mengutusku untuk menyambung tali persaudaraan,
menghancurkan berhala dan mengesakan Allah, dan Allah
tidak boleh dipersekutukan dengan sesuatu pun.” Saya
bertanya : “Siapa sajakah yang mengikuti engkau di dalam
ajaran seperti ini?” Beliau menjawab : “Orang merdeka dan
hamba sahaya.” Pada waktu itu orang yang telah mengikuti,
di antaranya adalah Abu Bakar dan Bilal ra. Saya berkata :
“Sesungguhnya saya akan mengikuti engkau.” Beliau
menjawab: “Sesungguhnya sekarang kamu belum bisa
mengikuti ajaran ini. Bukankah kamu tahu keadaanku dan
keadaan orang-orang di sekelilingku. Kembalillah kepada
keluargamu, nanti apabila kamu mendengar kau telah
mendapatkan kemenangan, maka datanglah kepadaku.”
Kemudian `Amr kembali kepada keluarganya. Ketika
Rasulullah SAW Hijrah ke Madinah saya masih tetap mencaricari
kabar kepada keluargaku, sehingga datanglah
sekelompok penduduk Madinah, dan saya bertanya :
“Bagaimana berita seseorang yang baru datang di Madinah
itu? “ Mereka menjawab: “Orang-orang Madinah menyambut
kedatangannya, sedangkan kaumnya bermaksud untuk
membunuhnya, tetapi mereka tidak mampu.” Kemudian saya
pergi ke Madinah dan menemui beliau dan bertanya: “Wahai
Rasulullah, apakah engkau masih mengenal saya?” Beliau
menjawab : “Ya, kamu adalah orang yang pernah menemuiku
di Mekkah.” `Amr berkata : “Wahai Rasulullah beritahukanlah
kepada saya tentang apa saja yang diajarkan Allah kepada
engkau, dan saya belum mengetahuinya. Beritahukanlah
kepada saya tentang salat. Beliau bersabda : “Salat subuhlah
kamu, kemudian berhentilah sampai matahari terbit setinggi
tombak, karena ketika matahari itu terbit seolah-olah ia terbit
di antara dua tanduk setan dan pada saat itu orang-orang
kafir sujud kepada matahari. Kemudian salatlah sekehendak
hatimu, karena sesungguhnya salat itu disaksikan dan dihadiri
oleh malaikat, sehingga matahari itu hampir tergelincir yaitu
sebelum tergelincir kira-kira sepanjang tombak, kemudian
berhentilah dari salat karena waktu itu neraka Jahanam
sedang dinyalakan. Apabila matahari telah tergelincir,
salatlah, karena salat itu disaksikan dan dihadiri oleh malaikat
sehingga kamu mengerjakan salat Asar. Lalu berhentilah salat
sampai matahari terbenam karena pada waktu matahari
terbenam itu seolah-olah ia terbenam di antara kedua tanduk
setan, dan pada waktu itu juga orang-orang kafir sujud
kepada matahari.” `Amr berkata : Saya berkata : “Wahai
Rasulullah, beritahukanlah kepada saya tentang wudhu`.”Nabi
bersabda : “Apabila seseorang di antara kamu mengerjakan
wudhu`, berkumurlah, dan memasukan air ke dalam hidung
serta semburkanlah lagi keluar, maka berjatuhanlah dosadosa
muka, mulut dan hidungnya. Apabila ia membasuh muka
sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, maka
berjatuhanlah dosa-dosa mukanya melalui ujung dagunya
bersama-sama dengan air. Apabila ia membasuh kedua
tangannya mesampai siku, maka berjatuhanlah dosa-dosa
kedua tangannya melalui ujung jari-jarinya bersama-sama
dengan air. Apabila ia mengusap kepala, maka berjatuhanlah
dosa-dosa kepalanya melalui ujung rambutnya bersama-sama
dengan air. Apabila ia membasuh kedua kakinya sampai mata
kaki, maka berjatuhanlah dosa-dosa kedua kakinya melalui
ujung jari-jari kakinya bersama-sama dengan air. Kemudian
apabila ia berdiri untuk mengerjakan salat dimana ia memuji,
menyanjung dan mengagungkan Allah dengan bacaan-bacaan
yang telah ditentukan serta membersihkan hatinya, hanya
ditujukan kepada Allah Ta`ala saja, maka hilanglah semua
dosanya bagaikan keadaannya ketika ia dilahirkan oleh
ibunya.”
Ketika `Amr bin Abasah menceritakan hadis ini kepada Abu
Umamah menegurnya : “Hai `Amr perhatikanlah apa yang
kamu ucapkan. Apakah mungkin seseorang itu diberi
ampunan sebesar itu hanya dengan mengerjakan serangkaian
amalan saja?” `Amr menjawab: “Wahai Abu Umamah, usiaku
sudah lanjut, tulangku sudah rapuh dan ajalku hampir tiba,
maka buat apa aku mendustakan Allah Ta`ala. Andaikan aku
hanya mendengar satu kali, dua kali, tiga kali, empat kali,
lima kali, enam kali, dan tujuh kali saja dari Rasulullah SAW
Aku pasti tidak akan menceritakan hal itu selama-lamanya,
tetapi aku mendengarnya lebih dari itu.” (H.R Muslim)
28. Dari Abu Musa Al-Asy`ariy ra, dari Nabi SAW, beliau
bersabda : “Apabila Allah Ta`ala berkehendak menurunkan
rahmat kepada suatu umat, maka Allah mewafatkan Nabinya
sebelum umat itu binasa, di mana Nabi itu dijadikan perintis
jalan dan simpanan bagi umat, maka disiksa-Nya umat itu di
waktu Nabinya masih hidup supaya Nabi itu melihat dan
merasa lega atas binasanya umat itu dikarenakan
mendustakan dan mendurhakai perintahnya.” (H.R Muslim)
Keutamaan berharap kepada Allah
1. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Allah
‘Azza wa Jalla berfirman: “Aku menurut sangkaan hamba-Ku
dan Aku senantiasa bersamanya selama ia mengingat Aku.
Demi Allah, Allah lebih senang menerima tobat hamba-Nya
melebihi senangnya seseorang di antara kalian yang
menemukan kembali barangnya yang telah hilang di tengah
padang pasir. Siapa saja mendekat kepada-Ku sejengkal,
maka Aku mendekat kepadanya sehasta, dan siapa saja yang
mendekat kepada-Ku sehasta maka Aku mendekat kepadanya
sedepa, dan apabila ia datang kepada-Ku dengan berjalan,
maka Aku datang kepadanya dengan berlari.” (HR Bukhari
dan Muslim)
2. Dari Jabir bin Abdullah ra., ia berkata : Saya mendengar Nabi
SAW Bersabda sebelum tiga hari kemudian beliau meninggal :
“Jangan sekali-kali salah seorang di antara kamu mati, kecuali
ia berbaik sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Muslim)
3. Dari Anas ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW
Bersabda : ”Allah Ta’ala berfirman : ”Hai anak Adam, selama
kamu berdoa dan berharap kepada-Ku, pasti Aku ampuni
dosa yang telah kamu perbuat, dan Aku tidak peduli
berapapun banyaknya. Hai anak Adam, andaikan dosadosamu
bagaikan awan di langit, kemudian kamu memohon
ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampunimu. Hai anak
Adam, sesungguhnya andaikan kamu datang kepada-Ku
dengan membawa dosa seisi bumi, kemudian kamu
menghadap Aku sedangkan kamu tidak menyekutukan Aku,
maka Aku akan mengampuni dosa yang seisi bumi banyaknya
itu.” (HR. Tirmidzi)
Memadukan takut dan harap kepada
Allah
1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW Bersabda :
”Andaikan orang mukmin mengetahui siksaan yang
disediakan oleh Allah, pasti tidak ada seorang pun yang
berharap masuk surga-Nya. Dan andai saja orang kafir
mengetahui rahmat yang dikaruniakan oleh Allah pasti tidak
ada seorang pun yang berputus asa dari rahmat-Nya.” (HR.
Muslim)
2. Dari Abu Sa’id Al-Khudriy ra., ia berkata : Rasulullah SAW
Bersabda: ”Apabila jenazah itu diletakkan di atas bahu,
dibawa oleh orang-orang yang memikulnya, jika jenazah itu
baik niscaya ia berkata : ”Cepatlah, cepat antarkan aku.”
Namun, apabila jenazah itu tidak baik maka ia berkata :
”Aduh celaka, akan dibawa kemana aku ini ?” Semua makhluk
mendengar suara jenazah itu kecuali manusia, andaikan
manusia itu mendengar pasti pingsan.” (HR. Bukhari)
3. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata : ”Rasulullah SAW bersabda :
”Surga itu amat dekat kepada salah seorang di antara kamu
melebihi dekatnya tali sepatunya. Dan demikian pula dengan
neraka.” (HR. Bukhari)
Menangis karena takut dan rindu
kepada Allah SWT
1. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata : ”Nabi SAW Bersabda
kepadaku: ”Bacalah Al-Qur’an untukku.” Saya menjawab :
”Wahai Rasulullah, bagaimana saya harus membacakan buat
engkau, padahal Al-Qur’an diturunkan kepadamu ?” Beliau
bersabda : ”Sesungguhnya aku ingin mendengar Al-Qur’an itu
dibaca oleh orang lain.” Kemudian saya membacakan untuk
beliau surat An-Nisa’. Sampai pada ayat : ”FAKAIFA IDZAA
JI’NAA MIN KULLI UMMATIN BISYAHIIDIN WAJI’NAA BIKA
’ALAA HAA ULAAI SYAHIIDA (Maka bagaimanakah (halnya
orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi
(rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu
(Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai
umatmu),” beliau bersabda : ”Cukup sampai disitu!”
Kemudian saya menoleh kepada beliau dan saat itu kedua
matanya sedang mencucurkan air mata.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
2. Dari Anas ra., ia berkata : ”Rasulullah SAW pernah
berkhutbah, dan saya belum pernah mendengarnya. Beliau
bersabda : ”Andaikan kalian mengetahui apa yang aku
ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan pasti akan
banyak menangis.” Anas berkata : ”Mendengar yang demikian
para sahabat Rasulullah SAW menutupi muka mereka sambil
menangis terisak-isak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW Bersabda :
”Tidak akan masuk neraka, seseorang yang menangis karena
takut kepada Allah, sehingga air susu itu kembali ke
puntingnya. Tidak akan bisa berkumpul debu yang menempel
karena berjuang di jalan Allah dengan asap neraka
Jahannam.” (HR. Tirmidzi)
4. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda : ”Ada
tujuh kelompok yang akan memperoleh naungan Allah, pada
hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu : (1)
Pemimpin yang adil. (2) Pemuda yang giat beribadah kepada
Allah. (3) Seseorang yang hatinya selalu digantungkan
(dipertautkan) dengan masjid. (4) Dua orang yang saling
mencintai karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah
karena Allah. (5) Seorang laki-laki yang diajak (dirayu) oleh
seorang perempuan bangSAWan yang cantik rupawan, lalu ia
berkata : ”Sesungguhnya aku takut kepada Allah.” (6)
Seseorang yang memberikan sedekah lalu disembunyikan
sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang
diberikan oleh tangan kanannya. Dan (7) seseorang yang
mengingat (berdzikir) kepada Allah di tempat yang sunyi
kemudian kedua matanya bercucuran air mata.” (HR. Bukhari
dan Muslim)
5. Dari Abdullah bin Asy-Syikhkhir ra., ia berkata : ”Saya
mendatangi Rasulullah SAW Sedangkan beliau sedang salat
dan di dalam perutnya terdengar suara seperti suara air
sedang mendidih, saat beliau menangis.” (HR. Abu Daud dan
Tirmidzi)
6. Dari Anas ra. ia berkata : Rasulullah SAW Bersabda kepada
Ubay bin Ka’ab : ”Sesungguhnya Allah ’Azza wa Jallah itu
menyuruhku untuk membacakan : ”LAM YAKUNILLADZIINA
KAFARUU.” Ubay bertanya : ”Allah menyebut nama saya
kepadamu ?” Beliau menjawab : ”Ya.” Maka Ubay menangis.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
7. Dari Anas ra., ia berkata : ”Setelah Rasulullah SAW wafat Abu
Bakar mengajak Umar ra., ia berkata : ”Mari kita berkunjung
ke rumah Ummu Aiman ra. Sebagaimana Rasulullah dulu
sering mengunjunginya.” Ketika keduanya sampai di tempat
Ummu Aiman, ia menangis, lalu keduanya bertanya : ”Apa
yang menyebabkan kamu menangis, bukankah kamu sudah
tahu apa yang disediakan Allah untuk Rasul-Nya itu sangat
baik ?” Ia menjawab : ”Sesungguhnya saya menangis bukan
sebab itu, saya tahu bahwa apa yang disediakan Allah untuk
Rasulullah itu sangat baik, namun saya menangis karena
wahyu dari langit telah terputus.” Ternyata perkataan Ummu
Aiman itu mendorong keduanya untuk menangis, maka
menangislah keduanya.” (HR. Muslim)
8. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : ”Ketika Rasulullah SAW sakit
keras, ada seseorang yang menanyakan tentang imam salat,
kemudian beliau bersabda : ”Suruhlah Abu Bakar untuk
mengimami salat!” ’Aisyah ra. berkata : ”Sesungguhnya Abu
Bakar itu orang yang amat lembut hatinya, apabila ia
membaca Al-Qur’an ia tidak dapat menahan tangisnya.”
Namun beliau bersabda : ”Suruhlah ia (Abu Bakar) untuk
menjadi Imam!” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Aisyah ra. yang lain dikatakan, bahwa ’Aisyah
berkata : ”Sesungguhnya Abu Bakar apabila menempati
tempatmu (menjadi imam), orang-orang tidak mendengar
bacaan salatnya karena menangis.”
9. Dari Ibrahim bin Abdurrahman bin ’Auf, ia berkata :
Dihidangkan makanan kepada Abdurrahman bin ’Auf ra.,
tetapi waktu itu ia sedang berpuasa, dan ia berkata :
”Mush’ab bin Umair ra. adalah orang yang lebih baik daripada
aku, ketika ia terbunuh di dalam peperangan tidak ada kain
yang dapat mengkafaninya kecuali sepotong selimut yang
terbuat dari bulu. Apabila kepalanya ditutupi, maka
terbukalah kakinya. Kemudian kami telah diberi kekayaan
dunia yang banyak.” Atau ia berkata : ”Kami telah diberi
kekayaan dunia yang sebanyak-banyaknya. Kami khawatir,
jika kebaikan kami telah dibalas dengan kekayaan ini.”
Kemudian ia terus menangis dan meninggalkan makanan itu.”
(HR. Bukhari)
10. Dari Abu Umamah Shunday bin ’Ajlan Al-Bahiliy ra., dari
Nabi SAW beliau bersabda: ”Tidak ada sesuatupun yang lebih
dicintai Allah daripada dua tetes dan dua bekas, yaitu tetesan
air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah yang
menetes sewaktu berjuang di jalan Allah. Adapun dua bekas
adalah bekas luka sewaktu berjuang di jalan Allah dan bekas
dari menjalankan salah satu kewajiban-kewajiban Allah
Ta’ala.” (HR. Tirmidzi)
11. Dari Al-’Irbadh bin Sariyah ra., ia berkata : Rasulullah
SAW telah memberi suatu nasihat kepada kami, nasihat itu
dapat menggetarkan hati dan mencucurkan air mata.” (Imam
hadits tidak disebutkan)
Zuhud
1. Dari Amr bin ’Auf Al-Anshariy ra., ia berkata : Rasulullah SAW
mengutus Abu ’Ubaidah Al-Jarrah ra. ke Bahrain, guna
mengambil upeti (pajak). Sekembalinya dari Bahrain, ia
membawa harta yang cukup banyak. Para sahabat Anshar
mendengar kedatangan Abu ’Ubaidah. Mereka salat Shubuh
bersama-sama Rasulullah SAW, ketika selesai salat Rasulullah
SAW menoleh, dan para sahabat menatap beliau, kemudian
Rasulullah SAW tersenyum ketika melihat mereka, seraya
bersabda : ”Aku kira kalian sudah mendengar, bahwa Abu
’Ubaidah telah datang dari Bahrain dengan membawa harta
yang banyak.” Mereka berkata : ”Benar, wahai Rasulullah.”
Beliau bersabda : ”Sambutlah berita gembira itu, dan
berharaplah semoga Allah memudahkan apa yang kamu
inginkan. Demi Allah, tidaklah kemiskinan yang aku
khawatirkan atas kamu, tetapi aku khawatir kalau-kalau
kekayaan dunia ini dihamparkan, sebagaimana yang pernah
dihamparkan atas orang-orang sebelum kalian, lalu akan
berlomba-lomba pada kekayaan, sebagaimana mereka dan,
kemudian kekayaan itu akan membinasakan kalian,
sebagaimana mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Sa’id Al-Khudriy ra., ia berkata : Rasulullah SAW
Duduk di atas mimbar dan kami duduk di sekitarnya,
kemudian beliau bersabda : ”Sesungguhnya di antara yang
aku khawatirkan terhadap kalian sepeninggalku, adalah
terbukanya kemewahan dan keindahan dunia.” (HR. Bukhari
dan Muslim)
3. Dari Abu Sa’id Al-Khudriy ra., ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda : ”Sesungguhnya dunia ini indah dan
mempesonakan, dan sesungguhnya Allah Ta’ala
menyerahkannya kepada kalian. Kemudian Allah akan melihat
bagaimana kalian berbuat atas dunia ini. Maka berhati-hatilah
dalam urusan dunia dan berhati-hatilah juga terhadap
wanita.” (HR. Muslim)
4. Dari Anas ra., ia berkata : Nabi SAW bersabda : ”Ya Allah,
sebenarnya tidak ada kehidupan yang sesungguhnya kecuali
kehidupan akhirat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
5. Dari Rasulullah SAW, beliau bersabda : ”Ada tiga hal yang
mengikuti kepergian jenazah, yaitu keluarga, harta dan
amalnya. Dua di antaranya akan kembali, hanya satu yang
tetap menyertainya. Keluarga dan hartanya akan kembali,
sedangkan yang tetap adalah amalnya.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
6. Dari Anas ra., ia berkata : Rasulullah SAW Bersabda : ”Pada
hari kiamat dihadirkan orang yang paling senang sewaktu di
dunia. Ia termasuk calon penghuni neraka. Kemudian ia
dimasukkan sebentar ke dalam neraka, dan ditanya, ”Wahai
anak Adam, apakah kamu merasakan kesenangan, dan
apakah kamu pernah merasakan kenikmatan ?” Ia menjawab
: ”Demi Allah tidak ada, wahai Tuhanku.” Lalu didatangkan
juga orang yang paling menderita sewaktu hidup di dunia. Ia
termasuk calon penghuni surga, kemudian ia dimasukkan
sebentar ke dalam surga dan di tanya : ”Wahai anak Adam,
apakah kamu merasakan adanya kesedihan, dan apakah
kamu pernah merasakan penderitaan ?” Ia menjawab : ”Demi
Allah, saya tidak merasakan adanya penderitaan sedikitpun,
juga tidak merasakan adanya kesedihan.” (HR. Muslim)
7. Dari Al-Mustaurid Syaddad ra., ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda : ”Perbandingan antara dunia dan akhirat, seperti
seseorang di antara kalian yang memasukkan jari-jarinya ke
dalam lautan, maka perhatikanlah apa yang dapat ia peroleh
?” (HR. Muslim)
8. Dari Jabir ra., ia berkata : Rasulullah SAW berjalan-jalan di
pasar dikelilingi para sahabat, kemudian beliau melewati
bangkai seekor anak kambing yang telinganya kecil dan beliau
mengangkat telinganya, seraya bertanya : ”Siapakah di
antara kalian yang suka membeli bangkai ini dengan harga
satu dirham ?” Mereka menjawab : ”Maka semua tidak ada
yang menyukainya, buat apakah bangkai itu ?” Beliau
bertanya lagi : ”Apakah kalian suka andaikan bangkai ini
diberikan kepada kalian ?” Mereka menjawab :”Demi Allah,
andaikan binatang itu masih hidup, itu pun cacat apalagi ia
sudah menjadi bangkai.” Beliau lalu bersabda : ”Demi Allah,
dunia itu lebih hina dalam pandangan Allah, melebihi hinanya
bangkai ini menurut pandanganmu.” (HR. Muslim)
9. Dari Abu Zar ra., ia berkata : Saya berjalan bersama-sama
Nabi SAW Melewati suatu perkampungan di Madinah, sampai
di bukit Uhud, beliau bersabda : ”Wahai Abu Zar.” Saya
menjawab : ”Ya, wahai Rasulullah ?” Beliau bersabda :
”Sungguh aku tidak suka andaikan aku mempunyai emas
sebesar bukit Uhud ini aku miliki sampai tiga hari dan masih
tersisa di tempatku satu dinar, kecuali sesuatu yang aku
persiapkan untuk membayar hutang. Aku baru senang jika
mempunyai emas sebesar bukit Uhud, lalu aku bagi-bagikan
kepada sesama hamba Allah, sedangkan yang ini untuk
tetangga sebelah kanan, yang itu untuk tetangga sebelah kiri
dan yang lain untuk tetangga di belakang.” Kemudian beliau
melanjutkan perjalanan dan bersabda : ”Sesungguhnya orang
yang hartanya banyak adalah orang yang paling sedikit
pahalanya di hari kiamat kecuali orang yang berkata : ”Ini
untuk tetangga sebelah kanan, ini untuk tetangga sebelah kiri
dan yang lain untuk tetangga yang di belakang.” Tetapi
sangat sedikit orang yang demikian ini.” Kemudian beliau
berpesan kepada saya : ”Di sini sajalah kamu dan jangan
pergi kemana-mana sampai aku datang kembali !” Beliau
meninggalkan saya dalam gelapnya malam, sehingga tidak
terlihat lagi. Tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras,
sehingga aku khawatir jika ada seseorang yang mengganggu
Nabi SAW Maka saya berniat untuk mencari suara itu, tetapi
saya teringat pesan beliau: ”Janganlah kamu pergi sampai
aku kembali!” Oleh karena itu saya tidak jadi pergi sampai
beliau datang, dan saya berkata : ”Wahai Rasulullah, tadi aku
dengar suara yang membuat aku khawatir terhadap dirimu.”
Kemudian kuceritakan kekhawatiran itu kepada Nabi. Beliau
bertanya : ”Kamu tadi mendengar suara itu ?” Saya
menjawab : ”Ya.” Beliau bersabda : ”Itu adalah suara Jibril, ia
datang kepadaku dan berkata : ”Siapa saja dari umatmu yang
meninggal dunia sedangkan ia tidak mempersekutukan Allah
dengan sesuatupun maka ia masuk surga.” Saya bertanya :
”Walaupun ia berbuat zina dan mencuri ?” Beliau menjawab :
”Walaupun ia berbuat zina dan mencuri.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
10. Dari Abu Hurairah ra., dari Rasulullah SAW, beliau
bersabda : ”Andaikan aku mempunyai emas sebesar bukit
Uhud, aku pasti lebih senang kalau emas itu tidak menginap
di tempatku sampai tiga malam dan masih tersisa di
tempatku, kecuali sesuatu yang aku persiapkan untuk
membayar hutang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
11. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda : ”Perhatikanlah orang yang berada di bawahmu dan
jangan kamu memperhatikan orang yang berada di atasmu,
karena yang demikian itu lebih pantas, agar kamu semua
tidak menganggap remeh nikmat Allah yang telah
dikaruniakan kepadamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
12. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda :
”Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah
hamba pakaian dan celakalah hamba perut. Apabila telah
terpenuhi, ia merasa senang dan apabila tidak terpenuhi ia
merasa tidak senang.” (HR. Bukhari)
13. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : ”Sungguh saya
melihat tujuh puluh ahli shuffah. Tidak seorang pun diantara
mereka yang memiliki kain selimut, hanya sarung atau kain
panjang yang biasa diikatkan pada leher mereka, di antara
mereka ada yang mempunyai kain sekadar bisa untuk
menutupi sampai kedua betisnya, dan ada pula yang sekadar
untuk menutup sampai kedua mata kakinya, sehingga ia
menarik-narik dengan tangannya, khawatir kalau auratnya
terbuka.(HR. Bukhari)
14. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW
Bersabda : ”Dunia ini adalah penjara bagi orang mukmin dan
surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim)
15. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : Rasulullah SAW
Memegang kedua bahuku, seraya bersabda : ”Kamu berada di
dunia ini, bagaikan orang asing atau orang yang merantau.”
Ibnu Umar ra. Berkata : ”Apabila kamu berada pada waktu
sore, maka jangan menunggu waktu pagi dan apabila kamu
berada pada waktu pagi, maka jangan menunggu waktu sore.
Gunakanlah waktu sehatmu untuk menghadapi waktu sakitmu
dan gunakanlah waktu hidupmu untuk menghadapi matimu.”
(HR. Bukhari),
16. Dari Abul Abbas Sahl bin Sa’ad As Sa’idiy ra., ia berkata
: Ada seseorang mendatangi Nabi SAW dan bertanya : ”Wahai
Rasulullah, tunjukkanlah kepada saya suatu amalan, apabila
saya mengerjakannya, maka saya akan dicintai Allah dan
dicintai manusia ?” Beliau bersabda : ”Janganlah kamu rakus
terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu dan
janganlah kamu rakus terhadap hak orang lain, niscaya
orang-orang akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah)
17. Dari An-Nu’man bin Basyir ra., ia berkata : “Ketika
Umar bin Khaththab melihat bahwa orang-orang sangat
mementingkan urusan dunia, ia berkata :“ Sungguh saya
melihat Rasulullah SAW kadang-kadang sehari penuh tidak
mendapatkan makanan walaupun hanya kurma yang paling
buruk untuk mengisi perutnya.” (HR. Muslim)
18. Dari ’Aisyah ra., ia berkata : ”Pada waktu Rasulullah
wafat, di rumah saya tidak ada sesuatu yang bisa dimakan,
kecuali sedikit tepung gandum yang terletak di atas rak,
itupun sisa dari yang telah saya makan, sehingga setelah
lama saya takar-takar, maka habislah tepung itu.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
19. Dari Amr bin Al-Harits, saudara Juwairiyah binti Al-
Harits [Ummul Mukminin] ra., ia berkata : ”Ketika Rasulullah
SAW Wafat, beliau tidak meninggalkan dirham, dinar, budak
laki-laki maupun budak perempuan dan tidak pula
meninggalkan apa pun, kecuali keledai putih yang biasa beliau
kendarai, serta pedang dan sebidang tanah yang
disedekahkan untuk ibnul sabil.” (HR. Bukhari)
20. Dari Khabbab bin Al-Arartt ra., ia berkata :“Kami jihrah
bersama Rasulullah SAW, hanya mengharap ridah Allah
Ta’ala, maka pahala kami tetap terjamin oleh-Nya. Tetapi
banyak di antara kami yang meninggal dunia sebelum
menikmati hasil perjuangannya sedikitpun, diantaranya
Mush’ab bin ’Umair ra. yang terbunuh pada perang Uhud, ia
hanya meninggalkan sebuah kain wol yang sangat kasar.
Apabila kami menutup kepalanya dengan kainnya itu, maka
terbukalah kedua kakinya, dan apabila kami menutup kedua
kakinya, maka terbukalah kepalanya. Kemudian Rasulullah
SAW menyuruh kami untuk menutup kepala dan kedua
kakinya ditutup dengan rumput. Dan di antara kami ada yang
sempat memetik hasil perjuangannya dan ia dapat
menikmatinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
21. Dari Sahl bin Sa’ad As Sa’idiy ra., ia berkata :
Rasulullah SAW bersabda : ”Andaikan dunia itu senilai dengan
rayap nyamuk di sisi Allah, maka Allah tidak akan memberi
minum kepada orang kafir walaupun seteguk air dari dunia.”
(HR. Tirmidzi)
22. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Saya mendengar
Rasulullah SAW bersabda : ”Ingatlah, sesungguhnya dunia ini
terkutuk. Apa pun yang ada di dalamnya terkutuk, kecuali
mengingat Allah Ta’ala (zikir) dan yang semisalnya, serta
orang alim dan orang yang mempelajari.” (HR. Tirmidzi)
23. Dari Abdullah bin Mas’ud ra., ia berkata : Rasulullah
SAW Bersabda : ”Janganlah kalian menumpuk-numpuk harta,
karena akan mengakibatkan kalian sangat mencintai dunia.”
(HR. Tirmidzi)
24. Dari Abdullah bin Amr bin Al-’Ash ra., ia berkata :“Pada
waktu Rasulullah SAW Berjalan-jalan dan melewati kami, dan
kami sedang memperbaiki rumah, kemudian beliau bertanya :
”Apakah yang sedang kamu kerjakan ?” Kami menjawab :
”Kami sedang memperbaiki rumah yang hampir roboh ini.”
Beliau bersabda : ”Saya kira ajal kita akan lebih cepat dari
itu.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
25. Dari Ka’ab bin ’Iyadh ra., ia berkata : Saya mendengar
Rasulullah SAW bersabda : ”Sesungguhnya masing-masing
umat itu mempunyai cobaan dan cobaan umatku adalah harta
kekayaan.” (HR. Tirmidzi)
26. Dari Abu ’Amr, (Abu Abdullah atau Abu Laila Utsman bin
Affan) ra., ia berkata : Nabi SAW Bersabda : ”Anak Adam
tidak mempunyai hak kecuali seperti berikut : Rumah untuk
tempat tinggal, pakaian untuk menutup auratnya, serta roti
kering dan air.” (HR. Tirmidzi)
27. Dari Abudullah bin Asy-Syikhkhir ra., ia berkata : ”Saya
mendatangi Rasulullah SAW, sedangkan beliau sedang
membaca surat : ”AL HAAKUMUT TAKAATSUR,” kemudian
beliau bersabda : ”Anak Adam itu akan berkata : ”Ini adalah
harta bendaku, ini adalah harta bendaku.” Wahai anak Adam,
tidak ada harta kekayaan yang kamu miliki, kecuali apa yang
kamu Makan kemudian habis, atau apa yang kamu pakai
kemudian rusak, atau apa yang kamu sedekahkan kemudian
menjadi simpanan bagimu.” (HR. Muslim) 467
28. Dari Abdullah bin Mughaffal ra., ia berkata: “Ada
seseorang berkata pada nabi SAW, “Wahai Rasulullah, demi
Allah saya mencintai engkau.” Beliau bersabda: “Pikirkan
benar-benar apa yang kamu katakan itu.” Ia berkata: “Demi
Allah, sungguh saya mencintai engkau.” Ia mengulanginya
tiga kali. Kemudian beliau bersabda: “Apabila kamu
mencintaiku, bersiap-siaplah untuk menghadapi kemiskinan
dengan mengencangkan pinggang. Sesungguhnya kemiskinan
itu lebih cepat datangnya, bagi orang yang mencintaiku
melebihi cepatnya banjir yang mengalir ke jurang.” (HR.
Tirmidzi)
29. Dari Ka’ab bin Malik ra., ia berkata: Rasulullah SAW,
bersabda: “Rakusnya seseorang atas harta dunia
kedudukannya terhadap agamanya, lebih berbahaya dari pada
rakusnya dua serigala lapar yang dilepas di padang
gembala.” (HR. At-Turmudzi)
30. Dari Abdullah bin Mas’ud ra., ia berkata: “Rasulullah
SAW, tidur di atas tikar. Ketika beliau bangun, tampak bekas
tikar itu di pinggangnya. Kemudian kami mengajukan usul:
“Wahai Rasulullah, bagaimana jika kami ambilkan kasur
untukmu?” Beliau bersabda: “Apalah artinya dunia ini buat
diriku, sedangkan aku di dunia ini bagaikan orang yang
bepergian dan berteduh dibawah pohon, kemudian pergi dan
meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi)
31. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah SAW,
bersabda: “Orang-orang miskin akan masuk surga lima ratus
tahun lebih dahulu, daripada orang-orang kaya.” (HR.
Tirmidzi)
32. Dari Ibnu Abbas dan Imran bin Hushain ra., dari nabi
SAW, beliau bersabda: “Aku menengok ke taman surga dan
aku melihat, penghuninya kebanyakan orang-orang miskin.
Kemudian aku menengok ke neraka, ternyata kebanyakan
penghuninya adalah perempuan. (HR Bukhari dan Muslim)
33. ari Usamah bin Zaid ra., dari nabi SAW, beliau
bersabda: “Aku berdiri di depan pintu surga, dan orang yang
memasukinya, kebanyakan terdapat orang-orang miskin.
Sedangkan orang-orang kaya masih ditahan, hanya saja
mereka yang termasuk penghuni neraka, telah diperintahkan
untuk masuk neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
34. Dari Abu Hurairah ra., dari nabi SAW, beliau bersabda:
“Kalimat paling benar yang diucapkan oleh penyair adalah
kalimat (yang diucapkan) Labid, yang berbunyi: “ALAA KULLU
SYAI-IN MAA KHALALLAHA BAATHILUN (Ingatlah, apa saja
yang selain Allah adalah binasa.)” (HR. Bukahri dan Muslim)
Hidup Sederhana
1. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata: “Keluarga Muhammad SAW, tidak
pernah kenyang dari roti gandum dalam waktu dua hari
berturut-turut sampai beliau meninggal dunia.” (HR. Bukhari
dan Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan: “Keluarga Muhammad SAW, tidak
pernah kenyang dari makanan yang terbuat dari gandum, sejak
menetap di Madinah dalam waktu tiga malam berturut-turut
sampai beliau meninggal dunia.”
2. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata: “Wahai keponakanku, demi Allah
kami pernah melihat bulan dan bulan dan melihat bulan, tiga
kali dalam dua bulan, sedangkan di rumah-rumah Rasulullah
SAW, tidak ada nyala api.” Saya menjawab: “Wahai bibiku,
kalau memang demikian apa yang bibi makan?” ‘Aisyah
menjawab: “Kurma dan air. Hanya saja sahabat Anshar
tetangga Rasulullah SAW, yang mempunyai sapi perahan,
sering mengantarkan air susu untuk Rasulullah SAW, maka
kami meminumnya.” (HR. Bukari dan Muslim)
3. Dari Sa’ad Al-Maqburiy dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Ia
melewati suatu kaum yang sedang makan sate, maka mereka
pun mengajak Sa’ad untuk makan bersama, tetapi ia menolak
dan berkata: Rasulullah SAW, belum pernah kenyang makan
roti gandum sampai ia meninggal dunia.” (HR. Bukhari)
4. Dari Anas ra., ia berkata: “Rasulullah SAW, tidak pernah
makan dangan piring sampai beliau meninggal dunia, juga
beliau tidak pernah makan roti yang terbuat dari tepung
sampai meninggal dunia.” (HR. Bukhari)
5. Dari An-Nu’man bin Basyir ra., ia berkata: “Saya pernah
melihat Nabi SAW, tidak mendapatkan makanan walaupun
hanya kurma yang paling buruk untuk mengisi perutnya.”
(HR. Muslim)
6. Dari Sahl bin Sa’ad ra., ia berkata: “Rasulullah SAW, tidak
pernah melihat roti yang terbuat dari tepung yang halus sejak
beliau diutus Allah Ta’ala sampai beliau wafat.” Ada seseorang
yang bertanya kepada Sahl: “Apakah pada masa Rasulullah
SAW, tidak ada pengayakan?” Ia menjawab: “Beliau tidak
pernah melihat pengayakan semenjak beliau diutus Allah
Ta’ala sampai beliau wafat.” Yang lain pun bertanya:
“Bagaimana kalian makan gandum tanpa diayak terlebih
dahulu?” Ia menjawab: “Kami menumbuk dan meniupniupnya,
dan sisanya kami masak. (HR. Bukhari)
7. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Pada suatu hari Rasulullah
SAW, keluar lalu, bertemu dengan Abu Bakar dan Umar ra.,
Beliau bertanya: “Mengapa kalian keluar rumah di saat-saat
seperti ini?” Abu Bakar dan Umar menjawab: “Karena lapar,
wahai Rasulullah. Beliau bersabda: “Demi Dzat Yang jiwaku
berada dalam genggaman-Nya, aku juga demikian. Mari kita
pergi bersama-sama!” Keduanya pun pergi bersama
Rasulullah SAW, mendatangi rumah salah seorang sahabat
Anshor, tetapi ia tidak ada dirumahnya. Ketika istrinya
melihat mereka, ia segera menyambut dengan mengucapkan:
“Selamat datang” Rasulullah SAW, bertanya: “dimanakah
suamimu?” Ia menjawab: “Sedang pergi mengambil air
tawar.” Tiba-tiba datanglah sahabat anshar itu dan melihat
Rasulullah SAW, bersama kedua sahabatnya, maka ia
berkata: “Alhamdulillah, pada hari ini tidak ada seorang pun
yang mempunyai tamu lebih mulia dari pada tamuku.”
Kemudian ia pergi mengambil baki yang berisi kurma
setengah matang, kurma yang sudah matang, dan buah
anggur, seraya mempersilakan makan, ia mengambil pisau.
Tetapi Rasulullah SAW, menegurnya: “Saya harap kamu tidak
menyembelih kambing perahan itu!” Kemudian ia
menyembelih kambing yang lain. Kemudian mereka makan
daging kambing, kurma dan anggur bersama-sama, dan
meminum air yang baru diteduhkan itu. Setelah kenyang dan
segar kembali, Rasulullah SAW, bersabda kepada Abu Bakar
dan Umar ra.,: “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam
genggaman-Nya, sungguh pada hari kiamat kalian akan
ditanya tentang nikmat ini. Kalian keluar dari rumah dengan
perut lapar kemudian kalian tiada kembali sebelum menikmati
jamuan ini.” (HR. Muslim)
8. Dari Khalid bin UmairAl-Adawiy, ia berkata: “Utbah bin
Ghazwan yang menjabat gubernur di Basrah, berkhutbah di
depan kami. Setelah ia memuji dan menyanjung Allah, Ia
berkata: “Sesungguhnya dunia ini telah mengingatkan akan
kehancurannya dan melaju dengan cepatnya, serta tidak akan
tersisa, melainkan hanya seperti sisa air dari bejana yang
dituangkan pemiliknya. Sesungguhnya kalian akan pindah dari
alam dunia ke daerah yang tidak akan binasa lagi, pindahlah
kalian dengan berbekal kebaikan. Sesungguhnya telah
diceritakan kepada kami, bahwa kalau sebuah batu
dilemparkan ke dasar neraka Jahanam, maka dalam waktu
tujuh puluh tahun belum sampai ke dasarnya. Demi Allah,
neraka jahanam itu pasti akan penuh. Apakah kalian merasa
kagum?” Dan telah diceritakan pula kepada kami, bahwa
jarak antara dua pintu gerbang surga itu empat puluh tahun
perjalanan, tetapi suatu hari nanti, orang-orang yang
memasukinya berdesak-desakan. Dulu, waktu saya bertujuh
bersama Rasulullah SAW, pernah tidak mendapatkan
makanan kecuali dedaunan, sampai bibir kami pecah-pecah
dan saya membagi selimut menjadi dua untuk saya sendiri
dan untuk Sa’ad bin Malik, sehingga saya bersarung separuh,
begitu juga Sa’ad. Tetapi masing-masing dari kami sekarang
telah menjadi gubernur pada salah satu wilayah.
Sesungguhnya saya berlindung diri kepada Allah, jangan
sampai dalam pandangan diriku besar padahal di sisi Allah
sangat kecil.” (HR. Muslim)
9. Dari Abu Musa al-Asy’ariy, ia berkata: “Aisyah ra.,
mengeluarkan sebuah kain dan sarung yang tebal kepada
kami seraya berkata: “Sewaktu Rasulullah SAW,
menghembuskan nafasnya yang terakhir, beliau memakai
kain dan sarung ini.” (HR. Bukhari dan Muslim)
10. Dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra., ia berkata: “Sesungguhnya
saya termasuk orang pertama dari bangsa arab yang
melempar dengan panah dan berjuang di jalan Allah. Dan
sungguh kami berperang bersama-sama Rasulullah SAW,
tanpa berbekal makanan kecuali daun pohon, sehingga kalau
kami buang air besar, maka kotorannya seperti kotoran
kambing tidak ada campurannya sama sekali.” (HR. Bukhari
dan Muslim)
11. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah SAW, berdoa:
“Ya Allah, berilah keluarga Muhammad rezeki yang dapat
menghilangkan lapar saja.” (HR. Bukhari dan Muslim)
12. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Demi Allah, yang tidak
ada Tuhan selain Dia. Saya sering menegakkan rongga
perutku ke tanah karena lapar, juga sering mengikatkan batu
diperutku karena lapar. Pada suatu hari, saya duduk di jalan
yang biasa dilewati orang. Kemudian Nabi SAW, lewat dan
tersenyum ketika melihat saya dan beliau tahu tentang apa
yang menimpa pada diri saya. Beliau bersabda: “Wahai Abu
Hirr, mari ikut aku.” Maka saya pun mengikuti beliau. Beliau
masuk rumah, dan saya minta izin masuk, beliaupun
mengizinkan saya. Ketika beliau masuk disitu ada semangkok
susu, dan beliau bertanya kepada istrinya: “Dari mana asal
susu ini?” Ia menjawab: “Si Fulan atau si Fulanah
menghadiahkan susu ini buat engkau.” Beliau bersabda:
“Wahai Abu Hirr” saya menjawab: “Ada apa wahai Rasulullah”
Beliau bersabda: “Temuilah ahli Suffah dan ajaklah mereka
kemari.” Abu Hurairah berkata: “Ahli Suffah adalah tamutamu
islam yang tidak mempunyai keluarga, harta dan
saudara. Apabila beliau mendapat sedekah, maka beliau
mengirimkannya untuk mereka dan beliau tidak
mengambilnya sedikit pun, tetapi apabila beliau mendapatkan
hadiah, maka beliau mengirimkannya untuk mereka dan
beliau hanya mengambil sebagian dari hadiah itu. Saya amat
haus dan ingin sekali untuk minum susu itu, dalam hati saya
berkata: “Mengapa susu itu diberikan kepada Ahli Suffah?
Saya lebih pantas untuk minum susu itu agar kekuatan saya
pulih kembali. Apabila mereka datang, beliau pasti menyuruh
saya untuk memberikan susu itu kepada mereka dan
kemungkinan saya tidak mendapat bagian dari susu itu.
Tetapi taat kepada Allah dan Rasul-Nya harus diutamakan.”
Oleh karena itu, saya berangkat dan memanggil mereka.
Kemudian mereka datang dan minta izin kepada nabi, dan
beliau pun mengizinkan mereka duduk di rumah beliau. Beliau
memanggil: “Wahai Abu Hirr” Saya menjawab: “Ya, Wahai
Rasulullah” beliau bersabda: “Ambilah mangkuk susu itu dan
berikan kepada mereka.” Maka saya mengambil mangkuk itu
dan memberikan kepada orang pertama, maka ia minum
sampai nampak segar. Mangkuk itu diberikan kepada saya
kembali, dan saya berikan kepada yang lain untuk
meminumnya sampai nampak segar. Mangkuk itu
dikembalikan kepada saya sehingga sampai pada giliran nabi
SAW, Anehnya, mereka sudah minum semua, tetapi susu
belum habis. Kemudian beliau mengambil mangkuk itu dan
dipegangnya, serta memandang saya dan tersenyum, lantas
beliau bersabda: “Wahai Abu Hirr” Saya menjawab: “Ya,
wahai Rasulullah” Beliau bersabda: “Tinggal aku dan kamu
yang belum” Saya menjawab: “Benar, wahai Rasulullah.”
Beliau bersabda: “Duduklah kamu dan minumlah.” Maka saya
duduk dan minum. Beliau bersabda lagi: “Minumlah!” beliau
selalu mengulanginya sampai saya berkata: “Demi Dzat yang
mengutus engkau dengan kebenaran, perut saya tidak muat
lagi.” Beliau bersabda: “Berikanlah mangkuk itu kepadaku!”
Maka saya memberikan mangkuk itu kepada beliau, kemudian
beliau memuji Allah Ta’ala dan membaca basmalah lalu
meminum sisanya.” (HR. Bukhari)
13. Dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah ra., ia berkata:
“Sungguh saya pernah jatuh pingsan di antara mimbar
Rasulullah SAW, dan jalan yang menuju bilik ‘Aisyah ra.,
kemudian seseorang mendatangiku dan menginjakkan
kakinya ke leherku, ia menyangka bahwa saya gila, padahal
saya tidak gila, hanya saja terlalu lapar.” (HR. Bukhari)
14. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata: “Pada waktu Rasulullah SAW,
wafat, baju besinya baru digadaikan kepada orang Yahudi
sebagai tanggungan dari tiga puluh gantang (75 kg)
gandum.” (HR. Bukhari dan Muslim)
15. Dari Anas ra., ia berkata: “Nabi SAW, pernah menggadaikan
baju besinya untuk mendapatkan hutang gandum, dan saya
pernah datang ke tempat nabi SAW, dengan membawa roti
gandum dan minyak gajih. Sungguh saya pernah mendengar
beliau bersabda: “Tidak ada bagi keluarga Muhammad SAW,
pada waktu pagi, kecuali segantang gandum, begitu juga
pada waktu sore, sedangkan keluarga beliau terdiri dari
sembilan rumah.” (HR. Bukhari)
16. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Saya melihat tujuh puluh
ahli suffah, di antara mereka tidak ada seorang pun yang
memiliki kain panjang, tidak lebih dari satu sarung atau kain
yang diikatkan kelehernya sampai betis, yang disimpulkan
dan ditarik-tarik dengan tangannya khawatir kalau-kalau
auratnya terbuka.” (HR. Bukhari)
17. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata: “Alas tidur Rasulullah SAW,
terbuat dari kulit yang berisi sabut.” (HR. Bukhari)
18. Dari Abu Umar ra., ia berkata: “Ketika kami sedang duduk
bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba datang seorang sahabat
anshar memberikan salam kepada beliau. Ketika akan
meninggalkan kami, Rasulullah bertanya: “Wahai saudara
anshar, bagaimana keadaan saudaraku, Sa’ad bin ‘Ubadah?”
ia menjawab: “Baik-baik saja.” Rasulullah SAW, kembali
bertanya: “Siapakah diantara kalian yang akan menjenguknya
bersamaku?” Maka beliau berdiri dan kami pun menyertainya,
semua berjumlah belasan orang, dan tidak ada seorang pun
yang memakai sandal, sepatu, kopiah dan kemeja. Kami
semua beragkat dengan pakaian yang amat sederhana.
Sesampainya di rumah Sa’ad, keluarga yang mengelilinginya
mundur, sehingga Rasulullah SAW, dan para sahabat
mendekatinya.” (HR. Muslim)
19. Dari Imran bin Hushain ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda:
“Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang hidup pada
masaku, kemudian orang-orang sesudahnya, dan yang
sesudahnya lagi.” Imran berkata: “Saya tidak tahu pasti
apakah nabi SAW, mengucapkan dua kali atau tiga kali.”
(Nabi bersabda lagi): “Sesudah mereka, akan datang suatu
kaum yang mau menjadi saksi meskipun tidak diminta,
mereka berkhianat dan tidak dapat dipercaya, mereka
bernazar, tetapi tidak menepatinya. Mereka tampak gemuk
dan besar perut.” (HR. Bukhari dan Muslim)
20. Dari Abu Umamah ra., ia berkata: “Rasulullah SAW,
bersabda: “Wahai anak adam, sesungguhnya jika kamu
memberikan kelebihan hartamu, maka itu lebih baik bagimu
dan jika kamu menahannya, maka itu sangat jelek bagimu.
Kamu tidaklah dicela dalam kesederhanaan. Dan
dahulukanlah orang yang menjadi tanggunganmu.” (HR.
Tirmidzi)
21. Dari ‘Ubaidillah bin Mihshan Al-Anshariy (Al-Khathimiy) ra.,
ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda: “Siapa saja diantara
kalian yang pada waktu pagi merasa aman rumah tangganya,
sehat badannya, dan mempunyai persedian makanan untuk
hari itu, maka seolah-olah ia telah mendapatkan kebahagiaan
dunia dengan semua kesempurnaannya.” (HR. Tirmidzi)
22. Dari Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash ra., ia berkata: Rasulullah
SAW, bersabda: “Sungguh beruntung orang yang telah islam,
rezekinya cukup, dan Allah memberikan kepuasan terhadap
apa yang telah dikaruniakannya.” (HR. Muslim)
23. Dari Abu Muhammad Fadhalah bin ‘Ubaid Al-Anshariy ra., ia
mendengar Rasulullah SAW, bersabda: “Berbahagialah orang
yang mendapat petunjuk masuk islam, berkecukupan
kehidupannya, dan ia merasa puas.” (HR. Tirmidzi)
24. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata: “Ada kalanya Rasulullah
SAW, dan keluarganya lapar beberapa malam berturut-turut,
karena tidak mempunyai apa-apa untuk makan malam, dan
roti yang sering mereka miliki adalah roti gandum.” (HR.
Tirmidzi)
25. Dari Fadhalah bin ‘Ubaid ra., ia berkata: “Apabila Rasulullah
SAW, mengimami shalat, sering ada orang-orang yang jatuh
tersungkur dalam shalat, karena lapar. Mereka adalah ahli
suffah, sedangkan orang-orang badui berkata: “Mereka
adalah orang-orang gila.” Sehingga ketika Rasulullah SAW,
selesai shalat, beliau mendekati mereka dan bersabda:
“Andaikan kalian mengetahui pahala yang telah disediakan
Allah, niscaya kalian akan meningkatkan kemiskinan dan
kelaparan.” (HR. Tirmidzi)
26. Dari Abu Karimah Al-Miqdad bin Ma’dikariba ra., ia berkata:
“Saya mendengar Rasulullah SAW, bersabda: “Seseorang
yang selalu memenuhi perutnya, lebih berbahaya daripada
memenuhi suatu bejana. Cukuplah bagi anak adam beberapa
suap makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya.
Andaikan ia tidak mampu berbuat seperti itu, maka sepertiga
untuk makanan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga untuk
nafasnya.” (HR. Tirmidzi)
27. Dari Abu Umamah Iyash bin Tsa’labah Al-Anshariy Al-Haritsy
ra., ia berkata: Pada suatu hari, para sahabat Rasulullah
SAW, membicarakan masalah dunia, kemudian Rasulullah
SAW, bersabda: “Apakah kalian tidak mendengar? Apakah
kalian tidak mendengar? Sesungguhnya kesederhanaan itu
bagian dari iman, sesungguhnya kesederhanaan itu bagian
dari iman.” (HR. Abu Daud)
28. Dari Abu Abdullah Jabir bin Abdullah ra., ia berkata:
“Rasulullah SAW, mengutus kami di bawah pimpinan Abu
Ubaidah untuk menghadang pasukan Quraisy dan beliau beri
memberi bekal satu potong kurma, karena yang ada hanya itu
saja. Abu Ubaidah memberi kami masing-masing satu butir
kurma. Ketika Jabir ditanya: “Apa yang bisa diperbuat dengan
sebutir kurma itu?” Jawabnya: “Kamu mengisapnya
sebagaimana anak-anak kecil menghisap, kemudian kami
minum air, maka yang demikian itu dapat mencukupi sampai
malam hari.” Kemudian kami menumbuk dedaunan dengan
tongkat, setelah kami basahi dengan air, dan memakannya.
Kemudian melanjutkan perjalanan hingga sampai ke pantai, di
sana kami melihat seperti ada gundukan tanah yang
menyerupai sebuah bukit, kemudian kami menuju tempat itu,
dan ternyata seekor ikan yang besar dan panjang sekali
menyerupai sebuah bukit. Abu Ubaidah berkata: “Bangkai.”
Tetapi ia berkata lagi: “Namun tidak apa-apa kalian adalah
utusan Rasulullah SAW, dan berjuang di jalan Allah,
sedangkan kalian dalam keadaan yang terpaksa, maka
makanlah bangkai itu.” Kami di situ bertahan selama satu
bulan. Rombongan kami terdiri dari tiga ratus orang, satu
bulan di sana membuat kami gemuk. Kami masih ingat waktu
kami mengambil mata ikan itu dengan tempayan
dipergunakan sebagai tempat lemak, kemudian memotongmotong
sebesar lembu. Abu Ubaidah mengambil tiga belas
orang dari rombongan kami dan disuruh duduk pada lobang
bekas mata mengambil satu tulang rusuknya dan ditegakkan,
kemudian ia menuntun seekor unta yang terbesar untuk
berjalan di bawahnya, maka kami mengikutinya, membawa
daging dan dendeng ikan tersebut. Ketika sampai di Madinah,
kami menghadap Rasulullah SAW, dan menceritakan hal itu.
Kemudian beliau bersabda: “Itu adalah rezeki yang
dikaruniakan Allah untuk kalian. Apakah kalian masih
menyimpan sisa daging itu untuk kami?” Kemudian kami
membawakan daging ikan itu kepada Rasulullah SAW, dan
beliau memakannya.” (HR. Muslim)
29. Dari Asma’ bin Yasid ra., ia berkata: “Lengan baju Rasulullah
SAW, adalah sampai pergelangan tangan.” (HR. Abu Dawud
dan Tirmidzi)
30. Dari Jabir ra., ia berkata: “Pada saat perang Khandaq kami
menggali parit, tetapi terbetur suatu tanah yang sangat keras,
dan kami tidak mampu menggalinya. Kemudian para sahabat
mendatangi nabi SAW, dan berkata: “Tanah ini cukup keras
dan tidak bisa dibuat parit.” Beliau bersabda: “Aku yang akan
menggalinya.” Kemudian beliau berdiri sedangkan perutnya
diikat batu; karena sudah tiga hari tidak makan. Nabi SAW,
mengambil cangkul dan mengayunkannya, maka hancurlah
tanah yang keras itu bagaikan debu yang dihamburkan.
Kemudian saya berkata: “Wahai Rasulullah, izinkanlah saya
pulang ke rumah.” Sesampainya di rumah saya bertanya
kepada istriku: “Saya melihat nabi SAW, sangat lapar dan
nampaknya tidak dapat ditahan lagi, apakah kamu
mempunyai makanan?” Istriku menjawab: “Ada, sedikit
gandum dan seekor kambing.” Maka saya menyembelih
kambing itu dan gandum itu saya tumbuk. Kambing itu saya
letakkan di dalam belanga. Kemudian saya mendatangi nabi
SAW, sedangkan adonan daging yang saya masak di belanga
hampir masak, maka saya berkata: “Wahai Rasulullah, saya
mempunyai sedikit makanan, kuundang engkau ke rumah
dengan seorang atau dua orang saja.” Beliau bertanya:
“Berapa banyak makanan itu?” Saya mengatakan seberapa
banyak makanan itu. Kemudian beliau bersabda: “Cukup
banyak, baiklah. Tetapi katakan kepada istrimu, supaya
jangan mengangkat belanga dan roti dari tungku sehingga
aku datang.” Beliau bersabda kepada para sahabat: “Wahai
para sahabatku, ikutlah aku.” Maka para sahabat muhajirin
dan anshar pun datang ke rumah. Ketika saya masuk rumah,
saya berkata pada istriku: “Waduh celaka, nabi SAW, datang
bersama sahabat muhajirin dan anshar.” Istiku bertanya:
“Apakah beliau telah menanyakan kepadamu tentang
makanan yang kita persiapkan?” Saya menjawab: “Ya.” Beliau
bersabda kepada para sahabat: “Masuklah, dan jangan
berdekatan.” Kemudian beliau memotong roti dan mengambil
daging serta beliau menutup kembali belanga itu dan
membiarkan belanga itu tetap direbus, lantas beliau
menyajikannya kepada para sahabat. Kemudian beliau
kembali dan selalu memotong serta menyajikannya, sehingga
mereka kenyang, tetapi dalam belanga itu selalu masih
tersisa, kemudian beliau bersabda kepada istriku: “Makanlah
kamu dan bagi-bagikanlah, karena orang-orang sedang
tertimpa kelaparan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan, bahwa Jabir berkata: “Tatkala
parit itu digali, saya melihat nabi SAW, sangat lapar, maka saya
segera pulang menemui istriku dan bertanya: “Apakah kamu
mempunyai makanan? Saya melihat Rasulullah SAW, sangat
lapar.” Maka istriku memperlihatkan kepadaku sebuah kantong
yang berisi segantang gandum, dan kami mempunyai seekor
kambing yang jinak. Kemudian saya menyembelihnya, dan
gandum itu saya tumbuk. Setelah memasaknya, dan kambing itu
telah saya potong-potong, lalu saya masukkan ke dalam
belanga, kemudian saya bermaksud untuk memanggil Rasulullah
SAW, dan istriku berkata: “Engkau jangan bikin malu diriku
terhadap Rasulullah SAW, dan para pengikutnya.” Maka saya
mendatangi Rasulullah SAW, dan berbisik: “Wahai Rasulullah,
kami menyembelih seekor kambing dan memasak segantang
gandum. Kami mempersilakan engkau dan beberapa orang
datang ke rumah.” Kemudian Rasulullah SAW, menyeru: “Wahai
pasukan Khandaq, sesungguhnya jabir membuat selamatan,
maka marilah kita ke sana.” Nabi SAW, bersabda kepada saya:
“Kamu jangan sekali-kali mengangkat belanga itu dan
memotong-motong adonan roti itu, sampai aku datang.” Saya
pulang dulu sebelum nabi SAW, beserta para sahabatnya datang,
dan saya memberitahukan hal itu kepada istriku, Istriku
menjawab: “Salahmu sendiri (tidak menurut apa yang aku
katakan).” Jawabku: “Tetapi saya sudah membisikkan kepada
nabi SAW, kemudian beliau datang bersama para sahabat, lalu
istriku mengeluarkan adonan roti itu dan beliau meniupnya serta
berdoa memohon berkah, kemudian beliau menyuruh istriku:
“Panggilah tukang roti dan suruh dia bikin roti bersama kamu
serta aduk-aduklah belanga itu dan janganlah kamu angkat.”
Sedangkan mereka berjumlah seribu orang. Tetapi demi Allah,
sungguh mereka kenyang semua sewaktu meninggalkan rumah,
dan dalam belanga itu masih terdengar masakan seperti semula,
serta adonan roti itu masih bisa dibuat roti seperti sedia kala.”
31. Dari Anas ra., ia berkata: “Abu Thalhah berkata kepada
Ummu Sulaim (isterinya): “Saya mendengar suara Rasulullah
SAW sangat lemah, dan saya tahu bahwa beliau sangat lapar.
Apakah kamu mempunyai makanan?“ Isterinya menjawab:
“Ya ada” Ia mengeluarkan roti dari gandum kemudian ia
mengambil kain kerudungnya sebagai pembungkus roti dan
dimasukkan ke dalam bawah bajuku. Sisanya, diberikan
kepada saya, dan ia menyuruh saya agar lekas memanggil
Rasulullah SAW maka saya pergi untuk memanggil beliau, dan
saya dapatkan Rasulullah SAW, sedang duduk di masjid
dikelilingi oleh para sahabat, saya lantas menampakkan diri di
tengah-tengah mereka, kemudian Rasulullah SAW, bertanya:
“Apakah kamu di utus oleh Abu Thalhah?” Saya menjawab:
“Benar.” Beliau bertanya lagi: “Apakah untuk makan?” Saya
menjawab: “Benar wahai Rasulullah.” Maka Rasulullah SAW,
bersabda: “Marilah kita kesana bersama-sama!” Para sahabat
berangkat, dan saya lebih dulu pergi memberitahukan hal itu
kepada Abu Thalhah, maka Abu Thalhah berkata kepada
isterinya: “Wahai Ummu Sulaim (isteriku), Rasulullah SAW,
datang bersama-sama para sahabat, padahal kita tidak
menyediakan makanan untuk dihidangkan kepada mereka.”
Ummu Sulaim berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Abu
Thalhah kemudian menjemput Rasulullah SAW, hingga
bertemu dengan beliau. Kemudian Rasulullah SAW, bersama
Abu Thalhah masuk rumah lebih dulu, dan Rasul SAW,
bersabda: “Bawalah kemari makanan yang akan kamu
hidangkan wahai Ummu Sulaim!” Kemudian Ummu Sulaim
menyajikan roti itu. Maka Rasullullah SAW, menyuruh untuk
memotong-motongnya dan menyuruh Ummu Sulaim
mengolesinya dengan minyak samin sebagai lauknya.
Kemudian Rasulullah SAW, bersabda dihadapan roti itu:
“MAASYAA-ALLAHU AY-YAQUUL,” belliau lantas bersabda:
“Silakan sepuluh orang makan sampai kenyang kemudian
keluar!” Akhirnya, semua orang makan dan semua orang
kenyang, padahal mereka berjumlah tujuh puluh atau delapan
puluh orang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan: “Maka saling bergantian, sepuluh
orang masuk sepuluh orang keluar sehingga tak ada seorang pun
diantara mereka melainkan ia masuk dan makan sampai kenyang.
Kemudian mereka meninggalkannya, sedangkan roti itu masih
seperti sedia kala.”
Dalam riwayat lain dikatakan: “Maka makanlah sepuluh orang
sepuluh orang (saling bergantian), sehingga yang demikian itu
dilakukan oleh delapan puluh orang. Terakhir Nabi SAW, beserta
keluarga Abu Thalhah makan, dan mereka masih meninggalkan sisa
makanan yang masih banyak.”
Dalam riwayat lain dikatakan: “Mereka masih meninggalkan sisa
yang dapat diberikan kepada tetangga.”
Dalam riwayat lain dikatakan: “Bersumber dari Anas ra., ia berkata:
“Pada suatu hari saya datang kepada Nabi SAW, dan mendapatkan
beliau sedang duduk bersama para sahabat, sedangkan perut beliau
dibalut. Maka saya menanyakan kepada salah seorang sahabat:
“Mengapa Rasulullah SAW, membalut perutnya?” Mereka
menjawab: “Beliau lapar.” Kemudian saya pergi ke rumah ayahku
Abu Thalhah, ia adalah suami Ummu Sulaim (binti Milhan), dan
saya berkata: “Wahai ayahku, saya melihat Rasulullah SAW,
membalut perutnya kemudian kutanyakan kepada salah satu
seorang sahabatnya, mereka menjawab: “Beliau dalam keadaan
lapar.” Kemudian Abu Thalhah masuk menemui ibuku, dan berkata:
“Apakah kita mempunyai makanan?” Ibuku menjawab: “Ya, saya
mempunyai beberapa potong roti dan kurma. Andaikan Rasulullah
SAW, datang sendirian, maka sudah dapat mengenyangkan beliau,
tetapi jika beliau datang bersama dengan yang lain, maka sangat
sedikit persediaan untuk mereka.” Hadist ini masih ada lanjutannya.
Hidup tenang dan menjaga kehormatan
1. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Tidak
disebut kaya karena banyak hartanya, tetapi yang disebut
kaya (yang sebenarnya) adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari
dan Muslim)
2. Dari Abdullah bin ‘Amr ra., ia berkata: Rasulullah SAW,
bersabda: “Sungguh beruntung orang yang sudah telah
(masuk) Islam dan rezekinya cukkup. Allah memberikan
kepuasan terhadap apa yang telah Allah karuniakan
kepadanya.” (HR. Muslim)
3. Dari Haim bin Hizam ra., ia berkata: “Saya meminta kepada
Rasulullah SAW, maka beliau memberi saya; kemudian saya
meminta lagi kepada beliau dan beliau pun memberi saya
lagi. Kemudian belliau bersabda: “Hai Hakim, sesungguhnya
harta itu memang manis dan mempesonakan. Siapa saja
mendapatkannya dengan kemurahan jiwa, maka ia akan
mendapatkan berkah, tetapi siapa saja yang mendapatkannya
dengan meminta-minta, maka ia tidak akan mendapatkan
berkah. Ia bagaikan orang yang sedang makan tetapi tidak
pernah merasa kenyang. Tangan yang di atas (yang
memberi), lebih baik daripadatangan yang di bawah (yang
meminta).” Hakim berkata: “Wahai Rasulullah, demi Zat yang
mengutus engkau dengan kebenaran, saya tidak akan
menerima sesuatu pun dari seseorang sesudah pemberianmu
ini, sampai saya meninggal dunia.” Abu Bakar pernah
memanggil Hakim untuk memberikan sesuatu kepadanya,
tetapi ia tidak mau menerimanya. Demikian pula dengan
Umar, ia pernah memanggil Hakim untuk memberikan
sesuatu, tetapi ia tidak mau menerimanya, maka Umar
berkata: ”Wahai Umat Islam, saksikanlah, bahwa saya telah
menawarkan harta rampasan yang menjadi haknya Hakim,
sebagaimana yang telah diatur Allah, tetapi ia tidak mau
menerima pemberian dari seorang pun setelah menerima
pemberian dari Nabi SAW, sampai ia meninggal dunia.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
4. Dari Abu Burdah, dari Abu Musa Al-Asy’ariy ra., ia berkata:
“Dalam suatu peperangan, kami keluar bersama Rasulullah
SAW Setiap enam orang, tersedia satu ekor unta, sehingga
kami bergantian menaikinya sampai kaki kami pecah-pecah,
demikian pula kaki saya pecah-pecah bahkan kuku-kuku saya
terkelupas; kemudian kami membalut kuku kami dengan
sobekan kain. Oleh karena itu, peperangan itu dinamakan
perang “Dzatur riqa”, karena kami membalut kaki-kaki kami
dengan sobekan kain.” Abu Burdah berkata: “Semula Abu
Musa sering menceritakan hal ini, kemudian ia tidak mau
menceritakannya lagi dan berkata: “Buat apa saya menyebutnyebu
apa yang telah saya lakukan.” Abu Burdah berkata:
“Seolah-olah ia tidak senang kalau sesuatu yang pernah
diperbuatnya itu disebar luaskan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
5. Dari ‘Amr bin Taghlilb ra., ia berkata: Rasulullah SAW, pernah
di beri harta atau tawanan, kemudian beliau membagibagikannya.
Ada yang diberi ada juga yang tidak. Kemudian
terdengarlah kabar bahwa orang-orang yang tidak diberi
mengeluh. Maka beliau berkhutbah, setelah memuji dan
menyanjung Allah Ta’ala, beliau bersabda: “Demi Allah,
sesungguhnya saya memberi harta rampasan kepada
seseorang sedangkan yang lain tidak, sebenarnya orang yang
tidak aku beri, lebih aku cintai daripada orang yang diberi.
Tetapi sesungguhnya aku memberi harta rampasan itu
kepada orang yang didalam hatinya dirundung kegelisahan
dan keresahan. Dan aku serahkan kepada Allah orang-orang
yang di tetapkan pada hati mereka kekayaan dan kebaikan,
diantara mereka itu adalah ‘Amr bin Taghlib.” Mendengar
yang demikian, ‘Amr bin Taghlib berkata: “Demi Allah, saya
tidak senang kalau ucapan Rasulullah SAW, itu (diganti)
dengan ternak-ternak yang bagus.” (HR.Muslim)
6. Dari Hakim bin Hizam ra., ia berkata: Nabi SAW, bersabda:
“Tangan yang di atas (orang yang memberi) itu lebih baik
daripada tangan yang di bawah (orang yang meminta).
Dahulukanlah orang-orang yang menjadi tanggunganmu.
Sesungguhnya sebaik-baik sedekah adalah sedekah yang
dikeluarkan oleh orang yang mempunyai kelebihan. Siapa
saja yang menjaga kehormatan dirinya, maka Allah akan
menjaganya dan siapa saja merasa cukup, maka Allah akan
mencukupannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
7. Dari Abdurrahman Mu’awiyah bin Abu Shufyan Shakhr bin
Harb ra., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda: “Janganlah
kalian memaksa dalam meminta-minta. Demi Allah, tidak ada
salah seorang diantara kalian yang meminta kepadaku,
kemudian aku memberikan sesuatu kepadanya dengan rasa
terpaksa, niscaya tidak akan mendapatkan berkah dari apa
yang aku berikan itu.” (HR. Muslim)
8. Dari Abu Abdurrahman bin ‘Auf bin Malik ra., ia berkata:
“Kami sedang duduk bersama Rasulullah SAW, waktu itu kirakira
berjumlah sembilan, delapan atau tujuh orang; kemudian
beliau bertanya: “Apakah kalian tidak akan berbaiat (berjanji
setia) kepada Rasulullah?” Padahal kami baru saja berbaiat.
Maka kami menjawab: “Bukankah kami telah berbaiat kepada
engkau wahai Rasulullah.” Beliau bertanya lagi: “Apakah
kalian tidak akan berbaiat kepada Rasulullah SAW?” Kemudian
kami mengulurkan tangan dan berkata: “Kami telah berbaiat
kepada engkau, maka dalam hal apakah kami harus
berbaiat?” Beliau menjawab: “Kalian harus menyembah Allah,
Zat yang Maha Esa dan kali tidak boleh mempersekutukan-
Nya dengan sesuatu pun, salat lima waktu, serta harus
senantiasa mendengarkan dan menaati segala perintah-Nya.”
Dan beliau berbisik: “Janganlah kalian meminta-minta
sesuatu pun kepada sesama manusia.” Setelah itu, sungguh
saya telah menyaksikan, bahwa salah seorang diantara
kelompok ini, ada yang cambuknya terjatuh dan ia tidak mau
meminta kepada seseorang untuk mengambilkan
cambuknya.” (HR. Muslim)
9. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata: Nabi SAW, bersabda: “Siapa
saja diantara kalian yang senantisa meminta-minta, nanti ia
akan bertemu Allah Ta’ala, sedangkan mukanya tak
berdaging.” (HR. Bukhari dan Muslim)
10. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata: “Ketika Rasulullah SAW,
berada di atas mimbar, beliau berbicara tentang sedekah, dan
menjaga diri dari meminta-minta, beliau bersabda: “Tangan
yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.
Tangan yang di atas adalah yang memberi, sedangkan tangan
yang di bawah adalah yang meminta-minta.” (HR. Bukhari
dan Muslim)
11. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah SAW,
bersabda: “Siapa saja yang meminta-minta kepada sesama
manusia dengan maksud untuk memperbanyak harta
kekayaan, maka sesungguhnya ia meminta bara api, sehingga
terserah kepadanya apakah cukup dengan sedikit saja atau
akan memperbanyaknya.” (HR. Muslim)
12. Dari Samurah bin Jundub ra., ia berkata: Rasulullah SAW,
bersabda: “Sesungguhnya meminta-minta itu adalah cacat
(luka) yang digoreskan orang diwajahnya, kecuali apabila ia
meminta kepada penguasa atau karena keadaan terpaksa.”
(HR. Tirmidzi)
13. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda:
“Siapa saja yang tertimpa kekurangan, kemudian ia
mengadukannya kepada sesama manusia, maka
kekurangannya tidak akan tertutupi. Tetapi siapa saja yang
mengadukannya kepada Allah, maka Allah akan memberikan
kepadanya rezeki (baik datangnya) segera ataupun lambat.”
(HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
14. Dari Tsauban ra., ia berkata: Rasulullah SAW, bertanya:
“Siapakah yang berani menjaminkan dirinya kepadaku untuk
tidak meminta sesuatu pun kepada sesama manusia maka
aku akan jamin ia masuk surga?” Saya menjawab: “Saya.”
Maka ia tidak akan pernah meminta sesuatupun kepada
orang.” (HR. Abu Daud)
15. Dari Abu Bisyr Qabishah bin Al-Mukhariq ra., ia berkata:
“Saya adalah orang yang menanggung beban amat berat,
maka saya mendatangi Rasulullah SAW, untuk meminta
bantuannya meringankan beban itu. Kemudian beliau
bersabda: “Tunggulah sampai ada zakat yang datang kesini,
nanti akan aku suruh si ‘amil (pengumpul dan pembagi zakat)
untuk memberi bagian kepadamu.” Kemudian beliau
bersabda: “Wahai Qabishah, meminta-minta itu tidak
diperbolehkan kecuali ada salah satu dari tiga sebab.
Pertama, seseorang yang menanggung beban yang amat
berat, maka ia diperbolehkan meminta-minta sampai dapat
meringankan bebannya, kemudian ia mengekang dirinya
untuk tidak meminta-minta lagi. Kedua, seseorang yang
tertimpa kecelakaan dan hartanya habis, maka ia boleh
meminta-minta sampai mendapatkan kehidupan yang layak,
dan yang ketiga seseorang yang sangat miskin, sehingga ada
tiga orang yang bijaksana diantara kaumnya mengatakan: “Si
Fulan benar-benar miskin.” Maka ia diperbolehkan memintaminta,
sampai hidup dengan layak. Wahai Qabishah,
meminta-minta selain di sebabkan tiga hal tadi, adalah usaha
yang haram dan orang yang memakannya berarti ia
memakan barang haram.” (HR. Muslim)
16. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah SAW,
bersabda: “Bukan dinamakan orang miskin, orang yang
meminta-minta kemudian ia tidak memperoleh sesuap dan
dua suap makanan atau tidak memperoleh satu dan dua buah
butir kurma tapi yang dinamakan orang miskin adalah orang
yang tidak dapat mencukupi kebutuhannya dan tidak pernah
berfikir untuk di beri sedekah dan ia juga tidak mau pergi
untuk meminta-minta kepada orang lain.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Tidak mengharap pemberian
1. Dari Sallim bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya (Abdullah bin
Umar), dari Umar ra., ia berkata: “Rasulullah SAW, memberi
bagian dari sedekah kepada saya, tetapi saya menolaknya
dan saya katakan: “Wahai Rasulullah, berikanlah kepada
orang yang lebih membutuhkan.” Beliau bersabda:
“Terimalah, apabila harta itu mendatangimu, sedangkan kamu
tidak mengharap-harapkan dan meminta, kemudian terserah
kamu, boleh kamu makan atau kamu sedekahkan. Dan yang
tidak datang kepadamu, janganlah kamu menuruti hawa
nafsumu untuk mendapatkannya!” Salim berkata: “Setelah
itu, Abdullah tidak pernah meminta sesatu pun kepda orang
lain dan tidak pernah menolaknya pemberian.” (HR. Bukhari
dan Muslim)
Anjuran Berusaha
1. Dari Abu Abdullah Az-Zubair bin Al-‘Awwam ra., ia berkata:
Rasulullah SAW, bersabda: “Sungguh seandainya salah
seorang diantara kalian mengambil beberapa seutas tali,
kemudian pergi ke gunung dan kembali dengan memikul
seikat kayu bakar dan menjualnya, kemudian dengan hasil itu
Allah mencukupkan kebutuhan hidupmu, itu lebih baik
daripada meminta-minta kepada sesama manusia, baik
mereka memberi maupun tidak.” (HR. Bukhari)
2. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda:
“Sungguh, seandainya salah seorang diantara kalian mencari
kayu bakar dan memikul ikatan kayu itu, maka itu lebih baik
daripada ia meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu
memberinya ataupun tidak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Nabi
Daud as., tidak pernah makan, kecuali hasil usahanya
sendiri.” (HR. Bukhari)
4. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW, bersabda: “Nabi
Zakriya as., adalah seorang tukang kayu.” (HR. Muslim)
5. Dari AL-Miqdam bin Ma’dikariba dari SAW, beliau bersabda:
“Seseorang yang makan hasil usahanya sendiri, itu lebih baik.
Sesungguhnya Nabi Daud as., makan dari hasil usahanya
sendiri.” (HR. Bukhari)
Murah hati dan berinfak
1. Dari Ibnu Mas’ud ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Hasud
(iri hati) yang diperbolehkan, hanya dua hal, yaitu seseorang
yang di beri kekayaan oleh Allah, dihabiskan dalam
kebenaran, dan seseorang yang di beri ilmu oleh Allah,
kemudian diamalkan dan diajarkan kepada orang lain.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Pengertiannya, seseorang tidak diperbolehkan mempunyai rasa iri,
kecuali disebabkan salah satu dari dua hal diatas.
2. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda:
Siapakah diantara kalian yang lebih mencintai harta warisan
daripada harta sendiri?” Para sahabat menjawab: “Wahai
Rasulullah , sesungguhnya kami lebih mencintai harta
sendiri.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya harta sendiri, lebih
diutamakan dan harta waris harus dikesampingkan.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
3. Dari Adiy bin Hatim ra., ia berkata : Rasulullah saw. Bersabda
: “Takutlah kepada api neraka, walaupun hanya bersedekah
biji kurma.” (HR. bukhari dan Muslim)
4. Dari Jabir ra., ia berkata: “Setiap kali Rasulullah SAW,
dimintai sesuatu, beliau tidak pernah menjawab: ‘Tidak.’”
(HR. Bukhari dan Muslim)
5. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda:
“Setiap pagi datang dua malaikat untuk setiap hamba, dan
yang satu berdoa: “Ya Allah, gantilah orang yang
menafkahkan hartanya,” dan yang lain berdoa: “Ya Allah,
binasakanlah harta orang yang kikir.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
6. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda:
“Allah Ta’ala berfirman: “Nafkahkan hartamu, niscaya akan
diberi gantinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
7. Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash ra., ia berkata: Seseorang
bertanya kepada Rasullullah SAW: “Perbuatan apa saja yang
terbaik dalam Islam?” Beliau menjawab: “Memberi makan
(pada orang yang kekurangan) dan mengucapkan salam,
kepada orang yang kamu kenal maupun yang belum kamu
kenal.” (HR. Bukhari dan Muslim)
8. Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash ra., ia berkata: Rasulullah
SAW, bersabda: “Ada empat puluh macam perbuatan utama,
sedangkan yang paling utama, adalah mendermakan seekor
kambing untuk diperah susunya. Siapa saja yang
mengerjakan salah satunya dengan tujuan mengharapkan
pahala dari Allah dan melaksanakan apa yang pernah di
janjikan-Nya, niscaya Allah akan memasukkannya kedalam
surga.” (HR. Bukhari)
9. Dari Abu Umamah bin Shuday bin ‘Ajlan ra., ia berkata:
Rasulullah SAW, bersabda: Wahai anak Adam, sesungguhnya
jika kamu memberikan kelebihan hartamu, maka itu sangat
baik. Jika tidak, itu sangat jelek bagimu. Kamu tidaklah dicela
karena kesederhanaanmu. Dahulukan orang yang menjadi
tanggunganmu. Sebab tangan yang di atas (orang yang
memberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (orang
yang meminta).” (HR. Muslim)
10. Dari Anas ra., ia berkata: “Apabila Rasulullah SAW, dimintai
sesuatu untuk kepentingan Islam, beliau pasti memberinya.
Sungguh aku pernah menyaksikan, ada seseorang yang
datang dan meminta sesuatu kepadanya. Dan beliau memberi
kambing yang berada di antara dua bukit itu. Kemudian orang
itu kembali kepada kaumnya dan berkata: “Wahai kaumkku
masuklah Islam! Sesungguhnya Muhammad memberi sesuatu
kepada orang yang tidak khawatir miskin. Sungguh dahulunya
seseorang masuk Islam tidak lain karena ingin dunia, tetapi
dalam waktu yang cepat ia mencintai Islam melebihi dunia
dan seisinya.” (HR. Muslim)
11. Dari Umar ra., ia berkata: Rasulullah SAW, membagi
sesuatu. Melihat yang demikian, saya menegurnya: “Wahai
Rasulullah, selain orang itu masih banyak lagi orang yang
lebih berhak menerimanya.” Beliau menjawabnya:
“Sesungguhnya mereka meminta kepadaku dengan paksa,
kemudian aku berikan saja kepada mereka, atau mereka akan
menganggap aku kikir, padahal aku bukan orang yang kikir,”
(HR. Muslim)
12. Dari Jubair bin Muth’im ra., ia berkata: sepulang dari perang
Hunain, ia bersama Nabi SAW Kemudian ada orang-orang
Badui menarik-narik beliau dan meminta bagian, sehingga
mereka memaksa beliau ke suatu pohon dan mengambil
surbannya, maka Nabi SAW, bersabda: “Kembalikanlah
surbanku itu! Sungguh andaikan aku mempunyai ternak
sebanyak pohon berduri itu, pasti aku bagikan kepada kalian,
sehingga tidak akan menyangka aku sebagai orang yang kikir,
pembohong dan bukan pula pengecut.” (HR. Bukhari)
13. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah SAW,
bersabda: “Sedekah tidak akan mengurangi harta. Allah pasti
akan menambah kemuliaan seseorang yang suka memaafkan.
Dan seseorang yang suka merendahkan diri kepada Allah,
niscaya Allah yang Maha Mulia lagi Maha Agung akan
mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)
14. Dari Abu Kabsyah Umar bin Sa’ad Al-Anmariy ra., ia
mendengar Rasulullah SAW, bersabda: “Ada tiga hal yang
akan aku sampaikan kepada kalian, agar kalian menjaganya
dengan baik. Pertama, harta seseorang tidak akan berkurang
karena sedekah. Kedua, seseorang yang dianiaya dan ia sabar
atas penganiayaan itu, maka Allah akan membalasnya dengan
kemuliaan. Ketiga, seseorang yang membuka pintu untuk
meminta-minta, niscaya Allah akan membuka untuknya pintu
kemiskinan atau yang semacamnya. Dan akan aku sampaikan
suatu berita kepada kalian , dan jagalah dengan baik, yaitu:
“Sesungguhnya di dunia ini ada empat macam manusia.
Pertama, orang yang dikaruniai harta dan ilmu oleh Allah,
dipergunakan untuk takwa kepada Tuhannya,
menghubungkan tali persaudaraan, dan tahu bahwa bahwa
Allah mempunyai hak. Orang ini mempunyai derajat yang
paling utama. Kedua, seseorang yang dikaruniai ilmu oleh
Allah, dan tidak dikaruniai harta, tetapi dengan niat yang
sungguh-sungguh ia berkata: “Andaikan saya mempunyai
harta, niscaya akan saya amalkan seperti amalnya si Fulan.”
Karena niatnya, ia mendapatkan pahala orang yang beramal.
Ketiga, seseorang yang dikaruniai harta dan tidak mau
menghubungkan tali persaudaraan, serta tidak sadar bahwa
Allah mempunyai hak dalam hartanya itu. Orang ini
mempunyai derajat paling rendah. Dan yang keempat,
seseorang yang tidak dikaruniai harta dan tidak dikaruniai
ilmu kemudian ia berkata: “Andaikan saya mempunyai harta,
niscaya saya akan berbuat seperti apa yang diperbuat oleh si
Fulan (orang ketiga),” karena niatnya, ia akan mendapatkan
dosa seperti dosa orang yang berbuat.” (HR. Tirmidzi)
15. Dari Aisyah ra., ia berkata: Para sahabat menyembelih
seekor kambing, kemudian Nabi SAW, bertanya: “Apakah ada
yang masih tersisa dari kambing itu?” Aisyah menjawab: “Ya,
sampil mukanya saja.” Beliau bersabda: “Semuanya tersisa
kecuali sampil mukanya.” (HR. Tirmidzi)
16. Dari Asma binti Abu Bakar Ash-Shidiq ra., ia berkata:
“Rasulullah SAW, bersabda kepadaku: “Kamu jangan
menutup-nutupi apa yang kamu miliki, niscaya Allah akan
menutupi rezekimu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan: “Nafkahkan, berikan, dan
sedekahkanlah hartamu, serta jangan kamu menghitung-hitungnya,
sehingga Allah akan menghitung –hitungnya untukmu, dan jangan
kamu menakar-nakarnya, sehingga Allah akan menakar-nakarnya
untukmu.”
1 Karena semua bagian dari kambing telah di sedekahkan, maka
akan tinggal tetap akhirat, kecuali sampil mukanya itu saja yang
akan dimakan dan akan menjadi kotoran yang akan dikeluarkan di
dunia.
17. Dari Abu Hurairah ra., ia mendengar Rasulullah SAW,
bersabda: “Perumpamaan orang yang kikir dan orang yang
menafkahkan hartanya, bagaikan dua orang yang memakai
baju besi dari susu sampai ke bahunya. Setiap kali orang
menafkahkan hartanya, berkembanglah baju besi yang
dipakainya, sehingga tertutuplah semua badannya.
Sedangkan orang yang kikir, jika hendak menafkahkan
hartanya, niscaya makin melekatlah lingkaran baju besi itu
pada tempatnya. Sehingga baju besinya bertambah sempit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
18. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah SAW,
bersabda: “Siapa saja yang bersedekah senilai satu butir
kurma, dari hasil usaha yang halal, dimana Allah tidak akan
menerima kecuali yang baik (halal), maka sesungguhnya
Allah akan menerima dengan tangan kanan-Nya, kemudian
memeliharanya untuk orang yang bersedekah itu,
sebagaimana salah seorang di antara kalian memelihara anak
kuda, sehingga sedekah itu menjadi sebesar gunung.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
19. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda:
“Suatu ketika ada seseorang sedang berjalan di padang pasir
tiba-tiba ia mendengar suara di dalam awan, “Siramlah kebun
si Fulan!” Kemudian awan itu menurunkan airnya di tempat
yang banyak batunya. Di situ terdapat sebuah parit yang
penuh dengan air yang mengalir. Disitu pulalah ada seorang
laki-laki yang berada ditengah-tengah kebun, sedang
menyiram air dengan canting. Ia bertanya kepada orang itu:
“Wahai hamba Allah, siapa namamu?” Orang itu menjawab:
“Fulan,” Sebuah nama yang sama dengan yang didengar dari
awan tadi. Kemudian Fulan balik bertanya: “Mengapa kamu
menanyakan namaku?” Ia menjawab: “Sesungguhnya saya
mendengar suara dalam awan yang menurunkan air ini,
berkata: ‘Siramlah kebun si Fulan!’ Nama itu persis dengan
namamu. Apakah yang kamu perbuat sehingga demikian?”
Fulan menjawaab: “Karena kamu berkata menanyaiku seperti
itu, sesungguhnya saya selalu memperhatikan hasil kebun ini.
Sepertiga dari hasilnya saya sedekahkan, sepertiga saya
makan bersama keluarga, dan yang sepertiga lagi saya
persiapkan untuk bibit.” (HR. Muslim)
Larangan Kikir
1. Dari Jabir ra., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda:
“Takutlah kalian terhadap kezaliman! Sesungguhnya
kezaliman, merupakan kegelapan pada hari kiamat. Dan
takutlah kalian terhadap kikir! Sesungguhnya kekikiran, telah
membinasakan manusia sebelum
——Missing Piece—-
8. Dari Nafi, ia berkata : Umar bin Khatthab ra., membagibagikan
belanja sebanyak empat ribu kepada tiap-tiap
sahabat Muhajirin yang hijrah paling awal, tetapi ia hanya
membagi tiga ribu lima ratus kepada anaknya ; ketika ada
orang yang mengatakan : “Ia termasuk sahabat Muhajirin,
tetapi kenapa engkau menguranginya ?” Umar menjawab :
“Karena ia dibawa hijrah oleh orang tuanya.” Dan Umar
berkata lagi : “Ia tidak dapat disamakan dengan orang yang
hijrah sendiri.” (HR.Bukhari)
9. Dari Athiyah bin ‘Urwah As-Sa’dy ra., ia berkata : Rasulullah
SAW bersabda : “Seseorang tidak bisa mencapai tingkatan
Muttaqin (orang-orang yang bertakwa), sebelum ia
meninggalkan semua yang tidak berdosa karena khawatir
terjerumus pada sesuatu yang berdosa.” (HR.Tirmidzi)
SUNAH MENYENDIRI
1. Dari Sa’ad bin Abu Waqqash ra., ia berkata : Saya mendengar
Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah mencintai
hamba-Nya yang takwa, kaya, lagi pula suka
merahasiakannya.” (HR.Muslim)
2. Dari Abu Sa’id Al-Khudriy ra., ia berkata : Ada seseorang
yang bertanya : “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang
paling utama ?” Beliau menjawab : “Orang Mukmin yang
berjuang di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya.” Ia
bertanya lagi : “Kemudian siapa ?” Beliau menjawab :
“Seseorang yang menyendiri pada sebuah desa dengan tujuan
untuk beribadah kepada Tuhannya.”
Dalam riwayat lain dikatakan : “Dengan tujuan untuk bertakwa
kepada Allah dan menjauhi manusia lain karena kejahatannya.”
(HR.Bukhari dan Muslim)
3. Dari Abu Sa’id Al-Khudriy ra., ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda : “Hampir terjadi bahwa sebaik-baik harta seorang
muslim, adalah kambing yang digembalakan di puncak
gunung dan tempat-tempat menetesnya air, karena menjauhi
fitnah-fitnah yang mengganggu agamanya.” (HR.Bukhari)
4. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda :
“Apabila Allah mengutus seorang Nabi, pasti ia menggembala
kambing.” Para sahabat bertanya : “Dan engkau?” Beliau
menjawab : “Ya, dulu saya juga menggembala kambing
dengan upah dari penduduk Mekkah.” (HR.Bukhari)
5. Dari Abu Hurairah ra., dari Rasulullah SAW, beliau bersabda :
“Pertama, sebaik-baik kehidupan manusia adalah seseorang
yang memegang kendali kudanya untuk berjuang di jalan
Allah. Ia melompat ke atas punggung kuda setiap kali
mendengar panggilan perang atau semacamnya, dengan
lompatannya itu, ia mencari musuh atau mati di tempat yang
disangka ada musuh. Kedua, seseorang yang menggembala
anak kambing di puncak salah satu gunung atau lembah salah
satu jurang dengan mengerjakan salat, menunaikan zakat
dan senantiasa beribadah, sehingga sampai ajalnya. Ia tidak
berhubungan dengan manusia sedikitpun kecuali dalam
kebaikan.” (HR.Muslim)
MERENDAHKAN DIRI
1. Dari Iyadh bin Himar ra., ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda : “Sesungguhnya Allah menurunkan wahyu
kepadaku, yaitu hendaklah kalian bersikap tawadhu’
(merendahkan diri), sehingga tidak ada seorang pun bersikap
sombong kepada yang lain, dan tidak ada seseorang
menganiaya yang lain.” (HR.Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Tiada berkurang harta karena sedekah. Allah pasti akan
menambah kemuliaan kepada seseorang yang suka
memaafkan. Dan seseorang yang selalu merendahkan diri
karena Allah, pasti Allah akan mengangkat derajatnya .”
(HR.Muslim)
3. Dari Anas ra., ia berkata bahwa ia sering melewati anak-anak
dan mengucapkan salam buat mereka. Ia berkata : “Nabi
SAW juga melakukannya.” (HR.Bukhari dan Muslim)
4. Dari Anas ra., ia berkata : “Adakalanya budak perempuan di
Madinah memegang tangan Nabi SAW maka beliau mengikuti
ke mana budak itu menghendaki.” (HR.Bukhari)
5. Dari Al-Aswad bin Yazid, ia berkata : “Saya bertanya kepada
Aisyah ra. tentang kebiasaan Nabi SAW di rumahnya.” Aisyah
menjawab : “Beliau senantiasa memperhatikan keluarganya,
yakni membantu keluarganya. Apabila sampai waktu salat,
maka beliau keluar mengerjakan salat berjamaah.”
(HR.Bukhari)
6. Dari Abu Rifa’ah Tamin bin Usaid ra., ia berkata : “Saya
mendatangi Nabi SAW, sedangkan beliau masih berpidato,
kemudian saya menyelanya : “Wahai Rasulullah, ada orang
asing datang hendak menanyakan tentang agama, karena ia
belum mengerti tentang seluk beluk agamanya.” Maka beliau
menyambutku dan menghentikan pidatonya, serta mengambil
kursi dan duduk di kursi itu. Kemudian beliau mengajariku
sebagaimana Allah mengajarkannya, kemudian kembali
berpidato dan menyelesaikan pidatonya.” (HR.Bukhari)
7. Dari Anas ra., ia berkata : Apabila Rasulullah SAW makan,
beliau menjilati ketiga jari-jarinya. Anas mengatakan, bahwa
Nabi SAW bersabda : “Apabila suapan salah seorang di antara
kalian itu jatuh, maka ambillah dan bersihkan kotorannya,
serta makanlah dan jangan membiarkan makanan itu
dimakan setan.” Beliau juga menyuruh agar membersihkan
sisa-sisa makanan yang ada di piring. Beliau bersabda :
“Sesungguhnya kalian tidak tahu, manakah makanan yang
membawa berkah.” (HR.Muslim)
8. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda :
“Apabila Allah mengutus seorang nabi, pasti ia menggembala
kambing.” Para sahabat bertanya : “Bagaimana denganmu?”
Beliau menjawab : “Ya, dulu aku juga menggembala kambing
dengan mendapatkan upah dari penduduk Mekkah.”
(HR.Bukhari)
9. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda :
“Andaikan aku diundang untuk makan betis atau paha,
niscaya aku memenuhinya. Andaikan dihadiahkan kepadaku
paha atau binatang ternak niscaya aku menerimanya.”
(HR.Bukhari)
10. Dari Anas ra., ia berkata : Unta Rasulullah SAW yang
bernama Al-‘Adlba, tidak pernah dilampaui atau hampir tidak
dapat dikejar, kemudian ada seorang Badui yang
mengendarai untanya dan dapat mendahului unta beliau,
maka hal itu cukup menggelisahkan kaum muslimin ; dan hal
itu kemudian diketahui Rasulullah. Beliau bersabda :
“Kebenaran di tangan Allah, dan siapa saja di dunia ini yang
menyombongkan diri, Allah pasti akan merendahkannya.”
(HR.Bukhari)
HARAMNYA TAKABUR DAN SOMBONG
1. Dari Abdullah bin Mas’ud ra., dari Nabi SAW beliau bersabda :
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya
terdapat sifat sombong, walaupun sebesar atom.” Ada
seseorang laki-laki berkata : “Sesungguhnya seseorang itu
suka berpakaian yang bagus-bagus dan sandal yang bagus
pula.” Beliau bersabda : “Sesunguhnya Allah itu indah, suka
pada keindahan. Sombong itu menolak kebenaran dan
merendahkan sesama manusia.” (HR.Muslim)
2. Dari Salamah bin Al-Akwa’ ra., ia berkata : Ada seorang lakilaki
makan di hadapan Rasulullah SAW dengan menggunakan
tangan kirinya, kemudian beliau bersabda : “Makanlah dengan
menggunakan tangan kananmu!” Laki-laki itu menjawab :
“saya tidak bisa.” Beliau bersabda lagi : “Kamu tidak bisa,
karena kesombonganmu.” Salamah berkata : “Kemudian lakilaki
itu, tidak bisa mengangkat tangannya ke mulut.”
(HR.Muslim)
3. Dari Haritsah bin Wahb ra., ia berkata : “Saya mendengar
Rasulullah SAW bersabda : “Maukah kalian aku beri tahu
tentang penghuni neraka ? Yaitu setiap orang yang berlaku
kejam, rakus dan sombong.” (HR.Bukhari dan Muslim)
4. Dari Abu Sa’id Al-Khudriy ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda
: “Ketika surga dan neraka itu berdebat, neraka berkata :
“Bagianku orang-orang yang berlaku kejam dan sombong.”
Surga berkata : “Bagianku orang-orang yang lemah dan
miskin.” Kemudian Allah memberi keputusan kepada
keduanya : “Sesungguhnya surga adalah tempat rahmat-Ku,
Aku memberi rahmat melalui kamu kepada siapa saja yang
Aku kehendaki. Dan sesungguhnya kamu neraka adalah
tempat siksaan-Ku, Aku menyiksa melalui kamu kepada siapa
saja yang Aku kehendaki ; dan kalian berdua, Aku akan
memenuhkan kalian.” (HR.Muslim)
5. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya di hari kiamat, Allah tidak akan memandang
orang yang menurunkan (menyeret) kainnya di bawah mata
kaki karena sombong.” (HR.Bukhari dan Muslim)
6. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda
: “Ada tiga kelompok, yang pada hari kiamat Allah tidak akan
berbicara kepada mereka, Allah tidak akan membersihkan
mereka, Allah tidak akan memandang mereka, dan mereka
akan disiksa dengan azab yang pedih, yaitu : “Orang tua yang
berzina, penguasa yang bohong, dan orang miskin yang
sombong.” (HR.Muslim)
7. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : “Kemuliaan adalah pakaian-
Ku dan kebesaran adalah selendang-Ku, maka siapa saja
yang menyaingi Aku dalam salah satunya, maka Aku pasti
menyiksanya.” (HR.Muslim)
8. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Suatu ketika ada seorang laki-laki berjalan dengan memakai
perhiasan dan rambutnya bersisir, ia heran pada dirinya
sendiri atas kesombongan di dalam perjalanannya. Tiba-tiba
Allah menyiksanya yaitu ia selalu timbul tenggelam di
permukaan bumi sampai hari kiamat.” (HR.Bukhari dan
Muslim)
9. Dari Salamah bin Al-Akwa’ ra., ia berkata : “Rasulullah SAW
bersabda : “Seseorang senantiasa membanggakan dan
menyombongkan dirinya, sehingga ia dicatat termasuk
golongan orang-orang yang kejam lagi sombong, kemudian ia
akan ditimpa apa yang biasa menimpa mereka.” (HR.Tirmidzi)
BERBUDI PEKERTI YANG LUHUR
1. Dari Anas ra., ia berkata : “Rasulullah SAW adalah orang yang
paling baik budi pekertinya.” (HR.Bukhari dan Muslim)
2. Dari Anas ra., ia berkata : “Saya belum pernah memegang
sutera baik tebal maupun tipis, yang lebih halus dari tangan
Rasulullah SAW, dan saya belum pernah mencium bau
seharum bau Rasulullah SAW Saya pernah menjadi pelayan
Rasulullah SAW selama sepuluh tahun, beliau tidak pernah
mengatakan “hus” kepada saya, atau menegur dengan
ucapan “kenapa kamu berbuat seperti itu,” terhadap apa yang
saya kerjakan, dan beliau tidak pernah menegur dengan
ucapan “kenapa kamu tidak berbuat demikian,” terhadap apa
yang tidak saya kerjakan.” (HR.Bukhari dan Muslim)
3. Dari Sha’ab bin Jatstsamah ra., ia berkata : “Saya
menghadiahkan seekor keledai liar kepada Rasulullah SAW
kemudian beliau mengembalikannya kepadaku. Ketika beliau
melihat perubahan mukaku, beliau berkata : “Sesungguhnya
aku tidak menolak pemberianmu, hanya saja aku sedang
ihram.” (HR.Bukhari dan Muslim)
1 Hukum menjelaskan, bahwa seseorang yang sedang ihram
dilarang memburu atau menangkap binatang liar.
4. Dari An-Nawwas bin Sam’an ra., ia berkata : “Saya
menanyakan tentang kebajikan dan dosa (kejahatan) kepada
Rasulullah SAW kemudian beliau menjawab : “Kebajikan
adalah budi pekerti yang baik, sedangkan dosa (kejahatan)
adalah sesuatu yang merisaukan hati, dan kamu tidak senang
apabila hal itu diketahui orang lain.” (HR.Muslim)
5. Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash ra., ia berkata : “Pribadi
Rasulullah SAW bukan orang yang keji dan bukan orang yang
jahat. Bahkan beliau bersabda : “Sesungguhnya orang yang
paling baik di antara kalian adalah yang paling baik budi
pekertinya.” (HR.Bukhari dan Muslim)
6. Dari Abu Darda’ ra., ia berkata : Nabi SAW bersabda : “Tidak
ada sesuatupun yang melebihi beratnya budi pekerti yang
baik dalam timbangan orang mukmin pada hari kiamat.
Sesungguhnya Allah membenci orang yang keji dan suka
berkata kotor.” (HR.Tirmidzi)
7. 7. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW ditanya
: “Perbuatan apakah yang paling banyak memasukkan
manusia ke dalam surga ?” Beliau menjawab : “Bertakwa
kepada Allah dan budi pekerti yang baik.” Dan beliau juga
ditanya : “Perbuatan apakah yang paling banyak
memasukkan orang ke dalam neraka ?” Beliau menjawab :
“Mulut dan kemaluan.” (HR.Tirmidzi)
8. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang
paling baik budi pekertinya, dan orang yang paling baik di
antara kalian yaitu orang yang paling baik terhadap isterinya.”
(HR.Tirmidzi)
9. Dari Aisyah ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW
bersabda : “Sesungguhnya orang mukmin dengan budi
pekerti yang baik, dapat mengejar derajat orang yang selalu
berpuasa dan salat malam.” (HR. Abu Daud)
10. Dari Abu Umamah Al-Bahiliy ra., ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda : “Aku berani menjamin sebuah rumah di surga
bagian bawah bagi orang yang meninggalkan debat kusir
walaupun ia benar, sebuah rumah di surga bagian tengah bagi
orang yang meninggalkan dusta walaupun ia bergurau, dan
sebuah rumah di surga bagian atas bagi orang yang selalu
baik budi pekertinya.” (HR.Abu Daud)
11. Dari Jabir ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya di antara orang yang paling aku cintai dan
paling dekat duduknya denganku pada hari kiamat, yaitu
orang yang paling baik budi pekertinya di antara kalian. Dan
sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh
tempat duduknya denganku pada hari kiamat yaitu orangorang
yang banyak bicara, suka mengobrol dan bermulut
besar.” Para sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, kami telah
tahu tentang orang yang banyak bicara dan suka mengobrol,
kemudian apakah yang dimaksud dengan bermulut besar itu ?
“Beliau menjawab : “Yaitu orang-orang yang sombong.”
(HR.Tirmidzi)
12. Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Abdullah bin Al-Mubarak,
beliau mengartikan budi pekerti yang baik, adalah : “Bermuka
manis, memberi pertolongan dalam kebaikan dan mencegah
sesuatu yang membahayakan.”
SANTUN DAN SABAR
1. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda
kepada Abdul Qais yang terluka : “Sesungguhnya di dalam
dirimu ada dua sifat yang disukai Allah, yaitu santun dan
sabar.” (HR.Muslim)
2. Dari Aisyah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya Allah Mahalembut dan menyukai kelemahlembutan
dalam segala hal.” (HR.Bukhari dan Muslim)
3. Dari Aisyah ra., ia berkata : Nabi SAW bersabda :
“Sesungguhnya Allah Mahalembut dan menyukai kelemahlembutan.
Allah memberi karena kelembutan sesuatu, yang
tidak ia berikan karena kekerasan, dan yang tidak diberikan-
Nya karena yang lain.” (HR.Muslim)
4. Dari Aisyah ra., ia berkata : Nabi SAW bersabda :
“Sesungguhnya bersikap lemah-lembut dalam sesuatu, berarti
memperindahnya dan tidak ada sikap lemah-lembut dalam
sesuatu, berarti memperjeleknya.” (HR.Muslim)
5. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Ada seorang Badui kencing
di dalam masjid, kemudian orang-orang bangkit untuk
memukulnya, tetapi Nabi SAW melarangnya dan bersabda :
“Biarkan dia, tuangkanlah pada kencing itu setimba air.
Sesungguhnya aku diutus untuk mempermudah, bukan
mempersulit.” (HR.Bukhari)
6. Dari Anas ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Permudahlah
dan jangan kalian mempersulit, gembirakan dan jangan kalian
menakut-nakuti !” (HR.Bukhari dan Muslim)
7. Dari Jarir bin Abdullah ra., ia berkata : Saya mendengar
Rasulullah SAW bersabda : “Siapa saja yang terhalang untuk
bersikap lemah lembut, berarti ia terhalang untuk berbuat
berbagai macam kebaikan .” (HR.Muslim)
8. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Ada seorang laki-laki yang
meminta wasiat kepada Nabi SAW : “Wasiatilah saya !” Beliau
bersabda : “Janganlah kamu marah !” Lelaki itu
mengulanginya lagi, tetapi beliau tetap menjawab :
“Janganlah kamu marah !” (HR.Bukhari)
9. Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus ra., dari Rasulullah SAW
beliau bersabda : “Sesungguhnya Allah mewajibkan kalian
berbuat baik dalam segala hal. Oleh karena itu, jika kamu
membunuh atau menyembelih, maka jadilah sebaik-baik
orang dalam menyembelih. Tajamkanlah pisau kalian supaya
meringankan pada penyembelihannya ! “ (HR.Muslim)
10. Dari Aisyah ra., ia berkata : “Apabila Rasulullah SAW disuruh
untuk memilih dua hal, beliau pasti memilih yang lebih
mudah, selama tidak berdosa. Seandainya yang mudah itu
berdosa, beliau pasti menjauhinya. Dan Rasulullah SAW tidak
pernah menuntut balas untuk dirinya, kecuali sesuatu yang
diharamkan Allah dilanggarnya, maka beliau menuntut balas
karena Allah Ta’ala.” (HR.Bukhari dan Muslim)
11. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Maukah kalian aku beritahu tentang orang yang diharamkan
masuk neraka ? Atau siapakah orangnya yang neraka
diharamkan untuk membakarnya ? Neraka diharamkan pada
setiap orang yang mendekatkan diri kepada Allah, yang
bersikap lemah lembut, lunak dan suka mempermudah.”
(HR.Tirmidzi)
MEMBERI MAAF DAN BERPALING DARI ORANG
YANG BODOH
1. Dari Aisyah ra., Saya berkata : Saya bertanya kepada Nabi
SAW : “Pernahkan engkau mengalami penderitaan yang lebih
berat dari perang Uhud ?” Beliau menjawab : “Sungguh, aku
telah mendapat penderitaaan karena (perbuatan) kaummu
sedangkan yang paling berat adalah pada hari Aqabah. Ketika
aku menyempatkan diri untuk mengajak putera Abd Jalil bin
Kulal, ia tidak menyambutku sebagaimana harapanku.
Kemudian aku pergi dengan perasaan sedih sekali dan tidak
sadar. Namun, sesampainya di Qarnuts Tsa’lib aku sadar dan
mengangkat kepalaku. Waktu itu, aku dinaungi oleh awan.
Setelah aku memandangnya, ternyata di situ ada Malaikat
Jibril as. Ia memanggilku seraya berkata : “Sesungguhnya
Allah Ta’ala mendengar kaummu mencela dan menolak
ajakanmu. Dan Allah mengutus malaikat penjaga gunung
untukmu. Ia akan memenuhi apa saja yang kamu kehendaki
untuk menyiksa mereka.“ Kemudian malaikat penjaga gunung
memanggilku dan mengucapkan salam seraya berkata :
“Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar
ucapan kaummu, dan aku adalah malaikat penjaga gunung.
Tuhan telah mengutusku untuk memenuhi perintahmu. Maka
apakah yang kamu kehendaki ?” Apabila kamu menghendaki,
akan aku runtuhkan dua gunung itu untuk menyiksa mereka.”
Nabi SAW menjawab : “Aku masih berharap, semoga Allah
mengeluarkan dari tulang belakang mereka orang yang
beribadah (menyembah) Allah Yang Maha Esa, dan mereka
tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (HR.Bukhari
dan Muslim)
2. Dari Aisyah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW tidak pernah
memukul apapun dengan tangannya, ia juga tidak pernah
memukul isteri-isteri dan pelayannya. Kecuali apabila beliau
berjihad di jalan Allah. Dan beliau sama sekali tidak pernah
membalas orang yang mengganggunya, kecuali bila apa yang
telah diharamkan Allah Ta’ala itu dilanggar, maka beliau
menghukum karena Allah Ta’ala.” (HR Muslim)
3. Dari Anas ra., ia berkata : “Saya pernah berjalan bersama
Rasulullah SAW waktu itu,beliau membawa selimut Najran
yang tebal pinggirnya, dan bertemu dengan seorang Badui,
kemudian ia menarik-narik selendang beliau dengan kuat.
Saya melihat leher beliau terdapat bekas ujung selimut,
karena kerasnya tarikan orang Badui itu. Kemudian ia berkata
: “wahai Muhammad SAW, berikanlah kepadaku harta Allah
yang ada padamu !” Beliau menoleh kepada orang Badui itu,
sambil tersenyum beliau menyuruh untuk memenuhi
permintaan orang Badui itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata : “Saya seolah-olah masih
melihat Rasulullah SAW mencontohkan tentang salah seorang
Nabi – semoga Allah melimpahkan rahmat dan kesejahteraan-
Nya kepada kaum yang memukul Nabi itu sampai berdarahsambil
mengusap darah di mukanya, Nabi itu berdoa : “Ya
Allah, ampunilah dosa kaumku, sesungguhnya mereka tidak
mengetahui.” (HR Bukhari dan Muslim)
5. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Yang dinamakan orang kuat adalah bukan orang yang kuat
bergulat. Orang yang kuat adalah orang yang dapat
mengendalikan hawa nafsunya pada waktu marah.” (HR
Bukhari dan Muslim)
Menanggung Derita
1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Ada seseorang mengadu
kepada Rasulullah SAW : “Sesungguhnya saya mempunyai
keluarga. Saya selalu menyambung hubungan dengan
mereka, tetapi mereka memutuskannya. Saya selalu berbuat
baik kepada mereka, tetapi mereka membalasnya dengan
berbuat jahat. Saya senantiasa menyantuni mereka, tetapi
mereka tidak tahu diri. “Kemudian beliau bersabda :
“Seandainya keadaanmu seperti apa yang kamu katakan,
maka seolah-olah kamu menaburkan aku panas kepada
mereka dan kamu akan selalu mendapat pertolongan Allah
Ta’ala karena perbuatan mereka, selama kamu masih tetap
mengerjakan hal yang demikian.” (HR. Muslim)
Marah karena larangan Allah
dilanggar
1. Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al-Badriy ra., ia berkata : Ada
seorang laki-laki mendatangi Rasulullah SAW dan berkata :
Saya terpaksa mundur dari jamaah Subuh, karena si Fulan
memanjangkan bacaan shalatnya. Saya belum pernah melihat
Nabi SAW marah ketika memberi nasihat, melebihi saat itu.
Beliau bersabda : “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya
ada di antara kalian yang menjadikan dirinya dijauhi. Siapa
saja di antara kalian yang menjadi imam, hendaklah
memperpendek bacaan, karena di belakang ada orang tua,
lemah, dan ada orang yang mempunyai keperluan lain.” (HR
Bukhari dan Muslim)
2. Dari Aisyah ra., ia berkata : Rasululllah SAW datang dari
bepergian, sedangkan di rumah saya terpasang tabir yang
ada lukisannya. Setelah Rasulullah SAW melihatnya,
berubahlah wajah beliau. Sambil menurunkan tabir, Nabi SAW
bersabda : “Wahai Aisyah, paling beratnya siksa Allah pada
hari kiamat adalah bagi siapa yang menyamai ciptaan-Nya.”
(HR Bukhari dan Muslim)
3. Dari Aisyah ra., ia berkata : Orang-orang Quraisy sedang
berunding tentang keadaan seorang pereempuan yang harus
dipotong tangannya karena mencuri. Mereka berkata : “Siapa
yang harus menyampaikan masalah kepada Rasulullah SAW
?” Mereka menjawab “Tiada lagi yang pantas selain Usamah
bin Zaid kekasih Rasulullah SAW” Usamah pun menyampaikan
hal itu kepada beliau, lalu beliau SAW bertanya : “Akankah
kalian melindungi orang yang terkena salah satu hukum Allah
Ta’ala ?” Beliau berdiri dan berpidato : “Sesungguhnya yang
menyebabkan orang-orang sebelum kalian binasa, jika orang
terpandang di antara mereka mencuri, mereka membiarkan.
Tapi bila yang mencuri orang lemah, mereka melaksanakan
hukuman. Demi Allah, seandainya Fatimah putri Muhammad
SAW mencuri, niscaya aku potong tangannya.” (HR. Bukhari
dan Muslim)
4. Dari Anas ra., ia berkata : Nabi SAW melihat dahak di arah
kiblat. Melihat itu beliau tidak senang, sehingga wajahnya
berubah, lalu berdiri dan dibuang dengan tangannya, seraya
berkata bersabda : “Apablia salah seorang diantara kalian
mengerjakan salat, berarti dia sedang berbisik dengan
Tuhannya. Sedang Tuhan berada di antara ia dan kiblat. Oleh
karena itu, jangan meludah ke arah kiblat, melainkan ke arah
kiri atau ke bawah kaki.” Kemudian beliau mengambil ujung
serbannya dan meludah di situ serta melipat-lipatnya seraya
bersabda : “Atau lakukanlah seperti ini!” (HR Bukhari dan
Muslim)
1 Maksudnya, apabila kita salat tidak di masjid, dan ingin
meludah, maka hendaknya meludah ke arah kiri atau ke bawah
kaki. Tetapi, apabila kita salat di masjid, seharusnyalah kita
meludah pada pakaian yang kita kenakan (atau saputangan).
Kepemimpinan
1. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah
SAW bersabda : “Kalian adalah pemimpin, yang akan dimintai
pertanggungjawaban. Penguasa adalah pemimpin, dan akan
dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Suami
adalah pemimpin keluarganya, dan akan dimintai
pertanggungjawaban atas kepemimpinanannya. Isteri adalah
pemimpin di rumah suaminya, dan akan dimintai
pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Pelayan adalah
pemimpin dalam mengelola harta tuannya, dan akan dimintai
pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Oleh karena
itu, kalian sebagai pemimpin akan dimintai
pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari
dan Muslim)
2. Dari Abu Ya’la Ma’qil bin Yasar ra., ia berkata : Saya
mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Seorang hamba yang
diberi Allah kepercayaan memimpin rakyatnya, dan ia mati
dalam keadaan menipu rakyat, pasti Allah mengharamkan
surga baginya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Muslim dikatakan : “Seorang penguasa yan
menguasai urusan umat Islam, sedang ia tidak memperhatikan
dan memberi nasihat, pasti ia tidak akan masuk surga bersama
mereka.”
3. Dari Aisah ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW
bersabda di rumahku ini : “Ya Allah, siapa saja yang diberi
kekuasaan mengurusi umatku kemudian ia mempermudah
mereka, maka mudahkanlah ia.” (HR Muslim)
4. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda:
“dahulu, Bani Israil selalu dibimbing oleh para Nabi. Setiap
seorang Nabi wafat, maka diganti oleh Nabi yang lain. Tetapi
tidak akan ada Nabi lagi sesudahku, yang ada hanya para
khalifah, bahkan sangat banyak jumlahnya.” Para Sahabat
bertanya : “Apa yang engkau perintahkan pada kami?” Beliau
menjawab : “Tepatilah bai’at (janji setia)mu yang pertama,
kemudian berikan kepada mereka apa yang telah menjadi
haknya. Dan mohonlah kepada Allah agar apa yang menjadi
hakmu terpenuhi. Karena Allah akan meminta
pertanggungjawaban mereka di dalam memimpin umat.” (HR
Bukhari dan Muslim)
5. Dari Aid bin Amr ra., katika ia masuk ke rumah Ubaidillah, ia
berkata : Wahai anakku, sesungguhnya aku mendengar
Rasulullah SAW bersabda : “Sejahat-jahat pemimpin adalah
pemimpin yang lalim. Oleh karena itu, jangan sampai kamu
termasuk golongan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
6. Dari Abu Maryam Al-Azdiy ra., ia berkata kepada Mu’awiyah
ra., : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Siapa saja
yang diberi kekuasaan oleh Allah mengurusi umat Islam,
sedang ia tidak memperhatikan kedukaan dan kemiskinan
mereka, maka Allah tidak akan memperhatikan kepentingan
kedukaan, dan kemiskinannya pada hari kiamat. Kemudian
Mu’awiyah mengangkat seseorang untuk mengurusi segala
kepentingan manusia.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Penguasa yang adil
1. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Ada
tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari
yang tiada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: Pemimpin
yang adil. Pemuda yang senantiasa beribadah kepada Allah
Ta’ala. Seorang yang hatinya senantiasa digantungkan
(dipertautkan) dengan masjid. Dua orang saling mencintai
karena Allah, yang keduanya berkumpul dan berpisah karena-
Nya. Seorang laki-laki yang ketika diajak (dirayu) oleh
seorang wanita bangsawan yang cantik lalu ia menjawab :
“Sesungguhnya saya takut kepada Allah. Seorang yang
mengeluarkan sedekah sedang ia merahasiakannya, sampaisampai
tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan
oleh tangan kanannya. Dan seorang yang mengingat Allah di
tempat yang sepi sampai meneteskan air mata.” (HR Bukhari
dan Muslim)
2. Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash ra., ia berkata : Rasulullah
SAW bersabda : “Sesungguhnya orang-orang yang berlaku
adil di sisi Allah laksana berada di atas mimbar yang terbuat
dari cahaya. Mereka itu orang-orang yang berlaku adil dalam
memberikan hukum kepada keluarga dan rakyat yang mereka
kuasai (perintah)” (HR Muslim)
3. Dari Auf bin Malik ra., ia berkata : saya mendengar Rasulullah
SAW bersabda : “Pemimpin yang bijaksana adalah yang kalian
cintai dan mereka mencintai kalian, kalian selalu mendoakan
atasnya dan ia selalu mendoakan kalian. Pemimpin yang
terjahat adalah yang kalian benci dan membenci kalian,
sedang kalian mengutuknya dan ia mengutuk kalian.” Kami
bertanya : “Wahai Rasulullah SAW sebaiknya kita pecat saja
mereka itu. “Beliau menjawab : “Jangan, selama ia masih
mengerjakan salat berjamaah dengan kalian.”
4. Dari Iyadh bin Himarra., ia berkata : “Saya mendengar
Rasulullah SAW bersabda : “Penghuni surga itu terdiri dari
tiga kelompok, yaitu: Penguasa yang adil lagi disenangi,
orang yang mengasihi lagi lembut hati kepada sanak keluarga
dan setiap muslim, serta orang miskin yang menjaga
kehormatan dirinya sedang ia mempunyai keluarga.” (HR
Muslim)
WAJIB MENAATI PERINTAH PENGUASA, DAN
MELANGGAR DALAM MAKSIAT.
1. Dari Ibnu Umar ra., dari Nabi saw, beliau bersabda : “Seorang
muslim wajib mendengar dan taat terhadap perintah yang
disukainya maupun yang tidak. Kecuali bila ia diperintah
mengerjakan kemaksiatan, maka ia tidak wajib mendengar
dan taat.” (HR Bukhari dan Muslim)
2. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : Ketika kami berbaiat (berjanji
setia) kepada Rasulullah SAW untuk selalu mendengar dan
taat, beliau bersabda kepada kami : “Sebatas
kemampuanmu.” (HR Bukhari dan Muslim)
3. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah
SAW bersabda : “Siapa saja yang melepaskan diri dari
ketaatan, pada hari kiamat ia akan bertemu Allah tanpa dapat
mengajukan alasan. Dan siapa saja yang meninggal dunia
sedang di lehernya tidak ada tanda bai’at (janji setia), maka
ia mati seperti pada zaman Jahiliyyah.” (HR Muslim)
4. Dari Anas ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Dengar
dan taatilah ! Walau yang mnguasaimu seorang budak
Etiopia, yang bentuk kepalanya hanya seperti biji kurma.” (HR
Bukhari)
5. Dari Abi Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Kamu harus selalu mendengar dan taat kepada penguasa,
baik dalam hal yang sulit, menyenangkan, dan menjemukan,
Walaupun ia tidak memperdulikan kamu.” (HR Muslim)
6. Dari Abdullah bin Umar ra., ia berkata : Pernah kami
berpergian bersama Rsulullah SAW, lalu kami berhenti untuk
membuat kemah. Di antara kami ada yang memperbaiki
kemah dan ada yang bermain panah. Ada pula yang
menggembala ternak yang kami kendarai. Tiba-tiba muazin
Rasulullah SAW berseru : “Mari kita salat berjamaah. “Setelah
menunaikan salat, kami mendekat kepada Rasulullah SAW,
dan bersabda : “Tidak ada satu Nabi pun sebelum aku
melainkan ia berkewajiban menunjukkan kebaikan, dan
memperingatkan kejahatan kepada umatnya. Dan
sesungguhnya bagi umat ini pada mulanya ditentukan
keselamatan, tetapi pada akhrnya banyak cobaan dan hal-hal
yang tidak diingini. Kemudian datanglah fitnah-fitnah yang
sebelumnya dianggap ringan dibanding yang berikutnya. Pada
saat fitnah itu datang, orang yang beriman berkata : “Inilah
yang membinasakan aku.” Kemudian hilanglah fitnah itu dan
datang lagi. Sehingga orang yang beriman berkata “Inilah,
inilah yang membinasakan aku. “Maka siapa saja yang ingin
dijauhkan dari neraka dan dimasukkan surga, hendaklah
meneguhkan keimanan kepada Allah dan hari akhir. Dan
memperlakukan sesama manusia sebagaimana ia senang
diperlakukan seperti itu. Siapa saja yang telah berbai’at
(berjanji setia) kepada seorang penguasa, serta telah
menumpahkan kepercaayaannya, ia harus mentaatinya
dengan sekuat tenaga. Apabila ada orang lain yang
bermaksud merebut kekuasaannya, maka penggallah leher
orang itu.” (HR Muslim)
7. Dari Abu Hunaidah Wail bin Hujr ra., ia berkata : Salamah bin
Yazid Al-Ju’fiy bertanya kepada Rasulullah SAW : Wahai Nabi
Allah bagaimana pendapat Anda seandainya pemimpin di
antara kami menuntut hak kepada kami, tetapi tidak mau
memenuhi hak kami. Apa yang Engkau perintahkan kepada
kami? Beliau semula mengabaikan pertanyaan itu. Kemudian
Salamah mengulanginya, maka Rasulullah SAW bersabda :
“Dengarkan dan taatilah mereka! Sesungguhnya mereka akan
dimintai pertanggungjawaban atas kewajiban mereka, dan
kamu juga akan dimintai pertanggungjawaban atas
kewajibanmu.” (HR Muslim)
8. Dari Abdullah bin Mas’ud ra., ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda : “Sepeninggalku akan muncul orang yang
mementingkan diri sendiri dan hal-hal yang kamu anggap
mungkar. “Para sahabat bertanya : “wahai Rasulullah, apa
yang Engkau perintahkan untuk kami?” beliau menjawab :
“Kamu harus menunaikan kewajibanmu dan mohonlah kepada
Allah atas apa yang menjadi hakmu!” (HR Bukhari dan
Muslim)
9. Dari Abi Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Siapa saja yang taat kepadaku, ia telah taat kepada Allah,
dan siapa saja yang durhaka kepadaku, ia telah durhaka
kepada Allah. Siapa saja yang taat kepada pemimpinnya, ia
telah taat kepadaku, dan siapa saja yang durhaka kepada
pemimpinnya, ia telah durhaka kepadaku.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
10. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda : “Siapa saja yang benci terhadap tindakan
penguasanya, hendaklah ia sabar! Sesungguhnya orang yang
meninggalkan raja (membelot) walau hanya sejengkal, ia
akan mati pada jaman jahiliyyah.” (HR Bukhari dan Muslim)
11. Dari Abu Bakrah ra., ia berkata : Saya mendengar
Rasulullah SAW bersabda : “Siapa saja yang menghina
penguasanya, Allah akan menghinakan dirinya.” (HR Tirmidzi)
Larangan untuk meminta jabatan
kecuali ditunjuk atau dalam terpaksa
1. Dari Abu Sa’id Abdurrahman bin Samurah ra., ia berkata :
Rasulullah SAW bersabda : “Wahai Abdurrahman bin
Samurah, janganlah kamu meminta jabatan. Apabila kamu
diberi dan tidak memintanya, kamu akan mendapat
pertolongan Allah dalam melaksanakannya. Dan jika kamu
diberi jabatan karena memintanya, jabatan itu diserahkan
sepenuhnya. Apabila kamu bersumpah terhadap suatu
perbuatan, kemudian kamu melihat ada perbuatan lain yang
lebih baik, maka kerjakanlah perbuatan yang lebih baik itu
dan tebuslah sumpahmu.” (HR Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Dzar ra., ia berkata : Rasulullah saw, bersabda :
“Wahai Abu Dzar, sesungguhnya aku melihatmu seorang yang
lemah, dan aku mencintai kamu sebagaimana aku mencintai
diriku. Janganlah kamu menjadi pejabat, walau terhadap dua
orang, dan janganlah kamu mengelola harta anak yatim.” (HR
Muslim)
3. Dari Abu Dzar ra., ia berkata : Saya bertanya kepada
Rasullulah : “Mengapa beliau menepuk bahu saya, kemudian
bersabda : “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya kamu orang yang
lemah, sedangkan jabatan adalah suatu kepercayaan, yang
pada hari kiamat merupakan suatu kehinaan dan penyesalan.
Kecuali bagi pejabat yang dapat memanfaatkan hak dan
menunaikan kewajiban sebaik-baiknya.” (HR Muslim)
4. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya kalian berambisi memegang suatu jabatan,
tetapi pada hari kiamat jabatan itu menjadi penyesalan.” (HR.
Bukhari)
Mengangkat bawahan yang saleh dan
tidak bergaul dengan orang jahat
1. Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah
SAW bersabda : “Allah tidak mengutus seorang Nabi dan
khalifah yang menggantikannya, melainkan ada dua orang
yang sangat dekat dengannya, yang satu menganjurkan agar
selalu berbuat baik, dan yang lain menganjurkan untuk selalu
berbuat kejahatan. Dan orang yang maksum adalah yang
dijaga oleh Allah.” (HR. Bukhari)
2. Dari Aisyah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seorang
penguasa, Allah menjadikan baginya pembantu yang jujur
sebagai pembimbing ketika ia khilaf dan membantunya ketika
ia ingat. Dan jika Allah menghendaki lain, Allah jadikan
baginya pembantu yang jahat. Apabila penguasa itu lupa, ia
tidak mengingatkannya dan apabila penguasa itu ingat, ia
tidak mau membantunya.” (HR Abu Daud)
Keutamaan Malu
1. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : Rasulullah SAW melewati
seorang Anshar yang sedang memberi nasihat kepada
saudaranya karena pemalu, lalu beliau SAW bersabda :
“Biarka ia pemalu! Sesugguhnya pemalu itu sebagian dari
iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Imran bin Hushain ra., ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda : “Perasaan malu selalu mendatangkan kebaikan.”
(HR Bukhari dan Muslim)
3. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Cabang iman ada enam puluh lebih, atau tujuh puluh lebih,
yang paling utama adalah ucapan LAA ILAAHA ILLALLAAH
(Tidak ada Tuhan selain Allah), dan yang paling rendah adalah
menyingkirkan gangguan dari jalan. Sedangkan malu adalah
bagian dari iman.” (HR Bukhari dan Muslim)
4. Dari Abu Sa’id Al-Khudriy ra., ia berkata : Rasulullah SAW
sangat pemalu, melebihi seorang gadis yang dipingit. Ketika
melihat sesuatu yang tidak beliau sukai, kami dapat
mengetahui melalui raut wajahnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Sedangkan malu adalah bagian dari iman.” (HR Bukhari dan
Muslim)
Para ulama berpendapat : “Hakikat malu adalah budi pekerti
yang mengajak agar meninggalkan kejelekan dan mencegah dari
mengurangi hak orang lain.”
Dalam riwayat Abul Qasim Al Junaid ra., ia berkata : “Malu
adalah memandang kebaikan dan melihat kekurangan diri
sendiri. Dari kedua pandangan itu, lahirlah perasaan yang
dinamakan malu.”
MENYIMPAN RAHASIA
1. Dari Abu Sa’id Al-Khudriy ra., ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda : “Sesungguhnya orang yang paling hina di sisi Allah
pada hari kiamat adalah suami atau isteri yang bersetubuh
kemudian menyebarkan rahasianya.” (HR.Muslim)
2. Dari Abdullah bin Umar ra., ia berkata : Ketika Hafshah putri
Umar menjadi janda, Umar berkata : “Saya bertemu dengan
Utsman bin Affan ra., lalu saya tawarkan Hafshah
kepadanya.” Umar berkata : “Jika engkau mau, akan saya
nikahkan dengan Hafshah putri saya.” Utsman bin Affan
menjawab : “Beri saya kesempatan berpikir.” Selang
beberapa hari ia menemui Umar dan berkata : “Saya tidak
akan menikah saat ini.” Kemudian Umar bertemu Abu Bakar
Ash-Shiddiq ra., dan berkata kepadanya : “Jika engkau mau,
akan saya nikahkan dengan putriku, Hafshah.” Abu Bakar ra.
diam, tidak memberikan jawaban apa-apa kepada Umar.
Sehingga Umar merasa lebih tersinggung daripada penolakan
Utsman. Selang beberapa hari Nabi SAW melamar Hafshah,
dan langsing dinikahkan. Kemudian Abu Bakar menemui Umar
dan berkata : “Mungkin engkau tersinggung saat menawarkan
Hafshah kepada saya sedang saya tidak memberi jawaban.”
Umar menjawab : “Ya.” Abu Bakar berkata lagi : “Sungguh
tidak ada yang menghalangi saya menerima tawaran itu.
Hanya saja, saya telah mengetahui, bahwa Nabi SAW
menyebut-nyebutnya. Dan saya tidak mau menyebarluaskan
rahasia Rasulullah SAW Seandainya Nabi SAW tidak ingin
mengambil Hafshah sebagai isteri beliau, niscaya saya akan
menerimanya.” (HR.Bukhari)
3. Dari Aisyah ra., ia berkata : Ketika kami, para isteri Nabi
SAW, berada di sekelilingnya, datanglah Fatimah ra. yang
jalannya mirip Rasulullah SAW Ketika beliau melihatnya,
langsung disambut seraya bersabda : “Selamat datang
anakku.” Beliau menyuruhnya duduk di sebelah kanan atau
kiri beliau seraya membisikkan sesuatu di telinganya.
Kemudian Fathimah ra. menangis keras sekali. Beliau kasihan
melihatnya, lantas membisikkan sesuatu lagi dan ia (Fatimah)
tertawa. Maka saya berkata kepadanya : “Rasulullah SAW
mengistimewakan kamu dengan rahasia-rahasia melebihi
kepada isteri-isterinya, tetapi lalu kenapa kamu menangis.
Ketika Rasulullah SAW telah pergi, saya (Aisyah) bertanya
kepadanya : “Apa yang dibisikkan Rasulullah SAW kepadamu
?” Fatimah menjawab : Saya tidak akan menyebarluaskan
rahasia Rasulullah SAW Setelah Rasulullah SAW wafat, Aisyah
mengulangi pertanyaannya : “Saya benar-benar ingin
mendengar tentang sesuatu yang pernah Rasulullah SAW
sampaikan kepadamu ? “Fatimah menjawab : “Kalau
sekarang, baiklah akan saya katakan. Pada bisikan pertama,
beliau memberitahu bahwa malaikat Jibril SAW setiap tahun
datang untuk mengulangi bacaan Al-Qur’an sekali atau dua
kali. “Tapi dalam waktu dekat ini, ia telah datang dua kali,
dan aku yakin kalau ajalku sudah dekat. Oleh karena itu,
bertakwalah kamu kepada Allah dan bersabarlah ! Aku adalah
sebaik-baik orang yang meninggalkan kamu.” Oleh sebab itu,
saya menangis seperti yang engkau lihat. Melihat yang
demikian, beliau merasa kasihan dan berbisik untuk kali
kedua. Beliau bersabda : “Wahai Fatimah, apakah kamu tidak
ridha menjadi penghulu penghuni surga ?” Oleh karena itu
saya tertawa seperti yang engkau lihat.” (HR.Bukhari dan
Muslim)
4. Dari Tsabit bin Anas ra., ia berkata : Rasulullah SAW
menghampiri saya. Waktu itu saya sedang bermain dengan
anak-anak. Beliau mengucapkan salam dan menyuruhku
untuk sebuah keperluan. Sampai aku terlambat datang
kepada ibu. Ketika saya sedang, ibu bertanya : “Apakah yang
menyebabkan kamu terlambat datang ?” Saya menjawab :
“Rasulullah SAW mengutus saya untuk suatu keperluan.” Ibu
bertanya lagi : “Keperluan apa ?” Saya menjawab : “Itu
rahasia.” Ibu berkata : “Kalau begitu kamu jangan
menceritakan rahasia Rasulullah SAW kepada siapa pun.”
Anas berkata : “Demi Allah, andaikan saya boleh beritahu
berita itu kepada seseorang, pasti aku juga akan
memberitahumu hai Tsabit.” (HR.Muslim)
MENEPATI JANJI
1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu : Bila berkata ia
dusta, bila berjanji ia ingkar, dan bila dipercaya ia khianat.”
(HR.Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Muslim terdapat tambahan : “Walaupun ia berpuasa
dan mengerjakan salat serta beranggapan bahwa dirinya muslim .”
2. Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash ra. ia berkata : Nabi SAW
bersabda : “Ada empat perbuatan yang apabila seseorang
melakukannya, ia benar-benar orang munafik. Dan siapa saja
yang mengerjakan salah satu dari perbuatan itu, berarti ia
telah mengerjakan salah satu dari perbuatan nifak, sampai ia
meninggalkannya, yaitu : Apabila dipercaya ia berkhianat,
apabila berkata ia dusta, apabila berjanji ia melanggar, dan
apabila berdebat ia melampaui batas.” (HR.Bukhari dan
Muslim)
3. Dari Jabir ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda kepada
saya : “Jika harta dari Bahrain datang aku akan memberimu
sekian, sekian dan sekian. Namun, sampai Nabi SAW wafat
harta dari Bahrain belum juga datang. Ketika harta dari
Bahrain datang, Abu Bakar ra. menyuruh seseorang
mengumumkan : “Siapa saja yang dijanjikan atau
menghutangi Rasulullah SAW, hendaknya datang kepada
kami. “ Saya berkata kepada Abu Bakar ra. : “Sesungguhnya
Rasulullah SAW pernah bersabda kepada saya begini dan
begini. Maka Abu Bakar mengambil dua genggam lalu
diberikan kepada saya lalu saya hitung uang itu ternyata
sebanyak lima ratus. Abu Bakar lantas berkata : “Ambillah
dua kali itu.” (HR.Bukhari dan Muslim)
MENJAGA KEBIASAAN AMAL BAIK
1. Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash ra., ia berkata : Rasulullah
SAW bersabda : “Wahai Abdullah, janganlah kamu seperti si
Fulan ! Ia selalu bangun untuk salat malam, kemudian
ditinggalkannya kebiasaaan itu.” (HR.Bukhari dan Muslim)
SUNNAH BERKATA BAIK DAN BERWAJAH
CERIA
1. Dari Adiy bin Hatim ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda
: “Takutlah kalian terhadap api neraka, walaupun hanya
dengan menyedekahkan separuh biji kurma. Apabila tidak
mendapatkannya, cukup dengan berkata baik.” (HR.Bukhari
dan Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Nabi SAW bersabda :
“Bertutur kata yang baik adalah sedekah.” (HR.Bukhari dan
Muslim)
3. Dari Abu Dzar ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda
kepada saya : “Janganlah sekali-kali meremehkan perbuatan
baik, walaupun menyambut saudaramu dengan muka ceria.”
(HR.Bukhari dan Muslim)
SUNNAH MEMPERJELAS PERKATAAN
1. Dari Anas ra., ia berkata : Apabila Nabi SAW mengatakan
sesuatu, biasanya mengulanginya tiga kali hingga benarbenar
dapat dimengerti. Dan apabila beliau mendatangi suatu
kaum, biasanya mengucapkan salam kepada mereka
sebanyak tiga kali.” (HR.Muslim)
2. Dari Aisyah ra., ia berkata : “Perkataan Rasulullah adalah
ucapan yang sangat jelas, jika orang lain mendengarnya,
pasti dapat memahaminya.” (HR.Abu Daud)
MENDENGARKAN NASIHAT ORANG ALIM
1. Dari Jarir bin Abdullah ra., ia berkata : Pada waktu haji Wada’
Rasulullah SAW menyuruh saya agar orang-orang
memperhatikan dan mendengarkan nasihatnya. Kemudian
beliau bersabda : “Janganlah sepeninggalku kalian menjadi
kafir lagi, kemudian di antara kalian saling memenggal leher
yang lain.” (HR.Bukhari dan Muslim)
MEMBERI NASIHAT BILA PERLU
1. Dari Abu Wail Syaqiq bin Salamah, ia berkata : “Setiap hari
Kamis, Ibnu Mas’ud ra., biasa memberi nasihat kepada kami.
Waktu itu ada yang usul : “Wahai Abu Abdurrahman, saya
lebih senang apabila kamu mau menasehati kami setiap hari.”
Ibnu Mas’ud menjawab : “Sebenarnya saya bisa memberi
nasihat setiap hari. Hanya saja, saya khawatir kalau kalian
menjadi bosan. Saya sengaja membatasinya sebagaimana
Rasulullah SAW melakukannya kepada kami. Beliau juga
khawatir kalau kami merasa bosan.” (HR.Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Yaqdhan Ammar bin Yasir ra., ia berkata : Saya
mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya
lamanya salat seseorang dan singkatnya khutbah,
membuktikan pandainya seseorang dalam masalah agama.
Oleh karena itu, perpanjanglah waktu salat dan persingkatlah
khutbah.” (HR.Muslim)
3. Dari Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Salamiy ra., ia berkata :
“Ketika kami salat bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba ada
orang yang bersin dan saya mengucapkan : YARHAMUKALLAH
(Semoga Allah memberi rahmat kepadamu). Spontan orangorang
membelalakkan matanya kepada saya, maka saya
berkata : Aduh alangkah kecewanya aku, dan aku bertanya :
“Kenapa kalian memandangku seperti itu ?” Kemudian
mereka menepukkan tangannya pada paha mereka. Ketika
saya lihat, mereka bermaksud agar saya diam, saya pun
terpaksa diam. Ketika Rasulullah SAW selesai salat – demi
ayah dan bundaku- tidak pernah saya melihat seorang
pendidik lebih baik daripada beliau, baik sebelum maupun
sesudahnya. Demi Allah, beliau tidak membentak, memukul,
maupun memaki saya, bahkan beliau bersabda :
“Sesungguhnya di dalam salat tidak boleh bercakap-cakap
dengan sesama manusia walaupun hanya sepatah kata.
Sebab salat itu untuk membaca tasbih, takbir dan ayat-ayat
Al-Qur’an.” Hal itu sama dengan sabda Rasulullah SAW
sewaktu saya berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya
baru saja saya melewati masa Jahiliyah, dan sekarang Allah
telah mendatangkan Islam. Sebenarnya masih ada di antara
kami orang-orang yang masih suka mendatangi dukun.
Bagaimana pendapatmu ?” Beliau menjawab : “Kamu jangan
mendatangi mereka ! “ Saya bertanya lagi : “Bagaimana
pendapatmu jika di antara kami masih ada orang-orang yang
suka meramal ?” Beliau menjawab : “Itu hanya perasaan
mereka. Oleh karena itu, jangan sampai kepercayaan mereka
itu menghalangi perbuatan baik.” (HR.Muslim)
4. Dari Al-Irbadh bin Sariya ra., ia berkata : “Rasulullah SAW
pernah memberi nasihat yang dapat menggetarkan hati, dan
dapat mencucurkan air mata.” (perawi tidak disebutkan)
HIDUP TENANG
1. Dari Aisyah ra., ia berkata : “Saya tidak pernah melihat
Rasulullah SAW tertawa dengan bebas, sampai terlihat langitlangit
mulutnya. Biasanya beliau hanya tersenyum.”
(HR.Bukhari dan Muslim)
SUNNAH MENDATANGI SALAT, PENGAJIAN DAN
IBADAH-IBADAH LAIN DENGAN TENANG
1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Saya mendengar
Rasulullah SAW bersabda : “Apabila salat sudah dimulai,
janganlah kalian menghadirinya terburu-buru, tetapi
datangilah dengan tenang. Apapun yang masih bisa kamu
kejar dalam berjama’ah ikutilah, dan apa yang kurang,
sempurnakanlah.” (HR.Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Muslim ada tambahan : “Karena, apabila salah
seorang di antara kalian sudah bermaksud mendatangi salat, maka
ia dianggap seperti sudah berada dalam salat.”
2. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata : Pada hari Arafah, ia turun
bersama Nabi SAW Kemudian dari arah belakang, beliau
mendengar ada orang-orang yang memukuli untanya sambil
membentak, sambil memberi isyarat dengan cambuknya.
Beliau bersabda : “Wahai sekalian manusia, seharusnya kalian
senantiasa tenang ! Sesungguhnya kebaikan itu bukan hanya
dengan menyia-nyiakan yang lain.” (HR.Bukhari)
MEMULIAKAN TAMU
1. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda :
“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir,
hendaklah ia memuliakan tamunya. Siapa saja yang beriman
kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung tali
persaudaraan. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah
dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam !”
(HR.Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Syuraih Khuwailid bin Amr (Al-Khuza’i) ra., ia
berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Siapa
saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia
memuliakan tamu pada saat istimewanya.” Para sahabat
bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah saat istimewanya ?”
Beliau menjawab : “Hari dan malam pertamanya. Bertamu itu
adalah tiga hari, selebihnya adalah sedekah.” (HR.Bukhari dan
Muslim)
Dalam riwayat Muslim dikatakan : “Orang muslim tidak boleh
tinggal di tempat saudaranya, sehingga menyebabkan saudaranya
itu berdosa.” Para sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, bagaimana
ia bisa menyebabkan saudaranya berdosa ?” Beliau bersabda : “Ia
tinggal di tempat saudaranya, sedangkan saudaranya tidak
mempunyai hidangan yang bisa disuguhkan.”
SUNNAH IKUT BERGEMBIRA DAN
MENGUCAPKAN “SELAMAT” KEPADA ORANG
YANG MEMPEROLEH KEBAHAGIAAN
1. Dari Abu Ibrahim (Abu Muhammad/ Abu Mu’awiyah Abdullah
bin Abu Aufa) ra., ia berkata : “Rasulullah SAW
menyampaikan berita gembira kepada Khadijah, yaitu rumah
yang terbuat dari mutiara di surga. Di dalamnya tidak ada
keributan dan kesukaran.” (HR.Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Musa Al-Asy’ariy ra., ia berkata : “Suatu hari, saya
berwudhu di rumah, kemudian saya pergi dan berkata dalam
hati : “Hari ini saya akan selalu mendampingi dan menyertai
Rasulullah SAW” Ia terus ke masjid dan menanyakan
Rasulullah SAW Para sahabat menjawab : “Beliau ada di
sana.” Abu Musa menuju arah yang ditunjukkan itu dan
mencari-cari beliau sehingga menuju ke sumur Aris.
Sesampainya saya duduk di depan pintu menunggu sampai
Rasulullah selesai hajat dan berwudhu. Setelah itu saya
mendekati beliau, yang sedang duduk di tepi sumur dan
menurunkan kedua kakinya ke sumur. Kemudian saya
memberi salam kepada beliau, dan kambali ke depan pintu.
Saya berkata dalam hati : “Hari ini saya benar-benar menjadi
penjaga pintu Rasulullah SAW” Kemudian Abu Bakar ra.
datang dan mengetuk pintu, saya bertanya : “Siapa ini?” Ia
menjawab : “Abu Bakar.” Saya berkata : “Tunggu sebentar !”
Saya mendatangi Rasulullah SAW dan berkata : “Wahai
Rasulullah, Abu Bakar minta izin untuk masuk.” Beliau
bersabda : “Izinkan dia untuk masuk dan gembirakanlah
dengan surga.” Maka saya menyambut Abu Bakar dan
berkata : “Silahkan masuk ! Rasulullah SAW menggembirakan
kamu dengan surga.” Abu Bakar pun masuk dan duduk di
sebelah kanan Nabi SAW sambil menurunkan kedua kakinya
ke sumur sebagaimana yang diperbuat Rasulullah SAW
Kemudian saya kembali ke pintu dan duduk sambil mengingat
saudaraku yang sedang berwudhu dan akan menyusul saya.
Saya berkata dalam hati : “Seandainya Allah menghendaki
kebaikan pada Fulan, maka Allah juga menghendaki kebaikan
kepada saudaranya, mudah-mudahan ia akan datang kemari.”
Tiba-tiba ada seorang yang menggerakkan pintu, maka saya
bertanya : “Siapa itu ?” Ia menjawab : “Umar bin Khaththab.”
Saya menyuruhnya menunggu. Saya mendatangi Rasulullah
SAW Setelah mengucapkan salam, saya berkata : “Umar
minta izin untuk masuk.” Beliau bersabda : “Izinkan dia
masuk dan gembirakanlah dia dengan surga.” Maka saya
menyambut Umar dan berkata : “Silahkan masuk ! Rasulullah
SAW menggembirakan kamu dengan surga.” Umar pun
masuk dan duduk di sebelah kiri Rasulullah SAW di tepi
sumur, serta menurunkan kedua kakinya ke sumur. Kemudian
saya kembali ke pintu dan duduk sambil berkata dalam hati :
“Seandainya Allah menghendaki kebaikan kepada Fulan, maka
Allah juga menggerakkan hati saudaranya untuk datang
kemari.:” Tiba-tiba datanglah seseorang dan menggerakkan
pintu. Saya bertanya : “Siapa ini?” Ia menjawab : “Utsman
bin Affan.” Saya menyuruh untuk menunggu. Saya
mendatangi Nabi SAW dan memberitahu, bahwa Utsman
minta izin untuk masuk. Maka beliau bersabda : “Izinkan dia
masuk dan gembirakan ia dengan surga, tetapi ia nanti akan
terkena musibah.” Maka saya menyambut Utsman dan
berkata : “Silahkan masuk ! Rasulullah SAW menggembirakan
kamu dengan surga, tetapi nanti kamu akan tertimpa suatu
musibah.” Utsman pun masuk, tetapi tepi sumur itu sudah
penuh. Sehingga ia duduk di depan mereka sebelah kiri.”
Sa’id bin Al-Musayyab berkata : “Saya menakwilkannya
(tempat duduk mereka) dengan kuburan mereka.”
(HR.Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain ditambahkan : “Rasulullah SAW menyuruh
saya untuk menjaga pintu. Ketika berita itu disampaikan kepada
Utsman, ia memuji Allah Ta’ala dan berkata : “Hanya Allah-lah
yang dapat dimintai pertolongan.”
3. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Ketika kami duduk di
sekeliling Rasulullah SAW bersama dengan Abu Bakar, Umar
dan sahabat-sahabat yang lain, tiba-tiba Rasulullah SAW
berdiri dan meninggalkan kami. Kami menunggu beliau, tetapi
tak kunjung kembali. Kami khawatir dan cemas kalau-kalau
ada sesuatu yang menimpa diri beliau, maka kami semua
berdiri dan sayalah orang pertama yang merasa cemas.
Kemudian saya keluar dan mencari Rasulullah SAW Ketika
sampai pada pagar tembok seorang sahabat Anshar dari Bani
Najjar, saya mencari-cari pintu tetapi tidak menemukannya.,
hanya ada sebuah parit yang masuk ke balik tembok yang
menghubungkan dengan sumur yang berada di luar. Saya
menerobosnya, sehingga dapat masuk dan menjumpai
Rasulullah SAW, kemudian beliau bersabda : “Wahai Abu
Hurairah.” Saya menjawab : “Ya, wahai Rasulullah SAW ?”
Beliau bertanya : “Ada apa ?” Saya menjawab : “Tadi engkau
berada di tengah-tengah kami kemudian engkau berdiri dan
meninggalkan kami, kami khawatir kalau-kalau ada sesuatu
yang menimpamu. Kami semua merasa cemas. Oleh karena
itu, saya datang ke pagar tembok ini dan menerobosnya
seperti kijang. Sesungguhnya di balik tembok ini banyak
orang yang menunggu.” Beliau bersabda : “Wahai Abu
Hurairah, sambil memberikan kedua sandalnya kepadaku,
pergilah dengan membawa kedua sandalku ini. Siapa saja
yang kamu jumpai di balik tembok ini yang bersaksi dengan
sepenuh hati, bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah, maka
gembirakanlah ia dengan surga . . .” (HR.Muslim)
4. Dari Abu Syumasah, ia berkata: “Menjelang wafatnya ‘Amr
bin Al-‘Ash ra., kami mengunjunginya. Waktu itu ia sedang
menangis tersedu-sedu dan memalingkan mukanya ke arah
dinding, sehingga puteranya berkata: ‘Wahai ayahku,
bukankah Rasulullah SAW, pernah menyampaikan berita
gembira kepadamu dengan ini, bukankah Rasulullah SAW,
pernah menyampaikan berita gembira dengan itu?” Kemudian
‘Amr memandang anaknya dan berkata: “Sesungguhnya
sebaik-baik yang kami persiapkan adalah suatu persaksian,
bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah
utusan Allah. Saya telah mengalami tiga zaman. Pertama,
saya pernah membenci Rasulullah SAW Barangkali tidak ada
seorang pun yang membencinya melebihi aku. Waktu itu tidak
ada yang aku inginkan kecuali membunuh beliau. Seandainya
saya meninggal pada waktu itu, aku pasti termasuk ahli
neraka. Kedua, ketika Allah memasukkan Islam di hatiku,
kemudian saya mendatangi Nabi SAW, dan berkata:
“Ulurkanlah tangan kananmu, karena saya akan berbaiat
(berjanji setia) kepadamu.” Setelah beliau mengulurkan
tangan kanannya, saya menariknya. Beliau bertanya: “Ada
apa wahai ‘Amr?” Saya menjawab: “Saya ingin mengajukan
syarat.” Beliau bertanya: “Syarat apakah yang kamu
maksud?” Saya menginginkan diampuni dosa saya.” Beliau
bersabda: “Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa Isalm itu
menghapus dosa-dosa sebelumnya, hijrah itu menghapus kan
dosa-dosa sebelumnya, demikian pula dengan haji, juga
menghapuskan dosa-dosa sebelumnya?” Pada waktu itu, tidak
ada seorangpun yang saya cintai melebihi cinta saya kepada
Rasulullah SAW, dan tidak ada orang yang lebih mulia
dihadapan saya melebihi beliau, sehingga saya tidak mampu
untuk memandang beliau dengan kedua mata, karena saya
sangat mengagungkannya. Sekiranya saya diminta untuk
menerangkan sifat-sifat beliau, niscaya saya tidak mampu
untuk menerangkannya, karena saya tidak memandang beliau
dengan kedua mata saya. Seandainya waktu itu meninggal,
niscaya besarlah harapan saya termasuk ahli surga. Ketiga,
ketika memegang beberapa jabatan, saya sendiri tidak tahu
bagaimana sebenarnya keadaan diri saya. Oleh karena itu,
apabila saya meninggal , janganlah diiringi dengan tangisan
dan api. Apabila kamu mengubur saya, maka cepat-cepat
timbunilah dengan tanah, kemudian berdirilah kalian di
sekitar kuburku kira-kira selama tukang jagal menyembelih
dan membagi-bagikan dagingnya, sehingga saya merasa
senang dengan adanya kalian, sambil saya berpikir apa yang
harus saya jawabkan kapada utusan Tuhanku.” (HR. Muslim)
Berpesan dan mendoakan ketika
berpisah
1. Hadis Zaid bin Arqa ra. (ini juga sudah disebutkan pada bab
“Memuliakan keluarga Rasulullah SAW”) ia berkata:
“Rasulullah SAW, berdiri ditengah-tengah kami untuk
menyampaikan khutbah. Setelah memuji dan menyanjung
Allah serta memberi nasihat dan peringatan, beliau bersabda:
“Oleh karena itu ingatlah wahai sekalian manusia!
Sesungguhnya aku adalah manusia biasa, barangkali utusan
Tuhanku datang dan aku harus menyambutnya. Aku
tinggalkan dua hal yang berat kepada kalian. Pertama,
Kitabullah (Al-Quran) yang didalamnya penuh dengan
petunjuk dan cahaya, maka pergunakanlah dan pegang teguh
Al-Quran.“ Beliau sangat menganjurkan dan mendorong agar
kita selalu berpegang teguh pada Al-Kitab. Beliau bersabda
lagi: “Dan ahli bait (keluarga)ku, aku peringatkan kalian
dengan nama Allah tentang ahli baitku.” (HR. Muslim)
2. Dari Abu Sulaiman Malik bin A-Huwairits ra., ia berkata:
“Kami dan beberapa pemuda tinggal di tempat Rasulullah
selama dua puluh hari. Rasulullah SAW, seseorang yang
sangat penyayang dan lembut hati. Beliau menyangka, bahwa
kami sudah rindu kepada keluarga kami, maka beliau
menanyakan tentang keluarga yang kami tinggalkan dan kami
pun memberitahukannya. Beliau bersabda: “Kembalilah
kepada keluarga kalian dan tinggallah di tengah-tengah
mereka, serta ajarkan dan suruhlah mereka untuk
mengerjakan salat. Salatlah kalian pada waktu ini dan pada
waktu ini. Apabila waktu salat telah tiba, hendaklah diantara
kalian mengumandangkan azan dan orang tertua di antara
kalian hendaklah menjadi imam.” Di dalam riwayat Bukhari
terdapat tambahan: “Dan salatlah kalian sebagaimana kalian
melihat cara salatku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Dari Umar bin Khaththab ra., ia berkata: “Saya minta izin
kepada Nabi SAW, untuk Umrah, kemudian beliau memberi
izin kepadaku dan berpesan: “Wahai saudaraku, jangan
lupakan kami dalam doamu!” Umar berkata: “Kalimat itu, bagi
saya lebih membahagiakan daripada mendapatkan kekayaan
dunia. Dalam riwayat lain dikatakan: “Wahai saudaraku
sertakanlah kami dalam doamu.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
4. Dari Salim bin Abdullah bin Umar ra., ia berkata: “Abdullah
bin Umar apabila bertemu dengan orang yang akan
bepergian, ia berkata: “Mendekatlah kepadaku, aku akan
menitipkan kepadamu, sebagaimana Rasulullah SAW, selalu
menitipkan kepada kami, kemudian berkata kepadanya: “Aku
menitipkan kepada Allah, agamamu, amanahmu dan
penghabisan amalmu.” (HR. Tirmidzi)
5. Dari Abdullah bin Yazid Al-Khatmiy Ash-Shahabiy ra., ia
berkata: “Apabila Nabi SAW, melepas suatu pasukan, beliau
bersabda: “Aku menitipkan kepada Allah agamamu,
amanahmu, dan penghabisan amalmu.” (HR. Abu Daud)
6. Dari Anas ra., ia berkata: “Ada seseorang datang kepada Nabi
SAW, dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya
akan bepergian. Oleh karena itu, berilah saya bekal!” Beliau
bersabda: “Semoga Allah membekalimu dengan takwa.” Ia
berkata lagi: “Tambahlah bekal itu!” Beliau bersabda:
“Semoga Allah mengampuni dosamu!” Ia berkata lagi:
“Tambahlah bekal itu!” Beliau bersabda: “Semoga Allah
memudahkan kebaikan padamu dimanapun kamu berada.”
(HR. Tirmidzi)
Istikharah dan musyawarah
1. Dari Jabir ra., ia berkata: “Rasulullah SAW, mengajarkan kami
supaya beristikharah dalam segala urusan, sebagaimana
Rasulullah mengajarkan suatu surat Al-Quran, dimana beliau
bersabda: “Apabila salah seorang diantara kalian mempunyai
tujuan dalam suatu urusan, hendaklah ia salat sunnat dua
rakaat kemudian membaca: ‘ALLAHUMMA INNII
ASTAKHIRUKA BI’ILMUKA WA ASTAQDIRUKA BIQUDRATIKA
WA AS-ALUKA MIN FADHLIKAL ‘ADHZIIM FAINNAKA TAQDIRU
WA LAA AQDIRU WA TA’LAMU WA LAA A’LAMU WA ANTA
‘ALAAMUL GHUYUUB ALLAHUMMA INKUNTA TA’LAMU ANNA
HAADZAL AMRA KHAIRUL LII FII DIINII WA MA’ASYII WA ‘AA
QIBATI AMRI’ atau membaca: ‘’AAJILI AMRII WAAJILIHI
FAQDURHULII WAYASSIRHULII TSUMMA BAARIKLII FIIHI WA
INKUNTA TA’LAMU ANNA HAADZAL AMRA SYARRULLII FII
DIINII WAMA’AASYII WA’AAQIBATI AMRI’ atau membaca:
‘’AAJILI AMRII WAAJILIHI FASHRIFHU ‘ANNII
WASHRIFNII’ANHUWAQDURLIL KHAIRA HAITSU KAANA
TSUMMAR DHINIIBIHI.’(Ya.. Allah, sesungguhnya saya mohon
petunjuk dengan pengetahuan-Mu, saya mohon ketetapan
dengan kekuasaan-Mu, dan saya mohon besarnya karunia-
Mu. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa dan aku tidak
kuasa, Engkaulah yang Maha Tahu dan saya tidak tahu, dan
Engkaulah yang Maha Mengetahui segala yang Ghaib. Ya
Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini adalah
baik untuk diriku dalam agamaku, kehidupanku, dan
urusanku(atau mengatakan: baik pada waktu dekat maupun
di kemudian hari) maka takdirkanlah dan mudahkanlah
urusan ini buat diriku. Namun apabila Engkau mengetahui,
bahwa urusanku itu jelek buat diriku dalam agamaku,
kehidupanku, dan akibatnya pada urusanku (atau ia
mengatakan: baik pada waktu dekat maupun di kemudian
hari), maka jauhkanlah urusan itu dariku dan hindarkanlah
aku darinya, serta tentukanlah yang lebih baik untukku
bagaimanapun adanya, kemudian jadikanlah saya orang yang
ridha (puas) dengan ketentuan itu.” Beliau juga bersabda: “Ia
harus menyebutkan hajatnya.” (HR. Bukhari)
Melewati jalan yang berbeda ketika
berangkat dan pulang beribadah
1. Dari Jabir ra., ia berkata: “Rasulullah SAW, apabila pergi salat
hari Raya, beliau melewati jalan yang berbeda sewaktu
berangkat dan pulang.” (HR. Bukhari)
2. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata: Rasulullah SAW, apabila pergi,
sering lewat jalan As-Sajarah dan pulang melewati jalan Ats-
Tsaniyatul Ulya dan keluar melewati jalan Ats-Tsaniyatus
Sufla.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sunnat mendahukukan yang kanan
1. Dari Aisyah ra., ia berkata: “Rasulullah SAW, selalu
mendahulukan anggota tubuh sebelah kanan dalam segala
hal. Seperti bersuci, bersisir, dan memakai sandal.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
2. Dari Aisyah ra., ia berkata: “Tangan kanan Rasulullah SAW,
digunakan untuk bersuci dan makan, sedangkan kirinya untuk
bercebok dan segala hal yang kotor.” (HR. Abu Daud)
3. Dari Ummu Athiyah ra., ia berkata: Nabi SAW, bersabda
kepada para wanita yang memandikan putrinya (Zainab ra.):
“Dahulukanlah anggota tubuh sebelah kanan, dan anggotaanggota
wudhunya!” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda:
“Apabila salah seorang diantara kallian memakai sandal,
dahulukanlah kaki kanan, dan apabila melepas, dahulukanlah
kaki kiri. Anggota sebelah kanan lebih didahulukan, dan
dilepasnya belakangan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
5. Dari Hasfhah ra., ia berkata: “Rasulullah SAW,
mempergunakan tangan kanan untuk makan, minum, dan
memakai pakaian. Dan mempergunakan tangan kiri untuk
selain itu.” (HR. Abu Daud)
6. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda:
“Apabila kalian memakai pakaian, dan berwudhu, maka
dahulukanlah anggota-anggota tubuh sebelah kanan.” (HR.
Abu Daud dan Tirmidzi)
7. Dari Anas ra., ia berkata: “Ketika Rasulullah SAW, sampai di
Mina, dan melempar jumrah, kemudian beliau kembali
kerumahnya, dan menyembelih kurban. Lantas berkata
kepada tukang cukur: “Cukurlah ini!” Sambil menunjuk ke
kepala sebelah kanan, lalu sebelah kiri. Kemudian membagibagikan
rambut kepada para sahabatnya.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan: “Ketika beliau telah melempar
jumrah dan menyembelih ternak untuk kurban, beliau
memberikan kepala sebelah kanannya kepada tukang cukur
untuk dicukkur. Kemudian beliau memanggil Abu Thalhah Al-
Ansyariy ra., dan memberikan rambut itu kepadanya. Setelah itu
beliau menyerahkan kepala sebelah kiri, kemudian beliau
memberikan rambutnya kepada Abu Thalhah dan bersabda:
“Bagi-bagikanlah rambut ini kepada para sahabat yang lain!”
Membaca basmalah dan hamdalah
1. Dari Umar bin Salamah ra., ia berkata: Rasulullah SAW,
bersabda: “Sebutlah nama Allah (bacalah basmalah), dan
makanlah dengan tangan kananmu, serta makanlah dari
makanan yang dekat dengan kamu.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
2. Dari Aisyah ra., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda:
“Apabila salah seorang diantara kalian makan, hendaklah ia
menyebutkan nama Allah Ta’ala. Apabila lupa menyebut
nama-Nya sewaktu memulai makan, hendaklah ia membaca:
“BISMILAHI AWWALAHU WA AKHIRAHU”(Dengan menyebut
nama Allah pada permulaan dan penghabisan makan)!” (HR.
Abu Daud dan Tirmidzi)
3. Dari Jabir ra., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW,
bersabda: “Apabila seseorang masuk ke rumahnya, lalu
berdzikir kepada Allah Ta’ala ketika ia masuk, dan sewaktu
makan, maka setan berkata (kepada temannya): ‘Kamu tidak
bisa ikut masuk dan kamu tidak bisa ikut makan.’ Dan apabila
seseorang tidak berdzikir kepada Allah Ta’ala ketika masuk
rumahnya, maka setan berkata: ‘kamu dapat mengikutinya
masuk.’ Dan apabila seseorang tidak berdzikir kepada Allah
Ta’ala sewaktu makan, maka setan berkata (kepada
temannya): ‘Kamu bisa ikut makan dan bisa ikut masuk.’”
(HR. Muslim)
4. Dari Hudzaifah ra., ia berkata: Apabila kami makan bersama
Rasulullah SAW, kami tidak berani meletakkan tangan ke
tempat makanan sebelum Rasulullah SAW, meletakkannya
terlebih dahulu. Suatu saat, ketika kami akan makan bersama
beliau, tiba-tiba datanglah seorang wanita tergesa-gesa,
seakan-akan ada sesuatu yang mendorongnya. Ia langsung
meletakkan tangannya ke tempat makanan, tetapi Rasulullah
SAW, memegang tangannya. Kemudian datanglah seorang
Badui terburu-buru seakan-akan ada sesuatu yang
mendorongnya. Ia langsung meletakkan tangannya ke tempat
makanan, maka dengan cepat Raslullah SAW, memegang
tangannya, seraya bersabda: “Sesungguhnya setan itu
merebut makanan yang tidak disebut nama Allah.
Sesungguhnya setan datang bersama-sama wanita ini untuk
merebut makanan, maka aku pegang tangannya. Kemudian ia
datang bersama-sama orang Badui ini untuk merebut
makanan, maka kau pegang tangannya. Demi Zat yang
jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya tangan
setan ini saya pegang bersama-sama kedua tangan orang
ini.” Kemudian Rasulullah menyebut nama Allah Ta’ala dan
memulai makan.” (HR. Muslim)
5. Dari Umayya bin Makhsyiy Ash-Shahabiy ra., ia berkata:
“Ketika Rasulullah SAW, duduk ada seseorang makan tanpa
menyebut nama Allah, sehingga hampir habis makanannya,
hanya tinggal sesuap. Ketika ia akan menyuapkan ke
mulutnya ia membaca: BISMILAHI AWWALAHU WA
AKHIRAHU.” Melihat yang demikian Nabi SAW, tersenyum dan
bersabda: “Setan itu selalu makan bersamanya, namun ketika
ia menyebut nama Allah, maka setan itu memuntahkan apa
yang ada dalam perutnya.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’i)
6. Dari Aisyah ra., ia berkata: Ketika Rasulullah SAW, sedang
makan bersama enam orang sahabatnya, seorang Badui
datang dan makan sebanyak dua kali suapan. Kemudian
Rasulullah SAW, bersabda: “Seandainya ia menyebut nama
Allah, niscaya mkanan itu cukup untuk kallian.” (HR. Tirmidzi)
7. Dari Abu Umamah ra., ia berkata: Apabila Nabi SAW,
mengangkat hidangannya, beliau membaca: ‘ALHAMDU
LILLAAHI HAMDAN KATSIIRAN THAYYIBAN MUBAARAKAN
FIIHI GHAIRA MAKFIYYIN WALAA MUSTAGHNAN ‘ANHU
RABBANAA’(Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak
dan baik serta penuh berkah yang tiada terbalas dan sangat
dibutuhkan, wahai Tuhan kami).” (HR. Bukhari)
8. Dari Muadz bin Anas ra., ia berkata: Rasulullah SAW,
bersabda: “Siapa saja yang telah makan, kemudian
membaca: ‘ALHAMDULILLAAHI ATH ‘AMANII HAADZAA
WARAZAQINIIHI MIN GHAIRI HAULIN MINNII WALAA
QUWWATIN’(Segala puji bagi Allah, Zat yang telah memberi
makanan ini kepada saya, dan telah mengkaruniakan rezeki
dengan tiada daya dan kekuatan dari diri saya), maka
diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Abu Daud
dan tirmidzi)
Dilarang mencela makanan
1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Rasulullah tidak pernah
mencela makanan. Apabila beliau menyukainya, beliau
memakannya, dan apabila tidak menyenanginya, maka
meninggalkan makanan itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Jabir ra., ia berkata: Nabi SAW, pernah menanyakan lauk
kepada keluarganya, kemudian mereka menjawab: “Kami
tidak mempunyai apa-apa selain cuka.” Maka beliau meminta
cuka itu, dan makan berlauk cuka, seraya bersabda: “Sebaikbaik
lauk adalah cuka, sebaik-baik lauk adalah cuka.” (HR.
Muslim)
Sikap orang yang berpuasa
1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda:
“Apabila salah seorang diantara kalian diundang, hendaklah ia
menghadirinya. Jika ia sedang berpuasa, hendaklah ia
mendoakan, dan jika tidak berpuasa hendaklah ia makan.”
(HR. Muslim)
Sikap orang yang diundang makan
2. Dari Abu Mas’ud A-Badriy ra., ia berkata: “Ada seseroang
mengundang Nabi SAW, untuk jamuan makan yang disiapkan
bagi lima orang, kemudian ada seseorang yang mengikuti
mereka. Ketika sampai di muka pintu, Nabi SAW, menjelaskan
kepada orang yang mengundangnya: “Sesungguhnya orang
ini mengikuti kami, maka terserah kamu. Apabila kamu suka,
izinkanlah orang ini, apabila tidak, biarlah orang ini pulang!”
Oarang yang mengundang itu berkata: “Wahai Rasulullah,
saya mengizinkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Adat makan
1. Dari Umar bin Abu Salamah ra., ia berkata: “Waktu kecil,
saya diasuh Rasulullah SAW, dan pernah mengulurkan tangan
untuk mengambil makanan yang terletak di piring, kemudian
beliau bersabda kepada saya: “Wahai anak muda, sebutlah
nama Allah Ta’ala serta makanlah dengan tangan kananmu
dan makanlah dari makanan yang dekat dengan kamu!” (HR.
Bukhari dan Muslim)
2. Dari Salamah bin Al-Akwa ra., ia berkata: Ada seseorang
makan di hadapan Rasulullah SAW, dengan menggunakan
tangan kirinya, kemudian beliau bersabda: “Makanlah dengan
tangan kananmu!” Ia menjawab: “Saya tidak bisa.” Beliau
bersabda: “Kamu tidak bisa, karena kesombonganmu.”
Setelah itu orang tersebut tidak bisa mengangkat tangannya
ke mulut.” (HR. Muslim)
Larangan makan kurma atau sejenis dua
butir sekaligus
1. Dari Jabalah bin Suhaim, ia berkata: “Kali tertentu, kami
bersama dengan Ibnu Zubair mengalami musim paceklik.
Tiba-tiba kami mendapatkan rezeki kurma. Waktu Abdullah
bin Umar ra., lewat, ia mendapati kami sedang makan kurma.
Kemudian ia berkata: “Janganlah kalian makan dua butir
kurma atau lebih sekaligus! Sesungguhnya Nabi SAW,
melarang untuk makan dua butir kurma atau lebih sekaligus.”
Kemudian ia berkata lagi: “Kecuali orang itu minta izin kepada
kawannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tuntunan bagi orang yang makannya
tidak kenyang
1. Dari Wahsyiy bin Harb ra., ia berkata: Para sahabat berkata:
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami sudah makan, tetapi
Beliau kenyang,.” Beliau bersabda: “Mungkin kalian makan
sendiri-sendiri.” Mereka menjawab: “Benar.“ Beliau bersabda
lagi: “Berkumpullah kalian kalau makan, dan sebutlah nama
allah Ta’ala! Niscaya kalian mendapat berkah dalam makanan
itu.” (HR. Abu Daud)
Mengambil makanan dari pingir
piringan atau bejana
1. Dari Ibnu Abbas ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Berkah
itu turun di tengah-tengah makanan, maka makanlah dari
pinggir, janganlah memulai dari tengahnya!” (HR. Abu Daud
dan Tirmidzi)
2. Dari Abdullah bin Busrin ra., ia berkata: “Nabi SAW,
mempunyai bejana besar, yang disebut Al-Gharra’ yang
biasanya diangkat oleh empat orang. Suatu saat, ketika para
sahabat selesai salat Dhuha, diangkatlah bejana besar itu,
yang didalamnya penuh makanan. Para sahabat berkerumun
di sekeliling bejana itu. Ketika sudah banyak, Rasulullah SAW,
duduk bersila.” Kemudian ada seorang Badui yang bertanya:
”Ada selamatan apa ini?” Rasulullah SAW, menjawab:
“Sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai hamba
yang bermurah hati, dan Dia tidak menjadikan aku sebagai
hamba yang sombong dan kejam.” Kemudian Rasulullah SAW,
bersabda: “Makanlah dari pinggirnya, dan biarkan tengahnya,
niscaya kamu diberi berkah.” (HR. Abu Daud)
Makruh makan dengan bersandar
1. Dari Abu Juhaifah Wahab bin Abdullah ra., ia berkata:
Rasulullah SAW, bersabda: “Aku tidak pernah makan dengan
bersandar.” (HR. Bukhari)
2. Dari Anas ra., ia berkata: “Saya melihat Rasulullah SAW,
duduk dengan lutut berlekuk sambil makan kurma.” (HR.
Muslim)
Sunnar ketika makan
1. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda:
“Apabila salah seorang diantara kalian makan, janganlah ia
mengusap jari-jarinya sebelum membersihkan sisa-sisa
makanan yang menempel!” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Ka’ab bin Malik ra., ia berkata: “Saya melihat Rasulullah
SAW, makan dengan tiga jari. Setelah selesai, beliau menjilat
sisa-sisa makanan yang menempel pada jari-jarinya.” (HR.
Muslim)
3. Dari Jabir ra., ia berkata: Rasulullah SAW, menyuruh agar
membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel pada jarijari
tangan dan piring. Beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian
tidak tahu pada bagian mana makanan itu mengandung
berkah.” (HR. Muslim)
4. Dari Jabir ra., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda: “Apabila
suapan salah seorang diantara kalian terjatuh, maka ambillah
dan bersihkan kotorannya, kemudian makanlah. Jangan
biarkan setan memakannya. Dan janganlah mengusap tangan
dengan sapu tangan, sebelum ia membersihkan sisa-sisa
makanan yang menempel pada jari-jarinya! Sesungguhnya ia
tidak mengetahui pada bagian mana berkahnya makanan itu.”
(HR. Muslim)
5. Dari Jabir ra., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda:
”Sesungguhnya setan selalu mengikuti setiap perbuatan
seseorang, bahkan sewaktu makan pun, setan mengikutinya.
Apabila suapan salah seorang diantara kalian terjatuh,
hendaklah ia mengambil dan membersihkan kotoran yang
melekat, kemudian makanlah itu! Dan jangan biarkan
dimakan oleh setan. Apabila selesai makan, Hendaklah ia
membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel pada jarijarinya!
Sesungguhnya ia tidak tahu pada bagian mana
makanan itu yang mengandung berkah.” (HR. Muslim)
6. Dari Anas ra., ia berkata: Apabila Rasulullah SAW, makan,
beliau membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel pada
ketiga jarinya. Beliau bersabda: “Apabila suapan salah satu di
antara kalian terjatuh, hendaklah ia membersihkan dan
memakannya! Jangan biarkan makanan itu dimakan setan.”
Beliau juga menyuruh kami membersihkan sisa-sisa makanan
yang berada di piring: “Sesungguhnya kalian tidak tahu pada
bagian mana dari makananmu yang mengandung berkah.”
(HR. Muslim)
7. Dari Sa’ad bin Harits, ia bertanya kepada Jabir ra., tentang
wudhu’ sehabis makan makanan yang dipanggang. Jabir
menjawab: “Tidak wajib berwudhu’. Pada zaman Rasulullah
SAW, kami jarang sekali mendapatkan makanan semacam
itu. Apabila mendapatkannya, tidak ada diantara kami yang
mempunyai sapu tangan untuk membersihkan tangan, dan
kami mengusap-usapkannya ke telapak tangan, betis atau
telapak kaki, kemudian langsung sholat tanpa berwudhu’ lebih
dahulu. (HR. Bukhari)
MEMPERBANYAK KAWAN DISAAT MAKAN
1. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW, bersabda: “Makanan
dua orang cukup untuk tiga orang, dan makanan tiga orang
cukup untuk empat orang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Jabir ra., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW,
bersabda: “Makanan satu orang cukup untuk dua orang,
makanan dua orang cukup untuk empat orang, dan makanan
empat orang itu cukup untuk delapan orang.” (HR. Muslim)
TATA CARA MINUM
1. Dari Anas ra., ia berkata: “Apabila Rasulullah SAW, minum,
beliau bernapas tiga kali di luar bejana.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
2. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda:
“Janganlah kalian minum sekaligus seperti minumnya unta!
Tapi minumlah dengan dua atau tiga kali napas. Bacalah
basmallah sewaktu kalian mulai minum dan bacalah
hamdallah sehabis minum!” (HR. Tirmidzi)
3. Dari Abu Qatadah ra., ia berkata: “Nabi SAW, melarang untuk
bernapas dalam bejana sewaktu minum.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
4. Dari Anas ra, ia berkata: Ketika Rasulullah SAW, diberi susu
yang dicampur air, waktu itu di sebelah kanannya ada
seorang badui dan di sebelah kirinya ada Abu Bakar ra.,
kemudian beliau meminumnya lalu memberikan kepada orang
badui itu, seraya bersabda: “Yang kanan.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
5. Dari Sahal bin Sa’ad ra., ia berkata: Rasulullah SAW, diberi
minuman, maka beliau pun meminumnya. Waktu itu di
sebelah kanan beliau ada seorang pemuda (Ibnu Abbas), di
sebelah kirinya ada orang-orang yang sudah lanjut usia.
Kemudian beliau bersabda kepada pemuda itu (Ibnu Abbas):
“Bolehkah aku memberikan minuman ini kepada orang-orang
tua itu?” Pemuda itu menjawab: “Tidak, demi Allah saya tidak
akan memberikan bagianku darimu kepada siapa pun.” Maka
Rasulullah SAW, memberikan minumannya kepada Ibnu
Abbas.” (HR. Bukhari dan Muslim)
MAKRUH MINUM DARI MULUT QIBRAH (POCI)
1. Dari Abu Sa’id Al-Khudriy ra., ia berkata: “Rasulullah SAW,
melarang untuk memecah mulut poci (qibrah) dan sebagainya
untuk minum dari padanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Rasulullah melarang
minum langsung dari mulut tempat air atau qirbah.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
3. Dari Ummu Tsabit Kabsyah binti Tsabit, saudara Hasan bin
Tsabit ra., ia berkata: “Rasulullah SAW, masuk ke rumah
saya, kemudian beliau minum dengan berdiri pada mulut
qirbah yang tergantung maka saya berdiri dan mulut qirbah
itu saya patahkan.” (HR. Tirmidzi)
Ia memecah mulut qirbah (tempat air dari kulit), semata karena
menjaga bekas mulut Rasulullah SAW, untuk mengambil berkah
dan memeliharanya agar tidak dipakai untuk minum setiap hari.
Hadits yang ketiga ini menunjukkan bahwa minum langsung dari
mulut bejana hukumnya makruh. Sedangkan hadits yang pertama
dan hadits kedua, hanya menjelaskan tentang keutamaan dan yang
lebih sempurna.
MAKRUH MENIUP MINUMAN
1. Dari Abu Sa’id Al-Khudri ra., ia berkata: Nabi SAW, melarang
meniup minuman. Ada seseorang bertanya: “Bagaimana jika
saya melihat ada kotoran pada bejana tempat minuman itu?”
Beliau menjawab: “Buanglah minuman yang kena kotoran
itu.” Ia bertanya lagi: “Sesungguhnya saya tidak akan puas
hanya satu teguk saja.” Beiau bersabda: “Kalau begitu
jauhkanlah gelas dari mulutmu.” (HR. Tirmidzi)
2. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata: “Nabi SAW, melarang
bernapas dalam bejana tempat minuman atau meniupnya.”
(HR. Tirmidzi)
BOLEH MINUM SAMBIL BERDIRI, TETAPI LEBIH
UTAMA DUDUK
1. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata: “Saya pernah memberi nabi
SAW, air dari sumur zamzam, kemudian beliau meminumnya
dengan berdiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari An-Nazzal bin Sabrah, ia berkata: “Ali ra., masuk ke
pintu gerbang masjid, kemudian ia minum sambil berdiri, dan
berkata “Sesungguhnya saya pernah melihat Rasulullah SAW,
berbuat sebagaimana yang kalian lihat sekarang (minum
dengan berdiri)” (HR. Bukhari)
3. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata: “Pada masa Rasulullah SAW,
kami pernah makan dengan berjalan, dan minum dengan
berdiri.” (HR. Tirmidzi)
4. Dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya ra., ia
berkata: “Saya pernah melihat Rasulullah SAW, minum
dengan berdiri, dan pernah pula dengan duduk.” (HR.
Tirmidzi)
5. Dari Anas ra., dari Nabi SAW,: Beliau melarang seseorang
minum dengan berdiri. Qatadah bertanya kepada Anas:
“Bagaimana kalau makan?” Anas menjawab: “Makan dengan
berdiri itu lebih jelek dan lebih buruk.” (HR. Muslim) 700
6. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda:
“Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian minum
dengan berdiri. Siapa saja yang lupa, hendaklah
memuntahkannya.” (HR. Muslim)
SUNNAT MINUM TERAKHIR ORANG YANG
MELAYANI MINUM ORANG BANYAK
1. Dari Abu Qutadah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda:
“Orang yang melayani minum orang banyak, hendaklah ia
paling akhir minum diantara mereka. Maksudnya, ia adalah
orang yang paling akhir minum.” (HR. Tirmidzi)
HUKUM MAKAN, MINUM, DAN BERSUCI
MENGGUNAKAN BEJANA EMAS ATAU PERAK
1. Dari Anas ra., ia berkata: “Ketika tiba waktu sholat, berdirilah
orang-orang disekitarnya, dan yang masih berada di rumah
untuk berwudhu’. Kemudian dihaturkan kepada Rasulullah
SAW, sebuah bejana (tempat air) dari batu berukuran kecil
yang tidak cukup untuk membentangkan telapak tangan.
Maka beliau mencelupkan tangannya di dalam air dan
macurlah air dari jari-jari beliau. Sehingga semua sahabat
dapat berwudhu’”. Orang-orang bertanya kepada Anas:
“Berapakah jumlah kalian waktu itu?” Anas menjawab:
“Delapan puluh orang lebih” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abdullah bin Zaid ra., ia berkata: “Nabi SAW, datang ke
tempat kami. Kemudian kami menuangkan air dari bejana
kuningan, beliau lantas berwudhu’.” (HR. Bukhari)
3. Dari Jabir ra., ia berkata: “Rasulullah SAW, bersama seorang
sahabat memasuki rumah seorang sahabat anshar, seraya
bertanya: “Adakah padamu air yang telah tersaring dalam
qirbah (tempat air) tadi malam? Kalau tidak ada, kami akan
menghirup dari tempat air saja.” (HR. Bukhari)
4. Dari Hudzaifah ra., ia berkata: “Nabi SAW, melarang kami
memakai kain sutera, baik yang halus maupun tebal. Dan
melarang minum pada bejana yang terbuat dari emas atau
perak. Beliau bersabda: “Bejana itu dipakai mereka (orng
kafir) di dunia, dan untuk kalian di akhirat.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
5. Dari Ummu Salamah ra., ia berkata: “Rasulullah SAW,
bersabda: “Orang yang minum menggunakan bejana perak,
seolah-olah mencucurkan (memasukkan) dalam perutnya
neraka jahannam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Muslim dikatakan: “Orang yang makan dan
minum menggunakan bejana emas atau perak.” Dalam riwayat
Muslim yang lain dikatakan: “Siapa saja yang minum
menggunakan bejana emas atau perak, seolah-olah
mencucurkan (memasukkan) dalam perutnya api dari neraka
jahannam.”
PAKAIAN
1. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda:
“Pakailah pakaian berwarna putih! Karena itu adalah sebaikbaiknya
pakaian. Dan kafanilah orang yang meninggal dunia
di antara kalian dengan kain putih.” (HR. Abu Daud dan
Tirmidzi)
2. Dari Sumurah ra., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda:
“Pakailah pakaian berwarna putih. Karena pakaian putih
adalah pakaian yang paling suci dan paling baik. Dan
kafanilah orang yang meninggal di antara kalian dengan kain
putih!” (HR. An-Nasa’I dan Al-Hakim)
3. Dari Al-Barra bin Azib ra., ia berkata: “Tubuh Rasulullah SAW,
berukuran sedang. Saya pernah melihat beliau mengenakan
kain merah, dan belum pernah melihat orang yang lebih
tampan dari beliau.” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Dari Abu Juhaifah Wahab bin Abdullah ra., ia berkata: “Saya
melihat Nabi SAW, di Mekkah. Beliau berada di Abthah dalam
sebuah tenda berwarna merah terbuat dari kulit. Kemudian
keluar dengan membawa tempat air wudhu’ Nabi SAW, ada
orang yang membasahi diri dan ada yang hanya mengambil
sedikit dari air wudhu’ itu. Nabi SAW, keluar dengan pakaian
berwarna merah, terlihat putih betisnya. Beliau berwudhu’
dan Bilal beradzan, sayapun memperhatikan mulutnya yang
ke kanan dan ke kiri sambil mengucapkan: “HAYYA ‘ALASH
SHOLAAH” menoleh ke kanan, dan bila mengucapkan:
“HAYYA ‘ALAL FALAAH” menoleh ke kiri. Kemudian
ditancapkan tangkat di muka nabi SAW, dan beliau
melaksanakan sholat. Dan tiada anjing atau keledai lewat
didepannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
5. Dari Abu Rimtsah Rifaah at-Taimiy ra., ia berkata: “Saya
pernah melihat Rasulullah SAW, memakai dua baju yang
hijau.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
6. Dari Jabir ra., ia berkata: “Ketika Rasulullah SAW, memasuki
kota mekkah pada hari penaklukkannya, beliau memakai
sorban hitam.” (HR. Muslim)
7. Dari Abu Said Amr Huraits ra., ia berkata: “Seakan-akan saya
masih melihat Rasulullah SAW, memakai sorban hitam yang
ujungnya di lepas antara kedua bahunya.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan: “Rasulullah SAW, berkhutbah
menggunakan sorban hitam.”
8. Dari Aisyah ra., ia berkata: “Rasulullah SAW, dikafani dengan
tiga lembar kain putih dari kapas buatan Sahul, tanpa baju
qamis dan sorban. (HR. Bukhari dan Muslim)
9. Dari Aisyah ra., ia berkata: “Suatu pagi Rasulullah SAW,
keluar mengenakan pakaian yang bergambar kendaraan
terbuat dari bulu hitam.” (HR. Muslim)
10. Dari Al-Mughirah bin Syu’bah ra., ia berkata: “Suatu
malam, ketika saya berada dalam perjalanan bersama
Rasulullah SAW, beliau bertanya: “Apakah kamu membawa
air?” Saya menjawab:”Ya”, kemudian beliau turun dari
kendaraannya dan berjalan dalam kegelapan malam sampai
tidak terlihat. Beliau datang, dan saya telah persiapkan air
pada tempatnya. Kemudian beliau membasuh muka, sedang
beliau mengenakan jubah dari wol. Beliau terlihat susah sekali
mengeluarkan kedua lengannya, hingga saya membantu
mengeluarkannya dari bawah, kemudian beliau membasuh
kedua lengan dan mengusap kepalanya. Sesudah itu saya
bermaksud melepas kedua sepatunya, tetapi beliau bersabda:
“Biarkan, tidak usah dilepas, karena saya memakainya dalam
keadaan suci.” Beliau pun mengusap kedua sepatunya.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
SUNNAT MEMAKAI KEMEJA PANJANG
1. Dari Ummu Salamah ra., ia berkata: “Pakaian yang paling
disukai Rasulullah SAW, adalah gamis (kemeja panjang)” (HR.
Abu Daud dan Tirmidzi)
HARAM MENURUNKAN PAKAIAN KARENA
SOMBONG
1. Dari Asma’ binti Yazid Al Anshariyah ra., ia berkata : “Lengan
kemeja Rasulullah saw. Hanya sampai pergelangan tangan.”
(HR. Abu Dawud dan Turmudzi)
2. Dari Ibnu Umar ra. bahwasannya Nabi saw. bersabda:
“Barangsiapa yang menurunkan kainnya di bawah mata kaki
karena sombong, maka pada hari kiamat nanti Allah tidak
akan melihatnya.” Kemudian Abu Bakar ra. berkata : “Wahai
Rasulullah, sesungguhnya kain saya selalu turun sampai di
bawah mata kaki, kecuali apabila saya sangat berhati-hati.”
Rasulullah saw. bersabda kepadanya : “Sesungguhnya kamu
tidaklah termasuk orang-orang yang berbuat semacam itu
karena sombong.” (HR. Bukhari)
3. Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda
: ”Nanti pada hari kiamat Allah tidak akan melihat orang yang
menurunkan kainnya di bawah mata kaki karena sombong.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
4. Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw., beliau bersabda : ”Kain
yang berada di bawah mata kaki, adalah bagian dari api
neraka.” (HR. Bukhari)
5. Dari Abu Dzar ra. Dari Nabi saw., beliau bersabda : ”Ada tiga
kelompok manusia yang kelak pada hari kiamat Allah tidak
akan mengajak bicara mereka, Allah tidak akan melihat
mereka dan tidak pula mengampuni dosa mereka; dan
mereka akan mendapat siksaan yang pedih.” Rasulullah saw.
mengucapkan kalimat itu tiga kali. Kemudian Abu Dzar
berkata : ”Amatlah kecewa dan rugi mereka itu. Siapakah
mereka wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab :” yaitu orang
yang menurunkan kainnya, orang yang suka menyebutnyebut
pemberiannya dan orang yang menjual barang
dagangannya menggunakan sumpah palsu.” (HR. Muslim)
6. Dari Ibnu Umar ra. dari Nabi saw. beliau bersabda : ”Orang
yang menurunkan kain, kemeja dan sorbannya; barangsiapa
yang memanjangkan sesuatu karena sombong, maka kelak
pada hari kiamat Allah tidak akan melihat kepadanya.” (HR.
Abu Dawud dan Nasa’i)
7. Dari Abu Jurayz (Jabir) bin Sulaim ra., ia berkata : ”Saya
melihat seseorang yang pendapatnya selalu diikuti oleh orang
banyak, apapun yang dikatakannya pasti diikuti mereka.”
Saya bertanya: ”Siapakah orang itu?” Para sahabat
menjawab: ”Itu adalah Rasulullah saw.” Saya mengucapkan
”ALAIKASSALAAMU YAA RASULULLAAH dua kali.” Kemudian
beliau bersabda : ”Janganlah kamu mengucapkan
ALAIKASSALAM, karena ucapan ALAIKASSALAAM adalah
salam untuk orang yang sudah meninggal, tetapi ucapkanlah
ASSALAAMU’ALAIKUM.” Jabir bertanya : ”Benarkah engkau
utusan Allah?” Beliau menjawab: ”Ya, aku adalah utusan
Allah, Zat yang apabila kamu tertimpa suatu musibah
kemudian kamu berdo’a kepada-Nya, niscaya Dia akan
menghilangkan musibah yang menimpa kamu. Apabila kamu
tertimpa paceklik, kemudian kamu berdoa kepada-Nya,
niscaya Dia akan segera menumbuhkan tanaman untuk kamu.
Apabila kamu berada di tengah gurun pasir atau tanah
lapang, kemudian kendaraanmu atau ternakmu hilang lantas
kamu berdo’a kepada-Nya, niscaya Dia akan
mengembalikannya kepadamu.” Jabir berkata kepada beliau:
”Berilah saya nasehat.” Beliau bersabda : ”Janganlah kamu
sekali-kali memaki seseorang.” Jabir berkata: ”Maka setelah
itu saya tidak pernah memaki orang merdeka, budak, onta
dan kambing.” Beliau juga bersabda: ”Janganlah kamu sekalikali
meremehkan sesuatu kebaikan dan berkatalah kepada
temanmu dengan muka yang manis. Sesungguhnya yang
demikian itu termasuk kebaikan. Dan tinggikanlah kainmu
sampai pada pertengahan betis dan kalau kamu enggan,
maka boleh sampai pada kedua mata kaki. Janganlah kamu
menurunkan kain itu melebihi mata kaki karena itu termasuk
perbuatan sombong dan sesungguhnya Allah tidak suka pada
sifat sombong. Dan apabila ada seseorang memaki dan
mencela kamu dengan apa yang dia ketahui tentang dirimu,
maka janganlah kamu mencelanya dengan apa yang kamu
ketahui tentang dirinya, karena sesungguhnya akibat dari caci
maki itu akan kembali kepadanya.” (HR. Abu Dawud dan
Turmudzi)
8. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata : ”Pada suatu ketika ada
seseorang salat dengan kain yang sampai di bawah mata
kaki, maka Rasulullah saw. bersabda : ”Pergilah dan
berwudhu-lah.” Ia pun pergi dan berwudhu.” Maka ada
seseorang bertanya: ”Wahai Rasulullah, mengapa engkau
menyuruh orang itu melakukan wudhu kemudian engkau
diamkan?” Beliau bersabda: ”Karena ia salat dengan memakai
kain sampai di bawah mata kaki. Sesungguhnya Allah tidak
akan menerima salat seseorang yang memakai kain sampai di
bawah mata kaki.” (HR. Abu Dawud)
9. Dari Qais bin Basyir At Taghlibi, ia berkata: Ayah yang
menjadi teman dekat Abu Darda’ memberitahukan kepadaku
dimana ia berkata: ”Di Damaskus ada seseorang sahabat Nabi
saw. yang bernama Ibnu Hanzhaliyah, ia adalah orang yang
senang menyendiri, jarang sekali duduk-duduk bersama
orang lain, kecuali untuk salat. Apabila selesai salat ia terus
membaca tasbih dan takbir sehingga pulang ke rumahnya.”
Ketika kami berada di tempat Abu Darda’ ia lewat, maka Abu
Darda’ berkata kepadanya: ”Sampaikanlah suatu kalimat yang
bermanfaat bagi kami dan tidak merugikan kamu.” Ia
berkata: ”Rasulullah saw. mengutus suatu pasukan, kemudian
setelah kembali salah seorang di antara mereka duduk pada
suatu majlis yang mana di situ ada Rasulullah saw. Ia berkata
kepada seseorang yang berada di sampingnya: ”Bagaimana
pendapatku ketika kami berhadapan dengan musuh, maka
seorang dari kami menyerang musuh dan setelah menikam
musuh lalu ia berkata: ”Rasulullah tikaman diriku dan aku
adalah pemuda Ghifar?” Orang yang berada di sampingnya
berkata :”Menurut pendapatku orang tadi selalu hilang
pahalanya.” Orang lain yang mendengar apa yang
dikatakannya ia berkata, ”Menurut pendapatku orang itu tidak
apa-apa (masih tetap pahalanya).” Maka bertengkarlah kedua
orang itu sehingga Rasulullah saw. mendengar, kemudian
beliau bersabda :”Maha Suci Allah, tidak apa-apa ia tetap
mendapat pahala dan tetap terpuji.” Saya melihat Abu Darda’
nampak gembira sekali dan mengangkat kepalanya ditujukan
kepada Ibnu Hanzhaliyah serta bertanya :”Apakah kamu
mendengar sendiri keterangan itu dari Rasulullah saw.? Ibnu
Hanzhaliyah menjawab:”Ya.” Abu Darda mengulang-ulang
pertanyaan itu kepadanya sehingga saya berkata :”Ia benarbenar
minta berkah pada kedua lututnya.” Ayah berkata lagi
:”Pada saat yang lain ia lewat, maka Abu Darda’ berkata
kepadanya :”Sampaikanlah satu kalimat yang bermanfaat
untuk kami dan tidak merugikan kamu.” Ia berkata
:”Rasulullah saw. bersabda kepada kami :”Orang yang
memberi belanja untuk kudanya itu bagaikan orang yang
membentangkan tangannya dengan sedekah, ia tidak
menggenggamkan tangannya itu.” Pada saat yang lain ia
lewat, maka Abu Darda’ berkata :”Sampaikanlah satu kalimat
yang bermanfaat untuk kami dan tidak merugikan kamu.” Ia
berkata :”Rasulullah saw. bersabda : ”Sebaik-baik orang
adalah Khuraim Al Usaidy, seandainya ia tidak berambut
panjang dan tidak menurunkan kainnya sampai di bawah
mata kaki.” Setelah berita itu terdengar oleh Khuraim maka ia
langsung mengambil pisau untuk memotong rambutnya
sampai sebatas kedua telinganya dan menaikkan kainnya
sampai ke pertengahan kedua betisnya.” Pada saat yang lain
ia lewat, maka Abu Darda’ berkata kepadanya :
”Sampaikanlah satu kalimat yang bermanfaat untuk kami dan
tidak merugikan kamu.” Ia berkata :”Saya mendengar
Rasulullah saw. bersabda : ”Sesungguhnya kamu sekalian
akan kembali kepada saudara-saudaramu, maka perbaikilah
kendaraanmu dan baguskanlah pakaianmu sehingga kamu
seolah-olah merupakan tahi lalat yang menjadi hiasan
manusia. Karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang
yang kotor, baik dalam pakaiannya maupun perbuatannya.”
(HR. Abu Dawud)
10. Dari Abu Sa’id Al Khudriy ra. ia berkata : Rasulullah
saw. bersabda :”Kain sarung seorang muslim adalah sampai
pertengahan betisnya. Dan tidaklah berdosa jika sampai pada
diantara betis dan kedua mata kaki. Sedangkan yang sampai
di bawah mata kaki itu adalah bagian neraka. Dan
barangsiapa yang menurunkan kain sarungnya sampai di
bawah mata kaki karena sombong maka kelak Allah tidak
akan melihat kepadanya.” (HR. Abu Dawud)
11. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata :”Saya berjalan di depan
Rasulullah saw. sedangkan kain saya terlalu rendah,
kemudian beliau bersabda :”Wahai Abdullah, naikkanlah
kainmu itu.” Maka saya pun menaikkannya. Beliau bersabda
lagi :”Naikkan lagi.” Maka sayapun menaikan kain sesuai
dengan petunjuk itu.”Ada orang yang bertanya :”Sebatas
mana kamu menaikkan?” Abdullah menjawab :”Sebatas
pertengahan kedua betis.”(HR. Muslim)
12. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata: Rasulullah saw.
Bersabda :”Barangsiapa yang menurunkan kainnya karena
sombong, maka kelak pada hari kiamat Allah tidak melihat
kepadanya.” Salamah bertanya: ”Maka bagaimana cara
wanita menurunkan tepi kain mereka?” Beliau bersabda
:”Diturunkan sejengkal.” Salamah berkata :”Kalau begitu,
telapak kaki mereka terbuka?” Beliau bersabda :”Boleh
diturunkan sehasta, tidak boleh lebih dari itu.” (HR. Abu
Dawud dan Turmudzi)
Sunnat Tidak Mengenakan Pakaian
Mewah
1. Dari Mu’adz bin Anas ra. bahwasannya Rasulullah saw.
bersabda :”Barangsiapa yang meninggalkan pakaian mewah
karena tawadhu’ (merendahkan diri) kepada Allah padahal ia
mampu untuk membelinya, maka kelak pada hari kiamat
Allah memanggilnya di hadapan para makhluk, untuk disuruh
memilih pakaian iman sekehendaknya untuk dipakainya.”
(HR. Turmudzi)
2. Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya ra., ia
berkata: Rasulullah saw. bersabda :”Sesungguhnya Allah suka
melihat bekas nikmat-Nya kepada hamba-Nya.” (HR.
Turmudzi)
HARAM MEMAKAI SUTERA BAGI LAKI-LAKI
1. Dari Umar bin Khaththab ra., ia berkata : Rasulullah saw.
bersabda :”Janganlah kamu sekalian memakai kain sutera,
karena sesungguhnya orang yang memakainya di dunia,
maka kelak di akhirat ia tidak akan memakainya.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
2. Dari Umar bin Khaththab ra., ia berkata : Saya mendengar
Rasulullah saw. bersabda : ”Sesungguhnya orang yang
memakai kain sutera (ketika di dunia) adalah orang yang
tidak akan mendapat bagian kelak (di akhirat).” (HR. Bukhari
dan Muslim)
Dan di dalam riwayat Bukhari dikatakan :”Orang yang tidak akan
mendapat bagian kain sutera kelak di akhirat.”
3. Dari Anas ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda
:”Barangsiapa yang memakai kain sutera di dunia, maka tidak
akan memakainya kelak di akhirat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Dari Ali ra., ia berkata: Saya melihat Rasulullah saw.
memegang kain sutera di tangan kanannya, dan memegang
emas di tangan kirinya, kemudian bersabda :”Sesungguhnya
dua benda ini adalah haram bagi umatku yang laki-laki.” (HR.
Abu Dawud)
5. Dari Abu Musa Al Asy’ariy ra. bahwasannya Rasulullah saw.
bersabda :”Diharamkan memakai kain sutera dan emas bagi
umatku yang laki-laki dan dihalalkan bagi umatku yang
perempuan.” (HR. Turmudzi)
6. Dari Hudzaifah ra., ia berkata :”Nabi saw. telah melarang
kami untuk minum dan makan menggunakan bejana emas
dan perak dan juga melarang memakai kain sutera baik yang
tipis maupun yang tebal serta melarang duduk di atasnya.”
(HR. Bukhari)
Boleh Memakai Sutera Karena Gatalgatal
1. Dari Anas ra., ia berkata :”Rasulullah saw. telah memberikan
kemurahan kepada Zubair dan Abdurrahman bin ’Aur ra.
untuk memakai kain sutera karena menderita penyakit gatalgatal.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
LARANGAN DUDUK DI ATAS KULIT BINATANG
BUAS
1. Dari Mu’awiyah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda
:”Janganlah kamu sekalian duduk di atas kain sutera dan
jangan pula di atas kulit harimau.” (HR. Abu Dawud)
2. Dari Abu Al Malih dari ayahnya ra., bahwasannya Rasulullah
saw. melarang duduk pada kulit binatang buas.” (HR. Abu
Dawud, Turmudzi dan Nasa’i)
Dan di dalam riwayat Turmudzi dikatakan :”Beliau melarang
menghamparkan kulit binatang buas untuk diduduki.”
DOA MEMAKAI PAKAIAN DAN BARANG BARU
1. Dari Abu Sa’id Al Khudriy ra., ia berkata :”Rasulullah saw.
apabila memakai baju, sorban, kemeja atau selendang yang
baru, maka beliau memberinya nama dan berdoa:
ALLAAHUMMA LAKAL HAMDU ANTA KASAUTANIIHI AS-ALUKA
KHAIRAHU WA KHAIRA MAA SHUNI’A LAHU WAA’UUDZUBIKA
MIN SYARRIHI WASYARRI MAA SHUNI’A LAHU (Ya Allah,
segala puji bagi-Mu, Engkau yang telah memberiku pakaian.
Saya memohon kepada-Mu akan kebaikan pakaian ini dan
kebaikan yang dibuat untuknya, dan saya berlindung diri
kepada-Nya akan kejelekan pakaian ini dan kejahatan yang
diperbuat untuknya.” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi)
TATA CARA TIDUR DAN BERBARING
1. Dari Al Barra’ bin Azib ra., ia berkata :”Apabila Rasulullah
saw. berada di tempat tidurnya dan hendak tidur, maka beliau
miring ke sebelah kanan, kemudian membaca: ALLAAHUMMA
ASLAMTU NAFSII ILAIKA WAWAJJAHTU WAJHII ILIKA
WAFAWADLTU AMRII ILAIKA WA-ALJA’TU ZHARII ILAIKA
RAGHBATAN WARAHBATAN ILAIKA LAA MALJA-A WALAA
MANJAA ILLAA ILAIKA. AAMANTU BIKITAABIKALLADZI
ANZALTA WANABIYYIKAL LADZI ARSALTA (Ya Allah, saya
menyerahkan diriku kepada-Mu, menghadapkan mukaku
kepada-Mu dan menyandarkan punggungku kepada-Mu, dan
menyerahkan semua urusan kepada-Mu dengan penuh harap
dan rasa takut kepada-Mu, tidak ada tempat berlindung dan
menyelamatkan diri dari siksaan-Mu kecuali hanya kepada-
Mu. Saya beriman dengan kitab yang Engkau turunkan dan
(beriman) dengan nabi-Mu yang Engkau utus.” (HR. Bukhari)
2. Dari Al Barra’ bin Azib ra., ia berkata: Rasulullah saw.
bersabda kepadaku :”Apabila kamu hendak tidur maka
berwudhulah lebih dulu seperti wudhumu untuk shalat,
kemudian berbaringlah pada pinggangmu yang kanan dan
bacalah doa ini – yaitu sama seperti doa yang telah
disebutkan di atas – Dalam hadis ini, Nabi saw. juga bersabda
:”Jadikanlah bacaan doa itu sebagai akhir dari semua
perkataanmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Dari ’Aisyah ra., ia berkata: Nabi saw. biasa mengerjakan
salat malam sebelas rakaat, dan jika fajar telah menyingsing
maka beliau salat dua rakaat yang tidak terlalu lama,
kemudian berbaring pada pinggang sebelah kanan sampai
muazzin datang mengumandangkan azan Subuh.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
4. Dari Hudzaifah ra., ia berkata :”Apabila Nabi saw. hendak
tidur pada waktu malam, maka beliau meletakkan tangannya
di bawah pipinya, kemudian berdoa : ALLAAHUMMA BISMIKA
AMUUT WA AHYAA (Ya Allah, atas nama-Mu saya mati dan
saya hidup). Dan apabila bangun, beliau berdoa : ALHAMDU
LILLAAHI LADZI AHYAANAA BA’DAMAA AMAATANAA
WAILAIHIN NUSYUUR (Segala puji bagi Allah, Zat yang
menghidupkan kami sesudah mematikan kami dan hanya
kepada-Nyalah kami dibangkitkan.” (HR. Bukhari)
5. Dari Ya’isy bin Thaikhfah Al-Ghifariy ra., ia berkata: Ayah
saya berkata :”Pada waktu saya tiduran menelungkup di
dalam masjid tiba-tiba ada seseorang menggerakkan saya
dengan kakinya dan berkata :”Tidur semacam ini adalah tidur
yang dimurkai (dibenci) oleh Allah.” Dan ketika saya lihat,
ternyata orang itu adalah Rasulullah saw.” (HR Abu Dawud)
6. Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw., beliau bersabda
:”Barangsiapa yang duduk dalam suatu majelis kemudian ia
tidak zikir kepada Allah Ta’ala, maka ia akan mendapatkan
kerugian di hadapan Allah. Dan barangsiapa yang berbaring
kemudian ia tidak berzikir kepada Allah Ta’ala, maka ia juga
akan mendapatkan kerugian di hadapan Allah.” (HR. Abu
Dawud)
7. Dari Abdullah bin Yazid ra. Bahwasannya ia melihat Rasulullah
saw. terlentang di masjid dengan meletakkan salah satu dari
kedua kakinya pada kaki yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)
POSISI TIDUR YANG DIPERBOLEHKAN
1. Dari Jabir bin Samurah ra., ia berkata :“Apabila Nabi saw.
telah selesai salat Subuh, maka beliau duduk bersila dengan
baiknya sampai matahari terbit.” (HR. Abu Dawud)
2. Dari Ibnu Samurah ra., ia berkata :”Saya melihat Rasulullah
saw. berada di halaman Ka’bah sedang duduk mendekapkan
lutut dengan kedua tangannya begini.” Ia menggambarkan
cara duduk itu dengan kedua tangannya.” (HR. Bukhari)
3. Dari Qalilah binti Makhramah ra., ia berkata :”Saya melihat
Nabi saw. duduk dengan merapatkan paha ke perut dan
mendekapkan tangan ke betisnya. Ketika saya melihat
Rasulullah saw. duduk dengan khusyuk saya merasa cemas
untuk meninggalkan beliau.” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi)
4. Dari Asy Syirid bin Suwaid ra., ia berkata: Rasulullah saw.
melewati saya, sedangkan saya baru duduk dengan
meletakkan tangan kiri ke belakang dan saya bersandar pada
telapak tangan, kemudian beliau bersabda :”Mengapa kamu
duduk seperti duduknya orang yang dimurkai (dibenci) oleh
Allah?” (HR. Abu Dawud)
ADAB-ADAB KESOPANAN DALAM MAJLIS DAN
KAWAN DUDUK
1. Dari Ibnu Umar ra,. Ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kamu sekalian
membangkitkan seseorang dari tempat duduknya, kemudian
ia duduk pada tempatnya itu, tetapi hendaklah kamu sekalian
memperluas untuk memberi tempat.” Dan bagi Ibnu Umar,
apabila ada seseorang bangkit dari tempat duduknya dan
Ibnu Umar dipersilahkan untuk duduk pada tempat itu, maka
ia tidak mau duduk pada tempat itu.” (H.R Bukhari dan
Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra. Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda :
“Apabila salah seorang dari kamu sekalian bangkit dari
tempat duduknya kemudian ia kembali lagi, maka ia adalah
orang yang paling berhak untuk menempati tempat tersebut.”
(H.R Muslim)
3. Dari Jabir bin Samurah ra. Ia berkata : “Apabila kami datang
kepada Nabi saw. , maka salah seorang di antara kamu duduk
dimana ia sampai.” (H.R Abu dawud dan Turmudzi)
4. Dari Abu Abdullah (Salman) Al Farisiy ra, ia berkata :
Rasulullah SAW bersabda : “Tidak ada seorangpun yang
mandi pada hari Jumat, kemudian bersuci dengan sempurna
dan memakai minyak atau memakai harum-haruman yang
ada di rumahnya, kemudian pergi ke masjid dan tidak
memisahkan antara dua orang yang sudah duduk lebih dulu,
kemudian salat sebagaimana yang telah ditentukan, serta
memperhatikan imam yang sedang berkhutbah, melainkan
diampuni dosa-dosanya yang diperbuat antara hari itu sampai
jumat berikutnya.” (H.R Bukhari )
5. Dari Amr bin Sya`aib dari ayahnya dari kakeknya,
bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : “Seseorang tidak
diperbolehkan memisahkan antara dua orang (Yang duduk
lebih dulu) kecuali dengan izin keduanya.” (H.R Abu Dawud
dan Tirmidzi)
Dalam riwayat Abu Dawud : “Tidak boleh seseorang duduk di antara
dua orang, kecuali dengan izin keduanya.
6. Dari Hudzaifah bin Al Yaman ra. bahwasanya Rasulullah saw.
mengutuk orang yang berada di tengah-tengah lingkaran
majelis. (H.R Abu Dawud)
7. Dari Abu Mijlaz, bahwasanya ada seseorang duduk di tengahtengah
lingkaran majelis, kemudian Hudzaifah berkata :
“Allah mengutuk orang yang duduk di tengah-tengah
lingkaran majelis melalui lisan Muhammad saw.” (H.R
Turmudzi)
8. Dari Abu Sa`id Al Khudriy ra, Ia berkata : Saya mendengar
Rasulullah SAW bersabda : “ Sebaik-baik majelis adalh majelis
yang lapang.” (H.R Abu Dawud)
9. Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata : Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang duduk dalam suatu majelis dan dia banyak
beromong-omong, kemudian sebelum ia bangkit untuk
meninggalkan mahelin itu ia mengucapkan:
SUBHAANAKALLAAHUMMA WABIHAMDIKA ASYHADU ALLA
ILAAHA ILAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATTUBU ILAIKA (Maha
suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu saya bersaksi
bahwa tidak ada Tuhan kecuali Engkau, saya mohon ampun
dan bertaubat kepada –Mu) melainkan diampuni dosa yang
diperbuatnya selama ia duduk di dalam majelis itu.” (H.R
Turmudzi)
10. Dari Abu Barzah ra, ia berkata : “Apabila Rasulullah
saw. Hendak bangkit untuk meninggalkan suatu majelis,
maka ucapan yang peling akhir diucapkannya adalah :
SUBHAANAKALLAAHUMMA WABIhAMDIKA ASYHADU ALLA
ILAAHA ILAA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATTUBU ILAIKA (Maha
suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu saya bersaksi
bahwa tidak ada Tuhan kecuali Engkau, saya mohon ampun
dan bertaubat kepada –Mu). Maka ada seseorang berkata :
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau mengucapkan suatu
ucapan yang tidak biasa engkau baca pada waktu-waktu
sebelumnya.” Beliau bersabda : “Ucapan itu sebagai kaffarat
(pelebur) atas dosa yang diperbuat selama dalam majelis.”
(H.R Abu Dawud, dan diriwayatkan juga oleh Al Hakim Abu
Abdullah dari `Aisyah ra.)
11. Dari Ibnu Umar ra. Ia berkata : “Jarang sekali
Rasulullah SAW bangkit dari suatu majelis sebelum membaca
doa-doa ini. :ALLAAHUMMAQSIM LANAA MIN KHASY-YATIKA
MAA TAHUULU BIHII BAINANAA WABAINA MA`SYIYATIKA,
WAMIN THAA`ATIKA MAA TUBALIGHUNAA BIHI JANNA-TAKA,
WAMINAL YAQIINI MAA TUHAWWINU BIHI`ALAINA MASHAAIBAD
DUN-YAA. ALLAAHUMMA MATTI`NA BI ASMAA`INAA WA
ABSHARARINAA WAQUWWATINAA MAA AHYAITANAA
WAJ`ALHU WAARITSA MINNAA WAJ`AL TSA`RANAA `ALAA
MAN ZHALAMANAA, WANSHURNAA`ALAA MAN `AADAANAA
WALAA TAJ`AL MUSHIIBATANAA FIDDIININAA WALAA
TAJ`ALI DUN-YA AKBARA HAMMINA WALAA
MABLAGHA`ILMINAA WALAA TUSALLITH `ALAINAA MAN LAA
YARHAMUNAA. ( Ya Allah, bagikanlah kepada kami dari rasa
takut kepada-Mu yaitu rasa yang dapat menghalangi kami
dari berbuat maksiat kepada-Mu, dan bagikanlah rasa takut
kepada-Mu yaitu rasa yang dapar mengantarkan kami ke
dalam surga-Mu, serta bagikanlah kepada kami rasa yakin
yaitu rasa yang dapat meringankan cobaan dunia yang
menimpa kami. Ya Allah puaskanlah kami dengan
pendengaran, penglihatan dan kekuatan kami selama Engkau
masih memberi hidup kami, dan jadikanlah semua itu
mewarisi kami (jangan sampai semua itu ditinggalkan
sebelum kami meninggal). Balaslah orang yang berbuat
aniaya kepada kami, tolonglah kami dalam menghadapi
musuh-musuh kami. Janganlah Engkau menimpakan cobaan
dalam agama kami, dan jangan pula Engkau jadikan dunia itu
sebagai tujuan utama kami atau sebagai puncak pengetahuan
kami; serta janganlah Engkau jadikan orang yang tidak
mempunyai rasa belas kasih terhadap kami menjadi
pemimpin kami.)” (.H.R Turmudzi)
12. Dari Abu Hurairah ra,. Ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda : “Suatu kaum yang bangkit dari suatu majelis
dimana mereka berzikir kepada Allah Ta`ala ketika duduk,
maka mereka bangkit bagaikan bangkai keledai. Mereka
mendapat kerugian yang besar sekali.” (H.R Abu Dawud)
13. Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, beliau bersabda :
“Suatu kaum yang duduk di suatu majelis di mana mereka
tidak berzikir kepada Allah Ta`ala dan tidak pula membaca
salawat Nabi mereka maka mereka sungguh mendapatkan
kerugian, (tergantung Allah) apakah Ia menyiksa mereka atau
mengampuni mereka.” (H.R Turmudzi)
14. Dari Abu Hurairah ra, dari Rasulullah saw, beliau
bersabda: “Barangsiapa yang duduk dalam suatu tempat
duduk kemudian ia tidak berzikir kepada Allah Ta`ala, maka
ia akan mendapat kerugian di hadapan Allah. Dan
barangsiapa yang berbaring kemudian ia tidak berzikir kepada
Allah Ta`ala, maka ia juga mendapat kerugian di hadapan
Allah.” (H.R Abu Dawud)
MIMPI
1. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah
SAW bersabda : “Tidak ada lagi kenabian kecuali Al
Mubasysyirat.” Para sahabat bertanya: “Apakah Al
Mubasysyirat itu ? beliau menjawab: “Impian yang bagus.”
(H.R Bukhari)
2. Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Nabi saw, bersabda:
“Apabila hari kiamat telah dekat, maka impian orang mukmin
hampir tak pernah bohong, impian orang mukmin itu
merupakan satu dari empat puluh enam tanda kenabian.”
(H.R Bukhari dan Muslim)
Dan di riwayat lain dikatakan : “Sebenar-benar impianmu adalah
sebenar-benar kata-katamu.”
3. Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata Rasulullah SAW bersabda :
“Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, maka seakanakan
ia benar-benar melihat aku pada waktu terjaga, karena
setan itu tidak dapat menyerupai aku.” (H.R Bukhari dan
Muslim)
4. Dari Abu Sa`id Al Khudriy ra, bahwasanya ia mendengar
Rasulullah SAW bersabda : “Apabila salah seorang di antara
kamu bermimpi dengan impian yang disukainya, maka
sesungguhnya impian itu dari Allah Ta`ala, oleh karena itu
hendaknya ia memuji kepada Allah dan menceritakannya
kepada orang lain.”
Dan di riwayat yang lain dikatakan : “Janganlah ia menceritakan
impian itu kecuali kepada orang yang disukainya.” Dan apabila
ia bermimpi dengan impian yang tidak disukainya maka
sesungguhnya impian itu dari setan, maka hendaklah ia berlindung
diri dari kejelekan impiannya dan janganlah ia menceritakan impian
itu kepada siapa pun juga, karena impian itu tidak akan
membahayakan dirinya.” (H.R Bukhari dan Muslim)
5. Dari Abu Qatadah ra, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Impian yang bagus dan di dalam riwayat yang lain
dikatakan: Impian yang baik itu dari Allah, dan impian yang
buruk itu dari setan, oleh karena itu barangsiapa yang mimpi
sesuatu yang tidak disukainya, maka hendaklah ia meniupkan
sebelah kiri tiga kali, dan hendaklah ia berlindung diri dari
setan (membaca ta`awudz, yaitu A`UUDZU BILLAHI
MINASYSYATHAANIR RAJIIM) ; sesungguhnya impian itu tidak
akan membahayakannya.” (H.R Bukhari dan Muslim)
6. Dari Jabir ra. Dari Rasulullah SAW beliau bersabda : “Apabila
salah seorang di antara kamu bermimpi dengan sesuatu yang
tidak disukainya maka hendaklah ia meludah ke sebelah
kirinya tiga kali, dan hendaklah ia meludah berlindung diri
kepada Allah dari gangguan setan (membaca ta`awudz tiga
kali), dan hendaknya pula ia membalikkan diri dari tidurnya
semula.” (H.R Muslim)
7. Dari Abul Aqsa` Watsilah bin Al Aqsa` ra, ia berkata
Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya termasuk sesuatu
yang amat tercela, apabila seseorang mengaku turunan selain
ayahnya, atau ia mendustakan impian yang tidak dilihatnya,
atau ia mengucapkan atas nama Rasulullah saw. apa yang
tidak beliau sabdakan.”(H.R Bukhari)
KEUTAMAAN SALAM DAN PERINTAH UNTUK
MENYEBARLUASKAN
1. Dari Abdullah bi Amr bin Ash. Bahwasanya ada seorang yang
bertanya kepada Rasulullah saw. : Bagaimanakah Islam yang
baik itu ? “ Beliau menjawab : “Yaitu kamu memberi
makanan, dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu
kenal dan orang yang belum kamu kenal.” (H.R Bukhari dan
Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi SAW beliau bersabda :
“Tatkala Allah menciptakan Adam saw. Allah berfirman
kepadanya : “Pergilah dan ucapkan salam kepada para
malaikat yang sedang duduk itu, kemudian dengarkanlah
jawaban mereka kepadamu, karena sesungguhnya jawaban
itu merupakan penghormatan bagimu dan penghormatan bagi
anak cucumu.” Maka Adam mengucapkan:
“ASSALAMU`ALAIKUM” . mereka menjawab:
“ASSALAMU`ALAIKA WARAHMATULLAAH.” Mereka memberi
tambahan dengan : “WARAHMATULLAAH.” (H.R Bukhari dan
Muslim)
3. Dari Ubadah Al Barra` bin `Azib ra. Ia berkata Rasulullah
saw. menyuruh kami untuk mengerjakan tujuh perbuatan,
yaitu menjenguk orang sakit, mengiringkan jenazah,
mendoakan orang yang bersin, menolong orang yang lemah,
membantu orang yang teraniaya, menyebarluaskan salam
dan menepati sumpah.” (H.R Bukhari dan Muslim)
4. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Rasulullah bersabda :
“Kamu sekalian tidak akan masuk surga sebelum kamu
beriman, dan kamu sekalian tidaklah beriman sebelum kamu
saling mencintai. Maukah kamu sekalian aku tunjukkan
sesuatu yang apabila kamu mengerjakannya maka kamu
sekalian akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam di
antara kamu sekalian.” (H.R Muslim)
5. Dari Abu Yusuf (Abdullah) bin salam ra, ia berkata : saya
mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Hai sekalian manusia,
sebarkanlah salam, berikanlah makanan, hubungkanlah tali
persaudaraan, dan salatlah pada waktu manusia sedang tidur,
niscaya kamu sekalian masuk surga dengan selamat.” (H.R
Turmudzi)
6. Dari Tufail bin Ubay bin Ka`ab bahwasanya ia datang ke
tempat Abdullah bin Umar, kemudian mereka pergi bersamasama
ke pasar. Thufail berkata: “Ketika kami pergi bersamasama
ke pasar setiap melewati tukang rombeng, orang yang
menjual dagangannya, orang miskin, bahkan melewati siapa
saja, ia pasti mengucapkan salam kepadanya.” Thufail
berkata : “Pada suatu hari saya datang ke tempat Abdullah
bin Umar kemudian ia mengajak saya ke pasar, maka saya
berkata kepadanya: Apa yang akan kamu lakukan di pasar
nanti, karena kamu tidak akan membeli sesuatu, tidak akan
mencari sesuatu, tidak akan menawar sesuatu, dan tidak
akan duduk di pasar? Lebih baik kita duduk-duduk di sini dan
berbincang-bincang saja.” Abdullah menjawab: “Wahai Abu
Bathn (Disebut demikian karena Thufail mempunyai perut
yang besar.) Kita pergi ke pasar untuk menyebarluaskan
salam, kita mengucapkan salam kepada siapa saja yang kita
jumpai.” (H.R Malik)
TATA CARA MEMBERI SALAM
1. Dari Imran bin Al Hushain ra. Ia berkata : Ada seorang yang
datang kepada Nabi SAW dan mengucapkan :
“ASSALAAMU`ALAIKU,” maka salam itu dijawab oleh beliau,
dan ia duduk. Kemudian beliau bersabda: “Sepuluh.” Sesudah
itu datang lagi seseorang dan mengucapkan :
“ASSALAMU`ALAIKUM WARAHMATULLAAH.”, Salam itu
dijawab oleh beliau dan ia duduk, kemudian beliau bersabda :
“Dua Puluh.” Sesudah itu datang lagi seorang dan
mengucapkan salam: “ASSALAMU`ALAIKUM
WARAHMATULLAAHI WABARAAKATUH.” Salam dijawab oleh
beliau, dan ia duduk kemudian beliau bersabda: “Tiga puluh”.
(H.R Abu Dawud dan Tirmidzi)
2. Dari `Aisyah ra. Ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda
kepada saya: “Ini Jibril menyampaikan salam untuk kamu.”
Maka saya menjawab : “WA`ALAIHIS SALAAMU
WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.” (H.R Bukhari dan
Muslim)
3. Dari Anas ra. Ia bahwasanya apabila Nabi saw. Mengatakan
suatu perkataan, beliau mengulanginya tiga kali, sehingga
benar-benar dapat dipahami. Dan apabila beliau mendatangi
suatu kaum maka beliau mengucapkan salam kepada mereka
sampai tiga kali.” (H.R Bukhari)
4. Dari Miqdad ra, di dalam hadisnya yang panjang ia berkata :
“Kami biasa menyediakan susu yang menjadi bagian Nabi
saw. apabila beliau datang pada waktu malam, beliau
mengucapkan salam yang tidak sampai membangunkan orang
tidur, tapi dapat didengar oleh orang yang jaga. Nabi biasa
datang dan mengucapkan salam sebagaimana biasanya.” (H.R
Muslim)
5. Dari Asma` binti Yazid ra, bahwasanya pada suatu hari
Rasulullah saw. melewati sekelompok wanita yang sedang
duduk di masjid, maka beliau melambaikan tangan dan
mengucapkan salam.” (H.R Turmudzi)
6. Dari Abu Juray Al Juhamiy ra, ia berkata: “Saya datang
kepada Rasulullah SAW dan mengucapkan : “ALAIKAS
SALAAMU YAA RASULULLAAH. Beliau menjawab : “Janganlah
engkau mengucapkan : “`ALAIKAS SALAAM, karena
sesungguhnya ucapan itu adalah salam untuk orang yang
sudah meninggal.” (H.R Abu Dawud dan Turmudzi)
ATURAN MEMBERI SALAM
1. Dari Abu Hurairah ra. Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda :
“Orang yang naik kendaraan memberi salam kepada orang
yang berjalan, orang yang berjalan memberi salam kepada
orang yang duduk, orang yang sedikit memberi salam kepada
orang yang banyak.” (H.R Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Bukhari dinyatakan: “Yang kecil (muda)
mengucapkan salam kepada yang besar (Tua).”
2. Dari Abu Ummah Muday bin Ajlan Al Bahiliy ra, ia berkata :
Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya seutama-utama
manusia menurut Allah adalah orang yang lebih dahulu
memberi salam” (H.R Abu Dawud)
Diriwayatkan oleh Turmudzi dari Abu Umamah : Ada seorang
bertanya kepada Rasulullah saw. : “Wahai Rasulullah,
sesungguhnya ada dua orang yang saling bertemu, maka siapakah
yang terlebih dahulu harus memberi salam?” Beliau menjawab :
“Orang yang lebih utama menurut Allah Ta`ala.”
SUNAT MENGULANGI SALAM JIKA BERULANG
KALI BERJUMPA
1. Dari Abu Hurairah ra, ketika menceritakan orang yang salah
salatnya, di mana ia datang dan salat, kemudian datang
kepada Nabi saw, dan mengucapkan salam, maka beliau
menjawab salamnya, kemudian bersabda: “Kembalilah kamu
dan salatlah karena sesungguhnya kamu belum salat.” Maka
ia pun kembali dan salat lagi,, kemudian datang dan
mengucapkan salam kepada Nabi, ia berbuat demikian sampai
tiga kali.” (H.R Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw, beliau bersabda :
“Apabila salah seorang di antara kalian bertemu dengan
saudaranya, maka hendaklah ia mengucapkan salam
kepadanya. Dan seandainya di antara keduanya terpisah oleh
pohon, dinding atau batu, kemudian bertemu kembali maka
hendaklah ia mengucapkan salam lagi.” (H.R Abu Dawud)
SUNAT MENGUCAPKAN SALAM BILA MASUK
RUMAH SENDIRI
1. Dari Anas ra, ia berkata : Rasulullah saw, bersabda kepadaku
: “Hai anakku, apabila kamu datang kepada keluargamu maka
ucapkanlah salam. Niscaya kamu dan keluargamu mendapat
berkah.” (H.R Turmudzi)
MENGUCAP SALAM PADA ANAK-ANAK
1. Dari Anas ra, bahwasanya ia berjalan melewati anak-anak,
kemudian ia mengucapkan salam untuk mereka, serta
berkata: “Rasulullah saw, biasa melakukan hal yang demikian
ini.” (H.R Bukhari dan Muslim)
SALAM TERHADAP ISTERI DAN PARA WANITA
1. Dari Sahl bin Sa`ad ra, ia berkata : “Di tengah-tengah kami
ada seorang wanita, dan di dalam riwayat lain dikatakan:
“Ada seorang wanita tua yang biasa mencari rempah-rempah
kemudian dimasak dalam kuali dan dicampur dengan
gandum. Apabila kami selesai salat Jumat maka kami datang
ke tempatnya dan memberi salam kepadanya, kemudian ia
menghidangkan masakan itu kepada kami.” (H.R Bukhari )
2. Dari Ummu Hani’ Fahkitah binti Abi Thalib ra, ia berkata :
“Saya mendatangi Nabi saw, pada hari penaklukan kota
Mekkah, dimana pada waktu itu beliau sedang mandi dengan
ditutupi kain oleh Fatimah, kemudian saya mengucapkan
salam.”(H.R Muslim)
3. Dari Asma’ binti Yazud ra, ia berkata : “Nabi saw, berjalan
melewati sekelompok wanita kemudian beliau mengucapkan
salam kepada kami.” (H.R Turmudzi)
MENGUCAP DAN MENJAWAB SALAM ORANG
KAFIR
1. Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw, bersabda :
:Janganlah kamu sekalian memulai lebih dahulu
mengucapkan salam kepada orang-orang Yahudi dan orangorang
Nasrani. Apabila kamu sekalian bertemu dengan salah
satu di antara mereka di tengah jalan, maka berusahalah agar
ia menuju tempat yang sempit (Pinggiran jalan).” (H.R
Muslim)
2. Dari Anas ra, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Apabila
ahli kitab mengucapkan salam kepadamu sekalian maka
jawablah dengan “WA`ALAIKUM.” (H.R Bukhari dan Muslim)
3. Dari Usamah ra, bahwasanya Nabi saw, berjalan melewati
majelis yang di dalamnya terdapat orang-orang islam. Orangorang
musyrik yang menyembah berhala, serta orang-orang
Yahudi, kemudian Nabi saw. mengucapkan salam kepada
mereka “ (H.R Bukhari dan Muslim)
SUNNAT MENGUCAPKAN SALAM BILA AKAN
MENINGGALKAN
1. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Apabila salah seorang di antara kamu sekalian sampai
kepada suatu majelis, maka hendaklah ia mengucapkan
salam. Tidaklah yang pertama ia berhak daripada yang
terakhir.” (H.R Abu Dawud dan Turmudzi)
TATA CARA MINTA IZIN
1. Dari Abu Musa Al Asy`ariy ra, ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda : “Minta izin itu sampai tiga kali. Apabila diizinkan
maka masuklah kamu, dan apabila tidak diizinkan maka
pulanglah kamu.” (H.R Bukhari dan Muslim)
2. Dari Sahal bin Sa`ad ra, ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda : “Sesungguhnya minta izin itu dijadikan ketentuan
karena untuk menjaga pandangan mata.”(H.R Bukhari dan
Muslim)
3. Dari Rabi’iy bin Hirasy, ia berkata : “Seseorang dari bani ‘Amir
menceritakan kepada kami sewaktu ia minta untuk masuk ke
rumah Nabi SAW dan waktu itu beliau berada di dalam
rumah. Orang itu mengucapkan : “Bolehkah saya masuk?”
Kemudian Rasulullah saw, bersabda kepada pelayannya:
“Keluarlah dan ajarkanlah kepada orang itu tentang tata cara
meminta izin, katakanlah kepadanya : “Ucapkanlah
Assalamu`alaikum, bolehkah saya masuk?” Orang itu
mendengar apa yang disabdakan oleh Nabi, maka ia
mengucapkan : “Assalamu`alaikum, bolehkah saya masuk?”
Kemudian Nabi saw. memberi izin kepadanya, dan ia pun
terus masuk.” (H.R Abu Dawud)
4. Dari Kildah bin Hanbal ra, ia berkata : “Saya datang ke rumah
Nabi SAW dan langsung masuk tanpa mengucapkan salam,
kemudian Nabi saw bersabda : “Kembalilah, dan ucapkanlah :
“ASSALAMU`ALAIKUM, bolehkan saya masuk?” (H.R Abu
Dawud dan Turmduzi)
SUNNAT MENYEBUT NAMA BILA DITANYA :
SIAPA KAMU?
1. Dari Anas ra, di dalam hadis tentang Isra` yang telah
masyhur, di mana ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Kemudian Jibril membawa aku naik ke langit dunia dan minta
dibukakan pintu langit, ketika ditanya: “Siapa ini?” ia
menjawab : “Jibril”. Ditanya lagi : “Bersama siapa kamu?” ia
menjawab: “Muhammad” Kemudian ia naik ke langit kedua,
ketiga, keempat, dan seterusnya. Pada setiap pintu langit
ditanya : “Siapa ini?” Maka ia menjawab : “Jibril” (H.R Bukhari
dan Muslim)
2. Dari Abu Dzar ra, ia berkata : “Saya keluar pada suatu
malam, tiba-tiba saya bertemu dengan Rasulullah saw,
dimana beliau berjalan sendirian. Pada saat itu saya berjalan
dalam keadaan terang bulan, kemudian beliau menoleh dan
melihat saya, lalu bertanya : “Siapa ini?” Saya menjawab :
“Abu Dzar.” (H.R Bukhari dan Muslim)
3. Dari Ummu Hani’ ra, ia berkata : “Saya datang kepada Nabi
SAW dan beliau sedang mandi dan ditutupi kain oleh Fatimah,
kemudian beliau bertanya : “Siapa ini?” Saya menjawab :
“Ummu Hani” (H.R Bukhari dan Muslim)
4. Dari Jabir ra, ia berkata : Saya datang kepada Nabi SAW dan
mengetuk pintu, kemudian beliau bertanya : “Siapa ini?” Saya
menjawab : “Saya” Beliau bersabda : “Saya,saya”, seolah
beliau membenci ucapan itu.” (H.R Bukhari dan Muslim)
SUNNAT MENDOAKAN ORANG BERSIN BILA
MEMBACA HAMDALAH
1. Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, beliau bersabda :
“Sesungguhnya Allah itu suka pada orang bersin dan benci
pada menguap. Maka apabila salah seorang di antara kamu
bersin dan memuji Allah Ta`ala (Membaca hamdalah), maka
bagi setiap orang muslim yang mendengarnya wajib
mengucapkan : “YARHAMUKALLAH” (semoga Allah mengasihi
kamu). Adapun salah seorang di antara kamu sekalian
menguap, hendaklah ia menahan semampunya, karena
apabila salah seorang di antara kamu sekalian itu menguap
maka setan menertawakannya.” (H.R Bukhari)
2. Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, beliau bersabda :
“Apabila salah seorang di antara kamu sekalian bersin maka
hendaklah ia mengucapkan : “ALHAMDULILLAAH” (Segala puji
bagi Allah) dan hendaklah saudara atau kawannya
mengucapkan : “YARHAMUKALLAAH” (Semoga Allah
mengasihi kamu) , Apabila ada seorang yang mengucapkan :
“YARHAMUKALLAAH” maka hendaklah orang yang bersin
mengucapkan : “YAHDIKUMULLAAH WA YUSHLIH BAALAKUM”
(Semoga Allah memberi petunjuk kepadamu dan semoga
Allah selalu menunjukkan kebaikan kepada hatimu.)” (H.R
Bukhari)
3. Dari Abu Musa ra, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah
SAW bersabda : “Apabila salah seorang di antara kamu
sekalian bersin dan tidak memuji kepada Allah, maka
doakanlah ia, dan apabila ia tidak memuji Allah, maka
janganlah kamu mendoakannya.” (H.R Muslim)
4. Dari Anas ra, ia berkata : “Ada dua orang bersin di hadapan
Nabi saw, kemudian beliau mendoakan kepada salah seorang
di antara keduanya itu dan tidak mendoakan kepada yang
lain. Maka orang yang tidak didoakan berkata : “Si Fulan
bersin, engkau mendoakannya, dan saya bersin mengapa
tidak mendoakan saya?” Beliau bersabda : “Si Fulan ini
memuji kepada Allah, sedangkan kamu tidak memuji kepada
Allah.” (H.R Bukhari dan Muslim)
5. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : “Rasulullah saw, apabila
bersin, maka beliau meletakkan tangan dan mulutnya dan
beliau merendahkan atau menekan suaranya.” Perawi
bimbang. (H.R Abu Dawud dan Turmudzi)
6. Dari Abu Musa ra, ia berkata : “Orang-orang Yahudi bersin di
hadapan Rasulullah saw, dengan harapan agar beliau
mengucap : “YARHAMUKALLAAH”, tetapi beliau hanya
mengucapkan : YAHDIKUMULLAAH WA YUSLIH BAALAKUM.”
(H.R Abu Dawud dan Turmudzi)
7. Dari Abu Sa’id Al Khudriy ra, ia berkata : Rasulullah saw,
bersabda : “Apabila salah seorang di antara kamu sekalian
menguap, maka hendaklah ia menutupkan tangan pada
mulutnya, karena sesungguhnya setan akan masuk ke
mulutnya.” (H.R Muslim)
SUNNAT BERJABAT TANGAN DAN
MENUNJUKKAN KASIH SAYANG
1. Dari Abul Khaththab (Qatadah) ia berkata : “Saya bertanya
kepada Anas: “Apakah para sahabat saw. itu biasa berjabat
tangan?” ia menjawab : “Ya” (H.R Bukhari)
2. Dari Anas ra., ia berkata: “Ketika orang-orang dari negeri
Yaman datang, maka Rasulullah saw. bersabda: “Kini telah
datang penduduk kota Yaman dan mereka itulah orang yang
pertama kali datang dengan berjabat tangan.” (HR. Abu
Dawud)
3. Dari Al Barra’ ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Dua
orang Islam yang bertemu kemudian mereka berjabat tangan
maka dosa kedua orang tersebut diampuni sebelum keduanya
berpisah.” (HR Abu Dawud)
4. Dari Anas ra. ia berkata: Ada seorang bertanya kepada
Rasulullah: Wahai Rasulullah, apabila seorang di antara kami,
bertemu dengan saudara atau kawannya apakah ia harus
membungkukkan diri?” beliau menjawab: “Tidak.” Ia
bertanya: “Apakah ia harus mendekap dan menciumnya?”
Beliau menjawab: “Tidak.” Ia bertanya lagi: “Apakah ia harus
memegang tangannya dan menjabatnya?” Beliau menjawab:
“Ya.” (HR Turmudzi)
5. Dari Saffan bin ‘Assal ra., ia menceritakan bahwa ada seorang
Yahudi berkata kepada kawannya: “Marilah kita pergi
menemui Nabi.” Maka keduanya datang kepada Rasulullah
saw. dan menanyakan tentang sembilan ayat. Setelah
dijawab oleh Nabi saw. kemudian mereka mencium tangan
dan kaki Rasulullah serta berkata: “Kami bersaksi
sesungguhnya Engkau adalah seorang Nabi.” (HR Turmudzi)
6. Dari Ibnu Umar ra., ia menceritakan sebuah kisah yang di
dalamnya terdapat kalimat: “Kemudian kami mendekati Nabi
saw. dan mencium tangan beliau.” (HR. Abu Dawud)
7. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata: “Zaid bin Haritsah datang ke
Madinah dan Rasulullah saw. sedang berada di rumahku,
kemudian ia datang dan mengetuk pintu, lantas Nabi saw.
bangkit dan menarik lainnya, serta memeluk dan
menciumnya.” (HR. Turmudzi)
8. Dari Abu Dzar ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda
kepada saya: “Janganlah kamu sekali-kali meremehkan
kebaikan, walaupun hanya dengan bermuka manis apabila
kamu berjumpa dengan saudaramu.” (HR Muslim)
9. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Nabi saw. mencium Al
Hasan bin Ali ra., kemudian Al Aqra’ bin Habis berkata:
“Sesungguhnya saya mempunyai sepuluh anak, tetapi saya
tidak pernah mencium seorang pun dari mereka.” Maka Nabi
saw. bersabda: “Barangsiapa tidak mengasihi tidak akan
dikasihi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
MENJENGUK ORANG SAKIT,
MENYEMBAHYANGKAN DAN MENGANTAR
JENAZAH KE KUBUR
1. Dari Al Barra’ bin Azib ra., ia berkata: “Rasulullah saw.
memerintahkan kepada kami untuk menjenguk orang sakit
mengiring jenazah, mendoakan orang bersin (yang memuji
Allah), menepati sumpah, menolong orang teraniaya,
memenuhi undangan dan menyebarluaskan salam.” (HR
Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:
“Hak orang Islam atas orang Islam lain ada lima, menjawab
salam, menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah,
memenuhi undangan, mendoakan orang yang bersin (yang
memuji Allah).” (HR Bukhari dan Muslim)
3. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda:
“Pada hari kiamat, Allah Azza wa Jalla berfirman: “Hai anak
Adam (manusia)! Aku sakit tetapi Engkau tidak menjenguk-
Ku.” Anak Adam menjawab: “Wahai Tuhanku, bagaimana aku
meski menjenguk-Mu, sedangkan Engkau adalah Tuhan
semesta alam.” Allah berfirman: “Tidakkah kamu tahu bahwa
hamba-Ku si fulan sakit, tetapi kamu tidak mau
menjenguknya. Tidakkah kamu tahu bahwa seandainya kamu
mau menjenguknya, niscaya kamu menemukan Aku ada di
sisinya. Wahai anak Adam, Aku minta makan kepadamu
tetapi kamu tidak mau memberi makan kepada-Ku.” Anak
Adam menjawab “Wahai Tuhanku, bagaimana saya meski
memberi makan kepada-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan
semesta alam?” Allah berfirman: “Apakah kamu tidak tahu
bahwa hamba-Ku si Fulan minta makan kepdamu tetapi kamu
tidak mau memberinya makan. Apakah kamu tidak tahu
bahwa seandainya kamu memberinya makan niscaya kamu
mendapatkan hal itu tertulis di sisi-Ku. Wahai anak Adam,
Aku minta minum kepadamu tetapi kamu tidak mau memberi
minum kepada-Ku.” Anak Adam menjawab: “wahai Tuhanku,
bagaimana saya meski memberi minum kepada-Mu
sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?” Allah
berfirman: “Hamba-Ku si Fulan minta minum kepada kamu
tetapi kamu tidak mau memberinya minum. Sungguh
seandainya kamu memberinya minum niscaya kamu akan
menemukan hal itu tertulis di sisi-Ku.” (HR. Muslim)
4. Dari Abu Musa ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
“Kalian tengoklah orang yang sakit, berilah makan orang yang
lapar dan lepaskanlah (tolonglah) orang yang menderita.” (HR
Bukhari)
5. Dari Tsuban ra. dari Nabi saw., beliau bersabda: “Sungguh
orang Islam itu apabila ia mengunjungi saudaranya sesama
muslim, maka ia tetap berada di kebun surga hingga ia
kembali.” Ditanyakan: “Wahai Rasulullah! Apakah khurfatul
jannah itu?” Rasulullah saw. bersabda: “Kebun yang sedang
berbuah di surga.” (HR. Muslim)
6. Dari Ali ra., ia berkata: “Saya mendengar Rasulullah saw.
bersabda: “Setiap orang muslim yang menjenguk sesama
muslim pada waktu pagi, maka ia akan dimintakan rahmat
oleh tujuh puluh ribu malaikat sampai waktu sore. Dan
apabila ia menjenguknya pada waktu sore, maka ia akan
dimintakan rahmat oleh tujuh puluh ribu malaikat sampai
waktu pagi, serta ia mendapat jaminan buah-buahan yang
siap dimakan di dalam surga.” (HR Turmudzi)
7. Dari Anas ra., ia berkata: “Ada seorang pemuda Yahudi yang
biasa melayani Nabi saw. datang untuk menjenguknya,
“(Masuk) Islamlah.” Ia melihat ayahnya yang berada di situ
juga, kemudian ayahnya berkata: “Patuhilah Abu Qasim.”
Maka ia pun masuk islam. Kemudian Nabi saw. keluar sambil
mengucapkan: “ALHAMDU LILLAH ANQADZHU MINANNAARI
(Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari
neraka).” (HR. Bukhari)
DOA UNTUK ORANG SAKIT
1. Dari ‘Aisyah ra. bahwasanya apabila ada orang yang datang
mengeluh sakit atau terluka kepada Nabi saw., maka Nabi
saw. bersabda: “Dengan telunjuknya berbuatlah demikian.”
Sofyan bin Uyainah perawi hadis ini meletakkan jari
telunjuknya ke tanah dan diludahi sedikit, kemudian
diusapkan ke tempat yang sakit, sambil berdoa:
“BISMILLAAHI TUTBATU ARDHINAA RABBINAA (Dengan nama
Allah, dengan tanah kami ludah sebagian tanah kami, semoga
disembuhkan orang yang sakit ini atas izin Tuhan kami).”
(HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari ‘Aisyah ra. bahwasanya Nabi saw. menjenguk salah
seorang keluarganya dengan mengusap tangannya seraya
berdoa: “ALLAHUMMA RABBANNAASI ADZIIBIL BA’SA ISYFI
ANTASYSYAAFII LAA SYIFAA-AILLAA SYIFAA-UKA SYIFAA-AN
LAA YUGHAADIRU SAQAMAA (Wahai Allah Tuhan semua
manusia, hilangkanlah penyakit, sembuhkanlah karena hanya
Engkaulah yang dapat menyembuhkan, tiada kesembuhan
kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak
dihinggapi penyakit lagi).” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Dari Anas ra. bahwasanya ia berkata kepada Tsabit
rahimullah: “Bolehkah saya menjampi kamu seperti jampi
Rasulullah saw.?” Tsabit berkata: “Silahkan.” Anas
mengucapkan: “ALLAAHUMMA RABBANAASI MUDZHIBAL
BA’SI ISYFI ANTASYSYAAFII LAA SYAAFIYA ILLAA SYIFAAUKA
SYIFAA-AN LAA YUGHAADIRU SAQAMAA (Wahai Allah
Tuhan semua manusia, hilangkanlah penyakit, sembuhkanlah
karena hanya Engkaulah yang dapat menyembuhkan, tiada
yang menyembuhkan kecuali Engkau, kesembuhan yang tidak
dihinggapi penyakit lagi).” (HR Bukhari)
4. Dari Sa’id bin Abu Waqqash ra., ia berkata: “Rasulullah saw.
menjenguk saya, kemudian berdoa: “ALLAAHUMMASYFI
SA’DAN ALLAAHUMMASYFI SA’DAN ALLAAHUMMASYFI SA’DAN
(Wahai Allah, sembuhkanlah sa’ad, tiga kali).” (HR. Muslim)
5. Dari Abi Abdillah Utsman bin Abul Ash ra. bahwasanya ia
pernah mengeluh kepada Rasulullah saw. tentang penyakit
yang menimpa badannya, kemudian Rasulullah saw. bersabda
kepadanya: “Letakkanlah tanganmu pada tempat yang sakit,
dan bacalah: “BISMILLAH” tiga kali, lalu bacalah : “A’UUDZU
BI’IZZATILLAAHI WAQUDRATIHI MIN SYARRI MAA AJIDU WAUHAADZIRU
(Saya berlindung dairi kepada kemuliaan Allah
dan kekuasaan-Nya dari penyakit yang saya derita dan saya
khawatirkan) tujuh kali.” (HR. Muslim)
6. Dari Ibnu Abbas ra. dari Nabi saw., beliau bersabda:
“Barangsiapa yang menjenguk orang sakit yang belum datang
saat kematiannya kemudian ia membacakan doa ini sebanyak
tujuh kali niscaya Allah menyembuhkan penyakitnya itu.” Doa
yang dimaksud adalah: AS-ALULLAAHAL ‘AZHIIMI RABBAL
‘ARSYIL ‘AZHIIMI ANYASYFIKA tujuh kali (Saya memohon
kepada Allah Yang Maha Agung, Tuhan yang mempunyai ‘arsy
yang besar, semoga Allah memberikan kesembuhan kepada
kamu).” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi)
7. Dari Ibnu Abbas ra. bahwasanya Nabi saw. datang kepada
seorang Badui untuk menjenguknya. Ketika ada orang masuk
menjenguknya, beliau bersabda: “Tidak apa-apa, mudahmudahan
penyakit ini menjadi pencuci dosa; Insya Allah.”
(HR. Bukhari)
8. Dari Abu Sa’id Al-khudriy ra. bahwasanya malaikat Jibril
datang kepada Nabi saw. dan berkata: “Wahai Muhammad
saw., engkau sakit?” Beliau menjawab: “Ya.” Jibril berdoa:
“BISMILLAAHI ARQIIKA MIN KULLI SYAI-IN YU’DZIIIKA,
MINSYARRI KULLI NAFSIN AU ‘AININ HAASIDIN ALLAAHU
YASYFIIKA BISMILLAAHI ARQIIKA (Dengan nama Allah, saya
menjampikan engkau dari segala sesuatu yang menyakitkan
engkau, dan dari setiap jiwa atau mata yang merasa dengki;
semoga Allah menyembuhkan penyakitmu, dengan nama
Allah saya menjampikan engkau)”. (HR. Muslim)
9. Dari Abu Sa’id Al-khudriy dan Abu Hurairah ra. bahwasanya
keduanya menyaksikan Rasulullah saw. bersabda:
“Barangsiapa yang mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH
WALLAAHU AKBAR, maka Tuhan membenarkan ucapannya itu
serta berfirman: “LAA ILAAHA ILLAA ANA WA-ANA AKBAR.”
Apabila ia mengucapkan: LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHU
LAA SYARIIKA LAHU, maka Tuhan berfirman: LAA ILAAHA
ILLALLAAJU LAHUL MULKUWALAHUL HAMDU, maka Tuhan
berfirman: LAA ILAAHA ILLALLAAHU WALAA HAULA WALAA
QUWWATA ILLAA BILLAAH, maka Tuhan berfirman: LAA
ILAAHA ILLAA ANA WALAA HAULA WALA QUWWATA ILLA BII.”
Dan Nabi saw. bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan
kalimat-kalimat tersebut pada waktu sakit kemudian ia mati
dalam sakitnya itu, maka ia tidak akan termakan oleh api
neraka.” (HR. Turmudzi) Bab
SUNNAT BERTANYA TENTANG KEADAAN SI
SAKIT
1. Dari Ibnu Abbas ra. bahwasanya Ali bin Abu Thalib ra. keluar
dari rumah Rasulullah saw. pada waktu beliau sakit menjelang
meninggal, kemudian para sahabat bertanya: “Wahai Abul
Hasan, bagaimana keaadaan Rasulullah saw. pagi ini?” Ali
menjawab: “Alhamdulillah, pagi ini agak baik.” (HR. Bukhari)
DOA ORANG PUTUS ASA
1. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata: Saya mendengar Nabi saw. yang
sedang menyandarkan badannya kepadaku berdoa:
ALLAAHUMAGHFIRLII WARHAMNII WA ALHIQNII BIRRAFIIQIL
A’LAA (Ya Allah, ampunilah dosaku, dan kasihanilah aku, serta
temukanlah aku dengan Zat Yang Mahaluhur).” (HR. Bukhari
dan Muslim)
2. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata: “Saya melihat Rasulullah saw.
pada waktu beliau hampir wafat, dimana di situ ada sebuah
gelas yang berisi air. Beliau memasukkan tangannya ke dalam
gelas itu kemudian mengusap mukanya dengan air serta
berdoa: ALLAHUMMA A’INNII ‘ALAA GHAMARAATIL MAUTI
WASAKARAATIL MAUTI (Ya Allah, bantulah saya di dalam
menghadapi beratnya maut dan kesukaran sakaratul maut).”
(HR. Turmudzi)
SUNNAT BERBUAT BAIK TERHADAP ORANG
SAKIT
1. Dari Imran bin Hushain ra. bahwasanya ada seorang
perempuan dari Juhanah datang kepada Nabi saw., dimana ia
sedang hamil karena berbuat zina. Ia berkata kepada beliau:
“Wahai Rasulullah, saya terkena hukuman had maka
laksanakanlah had itu terhadap diri saya.” Kemudian
Nabiyullah saw. memanggil wali perempuan itu dan bersabda:
“Rawatlah baik-baik perempuan ini, dan apabila telah
melahirkan maka bawalah kesini.” Walinya itu melaksanakan
apa yang dipesankan oleh Nabi saw., dan setelah perempuan
itu melahirkan, maka dibawalah ke hadapan Nabi saw.
kemudian perempuan itu diikat dengan bajunya lantas beliau
menyuruh untuk merajamnya, dan setelah ia meninggal dunia
maka beliau menyembahyangkannya.” (HR. Muslim)
BOLEH MENGELUH SAKIT
1. Dari ibnu Mas’ud ra., ia berkata: Saya masuk rumah Nabi
saw. dimana beliau sedang dalam keadaan sakit panas.
Kemudian saya memegang beliau dan berkata:
“Sesungguhnya tubuh engkau panas sekali.” Beliau
menjawab: “Memang, aku menderita panas dua kali lipat
dengan orang-orang seperti kamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Sa’id bin Abu Waqqash ra., ia berkata: Rasulullah saw.
datang menjenguk saya karena sakit keras, kemudian saya
berkata: “Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri
saya, sedangkan saya adalah orang yang kaya dan tidak
mempunyai ahli waris kecuali seorang anak perempuan.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Hadis ini masih ada lanjutannya.
3. Dari Al Qasim bin Muhammad saw., ia berkata: ‘Aisyah
pernah mengeluh ”Aduh sakitnya kepalaku.” Kamudian Nabi
saw. bersabda: “ku juga merasa sakit kepala.” (HR. Bukhari)
Hadis ini masih ada lanjutannya.
MEMBERI TUNTUNAN KEPADA ORANG YANG
AKAN MENINGGAL DUNIA
1. Dari Mu’adz ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
“Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah LAA ILAAHA
ILLALLAAH, maka ia akan masuk surga.” (HR. Abu Dawud dan
Al Hakim)
2. Dari Abu Sa’id Al-Khudriy ra., ia berkata: Rasulullah saw.
bersabda: “Tuntunlah orang yang hendak meninggal dunia
dengan ucapan LAA ILAAHA ILLALLAAH.” (HR. Muslim)
DOA KETIKA MENYAKSIKAN ORANG
MENINGGAL DUNIA
1. Dari Ummu Salamah ra., ia berkata: Rasulullah saw. masuk
ke rumah Abu Salamah yang pada waktu itu masih terbuka
matanya kemudian beliau memejamkannya, seraya bersabda:
“Sesungguhnya apabila nyawa itu telah dicabut maka diikuti
oleh mata.” Mendengar sabda beliau itu para keluarganya
menangis keras sekali; kemudian beliau bersabda: “Janganlah
kamu berdoa untuk dirimu sendiri kecuali dengan yang baikbaik,
karena sesungguhnya malaikat itu mengamini apa yang
kamu ucapkan,” Lantas beliau berdoa: “ALLAAHUMMAGHFIR
LI-ABII SALAMTA WARFA”DARAJATAHU FIL MAHDIYYIINA
WAKHLUFHUFII “AQIBIHI FIL GHAABIRIINA WAGHFIR LANAA
WALAHU YAA RABBAL “AALAMIINA WAFSAH LAHU FII
QABRIHI WANAWWIRLAHU FIIH (Ya Allah, ampunilah dosa
Abu Salamah, tinggikanlah derajatnya dalam golongan orang
yang mendapat petunjuk, berilah keturunan yang baik di
belakang hari, ampunilah dosa kami dan dosanya wahai
Tuhan semesta alam, lapangkanlah kuburnya dan terangilah
ia di dalam kuburnya).” (HR. Muslim)
DOA UNTUK MAYAT
1. Dari Ummu Salamah ra., ia berkata: Rasulullah saw.
bersabda: “Apabila kamu datang kepada orang yang sakit
atau orang yang meninggal dunia maka berkatalah yang baikbaik
karena sesungguhnya malaikat mengaminkan apa yang
kamu ucapkan.” Maka ketika Abu Salamah meninggal dunia,
saya datang kepada Nabi saw. dan berkata: “Wahai
Rasulullah, sesungguhnya Abu Salamah telah meninggal
dunia,” Beliau bersabda: “Ucapkanlah ALLAAHUMMAGHFIR LII
WALAHU WA-A’QIBNII MINHU ‘UQBAN HASANAH (Wahai
Allah, ampunilah dosa saya dan dosa Abu Salamah, serta
gantikanlah kepada saya yang lebih baik).” Ummu Salamah
berkata: “Kemudian Allah mengganti kepada saya seseorang
yang lebih baik daripada Abu Salamah yakni Muhammad
saw.” (HR Muslim)
2. Dari Ummu Salamah ra., ia berkata: Saya mendengar
Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang diwaktu
tertimpa musibah mengucapkan: INNA LILLAAHI WA INNA
ILAIHI RAAJI’UUN. ALLAAHUMMA ‘JURNII FII MUSHIIBATII
WA AKHLIF LII KHAIRAN MINHAA (Sesungguhnya kami
adalah milik Allah dan sesungguhnya kami pasti akan kembali
kepada-Nya. Wahai Allah berilah saya pahala dalam musibah
ini dan berilah saya ganti yang lebih baik daripada musibah
yang menimpanya itu.” Ummu Salamah berkata: “Ketika
diajarkan oleh Rasulullah saw., kemudian Allah Ta’ala
memberi ganti kepada saya dengan orang yang lebih baik
daripada Abi Salamah yakni Rasulullah saw.” (HR Muslim)
3. Dari Abu Musa ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:
“Apabila anak seseorang itu meninggal dunia, maka Allah
Ta’ala bertanya kepada malaikat-Nya: “Kamu telah mencabut
nyawa anak hamba-Ku?” Malaikat menjawab: “Ya.” Allah
Ta’ala bertanya lagi: “Kamu telah mencabut nyawa anak buah
hatinya?” Malaikat menjawab: “Ya.” Allah berfirman: “Maka
apa yang diucapkan oleh hamba-Ku itu?” Malaikat menjawab:
“Ia memuji kepada-Mu dan mengucapkan INNALILLAAHI WA
INNAA ILAIHI RAAJI”UUN.” Kemudian Allah Ta’ala berfirman:
“Bangunlah untuk hamba-Ku sebuah rumah di dalam surga,
dan namakanlah rumah itu dengan nama Baitul hamdi
(Rumah pujian) (HR. Turmudzi)
4. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:
“Allah Ta’ala berfirman: Aku tidak akan memberi balasan
kepada hamba-Ku yang mukmin apabila Aku mengambil
kekasihnya di dunia ini, kemudian ia ridha dan menghadapkan
pahala kepada-Ku melainkan balasan surga.” (HR. Bukhari)
5. Dari Usamah bin Zaid ra., ia berkata: “Salah seorang putri
Nabi saw. mengutus seseorang untuk mengundang dan
memberi tahu kepada beliau bahwa anak putri Nabi itu akan
meninggal dunia, kemudian beliau bersabda kepada utusan
itu: “Kembalilah kamu kepada putriku dan katakanlah
kepadanya bahwa menjadi hak Allah untuk mengambil dan
memberi sesuatu. Segala sesuatu itu ada batas yang telah
ditentukan oleh-Nya, maka suruhlah ia supaya bersabar dan
mengharapkan pahala kepada-Nya.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
BOLEH MENANGISI MAYAT SELAMA TIDAK
KETERLALUAN
1. Dari Ibnu Umar ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersama
Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash dan Abdullah
bin Mas’ud ra. melayat Sa’ad bin ‘Ubadah, kemudian beliau
menangisi. Ketika para sahabat melihat Rasulullah saw., maka
mereka pun menangis. Rasulullah saw. lantas bersabda:
“Tidakkah kamu sekalian mau mendengar? Sesungguhnya
Allah itu tidak menyiksa seseorang karena linangan air mata
dan tidak pula karena kesedihan hati, tetapi Allah menyiksa
atau mengasihi seseorang itu karena ini,” beliau menunjuk
kepada lidahnya. (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Usamah bin Zaid ra. bahwasanya ketika cucu Rasulullah
saw. yang hampir meninggal dunia diserahkan kepadanya,
maka kedua mata beliau mencucurkan air mata. Kemudian
Sa’ad bertanya kepada beliau: “Wahai Rasulullah, mengapa
Engkau bersikap demikian?” beliau menjawab: “Ini adalah
suatu rahmat yang Allah limpahkan ke dalam hati hambahamba-
Nya, dan sesungguhnya Allah akan mengasihi hambahamba-
Nya yang mempunyai belas kasihan.” (HR. Bukhari
dan Muslim)
3. Dari Anas bahwasanya ketika Rasulullah saw. masuk ke
kamar putranya Ibrahim ra. yang sedang menghembuskan
nafasnya yang terakhir, maka kedua mata Rasulullah saw.
mencucurkan air mata. Kemudian Abdurrahman bin ‘Auf
bertanya kepada beliau: “Engkau juga menangis wahai
Rasulullah?” Beliau menjawab: “Wahai ibnu ‘Auf,
sesungguhnya ini adalah suatu rahmat, tetapi kemudian
diikuti dengan ketentuan lain.” Beliau bersabda pula:
“Sesungguhnya meski mata berlinang dan hati merasa sedih,
tetapi kami tidak boleh mengucapkan sesuatu kecuali apa
yang diridhai oleh Tuhan. Dan sungguh saya merasa sedih
karena harus berpisah denganmu wahai Ibrahim.” (HR.
Bukhari)
MENYEMBUNYIKAN RAHASIA MAYAT
1. Dari Abu rafi’ Aslam pelayan Rasulullah saw. bahwasanya
Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang memandikan
mayat kemudian ia menyembunyikan rahasianya (mayat)
maka Allah mengampunkan baginya empat puluh kali.” (HR.
Al-Hakim)
MENYALATKAN, MENGANTAR DAN
MENYAKSIKAN PENGUBURAN JENAZAH
1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda:
“Barangsiapa yang menyaksikan (menghadiri) jenazah sampai
disalatkan, maka ia memperoleh pahala satu qirath, dan
barangsiapa yang menyaksikan (menghadirinya) sampai
jenazah itu dikuburkan, maka ia memperoleh pahala dua
qirath.” Ada seorang bertanya: “Apakah dua qirath itu?”
Beliau menjawab: “Sebesar dua gunung yang besar.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:
“Barangsiapa yang menghantar jenazah seorang muslim
dengan penuh keimanan dan hanya mengharapkan pahala
dari Allah serta ia terus menungguinya sampai jenazah itu
disalatkan, dan selesai dikuburkan, maka ia pulang dengan
membawa pahala dua qirath; setiap qirath menyerupai
gunung Uhud. Dan berangsiapa yang pulang hanya sampai
jenazah itu disalatkan dan tidak menyaksikan penguburannya,
maka ia pulang dengan membawa pahala satu qirath.” (HR.
Bukhari)
3. Dari Ummu Athiyah ra., ia berkata: “Kami (orang-orang
perempuan) dilarang untuk menghantar jenazah, tetapi tidak
diharamkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
SUNNAT MEMPERBANYAK JAMAAH DALAM
SALAT JENAZAH
1. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Setiap
mayat yang disalatkan oleh orang muslim yang jumlahnya
mencapai seratus orang, dimana kesemuanya memintakan
syafaat untuknya, niscaya mayat itu akan memperoleh
manfaat.” (HR. Muslim)
2. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah
saw. bersabda: “Setiap orang muslim yang meninggal dunia,
kemudian jenazahnya disalatkan oleh empat puluh orang
yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun,
niscaya Allah menerima syafaat mereka itu.” (HR. Muslim)
3. Dari Martsad bin Abdullah Al Yazanniy, ia berkata: “Apabila
Malik bin Hubairah ra. menyalatkan jenazah dan orang yang
akan menyalatkannya itu sedikit, maka ia membaginya
menjadi tiga bagian, kemudian ia berkata: Rasulullah saw.
bersabda: “Barangsiapa yang disalatkan oleh tiga shaf (baris),
maka ia dapat dipastikan untuk diampunia dosanya.” (HR.
Abu Dawud dan Turmudzi)
DOA DALAM SALAT JENAZAH
Salat Jenazah terdiri dari empat kali takbir. Sesungguhnya takbir
pertama membaca ta’awud (A’UDZU BILLAHI MINASYSYAITHAANIR
RAJIIM) dan surat Al Fatihah. Sesudah takbir kedua membaca
salawat atas Nabi saw. (ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA AALI
MUHAMMAD). Salawat yang lebih lengkap dan utama ditambah
dengan: KAMAA SHAALLAITA ‘ALAA IBRAHIIMA WA’ALAA AALI
IBRAHIM, WABAARIK ‘ALA MUHAMMAD WA’ALA AALI MUHAMMAD
KAMA BARAKTA ‘ALAA IBRAHIIMA WA’ALAA AALI IBRAHIM FIL
‘ALAMIINA INNAKA HAMIIDUM MAJIID.” Sesudah takbir yang ketiga
membaca doa untuk mayat dan umat Islam, sebagaimana yang
akan kami jelaskan di dalam hadis-hadis di bawah ini. Sesudah
takbir yang keempat membaca doa yang berbunyi: ALLAHUMMA
LAA TAHRIMNAA AJRAHU WALAA TAFTIINAA BA’DAHU WAGHFIR
LANAA WALAHU.
1. Dari Abu Abdurrahman Auf bin Malik ra., ia berkata:
“Rasulullah saw. menyalatkan jenazah, kemudian saya
menghafalkan doa yang beliau baca, yaitu:
ALLAAHUMMAGHFIRLAHU WARHAMHU WA’AAFIHI WA’FU
‘ANHU WA-AKRIM NUZULAHU WAWASSI’MADKHALAHU
WAGHSILHU BIL MAA-I WATSTSALJI WAL BARADI
WANAQQIHI MINAL KHATHAAYA KAMAA NAQQAITA TSAUBAL
ABYADLA MINADDANASI WA-ABDILHU DAARAN KHAIRAN MIN
DAARIHI WA-AHLAN KHAIRAN AHLIHI WAZAUJAN KHAIRAN
MIN ZAUJIHI WA-ADKHILHUL JANNATA WA-A’IDZHU
MIN’ADZAABIL QABRI WAMIN ‘ADZAABINNAR (Ya Allah,
semoga berkenanlah Engkau mengampuninya,
merahmatinya, menyejahterakannya, memaafkan dosanya,
memuliakan kedatangannya, meluaskan tempatnya, dan
basuhlah dengan air, salju dan air embun. Bersihkanlah dari
kesalahan, sebagaimana Engkau bersihkan pakaian putih dari
kotoran. Berikan kepadanya tempat yang lebih baik dari
rumahnya, dan keluarga yang lebih baik dari keluarganya dan
istri yang lebih baik dari istrinya. Dan masukkanlah ke dalam
surga dan lindungilah ia dari siksa kubur dan siksa neraka.”
Abu Abdurrahman berkata: “Sampai-sampai saya mengharapharap,
seandainya sayalah yang mati itu.” (HR. Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra., Qatadah dan Abu Ibrahim Al Asyhaliy
dari ayahnya, sedangkan ayahnya termasuk sahabat ra. dari
Nabi saw., bahwasannya apabila beliau menyalatkan jenazah,
beliau berdoa: ALLAHUMMAGHFIR LIHAYYINAA
WAMAYYITINAA WASHAGHIIRINAA WAKABIIRINAA
WADZAKARINAA WA UNTSAANAA WASYAAHIDINAA WAGHAAIBINAA
ALLAAHUMMA MAN AHYAITAHU MINNAA FA AHYIHII
‘ALAA ISLAAMI WAMAN TAFFAITAHUU MINNAA FATAWAFFAHU
‘ALAL IIMAN. ALLAHUMMA LAA TAHRIMNAA AJRAHU WALAA
TAFTINNA BA’DAHU (Ya Allah, ampunilah kami yang masih
hidup dan yang sudah mati, yang kecil dan yang besar, yang
laki-laki dan perempuan, yang hadir maupun yang tidak hadir.
Ya Allah, barangsiapa yang Engkau hidupkan di antara kami
maka hidupkanlah ia dengan menetapi agama Islam, dan
barangsiapa yang Engkau wafatkan di antara kami maka
wafatkanlah ia dalam keadaan beriman. Ya Allah, janganlah
Engkau menghalangi kami dalam mendapat pahalanya dan
janganlah Engkau mendatangkan fitnah kepada kami
sepeninggalnya.” (HR. Turmudzi dan Abu Dawud)
3. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah
saw. bersabda: “Apabila kamu sekalian menyalatkan mayat,
maka hendaklah kamu benar-benar ikhlas di dalam berdoa
untuknya.” (HR. Abu Dawud)
4. Dari Abu Hurairah ra. Ketika salat jenazah, Nabi saw. berdoa:
“ALLAHUMMA ANTA RABBUHAA WA ANTA KHALAQTAHAA WA
ANTA HADAITAHAA LIL ISLAAMI WA ANTA QABADHTA
RUUHAHAA WA ANTA A’LAMU BISIRRIHAA
WA’ALAANIYATIHAA JI’NA SYUUFA’AA-ALAHU FAGHFIRLAHU
(Ya Allah, Engkaulah Tuhannya, Engkau yang
menciptakannya, Engkaulah yang menunjukkannya kepada
Islam, Engkaulah yang mengambil nyawanya, dan Engkaulah
yang lebih mengetahui tentang apa yang tersembunyi dan
apa yang jelas daripadanya. Kami datang untuk memintakan
syafaat kepadanya maka ampunilah ia).” (HR Abu Dawud)
5. Dari Watsilah bin Al Asqa’ ra., ia berkata: “Kami menyalati
mayat salah seorang muslim bersama dengan Rasulullah saw.
dimana saya mendengar Rasulullah saw. berdoa:
ALLAAHUMMA INNA FULAANABNA FULAANIN FII DZIMMATIKA
WA HABLI JIWAARIKA FAQIHI MIN FITNATIL QABRI
WA’ADZAABIHI WA-ANTA AHLUL WAFAA-I WALHAMDI.
ALLAAHUMMA FAGHFIR LAHU WARHAMHU INNAKA ANTAL
GAHFUURUR RAHIIM (Ya Allah, sesungguhunya Fulan bin
Fulan berada dalam tanggungan-Mu dan tali perlindungan-Mu,
maka hindarkanlah ia dari fitnah dan sikasaan kubur. Engkau
adalah zat yang menepati janji dan terpuji. Ya Allah, ampuni
ia dan kasihanilah ia, sesungguhnya Engkau adalah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang).” (HR. Abu Dawud)
6. Dari Abdullah bin Auf ra. bahwasanya ia menyalatkan mayat
putrinya, dimana ia bertakbir empat kali. Setelah takbir,
untuk memohonkan bagi mayat itu dan berdoa, kemudian ia
berkata: “Rasulullah saw. berbuat seperti ini.” Dalam riwayat
yang lain dikatakan: “Setelah ia melakukan takbir yang
keempat, ia berhenti sejenak sehingga kami menyangka
bahwa ia akan melakukan takbir yang kelima, kemudian ia
salam ke kanan dan ke kiri. Setelah selesai kami bertanya
kepadanya: “Mengapa berbuat demikian?” ia menjawab:
“Sungguh saya tidak menambah sesuatu apa pun dari apa
yang telah saya lihat dari perbuatan Rasulullah saw. atau ia
berkata: “Demikianlah apa yang diperbuat oleh Rasulullah
saw.” (HR. Hakim)
MEMPERCEPAT PENGUBURAN JENAZAH
1. Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw., beliau bersabda:
“Segeralah kamu mengubur jenazah! Karena, jika jenazah itu
orang saleh, berarti kalian mempercepatnya kepada kebaikan.
Dan kalau jenazah itu tidak demikian (tidak baik), berarti
kalian telah meletakkan kejelekan kepada pundak kalian.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dan di dalam riwayat yang lain dikatakan: “Maka sebaiknya
kamu segera mengantarkan, agar ia lekas memperoleh balasan.”
2. Dari Abu Sa’id Al Khudriy ra., ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda: “Apabila jenazah telah diletakkan dan diangkat
pada pundak mereka, maka apabila jenazah itu orang yang
saleh, ia berkata: “Cepat antarkan aku.” Tetapi apabila
jenazah itu bukan orang yang saleh, ia berkata kepada
keluarganya: “Aduh celaka, akan dibawa kemana aku ini?”
Segala sesuatu selain manusia mendengar apa yang
dikatakan oleh jenazah itu, seandainya manusia
mendengarnya, pasti ia akan pingsan.” (HR. Bukhari)
SEGERA MELUNASI UTANG MAYAT
1. Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw., beliau bersabda: “Jiwa
seorang mukmin itu tergantung dengan utangnya sampai
utang itu dilunasi.” (HR. Turmudzi)
2. Dari Hushain bin Wahwah ra. bahwasannya ketika Thalhah bin
Al Barra’ ra. sakit, Nabi saw. datang menjenguknya dan
bersabda: “Saya berpendapat bahwa Thalhah akan segera
mati, apabila ia mati segera beritahukan kepadaku dan
segeralah dikubur karena tidak pantas jenazah seorang
muslim ditahan ditengah-tengah keluarganya.” (HR. Abu
Dawud)
NASIHAT DI MAKAM
1. Dari Ali ra., ia berkata: “Pada waktu kamu mengantarkan
jenazah di Baqi’, Rasulullah saw. mendekati kami lantas
duduk, maka kami pun duduk di sekelilingnya. Beliau
memegang tongkat kecil, sambil menekankan tongkatnya ke
tanah beliau bersabda: “Tidak ada seorang pun di antara
kamu sekalian melainkan ia telah ditentukan tempatnya di
neraka ataukah di surga.” Para sahabat bertanya: “Wahai
Rasulullah, apakah kita diperbolehkan hanya tawakkal saja
pada ketentuan iu?” Beliau menjawab: “Beramallah kamu
sekalian, karena tiap-tiap orang akan dimudahkan kepada apa
yang telah ditentukan baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini masih ada lanjutannya.
MENDOAKAN MAYAT SETELAH DIKUBUR
1. Dari Abu Amr, ada yang memanggilnya dengan Abu Abdullah,
ada juga yang memanggilnya dengan Abu Laila Usman bin
Affan ra., ia berkata: Apabila Nabi saw. telah selesai
menguburkan mayat maka beliau berdiri dan bersabda :
“Mintalah ampun untuk saudaramu dan mohonlah kepada
Allah agar ia diberi ketetapan hati karena sesungguhnya ia
sekarang sedang ditanya.” (HR. Abu Dawud)
2. Dari Amr bin Al Ash ra., ia berkata: “Apabila kamu
menguburkan saya, maka tinggalah di kubur selama kira-kira
tukang jagal menyembelih dan membagi-bagikan dagingnya,
sampai saya merasa agak tenang dan dapat menjawab apa
yang ditanyakan oleh utusan Tuhanku.” (HR. Muslim)
Hadis ini telah disebutkan pada halaman terdahulu dengan lengkap.
Imam Syafi’i rahimahullah berkata: “Dan disunnatkan juga untuk
membacakan ayat-ayat Al Qur’an di kubur itu. Bila mereka
mengkhatamkan Al Qur’an itu adalah lebih baik.”
BERSEDEKAH DAN BERDOA UNTUK ORANG
YANG SUDAH MENINGGAL DUNIA
1. Dari ‘Aisyah ra. bahwasannya ada seorang berkata kepada
Nabi saw.: “Sesungguhnya ibu saya meninggal dunia secara
mendadak, dan saya kira seandainya ibu sempat berbicara,
niscaya ia akan bersedekah, apakah ia akan memperoleh
pahala jika saya bersedekah untuknya?” Beliau menjawab:
“Ya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila seseorang meninggal dunia, maka terputuslah semua
amalnya kecuali tiga macam, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang
dapat diambill manfaatnya, atau anak saleh yang mau
mendoakannya.” (HR. Muslim)
PUJIAN UNTUK ORANG YANG SUDAH
MENINGGAL DUNIA
1. Dari Anas ra., ia berkata: Pada suatu ketika ada jenazah
lewat, kemudian para sahabat memuji atas kebaikan jenazah
itu, maka Nabi SAW bersabda: “Wajib baginya.” Kemudian
pada saat yang lain ada jenazah lewat, kemudian para
sahabat menceritakan kejelekan jenazah itu, maka Nabi SAW
bersabda : “Wajib baginya.” Lantas Umar bin Khathab ra.
bertanya: “Apakah yang wajib baginya itu?” Beliau menjawab
: “Terhadap orang yang kamu puji kebaikannya, maka wajib
baginya surga, dan terhadap orang yang kamu katakan jahat,
maka wajib baginya neraka. Kamu sekalian adalah merupakan
saksi Allah yang ada di muka bumi ini.” HR. Bukhari dan
Muslim)
2. Dari Abu Aswad, ia berkata: ”Saya datang ke Madinah dan
duduk bersama Umar bin Khathab ra., kemudian ada jenazah
lewat, saya memuji kebaikan jenazah itu, maka Umar ra.,
berkata: ”Wajib baginya.” Kemudian lewat lagi jenazah yang
lain dan saya mengatakan kejelekan jenazah itu, maka Umar
berkata: ”Wajib baginya.” Kemudian lewat lagi jenazah yang
ketiga kalinya dan saya mengatakan kejelekan jenazah itu,
maka Umar berkata : ”Wajib baginya.” Abul Aswad bertanya:
”Apakah yang dimaksud dengan wajib baginya wahai Amirul
Mukminin?” Umar menjawab: ”Saya berkata sebagaimana
yang telah disabdakan oleh Nabi saw., yaitu setiap muslim
yang disaksikan baik oleh empat orang, maka Allah
memasukkannya ke surga.” Kami bertanya: ”(Apabila yang
menyaksikan itu) tiga orang?” Ia menjawab: ”Juga tiga
orang.” Kami bertanya lagi: ”(Apabila yang menyaksikan itu)
dua orang ?” Ia menjawab: ”Juga dua orang.” Kemudian saya
tidak menanyakan tentang (bagaimana) seandainya seorang
saja.” (HR. Bukhari)
KEUTAMAAN ORANG YANG KEMATIAN ANAK
KECIL
1. Dari Anas ra., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda : ”Setiap
orang Islam yang kematian tiga anaknya yang berlum sampai
dewasa, maka ia akan dimasukkan ke dalam surga atas
berkat rahmat Allah terhadap anak-anaknya itu.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:
”Tidaklah seseorang di antara umat Islam yang kematian tiga
orang anaknya akan tersentuh api neraka, kecuali hanya
sekedar untuk menepati sumpah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Yang dimaksud dengan ’menepati sumpah’ adalah firman Allah
Ta’ala yang artinya : ”Dan tidak ada seorangpun di antara kamu
sekalian melainkan melewati neraka itu.” Yang dimaksud dengan
’melewati neraka’ adalah melewati sirath yaitu titian yang
dipasang di atas neraka Jahannam. Semoga Allah memberi
keteguhan kepada kita dalam melewati titian itu.
3. Dari Abu Sa’id Al Khudriy ra., ia berkata: Ada seorang
perempuan datang kepada Rasulullah saw. dan berkata
:”Wahai Rasulullah, banyak orang yang telah memperoleh
hadis dari engkau, maka berilah kami kesempatan suatu hari
yang mana kami akan datang dan disitu sudilah kiranya
engkau mengajarkan kepada kami, tentang apa yang telah
Allah ajarkan kepadamu.” Beliau bersabda :”Kumpullah kamu
sekalian pada hari anu dan hari anu.” Maka berkumpullah
mereka pada hari yang telah ditentukan, dan Nabi saw.
mendatangi mereka serta mengajarkan apa yang telah
diajarkan oleh Allah, dimana beliau bersabda :”Tiada seorang
perempuan pun yang kematian tiga anaknya melainkan
mereka menjadi tirai bagi perempuan itu.” Kemudian ada
seorang perempuan bertanya :”Juga dua orang anak (juga
akan menjadi tirai).” Rasulullah SAW bersabda ”Dan juga dua
orang anak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
MENANGIS APABILA MELEWATI KUBUR ORANGORANG
YANG ZALIM
1. Dari Ibnu Umar ra. bahwasannya Rasulullah SAW bersabda
kepada para sahabatnya, yaitu ketika mereka sampai di Al-
Hijr (perkumpulan kaum Tsamud) :”Janganlah kamu
memasuki daerah orang-orang yang disiksa itu, melainkan
kamu harus menangis. Apabila kamu tidak mau menangis
maka janganlah kamu masuk daerah mereka, niscaya kamu
tidak akan tertimpa apa yang menimpa mereka.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Dan di dalam riwayat yang lain dikatakan : Ketika Rasulullah saw.
akan melewati Al Hijr, beliau bersabda :”Janganlah kamu sekalian
masuk daerah orang-orang yang menzalimi (menganiaya) dirinya
sendiri, melainkan kamu harus menangis agar kamu tidak tertimpa
apa yang menimpa mereka.” Kemudian beliau menundukkan kepala
dan mempercepat langkahnya sehingga beliau melewati lembah Hijr
itu.”
SUNNAT BEPERGIAN PADA HARI KAMIS DAN
PAGI HARI
1. Dari Ka’ab bin Malik ra. bahwasannya Nabi saw. keluar untuk
perang Tabuk pada hari Kamis dan beliau memang suka
keluar (bepergian) pada hari Kamis.“ (HR. Bukhari dan
Muslim)
Dan di dalam riwayat yang lain dikatakan :”Jarang sekali Rasulullah
saw. keluar (bepergian) kecuali pada hari Kamis.”
2. Dari Shakher bin Wad’ah Al Ghamidiy Ash Shahabiy ra.
Bahwasannya Rasulullah SAW berdoa :” ALLAAHUMMA
BAARIK LI UMMATII FII BUKUURIHAA (Ya Allah, berkahilah
umatku pada pagi harinya).” Dan apabila beliau mengutus
(melepas) pasukan, maka beliau mengutus mereka pada pagi
hari. Shakher adalah seorang pedagang, maka ia
mengirimkan barang dagangannya pada pagi hari, kemudian
ia menjadi kaya dan banyak hartanya.” (HR. Abu Dawud dan
Turmudzi)
SUNNAT MEMBENTUK ROMBONGAN DAN
MENGANGKAT PEMIMPIN ROMBONGAN
1. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
”Seandainya manusia tahu (bahayanya bepergian) seorang
diri sebagaimana yang telah aku ketahui, niscaya tidak akan
ada seorangpun yang berjalan sendirian pada waktu malam.”
(HR. Bukhari)
2. Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya ra., ia
berkata : Rasulullah SAW bersabda : ”Orang yang bepergian
sendirian itu bagaikan satu setan, dua orang yang bepergian
itu bagaikan dua setan, tiga orang yang bepergian itu adalah
rombongan.” (HR. Abu Dawud, Turmudzi dan Nasa’i)
3. Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah
SAW bersabda :”Apabila ada tiga orang bepergian hendaklah
mereka memilih salah seorang di antara mereka untuk
menjadi pemimpin rombongan.” (HR. Abu Dawud)
4. Dari Ibnu Abbas ra. Dari Nabi saw., beliau bersabda :”Sebaikbaik
kawan adalah empat orang, sebaik-baik pasukan adalah
empat ratus dan sebaik-baik bala tentara adalah empat ribu
orang dan tidak akan dapat dikalahkan oleh dua belas ribu
orang karena dianggap sedikit.” (HR. Abu Dawud dan
Turmudzi)
TATA CARA BEPERGIAN
1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda:
”Apabila kamu sekalian sedang bepergian dan melewati tanah
subur, maka berilah kesempatan kepada unta untuk
memakan rumputnya. Dan apabila kamu sekalian sedang
bepergian dan melewati tanah yang tandus, maka percepatlah
di dalam berjalan dan kejarlah jangan sampai unta itu
kehabisan tenaga. Apabila kamu sekalian berhenti pada waktu
malam, maka janganlah berhenti (mendirikan kemah) di
tengah jalan karena sesungguhnya itu adalah jalan binatang
dan tempat yang sangat berbahaya pada waktu malam.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Qatadah ra., ia berkata: Apabila Rasulullah SAW
berada dalam perjalanan dan berhenti pada waktu malam,
maka beliau tidur pada pinggang kanannya, dan apabila
berhenti sudah menjelang Subuh, maka beliau menegakkan
lengannya dan meletakkan kepala pada telapak kanannya.”
(HR. Bukhari)
Para Ulama’ berkata :”Beliau menegakkan lengannya supaya beliau
tidak lelap di dalam tidur yang dapat menyebabkan terlambat salat
Subuhnya atau tidak bisa mengerjakan salat Subuh pada awal
waktunya.”
3. Dari Anas ra., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: ”Kamu
sekalian hendaklah bepergian pada waktu malam, karena
seolah-olah bumi itu terlipat pada waktu malam. (HR. Abu
Dawud)
4. Dari Abu Tsa’labah Al Khusyanniy ra., ia berkata :”Apabila
orang-orang berhenti di dalam perjalanan, mereka
berkelompok-kelompok dan berada pada lembah yang
berbeda-beda. Kemudian Rasulullah SAW bersabda
:”Sesungguhnya terpisah-pisahnya kamu sekalian dalam
kelompok dan lembah yang berbeda-beda adalah ajaran dari
setan.” Maka sejak itu apabila mereka berhenti dalam
perjalanan, kelompok yang satu akan berkumpul dengan
kelompok yang lain.” (HR. Abu Dawud)
5. Dari Sahal bin Amr, ada yang memanggilnya dengan Sahal
bin Amr Rabi’ bin Amr Al Anshariy yang terkenal dengan
sebutan Ibnu Hanzhalah, ia termasuk sahabat yang
mengadakan Bai’atur Ridwan ra., ia berkata: “Suatu ketika
Rasulullah SAW berjalan dan melewati seekor unta yang
punggungnya lengket dengan perut (kurus), kemudian beliau
bersabda :”Takutlah kamu kepada Allah terhadap binatang
yang bisu ini. Kendarailah ia dengan cara yang baik dan
berilah ia makan dengan cara yang baik pula.” (HR. Abu
Dawud)
6. Dari Abu Ja’far Abdullah bin Ja’far ra., ia berkata : Pada suatu
hari Rasulullah saw. Mengajak saya membonceng di
belakangnya dan menyampaikan rahasia kepada saya, yang
rahasia itu tidak akan saya sampaikan kepada siapapun. Dan
jika Rasulullah saw. menunaikan hajat beliau suka
menutupinya dengan tonggak atau berdinding dengan pohon
kurma.” (HR. Muslim)
Dan di dalam riwayat yang lain terdapat tambahan :”Beliau pernah
ke kebun seorang sahabat Anshar dan disitu terdapat seekor unta.
Ketika unta itu melihat Nabi saw. terus merintih dan mencucurkan
air mata. Kemudian Nabi saw. mendengar serta mengusap
punggung dan kedua telinganya, maka unta itu diam. Beliau lantas
bertanya :”Siapakah pemilik unta ini?”,” Siapakah yang mempunyai
unta ini?” Maka datanglah seorang pemuda Anshar dan berkata:
”Ini unta saya wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: ”Apakah kamu
tidak takut kepada Allah terhadap binatang yang telah diberikan
Allah untuk kamu, sesungguhnya unta itu mengadu kepadaku
bahwa kamu melaparkan dan melelahkannya.” (HR. Abu Dawud,
seperti yang diriwayatkan oleh Al Barqaniy)
7. Dari Anas ra., ia berkata :”Apabila kami berhenti dalam
bepergian, kami tidak melakukan salat sunnat lebih dulu
sebelum melepaskan tali kekang binatang yang kami
kendarai.” (HR. Abu Dawud)
MEMBANTU KAWAN
1. Dari Abu Sa’id Al Khudriy ra., ia berkata : Pada suatu ketika
kami sedang bepergian, tiba-tiba ada seorang laki-laki datang
dengan naik kendaraan dimana ia menoleh ke kanan dan ke
kiri, kemudian Rasulullah SAW bersabda: “barangsiapa yang
mempunyai kelebihan kendaraan hendaklah ia memberikan
kepada yang tidak mempunyainya. Barangsiapa yang
mempunyai bekal lebih, maka hendaklah ia memberikan
kepada orang yang tidak mempunyainya. Beliau menyebutkan
macam-macam harta dengan nada seperti itu, sehingga kami
sadar bahwa sesungguhnya tidaklah pantas salah seorang di
antara kami mempunyai kelebihan harta.”(HR. Muslim)
2. Dari Jabir ra. dari Rasulullah saw., bahwasannya apabila
beliau hendak berangkat perang, beliau bersabda :”Wahai
para sahabat Muhajirin dan Anshar sesungguhnya ada
sebagian orang di antara saudara-saudaramu yang tidak
memiliki harta dan keluarga, maka dari itu hendaklah salah
seorang di antara kamu sekalian menggabungkan dua atau
tiga orang dengannya.” Kemudian tidak ada salah seorang di
antara kami melainkan ia bergantian kendaraan dengan orang
yang digabungkannya. Jabir berkata :”Saya menggabungkan
dua atau tiga orang dengan saya, dan kesempatan untuk
mengendarai unta saya bagi rata antara saya dan
mereka.”(HR. Abu Dawud)
3. Dari Jabir ra., ia berkata :”Rasulullah saw. apabila berada
dalam perjalanan, beliau biasa di belakang; dimana beliau
memberi pertolongan kepada orang yang lemah serta
membonceng dan mengajaknya.”(HR. Abu Dawud)
DO’A AKAN BEPERGIAN DENGAN NAIK
KENDARAAN
1. Dari Ibnu Umar ra. bahwasannya apabila Rasulullah saw.
menaiki untanya untuk keluar bepergian, beliau mengucapkan
takbir tiga kali dan berdoa: SUBHAANALLADZII
SAHKHARALANAA HAADZAA WAMAA KUNNAA LAHUU
MUQRINIINA WA INNAA ILAA RABBINAA LAMUNQALIBUUN.
ALLAHUMMA INNA NAS-ALUKA FII SAFARINA HAADZAL BIRRA
WATTAQWAA WAMINAL ‘AMALI MAA TARDLAA. ALLAAHUMMA
HAWWIN ‘ALINAA SAFARANA HADZA WATHWI ‘ANNA
BU’DAHU. ALLAAHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MIN WA’TSAAIS
SAFARI WAKA-AABATIL MANZHARI WA SUU-IL
MUNQALABI FIL MAALI WAL AHLI (Maha Suci Tuhan yang
telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami
sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya
kami akan kembali kepada Tuhan kami. Ya Allah,
sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan, takwa
dan amal yang Engkau ridhai dalam kepergian kami ini. Ya
Allah, mudahkanlah segala urusan dalam kepergian kami ini
dan pendekkanlah jarak dari jauhnya kepergian dan
pengganti bagi keluarga yang kami tinggalkan. Ya Allah
sesungguhnya saya berlindung diri kepada-Mu dari kesukaran
dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan dan
jeleknya kembali, baik bagi harta maupun keluarga kami).
Dan apabila Rasulullah saw. hendak pulang, beliau juga
membaca doa tersebut dengan diberi tambahan : AAYIBUUNA
TAA’IBUUNA’AABUDUUNA LIRABBINAA HAAMIDUUN (Kami
adalah orang yang siap untuk pulang, kami adalah orang yang
bertobat, beribadah dan memuji kepada Tuhan kami).” (HR.
Muslim)
2. Dari Abdullah bin Sarjis ra., ia berkata : Apabila Rasulullah
saw. hendak bepergian, beliau berlindung diri kepada Allah
dari kesukaran dalam bepergian, pulang yang menyedihkan,
keraguan setelah adanya kemantapan, doanya orang yang
teraniaya dan jeleknya pemandangan pada keluarga dan
harta.” (HR. Muslim)
3. Dari Ali bin Rabi’ah, ia berkata: Saya telah menyaksikan Ali
bin Abu Thalib ra. Diberi binatang untuk dikendarainya,
dimana ketika meletakkan kakinya pada binatang itu ia
membaca : BISMILLAAH, dan ketika telah duduk di atas
punggungnya ia membaca : ALHAMDU LILLAAHIL LADZI
SAKHKHARA LANAA HAADZA WAMAA KUNNA LAHU
MUQRINIINA WA INNAA ILAA RABBINAA LAMUNQALIBUUN,”
Kemudian ia membaca : ALHAMDU LILLAAH tiga kali,
membaca ALLAAHU AKBAR tiga kali, dan membaca
SUBHAANAKA INNI ZHALAMTU NAFSII FAGHFIRLII INNAHU
LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA, kemudian ia
tertawa. Ada seseorang bertanya : Wahai Amirul Mukminin
mengapa engkau tertawa ? Ia menjawab : Saya melihat Nabi
SAW berbuat seperti apa yang saya perbuat ini kemudian
beliau tertawa, ketika saya bertanya : wahai Rasulullah
mengapa engkau tertawa? Beliau menjawab: Sesungguhnya
Tuhan Yang Maha Suci itu merasa kagum terhadap hamba-
Nya apabila ia berdo’a : IGHFIR LII DZUNUUBI karena ia
menyadari bahwasannya tidak ada yang dapat mengampuni
dosa-dosa kecuali Aku (Allah).” (HR. Abu Dawud dan
Turmudzi)
SUNNAT MEMBACA TAKBIR DAN TASBIH DI
KALA BEPERGIAN
1. Dari Jabir ra., ia berkata : Apabila kami mendaki kami
membaca takbir dan apabila kami turun kami membaca
tasbih. (HR. Bukhari)
2. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : Apabila Nabi SAW beserta
pasukannya mendaki bukit, mereka membaca takbir dan
apabila turun, mereka membaca tasbih.(HR. Abu Dawud)
3. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : Apabila Nabi saw. kembali
dari ibadah haji atau umrah, kemudian beliau mendaki bukit
atau gundukan pasir maka beliau membaca takbir tiga kali
dan membaca LAA ILAAHA ILLALLAAAHU WAHDAHU LAA
SYARIIKA LAHU LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA
’ALAA KULLI SYAI-IN QADIR, AAYIBUNA ’AABIDUNA
SAJIDUUNA LIRABBINA HAAMIDUUN. SHADADAQALLAHU
WA’DAHU WANASHARA ’ABDAHU WAHAZAMAL AHZAABA
WAHDAH (Tidak ada Tuhan kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada
sekutu bagi-Nya, segala kekuasaan dan segala puji bagi-Nya.
Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kami adalah orang yang
siap untuk pulang, kami adalah orang yang bertobat,
beribadah, bersujud dan memuji kepada Tuhan kami. Semua
janji Allah pasti benar, ia selalu menolong hamba-Nya, dan
mengalahkan musuhnya dengan sendirian).(HR. Bukhari dan
Muslim)
Dan di dalam riwayat yang lain dikatakan :” Apabila beliau kembali
dengan bala tentara dan pasukan atau dari ibadah haji dan umrah”
4. Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya ada seseorang berkata :
”Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya akan bepergian, maka
berilah saya pesan.” Beliau bersabda : ”Kamu hendaklah
senantiasa bertakwa kepada Allah dan membaca takbir setiap
kali mendaki.” Ketika orang itu pergi, beliau berdoa :
”ALLAAHUMMATHWI LAHUL BU’DA WAHAWWIN ’ALAIHIS
SAFAR (Ya Allah perpendeklah baginya jarak yang jauh dan
permudahlah segala urusannya di dalam bepergian)(HR.
Turmudzi)
5. Dari Abu Musa Al Asy’ariy ra., ia berkata :”Kami berjalan
bersama Rasulullah saw. dan apabila kami mendaki maka
kami membaca tahlil dan takbir dengan suara keras,
kemudian Nabi SAW bersabda :”Wahai sekalian manusia,
kasihilah dirimu sendiri karena sesungguhnya kamu sekalian
tidaklah berdoa kepada Zat yang tuli dan tidak pula kepada
Zat yang jauh, sesungguhnya Ia selalu bersamamu, Ia Maha
Mendengar sangat dekat.”(HR. Bukhari dan Muslim)
6. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
”Ada tiga macam doa yang tidak diragukan lagi
keampuhannya, yaitu doanya orang yang teraniaya, orang
yang sedang dalam bepergian dan doa orang tua terhadap
anaknya.”(HR. Abu Dawud dan Turmudzi)
DOA MENGHILANGKAN RASA TAKUT
1. Dari Khaulah binti Hakim ra., ia berkata : Saya mendengar
Rasulullah SAW bersabda : ”Barangsiapa yang berhenti pada
suatu tempat kemudian ia membaca :
”A’UUDZUBIKALIMATILLAAHI TAAMMATI MIN SYARRI MAA
KHALAQ (Saya berlindung diri dengan kalimat Allah yang
sempurna dari kejahatan yang Ia ciptakan), niscaya ia tidak
akan terganggu oleh sesuatu apapun hingga ia meninggalkan
tempat tersebut.” (HR. Muslim)
Doa Ketika Berhenti Pada Suatu Tempat
1. Dari Abu Musa Al-Asy’ari ra., sesungguhnya Rasulullah saw.,
jika takut terhadap suatu kaum beliau beroda :
”ALLAAHUMMA INNAA NAJ’ALUKA FII NUKHUURIHIM WA
NA’UUDZU BIKA MIN SYURUURIHIM. (Ya Allah, kami jadikan
Engkau pada leher mereka, dan kami berlindung kepada-Mu
dari kejahatan-kejahatan mereka).”(HR. Abu Dawud dan
Nasai dengan Isnad Sahih)
2. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : ”Apabila Rasulullah saw.
sedang dalam bepergian dan menjelang waktu malam, maka
beliau berdoa : YAA ARDLU RABBI WARABBUKILLAAH.
A’UUDZUBIKA MIN SYARRI MAA FIIKI WASYARRI MAA
KHULIQA FIIKI WA SYARRI MAA YADIBBU ’ALAIKI WA
A’UUDZUBIKI MIN SYARRI ASADIN WA ASWADA WA MINAL
HAYYATI WAL ’AQRABI WA MIN SAAKINIL BALADI WA MIN
WAALIDIN WAMAA WALAD. (Hai Bumi, Tuhanku dan Tuhanmu
adalah Allah. Saya berlindung diri kepada Allah dari
kejahatanmu hai bumi, kejahatan yang berada dalam
perutmu, kejahatan makhluk yang berada di perutmu dan
kejahatan binatang melata atasmu. Saya berlindung diri
denganmu dari kejahatan binatang busa, manusia, ular,
kalajengking, segala macam binatang serta Iblis dan
setan).”(HR. Abu Dawud)
SUNNAT KEMBALI BILA URUSAN SELESAI
1. Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah SAW bersabda
: ”Bepergian itu merupakan bagian dari siksa, dimana seorang
harus mengurangi makan, minum, tidurnya. Oleh karena itu
apabila salah seorang diantara kamu sekalian telah selesai
urusannya dalam bepergian, maka hendaklah ia segera
kembali kepada keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
SUNNAT DATANG KEPADA KELUARGA PADA
WAKTU SIANG
1. Dari Jabir ra. bahwasannya Rasulullah SAW bersabda :
”Apabila salah seorang diantara kamu sekalian bepergian
dalam waktu yang cukup lama, maka janganlah ia mengetuk
pintu pada keluarganya pada waktu malam.”
Dan didalam riwayat lain dikatakan :”Bahwasannya Rasulullah saw.
melarang seseorang untuk mengetuk pintu pada keluarganya pada
waktu malam.”(HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Anas ra., ia berkata : ”Rasulullah saw. Tidak pernah
mengetuk pintu pada keluarganya pada waktu malam. Beliau
biasanya datang kepada mereka pada waktu pagi dan
sore.”(HR. Bukhari dan Muslim)
DOA PULANG DARI BEPERGIAN
1. Dari Anas ra., ia berkata :”Kami kembali bersama Nabi saw.,
ketika kami telah sampai melihat Madinah, beliau membaca :
AYYIBUUNA TAA-IBUUNA’AABIDUUNA LIRABBINA HAAMIDUN
(Kami adalah orang yang siap pulang, kami adalah orang
yang bertobat, beribadah dan memuji kepada Tuhan kami).
Beliau senantiasa membaca doa itu sehingga kami sampai di
Madinah.”(HR. Muslim)
SUNNAT KE MASJID DAN SALAT DUA RAKAAT
KETIKA DATANG DARI BEPERGIAN
1. Dari Ka’ab bin Malik ra. bahwasannya Rasulullah saw. datang
dari bepergian, beliau langsung ke masjid dan salat dua
rakaat di dalamnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)
HARAM PEREMPUAN PERGI SENDIRIAN
1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
”Tidak halal bagi seorang perempuan yang beriman kepada
Allah dan hari akhir untuk bepergian yang memakan waktu
sehari semalam kecuali bersama muhrimnya.”(HR. Bukhari
dan Muslim)
2. Dari Ibnu Abbar ra. bahwasannya ia mendengar Rasulullah
SAW bersabda :”Janganlah sekali-kali seorang laki-laki
melepas seorang perempuan kecuali dengan muhrimnya.”
Ada seorang laki-laki bertanya : wahai Rasulullah,
sesungguhnya istriku pergi untuk haji, saya telah tercatat
untuk ikut dalam peperangan ini dan itu.” Beliau bersabda
:”Pergilah kamu dan berhajilah bersama istrimu.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR’AN
1. Dari Abu Umamah ra., ia berkata : Saya mendengar
Rasulullah SAW bersabda : ”Bacalah Al Qur’an! Karena
sesungguhnya Al Qur’an itu akan datang pada hari kiamat
sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya (yang berpegang
pada petunjuk-petunjuknya).”(HR. Muslim)
2. Dari An Nawwas bin Sam’an ra., ia berkata : Saya mendengar
Rasulullah SAW bersabda: ”Nanti pada hari kiamat akan
didatangkan Al-Qur’an dan ahlinya yang dulu
mengamalkannya di dunia, didahului dengan surat Al Baqarah
dan surat Ali Imran yang keduanya saling berbantah
mengenai ahli mereka masing-masing (Al Baqarah
mengatakan bahwa orang ini adalah orang yang
mengamalkan surat Al Baqarah, begitu pula surat Ali
Imran).”(HR. Muslim)
3. Dari Utsman bin Affan ra., ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda :”Sebaik-baik kaliam adalah orang yang
mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.”(HR. Bukhari)
4. Dari ’Aisyah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
”Orang yang mahir membaca Al-Qur’an, maka nanti akan
berkumpul bersama-sama para malaikat yang mulia lagi taat.
Sedangkan orang yang kesulitan dan berat jika membaca Al-
Qur’an, maka ia mendapatkan dua pahala.”(HR. Bukhari dan
Muslim)
5. Dari Abu Musa Al-Asy’ariy ra., ia berkata : Rasulullah saw.
bersabda : “Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al
Qu’ran seperti buah limau yang harum baunya dan lezat
rasanya. Perumpamaan orang mukmin yang tidak suka
membaca Al Qur’an seperti buah kurma yang tidak berbau
tetapi rasanya manis. Perumpamaan orang munafik yang
membaca Al Qu’ran seperti bunga yang harum baunya tetapi
rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak
membaca Al Qur’an, seperti buah handhalah yang tidak ada
baunya dan rasanya pahit.” (HR.Bukhari dan Muslim)
6. Dari Umar bin Khaththab ra. bahwasanya Nabi saw. bersabda
: “Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat beberapa
kaum dengan Al Kitab (Al Qur’an), dan Ia akan merendahkan
derajat suatu kaum yang lain dengannya.” (HR.Bukhari dan
Muslim)
7. Dari Ibnu Umar ra., dari Nabi saw., beliau bersabda : “Tidak
diperbolehkan iri hati kecuali dalam dua hal, yaitu seseorang
yang diberi kemampuan oleh Allah untuk membaca dan
memahami Al Qur’an kemudian ia mengamalkannya, baik
pada waktu malam maupun siang, dan seseorang yang
dikarunia harta oleh Allah kemudian ia menafkahkannya di
dalam kebaikan, baik pada waktu malam maupun siang.”
(HR.Bukhari dan Muslim)
8. Dari Al Barra’ bin Azib ra., ia berkata : “Ada seorang
membaca surat Al Kahfi dan di dekatnya ada seekor kuda
yang diikat tali pada kanan kirinya, kemudian orang itu
diliputi semacam awan selalu mendekat, sehingga kudanya
akan lari meninggalkan itu. Pada pagi harinya ia datang
kepada Nabi saw. dan menceritakan apa yang baru saja
terjadi, kemudian beliau bersabda : “Itu adalah suatu
ketenangan (rahmat) yang turun karena bacaan Al- Qur’an.”
(HR.Bukhari dan Muslim)
9. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda :
“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah (Al
Qur’an) maka akan memperoleh satu kebaikan. Setiap satu
kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak
mengatakan : ALIF LAAM MIIM itu satu huruf, tetapi ‘alif’ satu
huruf, ‘laam’ satu huruf dan ‘miim’ satu huruf.” (HR.Turmudzi)
10. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata : Rasulullah saw.
bersabda : “Sesungguhnya orang yang di dalam dadanya
tidak ada sedikitpun dari Al Qur’an, maka ia bagaikan rumah
yang kosong.” (HR.Turmudzi)
11. Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra., dari Nabi saw. beliau
bersabda : “Nanti akan diperintahkan kepada orang yang
senang membaca Al Qur’an : Bacalah dengan baik dan tartil
sebagaimana kamu membacanya dengan tartil pada waktu
kamu di dunia. Karena sesungguhnya tempatmu tergantung
pada akhir ayat yang kamu baca.” (HR.Abu Dawud dan
Turmudzi)
SUNNAH MEMBAGUSKAN SUARA DAN
MENDENGARKAN BACAAN AL-QUR’AN
1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Saya mendengar
Rasulullah saw. bersabda : “Allah tidak senang sebagaimana
Nabi juga tidak senang mendengarkan suara merdu dan
keras, selain mendengar orang melagukan bacaan Al-
Qur’an.”(HR.Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Musa Al Asy’ariy bahwasanya Rasulullah saw.
bersabda kepadanya : “Sungguh kamu telah dikaruniai
sebagian dari kebagusan suara keluarga Nabi Daud.”
(HR.Bukhari dan Muslim)
Dan di dalam riwayat Muslim dikatakan, bahwa Rasulullah saw.
bersabda kepada Abu Musa : “Seandainya kamu mengetahui
sewaktu aku mendengar bacaanmu semalam.” Jawab Abu Musa :
“Andaikan saya tahu, tentu saya akan baca lebih merdu lagi
untukmu ya Rasulullah.”
3. Dari Al Barra’ bin Azib ra., ia berkata : saya mendengar
Rasulullah saw. membaca surat WATTIINI WAZZAITUUNI
pada waktu Isra’, saya belum pernah mendengar seorang pun
yang suaranya lebih merdu daripada suara beliau.”
(HR.Bukhari dan Muslim)
4. Dari Abu Lubabah bin Abdul Mudzir ra. bahwasanya Nabi saw.
bersabda : “Barangsiapa yang tidak suka membaguskan
suaranya di waktu membaca Al-Qur’an, maka tidaklah
termasuk golonganku.” (HR.Abu Dawud)
5. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata : Nabi saw. bersabda kepada
saya : “Bacalah Al Qur’an untukku.” Saya berkata : “Wahai
Rasulullah saya harus membacakan Al-Qur’an untuk engkau,
padahal kepada engkaulah Al-Qur’an diturunkan ?” Beliau
bersabda : “Sesungguhnya aku ingin mendengar Al-Qur’an itu
dibaca oleh orang lain.” Maka saya membacakan untuk beliau
surat An-Nisaa’ sehingga sampai pada ayat : FAKAIFA IDZAA
JI’NAA MIN KULLI UMMATIN BISYAHIIDIN WAJI’NAA BIKA
‘ALAA HAA-ULAA-I SYAHIIDAA (Maka bagaimana halnya orang
kafir nanti, apabila Kami mendatangkan seorang saksi dari
tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad)
sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). Kemudian
beliau bersabda : “Cukuplah sampai di sini.” Saya menoleh
kepada beliau, tiba-tiba kedua matanya mencucurkan air
mata.” (HR.Bukhari dan Muslim)
ANJURAN MEMBACA SURAT DAN AYAT-AYAT
TERTENTU
1. Dari Abu Sa’id Rafi’ Al Mu’alla ra., ia berkata : Rasulullah saw.
bersabda kepadaku :”Sukakah aku ajarkan kepadamu surat
yang paling agung dalam Al-Qur’an sebelum kamu keluar dari
masjid ?” Beliau lalu menggandeng tanganku. Ketika kami
hendak keluar kami menagih : “Wahai Rasulullah ! Engkau
tadi berkata : “Tentu aku ajarkan kepadamu surat yang
paling agung dalam Al-Qur’an.” Rasulullah saw. bersabda :
“ALHAMDU LILLAAHI RABBIL ‘AALAMIIN (surat Al Fatihah),
yaitu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Qur’an
terbesar yang diberikan kepadaku.”(HR.Bukhari)
2. Dari Abu Sa’id Al-Khudriy ra., bahwasanya Rasulullah saw.
menceritakan tentang keutamaan surat QUL HUWALLAAHU
AHAD, di mana beliau bersabda : “Demi Zat yang jiwaku
berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya surat itu (Qul
huwallaahu ahad) sebanding dengan sepertiga Al Qur’an.”
Di dalam riwayat lain dikatakan : “Sesungguhnya Rasulullah saw.
bersabda kepada para sahabatnya : “Apakah masing-masing dari
kalian tidak mampu untuk membaca sepertiga Al-Qur’an setiap
malam ?” Para sahabat merasa berat terhadap apa yang disabdakan
oleh beliau, dan mereka berkata : “Wahai Rasulullah, siapakah di
antara kami yang mampu berbuat seperti itu ?” Beliau bersabda :
“QUL HUWALLAAHU AHAD ALLAAHUSH SHAMAD itu adalah
sepertiga Al-Qur’an.”(HR.Bukhari)
Dari Abu Sa’id Al Khudriy ra. bahwasanya ada seseorang yang
mendengar orang lain membaca QUL HUWALLAAHU AHAD
dengan dibaca berulang kali. Pada pagi harinya ia datang kepada
Rasulullah saw. dan menceritakan apa yang baru didengarnya
kepada beliau, dan seakan-akan ia meremehkan kepada
pahalanya. Kemudian Rasulullah saw. bersabda : “Demi Zat yang
jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya surat itu (
Qul huwallaahu ahad) adalah sebanding dengan sepertiga Al
Qur’an.”(HR.Bukhari)
3. Dari Abu Hurairah ra., bahwasanya Rasulullah saw.
menceritakan tentang keutamaan QUL HUWALLAAHU AHAD,
di mana beliau bersabda : “Sesungguhnya QUL HUWALLAAHU
AHAD itu sebanding dengan sepertiga Al Qur’an.”(HR.Muslim)
4. Dari Anas ra. bahwasanya ada seseorang berkata : “Wahai
Rasulullah, sesungguhnya saya sangat suka pada surat QUL
HUWALLAAHU AHAD.” Beliau bersabda : “Sesungguhnya
kecintaanmu terhadap surat itu dapat memasukkanmu ke
dalam surga.”(HR.Turmudzi)
5. Dari Uqbah bin Amir ra., bahwasanya Rasulullah saw.
bersabda : “Tidakkah kamu perhatikan beberapa ayat yang
diturunkan pada malam ini tiada bandingannya sama sekali ?
Yaitu surat QUL A’UUDZU BIRABBIL FALAQ dan QUL A’UUDZU
BIRABBINNAAS.” (HR.Muslim)
6. Dari Abu Sa’id Al Khudriy ra., ia berkata : “Rasulullah saw.
selalu berlindung diri dari gangguan jin dan manusia sehingga
turunlah surat Qul a’uudzu ( Qul a’uudzu birabbil falaq dan qul
a’uudzu birabbinnaas ). Setelah turun dua ayat itu beliau
membacanya dan meninggalkan doa-doa yang lain selain dua
surat tersebut.”(HR.Turmudzi)
7. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda :
“Di dalam Al Qur’an ada sebuah surat yang berisi tiga puluh
ayat yang dapat memberi syafaat kepada seseorang,
sehingga ia dapat diampuni, yaitu ayat TABARAKALLADZII
BIYADIHIL MULKU.”(HR.Abu Dawud dan Turmudzi)
8. Dari Abu Mas’ud Al Badriy ra., dari Nabi saw. beliau bersabda
: “Barangsiapa yang membaca dua ayat dari akhir surat Al
Baqarah pada malam hari niscaya ia telah
tercukupi.”(HR.Bukhari dan Muslim)
Ada yang mengatakan ia telah terjaga dari sesuatu yang tidak
diinginkan pada malam itu.” Ada yang mengatakan : “Ia telah
cukup walaupun ia tidak bangun untuk salat malam.”
9. Dari Abu Hurairah ra., bahwasanya Rasulullah saw. bersabda
: “Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti
kuburan (hanya untuk tidur). Sungguh setan itu lari dari
rumah yang dibacakan surat Al Baqarah.”(HR.Muslim)
10. Dari Ubay bin Ka’ab ra., ia berkata : Rasulullah saw.
bersabda : “Hai Abu Mundzir (Ubay bin Ka’ab) ! Tahukah
kamu ayat apakah dari kitab Allah yang kamu hafal yang
paling agung ?” Saya (Ubay) menjawab : “ALLAAHU LAA
ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QAYYUUM.” Kemudian
Rasulullah saw. menepuk dada saya dan bersabda : “Sungguh
luas pengetahuanmu, wahai Abu Mundzir.” (HR.Muslim)
11. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah saw.
mempercayakan saya untuk menjaga zakat pada bulan
Ramadhan, kemudian ada seorang datang dan mengambil
segenggam makanan, maka orang itu saya pegang dan saya
katakan, “Sungguh kamu akan saya laporkan kepada
Rasulullah saw.” Ia berkata : “Sesungguhnya saya adalah
orang miskin yang mempunyai banyak tanggungan keluarga
yang membutuhkan makanan.” Maka saya melepaskan orang
itu. Pagi harinya Rasulullah saw. bertanya : “Wahai Abu
Hurairah apa yang diperbuat tawananmu tadi malam ?” Saya
menjawab : “Wahai Rasulullah, ia mengeluh sangat
membutuhkan makanan sedangkan ia mempunyai banyak
keluarga, maka saya merasa kasihan kepadanya lantas saya
lepaskan.” Beliau bersabda : “Sesungguhnya ia dusta
kepadamu dan ia akan datang lagi.” Saya percaya bahwa ia
akan datang lagi karena Rasulullah saw. telah mengatakan
hal itu, maka saya jaga benar-benar. Kemudian orang itu
datang lagi dan mengambil segenggam makanan, maka saya
berkata : “Sungguh kamu akan saya laporkan kepada
Rasulullah saw. “ Ia berkata : “Maafkan saya, karena
sesungguhnya saya adalah orang miskin dan mempunyai
tanggungan banyak keluarga, saya tidak akan mengulangi
lagi.” Saya merasa kasihan kepadanya maka saya lepaskan.
Pagi harinya Rasulullah saw. bertanya : “Wahai Abu Hurairah,
apa yang diperbuat oleh tawananmu ?” Saya menjawab :
“Wahai Rasulullah ia mengeluh sangat membutuhkan
makanan sedangkan ia mempunyai banyak keluarga, maka
saya merasa kasihan kepadanya lantas saya lepaskan.” Beliau
bersabda : “Sesungguhnya ia berdusta kepadamu dan ia akan
kembali lagi.” Kemudian saya jaga benar-benar untuk ketiga
kalinya. Tiba-tiba ia datang lagi dengan mengambil
segenggam makanan, maka orang itu saya pegang dan
berkata : “Sungguh kamu akan saya laporkan kepada
Rasulullah saw. Ini adalah perbuatanmu yang ketiga kalinya
di mana kamu berjanji untuk tidak akan mengulangi, tapi
ternyata kamu mengulangi lagi.” Ia berkata : “Maafkan saya,
sesungguhnya saya ingin memberitahukan kepadamu
beberapa kalimat yang mana Allah akan memberi manfaat
kepadamu dengan kalimat itu.” Saya bertanya : “Kalimatkalimat
apakah itu ?” Ia berkata : “Apabila kamu hendak tidur
maka bacalah ayat kursi yang berbunyi : “ALLAAHU LAA
ILAAHA ILLA HUWAL HAYYUL QAYYUUM sampai akhir ayat.
Seandainya kamu membacanya, niscaya Allah selalu memberi
perlindungan dan setan tidak akan datang kepadamu sampai
waktu pagi.” Kemudian ia saya lepaskan. Pagi harinya
Rasulullah saw. bertanya kepada saya : “Apa yang diperbuat
oleh tawananmu pada waktu malam ?” Saya menjawab :
“Wahai Rasulullah, ia memberitahu kepada saya beberapa
kalimat yang mana Allah akan memberi manfaat kepada saya
dengan beberapa kalimat itu, maka ia saya lepaskan.” Beliau
bertanya : “Kalimat-kalimat apakah itu ?” Saya berkata :
“Apabila kamu hendak tidur maka bacalah ayat kursi dari
awal sampai selesai, yaitu ayat : ALLAAHU LAA ILAAHA ILLA
HUWAL HAYYUL QAYYUUM. Niscaya Allah akan selalu
memberi perlindungan kepadamu dan setan tidak akan
datang kepadamu sampai waktu pagi.” Kemudian beliau
bersabda : “Sesungguhnya ia berkata benar kepadamu,
walaupun ia adalah pendusta. Tahukah kamu siapakah yang
datang kepadamu selama tiga malam itu wahai Abu Hurairah
?” Saya menjawab : “Tidak.” Beliau bersabda : :”Itu adalah
setan.”(HR.Bukhari)
12. Dari Abu Darda’ bahwasanya Rasulullah saw. bersabda :
“Barangsiapa yang hafal sepuluh ayat permulaan surat Al
Kahfi, niscaya ia terjaga dari Dajjal.”
Dan di dalam riwayat lain dikatakan : “Dari akhir surat Al
Kahfi.”(HR.Muslim)
13. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata : “Ketika Jibril as. duduk
di hadapan Nabi saw., ia mendengar suara dari atasnya.
Kemudian ia mengangkat kepala dan berkata : “Pintu langit
pada hari ini dibuka di mana sebelumnya tidak pernah
dibuka.” Lalu turunlah malaikat. Jibril berkata : “Ini adalah
malaikat yang turun ke bumi. Ia tidak turun sama sekali
kecuali hari ini.” Malaikat itu mengucap salam dan berkata :
“Bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan
kepadamu, yang tidak diberikan kepada seorang Nabi
sebelumnya, yaitu Fatihatul kitab dan ayat-ayat akhir surat Al
Baqarah. Engkau tidak membaca satu huruf pun dari padanya
kecuali engkau diberinya (diberi apa yang terkandung dalam
ayat-ayat tersebut).” (HR.Muslim)
SUNNAH BERKUMPUL UNTUK MEMBACA DAN
MEMPELAJARI AL QU’RAN
1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda :
“Apabila berkumpul suatu kaum dalam rumah-rumah Allah
(masjid) untuk membaca Al Qur’an dan mempelajarinya,
maka ketenangan pasti akan turun kepada mereka, rahmat
Allah melingkupi mereka, malaikat-malaikat mengelilingi
mereka dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan
makhluk yang ada di dekat-Nya (para malaikat).”(HR.Muslim)
KEUTAMAAN WUDHU
1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Saya mendengar
Rasulullah saw. bersabda : “Sungguh, umatku akan dipanggil
nanti pada hari kiamat dalam keadaan bercahaya di sekitar
wajah, tangan dan kaki, karena bekas wudhu. Karena itu,
barangsiapa di antara kalian sanggup melebihkan basuhan
wudhunya (melebih yang telah difardhukan pada wajah,
tangan dan kaki), maka hendaklah ia berbuat.”(HR.Bukhari
dan Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Saya mendengar
kekasihku Rasulullah saw. bersabda : “Perhiasan orang
mukmin ( di surga) itu sampai, sesuai dengan sampainya
wudhu.”(HR.Muslim)
3. Dari Utsman bin Affan ra., ia berkata : Rasulullah saw.
bersabda : “Barangsiapa berwudhu dan menyempurnakannya,
maka keluarlah semua dosa dari jasadnya, hingga dari bawah
kuku-kukunya.”(HR.Muslim)
4. Dari Utsman bin Affan ra., ia berkata : Saya melihat
Rasulullah saw. berwudhu seperti wudhu saya ini, kemudian
beliau bersabda : “Barangsiapa berwudhu demikian, niscaya
diampuni dosanya yang telah dilakukan sebelumnya. Dan
salatnya serta berjalannya menuju ke masjid mendapat
tambahan pahala.”(HR.Muslim)
5. Dari Abu Hurairah ra., bahwasanya Rasulullah saw. bersabda
: “Apabila seorang hamba muslim dan mukmin berwudhu,
ketika ia membasuh wajah, maka keluarlah dari wajahnya
semua dosa yang telah dilihat dengan kedua matanya
bersama tetesan air yang terakhir ; ketika ia membasuh
kedua tangannya, maka keluarlah dari kedua tangannya
setiap dosa yang disebabkan pukulan tangannya bersama
tetesan air yang terakhir ; apabila ia membasuh kedua
kakinya, maka keluarlah setiap dosa karena perjalanan
kakinya bersama tetesan air yang terakhir; sehingga ia keluar
dalam keadaan bersih dari semua dosa.”(HR.Muslim)
6. Dari Abu Hurairah ra., bahwasanya Rasulullah saw. datang ke
kubur dan mengucapkan : ASSALAMU’ALAIKUM DAARA
QAUMIN MU’MINIINA WA INNA INSYAA ALLAAHU BIKUM
LAAHIQUUN”, aku merasa senang sekali bila dapat melihat
saudara-saudaraku.” Para sahabat bertanya : “Bukan kami ini
saudaramu wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab : “Kamu
sekalian adalah sahabatku. Adapun saudara-saudara kita
adalah orang-orang yang belum datang.” Para sahabat
bertanya : “Bagaimana engkau mengetahui umat yang belum
datang dari umatmu wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab :
“Bagaimana pendapatmu jika seandainya ada seorang yang
mempunyai seekor kuda putih cemerlang berada di tengahtengah
kuda hitam pekat; apakah ia tidak mengetahui
kudanya yang putih cemerlang itu ?” Para sahabat berkata :
“Pasti mengetahui ya Rasulullah.” Beliau bersabda :
“Sesungguhnya saudara-saudara kita itu akan datang dalam
keadaaan putih cemerlang karena wudhu dan aku akan
membimbing mereka ke telaga .”(HR.Muslim)
7. Dari Abu Hurairah ra., bahwasanya Rasulullah saw. bersabda
: “Maukah kalian aku tunjukkan kepada apa yang
menyebabkan Allah menghapus dosa dan meluhurkan derajat
?” Para sahabat menjawab : “Tentu ya Rasulullah !
“Rasulullah bersabda : “Menyempurnakan wudhu pada hal-hal
yang tidak disukai (misalnya pada waktu udara sangat
dingin), dan memperbanyak langkah menuju ke masjid serta
menunggu salat sesudah (sebelumnya). Maka inilah yang
disebut arribath (ikatan jiwa atas perbuatan taat ini), atau
penjagaan garis depan melawan musuh.”(HR.Muslim)
8. Dari Abu Malik Al Asy’ariy ra., ia berkata : “Rasulullah saw.
bersabda : “Membersihkan diri adalah sebagian dari iman
.”(HR.Muslim)
9. Dari Umar bin Khaththab ra., dari Nabi saw. beliau bersabda :
“Tidak seorang pun di antara kalian yang berwudhu dengan
menyempurnakan wudhu kalian, kemudian mengucapkan :
“ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLAALLAAH WAHDAHU LAA
SYARIIKALAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU
WA RASUULUH “ (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain
Allah, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa
Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya), kecuali ia
dibukakan pintu-pintu surga yang ada delapan, yang bisa ia
masuki dari mana pun ia suka.”(HR.Muslim)
Dan di dalam riwayat Turmudzi terdapat tambahan :
“ALLAHUMMAJ’ALNII MINAT TAUWABIINA WAJ’ALNII MINAL
MUTATHAHHIRIIN (Ya Allah, jadikanlah saya termasuk golongan
orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah saya termasuk
golongan orang-orang yang suci).”
KEUTAMAAN ADZAN
1. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda :
“Seandainya orang-orang mengetahui pahala menyambut
adzan dan shaf awal (barisan pertama dekat imam),
kemudian untuk mendapatkannya harus melalui undian, tentu
mereka mau mengadakan undian itu. Andaikata mereka
mengetahui pahala berlomba berangkat salat, niscaya mereka
akan cepat-cepat mendatanginya. Dan seandainya mereka
mengetahui keutamaan salat Isya’ dan Shubuh, tentu mereka
akan segera mendatangi keduanya (berjama’ah), walaupun
dengan merangkak.”(HR.Bukhari dan Muslim)
2. Dari Mu’awiyah ra., ia berkata : “Saya mendengar Rasulullah
saw. bersabda : “Para muadzin adalah manusia yang paling
panjang lehernya, kelak di hari kiamat (orang yang paling
banyak melihat rahmat Allah).”
3. Dari Abdurrahman bin Abu Sha’sha’ah bahwasanya Abu Sa’id
Al Khudriy ra. berkata kepada saya : “Sungguh, saya melihat
kamu menyukai kambing dan padang pasir. Karena itu,
apabila kamu berada di antara kambingmu atau
perkampungan gurun, lalu kamu melakukan adzan untuk
salat, maka perkeraslah suaramu dalam melantukan adzan
itu. Sebab, siapapun yang mendengar sepanjang suara
muadzin dapat didengar baik oleh jin maupun manusia atau
apapun, pasti menjadi saksi bagi muadzin nanti pada hari
kiamat.”(HR.Bukhari)
4. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda :
“Apabila dikumandangkan adzan untuk salat, maka larilah
setan hingga terkentut-kentut, sampai ia tidak mendengar
adzan. Setelah adzan selesai, setan kembali menghadap lagi,
sampai ketika iqamat untuk salat dikumandangkan, setan lari
lagi. Sesudah iqamat selesai, setan kembali datang, sehingga
ia dapat melintas di antara seseorang dengan nafsunya. Ia
membisikkan : “Ingat ini dan ingatlah itu.” Mengingatkan apa
saja yang tadinya tidak ingat, hingga menjadi tidak tahu lagi
berapa rakaat ia salat. “(HR.Bukhari dan Muslim)
5. Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra. bahwasanya ia mendengar
Rasulullah saw. bersabda : “Apabila kalian mendengar adzan,
maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muadzin.
Kemudian bacalah salawat untukku, karena barangsiapa
bersalawat kepadaku sekali, maka Allah memberi rahmat
kepadanya sepuluh kali. Selanjutnya, mintalah wasilah
kepada Allah untukku, sebab wasilah itu merupakan satu
tempat di surga yang hanya layak untuk seorang hamba di
antara para hamba Allah. Dan aku berharap akulah hamba
itu. Maka barangsiapa memintakan wasilah untukku, pasti
mendapat syafaatku.”(HR.Muslim)
6. Dari Abu Sa’id Al Khudriy ra. bahwasanya Rasulullah saw.
bersabda : “Apabila kalian mendengar adzan, maka
ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan oleh
muadzin.”(HR.Bukhari dan Muslim)
7. Dari Jabir ra., bahwasanya Rasululllah saw. bersabda :
“Barangsiapa ketika mendengar adzan mengucapkan :
ALLAAHUMMA RABBA HAADZIHID DA’WATIT TAAMMATI
WASHSHALAATIL QAA-IMATI AATI MUHAMMADANIL
WASHIILATA WAL FADLILAH WAB’ATSHU MAQAAMAN
MAHMUUDAL LADZII WA’ADTAHU (Ya Allah, penguasa
panggilan yang sempurna ini dan salat yang akan ditegakkan,
berilah kepada Muhammad wasilah dan keutamaan dan
dudukkanlah ia pada tempat yang terpuji yang telah Engkau
janjikan), maka tetaplah baginya syafaatku kelak di hari
kiamat.”(HR.Bukhari)
8. Dari Sa’id bin Abu Waqqash ra. dari Nabi saw. bahwasanya
beliau bersabda : “Barangsiapa ketika mendengar adzan lalu
mengucapkan : “ASYHADU ANLAA ILAAHA ILLALLAAH
WAHDAHU LAASYARIIKA LAH WA ANNA MUHAMMADAN
‘ABDUHU WARASUULUH RADLIITU BILLAHI RABBA’ WABI
MUHAMMADIN RASUULAL WABI ISLAAMIDIINA (Aku bersaksi
bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya
dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Aku rela
berTuhankan Allah dan bernabikan Muhammad dan
beragamakan Islam), maka diampunilah
dosanya.”(HR.Muslim)
9. Dari Anas ra., ia berkata : “Rasulullah saw. bersabda : “Doa
(yang diucapkan) antara adzan dan iqamah tidak akan
ditolak.”(HR.Abu Dawud dan Turmudzi)
KEUTAMAAN SALAT
1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Saya mendengar
Rasulullah saw. bersabda : “Bagaimana pendapat kalian,
seandainya ada sebentang sungai di depan pintu salah
seorang di antara kalian, ia mandi dari sungai itu setiap hari
lima kali, apakah masih tersisa kotoran ?” Para sahabat
menjawab : “Tidak.” Rasulullah saw. bersabda : “Maka
demikianlah perumpamaan salat lima waktu. Dengannya Allah
menghapus semua kesalahan (dosa kecil yang berhubungan
dengan Allah Ta’ala).”(HR.Bukhari dan Muslim)
2. Dari Jabir ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda :
“Perumpamaan salat lima waktu itu seperti sungai yang
penuh air mengalir pada pintu salah seorang di antara kamu
sekalian, di mana ia mandi dari sungai itu lima kali
sehari.”(HR.Muslim)
3. Dari Ibnu Mas’ud bahwasanya ada seorang laki-laki mencium
seorang perempuan, kemudian ia datang kepada Nabi saw.
dan menceritakan apa yang diperbuatnya, lantas Allah Ta’ala
menurunkan ayat : AQIMISH SHALATA THARAFAYIN NAHAARI
WAZULAFANM MINALLAILI INNAL HASANAATI YUDZ HIBNAS
SAYYIA-AAT (Dirikanlah salat pada waktu pagi, siang, sore –
Shubuh, Ashar atau Dhuhur—dan pada waktu malam –
Maghrib dan Isya’–. Sungguh kebaikan-kebaikan itu
memusnahkan keburukan). Orang laki-laki itu bertanya :
“Apakah ini khusus untuk diri saya ?” Beliau menjawab :
“Untuk semua umatku tanpa terkecuali.”(HR.Bukhari dan
Muslim)
4. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda :
“Salat lima waktu dan satu Jum’at ke Jum’at berikutnya
adalah kafarat (menghapus dosa) yang terdapat di waktu itu,
selama dosa besar tidak dikerjakan.”(HR.Muslim)
5. Dari Utsman bin Affan ra., ia berkata : Saya mendengar
Rasulullah saw. bersabda : “Seorang Muslim yang akan
melakukan salat fardhu, lalu ia menyempurnakan wudhunya,
khusyu’nya dan ruku’nya, maka dapat dipastikan salatnya
merupakan kafarat dari dosa-dosa sebelumnya, selagi dosa
besar tidak dikerjakan. Dan itu berlaku sepanjang
tahun.”(HR.Bukhari dan Muslim)
KEUTAMAAN SALAT SHUBUH DAN ASHAR
1. Dari Abu Musa ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda :
“Barangsiapa ,mengerjakan dua salat dingin (salat Shubuh
dan salat Ashar), niscaya ia masuk surga.”(HR.Bukhari dan
Muslim)
2. Dari Abu Zuhair (Umarah) bin Ruwaibah ra., ia berkata : Saya
mendengar Rasulullah saw. bersabda : “Tidak akan masuk
neraka seseorang yang melakukan salat sebelum terbit
matahari (Shubuh) dan sebelum tenggelam matahari
(Ashar).”(HR.Muslim)
3. Dari Jundub bin Sufyan ra., ia berkata : Rasulullah saw.
bersabda : “Barangsiapa mengerjakan salat Shubuh, maka ia
berada dalam tanggungan Allah, maka waspadalah hai anak
Adam ! Allah tidak sekali-kali menuntut sesuatupun dari
tanggungan-Nya.”(HR.Muslim)
4. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda :
“Berganti-ganti datang kepada kalian malaikat penjaga malam
dan malaikat penjaga siang. Mereka berkumpul pada waktu
Shubuh dan Ashar. Kemudian naiklah para malaikat yang
menghabiskan malam bersama kalian. Lalu Allah bertanya
pada mereka yang lebih mengetahui : “Bagaimana kalian
tinggalkan para hamba-Ku itu ?” Para malaikat menjawab :
“Kami tinggalkan mereka dalam keadaan sedang salat dan
kami datang kepada mereka dalam keaadan sedang
salat.”(HR.Bukhari dan Muslim)
5. Dari Jabir bin Abdullah Al Bajaliy ra., ia berkata : “Sungguh,
kalian bakal dapat melihat Tuhan kalian, sebagaimana kalian
melihat rembulan ini, kalian tidak silau untuk melihatnya.
Karena itu, jika kalian sanggup tidak dikalahkan salat sebelum
terbit matahari dan sebelum terbenamnya, maka kerjakanlah
salat itu.”(HR.Bukhari dan Muslim)
6. Dari Buraidah ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda :
“Barangsiapa meninggalkan salat Ashar maka sia-sialah amal
kebaikannya.”(HR.Bukhari)
KEUTAMAAN PERGI KE MASJID
1. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Nabi saw. bersabda :
“Barangsiapa dalam waktu pagi atau sore menuju ke masjid,
maka Allah menyediakan untuknya hidangan di surga setiap
datang waktu pagi dan sore.”(HR.Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra., bahwasanya Nabi saw. bersabda :
“Barangsiapa membersihkan diri di rumahnya, kemudian
berjalan ke sebuah rumah di antara rumah-rumah Allah
(masjid) untuk menunaikan satu fardhu, maka langkahnya
yang sebelah menurunkan dosa dan yang lain menaikkan
derajat.”(HR.Muslim)
3. Dari Ubay bin Ka’ab ra., ia berkata: “Ada seorang lelaki dari
sahabat Anshar yang saya ketahui tidak ada seorang pun
yang rumahnya lebih jauh dari masjid daripada rumahnya.
Tetapi ia tidak pernah terlambat salat. Pernah dikatakan
kepadanya: “Kalau saja kamu membeli seekor keledai yang
dapat kamu kendarai dalam kegelapan dan pada hari yang
sangat panas.” Dia menjawab: “Tidaklah menggembirakan
seandainya rumahku berada di samping masjid. Sungguh,
aku menginginkan dituliskan jalanku menuju masjid dan
kepulanganku kembali kepada keluargaku.” Rasulullah saw.
bersabda: “Allah telah mengumpulkan untukmu semua itu
(pahala berjalan berangkat dan kembali).” (HR Muslim)
4. Dari Jabir ra., ia berkata: “Beberapa tempat di sekitar masjid
masih kosong, maka Bani Salimah bermaksud untuk pindah
di dekat masjid. Berita itu terdengar oleh Nabi saw.,
kemudian beliau bersabda kepada mereka: “Aku mendengar
bahwasanya kamu sekalian bermaksud untuk pindah di dekat
masjid?” Mereka menjawab: “Benar wahai Rasulullah, kami
bermaksud demikian,” Beliau bersabda: “Wahai Bani Salimah
tetaplah kamu pada rumahmu, karena bekas-bekas
langkahmu itu tercatat sebagai amal kebaikan.” Mereka
berkata, “Kami tidak jadi pindah rumah.” (HR. Muslim)
5. Dari Abu Musa ra., ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda:
“Sungguh, orang yang paling besar pahalanya dalam salat
adalah yang paling jauh perjalanannya menuju tempat salat.
Dan orang yang menunggu salat sampai ia selesai salat
bersama imam, adalah lebih besar pahalanya dibanding
orang yang salat sendiri kemudian segera pulang tidur.” (
HR. Bukhari dan Muslim)
6. Dari Buraidah ra., dari Nabi saw., beliau bersabda:
“Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang
pergi ke masjid dalam kegelapan malam, mereka telah
disediakan cahaya yang sempurna nanti pada hari kiamat.”
(HR. Abu Dawud dan Turmudzi)
7. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:
“Maukah kutunjukkan kepada kalian apa yang menyebabkan
Allah menghapus dosa dan meninggikan derajat?” Para
sahabat menjawab: Tentu, ya Rasulullah.” Rasulullah
bersabda: “Yaitu menyempurnakan wudhu pada waktu yang
tidak disukai dan memperbanyak langkah ke masjid, serta
menunggu salat sesudah salat (sebelumnya). Maka inilah
yang dinamakan kewaspadaan dalam memelihara perintah
Allah. Hal inilah yang disebut arribaath (ikatan).” (HR
Muslim)
8. Dari Abu Sa’id Al Khudriy ra., dari Nabi saw., beliau
bersabda: “Apabila kalian melihat seseorang yang biasa ke
masjid, maka saksikanlah bahwa ia benar-benar beriman.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “INNAMAA YA’MURU
MASAAJIDALLAAHI MAN AAMANA BILLAAHI WAL YAUMIL
AAKHIR (Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid
Allah adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari
Akhir).” (HR. Turmudzi)
KEUTAMAAN MENANTI SALAT
1. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:
“Salah seorang di antara kalian terus menerus berada dalam
salat, selagi salat itu menahannya. Tidak ada yang mencegah
untuk balik kepada keluarganya kecuali salat (menunggu
salat, pahalanya seperti mengerjakan salat).” (HR. Bukhari
dana Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra., bahwasanya Rasulullah saw.
bersabda: “Malaikat memintakan ampun dan rahmat untuk
seseorang di antra kalian, selagi dia (orang tersebut) berada
di tempat salatnya yang baru diselesaikan, selagi tidak
berhadas malaikat mengucapkan doa: “ALLAAHUMMAGHFIR
LAHU, ALLAAHUMMAGHFIRHAMHU (Ya Allah, ampunilah dia.
Ya Allah, rahmatilah dia).” (HR. Bukhari)
3. Dari Anas ra., bahwasanya pada suatu malam Rasulullah
saw. mengakhiri salat Isya’ sampai tengah malam, kemudian
beliau menatap kami setelah selesai kemudian bersabda:
“Orang-orang telah salat dan telah tidur, sedangkan kamu
sekalian tetap dianggap mengerjakan salat.” (HR. Bukhari)
KEUTAMAAN SALAT JAMAAH
1. Dari Ibnu Umar ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:
“Salat berjamaah itu lebih utama daripada salat sendirian,
dengan dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda:
“Salat seseorang dengan berjamaah itu dilipatkan dua puluh
lima kali lipat atas salat sendiri yang dikerjakan di rumah
atau di pasar. Hal itu apabila ia berwudhu dengan sempurna,
kemudian keluar menuju ke masjid dengan niat hanya untuk
salat, maka setiap kali ia melangkah, derajatnya dinaikkan
dan kesalahan (dosa)nya diturunkan. Lali ketika ia
melakukan salat, malaikat senantiasa memohonkan ampun
dan rahmat untuknya, selama ia masih tetap berada di
tempat salatnya dan tidak berhadas. Malaikat berdoa: “Ya
Allah ampunilah dia Ya Allah rahmatilah dia.” Dan tetap
dianggap berada dalam salat (mendapat pahala seperti itu),
selama ia menanti salat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Ada seorang buta datang
kepada Nabi saw. dan ia berkata: “Wahai Rasulullah, tidak
ada seorangpun yang menuntun saya untuk datang ke
masjid,” kemudian ia minta keringanan kepada beliau agar
diperkenankan salat di rumahnya, maka beliau pun
mengizininya, tetapi ketik ia bangkit hendak pulang, beliau
bertanya kepadanya: “Apakah kamu mendengar azan?” ia
menjawab: “Ya” Beliau bersabda: “Kamu harus datang ke
Masjid.” (HR. Muslim)
4. Dari Abdullah, ada yang memanggilnya dengan Amar bin
Qais yang terkenal dengn Ibnu Ummi Maktum ra. (muazin)
bahwasanya ia berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya di
kota Madinah ini banyak hal-hal yang membahayakan dan
binatang buas.” Rasulullah saw. bersabda: “Apabila kamu
mendengar: HAYYA ‘ALASH SHALAAH HAYYA ‘ALAL FALAAH,
maka kamu harus mendatanginya.” (HR. Abu Dawud)
5. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:
“Demi Zat yang menguasaiku. Sungguh aku benar-benar
pernah bermaksud menyuruh mengumpulkan kayu bakar.
Kemudian aku memerintah salat dengan mengumandangkan
azan lebih dulu. Lalu aku menyeruh seseorang mengimami
orang banyak. Kemudian aku pergi ke rumah orang-orang
yang tidak memenuhi panggilan salat, lalu aku bakar rumahrumah
mereka dengan mereka sendiri.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
6. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata: “Barangsiapa merasa
senang apabila bertemu Allah Ta’ala besok (pada hari
kiamat) dalam keadaan muslim, maka hendaklah ia
memelihara salat pada waktunya, ketik mendengar suara
azan. Sesungguhnya Allah telah mensyari’atkan kepada Nabi
Muhammad saw. jalan-jalan petunjuk. Seandainya kalian
melakukan salat itu di rumah sebagai kebiasaan orang yang
tidak suka berjamaah, niscaya kalian telah meninggalkan
sunnah Nabi, pasti kalian sesat. Aku benar-benar melihat di
antara kita tidak ada yang meninggalkan salat jamaah,
kecuali orang-orang munafik yang benar-benar munafik.
Sungguh pernah terjadi seorang lelaki diantar ke masjid, ia
terhuyung-huyung di antara dua orang, sampai ia
diberdirikan dalam shaf (barisan salat).” (HR. Muslim)
Dan di dalam riwayat lain dikatakan: “Rasulullah saw. telah
mengajarkan jalan-jalan petunjuk yakni salat di masjid yang
terdengar azannya.
7. Dari Abu Darda’ ra., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah
saw. bersabda: “Apabila di suatu desa atau kampung
terdapat tiga orang, dan di situ tidak diadakan salat jamaah
niscaya mereka telah dijajah oleh setan. Oleh karena itu
hendaklah kamu sekalian selalu mengerjakan salat dengan
berjamaah sebab serigala itu hanya menerkam kambing yang
jauh terpencil dari kawan-kawannya.” (HR. Abu Dawud)
ANJURAN BERJAMAAH SALAT SUBUH DAN
ISYA’
1. Dari Utsman bin Affan ra., ia berkata: Saya mendengar
Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang salat Isya’
dengan berjamaah, seolah-olah ia mengerjakan salat
setengah malam. Dan barangsiapa yang salat Subuh dengan
berjamaah seolah-olah ia mengerjakan salat semalam
suntuk.” (HR. Muslim)
Dan di dalam riwayat Turmudzi ra. bahwasanya Rasulullah saw.
bersabda: “Barangsiapa mengerjakan salat Isya’ dengan
berjamaah, maka ia dianggap mengerjakan salat setengah malam,
dan barangsiapa mengerjakan salat Isya’ dan Subuh dengan
berjamaah, maka ia dianggap mengerjakan salat semalam suntuk.”
(HR. Turmudzi)
2. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:
“Seandainya manusia mengetahui keutamaan salat Isya’ dan
Subuh tentu mereka mendatangi keduanya (berjamaah),
walaupun dengan merangkak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
“Tidak ada salat yang lebih berat bagi orang-orang munafik
melebihi salat Subuh dan Isya’. Seandainya mereka
mengetahui keutamaan kedua salat itu, niscaya mereka
mendatangi keduanya (berjamaah), walaupun dengan
merangkak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
BAB PERINTAH MENJAGA SALAT FARDHU
1. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata: Saya bertanya kepada
Rsaulullah saw.: “Amal perbuatan apakah yang paling
utama?” Beliau menjawab: “Salat tepat pada waktunya.”
Saya bertanya: “Kemudian apa?” beliau menjawab: “Berbakti
kepada kedua orang tua.” Saya bertanya lagi: “Kemudian
apa?” beliau menjawab: “Jihad (berjuang) di jalan Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda:
“Islam itu didirikan atas lima sendi, yaitu menyaksikan
bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, mendirikan salat,
menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berpuasa pada
bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
“Aku diperintah untuk memerangi manusia, sampai mereka
bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa
Muhammad adalah utusan Allah, mereka mendirikan salat
dan memberikan zakat. Apabila mereka telah berbuat
demikian, maka terpeliharalah darah mereka, kecuali dengan
hak Islam, sedangkan perhitungan amal mereka pada Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
4. Dari Mu’adz ra., ia berkata: Rasulullah saw. mengutus saya
ke Yaman dan bersabda: “Sungguh, engkau akan
mendatangi suatu kaum dari ahli kitab. Ajaklah mereka
untuk bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan
Muhammad adalah utusan Allah. Kalau mereka telah
mentaati, maka ajarilah mereka (beritahulah mereka) bahwa
Allah Ta’ala mewajibkan kepada mereka salat lima waktu
sehari semalam. Apabila mereka telah mentaati, maka
beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah Ta’ala
mewajibkan kepada mereka sedekah (zakat) yang dipungut
dari orang-orang kaya kemudian diberikan kepada orangorang
miskin. Apabila mereka telah mentaati, maka
peliharalah kehormatan dan harta mereka. Takutlah kamu
terhadap doa orang yang teraniaya, karena tidak ada tirai
(penghalang) antara doa itu dengan Allah.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
5. Dari Jubair ra., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw.
bersabda: “Sesungguhnya batas antara seseorang dengan
kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan salat.” (HR.
Muslim)
6. Dari Buraidah ra. dari Nabi saw., beliau bersabda: “Ikatan
janji di antara kamu (umat Islam) dengan mereka (orangorang
kafir) adalah salat. Maka barangsiapa yang
meninggalkan salat berarti ia kafir.” (HR. Turmudzi)
7. Dari Syaqiq bin Abdullah seorang ulama tabi’in yang telah
disepakati memiliki kelebihan rahimahullah berkata: “Para
sahabat Nabi Muhammad saw. tidak ada yang berpendapat
tentang suatu perbuatan yang apabila ditinggalkan menjadi
kafir, kecuali salat.” (HR. Turmudzi)
8. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya amal perbuatan yang pertama kali dihisab
pada seseorang nanti di hari kiamat adalah salat. Apabila
salatnya bagus, maka berbahagia dan beruntunglah ia, tetapi
apabila salatnya rusak maka menyesal dan merugilah ia.
Apabila di dalam salat fardhunya terdapat suatu kekurangan,
maka Tuhan Yang Maha Mulia lagi Maha Agung berfirman:
“Lihatlah, apakah hamba-Ku ini mengerjakan salat sunnat
sehingga kekurangan salat fardhunya dapat disempurnakan
dengannya.” Kemudian setelah salat itu dihisab barulah
amal-amal perbuatan yang lainnya dihisab.” (HR. Turmudzi)
KEUTAMAAN SHAF PERTAMA
1. Dari Jabir bin Samurah ra., ia berkata: Rasulullah saw. keluar
kepada kami dan bersabda: ‘Tidakkah kalian ingin bershaf
(berbaris) sebagaimana shaf malaikat di hadapan
Tuhannya?” Rasulullah saw. bersabda: “Mereka
menyempurnakan shaf-shaf pertama dan berapat-rapat di
dalam shaf.” (HR. Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:
“Seandainya orang-orang mengetahui besarnya pahala
mendatangi azan dan shaf pertama, kemudian untuk
mendapatkannya harus diundi niscaya mereka mau
mengadakan undian.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
Shaf kaum lelaki yang paling baik adalah yang pertama dan
yang paling jelek adalah shaf terakhir, sedangkan shaf kaum
wanita yang paling baik adalah shaf terakhir dan yang paling
jelek adalah shaf pertama.” (HR. Muslim)
4. Dari Abu Sa’id Al Khudriy ra. bahwasanya Rasulullah saw.
melihat para sahabat mundur ke belakang, maka beliau
bersabda: “Majulah kalian! Makmumlah kalian kepadaku dan
hendaklah makmum kepada kalian orang-orang yang datang
sesudah kalian. Tak henti-hentinya suatu kaum datang
terlambat, sampai Allah mengakhiri mereka.” (HR. Muslim)
5. Dari Abu Mas’ud ra., ia berkata: Rasulullah saw. mengusapusap
bahu kami ketika kami sedang salat serta beliau
bersabda: “Ratakan barisan kalian dan jangan berselisih yang
menyebabkan hati kalian berbeda. Harap dekat denganku, di
antara kalian yang sudah baligh dan berakal, kemudian
orang-orang yang di bawahnya (seperti anak-anak yang
sudah tamyiz/pintar), kemudian yang di bawahnya.” (HR.
Muslim)
6. Dari Anas ra., ia berkata: Rasulullah saw.
bersabda:”Ratakanlah shaf-shaf kalian! Sebab, meratakan
shaf itu termasuk kesempurnaan shalat.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Dan di dalam riwayat Bukhari dikatakan: “Sesunguhnya meratakan
shaf itu termasuk menegakkan shalat.”
7. Dari Anas ra., ia berkata: Ketika iqamat untuk salat
dikumandangkan, Rasulullah saw. menoleh kepada kami dan
bersabda: “Ratakanlah shaf-shaf kalian dan merapatlah!
Karena, aku dapat melihat kalian dari balik punggungku.”
(HR. Bukhari)
Dan di dalam riwayat lain dikatakan: “Kemudian masing-masing
dari kami meluruskan bahunya dengan bahu kawannya dan telapak
kakinya dengan telapak kaki kawannya.” (HR. Bukhari)
8. Dari An Nu’man bin Basyir ra., ia berkata: Saya mendengar
Rasulullah saw. bersabda: “Hendaknya benar-benar
diratakan shaf-shaf kalian, atau Allah betul-betul mengganti
wajah-wajah kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)
9. Dalam riwayat Muslim, bahwasanya Rasulullah saw.
meluruskan shaf kami sehingga seakan-akan beliau
meluruskan anak panah, sampai beliau berpendapat bahwa
kami sudah sadar. Pada suatu hari beliau keluar dan
langsung berdiri, ketika beliau hendak takbir ada seseorang
yang dadanya menonjol tidak lurus dalam barisan itu,
kemudian beliau bersabda: “Wahai hamba Allah, kamu
seklian harus meluruskan barisanmu atau Allah akan
menyelisihkan di antara kamu sekalian.”
10. Dari Al Barra’ bin Azib ra., ia berkata: Rasulullah memasuki
sela-sela shaf sambil mengusap dada dan bahu kami, serta
bersabda: “Janganlah kalian berbengkok-bengkok, karena
hatimu nanti akan berselisih.” Beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah mengaruniakan rahmat, dan malaikat
memohonkan rahmat untuk orang-orang yang berada pada
shaf pertama.” (HR. Abu Dawud)
11. Dari Ibnu Umar ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:
“Luruskanlah shaf-shaf kalian, ratakanlah bahu-bahu kalian,
tutuplah lobang-lobang shaf kalian dan janganlah kamu
biarkan renggang shafmu karena akan ditempati setan.
Barangsiapa yang mempertemukan shaf maka Allah akan
mempertemukannya, dan barangsiapa yang memutuskan
shaf maka Allah akan memutuskannya.” (HR. Abu Dawud)
12. Dari Anas ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:
“Rapatkanlah shaf-shaf kalian dan berdekat-dekatlah kalian
serta luruskanlah leher kalian. Demi Dzat yang jiwaku berada
dalam genggaman-Nya, sungguh aku melihat setan-setan itu
masuk di sela-sela barisan seperti kambing yang hitam lagi
kecil.” (HR. Abu Dawud)
13. Dari Anas ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:
“Sempurnakanlah shaf terdepan kemudian shaf yang berada
di belakangnya. Apabila ada yang tidak penuh maka
hendaklah pada shaf yang paling belakang.” (HR. Abu
Dawud)
14. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya Allah memberikan rahmat dan malaikat
memohonkan kepada orang-orang yang berada pada shaf
sebelah kanan.” (HR. Abu Dawud)
15. Dari Al Barra’ ra., ia berkata: “Apabila kami salat di belakang
Rasulullah saw. maka kami suka pada sebelah kanannya,
karena beliau menatap kami dengan wajahnya, sehingga
saya mendengar beliau berdoa: ROBBI QINII ‘ADZAABAKA
YAUMA TAB’ATSU AU TAJMA’U ‘IBAADAKA (Ya Tuhan,
hindarkan aku dari siksa-Mu pada hari Kau bangkitkan atau
Kau kumpulkan hamba-hamba-Mu).” (HR. Muslim)
16. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
“Tempatkanlah imam itu di tengah-tengah dan tutuplahselasela
shafmu.” (HR. Abu Dawud)
KEUTAMAAN SALAT SUNNAT RAWATIB
1. Dari Ummul Mukminin Ummu Habibah (Romlah) binti Abu
Sofyan ra., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw.
bersabda: “Tiada seorang muslim yang mengerjakan salat
karena Allah, setiap hari dua belas rakaat, melainkan Allah
menyediakan baginya sebuah rumah di dalam surga; atau
melainkan baginya sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim)
2. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata: Saya bersama-sama dengan
Rasulullah saw. mengerjakan salat dua rakaat sebelum salat
Dhuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah
salat Jum’at, dua rakaat sesudah salat Maghrib, dan dua
rakaat sesudah salat Isya’.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Dari Abdullah bin Mughaffal ra., ia berkata: Rasulullah saw.
bersabda: “Di antara setiap azan dan iqamah ada salat, di
antara setiap azan dan iqamah ada salat.” Setelah beliau
mengucapkan yang ketiga kalinya, beliau bersabda: “Bagi
orang yang suka mengerjakannya.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
DIANJURKAN SALAT SUNNAT SEBELUM
SHUBUH
1. Dari ‘Aisyah ra. bahwasanya Nabi saw. tidak pernah
meninggalkan salat sunnat empat rakaat sebelum salat
Shubuh.” (HR. Bukhari)
2. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata: “Nabi saw. selalu menepati di
dalam mengerjakan salat sunnat melebihi dua rakaat fajar
(sebelm salat Shubuh).” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Dari ‘Aisyah ra. dari Nabi saw., beliau bersabda: “Dua rakaat
fajar (sebelum salat Shubuh) adalah lebih baik daripada
dunia seisinya.” (HR. Muslim)
Dan di dalam riwayat yang lain dikatakan: “Dua rakaat fajar
itu lebih aku sukai daripada dunia seisinya.
4. Dari Abdullah (Bilal) bin Rabah ra. muazin Rasulullah saw., ia
datang kepada Rasulullah saw. untuk azan Shubuh.
Kemudian Bilal ditanya tentang sesuatu oleh ‘Aisyah sampai
lmbat azannya. Bilal lantas azan dan dilanjutkan dengan
iqamat. Namun Rasulullah saw. belum juga keluar. Sesudah
Nabi saw. keluar dan segera salat bersama orang-orang, Bilal
memberitahu kepadanya kalau ia telah ditanya macammacam
olah ‘Aisyah hingga pagi benar. Kemudian beliau
bersabda: “Sesungguhnya aku mengerjakan dua rakaat
shalat fajar lebih dulu.” Ada seorang sahabat berkata:
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau sudah berada pada
waktu pagi-pagi benar.” Beliau bersabda: “Walaupun waktu
lebih pagi lagi, niscaya aku akan tetap mengerjakan dua
rakaat fajar dengan sesempurna-sempurnanya dan sebaikbaiknya.”
(HR. Abu Dawud)
SUNNAT MEMBACA AYAT ATAU SURAT YANG
PENDEK
1. Dari ‘Aisyah ra. bahwasanya Nabi saw. salat dua rakaat yang
ringan antara azan dan iqamatnya salat Subuh.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Dan di dalam riwayat yang lain dikatakan: “Beliau salat dua rakaat
fajar sangat ringan (cepat), sehingga saya bertanya pada diri
sendiri: “Apakah beliau membaca Al-Fatihah pada kedua rakaat
itu?”
Dan di dalam riwayat Muslim dikatakan bahwa beliau mengerjakan
dua rakaat dengn ringan apabila mendengar azan.
Dalam riwayat kain dikatakan “Apabila fajar telah menyingsing.”
2. Dari Hafshah ra. bahwasanya Rasulullah saw. apabila telah
mendengar muazin mengumandangkan azan Shubuh maka
beliau mengerjakan salat dua rakaat yang ringan.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
3. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata: “Rasulullah saw. biasa salat
malam dua rakaat dua rakat salam, dan pada akhir malam
beliau salat Witir satu rakaat, serta salat dua rakaat sebelum
Shubuh apabila beliau telah mendengar azan.” (HR. Bukhari
dan Muslim)
4. Dari Ibnu Abbas ra. bahwasanya Rasulullah saw. pada rakaat
pertama dari salat fajar membaca: “QUULUU AAMANNAA
BILLAAHI WAMAA UNZILA ILAINAA” yang terdapat pada
surat Al Baqarah; dan pada rakkat kedua beliau membaca
“AAMANNAA BILLAAHI WASYHAD BI-ANNAA MUSLIMUUN”.
Dalam riwayat yang lain dikatakan bahwa pada rakaat kedua
beliau membaca ayat: ”TA’AALAU ILAA KALIMATIN SAWAAIN
BAINANAA WA BAINAKUM,”
5. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. pada dua
rakaat fajar membaca : “QUL YAA AYYUHAL KAAFIRUUN dan
QUL HUWALLAAHU AHAD.” (HR. Muslim)
6. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata: “Selama sebulan saya
melihat Nabi saw. pada dua rakaat fajar selalu membaca QUL
YAA AYYUHAL KAAFIRUUN dan QUL HUWALLAAHU AHAD.”
(HR. Tirmidzi)
SUNNAT BERBARING PADA PINGGANG SEBELAH
KANAN SESUDAH SALAT SUNNAT FAJAR
1. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata: “Apabila Nabi selesai salat dua
rakaat fajar, maka beliau berbaring pada pinggang sebelah
kanan.” (HR. Bukhari)
2. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata: “Nabi saw. apabila salat sebelas
rakaat di antara Isya’ dan Shubuh dimana setiap dua rakaat
beliau salam serta witir satu rakaat. Apabila muazin yang
mengumandangkan azan Subuh telah selesai dan fajar telah
menyingsing serta si muazin telah datang kepada Nabi, maka
beliau mengerjakan salat dua rakaat yang ringan, kemudian
berbaring pada pinggang sebelah kanan sampai si muazin
mengumandangkan iqamat.” (HR. Muslim)
3. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
“Apabila salah seorang diantara kamu telah salat dua rakaat
fajar maka hendaklah ia berbaring pada pinggang sebelah
kanan.” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi)
SALAT SUNNAT DHUHUR
1. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata: “Saya salat dua rakaat
sebelum salah Dhuhur dan dua rakaat sesudahnya bersamasama
Rasulullah saw.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari ‘Aisyah ra. bahwasanya Rasulullah saw. tidak pernah
meninggalkan salat sunnat empat rakaat sebelum salat
Dhuhur.” (HR. Bukhari)
3. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata: Nabi saw. biasa salat empat
rakaat sebelum Dhuhur di rumah, kemudian beliau
mengimami shalat, setelah itu beliau pulang dan
mengerjakan salat sunnat dua rakaat di rumah. Beliau biasa
mengimami salat Maghrib, kemudian beliau pulang dan
mengerjakan salat sunnat dua rakaat di rumah. Beliau biasa
mengimami salat Isya’, kemudian beliau pulang dan
mengerjakan salat sunnat dua rakaat di rumah.” (HR.
Muslim)
4. Dari Ummu Habibah ra., ia berkata: Rasululllah saw.
bersabda: “Barangsiapa selalu mengerjakan salat sunnat
empat rakaat sebelum Dhuhur dan empat rakaat
sesudahnya, niscaya Allah mengharamkan dirinya dari api
neraka.” ( HR. Abu Dawud dan Turmudzi)
5. Dari Abdullah bin As Saib ra. bahwasanya Rasulullah saw.
selalu salat sunnat empat rakaat setelah matahari tergelincir,
sebelum beliau mengerjakan salat Dhuhur. Beliau bersabda:
“Sesungguhnya saat-saat seperti ini pintu-pintu langit sedang
dibuka, oleh karena itu aku ingin agar amal kebaikanku naik
ke atas pada saat-saat seperti ini.” (HR. Turmudzi)
6. Dari ‘Aisyah ra. bahwasanya apabila Nabi saw. tidak
mengerjakan salat sunnat empat rakaat sebelum Dhuhur,
maka beliau mengerjakannya sesudah salat Dhuhur.” ( HR.
Turmudzi)
SALAT SUNNAT ASHAR
1. Dari Ali bin Abu Thalib ra., ia berkata: “Nabi saw. selalu salat
sunnat empat rakaat sebelum salat Asar, dimana beliau
memisahkannya dengan salam yang ditujukan kepada
malaikat MUQARRABIN dan kaum muslimin dan kaum
mukminin yang mengikutinya.” (HR. Turmudzi)
2. Dari Ibnu Umar ra. dari Nabi saw., beliau bersabda: “Semoga
Allah selalu memberi rahmat kepada seseorang yang suka
mengerjakan salat sunnah empat rakaat sebelum salat Asar.”
(HR Abu Dawud dan Turmudzi)
3. Dari Ali bin Abu Thalib ra. bahwasanya Nabi saw. sering salat
sunnah dua rakaat sebelum salat Asar.” (HR. Abu Dawud)
SALAT SUNNAT MAGHRIB
Pada bab-bab terdahulu telah disebutkan sebagian hadis yang
menyangkut tentang salat sunnah sesudah salat Maghrib, yaitu
hadis Ibnu Umar dan hadis ‘Aisyah yang mana kedua-duanya
merupakan hadis shahih, disebutkan: “Bahwasanya Nabi saw.
senantiasa mengerjakan salat sunnat dua rakaat sesudah salat
Maghrib.”
1. Dari Abdullah bin Mughaffal ra. dari Nabi saw., beliau
bersabda: “Salatlah kalian, sebelum mengerjakan salat
Maghrib.” Kemudian pada perintah yang ketiga kalinya,
beliau bersabda: “Bagi orang yang mau mengerjakannya.”
(HR. Bukhari)
2. Dari Anas ra, ia berkata : “Saya melihat tokoh-tokoh sahabat
Rasulullah saw, selalu terburu-buru untuk mengerjakan salat
sunnat Maghrib.”(H.R Bukhari)
3. Dari Anas ra, ia berkata: “Pada masa Rasulullah saw. Kami
biasa salat sunnat dua rakaat sesudah matahari terbenam
dan sebelum mengerjakan salat Maghrib.” Kemudian ada
seseorang bertanya : “Apakah Rasulullah saw. Mengerjakan
salat sunnat itu?” Anas menjawab: “Beliau melihat kami
mengerjakan salat sunnat itu, beliau tidak menyuruh dan
melarang kami.”(H.R Muslim)
4. Dari Anas ra, ia berkata : “Ketika kami di Madinah, apabila
muazin telah mengumandangkan azan maghrib maka orangorang
selalu terburu-buru untuk mengerjakan salat sunnat
dua rakaat, sehingga kalau ada orang asing masuk ke masjid
itu maka ia akan menyangka bahwa salat maghrib telah
dikerjakan, karena banyaknya orang yang mengerjakan salat
sunat itu.”(H.R Muslim)
SALAT SUNNAT ISYA’
1. Ibnu Umar berkata : “Saya mengerjakan salat sunnat dua
sesudah salat Isya’ bersama-sama dengan Nabi saw.” Dan
juga hadis Abdullah bin Mughaffal, di mana beliau bersabda :
“Di antara tiap-tiap adzan dan iqamat ada salat sunnat.” (H.R
Bukhari dan Muslim)
SALAT SUNNAT JUMAT
1. Bahwasanya Ibnu Umar salat sunnat dua rakaat sesudah salat
Jumat bersama-sama dengan Nabi saw.(H.R Bukhari dan
Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Rasulullah saw. Bersabda :
“Apabila salah seorang di antara kalian mengerjakan salat
Jumat maka hendaklah ia mengerjakan salat sunnat empat
rakaat sesudahnya.”(H.R Muslim)
3. Dari Ibnu Umar ra. bahwasanya Nabi saw. Tidak mengerjakan
salat sunnat sesudah salat Jumat sehingga beliau pulang,
kemudian beliau salat sunnat dua rakaat di rumahnya.”(H.R
Muslim)
SALAT SUNNAT DI RUMAH
1. Dari Zaid bin Tsabit ra, bahwa Nabi saw bersabda : “Wahai
sekalian manusia, salatlah kamu sekalian di rumah, karena
sesungguhnya seutama-utama salat adalah salat seseorang di
rumahnya kecuali salat fardhu.”(H.R Bukhari dan Muslim)
2. Dari Ibnu Umar ra, dari Nabi saw, beliau bersabda :
“Laksanakanlah salat sunnat di rumah kalian, dan janganlah
kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan.”(H.R Bukhari
dan Muslim)
3. Dari Jabir ra, ia berkata : Rasulullah saw. Bersabda : “Apabila
salah seorang di antara kalian telah selesai mengerjakan salat
di masjid, maka hendaklah ia mengerjakan sebagian salat
sunnat di rumahnya, karena sesungguhnya dengan salat itu
Allah menjadikan kebaikan di rumahnya.”(H.R Muslim)
4. Dari Amr bin Atha’ bahwasanya Nafi’ bin Jubair mengutus
untuk pergi ke tempat Saib bin Yazin kemenakan Namir,
untuk menanyakan tentang sesuatu yang terjadi antara Saib
dengan Muawiyah dalam hal salat, kemudian Saib berkata :
“Benar. Saya salat Jumat bersama Muawiyah di istana setelah
imam mengucapkan salam kemudian saya langsung berdiri
untuk mengerjakan salat sunnat di tempat itu. Ketika
Muawiyah masuk ke rumahnya, ia memanggil saya dan
berkata : “Janganlah diulangi apa yang telah kamu kerjakan.
Jika kamu selesai salat Jumat maka janganlah kamu
menyambungnya dengan salat sunnat sebelum kamu
berbicara atau keluar. Karena sesungguhnya Rasulullah saw.
Menyuruh yang demikian, supaya kamu tidak boleh
menyambung sesuatu salat dengan salat yang lain sebelum
berbicara atau keluar.”(H.R Muslim)
SALAT WITIR
1. Dari Ali ra, ia berkata : “Salat Witir itu tidak diharuskan
sebagaimana salat fardhu, tetapi Rasulullah saw, selalu
mengerjakannya serta bersabda : “Sesungguhnya Allah itu
witir(ganjil/esa) dan suka pada yang ganjil, maka salat
witirlah kalian wahai Ahli Quran.”(H.R Abu Dawud dan
Turmudzi)
2. Dari ‘Aisyah ra, ia berkata : “Dari semua waktu-waktu malam,
Rasulullah saw, selalu mengerjakan salat Witir. Beliau pernah
mengerjakan salat witir pada permulaan malam, dan pernah
pada akhir malam, serta paling akhir beliau mengerjakan
salat Witir sampai habis waktu sahur.(H.R Bukhari dan
Muslim)
3. Dari Ibnu Umar ra, dari nabi saw, beliau bersabda : “Tutuplah
salat malammu dengan salat witir.”(H.R Bukhari dan Muslim)
4. Dari Abu Sa’id Al Khudriy ra, bahwasanya nabi saw, bersabda
: “Salat witirlah kalian sebelum Subuh.”(H.R Muslim)
5. Dari ‘Aisyah ra, bahwasanya Nabi saw, biasa salat sunnat
pada waktu malam, sedangkan ‘Aisyah membujur di
depannya, apabila beliau tinggal mengerjakan salat Witir
beliau membangunkan ‘Aisyah, kemudian ia mengerjakan
salat Witir.”(H.R Muslim)
Dan di dalam riwayat yang lain dikatakan: “Apabila beliau tinggal
mengerjakan salat Witir, beliau bersabda : “Wahai ‘Aisyah
bangun dan berwitirlah kamu.”
6. Dari Ibnu Umar ra, bahwasanya Nabi saw, bersabda :
“Kejarlah salat Subuh itu dengan Witir.” (H.R Abu Dawud dan
Turmudzi)
7. Dari Jabir ra, ia berkata : Rasulullah saw, bersabda :
“Barangsiapa yang khawatir untuk tidak bisa bangun pada
akhir malam, maka salatlah Witir pada permulaannya. Dan
barangsiapa berkeyakinan akan bisa bangun pada akhir
malam, maka salatlah Witir pada akhir malam itu disaksikan
oleh malaikat dan hal itu adalah lebih utama.” (H.R Bukhari)
KEUTAMAAN SALAT DHUHA
1. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : “kekasihku (Muhammad
saw.) mewasiatkan kepadaku dengan puasa tiga hari setiap
bulan serta dua rakaat Dhuha, dan aku mengerjakan salat
Witir sebelum aku tidur.”(H.R Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Dzar ra, dari Nabi saw, beliau bersabda : “Setiap
pagi, masing-masing ruas anggota badan kalian wajib
dikeluarkan sedekahnya. Dan setiap tasbih adalah sedekah.
Setiap bacaan tahmid adalah sedekah. Setiap bacaan tahlil
adalah sedekah, setiap bacaan takbir adalah sedekah,
menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah dan melarang
berbuat mungkar adalah sedekah. Kesemuanya itu dapat
diganti dengan dua rakaat Dhuha.”(H.R Muslim)
3. Dari ‘Aisyah ra, ia berkata : “Biasanya Rasulullah saw.
melakukan shalat Dhuha empat rakaat dan beliau menambah
sekehendak Allah.”(H.R Muslim)
4. Dari Ummu Hanik (Fakhitah) binti Abu Thalib ra, ia berkata :
“Pada penaklukan kota Makkah saya datang kepada
Rasulullah saw. dan saya dapatkan beliau sedang mandi.
Ketika telah selesai mandi, beliau salat sunnat delapan rakaat.
Salat itu adalah salat Dhuha.”(H.R Bukhari dan Muslim)
WAKTU SALAT DHUHA
1. Dari Zaid bin Arqam ra, bahwasanya ia melihat orang-orang
mengerjakan salat Dhuha (pada waktu belum begitu siang),
maka ia berkata : “Ingatlah, sesungguhnya mereka telah
mengetahui bakwa salat Dhuha selain salat ini lebih utama,
karena sesungguhnya Rasulullah saw, bersabda : “Salatnya
orang-orang yang kembali kepada Allah adalah pada waktu
anak-anak unta bangun dari pembaringannya karea tersengat
panasnya matahari.”(H.R Muslim)
ANJURAN MENGERJAKAN SALAT TAHIYATUL
MASJID
1 Dari Abu Qatadah ra, ia berkata : Rasulullah saw, bersabda :
“Apabila salah seorang di antara kalian masuk masjid. Maka
janganlah duduk dulu sebelum mengerjakan salat dua
rakaat.”(H.R Bukhari dan Muslim)
2. Dari Jabir ra, berkata : “Saya datang kepada Nabi saw,
sedangkan beliau sedang berada di masjid, kemudian
bersabda : “Salatlah dua rakaat.”(H.R Bukhari dan Muslim)
SALAT SUNNAT SESUDAH WUDHU
1. Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw, bersabda
kepada Bilal: “Hai Bilal! Ceritakanlah kepadaku tentang amal
yang kamu harapkan akan mendapatkan pahala, yang telah
kamu kerjakan dalam Islam. Karena sesungguhnyalah aku
mendengar suara terompahmu di hadapanku di surga.” Bilal
menjawab : “Saya tidak beramal dengan sesuatu amal pun
yang lebih saya harapkan pahalanya, kecuali saya
mengerjakan salat dengan bersuci baik di waktu siang atau
malam sesuai dengan apa yang telah ditentukan buatku untuk
salat.”(H.R Bukhari dan Muslim)
KEUTAMAAN HARI JUMAT
1. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Rasulullah saw, bersabda :
“Sebaik-baik hari di mana terbit matahari adalah hari Jumat.
Pada hari itulah, Nabi Adam diciptakan. Pada hari itu
dimasukkan surga dan pada hari itu pula ia dikeluarkan dari
Surga.”(H.R Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Rasulullah saw, bersabda :
“Barangsiapa berwudhu dengan sempurna, kemudian
mendatangi salat Jumat, lalu mendengarkan (khutbah) dan
dia, maka diampunilah dosa yang ia lakukan antara hari itu
sampai Jumat yang lalu ditambah tiga hari. Dan barangsiapa
menyentuh kerikil (artinya main-main pada waktu khatib
berkhutbah, tidak mau mendengarkan) maka benar-benar
tidak ada gunanya.”(H.R Muslim)
3. Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, beliau bersabda : “Salat
lima waktu, Jumat. Dan Ramadhan adalah kafarat (penebus)
atas dosa-dosa yang dilakukan di antara kesemuanya, selama
dosa-dosa besar dijauhinya.”(H.R Muslim)
4. Dari Abu Hurairah ra, dan Ibnu Umar ra, bahwasanya
keduanya mendengar Rasulullah saw, bersabda di atas
mimbarnya: “orang-orang boleh memilih, mau menghentikan
kebiasaan meninggalkan salat Jumat atau Allah sungguhsungguh
akan menutupi hati mereka, hingga mereka benarbenar
menjadi orang-orang yang lalai.”(H.R Muslim)
5. Dari Ibnu Umar ra, bahwasanya Rasulullah saw, bersabda :
“Apabila salah seorang di antara kalian datang salat Jumat,
maka hendaklah ia mandi”(H.R Bukhari dan Muslim)
6. Dari Abu Sa`id Al Khudriy ra. bahwasanya Rasulullah saw,
bersabda : “Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap
orang yang sudah baligh.”(H.R Bukhari dan Muslim)
7. Dari Samurah ra, ia berkata Rasulullah saw, bersabda :
“Barangsiapa yang wudhu pada hari Jumat maka
beruntunglah ia pada hari itu, dan barangsiapa yang mandi,
itu lebih baik baginya.”(H.R Abu Dawud dan Turmudzi)
8. Dari Salman ra, ia berkata : Rasulullah saw, bersabda :
“Seorang lelaki yang mandi pada hari Jumat dan bersuci diri
semampu ia bersuci, memakai minyak atau wewangian,
kemudian ia keluar ke masjid, tidak memisahkan antara dua
orang yang sedang duduk untuk dilompati, lalu mengerjakan
salat sesuai dengan yang telah ditentukan baginya, kemudian
ia diam ketika imam(khatib) sedang berkhutbah, maka pasti
dosanya diampuni antara Jumat itu dengan Jumat yang lalu.”
(H.R Bukhari)
9. Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw, bersabda :
“Barangsiapa mandi pada hari Jumat seperti mandi Jinabat,
kemudian berangkat di saat pertama, maka seolah-olah ia
berkurban unta. Barangsiapa berangkat di saat kedua, maka
seolah-olah berkurban seekor sapi. Barangsiapa berangkat di
saat ketiga, maka seolah-olah berkurban seekor kibas
bertanduk. Barangsiapa berangkat di saat keempat, maka
seolah-olah berkurban seeokor ayam. Dan barangsiapa
berangkat di saat kelima, maka seolah-olah berkurban sebutir
telur. Lalu apabila imam keluar (untuk berkhutbah) para
malaikatpun hadir mendengarkan zikir.” (H.R Bukhari dan
Muslim)
10. Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya ketika Rasulullah
saw, membicarakan hari Jumat. beliau bersabda : “Pada hari
itu ada suatu saat, apabila ada seorang muslim yang sedang
salat bertepatan, dengan saat itu kemudian ia memohon
kepada Allah, niscaya Allah mengabulkan permohonannya.”
Dan beliau berisyarat dengan tangannya menunjukkan bahwa
saat itu sangat sebentar.”(H.R Bukhari dan Muslim)
11. Dari Abu Burdah bin Abu Musa Al Asy`ariy, ia berkata :
Abdullah bin Umar ra, bertanya : “Apakah kamu pernah
mendengar ayahmu menceritakan tentang saat yang istimewa
pada hari Jumat dari Rasulullah saw?” Abu Burdah menjawab
: “Ya, Saya perbah mendengar ayah berkata : Saya
mendengar Rasulullah saw, bersabda : “Saat itu berada di
antara duduknya imam sampai selesai salat.”(H.R Muslim)
12. Dari Aus bin Aus ra, ia berkata : Rasulullah saw,
bersabda : “Sesungguhnya hari yang paling utama adalah hari
Jumat, maka perbanyaklah membaca salawat untukku pada
hari itu karena bacaan salawatmu pasti disampaikan
kepadaku.”(H.R Abu Dawud)
SUNNAT SUJUD SYUKUR BILA MENDAPATKAN
NIKMAT
1. Dari Sa’ad bin Abu Waqqas ra., ia berkata : Kami bersamasama
dengan Rasulullah saw, keluar dari Makkah menuju ke
Madinah, ketika kami hampir sampai di Azwara, beliau turun
kemudian mengangkat kedua tangannya dan berdoa sejenak
kepada Allah lantas sujud. Beliau melakukannya tiga kali.
Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku memohon kepada
Tuhan agar diizinkan memberi syafaat pada umatku,
kemudian Allah memperkenankan untuk sepertiga umatku,
maka aku bersujud kepada Tuhanku karena bersyukur.
Setelah itu aku mengangkat kepala dan memohon kepada
Tuhanku agar diizinkan memberi syafaat kepada umatku,
kemudian Allah memperkenankan untuk sepertiga umatku,
maka aku bersujud kepada Tuhanku karena bersyukur.
Setelah itu aku mengangkat kepala lagi dan memohon kepada
Tuhanku agar diizinkan memberi syafaat kepada umatku,
kemudian Allah memperkenankan untuk sepertiga yang lain,
maka aku sujud syujur kepada Tuhanku.”
(H.R Abu dawud)
KEUTAMAAN SALAT MALAM
1. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata : “Nabi saw, berdiri salat malam,
hingga pecah-pecah kedua telapak kaki beliau. Saya bertanya
kepada beliau : “Untuk apakah engkau berbuat ini, wahai
Rasulullah, sedangkan engkau telah benar-benar
diampunidosa-dosamu yang telah lewat dan yang akan
datang?” Rasulullah saw, bersabda : “tak bolehkan aku
menjadi hamba yang banyak bersyukur.”(H.R Bukhari dan
Muslim)
2. Dari Al Mughirah, seperti hadis tersebut di atas, yang juga
diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim
3. Dari Ali ra, bahwasanya pada suatu malam ketika ia tidur
bersama Fatimah, tiba-tiba Nabi saw, mengetuk pintu serta
bersabda : “Kenapa kalian tidak mengerjakan salat?”(H.R
Bukhari dan Muslim)
4. Dari Salim bin Abdullah bin Umar bin Khaththab ra, dari
ayahnya dari Nabi saw, bersabda : “Sebai-baik orang adalah
Abdullah, seandainya ia suka mengerjakan salat malam.”
Salim berkata : “Maka sesudah itu Abdullah hanya tidur
sebentar pada waktu malam.”(H.R Bukhari dan Muslim)
5. Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra, ia berkata Rasulullah saw,
bersabda : “Wahai Abdullah, janganlah kamu seperti si Fulan
di mana dia bangun pada waktu malam, tetapi tidak mau
mengerjakan salat sunnat pada waktu malam.”(H.R Bukhari
dan Muslim)
6. Dari Ibnu Mas`ud ra, ia berkata : “Pernah di hadapan Nabi
saw. Diceritakan tentang seseorang yang tidur pada waktu
malam sampai pagi (tidak bangun pada waktu malam),
kemudian beliau bersabda : “Itu adalah orang yang kedua di
telinganya dikencingi oleh setan.” Atau beliau bersabda : “Di
telinganya.”(H.R Bukhari dan Muslim)
7. Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw. Bersabda :
“Setan mengikat tengkuk kepala salah seorang di antara
kalian sewaktu tidur dengan tiga ikatan. Pada masing-masing
ikatan itu setan berkata : “Tidurlah lagi, malam masih
panjang.” Apa bila orang itu bangun kemudian zikir kepada
Allah Ta`ala maka lepaslah satu ikatan. Apabila ia berwudhu,
maka lepaslah satu ikatan lagi. Dan apabila ia salat, maka
lepaslah semua ikatan itu, sehingga pada waktu pagi ia akan
tangkas dan tenang jiwanya, sedang kalau tidak, maka ia
akan lesu dan malas.”(H.R Bukhari dan Muslim)
8. Dari Abdullah bin Salam ra, bahwasanya Nabi saw, bersabda :
“Wahai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam, berikanlah
makanan, dan salatlah kalian pada waktu mala sewaktu
manusia sedang tidur, niscaya kamu sekalian akan masuk
surga dengan selamat.” (H.R Turmudzi)
9. Dari Abu Jurairah ra, ia berkata : Rasulullah saw, bersabda :
“Puasa yang paling utama selain puasa Ramadhan adalah
puasa pada bulan Muharram dan salat yang paling utama
sesudah salat fardhu adalah salat malam (Tahajjud)(H.R
Muslim)
10. Dari Ibnu Umar ra, bahwasanya Nabi saw. bersabda :
“Salat malam itu dua rakaat. Apabila kamu khawatir
kedahuluan Subuh ,maka witirlah dengan satu rakaat.”(H.R
Bukhari dan Muslim)
11. Dari Ibnu Umar ra, ia berkata : “Adalah Nabi saw.
melakukan salat malam dua rakaat dan salat witir dengan
satu rakaat.”(H.R Bukhari dan Muslim)
12. Dari Anas ra, ia berkata : “Rasulullah saw, sering
berbuka (tidak puasa) dalam suatu bulan, sehinggga kami
menyangka beliau tidak pernah puasa dalam bulan itu, dan
beliau sering berpuasa, sehingga kami menyangka beliau
tidak pernah berbuka sedikitpun dalam bulan itu. Demikian
pula apabila kamu melihat beliau salat pada waktu malam,
niscaya kamu dapat melihatnya, dan apabila kamu ingin
melihat beliau tidur niscaya kamu dapat melihatnya.”(H.R
Bukhari)
13. Dari ‘Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah saw, biasa salat
sebelas rakaat pada waktu malam, di mana dalam setiap
beliau sujud, lamanya kira-kira sama dengan seorang
membaca lima puluh ayat, dan itu beliau belum mengangkat
kepala. Beliau salat dua rakaat sebelum salat Subuh,
kemudian beliau berbaring pada pinggang kanannya,
sehingga muazin mengumandangkan iqamat untuk salat
Subuh.”(H.R Bukhari)
14. Dari ‘Aisyah ra, ia berkata : “Rasulullah saw, tidak
pernah salat malam lebih dari sebelas rakaat baik itu pada
bulan Ramadhan maupun pada bulan lainnya, di mana beliau
salat empat rakaat yang cukup lama dan sempurna,
kemudian beliau salat empat rakaat yang sama lama dan
sempurna khusuknya, kemudia beliau salat tiga rakaat. Saya
bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah engkau tidak tidur
sebelum salat Witir?” Beliau menjawab : “Wahai ‘Aisyah
sesungguhnya kedua mataku terpejam, tetapi hatiku tidak
tidur.”(H.R Bukhari dan Muslim)
15. Dari ‘Aisyah ra, bahwasanya Nabi saw, biasa tidur pada
permulaan malam dan bangun pada akhir malam, kemudian
mengerjakan salat.”(H.R Bukhari dan Muslim)
16. Dari Ibnu Mas`ud ra, ia berkata : “pada suatu malam
saya salat bersama-sama dengan Nabi saw, dan beliau lama
sekali berdiri sehingga timbul niat yang tidak baik dalam diri
saya.” Ada seorang yang menanyakan : “Niat apakah itu?” ia
menjawab : “Saya bermaksud ingin duduk dan meninggalkan
salat bersama beliau.”(H.R Bukhari dan Muslim)
17. Dari Hudzaifah ra, ia berkata : “Pada suatu malam saya
salat dengan Nabi saw, setelah membaca Al Fatihah, beliau
membaca surat Al Baqarah , dalam hati saya berkata :
“mungkin beliau akan rukuk setelah mendapat seratus ayat.”
Setelah beliau mendapat seratus ayat, beliau melanjutkan
bacaannya, maka dalam hati saya berkata: “Mungkin beliau
akan mengkhatamkan (menghabiskan) surat Al Baqarah
dalam satu rakaat.” Selesai membaca surat Al Baqarah, dalam
hati saya berkata : “Sekarang mungkin beliau akan
melakukan rukuk.” Tetapi beliau mulai membaca surat An
Nisa’ dan dibacanya samapi selesai, kemudian beliau
membaca surat Ali Imran dengan sangat hati-hati dan jelas.
Apabila beliau membaca ayat yang di dalamnya ada perintah
tasbih, maka beliau membaca tasbih. Apabila beliau membaca
ayat yang di dalamnya ada perintah untuk memohon, maka
beliau memohon. Apabila beliau membaca ayat yang di
dalamnya ada perintah untuk berlindung diri, maka beliau
berlindung diri. Kemudian beliau ruku dengan membaca:
SUBHAANA RABBIYAL ‘AZHIIM, lamanya rukuk hampir sama
dengan lamanya berdiri. Kemudian beliau membaca
:SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANAA LAKAL HAMDU.
Kemudian beliau berdiri yang lamanya hampir sama dengan
lamanya rukuk, kemudian sujud dan membaca : SUBHAANA
RABBIYAL A’LAA. Lamanya sujud hampir sama dengan
lamanya berdiri.”(H.R Muslim)
18. Dari Jabir ra, ia berkata : Rasulullah saw, pernah
ditanya: “manakah yang paling utama di dalam salat?” Beliau
menjawab : “Lamanya berdiri.”(H.R Muslim)
19. Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash ra, bahwasanya
Rasulullah saw, bersabda : “Salat yang paling disenangi oleh
Allah adalah cara salatnya Nabi Dawud, dan puasa yang
paling disenangi oleh Allah adalah cara puasanya Nabi Dawud,
dimana beliau tidur setengah malam dan bangun pada
sepertiganya serta tidur seperenam malam, beliau puasa
sehari dan berbuka sehari.” (H.R Bukhari dan Muslim)
20. Dari Jabir ra, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah
saw, bersabda : “Sesungguhnya pada waktu malam terdapat
satu saat, apabila seorang muslim memohon kebaikan kepada
Allah Ta’ala baik berkaitan dengan urusan dunia maupun
akhirat, niscaya Allah mengabulkan permohonannya. Dan saat
yang demikian itu ada pada setiap malam.” (H.R Muslim)
21. Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Nabi saw., bersabda
: “Apabila salah seorang di antara kalian mengerjakan salat
pada waktu malam hendaklah ia memulainya dengan dua
rakaat yang ringan. ”(H.RMuslim)
22. Dari ‘Aisyah ra, ia berkata : “Apabila Rasulullah saw,
mengerjakan salat pada waktu malam, beliau memulainya
dengan dua rakaat yang ringan.”( H.R Muslim)
23. Dari ‘Aisyah ra, ia berkata : “Apabila Rasulullah saw,
tidak dapat mengerjakan salat pada waktu malam karena
sakit atau karena sesuatu yang lain, maka beliau
mengerjakan salat sebelas rakaat pada waktu siang.”(H.R
Muslim)
24. Dari Umar bin Khaththab ra, ia berkata : Rasulullah
saw, bersabda : “Barangsiapa tertidur tidak mengerjakan
kebiasanya atau melaksanakannya antara salat Subuh dan
Dhuhur, maka dicatatkan baginya seolah-olah ia membaca
atau melaksanakannya pada waktu malam.”(H.R Muslim)
25. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Rasulullah saw,
bersabda : “Allah sangat mengasihani orang laki-laki yang
bangun pada waktu malam, kemudian mengerjakan salat dan
mau membangunkan istrinya.. Apabila istrinya enggan
bangun, maka ia menyiramkan air pada muka istrinya itu.
Allah sangat mengasihani seorang perempuan yang bangun
pada waktu malam, kemudian mengerjakan salat dan mau
membangunkan suaminya. Apabila suaminya enggan bangun,
maka ia menyiramkan air pada muka suaminya itu.”(H.R Abu
Dawud)
26. Dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id ra, mereka berkata :
Rasululllah saw, bersabda : “Apabila seorang laki-laki
membangunkan istrinya pada waktu malam, kemudian
keduanya salat dua rakaat, maka masing-masing dicatat
dalam glongan orang-orang yang selalu zikir kepada Allah
Ta’ala .”
27. Dari ‘Aisyah ra, bahwasanya Nabi saw, bersabda :
“Apabila salah seorang di antara kalian mengantuk dalam
mengerjakan salat, maka hendaklah ia tidur sehingga rasa
kantuknya hilang. Sebab, jika salat sambil mengantuk, bisa
jadi ia bermaksud memohon ampun tetapi malah mengutuk
dirinya sendiri.”(H.R Bukhari dan Muslim)
28. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Rasulullah saw.,
bersabda : “Apabila salah seorang di antara kalian
mengerjakan salat pada waktu malam, kemudian ia membaca
Al Quran melalui lisannya, tetapi ia tidak mengetahui apa
yang sedang dibacanya maka hendaklah ia tidur.”(H.R
Muslim)
KEUTAMAAN SALAT TARAWIH
1. Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw, bersabda “
Barangsiapa mengerjakan salat sunnat pada malam bulan
Ramadhan dengan penuh keimanan dan hanya mengharapkan
pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah
lalu.”(H.R Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Rasulullah saw, sangat
menganjurkan untuk selalu salat sunnat pada malam
Ramadhan, tetapi tidak mewajibkannya, di mana beliau
bersabda : “Barangsiapa mengerjakan salat sunnat pada
malam bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan hanya
mengharapkan pahala dari Allah, maka diampuni dosadosanya
yang telah lalu.”(H.R Muslim)
KEUTAMAAN BERIBADAH PADA MALAM
QADAR
1. Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, beliau bersabda :
“Barangsiapa beribadah pada malam Qadar dengan penuh
keimanan dan hanya mengharapkan pahala dari Allah, maka
diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”(H.R Bukhari dan
Muslim)
2. Dari Ibnu Umar ra., bahwasanya beberapa sahabat Nabi saw,
memimpikan Lailatul Qadar pada tujuh malam yang terakhir
(dalam bulan Ramadhan), kemudian Rasulullah saw.,
bersabda : “Aku perhatikan impianmu itu benar-benar tepat
pada tujuh malam terakhir, maka barangsiapa ingin mencari
Lailatul Qadar, maka hendaklah ia bersungguh-sungguh pada
tujuh malam yang terakhir.”(H.R Bukhari dan Muslim)
3. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata : Rasulullah saw, selalu beri’tikaf
pada sepuluh malam yang terakhir dari bulan Ramadhan,
serta bersabda : “Bersungguh-sungguhlah kalian mencari
lailatul Qadar pada sepuluh malam yang terakhir dari bulan
Ramadhan.”(H.R Bukhari dan Muslim)
4. Dari ‘Aisyah ra., bahwasanya Rasulullah saw. bersabda :
“Bersungguh-sungguhlah kalian mencari Lailatul Qadar pada
malam-malam ganjil dari sepuluh malam yang terakhir dari
bulan Ramadhan.”(H.R Bukhari)
5. Dari ‘Aisyah ra, ia berkata : “Rasulullah saw, apabila telah
masuk pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan
beliau selalu beribadah pada waktu malam serta
membangunkan keluarganya, besungguh-sungguh ibadah dan
mengikatkan sarungnya (tidak bersetubuh dengan
istrinya).”(HR.Bukhari dan Muslim)
6. Dari Aisyah ra., ia berkata : “Rasulullah saw. sangat
bersungguh-sungguh dalam beribadah pada bulan Ramadhan,
tidak seperti pada bulan-bulan yang lain, dan pada malam
sepuluh terakhir bulan Ramadhan beliau semakin
bersungguh-sungguh dalam beribadah tidak seperti pada
malam-malam yang lain.”(HR.Muslim)
7. Dari Aisyah ra., ia berkata : Saya bertanya : “Wahai
Rasulullah, bagaimana pendapatmu seandainya saya
mengetahui malam itu adalah malam Qadar, apakah yang
harus saya baca pada malam tersebut ?” Beliau bersabda :
“Bacalah ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA
FA’FU’ANNII ( Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Dzat
yang Maha Pengampun, maka ampunilah
saya).”(HR.Turmudzi)
KEUTAMAAN SIWAK
1. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda :
“Seandainya aku tidak khawatir untuk mempersulit umatku,
niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak (bersugi)
setiap akan mengerjakan salat.”(HR.Bukhari dan Muslim)
2. Dari Hudzaifah ra., ia berkata : “Apabila Nabi saw. bangun
dari tidurnya, beliau selalu bersiwak (menggosok gigi) dengan
siwak (sikat gigi).” (HR.Bukhari dan Muslim)
3. Dari Aisyah ra., ia berkata : “Kami selalu menyediakan siwak
dan air wudhu untuk Rasulullah saw. maka apabila Allah
membangunkan beliau kapan saja pada waktu malam,
niscaya beliau bersugi, wudhu dan mengerjakan salat
.”(HR.Muslim)
4. Dari Anas ra., ia berkata : “Rasulullah saw. bersabda : “Aku
sudah sering kali menganjurkan kepada kalian untuk
bersiwak.”(HR.Bukhari)
5. Dari Syuraih bin Hani’, ia berkata : “Saya pernah bertanya
kepada Aisyah ra. tentang perbuatan apakah yang mula
pertama dikerjakan oleh Nabi saw. apabila masuk rumahnya
?” Aisyah menjawab : “Beliau bersiwak.”(HR.Muslim)
6. Dari Abu Musa Al Asy’ariy ra., ia berkata : “Saya masuk ke
rumah Nabi saw., sedangkan ujung siwaknya masih berada
pada mulutnya.”(HR.Bukhari dan Muslim)
7. Dari Aisyah ra., bahwasanya Nabi saw. bersabda : “Bersiwak
(bersugi) itu dapat membersihkan mulut dan mendapat ridha
Tuhan.”(HR.Nasa’i dan Ibnu Huzaimah)
8. Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. bersabda : “Fitrah
(kebersihan badan) itu ada lima; khitan, mencukur rambut
kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan
mencukur kumis.”(HR.Bukhari dan Muslim)
9. Dari Aisyah ra., ia berkata : Rasulullah saw bersabda :
“Sepuluh macam daripada fitrah adalah : Mencukur kumis,
memelihara jenggot, bersiwak, menghirup air ke hidung,
memotong kuku, membasuh sela-sela jari, mencabut bulu
ketiak, mencukur rambut kemaluan, dan bersuci apabila
buang air.” Perawi hadis ini berkata : “Untuk yang kesepuluh
saya lupa, tetapi kalau tidak salah adalah berkumur.”
Sedangkan Waki’ salah seorang yang juga meriwayatkan
hadis ini berkata : “(yang kesepuluh) adalah
istinja.”(HR.Muslim)
10. Dari Ibnu Umar ra. dari Nabi saw., beliau bersabda :
“Potonglah kumis dan peliharalah jenggot.”(HR.Bukhari dan
Muslim)
ZAKAT DAN KEUTAMAANNYA
1. Dari Ibnu Umar ra., bahwasanya Rasulullah saw. bersabda :
“Islam itu didirikan atas lima sendi, yaitu persaksian bahwa
tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah,
mendirikan salat, menunaikan zakat, haji dan puasa pada
bulan Ramadhan.”(HR.Bukhari dan Muslim)
2. Dari Thalhah bin Ubaidillah bin Utsman bin Amr bin Ka’ab At
Taimiy ra., ia berkata : “Ada seorang laki-laki dari ahli Najd
datang kepada Rasulullah saw. dengan rambut yang terurai,
kami bisa mendengar suaranya, tetapi tidak bisa memahami
apa yang dikatakannya. Ia mendekat kepada Rasulullah saw.
kemudian menanyakan tentang Islam, maka Rasulullah saw.
bersabda : “Lima kali salat sehari semalam.” Ia bertanya :
“Apakah bagi saya ada kewajiban salat yang lain ?”
Rasulullah saw. menjawab : “Tidak, kecuali bila kamu mau
mengerjakan salat sunnat.” Kemudian Rasulullah saw.
bersabda : “Dan puasa pada bulan Ramadhan.” Ia bertanya :
“Apakah bagi saya ada kewajiban puasa yang lain ?” Beliau
menjawab : “Tidak, kecuali bila kamu mau mengerjakan
puasa sunnat.” Thalhah menceritakan pula bahwa Rasulullah
saw. menjelaskan juga kewajiban zakat kepada orang lakilaki
itu, dan ia bertanya : “Apakah bagi saya ada kewajiban
zakat yang lain ?” Beliau menjawab : “Tidak, kecuali bila
kamu mau memberikan sedekah .” Kemudian orang itu pergi
sambil berucap : “Demi Allah, saya tidak akan menambahi
dan mengurangi apa yang telah ditentukan ini. “ Kemudian
Rasulullah saw. bersabda : ‘Berbahagialah apabila ia benar
.”(HR.Bukhari dan Muslim)
3. Dari Ibnu Abbas ra. bahwasanya Nabi saw. mengutus Mu’adz
ke Yaman, kemudian beliau bersabda : “Ajaklah mereka
(penduduk Yaman) supaya percaya bahwa tidak ada Tuhan
selain Allah dan Muhammad utusan Allah. Jika mereka
mengetahui hal itu, maka beritahulah mereka bahwa Allah
mewajibkan kepada mereka lima kali salat dalam sehari
semalam. Kalau mereka mentaati itu, maka beritahulah
mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka
sedekah (zakat) yang diambil dari orang-orang kaya dan
diberikan kepada orang-orang miskin.”(HR.Bukhari dan
Muslim)
4. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda :
“Aku diperintah untuk memerangi orang-orang, sehingga
mereka mau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan
Muhammad utusan Allah, mendirikan salat dan menunaikan
zakat. Apabila mereka telah mengerjakan hal itu, maka
terjagalah harta dan darah mereka kecuali dengan hal Islam,
sedang perhitungan (hisab) mereka terserah
Allah.”(HR.Bukhari dan Muslim)
5. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Ketika Rasulullah saw.
telah wafat dan Abu Bakar ra. diangkat menjadi khalifah serta
banyak orang Arab yang kembali kafir, maka Umar ra.
bertanya : “Bagaimana engkau akan memerangi manusia ?
Sedangkan Rasulullah saw. pernah bersabda : “Aku
diperintah untuk memerangi manusia sehingga mereka mau
mengucapkan : LAA ILAAHA ILLALLAAH (Tidak ada Tuhan
selain Allah ). Apabila seseorang telah mengucapkan kalimat
itu, maka terjagalah daripadaku harta dan jiwanya kecuali
dengan haknya, dan hisab (perhitungan amalnya) terserah
Allah.” Kemudian Abu Bakar berkata : “Demi Allah, saya
benar-benar akan memerangi orang-orang yang membedabedakan
antara kewajiban salat dan zakat, karena
sesungguhnya zakat itu adalah haknya harta. Demi Allah
seandainya mereka menahan tali serban yang biasa mereka
berikan kepada Rasulullah saw. niscaya saya akan
memerangi mereka karena menahan tali serban itu.”
Kemudian Umar ra. berkata : “Demi Allah apa yang dikatakan
Abu Bakar telah saya mengerti bahwa Allah melapangkan
dada Abu Bakar untuk berperang, maka saya pun telah
mengerti bahwa apa yang dikatakan itu adalah suatu
kebenaran.”(HR.Bukhari dan Muslim)
6. Dari Ayyub ra. bahwasanya ada seorang laki-laki datang
kepada Nabi saw. dan berkata : “Beritahukanlah kepada saya
tentang suatu amal perbuatan yang dapat memasukkan saya
ke surga.” Beliau bersabda : “Sembahlah Allah dan janganlah
kamu menyekutukan-Nya dengan suatu apapun, dirikanlah
salat, tunaikanlah zakat dan hubungkan tali
persaudaraan.”(HR.Bukhari dan Muslim)
7. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya ada seorang Badui datang
kepada Nabi saw. dan bertanya : “Wahai Rasulullah,
tunjukkanlah kepada saya tentang amal perbuatan, yang
mana apabila saya mengamalkannya akan masuk surga .”
Beliau bersabda : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu
menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dirikan salat,
tunaikan zakat dan berpuasa pada bulan Ramadhan.” Ia
berkata : “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-
Nya, sungguh saya tidak akan menambahi ketentuan ini .”
Ketika orang itu pergi, maka Nabi saw. bersabda :
“Barangsiapa yang ingin melihat seseorang yang termasuk
ahli surga, maka lihatlah orang Badui itu .”(HR.Bukhari dan
Muslim)
8. Dari Jarir bin Abdullah ra., ia berkata : “Saya telah berbai’at
kepada Nabi saw. untuk mendirikan salat, menunaikan zakat
dan memberi nasihat kepada setiap orang Islam
.”(HR.Bukhari dan Muslim)
9. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda :
“Pemilik emas dan perak yang tidak mau mengeluarkan
zakatnya, kelak di hari kiamat akan dibentuk berupa
lempengan dan dibakar di dalam api neraka Jahannam lalu
disetrikakan pada pinggang, dahi dan punggungnya. Apabila
sudah dingin maka siksaan itu diulang lagi dalam masa satu
hari yang lamanya kira-kira lima puluh ribu tahun, hingga
selesai putusan semua hamba, kemudian ia baru dimasukkan
ke surga atau neraka .” Ada seseorang yang bertanya :
“Wahai Rasulullah, bagaimana kalau memiliki unta ?” Beliau
menjawab : “Begitu juga orang yang mempunyai unta tetapi
tidak mau mengeluarkan zakatnya, di antara zakatnya yaitu
memerah susunya ketika dibawa ke tempat minum untuk
diberikan kepada orang yang lewat di situ, maka pada hari
kiamat nanti dihamparkan baginya tanah lapang dan
dikumpulkanlah semua untanya tanpa ada yang tertinggal
seekorpun, lalu menginjak-injak dan menggigitnya, apabila
yang satu telah selesai menyiksanya, kemudian diulang oleh
unta yang lain dalam masa satu hari yang lamanya kira-kira
lima puluh ribu tahun, sehingga selesai putusan semua
hamba, kemudian ia baru dimasukkan ke surga atau neraka.”
Ada seseorang bertanya : “Wahai Rasulullah, bagaimana
kalau lembu dan kambing ?” Beliau menjawab : “Begitu juga
orang yang memiliki lembu dan kambing yang tidak
dikeluarkan zakatnya, nanti pada hari kiamat dihamparkan
baginya tanah lapang dan dikumpulkanlah semua lembu dan
kambingnya tanpa ada yang tertinggal seekorpun, bahkan
tidak ada yang tidak bertanduk, baik dengan tanduk yang
bengkok, maupun tanduk yang telah patah, dimana
semuanya menanduk-nanduk dan menginjak-injak orang itu,
dan apabila yang satu telah selesai menyiksanya, kemudian
diulang oleh yang lain dalam masa satu hari yang lamanya
kira-kira lima puluh ribu tahun, sehingga selesai putusan
semua hamba, kemudian ia baru dimasukkan ke surga atau
neraka.” Ada seseorang bertanya : “Wahai Rasulullah,
bagaimana kalau memiliki kuda ?” Beliau menjawab : “Kuda
itu ada tiga macam. Kuda yang dapat mendatangkan dosa
bagi pemiliknya, yang dapat menutupi hajat bagi pemiliknya,
dan yang dapat mendatangkan pahala bagi pemiliknya.
Adapun kuda yang dapat mendatangkan dosa bagi
pemiliknya, yaitu kuda yang dipelihara oleh pemiliknya
dengan maksud untuk sombong dan digunakan untuk
memusuhi Islam, maka kuda macam itulah yang
mendatangkan dosa bagi pemiliknya. Adapun kuda yang
dapat menutupi hajat bagi pemiliknya, yaitu kuda yang dapat
digunakan untuk kepentingan yang diridhai Allah, kemudian
ia tidak melupakan hak dan kewajiban pemeliharaannya,
maka kuda semacam itulah yang dapat menutupi hajat bagi
pemiliknya. Adapun kuda yang dapat mendatangkan pahala
bagi pemiliknya yaitu kuda yang dipergunakan untuk
berjuang di jalan Allah dan untuk kepentingan umat Islam,
kuda semacam itu bila dilepas di tanah lapang atau kebun
kemudian ia makan sesuatu yang ada di situ, maka apa yang
dimakannya itu dicatat sebagai suatu kebaikan bagi
pemiliknya, bahkan kotoran dan air kencingnya pun dicatat
sebagai suatu kebaikan bagi pemiliknya. Dan apabila ia
terlepas dari tali kekangnya, kemudian lari atau melompatlompat,
maka hitungan langkahnya itu dicatat oleh Allah
sebagai suatu kebaikan bagi pemiliknya. Apabila ia dibawa
oleh pemiliknya kemudian melewati sebuah sungai lantas ia
minum dari air sungai itu, padahal pemiliknya tidak
bermaksud untuk memberinya minum, maka Allah mencatat
apa yang diminumnya itu sebagai suatu kebaikan bagi
pemiliknya.” Ada seseorang yang bertanya : “Wahai
Rasulullah , bagaimana kalau memiliki keledai ?” Beliau
menjawab : “Tentang keledai, tidak diturunkan kepadaku
suatu ayat yang menjelaskannya, kecuali ayat yang sifatnya
umum yaitu yang berbunyi : FAMAN YA’MAL MITSQAALA
DZARRATIN KHAIRAY YARAH. WAMAN YA’MAL MITSQAALA
DZARRATIN SYARRAY YARAH .” (Barangsiapa yang
mengerjakan kebaikan seberat zarrah (debu) pun, niscaya dia
akan melihat balasannya. Dan barangsiapa yang
mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan
melihat balasannya pula).”(HR.Bukhari dan Muslim)
KEWAJIBAN DAN KEUTAMAAN PUASA BULAN
RAMADHAN
1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda :
“Allah Azza wa Jalla berfirman : “Setiap anak Adam (manusia)
itu membawa manfaat bagi dirinya sendiri kecuali puasa,
karena puasa adalah untuk-Ku dan Aku sendirilah yang akan
membalasnya. Puasa itu adalah perisai. Apabila ada hari
puasa salah seorang di antara kalian, maka janganlah ia
berkata kotor dan gaduh. Jika seseorang memakinya atau
memusuhinya, hendaklah ia mengatakan : “Sesungguhnya
aku sedang berpuasa.” Demi Dzat yang jiwa Muhammad
berada dalam genggaman-Nya, bau mulut orang yang sedang
berpuasa bagi Allah lebih harum daripada bau minyak Kasturi.
Orang yang berpuasa mengalami dua kegembiraan, yaitu :
kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika
bertemu Tuhannya karena besarnya pahala
puasa.”(HR.Bukhari dan Muslim)
Dan di dalam riwayat Bukhari dikatakan : “Ia meninggalkan
makan,minum, dan kesenangan syahwatnya demi Aku. Puasa
adalah untuk-Ku, dan Aku sendirilah yang akan membalasnya.
Kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat.
Dan di dalam riwayat Muslim dikatakan : “Setiap amal anak Adam
(manusia) itu dilipatkan (pahalanya), satu kebaikan dengan sepuluh
kali lipat sampai tujuh ratus lipat. Allah Ta’ala berfirman : “Kecuali
puasa, karena puasa adalah untuk-Ku, dan Aku sendirilah yang
akan membalasnya. Orang yang berpuasa itu meninggalkan
nafsunya dan makannya demi Aku. Orang yang berpuasa itu
mengalami dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka
puasa dan kegembiraan ketika bertemu dengan Tuhannya. Dan
sesungguhnya, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum
menurut Allah daripada bau minyak Kasturi.”
2. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda :
“Barangsiapa bersedekah sepasang di jalan Allah, maka ia
akan dipanggil dari pintu-pintu surga : “Hai hamba Allah,
inilah yang lebih baik.” Barangsiapa yang termasuk golongan
orang-orang yang mengerjakan salat, maka ia akan dipanggil
dari pintu salat. Barangsiapa yang termasuk golongan orangorang
yang melakukan pintu jihad, maka ia akan dipanggil
dari pintu jihad. Dan barangsiapa yang termasuk golongan
orang-orang yang mengerjakan puasa, maka ia akan
dipanggil dari pintu Ar Rayyan (pintu kesegaran). Dan
barangsiapa yang termasuk golongan orang-orang yang suka
bersedekah, maka ia akan dipanggil dari pintu sedekah. Abu
Bakar ra. berkata : “Demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah,
bukankah ada orang yang dipanggil pintu-pintu itu karena
darurat ? Maka apakah ada seseorang yang dipanggil dari
semua pintu itu ?” Beliau menjawab : “Ya,ada, aku
mengharapkan semoga kamu termasuk dari golongan mereka
itu.”(HR.Bukhari dan Muslim)
3. Dari Sahal bin Sa’ad ra. dari Nabi saw., beliau bersabda :
“Sesungguhnya di dalam surga ada pintu yang bernama Ar
Rayyan (pintu kesegaran), dimana nanti pada hari kiamat
orang-orang yang berpuasa akan masuk lewat pintu itu dan
tidak seorang pun yang dapat masuk lewat pintu itu selain
mereka, di mana penjaga pintu mengucapkan : “Mana orangorang
yang berpuasa ?” Kemudian mereka pun berdiri, tidak
ada seorang pun selain mereka yang boleh masuk lewat pintu
itu. Apabila mereka telah masuk pintu surga, maka ditutuplah
pintu itu. Maka dari itu tidak ada seorang pun yang dapat
masuk lewat pintu itu selain mereka yang ahli berpuasa
.”(HR.Bukhari dan Muslim)
4. Dari Abu Sa’id Al Khudriy ra., ia berkata : Rasulullah saw.
bersabda : “Tidaklah seorang hamba yang mengerjakan
puasa karena Allah, melainkan Allah menjauhkan dirinya dari
neraka sejauh perjalanan tujuh puluh tahun karena puasanya
yang sehari itu .”(HR.Bukhari dan Muslim)
5. Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw., beliau bersabda :
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan
mengharap pahala kepada Allah, maka diampuni dosanya
yang telah lampau.”(HR.Bukhari dan Muslim)
6. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda :
“Apabila bulan Ramadhan datang, maka dibukalah pintu-pintu
surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka serta dibelenggulah
setan-setan .”(HR.Bukhari dan Muslim)
7. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda :
“Berpuasalah kalian karena melihat hilal (bulan) dan
berbukalah kalian karena melihatnya. Jika hilal itu samara
atas kalian, maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban
menjadi tiga puluh hari .”(HR.Bukhari dan Muslim)
Dan di dalam riwayat Muslim dikatakan : “Apabila hilal tertutup atas
kalian, maka berpuasalah tiga puluh hari .”
MEMPERBANYAK AMAL KEBAIKAN PADA
SEPULUH MALAM TERAKHIR RAMADHAN
1. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata : “Rasulullah saw. adalah
orang yang paling pemurah, lebih-lebih pada bulan Ramadhan
di mana beliau selalu ditemui Jibril, dan setiap malam di bulan
Ramadhan, Jibril datang untuk membacakan Al-Qur’an. Jika
Rasulullah saw. bertemu Jibril, maka beliau lebih pemurah
daripada angin yang bertiup .”(HR.Bukhari dan Muslim)
2. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata : “Apabila sudah masuk sepuluh
hari yang terakhir (dari bulan Ramadhan), maka Rasulullah
saw. selalu menghidup-hidupkan malam (dengan beribadah)
dan membangunkan keluarganya serta mengikatkan
sarungnya (tidak menggauli istrinya).”(HR.Bukhari dan
Muslim)
LARANGAN MENDAHULUI RAMADHAN
DENGAN BERPUASA SESUDAH PERTENGAHAN
SYA’BAN
1. Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw., beliau bersabda :
“Janganlah salah seorang di antara kalian mendahului
Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari, kecuali
bagi orang yang membiasakan berpuasa, maka berpuasalah
pada hari itu .”(HR.Bukhari dan Muslim)
2. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda :
“Janganlah kalian berpuasa sebelum datang bulan
Ramadhan. Berpuasalah kalian karena melihat hilal (bulan)
dan berbukalah kalian karena melihatnya . Dan apabila
terhalang oleh awan maka sempurnakanlah sampai tiga
puluh hari .”(HR.Turmudzi)
3. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda
: “Apabila sudah sampai pada pertengahan bulan Sya’ban
maka janganlah kalian berpuasa .”(HR.Turmudzi)
4. Dari Abul Yaqdhan (Ammar) bin Yasir ra., ia berkata :
“Barangsiapa berpuasa pada hari yang masih diragukan,
maka sungguh ia telah mendurhakai Abul Qasim (Nabi
Muhammad saw.).”(HR.Abu Dawud dan Turmudzi)
DOA KETIKA MELIHAT HILAL
1. Dari Thalhah bin Ubaidillah ra. bahwasanya Nabi saw. apabila
melihat hilal (bulan terbit), beliau membaca : ALLAAHUMMA
AHILLAHU ‘ALAINAA BIL AMNI WAL IIMAANI WAS SALAAMATI
WAL ISLAMII. RABBI WARABBUKALLAAHUHILAAHU RUSYDIN
WAKHAIR (Ya Allah, terbitkanlah bulan itu kepada kami
dengan sentosa, iman, selamat, dan Islam. Tuhanku dan
Tuhanmu adalah Allah, semoga hal ini membawa petunjuk
dan kebaikan.”(HR.Turmudzi)
KEUTAMAAN SAHUR
1. Dari Anas ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : “Makan
sahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam makan sahur
itu terdapat berkah .”(HR.Bukhari dan Muslim)
2. Dari Zaid bin Tsabit ra., ia berkata : “Kami makan sahur
bersama-sama dengan Rasulullah saw. kemudian kami
melaksanakan salat (Shubuh). Ada seseorang bertanya :
“Berapa lama antara sahur dengan salat (Shubuh) itu ?”
Beliau menjawab : “(Kira-kira) bacaan 50 ayat.”(HR.Bukhari
dan Muslim)
3. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : “Rasulullah saw. mempunyai
tukang adzan dua orang, yaitu Bilal dan putera Ummu
Maktum. Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya Bilal itu
mengumandangkan adzan pada waktu malam, maka makan
dan minumlah kalian sampai putra Ummu Maktum
mengumandangkan adzan. Dan jarak kedua adzan itu hanya
sekedar turunnya yang pertama dan naiknya yang kedua
.”(HR.Bukhari dan Muslim)
4. Dari Amr bin Ash ra., bahwasanya Rasulullah saw. bersabda :
“Kelebihan puasa kami dan puasa ahli kitab adalah adanya
makan sahur .”(HR.Muslim)
KEUTAMAAN SEGERA BERBUKA PUASA
1. Dari Sahl bin Sa’ad ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda
: “Manusia selalu dalam kebaikan, selama mereka segera
berbuka .”(HR.Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Athiyyah ra., ia berkata : “Saya bersama Masruq
datang kepada ‘Aisyah ra. kemudian Masruq berkata
kepadanya : “Ada dua sahabat Nabi Muhammad saw. yang
masing-masing ingin mengejar kebaikan, di mana salah
seorang dari keduanya itu segera mengerjakan salat Maghrib
dan berbuka, sedangkan yang lain berbuka dulu kemudian
salat Maghrib.” Aisyah bertanya : “Siapakah yang segera
mengerjakan salat Maghrib dan berbuka ?”Masruq menjawab
: “ Abdullah bin Mas’ud.” Kemudian Aisyah berkata :
“Demikianlah yang diperbuat oleh Rasulullah
saw.”(HR.Muslim)
3. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda :
“Allah Azza wa Jalla berfirman : “Hamba-hamba-Ku yang
paling Aku sukai adalah yang paling cepat kalau berbuka
puasa .”(HR.Turmudzi)
4. Dari Umar bin Khaththab ra., ia berkata : Rasulullah saw.
bersabda : “Apabila waktu malam telah datang dari sini, dan
waktu siang telah berlalu dari sini, serta matahari telah
terbenam maka orang yang berpuasa boleh
berbuka.”(HR.Bukhari dan Muslim)
5. Dari Abu Ibrahim Abdullah bin Auf ra., ia berkata : “Kami
pergi bersama-sama dengan Rasulullah saw. sedangkan
beliau sedang berpuasa. Ketika matahari terbenam beliau
bersabda kepada salah seorang di antara para sahabat :
“Wahai Fulan, turunlah dan buatkan makanan untuk kami.” Ia
menjawab : “Wahai Rasulullah, nanti sore saja .” Beliau
bersabda lagi : “Turunlah dan buatkan makanan untuk kami .”
Ia berkata : “Sesungguhnya hari masih siang.” Beliau
bersabda lagi : “Turunlah dan buatkan makanan untuk kami .”
Abu Ibrahim berkata : “Kemudian si Fulan turun dan
membuatkan makanan untuk para sahabat. Rasulullah saw.
minum lantas bersabda : “Apabila kamu sekalian mengetahui
bahwa waktu malam telah datang dari sini, maka orang yang
berpuasa boleh berbuka.” Beliau menunjuk ke arah
timur.”(HR.Bukhari dan Muslim)
6. Dari Salman bin Amr Adl Dlabiy Ash Shahabiy ra. dari Nabi
saw., beliau bersabda : “Apabila salah seorang di antara
kalian berbuka puasa maka berbukalah dengan kurma,
apabila tidak ada kurma hendaknya berbuka dengan air,
karena sesungguhnya air itu dapat membersihkan.”(HR.Abu
Dawud dan Turmudzi)
7. Dari Anas ra., ia berkata :Rasulullah saw. selalu berbuka
dengan beberapa biji kurma yang baru masak sebelum salat.
Apabila tidak ada biji kurma yang kering, maka beliau
meneguk air beberapa teguk .”(HR.Abu Dawud dan Turmudzi)
ORANG BERPUASA HARUS MENJAGA LIDAH
DAN ANGGOTA BADANNYA
1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda :
“Apabila salah seorang di antara kalian berpuasa, maka
janganlah berkata kotor dan gaduh. Jika ada seseorang
memakinya atau memusuhinya, hendaklah ia (orang yang
berpuasa) mengucapkan : “Sesungguhnya saya sedang
berpuasa .”(HR.Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Nabi saw. bersabda :
“Barangsiapa tidak mau meninggalkan omongan bohong dan
memperbuatnya, maka tidak ada kebutuhan bagi Allah dalam
diri orang yang berpuasa meninggalkan makanan dan
minumannya .”(HR.Bukhari)
B
EBERAPA HAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN
PUASA
1. Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw., beliau bersabda :
“Apabila salah seorang di antara kalian terlupa, lalu makan
atau minum, maka hendaklah ia melanjutkan puasanya.
Karena sesungguhnya Allah-lah yang telah memberinya
makan dan minum .”(HR.Bukhari dan Muslim)
2. Dari Laqith bin Shabrah ra., ia berkata : Saya bertanya :
“Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada saya tentang
wudhu.” Beliau bersabda : “Sempurnakanlah wudhumu,
basuhlah sela-sela jarimu dan perdalamlah di dalam
menghirup air ke dalam lubang hidung, kecuali kamu sedang
berpuasa .”(HR.Abu Dawud dan Turmudzi)
3. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata : “Rasulullah saw. sering dalam
keadaan junub karena bersetubuh dengan isterinya, ketika
masuk waktu fajar, kemudian beliau mandi dan
berpuasa.”(HR.Bukhari dan Muslim)
4. Dari ‘Aisyah dan Ummu Salamah ra., mereka berkata :
“Rasulullah saw. sering dalam keadaan junub bukan karena
bermimpi ketika masuk waktu fajar kemudian beliau mandi
dan terus berpuasa .”(HR.Bukhari dan Muslim)
KEUTAMAAN PUASA MUHARRAM DAN
SYA’BAN
1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda :
“Puasa yang paling utama sesudah puasa pada bulan
Ramadhan adalah puasa pada bulan Muhrram. Dan salat yang
paling utama setelah salat fardhu adalah salat
malam.”(HR.Muslim)
2. Dari ‘Aisyah ra. ia berkata : “Tidak pernah Rasulullah saw.
berpuasa dari suatu bulan yang lebih banyak daripada bulan
Sya’ban. Sungguh beliau berpuasa penuh pada bulan
Sya’ban.”(H.R Bukhari dan Muslim)
Dan di dalam riwayat yang lain dikatakan : “Beliau berpuasa pada
bulan Sya’ban, kecuali sedikit (bebereapa hari saja beliau tidak
berpuasa)
3. Dari Mujibah Al Bahiliy dari ayahnya atau dari pamannya,
bahwasanya ia pernah datang kepada Rasulullah saw.
kemudian pergi, dan sesudah satu tahun ia kembali kepada
beliau, sedangkan ia sudah sangat berubah bentuk dan
sikapnya, ia lantas berkata: “Wahai Rasulullah, apakah
engkau masih mengenal saya?” Beliau bertanya : “Siapakah
kamu?” Ia menjawab: “Saya Al Bahiliy yang pernah datang
kepadamu pada tahun yang lalu.” Beliau bertanya : “Apakah
yang merubah kamu sehingga kamu sekarang nampak
bagus?” Ia menjawab : “Semenjak saya berpisah dengan
engkau saya tidak pernah makan kecuali pada waktu malam.”
Kemudian Rasulullah saw. bersabda : “Kamu telah menyiksa
dirimu.” Beliau lantas bersabda : “Puasalah pada bulan
shahabar (Ramadhan) dan satu hari setiap bulan.” Ia berkata
: “Tambahkanlah buat saya, karena sesungguhnya saya
merasa kuat.” Beliau bersabda : “Puasalah dua hari setiap
bulan.” Ia berkata : “Tambahkanlah buat saya.” Beliau
bersabda : “Puasalah pada bulan-bulan yang mulia dan
berhentilah. Puasalah pada bulan-bulan yang mulia dan
berhentilah. Puasalah pada bulan-bulan yang mulia dan
berhentilah” Rasulullah saw. bersabda sambil menunjukkan
ketiga jari-jarinya dan dikumpulkan lalu direnggangkan.”(H.R
Abu Dawud)
KEUTAMAAN PUASA DZUL HIJJAH
1. Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata : Rasulullah saw. bersabda :
“Tidak ada suatu hari di mana amal shalih lebih disukai oleh
Allah daripada dalam sepuluh hari permulaan bulan
Dzulhijjah.” Para sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah,
walaupun berjuang di jalan Allah?” Beliau bersabda :
“Walaupun berjuang di jalan Allah, kecuali seorang yang
keluar dengan jiwa dan hartanya kemudian ia tidak
mengizinkan balasan apa-apa dari yang telah
dikorbankannya.”(H.R Bukhari)
KEUTAMAAN PUASA HARI ARAFAH, TASU’A
DAN ASYURA
1. Dari Abu Qatadah ra. ia berkata : Rasulullah saw. pernah
ditanya tentang puasa hari Arafah, kemudian beliau
menjawab : “Puasa itu melebur dosa satu tahun yang lewat
dan yang tinggal.”(H.R Muslim)
2. Dari Ibnu Abbas ra. bahwasanya Rasulullah saw. berpuasa
Asyura dan memerintahkan supaya orang-orang
berpuasa.(H.R Bukhari dan Muslim)
3. Dari Abu Qatadah ra. bahwasanya Rasulullah saw. pernah
ditanya tentang puasa hari Asyura, kemudian beliau
menjawab : “Puasa itu dapat menebus dosa setahun yang
telah lewat.” (H.R Muslim)
4. Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata : Rasulullah saw. bersabda :
“Sungguh seandainya aku masih sampai pada tahun depan,
niscaya aku akan puasa tasu’a pada hari ke sembilan (dari
bulan Muharram).”(H.R Muslim)
SUNNAT PUASA ENAM HARI DI BULAN SYAWAL
1. Dari Abu Ayyub ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda :
“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian
mengikutinya dengan enam hari pada bulan Syawal, maka
puasa enam hari itu bagaikan puasa sepanjang masa.”(H.R
Muslim)
SUNNAT PUASA SENIN DAN KAMIS
1. Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw. beliau bersabda :
“Amal perbuatan itu diserahkan (Dilaporkan) pada hari Senin
dan Kamis, karena itu aku suka apabila amalku dilaporkan
dalam keadan aku sedang berpuasa.” (H.R Turmudzi)
Muslim juga meriwayatkannya tetapi tidak menyebutkan puasanya.
2. Dari Abi Qatadah ra. dari Rasulullah saw. beliau bersabda :
“Amal perbuatan itu diserahkan (dilaporkan) pada hari Senin
dan Kamis, karena itu aku suka apabila amalku dilaporkan
dalam keadaan aku sedang berpuasa.”(H.R Muslim)
3. Dari ‘Aisyah ra. ia berkata : “Rasulullah saw. senantiasa
bersungguh-sungguh dalam berpuasa Senin dan Kamis.”(H.R
Turmudzi)
SUNNAT PUASA TIGA HARI TIAP BULAN
1. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata : “Kekasihku (Nabi
Muhammad saw.) berpesan kepadaku untuk berpuasa tiga
hari setiap bulan, dan dua rakaat Dhuha dan shalat witir
sebelum saya tidur.”(H.R Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Darda’ ra. ia berkata : “Kekasihku (Nabi Muhammad
saw.) berpesan kepadaku untuk tidak meninggalkan tiga
macam selama saya masih hidup, yaitu: Puasa tiga hari
setiap bulan, salat Dhuha, dan agar saya tidak tidur sebelum
mengerjakan salat Witir.” (H.R Muslim)
3. Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra. ia berkata : “Puasa tiga
hari setiap bulan, bagaikan puasa sepanjang masa.”(H.R
Bukhari dan Muslim)
4. Dari Mu’adzah Al Adawiyyah bahwasanya ia pernah bertanya
kepada ‘Aisyah ra. : “Adakah Rasulullah saw. berpuasa tiga
hari setiap bulan?” ‘Aisyah menjawab : “Ya.” Saya
(Mu’adzah) bertanya : “dari bulan apakah beliau berpuasa?”
‘Aisyah menjawab : “Saya tidak memperhatikan dari bulan
manakah beliau berpuasa.”(H.R Muslim)
5. Dari Abu Dzar ra. ia berkata : Rasulullah saw. bersabda :
“Apabila kamu berpuasa tiga hari setiap bulan, maka
berpuasalah pada hari ketiga belas. Keempat belas, dan
kelima belas.”(H.R Turmudzi)
6. Dari Qatadah bin Milhan ra. ia berkata : “Rasulullah saw.
menyuruh kami untuk berpuasa pada Ayyamul Bidh yaitu
tanggal 13,14, dan 15.”(H.R Abu Dawud)
7. Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata : “Rasulullah saw. tidak
pernah berbuka (tidak berpuasa) pada Ayyamul Bidl baik
beliau berada di rumah maupun sedang dalam
bepergian.”(H.R Nasa’i)
KEUTAMAAN MEMBERI BUKA (MAKAN) ORANG
BERPUASA
1. Dari Yazid bin Khalid Al Juhanniy ra. dari Nabi saw. beliau
bersabda : “Barangsiapa memberi buka (makan) orang yang
berpuasa, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang
yang berpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang
yang berpuasa itu.”(H.R Turmudzi)
2. Dari Ummu Umarah Al Anshariy ra. bahwasanya Nabi saw.
datang ke rumah Ummu Umarah dan menghidangkan
makanan kepada beliau, kemudian beliau bersabda :
“Makanlah wahai Ummu Ummarah. “Ia menjawab: “Saya
sedang berpuasa.” Rasulullah saw. bersabda :
“Sesungguhnya orang yang berpuasa itu selalu didoakan oleh
malaikat jika ada orang makan di tempatnya sampai selesai
makan.” Atau beliau bersabda : “Sampai orang yang makan
itu merasa kenyang.”(H.R Turmudzi)
3. Dari Anas ra. bahwasanya Nabi saw. datang ke tempat Sa’ad
bin Ubadah ra. kemudian ia menghidangkan roti dan
mentega, maka beliau pun memakannya serta bersabda :
“Telah berbuka di tempatmu orang-orang yang berpuasa, dan
memakan makananmu orang-orang yang baik serta malaikat
mendoakan kamu.”(H.R Abu Dawud)
I’TIKAF
1. Dari Ibnu Umar ra. ia berkata : Rasulullah saw. selalu
ber’itikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan
Ramadhan.”(H.R Bukhari dan Muslim)
2. Dari ‘Aisyah ra. bahwasanya Rasulullah saw. selalu beri’tikaf
pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sehingga beliau
dipanggil oleh Allah Ta’ala (wafat). Setelah beliau wafat,
isteri-isterinya meneruskan kebiasaan i’tikaf yang selalu
dikerjakan oleh beliau.”(H.R Bukhari dan Muslim)
3. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata : “Nabi saw. biasanya
beri’tikaf pada sepuluh hari setiap bulan Ramadhan.
Kemudian pada tahun dimana beliau wafat, beliau beri’tikaf
dua puluh hari.”(H.R Bukhari)
HAJI
1. Dari Ibnu Umar ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda :
“Islam didirikan atas lima sendi, yaitu bersaksi bahwa tidak
ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah,
mendirikan salat, memberikan zakat, mengerjakan haji ke
Baitullah dan berpuasa pada bulan Ramadhan.”(H.R Bukhari
dan Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Rasulullah saw. berkhutbah
di hadapan kami dimana beliau bersabda : “Wahai sekalian
manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan haji atas
kalian, maka berhajilah kalian.” Ada seorang laki-laki
bertanya: “Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah?” Beliau
terdiam, sehingga laki-laki itu mengulangi pertanyaannya
sampai tiga kali, kemudian Rasulullah saw. bersabda :
“Apabila aku mengatakan ya, maka berarti menjadii wajib,
sedangkan kamu tidak akan mampu mengerjakannya.”
Beliau terus bersabda: “Tinggalkanlah apa yang tidak aku
perintahkan, karena sesungguhnya orang-orang (umat)
sebelum kamu itu binasa karena banyak pertanyaan (yang
mereka ajukan) dan perselisihan mereka terhadap Nabi-nabi
mereka (tidak mau taat dan patuh). Maka apa saja yang aku
perintahkan kepadamu, maka kerjakanlah semampu kamu,
dan apabila saya melarang kamu atas sesuatu maka
tinggalkanlah.”(H.R Muslim)
3. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Nabi saw. pernah ditanya :
“Amal perbuatan apakah yang paling utama?” beliau
menjawab : “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ia bertanya
: “Kemudian apa?” beliau menjawab : “Jihad di jalan Allah.”
Ia bertanya lagi. “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Haji
yang mabrur.”(H.R Bukhari dan Muslim)
4. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Saya mendengar
Rasulullah saw. bersabda : “Barangsiapa yang mengerjakan
haji kemudian ia tidak berkata kotor dan tidak melakukan
kefasikan, maka ia kembali (bersih) seperti saat dilahirkan
oleh ibunya.”(H.R Bukhari dan Muslim)
5. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda :
“Umrah satu sampai Umrah berikutnya merupakan kafarat
(pelebur dosa) terhadap dosa yang ada di antara kedua
Umrah itu. Dan haji mabrur tidak ada lain balasannya kecuali
surga.”(H.R Bukhari dan Muslim)
6. Dari ‘Aisyah ra. ia berkata : Saya berkata : “Wahai
Rasulullah, menurut kami jihad adalah perbuatan yang paling
utama. Bolehkah kami terus-menerus berjihad? “Kemudian
beliau bersabda : “Tetapi jihad yang paling utama adalah haji
yang mabrur.”(H.R Bukhari)
7. Dari Ibnu Abbas ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda :
“Tiada hari di mana Allah memerdekakan hamba-Nya dari api
neraka melebihi daripada hari ‘Arafah.”(H.R Muslim)
8. Dari Ibnu Abbas ra. bahwasanya Nabi saw. bersabda :
“Umrah pada bulan Ramadhan itu sebanding dengan haji
atau sebanding dengan haji bersamaku.”(H.R Bukhari dan
Muslim)
9. Dari Ibnu Abbas ra. bahwasanya ada seorang perempuan
bertanya : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah
mewajibkan haji kepada hamba-Nya tetapi kewajiban itu
sampai pada ayah dalam usia yang sangat tua, dimana ia
tidak mampu lagi untuk bepergian, maka bolehkan saya
mengerjakan haji untuknya (menghajikannya)?” Beliau
menjawab : “Ya, boleh.”(H.R Bukhari dan Muslim)
10. Dari Laqith bin Amir ra. bahwasanya ia datang kepada
Nabi saw. dan berkata : “Sesungguhnya ayah saya sudah
berusia lanjut, dimana ia sudah tidak mampu lagi
mengerjakan haji dan Umrah, bahkan tidak mampu
bepergian sama sekali.” Beliau bersabda : “Berhaji dan
berumrahlah untuk ayahmu.”(H.R Abu Dawud dan Turmudzi)
11. Dari As Saib bin Yazid ra. ia berkata : “Saya pernah
mengerjakan haji bersama dengan Rasulullah saw. yaitu
pada haji Wada’, pada waktu itu saya berusia tujuh
tahun.”(H.R Bukhari)
12. Dari Ibnu Abbas ra. bahwasanya Nabi saw. bertemu
dengan suatu rombongan di Rauha”, kemudian beliau
bertanya : “Siapakah rombongan ini?” Mereka menjawab :
“Orang-orang Islam.” Mereka bertanya : “Siapakah engkau?”
Beliau menjawab: “Utusan Allah.” Kemudian ada seorang
perempuan mengangkat anaknya yang masih kecil seraya
bertanya : “Apakah anak kecil ini wajib berhaji ?” Beliau
menjawab : “Ya, dan pahalanya buat kamu.”(H.R Muslim)
13. Dari Anas ra. bahwasanya Rasullah saw. berhaji dengan
naik kendaraan sambil membawa bekalnya.”(H.R Bukhari)
14. Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata : “Ukadh, Majinnah, dan
Dzul Majaz merupakan pasar-pasar di zaman Jahiliyyah, dan
kaum muslimin khawatir berdoa apabila berdagang pada
musim haji, lalu turunlah ayat : LAISA ‘ALAIKUM JUNAAHUN
ANTABTAGHUU FAGL –LAN MIR RABBIKUM (Tidaklah berdosa
bagi kalian untuk mencari karunia dari Tuhan kalian.) dan
musim haji”(H.R Bukhari)
JIHAD
1. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Rasulullah saw. pernah
ditanya : “Amal apakah yang paling utama?” Rasulullah
bersabda : “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ditanyakan
lagi: “Kemudian apa?” Rasulullah menjawab : “Jihad di jalan
Allah.” Kembali ditanyakan : “Kemudian apa?” Rasulullah
bersabda : “Haji yang mabrur.”(H.R Bukhari dan Muslim)
2. Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata : Saya bertanya : “Wahai
Rasulullah, amal perbuatan apakah yang paling disukai oleh
Allah Ta’ala?” Beliau menjawab : “Salat tepat pada
waktunya.” Saya bertanya : “Kemudian apa?” Beliau
menjawab : “Berbakti kepada kedua orang tua.” Saya
bertanya lagi: “Kemudian apa?” Beliau menjawab : “Berjihad
di jalan Allah.”(H.R Bukhari dan Muslim)
3. Dari Abu Dzar ra. ia berkata : Saya bertanya : “Wahai
Rasulullah, amal apakah yang paling utama?” Beliau
menjawab: “Iman kepada Allah, dan berjihad di jalan
Allah.”(H.R Bukhari dan Muslim)
4. Dari Anas ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda :
“Sungguh pagi-pagi berjuang di jalan Allah atau pada waktu
sore, itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.”(H.R Bukhari
dan Muslim)
5. Dari Abu Sa’id Al Khudriy ra, ia berkata : Ada seseorang
datang kepada Rasulullah saw. dan bertanya : “Siapakah
manusia yang paling utama?” Beliau menjawab : “Orang
mukmin yang berjuang di jalan Allah dengan jiwa dan
hartanya.” Ia bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau
menjawab : “Kemudian orang mukmin yang menyendiri pada
tempat yang sunyi untuk menyembah kepada Allah dan
menjauhi manusia karena kejahatannya.”(H.R Bukhari dan
Muslim)
6. Dari Sahl bin Sa’ad ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda
: “Mengawal penjagaan sehari di jalan Allah adalah lebih baik
daripada dunia dan seisinya. Tempat cambukan salah
seorang di antara kalian di surga, adalah lebih baik daripada
dunia seisinya. Istirahat yang dilakukan seseorang pada
malam hari di jalan Allah Ta’ala –atau istirahat di waktu pagiadalah
lebih baik daripada dunia seisinya.”(H.R Bukhari dan
Muslim)
7. Dari Salman ra. ia berkata : Saya mendengar Rasulullah saw.
bersabda : “Mengawal penjagaan sehari semalam adalah
lebih baik daripada puasa sebulan lengkap dengan salat
malamnya. Dan apabila ia mati dalam penjagaan itu, maka
amal yang telah ia kerjakan terus berlaku atasnya, begitu
pula rezekinya dan ia aman dari fitnah-fitnah kubur.”(H.R
Muslim)
8. Dari Fadhalah bin Ubaid ra. bahwasanya Rasulullah saw.
bersabda : “Setiap orang yang meninggal terputuslah untuk
beramal, kecuali orang yang berjaga di jalan Allah, karena
sesungguhnya amal selalu berkembang sampai hari kiamat,
dan selamat dari fitnah kubur.”(H.R Abu Dawud dan
Turmudzi)
9. Dari Utsman ra. ia berkata : Saya mendengar Rasulullah saw.
bersabda : “Mengawal penjagaan di jalan Allah sehari, lebih
baik daripada seribu hari di tempat-tempat lain.”(H.R
Turmudzi)
10. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Rasulullah saw.
bersabda : “Allah menanggung orang yang keluar (berjuang)
di jalan-Nya. Tidak ada yang membuat orang itu keluar selain
jihad di jalan-Nya, yakin kepada-Ku, dan membenarkan
utusan-Ku, maka orang itu adalah tanggungan-Ku untuk
memasukkannya ke dalam surga atau Aku kembalikan dia ke
tempatnya semula dengan memperoleh pahala atau
ghanimah (harta rampasan perang).” Demi Zat yang
menguasai jiwa Muhammad! Tidak ada luka yang dialami
dalam berjuang di jalan Allah, kecuali kelak pada hari kiamat
sebagaimana rupanya pada waktu terluka, warnanya merah
darah, tetapi baunya seperti minyak kasturi. Demi Zat yang
menguasai jiwa Muhammad! Sungguh, aku senang berjuang
di jalan Allah, lalu terbunuh, kemudian berperang lagi lalu
terbunuh, kemudian berperang lagi lalu terbunuh.”(H.R
Muslim)
11. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Rasulullah saw.
bersabda : “Tiada suatu luka yang menimpa sewaktu
berjuang di jalan Allah, melainkan kelak pada hari kiamat
datang dalam keadaan sebagaimana rupanya pada waktu
terluka, warnanya merah darah tetapi baunya seperti minyak
kesturi.”(H.R Bukhari dan Muslim)
12. Dari Mu’adz dari Nabi saw. beliau bersabda : “Siapa
yang berperang di jalan Allah selama orang memerah susu
unta, maka ia berhak masuk surga. Dan barang siapa yang
terluka dengan mengeluarkan darah, maka kelak pada hari
kiamat luka itu datang sederas darah yang mengalir sewaktu
terluka. Luka itu kelak warnanya seperti warna Za’rafan dan
baunya seperti minyak minyak kasturi.”(H.R Abu Dawud dan
Turmudzi)
13. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata : “Ada seorang
sahabat Rasulullah saw. berjalan di sebuah lembah yang
mana di situ ada sebuah mata air yang segar, kemudian ia
merasa kagum dan berkata: “Saya bermaksud meninggalkan
manusia (menyendiri) kemudian saya akan selalu beribadah
di lembah itu; tetapi saya tidak akan melakukannya sebelum
minta izin kepada Rasulullah saw. “Kemudian ia
menyampaikan keinginannya kepada Rasulullah saw. maka
beliau bersabda : “Jangan kamu lakukan itu. Sesungguhnya
keikursertaan seseorang dalam berjuang di jalan Allah lebih
utama daripada ia salat tujuh puluh tahun di rumahnnya.
Apakah kalian tidak senang apabila Allah mengampuni
dosamu dan memasukkan kalian ke dalam surga?”
Berperanglah di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di
jalan Allah selama orang memerah susu unta maka ia berhak
masuk ke surga.”(H.R Turmudzi)
14. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Ditanyakan kepada
Rasulullah saw. “Wahai Rasulullah, apakah amal yang bisa
menyamai jihad di jalan Allah?” Beliau bersabda : “Kalian
tidak akan mampu melakukannya.” Orang-orang mengulang
pertanyaan itu dua-tiga kali dan selalu dijawab oleh
Rasulullah saw. “Kalian tidak akan mampu melakukannya.”
Kemudian beliau melanjutkan : “Persamaan orang – orang
yang berjuang di jalan Allah itu seperti orang yang berpuasa,
lagi tekun beribadah, menta`ati ayat-ayat Allah, tidak lalai
salat dan puasa, sampai kembalinya orang yang berjuang di
jalan Allah.”(H.R.Bukhari dan Muslim)
Dan di dalam riwayat Bukhari dikatakan, bahwasanya ada seorang
laki-laki berkata : “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepada saya
sesuatu amal perbuatan yang bisa menyamai jihad?” Beliau
bersabda : “Aku tidak mendapatkannya.” Kemudian beliau
bersabda : “Apakah kalian mampu apabila orang yang berjihad itu
keluar untuk berperang lalu kau terus masuk masjid utnuk salat
dengan tidak henti-hentinya, dan kamu berpuasa dengan tangan
terbuka?” Beliau bersabda lagi : “Siapakah yang mampu untuk
berbuat seperti itu?”
15. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw.
bersabda: “Sebaik-baik hidup seseorang yaitu orang yang
selalu memegangi tali kendali kudanya untuk berjuang
segera melompat ke atas punggung kudanya dengan
menyerahkan dirinya untuk terbunuh atau mati dimana pun
juga; atau seorang yang hidup dengan ternaknya di suatu
tempat atau lembah di mana ia selalu mengerjakan salat,
menunaikan Zakat, dan beribadah kepada Tuhannya sampai
ia meninggal dunia, dimana orang di situ selalu berbuat
baik.”(H.R Muslim)
16. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw.
bersabda : “Sesungguhnya di dalam surga terdapat seratus
derajat yang disediakan Allah bagi pejuang-pejuang di jalan
Allah. Jarak antara dua derajat sama dengan jarak antara
langit dan bumi.”(H.R Bukhari)
17. Dari Abu Sa`id Al Khudriy ra. bahwasanya Rasulullah
saw. bersabda : “Barangsiapa yang ridha (puas) dengan Allah
sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad
sebagai Rasul, maka ia berhak untuk masuk surga. Maka Abu
Sa`id merasa heran, lantas ia berkata : “Ulangi lagi kepada
saya, wahai Rasulullah.” Maka beliau pun mengulanginya;
serta bersabda : “Dan masih ada yang lain di mana Allah
akan mengangkat derajat hamba-Nya dengan seratus derajat
di dalam surga, dimana jarak antara derajat yang satu
dengan derajat yang lain seperti jarak antara langit dan
bumi.” Abu Sa`id bertanya : “Apakah itu wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab : “Berjuang di jalan Allah, berjuang di jalan
Allah.”(H.R Bukhari)
18. Dari Abu Bakr bin Abu Musa Al Asy`ariy. Ia berkata :
Saya mendengar ayah saya ra. ketika berada di depan
musuh berkata : Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya
pintu-pintu surga itu berada di bawah ayunan pedang.”
Kemudian ada seseorang yang berpakaian kusut bangkit dan
bertanya : “Wahai Abu Musa benarkah kamu mendengar
Rasulullah saw. bersabda seperti itu?” Abu Musa menjawab :
“Benar.” Orang itu ialu kembali ke tempat kawan-kawannya
lalu berkata: “Saya mengucapkan salam sejahtera kepadamu
semua.” Kemudian ia memecahkan sarung pedangnya dan
membuangnya kemudian berangkat dengan pedang yang
terhunus menuju ke tempat lawan dan berperanglah ia
sampai ia terbunuh.”(H.R Muslim)
19. Dari Abu ‘Abs Abdurrahman bin Jabir ra. ia berkata :
Rasulullah saw. bersabda : “Dua kaki berdebu milik orang
yang berjuang di jalan Allah tidak akan tersentuh api
neraka.”(H.R Bukhari)
20. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Rasulullah saw.
bersabda : “Tidak akan masuk neraka orang yang menangis
karena takut kepada Allah, sehingga air susu kembali ke
teteknya. Dan tidak akan berkumpul debu yang menempel
pada seorang hamba waktu berjuang di jalan Allah dengan
asap neraka Jahannam.”(H.R Turmudzi)
21. Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata : Saya mendengar
Rasulullah saw. bersabda : “Ada dua mata yang tidak akan
tersentuh oleh api neraka, yaitu mata yang menangis karena
takut kepada Allah, dan mata yang berjaga di jalan
Allah.”(H.R Turmudzi)
22. Dari Zaid bin Khalid ra. bahwasanya Rasulullah saw.
bersabda : “Barangsiapa mempersiapkan diri berperang di
jalan Allah, maka benar-benar ia telah berperang. Dan
barangsiapa merawat orang yang berperang dengan baik,
maka sama artinya dengan berperang.”(H.R Bukhari dan
Muslim)
23. Dari Abu Umamah ra. ia berkata : Rasulullah saw.
bersabda : “Sedekah yang paling utama adalah
mempersiapkan tenda yang dapat dipergunakan sebagai
naungan sewaktu berperang di jalan Allah, atau memberikan
kendaraan yang kuat untuk berperang di jalan Allah.”(H.R
Turmudzi)
24. Dari Anas ra., bahwasanya ada seorang pemuda dari
suku Aslam berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya
ingin ikut berperang, tetapi saya tidak mempunyai bekal apaapa.”
Rasulullah saw., bersabda: “Datanglah kepada si Fulan
karena ia telah siap untuk berperang tetapi tiba-tiba sakit.”
Kemudian ia datang kepada si Fulan dan berkata:
“Sesungguhnya Rasulullah saw., kirim salam buat kamu.”
Dan ia berkata: “Berikanlah kepadaku bekal yang engkau
persiapkan.” Si Fulan bertanya kepada isterinya: “Wahai
Fulanah berikanlah kepadanya bekal yang telah saya
persiapkan dan janganlah kamu menahannya sedikitpun juga
dari bekal itu, niscaya kamu akan mendapat berkah.” (HR.
Muslim)
25. Dari Abu Sa’id Al Khudriy ra., bahwasanya Rasulullah
saw., mengutus pasukan kepada Bani Lahyan serta
bersabda: “Setiap keluarga yang ada dua orang laki-lakinya
hendaklah mengirimkan salah seorang dari keduanya itu,
sedangkan pahalanya dibagi antara kedua orang itu.” (HR.
Muslim)
Dan dalam riwayat lain dikatakan: “Setiap ada dua orang laki-laki
hendaklah mengutus salah seorang dari keduanya, kemudian beliau
bersabda kepada orang yang tetap berada di rumah untuk menjaga
keluarga dan harta orang yang berjuang itu dengan baik, maka ia
mendapat sebagian dari pahala orang yang berangkat untuk
berjuang.”
26. Dari Al Barra’ ra., ia berkata: “Ada seseorang
berpakaian besi datang kepada Nabi saw., dan bertanya:
“Wahai Rasulullah, apakah saya berperang dulu ataukah
masuk Islam dulu?” Beliau menjawab: “Masuk islamlah dulu
kemudian berperanglah.” Maka ia pun masuk islam kemudian
berperang sampai terbunuh. Kemudian Rasulullah saw.,
bersabda: “Ia beramal sedikit tapi mendapat banyak pahala.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
27. Dari Anas ra., bahwasanya nabi saw., bersabda: “Tidak
ada seseorang yang masuk surga ingin kembali ke dunia,
walaupun mempunyai kekayaan yang besar di dunia, kecuali
orang yang mati syahid, dimana ia ingin bisa kembali ke
dunia kemudian terbunuh (dalam berjihad) sebanyak sepuluh
kali, karena ia melihat kehormatan yang diberikan
kepadanya.” Dan dalam riwayat yang lain dikatakan: “Karena
ia melihat kelebihan orang yang berjihad.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
28. Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra., bahwasanya
rasulullah saw., bersabda: “Semua orang yang mati syahid
itu diampuni kecuali hutangnya.” (HR. Muslim) Dan dalam
riwayat lain dikatakan: “Mati sewaktu berjuang di jalan Allah
itu dapat menebus semua dosa kecuali hutang.”
29. Dari Abu Qathadah ra., bahwasanya rasulullah saw.,
berdiri di tengah-tengah para sahabat untuk menyampaikan
pidato, dimana beliau menjelaskan bahwa jihad di jalan Allah
dan beriman kepada Allah adalah amal-amal perbuatan yang
paling utama. Kemudian ada seorang yang bangkit dan
bertanya: “Wahai rasulullah, kalau saya terbunuh waktu
berjuang di jalan Allah apakah dosa-dosa saya terampuni?”
Rasulullah saw., bersabda kepadanya: “Benar, apabila kamu
terbunuh sewaktu berjuang di jalan Allah sedangkan kamu
sabar, ikhlas, dan maju terus pantang mundur.” Kemudian
Rasulullah saw., bertanya: “Apa yang kamu tanyakan tadi?”
Ia menjawab: “Bagaimana kalau saya terbunuh waktu
berjuang di jalan Allah, apakah dosa-dosa saya akan
terampuni?” Kemudian rasulullah saw., bersabda kepadanya:
“Benar, apabila kamu terbunuh sewaktu berjuang di jalan
Allah sedangkan kamu sabar, ikhlas, dan maju terus pantang
mundur, kecuali hutang. Karena sesungguhnya Jibril as.,
berkata demikian padaku.” (HR. Muslim)
30. Dari Jabir ra., ia berkata: “Ada seseorang bertanya:
“Wahai rasulullah, dimanakah tempat saya nanti seandainya
saya terbunuh?” Beliau menjawab: “Di dalam surga.”
Kemudian ia melemparkan beberapa butir kurma yang ada di
tangannya, lantas ia berperang sampai terbunuh.” (HR.
Muslim)
31. Dari Anas ra., ia berkata: Rasulullah saw., berangkat
bersama para sahabat beliau, hingga mendahului kaum
musyrikin menuju Badar. Ketika orang-orang musyrik tampak
datang, rasulullah saw., bersabda: “Janganlah sekali-kali
salah seorang diantara kalian mendahului (maju), sebelum
aku lebih dulu. Tatkala kaum musyrikin telah semakin dekat,
rasulullah bersabda lagi: “Berangkatlah menuju surga yang
luasnya seluas langit dan bumi.” Pada waktu itu Umair bin Al
Humam Al Anshairy ra., bertanya: “Wahai rasulullah, surga
yang seluas langit dan bumi?” Jawab rasulullah: “Ya”. Ia
berkata, “Bagus, bagus..” Rasulullah saw. Bertanya, Apa
yang membuatmu mengatakan bagus, bagus?” Umair
menjawab: “Tidak ada, demi Allah wahai rasulullah, kecuali
harapan bahwa aku akan termasuk ahli surga itu.” Rasulullah
bersabda: “Sungguh kau termasuk ahlinya.” Umair lalu
mengeluarkan kurma dari wadahnya, lalu memakannya,
kemudian berkata: “Seandainya aku hidup sampai habis
memakan kurma-kurma ini, sungguh itu merupakan hidup
yang lama. Kemudian ia melempar kurma-kurma yang masih
ada, lalu menyerbu musuh, sampai terbunuh.” (HR. Muslim)
32. Dari Anas ra., ia berkata: “Ada beberapa orang datang
kepada nabi saw., agar beliau berkenan mengirimkan
beberapa sahabat yang dapat mengajarkan Al-Quran dan As-
Sunnah bersama-sama mereka. Kemudian beliau mengutus
tujuh puluh anshar yang terkenal sebagai Al-Qurra’, yang
mana diantaranya adalah pamanku yang bernama Haram.
Ketujuh puluh sahabat itu mahir membaca Al Quran, dan
biasa mempelajarinya pada waktu malam, sedangkan kalau
siang hari para sahabat itu mengambil air dan diletakkan di
dekat mesjid serta mencari kayu bakar dijualnya, dengan
hasil penjualan kayu bakar itu mereka membeli makanan
untuk Ahli Suffah dan orang-orang fakir. Kemudian nabi saw.,
mengutus para sahabat itu tetapi malang karena mereka
terbunuh oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab
sebelum mereka sampai di tempat tujuan. Mereka berdoa:
“Ya Allah, sampaikanlah berita tentang nasib kami kepada
nabi kami, dan beritakanlah pula bahwa kami telah bertemu
dengan Engkau dimana kami telah ridha kepada-Mu, dan
Engkau telah meridhai kami.” Dan ada seseorang yang
mendekati Haram (paman anas) dari belakang kemudian
menikamnya dengan tombak sampai meninggal. Dan Haram
berkata: “Demi Tuhannya Ka’bah, saya berbahagia.”
Kemudian rasulullah saw., bersabda: “Sesungguhnya kawankawanmu
sudah terbunuh, dan mereka berdoa : “Ya Allah,
sampaikanlah kami berita tentang nasib kami kepada nabi
kami, dan beritakan pula bahwa kami telah bertemu dengan
Engkau dimana Kami telah ridha kepada-Mu dan Engkau
telah meridhai kami.” (HR. Bukhari dan Muslim)
33. Dari anas ra., ia berkata: “Pamanku –Anas bin An Nadlr
ra.,- absen dari perang badar, lalu ia berkata: “Wahai
rasulullah, saya absen (tidak ikut) perang pertama (perang
badar) yang engkau lakukan dalam memerangi kaum
musyrikin. Demi Allah, seandainya Allah menakdirkan saya
ikut memerangi kaum musyrikin. Niscaya Allah mengetahui
apa yang bakal saya perbuat.” Ketika terjadi perang Uhud
(anas bin Nadlr ikut, kaum muslimin kocar-kacir. Anas bin
Nadlr mengucap: “Ya Allah, saya menghaturkan uzur kepada-
Mu berhubung dengan apa yang telah mereka –para sahabatperbuat(
bercerai-berainya kaum muslimin yang melarikan
diri) dan saya pasrahkan kepada-Mu tentang apa yang telah
mereka –kaum musyrikin- perbuat.” Kemudian An Nadlr maju
dan bertemu dengan Sa’ad bin Mu’adz lantas berkata: “Hai
Sa’ad bin Mu’adz, demi Tuhannya Nadlr marilah kita ke
surga, sungguh saya telah mencium bau surga sebelum
sampai ke Uhud ini.” Sa’ad bin mu’adz berkata (melapor
kepada Rasulullah saw.,): “Wahai rasulullah, saya tidak
mampu berbuat seperti apa yang telah diperbuat oleh Anas
bin An Nadlr.” Anas bin Malik melanjutkan ceritanya:
“(Setelah perang telah usai dan kaum musyrikin telah
mundur), saya mendapati delapan puluh tujuh luka –baik
karena pedang, tombak, atau luka karena panah- di tubuh
Anas bin An Nadlr. Saya menemukan beliau telah terbunuh.
Kaum musyrikin telah mencacahnya, sehingga tidak seorang
pun mengenalnya, kecuali saudara perempuannya (yang
bernama Ar Rab’i yang ikut berangkat perang) lantaran ada
ciri yang terdapat pada jarinya.” Anas bin Malik meneruskan:
“Saya berpendapat atau menyangka bahwa ayat berikut ini
turun berkaitan dengan Anas bin An Nadlr dan orang-orang
semacamnya. Ayat itu adalah: MINAL MU’MINIINA RIJAALUN
SHADAQUU MAA ‘AAHADULLAHA ‘ALAIH FAMINHUM MAN
QADLAA NAHBAHUM WAMINHUM MAN YANTAZHIRU WAMAA
BADDALUU TABDIILA.” (Di antara orang-orang mukmin itu
ada orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan
kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur. Dan
di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan
mereka sedikitpun tidak merubah janjinya.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
34. Dari Samurah ra., ia berkata: Rasulullah saw.,
bersabda: “Tadi malam aku bermimpi ada dua orang datang
kepadaku dan mengajak aku untuk naik ke sebuah pohon,
kemudian memasukkan aku ke sebuah rumah yang sangat
bagus dan sangat lengkap yang belum pernah aku lihat
bandingannya. Kedua orang tadi berkata: “Rumah ini adalah
rumah orang-orang yang mati syahid.” (HR. Bukhari)
35. Dari Anas ra., bahwasanya Ummu Rabi’ binti Al Barra’
yakni Ummu Haritsah bin Suraqah datang kepada Nabi saw.,
dan berkata: “Wahai rasulullah, sukakah engkau
menceritakan kepada saya tentang Haritsah, dimana ia
terbunuh pada peperangan Badar. Apabila ia berada di surga,
maka saya akan bersabar. Dan apabila ia tidak di surga maka
saya akan berusaha untuk meratapinya.” Beliau bersabda:
“Wahai Ummu Haritsah, sesungguhnya surga itu bertingkattingkat
dan putramu berada di surga Firdaus, suatu tingkatan
yang sangat tinggi.” (HR. Bukhari)
36. Dari Jabir bin Abdullah ra., ia berkata: “Ayahku yang
meninggal karena dicincang oleh musuh dibawa kepada
rasulullah saw., dan diletakkan di depan ku, kemudian saya
ingin membuka mukanya, tapi para sahabat melarang saya,
Nabi saw., lantas bersabda: “Malaikat selalu menaunginya
dengan sayapnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
37. Dari Sahl bin Hunaif ra., bahwasanya rasulullah saw.,
bersabda: “Barang siapa yang benar-benar minta kepada
Allah Ta’ala untuk mati syahid, maka Allah akan
menyampaikannya ke tingkatan orang-orang yang mati
syahid, walaupun ia meninggal di atas tempat tidurnya.” (HR.
Muslim)
38. Dari Anas ra., ia berkata: Rasulullah saw., bersabda:
“Barang siapa yang benar-benar minta mati syahid, maka
akan dikabulkan walaupun ia tidak mati terbunuh.” (HR.
Muslim)
39. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw.,
bersabda: “Tiada yang dirasakan oleh seorang yang mati
syahid sewaktu terbunuh, kecuali seperti salah seorang yang
diantara kalian itu dicubit.” (HR. Turmudzi)
40. Dari Abdullah bin Abu Aufa ra., bahwasanya rasulullah
saw., pada suatu hari sewaktu menanti kedatangan musuh
sampai matahari tergelincir ke barat, kemudian beliau berdiri
di tengah-tengah para sahabatnya dan bersabda: “Wahai
sekalian manusia, janganlah kalian mengharapkan
kedatangan musuh dan memohonlah keselamatan kepada
Allah. Dan apabila kalian menghadapi musuh maka
bersabarlah dan ketahuilah bahwa surga itu berada di bawah
ayunan pedang.” Kemudian beliau berdoa: “ALLAHUMMAA
MUNZILAL KITAABI WAMUJRIYAS SAHABI WAHAAZIMAL
AHZAABI IHZIMHUM WANSHURNAA ‘ALAIHIMA” (Ya Allah,
Zat yang menurunkan Al Kitab, yang menjalankan awan dan
yang mengalahkan musuh, kalahkanlah mereka dan
tolonglah kami di dalam menghadapi mereka)” (HR. Bukhari
dan Muslim)
41. Dari Sahl bin Sa’ad ra., ia berkata: Rasulullah saw.,
bersabda: “Ada dua macam doa yang tidak tertolak atau
sedikit sekali akan tertolak, yaitu doa sewaktu azan, dan doa
waktu serunya peperangan, yakni ketika pasukan yang satu
menyerang pasukan yang lain (musuhnya).” (HR. Abu
Dawud)
42. Dari Anas ra., ia berkata: “Apabila rasulullah saw.,
berperang, beliau berdoa: “ALLAHUMMA ANTA A’DLUDII
WANASHIIRII BIKA AHUUKU WABIKA ASHUULU WABIKA
UQAATILU (Ya Allah, Engkaulah sandaran dan penolongku,
hanya karena Engkaulah aku berdaya, hanya karena
Engkaulah aku dapat mencapai tujuan, dan hanya karena
Engkaulah aku berperang.” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi)
43. Dari Abu Musa ra., bahwasanya Nabi saw., apabila
merasa gentar sewaktu berhadapan dengan sesuatu kaum,
beliau berdoa: “ALLAHUMMA INNAA NAJ’ALUKA FII
NUHUURIHIM WANA’UUDZUBIKA MIN SYURUURIHIM (Ya
Allah, sesungguhnya kami menjadikan Engkau di depan
mereka, dan kami berlindung dari kepada-Mu dari kejahatan
mereka.)” (HR. Abu Dawud)
44. Dari Ibnu Umar ra., bahwasanya rasulullah saw.,
bersabda: “Kuda itu selalu diikat kebaikan pada ubunubunnya
sampai hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
45. Dari Urwah Al Badriy ra., bahwasanya nabi saw.,
bersabda: “Kuda itu selalu diikat kebaikan, yakni pahala dan
hasil rampasan perang pada ubun-ubunnya sampai pada hari
kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
46. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw.,
bersabda: “Barang siapa menahan (memelihara) kuda (yang
dimaksudkan sebagai persiapan sewaktu-waktu terjadi
perang) di jalan Allah, maka sesungguhnya makanan yang
mengenyangkan kudanya itu, minuman yang menghilangkan
dahaganya, kotorannya dan kencingnya adalah dalam
timbangan amal orang itu, kelak pada hari kiamat.” (HR.
Bukhari)
47. Dari Abu Mas’ud ra., ia berkata: “Suatu ketika datang
seorang lelaki kepada nabi saw., dengan membawa unta
yang diberangus moncongnya, seraya berkata: “Unta ini
untuk perang di jalan Allah.” Rasulullah saw., bersabda:
“Untuk (karena unta itu) kelak di hari kiamat, tujuh ratus
ekor unta yang semuanya terberangus moncongnya.” (HR.
Muslim)
48. Dari Abu Hammad, ada yang menamakan Abu Su’ad,
Abu Usaid, Abu Amir, Abu ‘Amr, Abu Aswad, dan Abs Uqbah
bin Amir Al Juhanniy ra., ia berkata: “Saya mendengar
rasulullah saw., sewaktu berada diatas mimbar bersabda:
“Bersiaplah menghadapi musuh dengan kekuatan apa saja
semampu kalian! Ingat, kekuatan adalah memanah! Ingat,
kekuatan adalah memanah! Ingat! Kekuatan adalah
memanah!” (HR. Muslim)
49. Dari Abs Uqbah bin Amir Al Juhanniy ra., ia berkata:
“Saya mendengar rasulullah saw., bersabda: “Nanati akan
terbuka bagimu beberapa negeri, dan Allah akan mencukupi
kamu sekalian, maka janganlah salah seorang diantara kalian
merasa malas untuk memainkan panahnya.” (HR. Muslim)
50. Dari Abu Uqbah bin Amir Al Juhanniy ra., ia berkata:
Rasulullah saw., bersabda: “Barangsiapa pandai memanah,
kemudian meninggalkannya, maka ia tidak termasuk
golongan kami, atau ia benar-benar durhaka.” (HR. Muslim)
51. Dari Abu Uqbah bin Amir Al Juhanniy ra., ia berkata:
saya mendengar rasulullah saw., bersabda: “Sesungguhnya
Allah akan memasukkan tiga orang ke dalam surga
dikarenakan satu panah, yaitu pembuatnya yang sewaktu
membuat ia hanya mengharapkan kebaikan (pahala), orang
yang memanahkan, dan orang yang memberikan anak panah
kepada orang yang memanah. Hendaklah kalian selalu
berlatih memanah dan berkendaraan, dan berlatih memanah
lebih aku sukai, dari pada kamu hanya berlatih naik
kendaraan. Barang siapa yang meninggalkan/melupakan
panahan setelah ia diajari karena benci, maka sikap seperti
itu ibarat suatu nikmat yang diingkari.” (HR. Abu Dawud)
52. Dari Salamah bin Al Akwa’ ra., ia berkata: Nabi saw.,
melewati sekelompok orang yang sedang latihan memanah,
kemudian beliau bersabda: “Memanah kalian, hai anak cucu
isma’il, Karena sesungguhnya nenek moyang kalian dulu
adalah pemanah.” (HR. Bukhari)
53. Dari Amr bin Absah ra., ia berkata: Saya mendengar
rasulullah saw., bersabda: “Barang siapa yang memanahkan
satu anak panah sewaktu berjuang di jalan Allah, maka hal
itu sama dengan memerdekakan seorang budak.” (HR. Abu
Dawud dan Turmudzi)
54. Dari Yahya Khuraim bin Fatik ra., ia berkata: Rasulullah
saw., bersabda: “Barang siapa yang menafkahkan sesuatu
(untuk keperluan berjuang) di jalan Allah maka dicatatkan
baginya tujuh ratus kali lipat.” (HR. Turmudzi)
55. Dari Abu Sa’id ra., ia berkata: Rasulullah saw.,
bersabda: “Tiada seorang hamba yang berpuasa satu hari
hanya semata-mata karena Allah, melainkan Allah akan
menjauhkan dirinya dari api neraka, sejauh perjalanan tujuh
puluh tahun disebabkan puasanya itu.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
56. Dari Abu Umamah ra., dari Nabi saw., beliau bersabda:
“Barangsiapa yang berpuasa sehari semata-mata karena
Allah, maka Allah akan menjadikan antara dirinya dan api
neraka suatu parit sejauh langit dan bumi.” (HR. Turmudzi)
57. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw.,
bersabda: “Barangsiapa mati tanpa pernah berperang dan
tidak pernah terlintas dalam hatinya untuk berperang, maka
ia (sama saja dengan) mati pada salah satu cabang (sifat)
kemunafikan.” (HR. Muslim)
58. Dari Jabir ra., ia berkata: Ketika kami bersama nabi
saw., dalam suatu peperangan, beliau bersabda:
“Sesungguhnya di Madinah ada beberapa orang yang apabila
berjalan atau menyeberang lembah mereka selalu bersama
kamu, hanya saja mereka terhalang oleh suatu penyakit.” Di
dalam riwayat lain dikatakan: “Mereka bersekutu dengan
kamu dalam pahala.” (HR. Bukhari dan Anas, dari riwayat
Muslim dari Jabir)
59. Dari Abu Musa ra., bahwasanya seorang desa datang
kepada Nabi saw., lalu berkata: “Wahai rasulullah, ada
seorang lelaki berperang demi harta rampasan, ada yang
berperang agar disebut-sebut dan ada pula yang berperang
supaya terlihat kedudukannya.” Dalam riwayat lain
dikatakan: “Berperang karena keberanian dan berperang
lantaran kesombongan.” Dalam riwayat lain dikatakan:
“Berperang karena marah.” Maka siapakah yang bisa
dikatakan berjuang di jalan Allah?” Rasulullah saw.,
bersabda: “Barang siapa berperang demi tegaknya kalimat
Allah yang tinggi, maka dialah yang berjuang di jalan Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
60. Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra., ia berkata:
Rasulullah saw., bersabda: “Barang siapa maju berperang
kemudian ia mendapatkan barang rampasan dan selamat,
berarti ia telah memperoleh dua pertiga dari pahalanya. Dan
barang siapa yang maju berperang kemudian tergeser dan
terbunuh, maka sempurnalah pahalanya.” (HR. Muslim)
61. Dari Abu Umamah ra., bahwasanya ada seseorang
berkata: “Wahai Rasulullah saw., izinkanlah saya untuk
merantau.” Kemudian nabi saw., bersabda: “Sesungguhnya
merantaunya ummatku adalah berjuang di jalan Allah Azza
wa Jalla.” (HR. Abu Dawud)
62. Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra., dari nabi saw.,
beliau bersabda: “Kembali dari perang itu pahalanya seperti
berperang.” (HR. Abu Dawud)
63. Dari As Saib bin Yazid ra., ia berkata: “Ketika nabi
saw., kembali dari perang Tabuk, beliau disambut oleh
orang-orang dan saya bertemu beliau dengan anak-anaknya
di Tsaniyyatil Wada’” (HR. Abu Dawud) dan dalam riwayat
Bukhari dikatakan: “Kami pergi dan bertemu dengan
rasulullah saw., bersama anak-anak ke Tsaniyyatul Wada’.”
64. Dari Abu Umamah ra., dari Nabi saw., beliau bersabda:
“Barang siapa yang tidak ikut berperang dan tidak
mempersiapkan diri untuk berperang atau tetap tinggal di
rumah, tetapi tidak menjaga keluarga orang yang berperang
dengan baik, maka ia akan ditimpa musibah sebelum
datangnya hari kiamat.” (HR. Abu Dawud)
65. Dari Anas ra., bahwasanya nabi saw., bersabda:
“Perangilah orang-orang musyrik dengan harta kalian, jiwa
kalian, dan dengan lidah kalian.” (HR. Abu Dawud)
66. Dari Abu Amr ra., ada yang menamakan Abu Hakim,
Abu Nu’man bin Muqarrin ra., ia berkata: “Saya menyaksikan
rasulullah saw., apabila tidak mulai berperang pada pagi hari,
beliau menangguhkan peperangan itu sampai matahari
tergelincir ke barat, dan menantikan bertiupnya angin, serta
menunggu-nunggu saat yang tepat untuk mendapatkan
kemenangan.” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi)
67. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw.,
bersabda: “Janganlah kalian mengharap-harapkan bertemu
musuh. Apabila kalian bertemu dengan mereka (musuh)
maka bersabarlah kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)
68. Dari Abu Hurairah dan Jabir ra., bahwasanya nabi saw.,
bersabda: “Perang adalah adu siasat.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
MACAM-MACAM MATI SYAHID
1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw.,
bersabda: “Syuhada’ (orang-orang yang mati syahid) itu
ada lima macam: orang yang mati karena wabah, karena
sakit perut, mati tenggelam, mati tertimpa reruntuhan
bangunan, dan mati dalam perang di jalan Allah.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw.,
bertanya: “Siapakah yang kalian anggap mati syahid di
kalangan kalian?” Para sahabat menyahut: “Wahai
rasulullah, orang-orang yang terbunuh dalam peperangan
sabilillah itulah orang yang mati syahid.” Beliau bersabda:
“Kalau begitu hanya sedikit orang-orang yang mati syahid
dari ummatku.” Para sahabat bertanya: “Lalu siapa wahai
rasulullah?” Beliau bersabda: “Orang-orang yang terbunuh
dalam perang sabilillah adalah syahid, orang yang mati
karena wabah penyakit adalah syahid, orang yang mati
karena sakit perut adalah syahid, dan orang yang mati
tenggelam pun adalah syahid.” (HR. Muslim)
3. Dari Abdulllah bin Amr bin Ash ra., ia berkata: Rasulullah
saw., bersabda: “Barangsiapa terbunuh dalam
mempertahankan hartanya, maka ia mati syahid.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
4. Dari Abdul A’war Sa’id bin Zaid bin Amr bin Naufil, salah
seorang di antara sepuluh orang yang dipastikan masuk
surga ra., ia berkata: “Saya pernah mendengar rasulullah
saw., bersabda: “Barangsiapa terbunuh dalam
mempertahankan hartanya, maka ia mati syahid, dan
barangsiapa terbunuh dalam mempertahankan darahnya
(dirinya) maka ia mati syahid, barangsiapa terbunuh
dalam mempertahankan agamanya maka ia mati syahid,
dan barangsiapa terbunuh dalam mempertahankan
keluarganya, maka ia mati syahid.” (HR. Abu Dawud dan
Turmudzi)
5. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Suatu ketika datang
seorang laki-laki kepada rasulullah saw., lalu berkata:
“Wahai rasulullah, bagaimanakah jika ada seseorang
datang untuk merebut hartaku?” Beliau berkata: “Jangan
kamu biarkan.” Lelaki itu bertanya: “Bagaimanakah jika ia
menyerangku?” Beliau bersabda: “Ganti serang dia.”
Lelaki itu bertanya lagi: “Bagaimana jika ia berhasil
membunuhku?” Beliau bersabda: “Kamu mati syahid.”
Lelaki itu bertanya lagi: “Bagaimana jika saya berhasil
membunuhnya?” Beliau bersabda: “Dia berada di neraka.”
(HR. Muslim)
KEUTAMAAN MEMERDEKAKAN BUDAK
1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw.,
bersabda: “Barangsiapa memerdekakan budak muslim,
maka Allah akan membebaskan –dengan sebab- setiap
anggota tubuhnya dari neraka, sampai kemaluannya pun
terbebas dari api neraka, sebeb kemaluan budak yang ia
bebaskan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abi Dzar ra., ia berkata: Saya bertanya: “Wahai
rasulullah, amal-amal manakah yang paling utama?”
Beliau bersabda: “Iman kepada Allah dan jihad di
sabilillah.” Saya bertanya lagi: “Budak manakah yang
paling utama?” Beliau bersabda: “Yang paling berharga
disisi keluarganya dan paling banyak harganya.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
KEUTAMAAN BERBUAT BAIK KEPADA
BUDAKNYA
1. Dari Al Ma’rur bin Suwaid berkata: “Saya melihat Abu Dzar
ra., memakai suatu perhiasan yang sama dengan
perhiasan yang dipakai pelayannya, maka saya
menanyakan hal itu kepadanya, kemudian ia menceritakan
bahwa pada masa Rasulullah saw., ia pernah memakai
seseorang kemudian orang itu mencela ibunya. Kemudian
Nabi saw., bersabda: “Sungguh, kamu ini seorang yang
bermulut jahiliyah. Mereka (budak-budak itu) adalah
teman-teman dan hamba sahaya kalian, yang dijadikan
oleh Allah berada di bawah kekuasaanya, maka hendaklah
ia memberi makan saudaranya (budak)nya itu dengan apa
yang ia makan, dan memberi pakaian dengan apa yang ia
pakai. Janganlah kalian membebani mereka dengan apa
yang mengalahkan mereka (tidak sanggup
mengerjakannya). Jika kalian memberi tugas mereka,
maka bantulah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi saw., beliau bersabda:
“Apabila salah seorang di antara kalian dibawakan
makanan oleh pelayannya, maka jika ia mengajak duduk
pelayan itu bersamanya (untuk makan bersama),
hendaklah ia memberikan kepada pelayan itu sesuap atau
dua suap atau sepotong dua potong makanan. Karena
pelayan itulah yang menyajikannya.” (HR. Bukhari)
KEUTAMAAN BUDAK YANG DAPAT
MENUNAIKAN KEWAJIBANNYA
1. Dari Ibnu Umar ra., bahwasanya Rasulullah saw.,
bersabda: “Bagi seseorang budak jika menjalankan tugas
majikannya dan menyempurnakan ibadah kepada Allah,
maka ia memperoleh pahala dua kali.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Rasulullah saw.,
bersabda: “Hamba sahaya yang baik mendapatkan dua
pahala. Demi Zat yang menguasai jiwa Abu Hurairah.
Seandainya tidak ada jihad fi sabilillah, haji dan berbakti
kepada ibuku, niscaya aku suka jika aku mati dalam
keadaan menjadi hamba sahaya.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
3. Dari Musa Al Asy’ariy ra., ia berkata: Rasulullah saw.,
bersabda: “Hamba sahaya yang menyempurnakan ibadah
kepada Tuhannya dan menunaikan hak terhadap
majikannya, bertindak baik dan taat, maka ia memperoleh
dua pahala.” (HR. Bukhari)
4. Dari Musa Al Asy’ariy ra., ia berkata: Rasulullah saw.,
bersabda: “Ada tiga macam orang yang memperoleh dua
pahala, yaitu: 1. Ahli Kitab (Yahudi atau Nasrani) yang
beriman kepada Nabinya dan beriman kepada Muhammad,
2. Hamba sahaya yang menunaikan hak Allah dan hak
majikannya., 3. Dan seorang lelaki yang mempunyai
budak perempuan, lalu mendidik dan mengajarinya
sampai pandai, kemudian memerdekakannya lalu
mengawininya, maka orang itu memperoleh dua pahala.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
KEUTAMAAN IBADAH PADA MASA-MASA
KACAU
1. Dari Ma’qil Yasar ra., ia berkata: Rasulullah saw.,
bersabda: “Melaksanakan ibadah pada masa yang kacau,
seperti berhijrah kepadaku.” (HR. Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya ada seseorang datang
kepada Nabi saw. untuk menagih hutang, kemudian ia
berkata keras kepada beliau sehingga para sahabat
bermaksud untuk memukulnya, tetapi Rasulullah saw.
bersabda :”Biarkanlah, karena bagi orang yang
mempunyai hak itu ada kebebasan untuk berbicara.”
Kemudian beliau bersabda :”Berikanlah kepadanya unta
yang umurnya sama dengan unta yang aku hutang.” Para
sahabat menjawab :”Wahai Rasulullah, kami tidak
mendapatkan unta yang umurnya sama, kami hanya
mendapatkan unta yang umurnya lebih tua.” Beliau
bersabda :”Berikanlah unta itu, karena sesungguhnya
sebaik-baik kamu adalah orang yang paling baik
membayar hutang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Dari Jabir ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda
:”Semoga Allah memberi rahmat kepada seseorang yang
bermurah hati sewaktu menjual, bermurah hati sewaktu
membeli dan bermurah hati sewaktu menagih hutang.”
(HR. Bukhari)
4. Dari Abu Qatadah ra., ia berkata : Saya mendengar
Rasulullah saw. bersabda :”Barangsiapa yang ingin
diselamatkan oleh Allah dari kesulitan-kesulitan hari
kiamat, maka hendaklah ia mempermudah orang miskin
atau hendaklah ia membebaskan utang orang miskin.”
(HR. Muslim)
5. Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw.
bersabda :”Ada seseorang yang biasa memberi utang
kepada orang-orang dan selalu berkata kepada
pelayannya : Jika kamu mendatangi (menagih) orang
yang tidak bisa membayar, maka maafkan ia, semoga
Allah memaafkan kami. Sehingga apabila berhadapan
dengan Allah maka Allah memaafkan.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
6. Dari Abu Mas’ud Al Badry ra., ia berkata : Rasulullah saw.
bersabda :”Ada seorang laki-laki yang dihisab di hari
kiamat yang dahulu ternyata tidak mempunyai amal
kebaikan sedikitpun, hanya saja dia adalah orang kaya
yang biasa memberi utang kepada orang-orang, dan ia
menyuruh pelayan-pelayannya untuk memaafkan orang
yang tidak bisa membayar utangnya, kemudian Allah
Ta’ala berfirman : Kami lebih pantas memaafkannya,
maka maafkanlah orang itu.” (HR. Muslim)
7. Dari Khudzaifar ra., ia berkata :”Apabila salah seorang
dari hamba-hamba Allah yang telah dikarunia kekayaan
dihadapkan kepada Allah dan Allah bertanya kepadanya
:”Apa yang telah kamu lakukan terhadap kekayaanmu di
dunia?” Khudzairah berkata :”Mereka tidak dapat
menyembunyikan apa pun di hadapan Allah.” Kemudian
orang itu menjawab :”Wahai Tuhanku, Engkau telah
mengaruniakan harta kekayaan dan saya mengadakan
hubungan dagang dengan sesama manusia, saya biasa
bersikap lunak dimana bila saya memberi keringanan
kepada orang yang kaya dan menangguhkan orang yang
miskin.” Allah Ta’ala lantas berfirman :”Aku yang lebih
pantas untuk berbuat seperti itu, maafkanlah hamba-Ku.”
Kemudian Uqbah bin Amir dan Abu Mas’ud ra. berkata
:”Memang demikianlah yang kami dengan dari lisan
Rasulullah saw..” (HR. Muslim)
8. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw.
bersabda :”Barangsiapa menangguhkan utang orang yang
belum bisa membayar atau membebaskannya, maka kelak
pada hari kiamat Allah memberi naungan di bawah
naungan ‘Arasy yang waktu itu tidak ada naungan kecuali
naungan-Nya.” (HR. Turmudzi)
9. Dari Jabir ra. bahwasannya Nabi saw. membeli seekor
unta, kemudian beliau menimbang harganya dan
melebihinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
10. Dari Abu Sufyan Suwaid bin Qais ra., ia berkata :”Saya
dan Mukarramah Al Badiy membawa dagangan dari Hajar,
kemudian Nabi saw. datang kepada kami dan menawar
beberapa celana, saya mempunyai tukang timbang yang
saya gaji kemudian Nabi saw. bersabda :”Timbanglah dan
lebihi.” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi)
ILMU PENGETAHUAN
1. Dari Mu’awiyah ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda
:”Barangsiapa dikehendaki oleh Allah menjadi baik, maka
Dia memberikan kefahaman (ilmu) masalah agama.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
2. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda :
“Tidak boleh hasud (dengki), kecuali di dalam dua hal, yaitu
terhadap orang yang diberi harta oleh Allah, kemudian ia
mempergunakannya untuk membela kebenaran, dan
terhadap orang yang diberi ilmu pengetahuan oleh Allah,
kemudian ia mengamalkannya dan mengajarkannya.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
3. Dari Abu Musa ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda:
“Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang diberikan Allah
kepadaku, bagaikan hujan yang menimpa bumi. Maka
sebagian tanah ada yang baik (subur), lalu tumbuhlah
tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Ada pula
tanah yang kering tetapi bisa menyimpan air, lalu Allah
memberikan manfaat kepada manusia, mereka bisa minum
dari air itu, memberi minuman ternak dan bertani. Ada lagi
air yang menimpa bagian bumi lain yang datar dan lunak
yang tidak dapat menyimpan air dan tidak dapat
menumbuhkan tumbuhan. Demikianlah perumpamaan orang
alim dalam masalah agama dan mengerjakannya dan
perumpamaan orang yang tidak dapat menerima petunjuk
Allah yang ditugaskan kepadaku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Dari Sahl bin Sa’ad ra. bahwasannya Nabi saw. bersabda:
“Demi Allah, jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang
dengan perantaraanmu, itu lebih baik daripada unta merah
(hak milik orang yang paling berharga).” (HR. Bukhari dan
Muslim)
5. Dari Abdullah bin Amr Al Ash ra. bahwasannya Nabi saw.
bersabda : “Sampainkanlah (ilmu) dariku meski hanya satu
ayat, dan boleh saja kalian menceritakan dari bani Israil
(boleh untuk diambil pelajaran). Dan barangsiapa
mendustakan atasku (mengatasnamakan suatu pembicaraan
kepada Nabi, padahal beliau tidak menyabdakannya) dengan
sengaja, maka sebaiknya ia meletakkan tempat duduknya di
neraka.” (HR. Bukhari)
6. Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw.
Bersabda : “Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut
ilmu, maka Allah memudahkan bagi orang itu karena ilmu
tersebut jalan menuju ke surga.” (HR. Muslim)
7. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : bahwasannya Rasulullah
saw. bersabda :”Barangsiapa mengajak kepada jalan yang
baik, maka ia mendapat pahala sebanyak pahala orang yang
mengikutinya (mengikuti ajakannya) tanpa mengurangi
pahala mereka sendiri sedikit pun.” (HR. Muslim)
8. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda
: “Apabila anak Adam (manusia) mati, maka terputuslah
amalnya, kecuali tiga hal, sedekah jariyah, ilmu yang
bermanfaat, atau anak saleh yang selalu mendoakannya.”
(HR. Muslim)
9. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Saya mendengar
Rasulullah saw bersabda : “Dunia dan segala isinya adalah
terkutuk kecuali zikir dan taat kepada Allah Ta’ala, serta
orang alim dan orang yang belajar.” (HR. Turmudzi)
10. Dari Anas ra., ia berkata : Rasulullah saw. Bersabda:
“Barangsiapa keluar dengan tujuan menuntut ilmu, maka ia
berada di jalan Allah sampai ia kembali.” (HR. Turmudzi)
11. Dari Abu Sa’id Al Khudriy dari Nabi saw. Beliau
bersabda: “Seorang mukmin tidak akan merasa kenyang
untuk berbuat kebaikan, sehingga akhir tujuannya adalah
surga (HR. Turmudzi)
12. Dari Abu Umamah ra. bahwasannya Rasulullah saw.
Bersabda: “Kelebihan orang alim terhadap orang yang ahli
ibadah (tetapi tidak alim), seperti kelebihanku terhadap
orang yang paling rendah di antara kalian.” Kemudian
Rasulullah saw. meneruskan sabdanya: “Sesungguhnya
Allah, malaikat serta penghuni langit dan bumi sampaisampai
semut yang berada di sarangnya dan juga ikan,
senantiasa memintakan rahmat kepada orang yang
mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. Turmudzi)
13. Dari Abu Darda’ ra., ia berkata: Saya mendengar
Rasulullah saw. bersabda: ”Barangsiapa menempuh jalan
untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan
baginya jalan menuju surga. Dan sesungguhnya malaikat
membentangkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu
karena puas dengan apa yang diperbuatnya, dan
bahwasannya penghuni langit dan bumi sampai ikan di
lautan memintakan ampun kepada orang yang pandai.
Kelebihan orang alim terhadap abid (orang yang ahli ibadah
tetapi tidak alim), bagaikan kelebihan bulan purnama
terhadap bintang-bintang yang lain. Sesungguhnya ulama
adalah pewaris para Nabi dan bahwasannya para Nabi tidak
mewariskan dinar dan dirham, tetapi para Nabi mewariskan
ilmu pengetahuan. Maka barangsiapa mengambil
(menuntut) ilmu, maka ia telah mengambil bagian yang
sempurna.” (HR. Turmudzi)
14. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata : Saya mendengar
Rasulullah saw. bersabda :” Semoga Allah memberi cahaya
yang berkilauan kepada seseorang yang mendengar sesuatu
dariku, kemudian ia menyampaikannya sebagaimana yang
telah ia dengar, karena banyak orang yang disampaikan
kepadanya (sesuatu itu) lebih menghayati, daripada orang
yang mendengarnya sendiri.” (HR. Turmudzi)
15. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw.
bersabda :”Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu
kemudian ia menyembunyikannya (tidak mau menjawab
dengan sebenarnya), maka kelak di hari kiamat ia akan
dikendalikan dengan kendali dari api neraka.” (HR. Abu
Dawud dan Turmudzi)
16. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw.
bersabda : “Barangsiapa yang mempelajari ilmu
pengetahuan yang semestinya bertujuan untuk mencari
ridha Allah ‘Azza wa Jalla, kemudian ia mempelajarinya
dengan tujuan hanya untuk mendapatkan
kedudukan/kekayaan duniawi, maka ia tidak akan
mendapatkan baunya surga kelak pada hari kiamat.” (HR.
Abu Dawud)
17. Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra., ia berkata : Saya
mendengar Rasulullah saw. bersabda:“Sungguh, Allah tidak
akan mencabut ilmu dari manusia begitu saja. Tetapi Allah
mencabutnya dengan mengambil (mewafatkan) orang-orang
yang berilmu, sampai tidak lagi tersisa seorang alim pun,
lalu menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Para
pemimpin yang bodoh itu ditanya, lalu mereka memberi
fatwa tanpa dasar ilmu, sehingga mereka sesat dan
menyesatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
MEMUJI DAN BERSYUKUR KEPADA
1. Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya ketika Nabi saw.
diisra’kan beliau diberi dua gelas minuman yang diberi
khamr (tuak) dan susu, kemudian beliau memperhatikan
dua gelas itu lalu mengambil gelas yang berisi susu.
Kemudian malaikat Jibril berkata : ALHAMDU LILLAHIL
LADZII HADAAKAN LALFITHRAH, LAU AKHADZTAL KHAMRA
GHAWAT UMMATUK” (segala puji bagi Allah yang telah
memberi petunjuk kepada engkau pada kesucian,
seandainya engkau mengambil khamar (tuak) niscaya
tersesatlah umatmu).” (HR. Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw. beliau bersabda :
“Setiap perbuatan baik yang tidak dimulai dengan memuji
Allah, maka tidak sempurnalah perbuatan itu.”. (HR. Abu
Dawud)
3. Dari Abu Musa Al Asy’ary ra. bahwasannya Rasulullah saw.
bersabda :”Apabila anak seseorang meninggal dunia, maka
Allah bertanya kepada malaikat-Nya: “kamu telah mencabut
nyawa anak hamba-Ku?” Para malaikat menjawab :”Ya”
Allah bertanya :”Kamu telah mencabut nyawa buah
hatinya?” Para malaikat menjawab “Ya” Allah bertanya:
“Apakah yang diucapkan oleh hamba-Ku?” Para malaikat
menjawab: “Ia memuji-Mu dan membaca :”INNA LILLAHI
WA INNA ILAIHI RAAJI’UUN.” Kemudian Allah Ta’ala
berfirman : “Bangunlah sebuah rumah di surga untuk
hamba-Ku itu dan berilah nama ‘Baitul Hamd’. (HR.
Turmudzi)
4. Dari Anas ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda :
“Sesungguhnya Allah merasa puas terhadap hamba-Nya
yang apabila makan selalu memuji-Nya dan apabila minum
juga memuji-Nya.” (HR. Muslim)
BAB MEMBACA SALAWAT UNTUK RASULULLAH
SAW
1. Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra. bahwasannya ia
mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa
bersalawat kepadaku sekali, maka Allah memberikan rahmat
kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)
2. Dari Ibnu Mas’ud ra. bahwasannya Rasulullah saw.
bersabda: “Orang yang paling dekat denganku nanti pada
hari kiamat, adalah mereka yang paling banyak membaca
salawat untukku.” (HR. Turmudzi)
3. Dari Aus bin Aus ra., ia berkata: Rasulullah saw.
bersabda:“Sesungguhnya hari-hari kalian yang paling utama
adalah hari Jum’at, oleh karena itu perbanyaklah membaca
salawat untukku pada hari itu, karena sesungguhnya bacaan
salawatmu itu diperlihatkan kepadaku.” Para sahabat
bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana bacaan salawat
kami diperlihatkan kepada engkau sedangkan jasad engkau
sudah bercampur dengan tanah?” Beliau
bersabda:”Sesungguhnya Allah mengharamkan kepada bumi
untuk memakan jasad para Nabi.” (HR. Abu Dawud)
4. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. Bersabda:
“Sungguh hina orang yang mendengar namaku disebut
kemudian ia tidak membacakan salawat untukku.” (HR.
Turmudzi)
5. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
“Janganlah kalian menjadikan kuburku sebagai tempat
perayaan, dan bacalah salawat untukku karena
sesungguhnya bacaan salawatmu akan sampai kepadaku
dimanapu kalian berada.” (HR. Abu Dawud)
6. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: bahwasannya Rasulullah
saw. bersabda: “Tiada seseorang yang mengucapkan salam
kepadaku melainkan Allah mengembalikan nyawaku,
sehingga aku dapat menjawab salam kepadanya.” (HR. Abu
Dawud)
7. Dari Ali ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:”Orang
kikir yaitu orang yang apabila namaku disebut disisinya, ia
tidak mengucapkan salawat kepadaku.” (HR. Turmudzi)
8. Dari Fadhlah bin Ubaid ra., ia berkata: Rasulullah saw.
mendengar seseorang berdoa sewaktu salat, dimana ia tidak
mengagungkan nama Allah Ta’ala dan tidak membacakan
salawat untuk Nabi saw., kemudian Rasulullah saw.
bersabda:”Orang ini sangat tergesa-gesa.” Beliau lantas
memanggilnya dan bersabda kepadanya atau juga kepada
yang lain:”Apabila salah seorang di antara kalian
mengerjakan salat, maka hendaknya ia memulainya dengan
memuji dan menyanjung Tuhannya Yang Maha Suci,
kemudian membacakan salawat untuk Nabi saw., baru
sesudah itu berdoa sekehendaknya.” (HR. Abu Dawud dan
Turmudzi)
9. Dari Muhammad bin Ka’ab bin Uzjah ra., ia berkata : Nabi
saw. datang kepada kami, kemudian kami bertanya: “Wahai
Rasulullah, kami telah mengetahui tentang bagaimana
caranya kami mengucapkan salam untuk engkau, tetapi
bagaimana cara membacakan salawat untuk engkau?”
Beliau menjawab:”Ucapkanlah: ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA
MUHAMMAD WA’ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA SHALLAITA
‘ALAA AALI IBRAAHIIMA INNAKA HAMIIDUM MAJIID.
ALLAHUMMA BAARIK ’ALAA MUHAMMAD WA ’ALAA AALI
MUHAMMAD KAMAA BAARAKTA ’ALAA AALI IBRAAHIIMA
INNAKA HAMIIDUM MAJIID” (Ya Allah, limpahkanlah rahmat
kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana
Engkau telah melimpahkan rahmat kepada keluarga
Ibrahim, sesungguhnya Engkau adalah yang Maha Terpuji
dan Maha Agung. Ya Allah limpahkanlah keberkahan kepada
Muhammad dan keluarga Muhammad, sebnagaimana
Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada keluarga
Ibrahim, sesungguhnya Engkau Zat Yang Maha Terpuji lagi
Maha Agung.” (HR. Bukhari dan Muslim)
10. Dari Abu Mas’ud Al Badriy ra., ia berkata: Rasulullah
saw. datang kepada kami sedangkan kami sedang berada di
majlis Sa’ad bin Ubadah ra., kemudian Basyir bin Sa’ad
bertanya kepada beliau: ”Allah telah menyuruh untuk
membacakan salawat untuk engkau?” Kemudian Rasulullah
saw. diam, sehingga kami khawatir kalau apa yang
ditanyakan oleh Basyir itu tidak berkenan di benak beliau,
tetapi Rasulullah saw. bersabda : ”Ucapkanlah :
ALLAAHUMMA SHALLI ’ALAA MUHAMMAD WA’ALAA AALI
MUHAMMAD KAMAA SHALLAITA ’ALAA IBRAAHIIMA
WABAARIK ’ALAA MUHAMMAD WA’ALAA ALI SAYYIDINA
MUHAMMAD KAMA BAARAKTA ’ALAA SYAYIDINA IBRAHIM
INNAKA HAMIIDUM MAJIID” (Ya Allah, limpahkanlah rahmat
kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana
Engkau telah melimpahkan rahmat kepada Ibrahim dan
limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga
Muhammad sebagaimana Engkau limpahkan keberkahan
kepada Ibrahim, sesungguhnya Engkau adalah Zat yang
paling terpuji lagi Maha Agung). Dan ucapan salam
sebagaimana yang telah kalian ketahui.” (HR. Muslim)
11. Dari Abu Hamid As Sa’idiy ra., ia berkata: Para
sahabat bertanya :”Wahai Rasulullah, bagaimana caranya
kami membacakan salawat untuk engkau?” Beliau bersabda:
”Ucapkanlah : ALLAHUMMA SHALLI ’ALAA MUHAMMAD
WA’ALAA AZWAAJIHII WADZURRIYYATIHII KAMAA
SHALAITA ’ALAA IBRAHIIM WABAARIK ’ALAA MUHAMMAD
WA’ALAA AZWAAJIHII WADZURRIYYATIHI KAMAA
BAARAKTA ’ALAA IBRAHIIM INNAKA HAMIIDUM MAJIID” (Ya
Allah, limpahkanlah rahmat kepada Muhammad beserta istriistri
dan anak keturunannya, sebagaimana Engkau telah
melimpahkan rahmat kepada Ibrahim, dan limpahkanlah
berkah kepada Muhammad beserta istri-istri dan anak
keturunannya, sebagaimana Engkau telah melimpahkan
berkah kepada Ibrahim; sesungguhnya Engkau adalah Zat
Yang Maha terpuji lagi Maha Agung.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
KEUTAMAAN DAN ANJURAN BERZIKIR
1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
”Dua kalimat yang ringan pada lisan, berat pada timbangan
amal, di sukai oleh Allah Yang Maha Pengasih, yaitu
SUBHAANALLAAH WABIHAMDIHI, SUBHAANALLAAHIL
’AZHIIM (Maha Suci Allah dengan memuji kepada-Nya;
Maha Suci Allah Yang Maha Agung).” (HR. Bukhari dan
Muslim)
2. Dari Abu Huraiorah ra., ia berkata: Rasulullah saw.
bersabda: ”Sungguh, jika aku mengucap: SUBHAANALLAAH
WAL HAMDULILLAH WALAA ILAAHA ILAAHU AKBAR (Maha
Suci Allah dan segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain
Allah dan Allah Maha Besar), itu lebih aku sukai, daripada
apa yang disinari matahari (dunia).” (HR. Muslim)
3. Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw.
Bersabda: ”Barangsiapa mengucapkan : LAA ILAAHA
ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU, LAHUL MULKU
WALAHUL HAMDU WAHUWA ’ALAA KULLI SYA-IN QADIIR
(Tidak ada Tuhan selain Allah Zat Yang Maha Esa, tidak ada
sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kekuasaan dan segala
puji. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu) dalam sehari
seratus kali, maka baginya (pahalanya) sama dengan
memerdekakan sepuluh budak dan dituliskan untuknya
seratus kebaikan, dihapus darinya seratus keburukan dan
ucapan itu merupakan penjagaan baginya dari gangguan
setan pada hari tersebut sampai petang, serta tidak seorang
pun datang dengan membawa yang lebih utama dari apa
yang ia bawa (kelak di hari kiamat), kecuali seseorang yang
beramal lebih banyak daripada itu.” Dan beliau bersabda
pula: ”Barangsiapa mengucapkan SUBHAANALLAH
WABIHAMDIHI dalam sehari seratus kali, maka turunlah
kesalahan-kesalahannya, meskipun kesalahan-kesalahannya
itu sebanyak buih di laut.” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Dari Ayyub Al Anshariy ra. dari Nabi saw., beliau bersabda:
”Barangsiapa mengucapkan : LAA ILAAHA ILALLA WAHDAHU
LAA SYARIIKA LAHU, LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU
WAHUWA ’ALAA KULLI SYA-IN QADIIR sepuluh kali, maka ia
bagaikan orang yang memerdekakan empat jiwa dari
keturunan Isma’il.” (HR. Bukhari dan Muslim)
5. Dari Abu Dzar ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda
kepada saya: ”Maukah kamu aku beritahu kalimat yang
paling disukai oleh Allah? Sesungguhnya kalimat yang paling
disukai oleh Allah adalah : SUBHAANALLAAHI
WABIHAMDIHI.” (HR. Muslim)
6. Dari Abu Malik Al Asy’ariy ra., ia berkata: Rasulullah saw.
bersabda :”Bersuci adalah sebagian dari iman,
ALHAMDULILLAH memenuhi amal dan SUBHAANALLAAH
WAL HAMDULILLAAH memenuhi apa yang ada di antara
langit dan bumi.” (HR. Muslim)
7. Dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra., ia berkata: ada seorang
Badui yang datang kepada Rasulullah saw. dan berkata:
”Ajarkanlah kepada saya suatu kalimat yang harus saya
baca.” Beliau bersabda: ”Bacalah : LAA ILAAHA ILLALLAAHU
WAHDAHU LAA SYARIIKALAH ALLAHU AKBAR KABIIRA WAL
HAMDULILLAHI KATSIIRA WASUBHANALLAAHI RABBIL
’AALAMIIN WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAHIL
’AZIIZIL HAKIIM (Tiada Tuhan selain Allah Zat Yang Maha
Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Allah Maha Besar, segala puji
bagi Allah dengan sebanyak-banyaknya. Maha Suci Allah
Tuhan semesta alam, dan tiada daya dan kekuatan kecuali
atas pertolongan Allah Zat Yang Maha Mulia dan Maha
Bijaksana).” Orang Badui itu berkata: ”Semua itu adalah
untuk Tuhanku, kemudian mana yang untuk kepentingan
saya?” Beliau bersabda: ”Ucapkanlah: ALLAAHUMMAGHFIR
LII WARHAMNII WAHDINII WARZUQNII (Ya Allah, ampunilah
dosaku, rahmatilah aku, berilah aku petunjuk dan berilah
aku rezeki).” (HR. Muslim)
8. Dari Tsauban ra., ia berkata: Adalah Rasulullah saw. apabila
selesai dari salatnya, beliau beristighfar kepada Allah tiga
kali dan mengucapkan : ALLAAHUMMA ANTAS SALAAM
WAMINKAS SALAAM TABAARAKTA YAA DZAL JALAALI WAL
IKRAAM (Ya Allah, Engkau adalah Zat Yang Maha Sejahtera
dan dari Engkaulah kesejahteraan. Engkaulah yang
senantiasa memberi berkah wahai Zat Yang Maha Agung
dan Maha Mulia).” Ditanyakan kepada Al Auza’iy (ia adalah
salah seorang dari perawi hadis ini): ”Bagaimanakah
istighfar itu?” Jawabnya : ”ASTAGHFIRULLAAH,
ASTAGHFIRULLAAH (Saya memohon ampun kepada Allah,
saya memohon ampun kepada Allah).” (HR. Muslim)
9. Dari Al Mughirah bin Syu’bah ra. bahwasannya Rasulullah
saw. setiap selesai salat dan mengucapkan salam, beliau
membaca: ”LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHU LAA
SYARIIKALAH LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA
’ALAA KULLI SYAI-IN QADIIR ALLAHUMMA LAA MAANI’A
LIMAA A’THAITA WALAA MU’THIYA LIMAA MANA’TA WALAA
YA’FAU DZAL JADDI MINKAL JADDU (Tiada Tuhan selain
Allah Zat Yang Maha Esa, Tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya
segala kekuasaan dan pujian; Dia Maha Kuasa atas segala
sesuatu. Ya Allah, tiada yang dapat menghalangi terhadap
apa yang Engkau berikan, tiada yang dapat memberikan apa
yang Engkau halangi, dan tidak berarti apa-apa kekayaan
bagi orang kaya karena semua berasal dari pada-Mu)” (HR.
Bukhari dan Muslim)
10. Dari Abdullah bin Zubair ra. bahwasannya apabila ia
selesai salat, sehabis mengucapkan salam ia senantiasa
mengucapkan : LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHU
LAASYARIIKALAH, LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU
WAHUWA ’ALAA KULLI SYAI-IN QADIIR. WALAA HAULA
WALAA QUWWATA ILLA BILLAAH. LAA ILAAHA ILLALLAAH
WALAA NA’BUDU ILLA IYYAAH LAHU NI’MATU WALAHUL
FADL-LU WALAHUTS TSANAAUL HASAN LAA ILAAHA
ILLALLAAHU MUKHLISHIINA LAHUD DIINA WALAU KARIHAL
KAAFIRUUN (Tiada Tuhan selain Allah Zat Yang Maha Esa,
tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kekuasaan dan
pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada daya dan
kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Tiada Tuhan
selain Allah dan kami tidak menyembah kecuali hanya
kepada-Nya. Bagi-Nya segala nikmat keutamaan dan segala
pujian yang baik. Tiada Tuhan selain Allah, dengan ikhlas
menganut agama karena-Nya walau orang-orang kafir
membencinya). Ibnu Zubair berkata: “Rasulullah saw. biasa
membaca bacaan tersebut setiap selesai salat.” (HR.
Muslim)
11. Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya orang-orang dari
sahabat Muhajirin datang kepada Rasulullah saw. dan
berkata:”Orang-orang kaya telah memperoleh derajat yang
tinggi dan kebahagiaan yang abadi, dimana mereka salat
sebagaimana kami salat, mereka berpuasa sebagaimana
kami berpuasa, mereka mempunyai kelebihan harta
sehingga dapat menunaikan haji, umrah, berjuang dan
bersedekah.” Rasulullah saw. bersabda: “Maukah kalian aku
ajari sesuatu yang dapat mengejar pahala orang-orang ayng
telah mendahului kamu dan juga orang-orang yang sesudah
nanti serta tidak ada seorang pun yang lebih utama dari
kamu, kecuali orang yang berbuat seperti apa yang kalian
perbuat?” Mereka menjawab:”Mau wahai Rasulullah” Beliau
bersabda:”Yaitu kalian membaca tasbih, tahmid dan takbir
setiap selesai salat sebanyak tiga puluh tiga kali.” Abu Shalih
orang yang meriwayatkan hadis ini dari Abu Hurairah ra.
berkata: “Ketika beliau ditanya tentang bagaimana
mengucapkannya, beliau bersabda: SUBHAANALLAAH, ALHAMDULILLAH
dan ALLAAHU AKBAR, masing-masing dari
tiga kalimat itu dibaca tiga puluh tiga kali.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Di dalam riwayat Muslim terdapat tambahan: Kemudian orangorang
fakir Muhajirin datang lagi kepada Rasulullah saw. dan
berkata: “ Setelah saudara-saudara kami yang kaya itu
mendengar apa yang kami kerjakan, maka mereka mengerjakan
seperti yang saya kerjakan.” Kemudian Rasulullah saw.
bersabda:”Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang
dikehendaki-Nya.”
12. Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw.
bersabda:”Barangsiapa membaca tasbih tiga puluh tiga kali
setiap selesai salat, membaca tahmid tiga puluh tiga kali dan
membaca takbir tiga puluh tiga kali, kemudian untuk
melengkapi bilangan seratus ia membaca: LAA ILAAHA
ILLALLAAHU WAHDAHU LAASYARIIKALAH LAHUL MULKU
WALAHUL HAMDU WAHUWA’ ALAA KULLI SYAI-IN QADIIR,
maka diampunilah dosa-dosanya walaupun dosa-dosa itu
seperti buih di lautan.” (HR. Muslim)
13. Dari Ka’ab bin Ujzah ra., dari rasulullah saw., beliau
bersabda: “Bacaan-bacaan setelah shalat fardhu tidak
mengecewakan orang yang membacanya atau
mengerjakannya adalah: tasbih tiga puluh tiga kali, tahmid
tiga puluh tiga kali, dan takbir tiga puluh tiga kali.” (HR.
Muslim)
14. Dari Sa’ad bin Abu Waqqash ra., bahwasanya
rasulullah saw., senantiasa berlindung diri sehabis shalat
yaitu dengan mengucapkan: ALLAAHUMMA INNI
A’UUDZUBIKA MINAL JUBNI WAL BUKHLI WA A’UUDZUBIKA
MIN ARUDDA ILLA ARDZALIL ‘UMURI WA A’UUDZUBIKA MIN
FITNATID DUNYAA WA A’UUDZUBIKA MIN FITNATI QABRI
(Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung diri kepada-Mu dari
sifat penakut dan kikir. Aku berlindung diri kepada-Mu
daripada dilanjutkan usia hingga umur yang hina/tidak
mampu untuk berbuat apa-apa. Dan saya berlindung diri
kepada-Mu dari fitnah kubur.)” (HR. Bukhari)
15. Dari Mu’adz ra., bahwasanya Rasulullah saw.,
memegang tangannya sambil bersabda: “Hai Mu’adz, demi
Allah aku sungguh sayang kepadamu.” Kemudian beliau
bersabda lagi “Aku berpesan kepadamu hai Mu’adz, jangan
sekali-kali kamu setiap selesai shalat tidak membaca:
ALLAAHUMMA A’INNI ALAA DZIKRIKA WA HUSNI
‘IBAADATIK (Ya Allah, bantulah saya untuk selalu menyebut
nama-Mu dan selalu bersuyukur kepada-Mu serta
memperbaiki ibadah kepada-Mu.) (HR. Abu Dawud)
16. Dari Abu Hurairah ra., bahwasanya Rasulullah saw.,
bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian
bertasyahud, maka hendaklah ia berlindung diri kepada
Allah dari empat macam, dimana hendaklah ia
mengucapkan: “ALLAAHUMMA INNI A’UDZUBIKA MIN
ADZAABI JAHANNAMA WA MIN ‘ADZAABIL QABRI WA MIN
FITNATIL MAHYAA WAL MAMAATI WA MIN SYARRI FITNATIL
MASIIHID DAJJAAL (Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung
diri kepada-Mu dari siksaan neraka jahannam, dari siksa
kubur, dari fitnah hidup dan mati, serta dari kejahatan fitnah
dajjal.)” (HR. Turmudzi)
17. Dari Ali ra., ia berkata: “Apabila Rasulullah saw.,
mengerjakan shalat maka pada akhir bacaan yaitu antara
tasyahud dan salam, beliau membaca: “ALLAAHUMMAGHFIR
LII MAA QADDAMTU WA MAA AKHKHARTU WAMAA ANTA
A’LAMU BIHI MINNII ANTAL MUQADDIMU WA ANTAL
MUAKHKHIRU LAA ILAAHA ILLA ANTA (Ya Allah, ampunilah
dosaku yakni dosa yang telah lalu, dosa yang akan datang,
dosa yang saya lakukan dengan sembunyi-sembunyi, dosa
yang saya lakukan dengan terang-terangan, dosa yang
karena berlebih-lebihan, dan dosa yang Engkau lebih
mengetahuinya dari pada saya sendiri. Engkau adalah Zat
yang mengakhirkan. Tidak ada Tuhan kecuali Engkau,)” (HR.
Muslim)
18. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata: “Rasulullah saw., pada
waktu ruku’ dan sujud, beliau sering membaca:
SUBHAANAKALLAAHUMMA RABBANA WA BIHAMDIKA
ALLAHUMMAGHFIRLII (Maha Suci Engkau ya Allah Tuhan
kami dan dengan memuji kepada-Mu ya Allah ampunilah
dosa saya.)” (HR. Bukhari dan Muslim)
19. Dari ‘Aisyah ra., bahwasanya rasulullah saw., ketika
ruku’ dan sujud beliau membaca: SUBBUUHUN QUDDUUSUN
RABBUL MALAA-IKATI (Maha Suci Tuhannya malaikat dan
Jibril.)” (HR. Muslim)
20. Dari Ibnu Abbas ra., bahwasanya rasulullah saw.,
bersabda: “Adapun pada waktu ruku’ maka agungkanlah
nama Tuhan, dan pada waktu sujud maka bersungguhsungguhlah
dalam berdoa, karena sudah sepantasnya
apabila do’amu pada waktu sujud itu dikabulkan.” (HR.
Muslim)
21. Dari Abu Hurairah ra., bahwasanya rasulullah saw.,
bersabda: “Sedekat-dekat hamba kepada Tuhannya yaitu
ketika ia sujud, oleh karena itu perbanyaklah berdoa.” (HR.
Muslim)
22. Dari Abu Hurairah ra., bahwasanya Rasulullah saw.,
pada waktu sujud sering membaca: ALLAAHUMMAGHFIRLII
DZANBIIKULLAHU DIQQAHU WAJILLAHU WA AWWALAHU
WA AAKHIRAHU WA ‘ALAA NIYATAHU WA SIRRAHU (Ya
Allah, ampunilah dosa saya baik dosa kecil, dosa besar, dosa
pertama, dosa terakhir, dosa yang terang-terangan maupun
dosa yang tersembunyi.” (HR. Muslim)
23. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata: Pada suatu malam, Nabi
saw., pergi tanpa sepengetahuanku, kemudian saya
meraba-raba beliau, dan pada waktu itu beliau sedang ruku’
dan sujud dengan membaca: “SUBHAANAKA WA BIHAMDIKA
LAA ILAAHA ILLA ANTA.” Dalam riwayat lain dikatakan:
“Kemudian tangan saya menyentuh kedua telapak kaki
beliau yang sedang ditegakkan dan waktu itu beliau berada
dalam masjid, neliau membaca: “ALLAAHUMMA INNII
A’UUDZU BIRIDLAAKA MIN SAKHAATHIKA
WABIMU’AAFATIKA MIN ‘UQUUBATIKA WA’AUUDZUBIKA
MINKAA LAA UHSHII TSANAA-AN’ALAIKA ANTA KAMAA
ATSNAITA ‘ALAA NAFSIKA (Ya Allah, sesungguhnya saya
berlindung diri dengan keridhaan-Mu dari murka-Mu, dengan
kesejahteraan-Mu dari siksaan-Mu,. Dan saya berlindung diri
dengan rahmat-Mu dari siksaan-Mu, saya tidak dapat
menghitung berapa banyak pujian bagi-Mu sebagaimana
Engkau memuji kepada Zat-Mu sendiri.” (HR. Muslim)
24. Dari Sa’ad bin Abu Waqqash ra., ia berkata: Ketika
kami berada di hadapan Rasulullah saw., beliau bertanya:
“Apakah masing-masing dari kalian tidak mampu untuk
mengerjakan seribu kebaikan setiap hari?” Kemudian salah
seorang di antara kami yang duduk itu menanyakan tentang
bagaimana mungkin seseorang itu dapat mengerjakan
seribu kebaikan, beliau lantas bersabda: “Seseorang yang
membaca tasbih seratus kali itu dituliskan baginya seribu
kebaikan atau dihapuskan baginya seribu dosa.” (HR.
Muslim)
25. Dari Abu Dzar ra., bahwasanya Rasulullah saw.,
bersabda: “Pada waktu pagi, setiap persendian masingmasing
dari kamu harus disedekahi. Setiap tasbih adalah
sedekah, setiap bacaan tahmid adalah sedekah, setiap
bacaan tahlil adalah sedekah, setiap bacaan takbir adalah
sedekah, amar ma’ruf adalah sedekah. Semua itu bisa
dipenuhi dengan dua rakaat dhuha yang ia kerjakan.” (HR.
Muslim)
26. Dari Ummul Mukminin Juwairiyah binti Haritsah ra.,
bahwasanya nabi saw., pagi-pagi benar telah keluar untuk
mengerjakan shalat subuh sedangkan ia sendiri (juwairiyah)
sudah duduk di mesjid, kemudian ketika beliau pulang
setelah mengerjakan shalat dhuha, ia pun masih tetap
duduk. Beliau lantas bersabda: “Sejak pagi engkau beliau
belum beranjak?” Juwariyah menjawab: “Benar” Nabi saw.,
bersabda: “Aku tadi membaca empat kalimat tiga kali, yang
seandainya ditimbang dengan apa yang kamu baca sejak
tadi niscaya seimbang, yaitu: SUBHAANALLAHI
WABIHAMDIHI ‘ADADA KHALQIHI WARIDLAA NAFSIHI
WAZINATA ‘ARSYIHI WAMIDADA KALIMATIH (Maha Suci
Allah dan dengan memuji-Nya sebanyak bilangan makhluk-
Nya, seridha Zat-Nya, seberat ‘Arsy-Nya dan sepanjang
kalimat-Nya).” (HR. Muslim) Di dalam riwayat laib berbunyi:
“SUBHAANALLAHI ‘ADADAKHALQIHI SUBHAANALLAAHI
RIDLA NAFSIHI SUBHAANALAHI ZINATA ‘ARSYIHI
SUBHAANALLAAHI MIDADA KALIMATIH. Dalam riwayat
Turmudzi dikatakan: “SUBHAANALLAAHI ‘ADADA KHALQIHI
SUBHAANALLAAHI ‘ADADA KHALQIHI, SUBHAANALLAAHI
RIDLAA NAFSIHI, SUBHAANALLAAHI RIDLAA NAFSIHI,
SUBHAANALLAHI RIDLAA NAFSIHI, SUBHAANALLAAHI
ZINATA ‘ARSYIHI, SUBHAANALLAAHI ZINATA ‘ARSYIHI,
SUBHAANALLAAHI ZINATA ‘ARSYIHI, SUBHAANALLAAHI
MIDADA KALINATIH, SUBHAANALLAAHI MIDADA
KALINATIH, SUBHAANALLAAHI MIDADA KALINATIH.”
27. Dari Abu Musa Al Asy’ariy ra., dari nabi saw., beliau
bersabda: “Perumpamaan orang yang zikir kepada
Tuhannya dengan orang yang tidak, bagaikan orang yang
hidup dengan orang yang mati.” (HR, Bukhari) Dalam
riwayat Muslim dikatakan: “Perumpamaan rumah digunakan
untuk zikir kepada Allah dengan yang tidak, bagaikan orang
yang hidup dengan orang yang mati.”
28. Dari Abu Hurairah ra., bahwasanya rasulullah saw.,
bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: “Aku selalu mengikuti
sangkaan hamba-Ku, Aku selalu bersamanya selama ia ingat
kepada-Ku. Apabila ia ingat kepada-Ku, di dalam dirinya,
maka Aku pun mengingatnya di dalam Zat-Ku, dan apabila
ia ingat kepada-Ku di tengah-tengah majelis, maka Aku pun
mengingatnya dalam rombongan yang lebih baik daripada
rombongannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
29. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw.,
bersabda: “Telah sampai lebih dulul Al Mufarriduun.” Para
sahabat bertanya: “Apakah Al Mufarriduun itu?” Beliau
menjawab: “Yaitu orang-orang yang banyak berzikir kepada
Allah, baik laki-laki maupun perempuan.” (HR. Muslim)
30. Dari Jabir ra, ia berkata: Saya mendengar rasulullah
saw., bersabda: “Zikir yang paling utama adalah LAA
ILAAHA ILLALLAAH (tiada Tuhan selain Allah).” (HR.
Turmudzi)
31. Dari Abdullah bin Busr ra., bahwasanya ada seseorang
berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat
Islam yang saya terima itu lebih banyak, kemudian
beritahukanlah kepada saya tentang sesuatu yang benarbenar
harus saya pegang baik-baik.” Beliau bersabda:
“Hendaklah lisanmu selalu basah untuk berzikir kepada
Allah.” (HR. Turmudzi)
32. Dari Jabir ra., dari Nabi saw., beliau bersabda:
“Barang siapa mengucapkan: SUBHAANALLAAHI
WABIHAMDIH, maka ditanamkan baginya sebatang pohon di
dalam surga.” (HR. Tumudzi)
33. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata: Rasulullah saw.,
bersabda: “Pada malam Isra’ aku bertemu dengan nabi
Ibrahim ra., dan beliau bersabda: “Wahai Muhammad
sampaikanlah salamku untuk ummatmu dan beritahukanlah
kepada mereka bahwa surga itu tanahnya subur dan airnya
segar, serta merupakan suatu kebun dan tanamannya
adalah: SUBHAANALLAAHI WAL HAMDULILLAAH WALAA
ILAAHA ILLALLAAHU WALLAAHU AKBAR.” (HR. Turmudzi)
34. Dari Abu Darda’ ra., ia berkata: Rasulullah saw.,
bersabda: “Maukah kalian aku beritahu tentang sebaikbaiknya
amal perbuatan di hadapan Tuhanmu dan tertinggi
derajatnya serta lebih baik daripada menafkahkan emas dan
perak, lebih baik daripada menghadapi musuh, kemudian
kamu penggal leher mereka, dan mereka memenggal
lehermu?” Para sahabat menjawab: “Baiklah.” Beliau
bersabda: “Yaitu zikir kepada Allah Ta’ala.” (HR. Turmudzi)
35. Dari Sa’ad bin Abu Waqqash ra., bahwasanya ia
bersama rasulullah saw., masuk ke tempat seorang
perempuan yang dihadapannya ada biji-biji kurma, atau
batu-batu kerikil yang digunakan untuk menghitung bacaan
tasbihnya, kemudian beliau bersabda: “Maukah kamu aku
beritahu tentang amalan yang ringan atau lebih utama
daripada perbuatanmu itu?” Kemudian beliau bersabda:
“Yaitu membaca: SUBHAANALLAHI ‘ADADA MA KHALAQA
FISSAA-I, WA SUBHAANALLAAHI ‘ADADA MAA KHALAQA FIL
ARDLI, WA SUBHAANALLAAHI ‘ADADA MA KHALAQA BAINA
DZAALIK, WA SUBHAANALLAAHI ‘ADADA MAA HUWA
KHAALIQ; ALLAAHU AKBAR dilanjutkan seperti itu;
membaca ALHAMDULILLAAH dengan dilanjutkan seperti itu;
membaca LAA ILAAHA ILLALLAAH dengan dilanjutkan seperti
itu; dan membaca LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA
BILLAAH dengan melanjutkan seperti itu.” (HR. Turmudzi)
36. Dari Abu Musa ra., ia berkata: Rasulullah saw.,
bersabda: “Maukah kami aku tunjukkan salah satu dari
beberapa perbendaharaan surga?” Saya menjawab: “Mau,
wahai rasulullah.” Kemudian beliau bersabda: “Yaitu LAA
HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH (Tiada daya dan
kekuatan kecuali dari pertolongan Allah).” (HR. Bukhari dan
Muslim)
TATA CARA ZIKIR KEPADA ALLAH
1. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata: “Rasulullah saw., selalu berzikir
kepada Allah pada setiap saat.” (HR. Muslim)
2. Dari Ibnu Abbas ra., dari Nabi saw., beliau bersabda:
“Seandainya salah seorang diantara kalian sewaktu
bersetubuh dengan isterinya membaca: BISMILLAAH
ALLAAHUMMA JANNIBASY SYAITHAANA WAJANNIBNASY
SYAITHAANA MAARAZAQTANAA (Dengan nama Allah, ya
Allah jauhkanlah kami dari setan, dan jauhkanlah setan dari
rezeki yang Kau karuniakan kepada kami) kemudian dari
persetubuhan itu ditakdirkan lahir anaknya, maka anak itu
tidak mudah terganggu oleh setan.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
DOA AKAN TIDUR DAN BANGUN TIDUR
1. Dari Abu Hurairah ra., dan Abu Dzar ra., ia berkata: “Apabila
rasulullah saw., hendak tidur, beliau membaca:
BISMIKALLAAHUMMA AHYAA WA AMUUT (Dengan Nama-Mu
ya Allah aku hidup dan aku mati) dan apabila bangun beliau
membaca: ALHAMDU LILLAAHIL LASZII AHYAANAA BA’DA
MAA AMAATANAA WAILAIHIN NUSYUUR (Segala puji bagi
Allah yang menghidupkan kami kembali setelah mematikan
kami, dan hanya kepada-Nya kami kembali.)” (HR. Bukhari)
KEUTAMAAN MAJELIS ZIKIR
1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw., bersabda:
“Sungguh Allah Ta’ala mempunyai malaikat-malaikat yang
berkeliling mencari ahli zikir. Apabila mereka menemukan
kaum yang berzikir kepada Allah Azza Wa Jalla, mereka saling
memanggil: “Datanglah kemari kepada hajat kalian!” Para
malaikat itu lalu melingkupi para ahli zikir itu dengan sayapsayap
mereka sampai ke langit dunia. Lalu Tuhan mereka
bertanya –Dia lebih tahu-: “Apa yang diucapkan oleh para
hamba-Ku?” Para malaikat menjawab: “Mereka bertasbih
kepada-Mu, bertakbir kepada-Mu, memuji-Mu dan
mengagungkan-Mu.” Allah bertanya: “Apakah mereka
melihat-Ku.” Para malaikat menjawab: “Tidak, demi Allah,
mereka tidak melihat-Mu.” Allah bertanya: “Bagaimanakah
seandainya mereka melihat-Ku?” Para malaikat menjawab:
“Seandainya mereka melihat-Mu, tentu mereka lebih keras
beribadah kepada-Mu, lebih bersungguh-sungguh
mengagungkan-Mu dan lebih banyak bertasbih kepada-Mu.”
Allah bertanya: “Lalu apakah yang mereka minta?” Para
malaikat menjawab: “Mereka minta surga kepada-Mu.” Allah
bertanya: “Apakah mereka pernah melihat surga itu?” Para
malaikat menjawab: “Tidak, demi Allah wahai Tuhan, mereka
tidak pernah melihatnya.” Allah bertanya: “Lantas
bagaimanakah seandainya mereka pernah melihatnya?”
malaikat menjawab: “Seandainya mereka pernah melihatnya,
tentu lebih kuat keinginan mereka terhadap surga itu dan
selalu memintanya, serta lebih besar dambaan mereka
terhadapnya.” Allah bertanya: “Dari apakah mereka mohon
perlindungan?” malaikat menjawab: “Mereka mohon
perlindungan dari neraka.” Allah bertanya: “Apakah mereka
pernah melihatnya?” malaikat menjawab: “Tidak, demi Allah
mereka tidak pernah melihatnya.” Allah bertanya:
“Bagaimanakah seandainya mereka melihatnya?” malaikat
menjawab: “Seandainya mereka melihatnya?” malaikat
menjawab: “Seandainya mereka melihatnya, tentu bertambah
kuat dan jauh lari mereka terhadapnya.” Allah berfirman:
“Saksikanlah oleh kalian bahwa Aku telah mengampuni
mereka.” Ada malaikat yang menyela: “Diantara mereka
terdapat si Fulan yang tidak termasuk mereka. Dia datang
hanya karena keperluan pribadi.” Allah berfirman: “Mereka
sama-sama duduk, tidak akan celaka oleh teman duduk
mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dalam riwayat Muslim dikatakan, dari Abu Hurairah ra., dari
Nabi saw., beliau bersabda: “Sungguh Allah mempunyai
malaikat-malaikat yang mulia yang selalu berjalan mencari
majlis zikir, apabila mereka mendapatkan suatu majlis yang
dipergunakan untuk berzikir, maka mereka duduk di situ dan
masing-masing malaikat membentangkan sayapnya, sehingga
memenuhi ruangan yang berada diantara ahli zikir dan langit
dunia. Apabila ahli zikir itu telah kembali ke rumah masingmasing,
maka para malaikat itu naik ke langit, dan kemudian
ditanya oleh Allah Azza wa Jalla padahal Allah telah
mengetahui: “Dari mana kalian datang?” Para malaikat
menjawab: “Kami baru saja mendatangi hamba-Mu di bumi
yang membaca tasbih, takbir, tahlil, tahmid dan memohon
kepada-Mu.” Allah bertanya: “Apakah yang mereka minta?”
malaikat menjawab: “Mereka minta surga” Allah bertanya:
“Apakah mereka pernah melihat surga-Ku?” Dijawab:
“Tidak,ya Tuhan.” FirmanNya: “Bagaimana pula sekiranya
mereka pernah melihat surgaKu itu.” Para malaikat
menjawab: “Mereka juga mohon diselamatkan.” Allah
bertanya: “Mereka mohon diselamatkan dari apa?” Para
malaikat menjawab: “Dari neraka-Mu.” Allah bertanya:
“Apakah mereka pernah melihat neraka?” Para malaikat
menjawab: “Belum pernah.” Allah bertanya: “Bagaimana
seandainya mereka pernah melihatnya?” Para malaikat
menjawab: “Mereka juga memohon ampun kepada-Mu,” Allah
berfirman: “Aku telah mengampuni mereka, maka Aku akan
memenuhi permohonan mereka dan akan menjauhkan
mereka dari apa yang mereka mohon untuk diselamatkan.:
Para malaikat berkata: “Wahai Tuhan, di dalam majlis itu ada
Fulan, seorang hamba yang banyak berdosa, ia hanya lewat
kemudian ikut duduk bersama mereka.” Allah berfirman:
“Kepada Fulan pun Aku mengampuninya. Mereka semua
adalah termasuk ahli zikir, dimana tidak ada seorang yang
duduk disitu akan mendapatkan celaka.”
3. Dari Abu Hurairah ra., dari Abu Sa’id ra., keduanya berkata:
“Rasulullah saw., bersabda: “Sekelompok orang yang duduk
berzikir kepada Allah, pasti dikelilingi para malaikat, diliputi
rahmat, dituruni ketenangan dan disebut-sebut Allah di
kalangan makhluk yang berada disisi-Nya.” (HR. Muslim)
4. Dari Abu Waqid al Harits bin Auf ra., bahwasanya Rasulullah
saw., duduk bersama para sahabat di dalam masjid,
kemudian tiba-tiba datang tiga orang yang mana dua orang
diantara tiga orang itu menuju rasulullah saw., dan seorang
lagi pergi begitu saja. Dua orang itu berhenti di hadapan
rasulullah saw., kemudian salah seorang diantara dua orang
itu melihat ada suatu tempat kosong di tengah-tengah majlis,
lantas ia duduk di tempat kosong itu, dan yang lain duduk di
sekitar majlis. Adapun orang yang ketiga pergi meninggalkan
majlis tersebut. Setelah rasulullah saw., selesai memberi
nasihat, beliau bersabda: “Maukah kalian aku beritahu
tentang ketiga orang itu?” Adapun salah seorang di antara
mereka mendekat kepada Allah, maka Allah pun memberi
tempat kepadanya, adapun yang kedua merasa malu, maka
Allah pun menghargai malunya, dan yang lain berpaling,
maka Allah pun berpaling darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
5. Dari Abu Sa’id Al Khudriy ra., ia berkata: “Mu’awiyah ra.,
keluar dari kalangan orang di dalam masjid, lalu bertanya:
“Apakah yang menyebabkan kalian duduk?” Orang-orang itu
menjawab: “Kami duduk berzikir kepada Allah.” Mu’awiyah
bertanya: “Demi Allah, tidak ada yang menyebabkan kalian
duduk, kecuali zikir kepada Allah.” Mereka menyahut: “Tidak
ada yang menyebabkan kami duduk, kecuali hal itu.”
Mu’awiyah ra., berkata: “Sungguh aku tidak meminta kalian
bersumpah karena menuduh kalian. Tidak seorang pun
dengan kedudukan sepertiku di samping rasulullah saw., yang
lebih sedikit menerima hadits dari beliau ketimbang dariku.
Sungguh rasulullah saw., pernah keluar pada kalangan
sahabat beliau, lalu bertanya: “Apakah yang membuat kalian
duduk?” Para sahabat menjawab: “Kami duduk berzikir dan
memuji-Nya atas apa yang Dia telah karuniakan kepada kami
untuk memeluk agama islam.” Rasulullah saw., bersabda:
“Demi Allah, kalian duduk hanya karena itu?” Para sahabat
menjawab: “Demi Allah, kami duduk hanya karena itu.”
Rasulullah saw., bersabda: “Sungguh, aku tidak meminta
kalian bersumpah karena menuduh kalian, tetapi telah datang
Jibril mengabarkan bahwa Allah membanggakan kalian
kepada para malaikat.” (HR. Muslim)
ZIKIR PADA WAKTU PAGI DAN SORE
1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw., bersabda:
“Barangsiapa pada waktu pagi dan sore membaca:
SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI seratus kali, maka kelak
pada hari kiamat tidak ada seorang pun yang lebih utama dari
padanya, kecuali orang yang membacanya seperti apa yang
dibacanya itu, atau orang yang membacanya lebih dari
seratus kali.” (HR. Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Ada seseorang yang datang
kepada Nabi saw., dan berkata: “Wahai rasulullah, tadi malam
saya disengat kalajengking.” Kemudian beliau bersabda:
“Kalau sekiranya pada waktu sore kamu membaca:
A’UUDZUBIKALIMATIT TAAMATI MIN SYARRI MAA KHALAQ
(Saya berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang
sempurna dari kejahatan apa yang diciptakan-Nya) niscaya
kamu tidak akan diganggu oleh makhluk-Nya yang jahat.”
(HR. Muslim)
3. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi saw., bahwasanya nabi saw.,
di waktu pagi membaca: “ALLAAHUMMA BIKA ASHBAHNA
WABIKA AMSAINA WABIKA NAHYAA WABIKA NAMUUTU
WAILAIKAN NUSYUUR (Ya Allah atas Engkau saya berada
pada waktu pagi, atas Engkau saya berada pada waktu sore,
atas Engkau saya hidup, atas Engkau saya mati, dan hanya
kepada-Mu saya kembali) Dan apabila waktu sore beliau
membaca: ALLAAHUMMA BIKA AMSAINAA WABIKA NAHYAA
WABIKA NAMUUTU WAILAIKAN NUSYUUR (Ya Allah, Engkau
saya berada pada waktu sore, atas Engkau saya hidup, atas
Engkau saya mati, dan hanya kepada Engkau saya kembali).”
(HR. Abu Dawud dan Turmudzi)
4. Dari Abu Hurairah ra., dari Abu Bakar Ash-Shiddiq ra., ia
berkata: “Wahai rasulullah, ajarkan kepada saya beberapa
kaliamat yang harus saya baca pada waktu pagi dan sore.”
Beliau bersabda: “Bacalah: ALLAAHUMMA FAATHIRAS
SAMAAWAATI WAL ARDLI ‘AALIMAL GHAIBI WASY
SYAHAADATI RABBA KULLI SYAI-IN WAMAALIKAHU ASYHADU
ALLA ILAAHA ILLA ANTA A’UUDZUBIKA MIN SYARRI NAFSI
WASYARRISY SYAITHANI WASYIRKIHI (Ya Allah Zat yang
menciptakan langit dan bumi, Zat yang mengetahui yang gaib
dan yang terang. Tuhan pemilik segala sesuatu, saya bersaksi
bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau, saya berlindung
kepada diri kepada-Mu dari kejahatan diriku dan kejahatan
setan dan sekutunya) Beliau bersabda: “Bacalah kalimatkalimat
tersebut apabila kamu berada di waktu pagi, sore dan
apabila kamu akan tidur.” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi)
5. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata: “Adalah nabi saw., apabila
berada pada waktu sore, beliau membaca: “AMSAINAA WA
AMSAL MULKA LILLAHI WAL HAMDU LILLAHI LAA ILAAHA
ILLALLAAH, WAHDAHU LAA SYRIIKA LAH, LAHULMULKU
WALAHULHAMDU WAHUWA’ALAAKULLI SAYI-IN QADIR.
RABBI AS-ALUKA KHAIRA MAA FIL HADZIHIL LAILATI
WAKHAIRA MAA BA’DAHAA WA A’UUDZU BIKA MIN SYARRI
MAA FII HADZIHIL LAILATI WASYARRI MAA BA’DAHAA. RABBI
A’UUDZU BIKA MINALKASALI WASUU-IL KIBARI A’UUDZU
BIKA MIN ‘ADZABI FINNAARI WA’ADZABIN FIL QABRI (Kami
berada pada waktu sore, segala kekuasaan dan pujian adalah
bagi Allah. Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada
sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kekuasaan dan pujian. Dia
adalah Zat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya
Tuhanku, saya memohon pada-Mu akan kebaikan malam ini
dan kebaikan waktu sesudahnya. Saya berlindung diri
kepada-Mu dari kejelekan malam ini dan kejelekan waktu
sesudahnya. Ya Tuhanku, saya berlindung diri kepada-Mu dari
sifat malas dan tua yang menyusahkan. Saya berlindung diri
kepada-Mu dari siksaan di dalam neraka dan siksaan di dalam
kubur).” Dan apabila berada di waktu pagi doa tersebut juga
dibaca, dengan mengganti kalimat AMSAINAA WA AMSAL
MULKU LILLAHI menjadi: ASBAHNAA WA ASHBAHAL MULKU
LILLAH.” (HR. Muslim)
6. Dari Abdullah bin Khubaib ra., ia berkata: “Rasulullah saw.,
bersabda kepada saya: “Bacalah QULHUWALLAHU AHAD serta
QUL A’UUDZU BIRABBIL FALAQ dan QUL A’UUDZU BIRABBIN
NAAS tiga kali apabila kamu memasuki waktu sore dan
memasuki waktu pagi, niscaya kamu akan terjaga dari segala
kejahatan.” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi)
7. Dari Usman bin Affan ra., ia berkata: Rasulullah saw.,
bersabda: “Seseorang yang apabila memasuki waktu pagi dan
waktu sore selalu membaca: BISMILLAAHIL LADZII LAA
YADLURRU MA’ASMIHI SYAI-UN FIL ARDLI WALAA FISSAMAAI
WAHUWAS SAMI-UL ‘ALIM (Dengan nama Allah Zat yang
tidak akan berbahaya dengan Asma-Nya segala sesuatu yang
ada di bumi dan di langit, Dia adalah Zat Yang Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui) sebanyak tiga kali, maka ia
tidak akan ditimpa oleh sesuatu kejahatan.” (HR. Abu Dawud
dan Turmudzi)
DO’A HENDAK TIDUR
1. Dari Hudzaifah dan Abu Dzar ra., bahwasanya rasulullah saw.,
apabila menuju ke tempat tidurnya, beliau mengucap:
“BISMIKALLAHUMMA AHYAA WA AMUUT (Dengan menyebut
Nama Allah, ya Allah, hamba hidup dan hamba mati.)” (HR.
Bukhari)
2. Dari Ali ra., bahwasanya rasulullah saw., bersabda kepadanya
dan kepada Fatimah ra.,: “Apabila kalian berdua menuju ke
tempat tidur kalian –atau telah mempersiapkan pembaringan,
maka bertakbirlah (membaca SUBHAANALLAAH tiga puluh
tiga kali)” Dalam riwayat lain dikatakan: “Tasbihlah tiga puluh
empat kali.” Dan dalam riwayat lain dikatakan: “Takbir tiga
puluh empat kali.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Dari Abu Hurairah ra., berkata: Rasulullah saw., bersabda:
“Apabila salah seorang di antara kalian mendatangi tempat
tidurnya (untuk tidur), maka hendaknya dalam kain
sarungnya. Sebab ia tidak tahu apa yang terdapat di balik
tilamnya itu. Kemudian ia membaca: BISMIKA RABBI
WADLA’TU JANBI WABIKA ARFA’UHU IN AMSAKTA NAFSII
FARHAMHAA WA IN ARSALTAHAA FAHFADZHAA BIMAA
TAHFADZUU BIHI’IBAADAKAHS SHAALIHIIN (Dengan
menyebut Nama-Mu, wahai Tuhanku, aku letakkan
pinggangku, dengan menyebut Nama-Mu pula aku
mengangkatnya. Jika Engkau menahan jiwaku, maka
rahmatilah jiwaku itu. Dan jika Engkau melepaskannya
(menghidupkan),maka berkenanlah Engkau memeliharanya
dengan pemeliharaan seperti Engkau memelihara hambahamba-
Mu yang saleh.” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Dari ‘Aisyah ra., bahwasanya rasulullah saw., apabila
mendatangi tempat tidurnya, maka beliau meniup kedua
tangannya kemudian membaca QUL A’UUDZU BIRABBIL
FALAQ dan QUL A’UUDZU BIRABBIN NAAS serta mengusap
kedua tangannya ke seluruh badannya.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
5. Di dalam riwayat lain dikatakan: “Apabila nabi saw.,
mendatangi tempat tidurnya pada setiap malam, maka beliau
mengumpulkan kedua telapak tangannya, kemudian beliau
meniupnya lantas membaca QULHUWALLAAHU AHAD, QUL
A’UUDZU BIRABBIL FALAQ dan QUL A’UUDZU BIRABBIN
NAAS. Kemudian beliau mengusapkan kedua tangannya ke
seluruh badannya, dimulai dari kepala, muka dan badan
bagian depan, dengan diulangi tiga kali.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
6. Dari Barra’ bin Azib ra., ia berkata: Rasulullah saw., bersabda
kepada saya: “Apabila kamu mendatangi pembaringanmu,
maka berwudhulah seperti wudhu untuk shalat, kemudian
berbaringlah pada lambung kananmu dan ucapkanlah:
ALLAAHUMMA ASLAMTU NAFSII ILAIKA WA WAJJAHTU
WAJHII ILAIKA RAHBATAN WA RAGHBATAN ILAIKA LAA
MALJA-A LAA MANJAA MINKA ILLA ILAIKA AAMANTU
BIKITAABIKAL LADZII ANZALTA WABINABIYYIKAL LADZII
ARSALTA (Ya Allah, saya serahkan diriku kepada-Mu, saya
hadapkan wajahku kepada-Mu, saya lindungkan punggungku
kepada-Mu dengan senang hati dan takut kepada-Mu. Tak ada
tempat berlindung dan tidak ada pula tempat keselamatan
dari siksaan-Mu kecuali hanya kepada-Mu. Saya beriman
kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan kepada
Nabi-Mu yang telah Engkau utus). Maka seandainya kamu
mati di malam itu, kamu berada dalam keadaan fitrah (tanpa
dosa). Jadikanlah kalimat-kalimat tersebut sebagai akhir apa
yang kamu ucapkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
7. Dari Anas r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. apabila akan tidur,
beliau mengucapkan – yang artinya: “Segenap puji bagi Allah
yang memberikan makan dan minum kepada kita,
memberikan kecukupan dan tempat kediaman kepada kita.
Maka alangkah banyaknya orang yang tidak mempunyai
orang yang dapat mencukupinya dan tidak pula ada yang
memberikan tempat kediaman padanya.” (Riwayat Muslim)
8. Dari Hudzaifah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. apabila
hendak tidur, beliau meletakkan tangan kanannya di bawah
pipinya, kemudian berkata: “Allahumma qini ‘adzabaka
yawma tab’atsu ‘ibadaka – ya Allah, lindungilah saya dari
siksaMu pada hari Engkau membangkitkan seluruh
hambaMu.” Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan. Juga
diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dari riwayat Hafshah
radhiallahu ‘anha dan dalam Hadis ini disebutkan bahwa
beliau s.a.w. mengucapkan kata-kata di atas itu sebanyak
tiga kali.
DOA-DOA
1. Dari an-Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhuma dari Nabi
s.a.w. sabdanya: “Berdoa itu termasuk golongan ibadat.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Tirmidzi dan
Tirmidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.
2. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w. itu
suka doa-doa yang menghimpun – yakni yang mengandung
segala macam kepentingan dan keperluan – dan beliau s.a.w.
meninggalkan yang selain itu.” Diriwayatkan oleh Imam Abu
Dawud dengan isnad shahih.
3. Dari Anas r.a., katanya: “Sebagian banyak doa Nabi s.a.w.,
itu ialah: Rabbana atina fiddun-ya hasanah, wa fil-akhirati
hasanah, waqina ‘adzabannar – Ya Tuhan kami, berikanlah
kebaikan pada kita di dunia dan kebaikan di akhirat dan
lindungilah kita dari siksa neraka.” (Muttafaq ‘alaih) Imam
Muslim dalam riwayatnya menambahkan: Katanya: Anas
apabila berkehendak akan berdoa dengan sesuatu doa, maka
berdoa dengan doa di atas itu. Juga apabila berkehendak
me-mohonkan sesuatu permohonan yang lain, maka dalam
doanya itu dimasukkanlah doa di atas itu pula.
4. Dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. mengucapkan -
yang artinya: “Ya Allah, sesungguhnya saya memohonkan
kepadaMu akan petunjuk, ketaqwaan, dapat menahan diri
dari melakukan kemaksiatan serta kekayaan cukup dari
kekurangan sehingga tidak meminta kepada orang lain.”
(Riwayat Muslim)
5. Dari Thariq bin Asy-yam r.a., katanya: “Seseorang itu apabila
masuk Islam, lalu Nabi s.a.w. mengajarkan shalat padanya,
kemudian orang itu diperintah supaya berdoa dengan
kalimat-kalimat ini – yang artinya: Ya Allah, berikanlah
kepada saya pengampunan, kerahmatan, petunjuk, kesehatan
dan rezeki.” (Riwayat Muslim)
Dalam riwayat Imam Muslim lainnya disebutkan: Dari Thariq
bahwasanyamendengar Nabi s.a.w. yang pada ketika didatangi oleh
seseorang lelaki lalu berkata: “Ya Rasulullah, bagaimanakah yang
harus saya ucapkan di waktu saya akan me-mohonkan sesuatu
pada Tuhanku?” Beliau s.a.w. bersabda: “Kata-kanlah – yang
artinya: Ya Allah, berikanlah pengampunan padaku, kerahmatan,
kesehatan dan rezeki, sebab doa ini dapat menghimpun segala
kepentinganmu dalam urusan dunia serta akhiratmu.”
6. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma,
katanya: “Rasulullah s.a.w. mengucapkan – dalam doanya
yang artinya: “Ya Allah, Zat yang Maha mengubah-ubah hati,
ubah-ubahlah hati kita – dari satu kepada lain keadaan -
untuk terus menetapi ketaatan padaMu.” (Riwayat Muslim)
7. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Mohonlah
engkau perlindungan kepada Allah daripada kesengsaraan
bencana, dicapai oleh kecelakaan, buruknya ketentuan dan
kegembiraan musuh karena bahaya yang kita peroleh.”
(Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat lain disebutkan: Abu Sufyan-yang meriwayatkan
Hadis ini – berkata: “Saya sangsi bahwa saya menambah salah
satu dari empat macam permohonan di atas itu.”
8. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
mengucapkan – dalam doanya yang artinya: “Ya Allah,
perbaguskanlah untukku akan agamaku yang itu adalah
pegangan perkaraku, perbaguskanlah untukku duniaku yang
di dalamnya adalah kehidupanku, juga perbaguskanlah
akhiratku yang di dalamnya itulah tempat kembaliku.
Jadikanlah hidup ini sebagai tambahan bagiku dalam segala
kebaikan dan jadikanlah kematian itu sebagai istirahat
untukku dari segala keburukan.” (Riwayat Muslim)
9. Dari Ali r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda kepada
saya: “Ucapkanlah: Allahummahdini wa saddidny – Ya Allah,
berikanlah petunjuk kepadaku dan lempangkanlah
perjalananku.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Allahumma
inni as-alukal huda wassadad” – Ya Allah, sesungguhnya saya
mohon kepadaMu akan petunjuk dan kelempangan
perjalanan. (Riwayat Muslim)
10. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
mengucapkan-dalam doanya yang artinya: Ya Allah,
sesungguhnya saya mohon perlindungan padaMu dari
kelemahan dan kemalasan, kelicikan, usia terlampau tua dan
kikir. Saya juga mohon perlindungan padaMu daripada siksa
kubur dan saya mohon perlindungan pula padaMu dari
fitnahnya hidup dan mati.” Dalam riwayat lain disebutkan:
“Juga dari beratnya beban hutang dan dikalahkan oleh
orang-orang – yakni jangan sampai berbuat kezaliman
ataupun dizalimi orang lain.” (Riwayat Muslim)
11. Dari Abu Bakar as-Shiddiq r.a. bahwasanya ia berkata
kepada Rasulullah s.a.w.; “Ajarkanlah kepada saya sesuatu
doa yang dapat saya baca dalam shalatku!” Beliau s.a.w.
bersabda: “Katakanlah – yang artinya: Ya Allah,
sesungguhnya saya telah menganiaya diriku sendiri dengan
penganiayaan yang banyak sekali dan tidak dapat
mengampunkan semua dosa itu kecuali Engkau, maka
berikanlah untukku pengampunan dari hadhiratMu dan belas
kasihanilah saya, sesungguhnya Engkau adalah Maha
Pengampun lagi Penyayang.” (Muttafaq ‘alaih) Dalam riwayat
lain disebutkan: “Dalam rumahku – yakni doa yang perlu
saya baca dalam rumahku.”
Dalam riwayat lain disebutkan: “penganiayaan yang banyak,” ada
yang mengatakan: “penganiayaan yang besar,” dengan tsa’ yang
bertitik tiga dan dengan ba’ bertitik satu. Maka seyugianya supaya
dua kata itu dihimpunkan, lalu dikatakan: “katsiran kabiran – yang
banyak dan besar.”
12. Dari Abu Musa r.a. dari Nabi s.a.w. bahwasanya beliau
s.a.w. berdoa dengan doa ini – yang artinya: Ya Allah,
berikanlah pengampunan untukku kesalahan dan
kebodohanku, berlebih-lebihanku dalam perkaraku dan apa
saja yang Engkau lebih mengetahui tentang itu daripada saya
sendiri. Ya Allah, ampunkanlah kesalahanku yang saya
lakukan dengan kegiatan dan bermain-main, ketidaksengajaan
serta yang memang saya sengaja, juga segala
sesuatu yang dari diriku. Ya Allah, ampunkanlah untukku
kesalahan-kesalahan yang saya lakukan dahulu atau yang
saya lakukan kemudian – yakni sesudah saat ini, juga yang
saya sembunyikan serta yang saya tampakkan dan apa-apa
yang Engkau lebih mengetahui tentang itu daripada saya
sendiri. Engkau adalah Maha Mendahulukan serta Maha
Mengakhirkan dan Engkau adalah Maha Kuasa atas segala
sesuatu.” (Muttafaq ‘alaih)
13. Dan Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Nabi s.a.w.
itu mengucapkan dalam doanya-yang artinya: Ya Allah,
sesungguhnya saya mohon perlindungan kepadaMu daripada
kejahatannya apa yang saya kerjakan dan dari kejahatannya
apa yang tidak saya kerjakan. (Riwayat Muslim)
14. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya:
“Sebagian dari doanya Rasulullah s.a.w. ialah – yang artinya:
Ya Allah, sesungguhnya saya mohon perlindungan padaMu
daripada lenyapnya kenikmatanMu (yang dikaruniakan
padaku) dan bergantinya kesehatan daripadaMu – yang ada
dalam diriku – juga dari tibanya siksaMu – atas diriku -
dengan mendadak dan pula dari segala macam
kemurkaanMu.” (Riwayat Muslim)
15. Dari Zaid bin Arqam r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
mengucapkan – dalam doanya yang artinya: Ya Allah,
sesungguhnya saya mohon perlindungan kepadaMu daripada
kelemahan dan kemalasan, kekikiran dan usia terlampau tua
serta siksa kubur. Ya Allah, berikanlah kepada jiwaku ini
untuk dapat bertaqwa kepadaMu, juga sucikanlah jiwaku itu
karena Engkau adalah sebaik-baik Zat yang dapat
menyucikannya. Engkaulah yang Maha Menguasai serta yang
menjadi Tuhannya. Ya Allah, sesungguhnya saya mohon
perlindungan kepadaMu daripada ilmu pengetahuan yang
tidak bermanfaat, dari hati yang tidak dapat khusyu’,dari jiwa
yang tidak puas-puas dan dari doa yang tidak dikabulkan.”
(Riwayat Muslim)
16. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya
Rasulullah s.a.w. mengucapkan – dalam doanya yang artinya:
Ya Allah, kepadaMu saya menyerahkan din, kepadaMu saya
beriman, kepadaMu saya bertawakkal, kepadaMu saya
kembalikan -segala urusan, dengan petunjukMu saya
berbantah – dengan musuh – dan dengan hukum-hukumMu
saya memberikan ketentuan hukum. Maka dari itu ampunilah
saya akan dosa-dosaku yang dahulu dan yang kemudian,
yang saya sembunyikan serta yang saya tampakkan. Engkau
adalah Maha Mendahulukan serta Maha Meng-akhirkan, tiada
Tuhan melainkan Engkau.” Setengah para perawi Hadis ini
menambahkan kalimat – yang artinya: Dan tiada daya serta
tiada kekuatan, melainkan dengan pertolongan Allah.
(Muttafaq ‘alaih)
17. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Nabi s.a.w.
berdoa dengan kalimat-kalimat ini – yang artinya: Ya Allah,
se sungguhnya saya mohon perlindungan kepadaMu daripada
fitnah-ya neraka dan siksanya neraka, juga dari
keburukannya kekayaan an kefakiran. Diriwayatkan oleh
Imam-imam Abu Dawud dan Tirmidzi dan Tirmidzi
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih. Ini adalah
lafaznya Imam Abu Dawud.
18. Dari Ziad bin ‘llaqah dari pamannya, yaitu Quthbah bin
Malik r.a., katanya: “Nabi s.a.w. itu mengucapkan – dalam
doanya yang artinya – Ya Allah, sesungguhnya saya mohon
perlindungan kepadaMu dari keburukan-keburukannya budi
pekerti, amal perbuatan serta hawa nafsu.” Diriwayatkan
oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.
19. Dari Syakl bin Humaid r.a., katanya: “Saya berkata: “Ya
Rasulullah, ajarkanlah kepada saya sesuatu doa!” Beliau
s.a.w. bersabda: “Katakanlah – yang artinya: Ya Allah, saya
mohon perlindungan kepadaMu daripada keburukan
pendengaranku dan dari keburukan penglihatanku dan dari
keburukan lidahku dan dari keburukan hatiku serta dari
keburukan maniku.” Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu
Dawud dan Tirmidzi dan Tirmidzi mengatakan bahwa ini
adalah Hadis hasan.
20. Dari Anas r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. mengucapkan -
dalam doanya yang artinya: “Ya Allah saya mohon
perlindungan kepadaMu daripada penyakit belang-belang
pada kulit, gila, kusta dan penyakit-penyakit yang burukburuk.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad
shahih.
21. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
mengucapkan – dalam doanya yang artinya: “Ya Allah,
sesungguhnya saya mohon perlindungan padaMu daripada
kelaparan, sebab sesungguhnya lapar itu adalah seburukburuknya
kawan tidur. Juga saya mohon perlindungan
padaMu dari berkhianat, karena sesungguhnya khianat itu
adalah seburuk-buruknya sifat yang menjadi ciri seseorang.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.
22. Dari Ali r.a. bahwsanya seorang budak mukatab – yaitu
seorang hamba sahaya yang dapat menjadi merdeka apabila
dapat menebus harga dirinya sendiri kepada tuan yang
memilikinya -datang padanya lalu berkata: “Sesungguhnya
saya ini tidak kuat untuk membayar harga tebusan diriku ini,
maka itu berilah pertolongan kepadaku!” Ali r.a. berkata:
“Tidakkah engkau suka kalau saya ajarkan kepadamu
beberapa kalimat yang saya diajari oleh Rasulullah s.a.w.,
andaikata engkau mempunyai hutang – atau tanggungan -
seperti gunung sekalipun, tentu Allah akan menunaikan
hutangmu itu? Yaitu, katakanlah: Allahummakfini bihatalika
‘an haramika wa aghnini bifadh-lika ‘amman siwaka – Ya
Allah, cukupkanlah, saya dengan memperoleh apa-apa yang
halal daripadaMu untuk tidak sampai melanggar apa-apa yang
menjadi keharamanMu dan perkayakanlah diriku dengan
memperoleh keutamaan daripadaMu sehingga tidak
memerlukan yang selain daripadaMu.” Diriwayatkan oleh
Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis
hasan.
23. Dari Imran bin al-Hushain radhiallahu ‘anhuma
bahwasanya Nabi s.a.w. mengajarkan kepada ayahnya yaitu
Hushain akan dua kalimat yang dapat digunakan sebagai
doa, yaitu – yang artinya: Ya Allah, berikanlah ilham padaku
berupa kelapangan jalanku dan lindungilah saya dari
kejahatan diriku sendiri. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi
dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.
24. Dari Abdulfadhli yaitu al-‘Abbas bin Abdul Muthalib r.a.,
katanya: “Saya berkata: “Ya Rasulullah, ajarkanlah pada
saya sesuatu doa untuk bermohon kepada Allah Ta’ala.”
Beliau s.a.w. bersabda: “Mohonlah akan keselamatan kepada
Allah.” Saya tetap beberapa hari berdoa seperti itu,
kemudian saya mendatanginya lagi lalu berkata: “Ya
Rasulullah, ajarkanlah kepada saya sesuatu doa untuk
bermohon kepada Allah Ta’ala.” Beliau s.a.w. bersabda
kepada saya: “Hai ‘Abbas, paman Rasulullah, mohonlah
kepada Allah akan keselamatan di dunia dan akhirat.”
Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa
ini adalah Hadis shahih.
25. Dari Syahr bin Hausyab, katanya: “Saya berkata kepada
Ummu Salamah radhiallahu ‘anha: “Hai Ummul mu’minin,
bagai-manakah doa Rasulullah s.a.w. yang sebagian banyak
sekali, jikalau beliau itu ada di sisimu?” la menjawab:
“Sebagian banyak doa beliau s.a.w. itu ialah – yang artinya:
“Wahai Zat yang membolak-balikkan keadaan hati.
Tetapkanlah hatiku atas agamaMu.” Diriwayatkan oleh Imam
Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.
26. Dari Abuddarda’ r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda: “Setengah daripada doanya Nabi Dawud a.s. ialah
– yang artinya: Ya Allah, sesungguhnya saya mohon
kepadaMu untuk mencintaiMu dan mencintai orang yang
cinta kepadaMu, juga perbuatan yang dapat menyampaikan
diriku ke arah dapat mencintai padaMu.”Ya Allah, jadikanlah
kecintaan padaMu itu yang lebih saya cintai daripada diri
saya sendiri, juga melebihi kecintaan pada keluargaku serta
melebihi kecintaan kepada air yang dingin.” Diriwayatkan
oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan.
27. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Kekalkanlah – ketika berdoa itu – dengan menggunakan
lafaz: Ya Dzal jalali wal Ikram – Hai Zat yang memiliki
keperkasaan dan kemuliaan.” Diriwayatkan oleh Imam
Tirmidzi. Imam an-Nasa’i juga meriwayatkan Hadis ini dari
riwayat Rabi’ah bin ‘Amir as-Shahabi. Imam Hakim berkata
bahwa Hadis ini shahih isnadnya. Alizhzhu dengan kasrahnya
lam dan syaddahnya zha’ mu’jamah, artinya ialah tetapilah
secara langsung – yakni kekalkanlah – doa ini dan
perbanyakkanlah menggunakannya
28. Dari Abu Umamah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
berdoa dengan doa yang banyak sekali, kita tidak dapat hafal
sedikitpun dari doanya itu. Kita lalu berkata: “Ya Rasulullah,
Tuan telah berdoa dengan sesuatu doa yang banyak sekali,
sehingga kita tidak dapat hafal sedikitpun daripadanya.”
Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Tidakkah engkau semua suka
kalau saya tunjukkan kepadamu semua sesuatu doa yang
menghimpun keseluruhannya itu? Yaitu supaya engkau
mengucapkan – yang artinya: “Ya Allah, sesungguhnya saya
mohon kepadaMu dari kebaikan sesuatu yang dimohonkan
oleh NabiMu yaitu Muhammad s.a.w. Saya juga mohon
perlindungan kepadaMu dari kejahatannya sesuatu yang
dimohoni perlindungannya oleh NabiMu yaitu Muhammad
s.a.w. Engkau adalah yang dimohoni pertolongan dan atas
pertolonganMulah adanya kecukupan – sampai memperoleh
apa yang diinginkan dari kebaikan dunia dan akhirat. Dan
tiada daya serta tiada kekuatan melainkan dengan
pertolongan Allah.” Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.
29. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Setengah dari doa
Rasulullah s.a.w. ialah – yang artinya: “Ya Allah,
sesungguhnya kita mohon kepadaMu apa-apa yang
menyebabkan datangnya kerahmatanMu dan apa-apa yang
me yebabkan pengampunanmu, juga selamat dari dosa dan
memperoleh dari semua kebaikan, demikian pula berbahagia
dengan syurga dan selamat dari siksa api neraka.”
Diriwayatkan oleh Imam Hakim yaitu Abu Abdillah dan ia
mengatakan bahwa ini adalah Hadis shahih menurut syarat
Imam Muslim.
KEUTAMAAN BERDOA DI LUAR ADANYA
ORANG YANG DIDOAKAN
1. Dari Abuddarda’r.a. bahwasanya ia mendengar Rasulullah
s.a.w. bersabda: “Tiada seorang hambapun yang Muslim yang
berdoa untuk saudaranya yang tidak ada – yakni yang waktu
itu tidak ada di sisinya, melainkan malaikat akan berkata:
“Engkau juga memperoleh sebagaimana yang engkau doakan
itu.” (Riwayat Muslim)
2. Dari Abuddarda’ r.a. pula, bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda: “Doa seseorang Muslim kepada saudaranya di luar
sepengetahuan orang yang didoakan itu adalah mustajab -
yakni dikabulkan. Di sisi kepalanya ada malaikat yang diserahi
untuk itu. Setiap ia berdoa untuk saudaranya itu dengan
kebaikan, maka malaikat yang diserahi itu berkata: Amin -
semoga Allah mengabulkan doamu itu – dan engkaupun
memperoleh sebagaimana yang engkau doakan itu.” (Riwayat
Muslim)
3. Dari Abuddarda’r.a. bahwasanya ia mendengar Rasulullah
s.a.w. bersabda: “Tiada seorang hambapun yang Muslim yang
berdoa untuk saudaranya yang tidak ada – yakni yang waktu
itu tidak ada di sisinya, melainkan malaikat akan berkata:
“Engkau juga memperoleh sebagaimana yang engkau doakan
itu.” (Riwayat Muslim)
4. Dari Abuddarda’ r.a. pula, bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda: “Doa seseorang Muslim kepada saudaranya di luar
adanya yang didoakan itu adalah mustajab – yakni
dikabulkan. Di sisi kepalanya ada malaikat yang diserahi
untuk itu. Setiap ia berdoa untuk saudaranya itu dengan
kebaikan, maka malaikat yang diserahi itu berkata: Amin -
semoga Allah mengabulkan doamu itu – dan engkaupun
memperoleh sebagaimana yang engkau doakan itu.” (Riwayat
Muslim)
BEBERAPA MASALAH DARI HAL DOA
1. Dari Jabir r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Janganlah engkau semua berdoa untuk bahayanya diri
sendiri, janganlah pula berdoa untuk bahayanya anak-anakmu
semua dan jangan pula berdoa untuk bahayanya hartahartamu
semua – yakni mendoakan supaya diri sendiri, anak
atau hartanya itu mendapat bahaya atau kecelakaan, sebab
tiada mencocoki doa-doa itu akan sesuatu saat yang di waktu
itu Allah akan dimintai untuk mengabul-kannya, maka Allah
pasti mengabulkan doamu tersebut,” – yakni apabila
diucapkannya doa itu tepat pada waktu yang mustajab, maka
dikhuatirkan bahwa doa-doa untuk memohonkan bahaya dan
kecelakaan tadi akan benar-benar terlaksana. (Riwayat
Muslim)
2. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda: “Sedekat-dekat seseorang hamba itu dari
Tuhannya ialah dalam keadaan ia bersujud, maka dari itu
perbanyakkanlah berdoa – ketika bersujud itu.” (Riwayat
Muslim)
3. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda: “Akan dikabulkanlah sesuatu doa bagi seseorang di
antara engkau semua, selama ia tidak tergesa-gesa, lalu ia
mengucapkan: “Saya sungguh-sungguh telah berdoa kepada
Tuhanku, Tuhan tidak suka mengabulkan permohonanku itu.”
(Muttafaq ‘alaih)
Tetapi Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan: Nabi s.a.w.
bersabda: “Tidak henti-hentinya sesuatu doa bagi seseorang hamba
itu akan dikabulkan, selama ia tidak berdoa untuk terjadinya
sesuatu dosa atau untuk pemisahan kekeluargaan dan selama ia
tidak tergesa-gesa.” Beliau s.a.w. ditanya: “Ya Rasulullah,
bagaimanakah artinya tergesa-gesa itu?” Beliau s.a.w. menjawab:
“Yaitu jikalau orang itu berkata: “Sungguh-sungguh saya telah
berdoa dan benar-benar saya sudah memohonkan, tetapi saya tidak
mengetahui – tidak meyakinkan – bahwa Tuhan akan
mengabulkannya,” selanjutnya orang itu lalu merasa menyesal di
saat itu dan akhirnya meninggalkan berdoa.”
4. Dari Abu Umamah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. ditanya:
“Manakah doa yang lebih pasti untuk didengar itu-selanjutnya
lalu dikabulkan?” Beliau s.a.w. menjawab: “Yaitu di tengah
malam yang terakhir dan sehabis shalat-shalat yang
diwajibkan.” Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.
5. Dari ‘Ubadah bin as-Shamit r.a., bahwasanya Rasulullah s.a.w
bersabda: “Tiada di atas bumi ini seseorang Muslim pun yang
berdoa kepada Allah dengan sesuatu permohonan, melainkan
Allah pasti akan memberikan itu padanya, ataupun akan
memalingkan dari dirinya dari keburukan yang seumpama
dengan itu, selama ia tidak berdoa untuk terlaksananya
sesuatu dosa atau untuk pemisahan kekeluargaan.” Kemudian
ada seorang lelaki dari golongan kaum berkata: “Jikalau
demikian, kita akan memperbanyakkan permohonan – yang
baik-baik – itu, bagaimanakah?” Beliau s.a.w. menjawab:
“Allah adalah Maha Lebih Banyak karunianya – untuk
mengabulkan permohonan yang banyak tadi.” Diriwayatkan
oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan shahih. Juga diriwayatkan oleh Imam Hakim dari
riwayat Abu Sa’id dan di situ ditambahkan sabda Nabi s.a.w.:
“Atau orang yang berdoa itu menabung pahala seumpama
dengan doanya itu untuk dirinya sendiri.”
6. Dari Ibu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah
s.a.w. itu ketika ditimpa oleh kesempitan -yakni di waktu hati
kesal dan ingin marah-marah, beliau s.a.w. mengucapkan:
“La ilaha illallahu ‘azhimul halim; La i/aha Illallahu rabbul
‘arsyil ‘azhim; La ilaha illallahu rabbus samawati wa rabbul
ardhi wa rabbul ‘arsyil karim.” Tiada Tuhan melainkan Allah
yang Maha Agung lagi Penyantun. Tiada Tuhan melainkan
Allah yang Maha Menguasai ‘arasy yang agung. Tiada Tuhan
melainkan Allah yang Maha Menguasai langit-langit dan
Menguasai Bumi dan Menguasai ‘arasy yang mulia. (Muttafaq
‘alaih)
KARAMAT-KARAMATNYA PARA WALIULLAH
DAN KEUTAMAAN MEREKA
1. Dari Abu Muhammad yaitu Abdurrahman bin Abu Bakar as-
Shiddiq radhiallahu ‘anhuma, bahwasanya ash-habush shuffah
adalah para manusia yang fakir-fakir dan bahwasanya Nabi
s.a.w. pernah pada suatu ketika bersabda: “Barangsiapa yang
disisinya ada makanan cukup untuk dua orang, maka
hendaklah pergi dengan tiga orang dan barangsiapa yang
disisinya ada makanan cukup untuk empat orang, maka
hendaklah pergi dengan lima atau enam orang,” atau seperti
yang sedemikian itulah kurang lebih sabda beliau s.a.w. itu.
Abu Bakar datang dengan membawa tiga orang sedang Nabi
s.a.w. berangkat dengan membawa sepuluh orang. Abu Bakar
makan malam di tempat Nabi s.a.w. kemudian menetap di
situ sehingga ia bersembahyang Isya’. Kemudian kembali lalu
datang di rumahnya setelah lewat waktu malam – yakni
sampai jauh malam -sebagaimana yang dikehendaki oleh
Allah. Isterinya lalu berkata: “Apa yang menyebabkan anda
tertahan untuk menemui tamu-tamu anda?” Abu Bakar
bertanya: “Apakah orang-orang itu belum engkau beri makan
malam?” la menjawab: “Mereka tidak mau sehingga anda
datang dan para pelayan sudah menawarkan pada mereka
itu.”
Abdur Rahman berkata: “Saya lalu pergi kemudian
bersembunyi. Abu Bakar berkata: “Hai Tolol” dan seterusnya
iapun mencaci dan memaki, lalu berkata kepada keluarganya:
“Makanlah engkau semua tanpa adanya kecukupan. Demi
Allah, saya tidak makan makanan ini selama-lamanya.”
Abdur Rahman berkata: “Demi Allah, tiada sesuap
makananpun yang kita ambil, melainkan bertambahlah
makanan dari bawahnya, lebih banyak dari keadaannya
semula. Orang-orang sama makan sampai kenyang, tetapi
makanan itu menjadi lebih banyak lagi dari yang sebelumnya
dimakan. Abu Bakar melihat makanan itu, lalu berkata kepada
isterinya: “Hai saudarinya Bani Firas, apakah yang terjadi
ini?” Isterinya menjawab: “Entahlah, demi kecintaan mataku,
niscayalah makanan ini, keadaannya sekarang lebih banyak
dari tadinya, bahkan lipat tiga kalinya. Abu Bakar lalu makan
daripadanya dan berkata: “Hanyasanya sumpah yang saya
ucapkan tadi adalah dari godaan syaitan.” Selanjutnya ia
makan pula sesuap daripadanya kemudian dibawa ke tempat
Nabi s.a.w. dan paginyapun tempat makanan itu masih ada di
tempat beliau s.a.w. Antara kita dengan sesuatu kaum ada
suatu janji, lalu waktu yang ditentukan – dalam janji – itu
lewatlah. Kita semua terpisah-pisah menjadi duabelas orang
yang setiap seorang di antara mereka itu disertai orang
banyak. Allah lebih mengetahui beberapa jumlah yang dibawa
oleh setiap orang itu. Mereka semua lalu makan.”
Dalam riwayat lain disebutkan:
“Abu Bakar bersumpah tidak akan makan makanan itu,
isterinyapun lalu bersumpah tidak akan makan, akhirnya atau
para tamu atau para tamu itupun bersumpah pula tidak akan
makan, sehingga Abu Bakar suka makan lebih dulu. Abu
Bakar lalu berkata: “Ah, sumpah ini adalah dari syaitan
belaka.” la lalu meminta makanan itu, kemudian ia makan
dan keluarga serta para tamupun makan juga. Tetapi tiada
sesuappun yang mereka angkat, melainkan bertambahlah
makanan itu dari bagian bawahnya, yang keadaannya lebih
banyak dari semula. Abu Bakar lalu berkata: “Hai saudarinya
Bani Firas apakah yang terjadi ini?” Isterinya menjawab:
“Demi ke cintaan mataku, sesungguhnya makanan itu
keadaannya kini niscayalah lebih banyak daripada
sebelumnya kita makan tadi.” Mereka lalu makan lagi,
kemudian dikirimkanlah makanan itu kepada Nabi s.a.w. dan
Abdur Rahman menyebutkan bahwa beliau s.a.w. juga makan
daripadanya.”
Dalam riwayat yang lain lagi disebutkan:
“Abu Bakar berkata kepada Abdur Rahman: “Layanilah tamutamumu
itu, sebab saya akan berangkat kepada Nabi s.a.w.
Jadi selesaikanlah semua hidangan untuk menghormati
mereka itu sebelum saya datang kembali.” Abdur Rahman
berangkat – ke tempat para tamu – lalu mendatangkan
makanan yang ada di sisinya. la berkata kepada mereka:
“Ayolah makan.” Para tamu bertanya: “Manakah tuan rumah
kita ini – yang mereka maksudkan ialah Abu Bakar as-
Shiddiq?” Abdur Rahman berkata lagi: “Ayolah makan.”
Mereka berkata pula: “Kita tidak akan makan,sehingga tuan
rumah kita ini datang.” Abdur Rahman berkata lagi:
“Terimalah hidangan untuk menghormat anda makan pula.”
(Muttafaq ‘alaih) sekalian ini, sebab sesungguhnya Abu Bakar,
jikalau nanti datang dan anda sekalian belum makan, tentu
kami akan mendapat marah daripadanya.” Para tamu tetap
menolak, maka saya merasa dalam hatiku bahwa Abu Bakar
tentu akan marah pada saya. Setelah Abu Bakar datang, saya
lalu menyingkir daripadanya. la berkata – kepada para tamu:
“Apakah yang anda sekalian kerjakan ini.” Mereka lalu
memberitahukan kepadanya perihal belum makannya itu.
Selanjutnya Abu Bakar berkata: “Hai Abdur Rahman.” Tetapi
saya berdiam saja. la berkata lagi: “Hai Abdur Rahman.” Saya
tetap diam saja. Sekali lagi ia berkata: “Hai tolol, saya
bersumpah padamu, kalau engkau mendengar suaraku ini,
supaya engkau datang ke mari.” Saya lalu keluar, kemudian
saya berkata: “Tanyakan sendiri pada tamu-tamu bapak.”
Mereka menjawab: “Betul, ia telah datang dengan membawa
makanan itu.” Abu Bakar berkata lagi: “Jadi anda sekalian
hanya hendak menantikan saya, demi Allah, saya tidak akan
makan makanan ini pada malam ini.” Orang-orang yang lain
berkata: “Demi Allah, kita tidak makan juga sehingga anda
suka pula makan.” la berkata: “Celaka anda sekalian ini,
mengapa anda sekalian tidak suka menerima hidangan
sebagai penghormatan kepada anda sekalian ini?” Lalu ia
berkata kepada keluarganya: “Coba bawa ke mari
makananmu itu.” Abu Bakar datang dengan membawa
makanan lalu ia meletakkan tangannya dan mengucapkan:
“Bismillah,” kemudian berkata lagi: “Sumpah tadi itu dari
godaan syaitan.” la makan dan orang-orang lainpun makan
pula.” (Muttafaq ‘alaih)
Ucapannya: Ghuntsar dengan dhammahnya ghain mu’jamah, lalu
nun sukun kemudian tsa’ bertitik tiga, artinya ialah orang yang
bodoh lagi tolol. Ucapannya: fa-jadda’a artinya mencaci-maki,
sedang aljad’u artinya pemutusan – atau pemisahan. Ucapannya
yajidu ‘alayya dengan kasrahnya jim, artinya marah.
2. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Niscayalah di kalangan ummat-ummat yang sebelummu
semua itu ada orang-orang yang diberi ilham. Maka andaikata
ada seorang yang sedemikian itu di kalangan ummat saya,
maka sesungguhnya ia adalah Umar,” Diriwayatkan oleh
Imam Bukhari, juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dari
riwayat Aisyah. Dalam riwayat kedua ahli Hadis itu Ibnu
Wahab berkata: Muhaddatsun artinya ialah orang-orang yang
memperoleh ilham.
3. Dari Jabir bin Samurah radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Para
penduduk Kufah mengadukan Sa’ad – yakni Sa’ad bin Abu
Waqqash r.a. kepada Umar bin al-Khaththab r.a. – yang pada
waktu itu menjabat sebagai khalifah, sedang Sa’ad sebagai
gubernur yang diangkat olehnya untuk daerah Kufah. Oleh
sebab itu Umar lalu memecat Sa’ad dan meggunakan ‘Ammar
untuk memerintah penduduk Kufah itu – sebagai ganti Sa’ad.
Orang-orang Kufah itu mengadukan,sampai-sampai mereka
itu menyebutkan bahwasanya Sa’ad itu tidak bagus dalam
mengerjakan shalatnya. Sa’ad diminta datang oleh Umar r.a.
lalu berkata: “Hai Abu Ishaq – yakni Sa’ad bin Abu Waqqash,
sesungguhnya orang-orang Kufah menyangka bahwa engkau
tidak bagus dalam melakukan shalat.” Sa’ad menjawab:
“Tentang saya ini, demi Allah, sesungguhnya saya
bersembahyang dengan orang-orang itu sebagaimana
shalatnya Rasulullah s.a.w., tidak saya kurangi sedikitpun.
Saya bersembahyang shalat Isya’, lalu saya perpanjangkan
dalam kedua rakaat yang pertama, sedang kedua rakaat yang
penghabisan saya peringankan.” Umar berkata: “Itu adalah
penyangkaan orang-orang padamu, hai Abu Ishaq.”
Selanjutnya Umar mengirimkan Sa’ad bersama seorang atau
beberapa orang ke daerah Kufah untuk menanyakan kepada
penduduk Kufah tentang diri Sa’ad tadi. Tiada suatu
masjidpun yang diri Sa’ad itu dan para penduduk Kufah itu
sama memuji akan kebaikannya. Akhirnya masuklah di suatu
masjid di lingkungan Bani ‘Abs. Kemudian ada seorang lelaki
di antara mereka itu berdiri, namanya Usamah bin Qatadah
yang diberi nama gelar yaitu Abu Sa’dah. la berkata: “Adapun
kalau anda bertanya kepada kami tentang Sa’ad, maka
sesungguhnya Sa’ad itu tidak pernah ikut pergi memimpin
pasukan – ke medan perang, tidak pernah mengadakan
pembagian -harta rampasan – dengan samarata dan tidak
pernah menjatuhkan putusan dengan berdasarkan keadilan.”
Sa’ad lalu berkata: “Aduh, demi Allah, niscayalah saya akan
berdoa dengan tiga macam permohonan: “Ya Allah, jikalau
hambamu ini – Usamah bin Qatadah – berkata dusta dan
melakukan hanya karena congkak dan kesombongan belaka,
maka panjangkanlah usianya, langsungkanlah kefakirannya
dan permudahkanlah ia untuk berbagai kefitnahan.”
Sesudah beberapa saat berlalu, orang itu jikalau ditanya,
siapa dirinya, ia menjawab: “Aku adalah orangtua bangka
yang terkena fitnah, karena doanya Sa’ad sudah mengena
pada diriku.”
Abdulmalik bin Umair yang meriwayatkan Hadis ini dari Jabir
bin Samurah berkata: “Saya sendiri melihat orang itu sesudah
tuanya, kedua alisnya telah rontok-rontok di atas kedua
matanya karena amat lanjut usianya itu dan sesungguhnya ia
menampakkan diri pada kaum wanita sambil menarik-narik
tangan mereka itu.” (Muttafaq ‘alaih)
4. Dari ‘Urwah bin az-Zubair bahwasanya Said bin ‘Amr bin
Nufail r.a. diajukan sebagai lawan oleh Arwa binti Uwais
kepada Marwan bin al-Hakam – yang waktu itu sebagai
khalifah. Wanita itu mendakwa bahwa Said mengambil
sebagian dari tanahnya. Said lalu berkata: “Saya sudah
mengambil sebagian tanahnya, padahal saya sudah
mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda.” Marwan bertanya:
“Apa yang anda dengar dari Rasulullah s.a.w.?” la menjawab:
“Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang mengambil tanah sejengkal secara
penganiayaan, maka tanah itu akan dikalungkan di lehernya
sampai tujuh lapis bumi di bawahnya.” Marwan lalu
berkata:”Saya tidak lagi akan meminta keterangan tentang
kebenaranmu setelah mendengar ini.” Said lalu berdoa: “Ya
Allah, jikalau wanita itu dusta, maka butakanlah matanya dan
matikanlah ia dalam tanahnya sendiri.”
‘Urwah berkata; “Wanita itu tidak mati-mati sehingga penglihatannya
lenyap – yakni menjadi buta matanya, Dan pada
suatu ketika ia berjalan di tanahnya sendiri, tiba-tiba
terjerumuslah ia dalam suatu lobang, kemudian mati di situ.”
(Muttafaq ‘alaih)
5. Dalam riwayat Imam Muslim dari Muhammad bin Zaid bin
Abdullah bin Umar, yang isinya semakna dengan uraian di
atas itu dan bahwasanya ia melihat wanita tadi sudah buta
mencari-cari dinding – di waktu berjalan – sambil
mengucapkan: “Saya terkena oleh doanya Said.” Selanjutnya
ketika wanita itu berjalan melalui sumur yang ada di dalam
rumah yang dijadikan bahan pertengkaran dulu, tiba-tiba ia
jatuh di dalamnya, lalu itulah yang menjadi kuburnya – yakni
sebab kematiannya.
6. Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Ketika
tiba waktunya peperangan Uhud, ayah saya memanggil saya
di waktu malam, lalu berkata: “Saya tidak mengira pada
diriku sendiri ini, melainkan rasanya akan terbunuh dalam
permulaan orang-orang yang terbunuh dari sahabat-sahabat
Nabi s.a.w. Se-sungguhnya saya tidak meninggalkan sesudah
matiku sesuatu yang bagiku lebih mulia daripada dirimu
sendiri selain diri Rasulullah s.a.w. – yakni beliau s.a.w. yang
dianggap termulia kemudian anaknya itu. Sesungguhnya saya
mempunyai tanggungan hutang, maka dari itu tunaikanlah
hutangku itu dan berikanlah baik-baik kepada saudarasaudaramu.”
Kemudian kita berpagi-pagi – untuk melakukan
peperangan, kemudian ayahku adalah pertama kali orang
yang terbunuh. Saya tanamkan bersamanya seorang lain
dalam sekubur. Kemudian jiwaku tidak enak kalau ayahku
saya tinggalkan teruster kubur bersama orang lain itu, lalu
saya keluarkan lagi tubuhnya setelah dalam kuburnya itu
selama enam bulan, tiba- tiba ia masih dalam keadaan seperti
waktu saya meletakkan dahulu, kecuali telinganya saja – yang
rusak. Selanjutnya saya jadikanlah ia dalam kubur sendirian -
yakni tidak disertai orang lain dalam kubur.” (Riwayat
Bukhari)
7. Dari Anas r.a. bahwasanya ada dua orang lelaki dari para
sahabatnya Nabi s.a.w. keluar dari sisi Nabi s.a.w. di waktu
malam yang gelap-gulita, tiba-tiba bersama kedua orang itu
seperti ada dua lampu yang ada di hadapannya. Setelah
keduanya berpisah maka tiap seorang dari keduanya itupun
seperti ada sebuah lampu yang menyertainya, sehingga ia
datang kepada keluarganya. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari
dari beberapa jalan, di antara sebagian jalan itu disebutkan
bahwa kedua orang lelaki itu ialah Usaid bin Hudhair dan
‘Abbad bin Bisyr radhiallahu ‘anhuma.
8. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasuiullah s.a.w.
mengirimkan sepuluh orang sebagai mata-mata merupakan
suatu pasukan dan mengangkatnya ‘Ashim bin Tsabit al-
Anshari r.a. sebagai kepala untuk orang yang sudah mati
terbunuh. Jadi ringkasnya ia lebih suka mengikuti kematian
kawan-kawannya itu. Orang ini lalu mereka tarik-tarik dan
mereka perlakukan dengan menyiksanya. Tetapi orang ini
tetap enggan untuk memimpin mereka itu. Mereka lalu
berang-kat, sehingga datanglah mereka di suatu tempat
bernama al-Hudat yang terletak antara ‘Usfan dan Makkah.
Kedalangan mereka itu disebut-sebut oleh suatu kabilah dari
orang-orang Hudzail yang dinamakan Bani Lihyan, mereka ini
mengejar sepuluh orang tersebut, sedang para pengejar dari
Bani Lihyan itu berjumlah hampir seratus orang ahli pemanah.
Mereka meneliti jejak-jejak sepuluh orang tadi. Setelah
‘Ashim dan kawan-kawannya merasa akan memperoleh
perlawanan, lalu mereka berlindung di suatu tempat,
kemudian tempat ini dikepung oleh kaum – musuh. Para
pengejar itu berkata: “Turunlah engkau semua – hai sepuluh
orang, lalu serahkanlah tanganmu dan engkau semua
memperoleh janji dan ikatan kata dari kita, bahwa kita tidak
akan membunuh seseorangpun dari engkau semua. ‘Ashim
berkata: “Hai kaum – kafirin, saya tidak akan turun untuk
menjadi orang yang memperoleh jaminan hidup dari orang
kafir. Ya Allah, beritahukanlah tentang hal-ihwal kita ini
kepada NabiMu yaitu Muhammad s.a.w.” Musuh lalu
melempari mereka dengan panah, lalu ‘Ashim dapat mereka
bunuh. Ada tiga orang yang turun -hendak menyerah -dengan
berdasarkan janji dan ikatan kata – yakni tidak akan dibunuh.
Di antara mereka ini ialah Khubaib, Zaid bin Datsinah dan
seorang lelaki lain. Setelah tiga orang ini dapat mereka
pegang, mereka lalu melepaskan tali busurnya masingmasing,
kemudian tiga orang itu mereka ikat kuat-kuat.
Orang yang ketiga – yang tidak disebut namanya di atas -
berkata: “Inilah pertama-tama pengkhianatan. Demi Allah,
niscayalah saya tidak akan suka lagi menemui engkau semua
– untuk terus berjalan. Bagi saya sudah ada penuntun – dalam
persoalan ini – yakni dengan mereka, “yang dimaksudkan
ialah orang-mengawani kaum musuh – untuk meneruskan
perjalanan. Akhirnya orang ini mereka bunuh. Selanjutnya
kaum Bani Lihyan tersebut berangkat dengan membawa
Khubaib dan Zaid bin Datsinah, sehingga mereka menjual
kedua orang tawanan ini di Makkah sesudah peperangan
Badar berakhir. Keluarga al-Harits bin ‘Amir bin Naufal bin
‘Abdi Manaf membeli Khubaib. Khubaib adalah yang
membunuh al-Harits pada hari peperangan Badar dulu.
Dengan demikian berada di tempat keluarga al-Harits sebagai
seorang tawanan sehingga seluruh keluarga itu berkehendak
akan membunuhnya. Khubaib meminjam sebuah pisau cukur
dari salah seorang puteri al-Harits untuk mencukur rambut
kemaluannya, lalu wanita ini meminjamkan pisau cukur itu
padanya. Ada seorang anak kecil yaitu anak wanita yang
meminjami pisau cukur tadi merangkak ke tempat Khubaib,
sedang wanita tadi sedang lalai mengamat-amati anaknya
tadi, sehingga anak itu mendatangi Khubaib, lalu wanita itu
melihat sendiri bahwa Khubaib mendudukkan anak tersebut di
atas pahanya, sementara pisau cukur masih tetap ada di
tangannya. Wanita itu amat terkejut sekali dan hal yang
sedemikian ini diketahui oleh Khubaib. Terkejutnya ialah
karena takut kalau anaknya itu akan disembelih oleh
tawanannya. Khubaib lalu berkata: “Adakah anda takut kalau
saya membunuh anak ini. Ah, saya tidak akan mengerjakan
perbuatan sekeji itu.” Wanita – yang diuraikan di atas itu
berkata: “Demi Allah, saya tidak pernah melihat seorang
tawananpun yang lebih baik daripada Khubaib. Demi Allah,
benar-benar saya pernah menemuinya pada suatu hari, ia
sedang makan sedompol anggur di tangannya, sedang kan ia
di waktu itu sedang diikat erat-erat dengan besi, lagi pula
tiada buah-buahan seperti itu di Makkah. “Wanita itu
melanjutkan katanya: “Hal itu niscayalah suatu rezeki yang
dikaruniakan oleh Allah kepada Khubaib.” Setelah orangorang
Bani Lihyan keluar dengan membawa Khubaib dari
tanah suci untuk membunuhnya di tanah halal – bukan Tanah
Haram yakni tanah suci Makkah, maka Khubaib berkata
kepada mereka: “Lepaskanlah aku sebentar karena aku
hendak bersembahyang dua rakaat.” Mereka membiarkannya,
lalu ia ber-sembahyang dua rakaat, kemudian ia berkata:
“Demi Allah andai-kata engkau semua tidak akan timbul
sangkaan bahwasanya saya dalam ketakutan – karena akan
mati, niscayalah aku akan menambah sembahyangku ini lagi.
Ya Allah, hitunglah jumlah mereka ini, bunuh mereka secara
berganti-ganti menurut gilirannya dan jangan-lah
meninggalkan seorangpun di antara mereka itu.” Selanjutnya
Khubaib berkata pula:
Saya takkan memperdulikan,
Asalkan aku mati sebagai Muslim.
Dalam keadaan bagaimanapun,
Kematianku adalah untuk Allah.
Hal itu adalah Zat Tuhan,
Jikalau Dia berkehendak,
Pasti akan memberikan keberkahan,
Atas semua anggota tubuh yang terceraikan.
Khubaib adalah seorang yang membuat sunnah yang pertama
kali bagi setiap orang Muslim untuk dibunuh dengan
kesabaran, supaya melakukan shalat dahulu.
Nabi s.a.w. memberitahukan kepada sahabat-sahabatnya
perihal berita sepuluh orang di atas pada hari mereka
mendapatkan mushibah – yakni bencana yang menimpa
mereka sebagaimana di atas.
Ada beberapa orang dari golongan kaum Quraisy menyuruh
orang-orang lain ke tempat ‘Ashim bin Tsabit ketika mereka
diberitahu bahwa ‘Ashim telah terbunuh, supaya orang-orang
yang dikirimkan itu datang dengan membawa sesuatu
anggota badan dari ‘Ashim yang dapat dikenal. ‘Ashim dahulu
pernah membunuh seseorang dari golongan pembesarpembesarnya
kaum Quraisy. Tetapi Allah lalu mengirimkan
kepada janazah ‘Ashim itu semacam awan dan terdiri dari
lebah. Lebah-lebah itulah yang melindungi tubuh ‘Ashim dari
utusan-utusan kaum Quraisy – yang hendak memotong
sebagian anggotanya untuk dijadikan bukti kematian-nya.
Oleh sebab itu musuh-musuh tadi tidak dapat memotong
sesuatu anggotapun dari tubuh ‘Ashim. (Riwayat Bukhari)
Ucapannya: Al-Hudat adalah sebuah tempat dan adbdhullah ialah
awan, sedang addabru, artinya lebah. Ucapannya: Uqtulhum
bidadan, boleh dengan ba’nya dikasrahkan atau difathahkan – lalu
berbunyi badadan. Bagi orang yang membacanya kasrah, maka ia
berkata: “Itu adalah jama’nya biddah dengan kasrahnya ba’, artinya
bagian. Maknanya ialah: “Bunuhlah mereka itu – ya Allah – dalam
waktu yang terbagi-bagi menurut pembagian gilirannya masingmasing.”
Adapun bagi orang yang membaca fathahnya ba’, maka
maknanya iaiah secara berpisah-pisah dalam rnembunuhnya itu,
yakni satu demi satu, yaitu dari kata attabdid.
9. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Tidak pernah
sama sekali saya mendengar Umar r.a. berkata kepada
sesuatu: “Sesungguhnya saya mengira perkara itu begini,”
melain-kan kejadian perkara tersebut adalah tepat
sebagaimana yang diperkirakan olehnya.” (Riwayat Bukhari)
PERKARA-PERKARA YANG TERLARANG
MELAKUKANNYA HARAMNYA MENGUMPAT
DAN PERINTAH MENJAGA LISAN
1. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w.,
sabdanya:”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari
akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau – kalau tidak
dapat berkata yang baik, hendaklah ia berdiam diri saja.”
(Muttafaq ‘alaih)
Hadis ini secara terang sekali menjelaskan bahwasanya sayugianya
seseorang itu tidak berbicara, melainkan jikalau pembicaraannya itu
berupa suatu kebaikan yakni pembicaraan yang tampak nyata
adanya kemaslahatan di dalamnya. Oleh sebab itu, jikalau ia sangsi
tentang akan timbulnya kemaslahatan dalam pembicaraannya tadi,
maka janganlah berbicara.
2. Dari Abu Musa r.a., katanya: “Saya berkata: “Ya Rasulullah,
manakah kaum Muslimin itu yang lebih utama?” Beliau s.a.w.
menjawab: “Yaitu yang orang-orang Islam lain merasa
selamat daripada gangguan lisannya – yakni pembicaraannya
– serta dari tangannya.” (Muttafaq ‘alaih)
3. Dari Sahl bin Sa’ad r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda: “Barangsiapa yang dapat memberikan jaminan
kepadaku tentang kebaikannya apa yang ada di antara kedua
tulang rahangnya – yakni mulut – serta antara kedua kakinya
– yakni kemaluannya, maka saya memberikan jaminan syurga
untuknya.” (Muttafaq ‘alaih)
4. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya ia mendengar Nabi s.a.w.
bersabda: “Sesungguhnya seseorang hamba itu niscayalah
berbicara dengan suatu perkataan yang tidak ia fikirkan – baik
atau buruknya, maka dengan sebab perkataannya itu ia dapat
tergelincir ke neraka yang jaraknya lebih jauh daripada jarak
antara sudut timur dansudut barat.” (Muttafaq ‘alaih)
Makna yatabayyanu ialah memikirkan apakah perkataannya itu baik
atau tidak.
5. Dari Abu Hurairah r.a. pula dari Nabi s.a.w., sabdanya:
“Sesungguhnya seseorang hamba itu niscayalah mengatakan
suatu perkataan dari apa-apa yang diridhai oleh Allah Ta’ala
yang ia sendiri tidak banyak mengambil perhatian dengan
kata-katanya, lalu Allah mengangkatnya dengan beberapa
derajat. Dan sesungguhnya seseorang hamba itu niscayalah
mengatakan suatu perkataan dari apa-apa yang
menyebabkan kemurkaan Allah Ta’ala yang ia sendiri tidak
banyak mengambil perhatian dengan kata-katanya, lalu orang
itu terjatuh dalam neraka Jahanam sebab kata-katanya tadi.”
(Riwayat Bukhari)
6. Dari Abu Abdur Rahman yaitu Bilal bin al-Harits al-Muzani r.a.
bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya
seseorang itu niscayalah berkata dengan suatu perkataan dari
apa-apa yang diridhai oleh Allah Ta’ala, ia tidak mengira
bahwa perkataan itu akan mencapai suatu tingkat yang dapat
dicapainya, lalu Allah mencatat untuknya bahwa ia akan
memperoleh keridhaanNya sampai pada hari ia menemuiNya -
yakni hari kematiannya atau pada hari kiamat nanti. Dan
sesungguhnya seseorang itu niscayalah berkata dengan suatu
perkataan dari apa-apa yang menjadikan kemurkaan Allah, ia
tidak mengira bahwa perkataan itu akan mencapai suatu
tingkat yang dapat dicapainya, lalu Allah mencatatkan
untuknya bahwa ia akan memperoleh kemurkaanNya sampai
pada hari ia menemuiNya.” Diriwayatkan oleh Malik dalam
kitab Al-Muwaththa’ dan juga oleh Imam Tirmidzi dan ia
mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.
7. Dari Sufyan bin Abdullah r.a., katanya: “Saya berkata: “Ya
Rasulullah, beritahukanlah kepada saya sesuatu perkara yang
saya wajib tetap berpegangan dengannya itu!” Beliau s.a.w.
menjawab: “Katakanlah: “Tuhanku adalah Allah,” kemudian
berbuat luruslah.” Saya bertanya lagi: “Ya Rasulullah, apakah
yang paling Tuan takut-kan atas diri saya?” Beliau s.a.w. lalu
mengambil lisannya, kemudian bersabda: “Ini.” Diriwayatkan
oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan shahih.
8. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah
s.a.w. bersabda: “Janganlah engkau semua memperbanyak
kata, selain untuk berzikir kepada Allah Ta’ala, sebab
sesungguhnya banyaknya pembicaraan kerasnya hati dan
sesungguhnya sejauh-jauh manusia dari Allah ialah yang
berhati keras,” -yakni enggan menerima petunj’uk baik.
(Riwayat Tirmidzi)
9. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang dijaga oleh Allah akan keburukannya yang
ada di antara kedua rahangnya – yakni mulut – dan
keburukannya apa yang ada di antara kedua kakinya – yakni
kemaluan, maka dapatlah ia masuk syurga.” Diriwayatkan
oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah
Hadis hasan shahih
10. Dari ‘Utbah bin ‘Amir r.a. katanya: “Saya berkata: “Ya
Rasulullah, apakah yang menyebabkan keselamatan itu?”
Beliau s.a.w. bersabda: “Tahanlah lidahmu – yakni hati-hatilah
dalam berbicara, hendaklah rumahmu itu dapat merasakan
luas padamu -maksudnya: lakukanlah sesuatu yang dapat
menyebabkan engkau suka tetap berada di rumah seperti
melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala dan Iain-Iain – dan
menangislah atas kesalahan yang engkau kerjakan.”
Diriwayatkanoleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini
adalah Hadis hasan.
11. Dari Abu Said al-Khudri r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya:
“Jikalau anak Adam – yakni manusia – itu berpagi-pagi, maka
sesungguhnya semua anggota itu memberikan sikap tunduk
kepada lidah – maksudnya: menasehati agar berhati-hati.
Anggota-anggota itu berkata: “Takutlah engkau kepada Allah
dalam urusan kita semua ini, sebab keselamatan kita ini
tergantung daripada kelakuanmu. Jikalau engkau lurus, maka
kitapun lurus, sedang jikalau engkau bengkok, maka kitapun
bengkok pula.” (Riwayat Tirmidzi)
Makna tukaffirul lisan ialah menunjukkan sikap tunduk dan patuh
kepada lidah
12. Dari Mu’az r.a., katanya: “Saya berkata: “Ya Rasulullah,
beritahukanlah kepada saya dengan sesuatu amalan yang
dapat menyebabkan saya masuk syurga dan menjauhkan
saya dari neraka.” Beliau s.a.w. bersabda: “Niscayalah engkau
itu menanyakan sesuatu persoalan yang agung – yakni
penting, tetapi sesungguhnya hal itu adalah mudah bagi
orang yang dipermudahkan oleh Allah. Yaitu supaya engkau
menyembah kepada Allah, tidak menyekutukan sesuatu
denganNya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa
dalam bulan Ramadhan dan mengerjakan ibadah haji di
Baitullah.” Selanjutnya beliau s.a.w. bersabda: “Sukakah
engkau saya tunjukkan pada pintu-pintu kebaikan? Puasa
adalah perisai – dari berbuat kemaksiatan, sedekah itu dapat
melenyapkan kesalahan – yakni dosa – sebagatmana air
memadamkan api dan pula shalat seseorang di tengah
malam.” Seterusnya Rasulullah s.a.w. membaca ayat yang
artinya: “Lambung-lambung mereka meninggalkan tempattempat
tidur – yakni mereka tidak tidur,” sehingga sampai
pada firmanNya yang artinya: “Apa yang mereka kerjakan.”
Selanjutnya beliau s.a.w. bersabda lagi: “Sukakah engkau
saya beritahu tentang pokok perkara – yakni Agama Islam ini,
tiangnya dan pula puncak punggungnya?” Saya menjawab:
“Baiklah, ya Rasulullah.” Beliau s.a.w. lalu bersabda:
“Pokoknya ialah Islam, tiangnya ialah shalat, sedang puncak
punggungnya ialah jihad.” Seterusnya beliau s.a.w. bersabda
pula: “Sukakah engkau saya beritahu tentang pangkal yang
mengemudikan semua itu?” Saya menjawab: “Baiklah, ya
Rasulullah.” Beliau s.a.w. kemudian mengambil lisannya lalu
bersabda: “Tahanlah ini atas dirimu – yakni berhati-hatilah
mengemudikan lidah itu.” Saya berkata: “Ya Rasulullah,
apakah kita ini pasti akan dituntut – yakni diterapi hukuman -
dengan apa yang kita bicarakan itu?” Beliau s.a.w. menjawab:
“Kehilangan engkau ibumu – Ini merupakan kata kebiasaan
bagi bangsa Arab, semacam kita mengatakan: Celaka engkau
ini, tidakkah para manusia itu dimasukkan dalam neraka
dengan tersungkur di atas muka-mukanya itu, melainkan
hanya karena hasil perkataannya?” Diriwayatkan oleh Imam
Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan
shahih. Uraian tentang Hadis ini sudah ada di muka.
Keterangan: Dalam Riadhus Shalihin belum ada Hadis ini di
muka.
13. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda: “Adakah engkau semua mengetahui, apakah
mengumpat itu?” Para sahabat menjawab: “Allah dan
RasulNya adalah lebih mengetahui.” Beliau s.a.w. bersabda:
“Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang ada dalam diri
saudaramu dengan apa-apa yang tidak disukai olehnya.”
Beliau s.a.w. ditanya: “Bagaimanakah pendapat Tuan, jikalau
dalam diri saudara saya itu memang benar-benar ada apa
yang dikatakan itu?” Beliau s.a.w. menjawab: “Jikalau benarbenar
ada dalam dirinya apa yang engkau ucapkan itu, maka
sungguh-sungguh engkau telah mengumpatnya dan jikalau
tidak ada dalam dirinya apa yang engkau ucapkan itu, maka
sungguh-sungguh engkau telah membuat-buat kedustaan
pada dirinya.” (Riwayat Muslim)
14. Dari Abu Bakrah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda dalam khutbahnya pada hari Nahar – yakni hari raya
Kurban, di Mina dalam melakukan haji wada’ – ibadat haji
terakhir bagi beliau s.a.w. sebagai mohon diri:”Sesungguhnya
darah-darahmu, harta-hartamu dan kehormatankehormatanmu
semua itu adalah haram dilanggar
sebagaimana kesucian harimu itu – ‘Idul Adha – dalam
bulanmu ini dan dalam negerimu ini. Ingatlah, tidakkah saya
telah menyampaikan.” (Muttafaq ‘alaih)
15. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Saya berkata
kepada Nabi s.a.w.: “Cukuplah bagi Tuan Shafiyah itu
demikian demikian” – Shafiyah adalah isterinya Rasulullah
s.a.w. pula, sebagaimana halnya Aisyah. Sebagian para
perawi Hadis ini mengatakan: Yang dimaksudkan Aisyah itu
ialah bahwa Shafiyah itu pendek. Beliau s.a.w. lalu bersabda:
“Benar-benar engkau telah mengucap-kan sesuatu perkataan
yang apabila perkataan tadi itu dicampur dengan air laut,
tentu dapat mencampurinya” – yakni mengubah air laut itu
menjadi berubah rasa dan baunya. Aisyah berkata: “Saya
pernah pula menceriterakan perihal seseorang kepada beliau
s.a.w., lalu beliau berkata: “Saya tidak suka menceriterakan
hal-ihwal seseorang – yang buruk – sebab sesungguhnya
sayapun mempunyai demikian, demikian” – yakni setiap orang
tentu ada celanya sendiri. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi
dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.
Makna muzajtahu yakni engkau campurkan dengan percampuran
yang dapat menyebabkan perubahan dalam rasa atau baunya,
karena sangat bacinnya bau perkataan tadi dan sangat sekali
buruknya. Hadis ini termasuk salah satu ancaman yang terkeras
untuk melarang mengumpat atau ghibah. Allah Ta’ala berfirman -
yang artinya: “Muhammad itu tidaklah mengatakan menurut hawa
nafsu – kemauannya – sendiri. Itu hanyalah wahyu yang
diwahyukan kepadanya.” (an-Najrn: 3-4)
16. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Ketika saya dimi’rajkan, saya berjalan melalui suatu kaum
yang mempunyai kuku-kuku dari tembaga yang dengan kukukuku
tadi mereka menggaruk-garukkan muka serta dadadada
mereka sendiri. Saya bertanya: “Siapakah mereka itu,
hai Jibril?” Jibril menjawab: “Itulah orang-orang yang makan
daging sesama manusia -yakni mengumpat – dan
menjatuhkan kehormatan mereka.” (Riwayat Abu Dawud)
17. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah
s.a.w. bersabda: “Setiap Muslim atas sesama Muslim itu
haramlah darahnya, kehormatannya serta hartanya – yakni
haram dilanggar.” (Riwayat Muslim)
MEMELIHARA LIDAH
1. Dari Abuddarda’ r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Barangsiapa
yang menolak dari keperwiraan saudaranya -seperti
mencegah orang yang hendak mengumpat saudaranya itu di
hadapannya, maka Allah menolak diri orang itu dari neraka
pada hari kiamat” – Saudara yang dimaksudkan ialah orang
yang sesama Muslim atau mu’min. Diriwayatkanoleh Imam
Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.
2. Dari ‘Itban bin Malik r.a. dalam Hadisnya yang panjang lagi
masyhur yang telah dulu uraiannya dalam bab Harapan – lihat
Hadis no. 416, katanya: “Nabi s.a.w. berdiri untuk
bersembahyang lalu bersabda: “Manakah Malik bin
Addukhsyum?” Lalu ada seorang yang berkata: “la adalah
seorang munafik yang tidak mencintai Allah dan RasulNya.”
Kemudian Nabi s.a.w. bersabda: “Janganlah engkau berkata
demikian, tidakkah engkau melihat bahwa ia juga telah
mengucapkan La ilaha illallah, yang dengan membacanya ia
menghendaki keridhaan Allah. Sesungguhnya Allah telah
meng-haramkan kepada neraka orang yang mengucapkan La
ilaha illallah yang dengan mengucapkannya itu ia
mengharapkan keridhaan Allah itu.” (Muttafaq ‘alaih)
‘Itban dengan kasrahnya ‘ain menurut keterangan yang masyhur
dan ada yang menceriterakan dengan didhammahkan ‘ainnya itu
dan sehabis’ain ialah ta’ yang bertitik dua diatas lalu ba’ bertitik
satu. Adapun Addukhsyum dengan dhammahnya dal dan
sukunnya kha’ serta dhammahnya syin. Kha’ dan syin itu
mu’jamah semuanya.
3. Dari Ka’ab bin Malik r.a. dalam Hadisnya yang panjang dalam
kisah taubatnya dan sudah lampau keterangannya dalam bab
Taubat – lihat Hadis no. 21, ia berkata: “Nabi s.a.w. bersabda
dan waktu itu beliau sedang duduk di kalangan kaum di Tabuk
– yakni orang-orang yang sama-sama mengikuti peperangan
Tabuk: “Apa-kah yang dikerjakan oleh Ka’ab bin Malik?”
Kemudian ada seorang dari Bani Salimah berkata: “Ya
Rasulullah, ia tertahan oleh baju indahnya dan keadaan
sekelilingnya yang permai pandangannya.” Mu’az bin Jabal
lalu berkata: “Buruk sekali yang engkau katakan itu. Demi
Allah ya Rasulullah, kita tidak mengetahui tentang diri Ka’ab
itu melainkan baik-baik saja.” Rasulullah s.a.w. lalu berdiam
diri. (Muttafaq ‘alaih)
‘Ithfahu artinya di kedua tepinya atau sekelilingnya, ini adalah
sebagai isyarat keheranan seseorang pada dirinya sendiri.
URAIAN PERIHAL GHIBAH — MENGUMPAT
YANG DIBOLEHKAN
1. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya ada sesorang
lelaki meminta izin kepada Nabi s.a.w untuk menemuinya,
lalu beliau s.a.w bersabda untuk menemuinya, lalu beliau
s.a.w bersabda – kepada sahabat-sahabat:”Izinkanlah ia, ia
adalah seburuk-buruknya orang dari seluruh keluarganya.”
(Muttafaq ‘alaih) Imam bukhari mengambil keterangan dari
Hadis ini akan bolehnya mengumapat pada orang-orang
yang suka membuat kerusakan serta ahli bimbang – tidak
berpenderian tetap.
2. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: Rasulullah s.a.w
bersabda: “ Saya tidak menyakinkan kepada si fulan dan si
fulan itu bahwa keduanya itu mengetahui sesuatu perihal
agama kita” Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, ia berkata:
“Allaits bin Sa’ad, salah seorang yang meriwayatkan hadis ini
berkata:”Kedua orang lelaki ini termasuk golongan kaum
munafik.
3. Dari Fathimah binti Qais radhiallahu ‘anha, katanya: “Saya
mendatangi Nabi s.a.w. lalu saya berkata: “Sesungguhnya
Abuljahm dan Mu’awiyah itu sama-sama melamar diriku.”
Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: “Adapun Mu’awiyah itu
adalah seorang fakir yang tiada berharta, sedangkan
Abuljahm adalah seorang yang tidak sempat meletakkan
tongkat dari bahunya.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan:
“Adapun Abuljahm, maka ia adalah seorang yang gemar memukul
wanita.” Ini adalah sebagai tafsiran dari riwayat yang menyebutkan
bahwa ia tidak sempat meletakkan tongkat dari bahunya. Ada pula
yang mengartikan lain ialah bahwa “tidak sempat meletakkan
tongkat dari bahunya” itu artinya banyak sekali bepergiannya.
4. Dari Zaid bin Arqam r.a., katanya: “Kita keluar bersama
Rasulullah s.a.w. dalam suatu perjalanan yang menyebabkan
orang-orang banyak memperoleh kesukaran, lalu Abdullah
bin Ubay berkata: “Janganlah engkau semua memberikan
apa-apa kepada orang yang ada di dekat Rasulullah,
sehingga mereka pergi – yakni berpisah dari sisi beliau s.a.w.
itu.” Selanjutnya ia berkata lagi: “Niscayalah kalau kita
sudah kembali ke Madinah, sesungguhnya orang yang
berkuasa akan mengusir orang yang rendah.”
Saya lalu mendatangi Rasulullah s.a.w. dan memberitahukan
hal ucapannya Abdullah bin Ubay di atas. Beliau s.a.w.
menyuruh Abdullah bin Ubay datang padanya, tetapi ia
bersungguh-sungguh dalam sumpahnya bahwa ia tidak
melakukan itu -yakni tidak berkata sebagaimana di atas.
Para sahabat lalu berkata: “Zaid berdusta kepada Rasulullah
s.a.w.” Dalam jiwaku terasa amat berat sekali karena
ucapan mereka itu, sehingga Allah Ta’ala menurunkan ayat,
untuk membenarkan apa yang saya katakan tadi, yaitu -
yang artinya: “Jikalau orang-orang munafik itu datang
padamu.” (al-Munafiqun: 1) Nabi s.a.w. lalu memanggil
mereka untuk dimintakan pengam-punan – yakni supaya
orang-orang yang mengatakan bahwa Zaid berdusta itu
dimohonkan pengampunan kepada Allah oleh beliau s.a.w.,
tetapi orang-orang itu memalingkan kepalanya – yakni
enggan untuk dimintakan pengampunan.” (Muttafaq ‘alaih)
5. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Hindun yaitu
isterinya Abu Sufyan berkata kepada Nabi s.a.w.:
“Sesungguhnya Abu Sufyan itu seorang lelaki yang kikir, ia
tidak memberikan nafkah yang dapat mencukupi
kebutuhanku serta untuk keperluan anakku, melainkan
dengan cara saya mengambil sesuatu daripadanya, sedang ia
tidak mengetahuinya. “Beliau s.a.w. lalu bersabda:” Ambil
sajalah yang sekiranya dapat mencukupi kebutuhanmu dan
untuk kepentingan anakmu dengan baik-baik – yakni jangan
berlebih-lebihan.” (Muttafaq ‘alaih)
HARAMNYA MENGADU DOMBA
1. Dari Hudzaifah r.a. katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Tidak dapat masuk syurga seseorang yang gemar mengadu
domba.” (Muttafaq ‘alaih)
2. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah
s.a.w. berjalan melalui dua buah kubur, lalu bersabda:
“Sesungguhnya dua orang mati ini disiksa, tetapi tidaklah
mereka disiksa karena kesalahan besar. Ya, tetapi
sebenarnya besar juga. Adapun yang seorang di antara
keduanya itu dahulunya -ketika di dunia – suka berjalan
dengan melakukan adu domba, sedang yang lainnya, maka
ia tidak suka menghabiskan samasekali dari kencingnya -
yakni di waktu kencing kurang memperdulikan kebersihan
serta kesucian dari najis.” Muttafaq ‘alaih. Ini adalah lafaz
dari salah satu riwayat Imam Bukhari.
Para ulama berkata bahwa maknanya: “Tidaklah mereka itu disiksa
karena melakukan kesalahan yang besar,” yakni bukan kesalahan
besar menurut anggapan kedua orang tersebut. Ada yang
mengatakan bahwa itu merupakan hal besar – berat – bagi itu
meninggalkannya.
3. Dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda:
“Tahukah engkau semua, apakah kedustaan besar itu? Yaitu
Namimah atau banyak bicara adu domba antara para
manusia.” (Riwayat Muslim)Al’adhha dengan fathahnya ‘ain
muhmalah dan sukunnya dhad mu’jamah dan dengan ha’
menurut wazan Alwajhu. Ada yang mengatakan Al’idhatu
dengan kasrahnya ‘ain dan fathahnya dhad mu’jamah
menurut wazan Al’idatu, artinya ialah kedustaan serta
kebohongan besar. Menurut riwayat pertama, maka al’adhhu
adalah mashdar, dikatakan: ‘adhahahu ‘adhhan artinya
melemparnya dengan kedustaan atau pengadu-dombaan.
LARANGAN MENYAMPAIKAN PERMBIACARAAN
KEPADA PEMERINTAH
1. Dari Ibnu Mas’ud r.a. katanya: “Rasulullah s.a.w.
bersabda:”Janganlah seseorang dari sahabat-sahabatku itu
menyampaikan sesuatu padaku, sebab sesungguhnya saya
ini ingin kalau keluar kepadamu semua itu dengan dada -
hati – yang selamat – yakni tenang.” Diriwayatkan oleh
Imam-imam Abu Dawud dan Tirmidzi.
CELANYA ORANG YANG BERMUKA DUA —
KEMUNAFIKAN —
1. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Engkau semua menemukan para manusia itu adalah sebagai
logam, mana yang pilihan di antara mereka di zaman
Jahiliyah, maka mereka itu pulalah yang merupakan pilihan
di zaman Islam, jikalau mereka pandai dalam agama.
Engkau semua menemukan sebaik-baik para manusia dalam
hal ini*- yakni mengenai pemerintahan dan kekhalifahanialah
yang paling tidak suka untuk menjabatnya. Engkau
semua akan menemukan seburuk-buruk para manusia ialah
orang yang bermuka dua – plin plan atau munafik, ia datang
di golongan orang-orang yang sini dengan muka yang
satunya dan datang kepada golongan orang-orang yang sana
dengan muka yang lainnya.” (Muttafaq ‘alaih)
* Al-Qadhi berkata: “Hal yang dimaksudkan di sini dapat
diihtimalkan, maknanya ialah urusan Agama Islam, sebagaimana
halnya Umar bin al-Khaththab r.a. dan Iain-Iain yang seumpama
dengannya. Mula-mula ia sangat membenci Islam dengan kebencian
yang amat sangat, tetapi setelah masuk Islam ia berikhlas hati dan
rnencintainya secara luarbiasa dan berjihad untuknya dengan jihad
yang sebenar-benarnya. Tetapi dapat diihtimalkan pula bahwa
maksudnya ialah urusan pemerintahan dan kekuasaan negara,
sebab jikalau seseorang diberi kekuasaan itu tanpa ia memintanya,
maka ia akan memperoleh pertolongan untuk itu yakni inayat dari
Allah Ta’ala.” Intaha dari syarah Muslim.
2. Dari Muhammad bin Zaid bahwasanya ada beberapa orang
berkata: kepada nenek lelakinya yakni Abdullah bin Umar
radhiallahu ‘anhuma: “Sesungguhnya kita semua masuk
menghadap sultan-sultan kita, lalu kita berkata kepada
mereka lain dengan yang kita bicarakan jikalau kita telah
keluar dari sisi mereka itu.” Abdullah bin Umar radhiallahu
‘anhuma berkata: “Kita meng-anggap hal yang semacam itu
sebagai suatu kemunafikan di zaman Rasulullah s.a.w. dulu.”
(Riwayat Bukhari)
HARAMNYA BERDUSTA
1. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya kata benar itu menunjukkan kepada
kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan
kepada syurga dan sesungguhnya seseorang itu niscayalah
berkata benar, sehingga dicatatlah ia di sisi Allah sebagai
seorang yang ahli berkata benar. Dan sesungguhnya kata
dusta itu menunjukkan kepada kecurangan dan
sesungguhnya kecurangan itu menunjukkan kepada neraka
dan sesungguhnya seseorang itu niscayalah berkata dusta
sehingga dicatatlah ia di sisi Allah sebagai seorang yang ahli
berkata dusta.” (Muttafaq ‘alaih)
2. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma
bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Empat macam perkara,
barangsiapa dalam dirinya terdapat semua perkara itu, maka
ia adalah seorang munafik murni dan barangsiapa yang
dalam dirinya terdapat salah satu daripada empat perkara
tadi, maka ia telah memiliki satu macam sifat dari
kemunafikan, sehingga ia meninggalkan sifat itu, yaitu:
apabila ia dipercaya berkhianat, apabila berkata berdusta,
apabila berjanji bercidera – menyalahi janjinya – dan apabila
bertengkar, jahat kelakuannya.” (Muttafaq ‘alaih)
3. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dari Nabi s.a.w.
sabdanya: “Barangsiapa yang mengaku-aku bermimpi
melihat sesuatu yang sebenarnya tidak dilihatnya dalam
impian, maka ia akan dipaksa untuk mengikatkan dua biji
syair, tetapi ia tidak kuasa untuk melakukannya dan
barangsiapa yang mencuri untuk mendengar pembicaraan
sesuatu kaum, sedangkan mereka benci kalau hal itu
didengar olehnya, maka dituangkanlah di kedua telinganya
itu timah yang cair pada hari kiamat.
Juga barangsiapa yang menggambar sesuatu gambaran -
yang mempunyai ruh dan berbentuk jisim, maka ia akan
disiksa dan dipaksa untuk meniupkan ruh di dalam
gambarannya itu, sedangkan ia tidak kuasa meniupkan ruh
di dalamnya.” (Riwayat Bukhari)
Tahallama yaitu berkata bahwasanya ia bermimpi dalam tidurnya
dan melihat demikian dan demikian, padahal sebenarnya ia
berdusta – yakni tidak bermimpi sedemikian itu. Al-anuk dengan
dibaca mad dan dhammahnya nun ringannya kaf – yakni tidak
disyaddah – ialah timah yang dicairkan – yakni panas sekali.
4. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Nabi s.a.w.
bersabda: “Sesangat-sangatnya dusta yang diperbuat ialah
apabila seseorang itu mengaku bahwa kedua matanya
melihat sesuatu – dalam impian – yang sebenarnya tidak
dilihat – atau diimpikan.” (Riwayat Bukhari)
Maknanya ialah bahwa ia mengatakan: “Saya bermimpi melihat
sesuatu,” padahal tidak dilihatnya – yakni tidak diimpikannya.
5. Dari Samurah bin Jundub ra., ia berkata: Rasulullah saw.
sering bertanya kepada para sahabatnya: “Adakah salah
seorang dari kalian yang bermimpi?” Maka para sahabatpun
menceritakan kepada beliau apa yang diimpikannya. Pada
suatu pagi beliau bersabda kepada kami: “Tadi malam ada
dua orang yang mendatangiku dan berkata: “Marilah kita
pergi,” dan akupun pergi bersama dengan kedua orang itu. Di
dalam perjalanan itu kami mendapatkan seseorang yang
berbaring di dekatnya ada seorang lagi yang berdiri dengan
memegang batu yang cukup besar, lantas ia memukulmukulkan
batu itu ke kepala orang yang berbaring, sehingga
remuklah kepala dan batu itu menggelinding ke sana kemari,
setelah kepala yang tadinya remuk itu pulih kembali maka
orang yang berdiri itu mengambil batu tersebut dan berbuat
seperti yang diperbuat sebelumnya. Aku bertanya kepada
kedua orang itu: Maha Suci Allah, apakah ini? Tetapi kedua
orang itu berkata kepadaku: “Marilah kita pergi, marilah kita
pergi.” Maka kamipun melanjutkan perjalanan. Kemudian
saya mendapatkan seseorang yang berbaring terlentang,
sedang di dekatnya ada orang lain yang berdiri dengan
memegang semacam gergaji dari besi, kemudian ia
membelah salah satu sisi mukanya yaitu dari mulut sampai ke
tengkuknya, dari hidung sampai ke tengkuknya, kemudian
pada sisi muka yang lain dengan perlakuan yang sama
dengan sisi muka yang pertama. Apabila telah selesai, maka
muka itu utuh kembali dan apabila sudah utuh maka
diperlakukan lagi seperti sebelumnya. Aku (Nabi saw.)
bertanya: Maha Suci Allah, siapakah orang-orang itu? Tetapi
orang itu berkata: “Marilah kita pergi, mari kita pergi.” Maka
kamipun melanjutkan perjalanan, kemudian kami
mendapatkan semacam tungku yang sangat besar dan aku
mendengar bahwa di situ ada ribut-ribut dan suara-suara
yang mengerikan, kemudian aku melihatnya, dan di situ ada
orang-orang laki-laki dan perempuan yang telanjang serta
dinyalakanlah api dari bawah, apabila api itu didekatkan
kepada mereka, maka menjeritlah mereka itu. Aku bertanya:
“Siapakah mereka itu? Tetapi kedua orang itu berkata:
“Marilah kita pergi, marilah kita pergi.” Maka kamipun
melanjutkan perjalanan, kemudian kami mendapatkan sungai
yang berwarna merah seperi darah, dan di dalam sungai itu
ada orang yang sedang berenang, dan di tepi sugai itu ada
orang yang mengumpulkan batu. Apabila orang yang
berenang itu sudah sampai di tepi, maka orang yang
mengumpulkan batu itu mendekatinya kemudian ia membuka
mulutnya lantas dimasukkanlah batu itu ke dalam mulutnya.
Setelah itu ia kembali lagi berenang dan kembali lagi ke tepi
setiap kali ia kembali ke tepi ia membuka mulutnya lantas
dimasukkanlah batu ke dalam mulutnya. Aku bertanya kepada
kedua orang itu: Siapakah orang-orang itu? Tetapi kedua
orang itu berkata kepadaku: “Mari kita pergi, mari kita pergi.”
Maka kamipun melanjutkan perjalanan, kemudian kami
mendapatkan seseorang yang sangat kejam dan didekatnya
ada api yang menyala dan selalu mengelilinginya. Aku
bertanya kepada kedua orang tua itu: “Siapakah ini?” tetapi
kedua orang itu berkata kepadaku: “Marilah kita pergi,
marilah kita pergi.” Maka kami pun melanjutkan, kemudian
kami pun melanjutkan perjalanan, kemudian kami
mendapatkan sebuah taman yang luas, di situ penuh dengan
berbagai macam bunga, dan ada orang tinggi yang hampir
saja aku tidak bisa melihat kepalanya karena sangat
tingginya, dan di sekitar itu banyak anak yang belum pernah
aku lihat sebelumnya. Aku bertanya kepada kedua orang itu:
“Siapakah orang itu, dan siapakah anak-anak itu? Tetapi
kedua orang itu berkata kepadaku: “Marilah kita pergi,
marilah kita pergi.” Maka kamipun melanjutkan perjalanan,
kemudian kami mendapatkan sebuah pohon yang sangat
besar dan sangat indah yang belum aku lihat ada pohon yang
besar dan melebihi pohon itu. Kedua orang itu berkata
kepadaku: “Marilah kita naik.” Maka kami pun menaiki pohon
itu, kemudian kami mendapatkan sebuah istana yang terbuat
dari batu emas dan permata, kami mendekati dan mengetuk
pintu gerbang istana itu, lantas dibukalah pintu dan kami pun
masuk ke dalamnya. Di situ kami disambut oleh orang-orang
yang sangat tampan, tetapi, ada juga orang-orang yang
sangat jelek/ kedua orang itu berkata kepada orang-orang
yang jelek: “Pergi dan mandilah di sungai itu.” Di situ
memang terdapat sungai yang melintang di mana airnya
sangat jernih. Maka mereka pun pergi dan mandi di sungai
itu. Setelah selesai mandi, mereka datang kepada kami dan
mereka sudah tidak jelek lagi, bahkan mereka sudah sangat
tampan. Kedua orang yang membawa aku berkata ini adalah
surga ‘Adn, inilah tempat tinggalmu nanti.” Kemudian aku
melihat ke atas, dan kulihat sebuah mahligai seperti awan
putih. Kedua orang itu berkata kepadaku “Inilah tempat
tinggalmu,” aku berkata kepada kedua orang itu Semoga
Allah selalu memberkahi kalian berdua, tinggalkanlah aku
karena akan masuk ke mahligai itu. Kedua orang itu berkata:
“Kalau sekarang belum saatnya kamu memasukinya.” Aku
berkata kepada kedua orang itu: sejak tadi aku melihat
beberapa keajaiban, maka apakah arti sebenarnya keajaibankeajaiban
itu? Kedua orang itu berkata kepadaku: “Kini akan
kuterangkan kepadamu. Adapun yang pertama, seseorang
yang kepalanya dipukuli dengan batu, itu adalah seseorang
yang mempelajari dan mengerti Al qur’an kemudian ia tidak
mengamalkan isinya, dan orang yang suka meninggalkan
shalat fardhu. Adapun orang yang dibelah dari mulut sampai
ke tengkuknya, itu adalah orang yang suka membuat berita
bohong sehingga berita itu sampai tersiar kemana-mana.
Adapun orang laki-laki dan perempuan yang telanjang di atas
semacam tungku, mereka adalah orang-orang yang berbuat
zina baik laki-laki maupun perempuan. Adapun yang
berenang di dalam sungai kemudian dimasukkanlah batu ke
dalam mulutnya, ia adalah orang yang makan riba. Adapun
orang sangat tinggi yang berada di taman, ia adalah Nabi
Ibrahim, adapun anak-anak yang berada di sekitarnya,
mereka adalah anak-anak yang mati dalam keadaan bersih
(anak-anak yang mati ketika masih kecil).” Di dalam riwayat
Al Barqaniy dikatakan: “Anak yang dilahirkan dalam keadaan
bersih.” Adapun orang yang sebagian sangat tampan dan
sebagian jelek, mereka adalah orang-orang yang
mencampuradukkan amal shaleh dan perbuatan jahat
kemudian Allah mengampuni dosa-dosa mereka.” (HR.
Bukhari)
6. Di dalam riwayat Bukhari yang lain dikatakan bahwa Nabi
saw. bersabda: “Tadi malam aku bermimpi ada dua orang
yang mengajak aku ke tanah suci. Kemudian aku berjalan dan
mendapatkan sebuah bejana seperti tungku yang di sebelah
atas nampak sempit dan sebelah bawah nampak luas, dimana
di bawahnya dinyalakan api, apabila api itu nyala maka
bejana beserta isinya naik, dan apabila api itu padam maka
bejana beserta isinya itu turun kembali. Bejana itu berisi
orang laki-laki dan perempuan yang telanjang. Kemudian
kami mendapatkan sebuah sungai dari darah, di situ ada
orang yang yang berada di tengah-tengah sungai dan ada
yang berada di tengah sungai itu selalu berusaha untuk
keluar, tetapi apabila ia sampai di tepi dan akan keluar, maka
orang yang berada di tepi itu melemparkn batu ke mulutnya
sehingga ia kembali lagi ke tengah. Kemudian kedua orang itu
membawa aku naik ke sebuah pohon dan memasukkan aku
ke sebuah rumah yang belum pernah aku lihat ada rumah
yang lebih baik daripadanya, di situ ada orang yang tua dan
masih muda. Kemudian aku melihat ada orang yang merobekrobek
mulutnya yaitu orang yang suka berdusta dimana ia
membuat berita bohong kemudian disebarluaskan ke seluruh
penjuru, maka ia akan selalu disiksa sampai hari kiamat.
Kemudian kami melihat ada orang yang dipecahkan
kepalanya, maka itu adalah orang yang dikaruniai oleh Allah
kepandaian memahami Al Qur’an tetapi ia tidak mau
mengamalkannya, oleh karenanya ia akan disiksa sampai hari
kiamat. Adapun rumah pertama yang kamu masuki maka itu
adalah rumah kaum mukminin pada umumnya, sedangkan
rumah ini adalah rumah orang-orang yang mati syahid. Aku
adalah Jibril dan ini adalah Mikail. “Angkatlah kepalamu.”
Maka akupun mengangkat kepalaku, dan tiba-tiba di atasku
ada semacam awan. Keduanya berkata: “Itulah tempatmu.”
Aku berkata: Tinggalkanlah aku karena aku akan memasuki
rumahku.” Keduanya berkata: “Sesungguhnya masih ada sisa
umurmu yang belum kamu sempurnakan, apabila kamu
sudah menyempurnakannya maka pasti kamu akan datang
ketempatmu itu.” (HR. Bukhari)
DUSTA YANG DIPERBOLEHKAN
Ketahuilah, bahwasanya dusta itu pada dasarnya adalah
diharamkan, tetapi dalam beberapa hal diperbolehkan. Perkataan
merupakan sarana untuk menyampaikan maksud. Apabila
maksud tujuannya itu baik dan dapat dicapai dengan tanpa
berdusta, maka menyampaikan dengan berdusta itu hukumnya
haram. Tetapi apabila tidak bisa disampaikan kecuali harus
berdusta, maka berdusta dalam hal ini diperbolehkan. Bahkan
dalam hal ini ada dusta yang diwajibkan, misalnya ada orang
Islam bersembunyi dari orang yang menganiayanya dimana ia
akan membunuhnya atau akan merampas hartanya, maka bagi
orang yang ditanya tentang orang Islam tersebut maka ia wajib
berdusta (mislanya: dengan mengatakan tidak tahu walaupun
sebenarnya ia mengetahuinya), begitu pula apabila seseorang
dititipi sesuatu kemudian ada seseorang yang bermaksud
merampoknya, maka ia wajib berdusta. Hal ini berdasarkan
hadis berikut:
1. Dari Ummu Kultsum ra. bahwasanya ia mndengar Rasulullah
saw. bersabda: “Tidaklah dinamakan berbohong, orang yang
mendamaikan sengketa di antara manusia. Ia menyampaikan
kebaikan atau mengucapkan perkataan yang mendatangkan
kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Muslim terdapat tambahan, bahwasanya Ummu
Kultsum berkata: “Saya tidak pernah mendengar Rasulullah saw.
memberikan kemurahan dalam masalah ucapan manusia (kaum
muslimin), kecualil dalam tiga hal, dalam keadaan perang,
mendamaikan sengketa manusia serta omongan lelaki kepada
istrinya, dan omongan perempuan kepada suaminya.”
ANJURAN BERHATI-HATI DALAM PERKATAAN
1. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Nabi saw. bersabda:
“Cukuplah seseorang disebut pendusta, jika ia menceritakan
sagala apa yang tidak ia dengar.” (HR. Muslim)
2. Dari Samurah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
“Barangsiapa menceritakan dariku suatu hadis yang ia ketahui
itu bohong, maka ia adalah salah seorang pembohong.” (HR.
Muslim)
3. Dari Asma’ ra. bahwasanya ada seorang perempuan
bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya adalah
seorang istri yang dimadu, apakah saya berdosa apabila saya
berlagak puas terhadap suamiku dalam hal apa yang tidak
diberikan oleh suamiku?” Kemudian Nabi saw. bersabda:
“Orang yang berlagak puas dalam segala hal yang tidak
diberikan kepadanya seperti orang yang memakai pakaian
palsu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
HARAM MENJADI SAKSI PALSU
1. Dari Abu bakar ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
“Maukah kalian aku beritahu tentang dosa yang paling besar
di antara dosa-dosa besar?” Kami(para sahabat) menjawab:
“Mau, ya Rasulullah.” Beliau bersabda: “Yaitu menyekutukan
Allah dan mendurhakai kedua orang tua.” Beliau semula
bersandar, lalu duduk seraya meneruskan sabdanya: “Ingat,
ingatlah! Juga (termasuk dosa besar) persaksian palsu.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
HARAM MENGUTUK ORANG ATAU BINATANG
1. Dari Abu Zaid bin Tsabit bin Adh-Dahhak Al Anshariy ra. yang
termasuk sahabat pengikut Bai’atur Ridhwan, berkata:
Rasulullah saw. bersabda: “Rasulullah saw. bersabda:
“Barangsiapa bersumpah dengan agama selain Islam
sedangkan ia sengaja berdusta, maka ia seperti apa yang
diucapkannya. Barangsiapa membunuh dirinya sendiri, maka
nanti pada hari kiamat ia akan disiksa. Seseorang tidak
berkewajiban untuk menunaikan nadzar dalam apa yang tidak
dimilikinya. Dan mengutuk orang mukmin, sama seperti
membunuhnya (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:
“Tidak patut bagi orang-orang jujur, menjadi pengutuk.” (HR.
Muslim)
3. Dari Abud Darda’ ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
“Orang-orang yang suka mengutuk tidak bisa menjadi
penolong (pemberi syafaat) dan tidak bisa menjadi saksi pada
hari kiamat.” (HR. Muslim)
4. Dari Samurah bin Jundub ra., ia berkata: Rasulullah saw.
bersabda: “Janganlah kalian mengutuk dengan kutukan Allah,
murka Allah, atau api neraka.” (HR. Abu Dawud dan
Turmudzi)
5. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
“Orang mukmin bukanlah orang yang suka menghina, suka
mengutuk, suka melakukan perbuatan keji dan mengatakan
perkataan yang kotor.” (HR. Turmudzi)
6. Dari Abud Darda’ ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya apabila ada seseorang mengutuk sesuatu,
maka kutukan itu naik ke langit tetapi pintu-pintu itu ditutup
tidak mau menerima kutukan tersebut, kemudian kutukan itu
turun ke bumi tetapi pintu-pintu bumi itu ditutup tidak mau
menerima kutukan tersebut, kemudian kutukan itu tidak
mendapat tempat, maka ia mencari orang yang dikutuknya.
Apabila orang itu pantas mendapat kutukan, maka ia
menimpa orang itu, tetapi apabila orang itu tidak pantas
mendapat kutukan, maka ia kembali kepada orang yang
mengucapkan kutukan itu.” (HR. Abu Dawud)
7. Dari Imran bin Hushain ra., ia berkata: “Ketika Rasulullah
saw. sedang berada dalam perjalanan, ada seorang
perempuan dari golongan Anshar yang merasa jemu di atas
punggung unta, lalu ia megutuki unta itu. Mendengar kutukan
perempuan itu, Rasulullah saw. bersabda: “Kalian ambillah
apa yang ada padanya dan tinggalkanlah dia karena ia
terkutuk.” Imran berkata: “Seakan-akan aku melihatnya
sekarang, ia (perempuan itu) berjalan di antara manusia,
tanpa seorangpun memperhatikannya.” (HR. Muslim)
8. Dari Abu Barzah Nadilah Ibnu Ubaid Al Islamiy ra., ia berkata:
“Seorang perempuan muda di atas unta yang dimuati
sebagian perbekalan rombongan. Tiba-tiba ia melihat Nabi
saw., tetapi gunung menyulitkan mereka. Perempuan itu
menghardik: “Husy! Mudah-mudahan Allah melaknati unta
ini.” Nabi saw. bersabda: “Janganlah unta yang mendapati
laknat menyertai kami.” (HR. Muslim)
BOLEH MENGUTUK ORANG YANG SUKA
MAKSIAT
1. Disebutkan di dalam hadis sahih bahwasanya Rasulullah saw.
bersabda: “Allah mengutuk orang yang menyambung rambut
dan yang minta disambung rambutnya, orang yang memakan
riba, orang-orang yang suka menggambar dan orang yang
suka merusak tugu penunjuk jalan.” Rasulullah saw.
bersabda: “Allah mengutuk orang yang mencuri walaupun ia
hanya mencuri telur, dan melaknat orang yang mengutuk
kedua orang tuanya, dan mengutuk orang yang menyembelih
binatang bukan karena Allah.” Rasulullah saw. bersabda:
“Barangsiapa mengada-ada dalam urusan agama, maka ia
mendapatkan kutukan Allah, malaikat dan semua manusia.”
Rasulullah saw. pernah berdoa: “Ya Allah, kutuklah Ri’lan,
Dazkwan dan Ushayyah dimana mereka durhaka kepada Allah
dan Rasul-Nya. Mereka adalah nama tiga suku bangsa Arab.
Rasulullah saw. bersabda: “Allah mengutuk orang-orang
Yahudi yang menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai
masjid, dan sesungguhnya Allah mengutuk orang laki-laki
yang menyerupakan dirinya dengan orang perempuan dan
orang perempuan yang menyerupakan dirinya dengan orang
laki-laki.”
Semuanya tersebut di atas adalah hadis sahih, yang sebagian
berada dalam sahih Bukhari dan Muslim, dan sebagian yang lain
berada dalam salah satu dari kedua sahih itu.
HARAM MENGUMPAT ORANG ISLAM
1. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
“mencaci maki orang Islam adalah suatu kefasikan, dan
membunuh orang Islam adalah kekafiran.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
2. Dari Abu Dzarr bahwasanya ia mendengar Rasulullah saw.
bersabda: “Seseorang yang melempar tuduhan (mengatakan)
kepada orang lain dengan sebutan fasik atau kafir, pasti
ucapan itu terbalik kepadanya, apabila temannya (yang
dikatai) tidaklah demikian (tidak fasik atau kafir).” (HR.
Bukhari)
3. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:
“Dua orang yang saling mencaci-maki, dosa cacian yang
mereka ucapkan ditimpakan kepada mereka berdua, sampai
orang yang teraniaya (orang yang mulai dimaki) melampaui
batas.” (HR. Muslim)
4. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Ada seseorang yang
meminum minuman keras dibawa ke hadapan Nabi saw.,
kemudian beliau bersabda: “Pukullah orang ini.” Abu Hurairah
berkata: “Di antara kami ada yang memukul dengan
sandalnya dan ada yang memukul dengan kainnya.” Ketika ia
beranjak untuk pergi, ada seseorang berkata: “Semoga Allah
merendahkan harga dirimu.” Kemudian beliau bersabda:
“Janganlah kalian berkata seperti itu, janganlah kalian
membantu setan dalam merusak nama baiknya.” (HR.
Bukhari)
5. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah
saw. bersabda: “Barangsiapa yang menuduh budaknya
dengan berzina, maka nanti pada hari kiamat ia akan
dihukum dera, kecuali bila budaknya itu benar-benar berzina.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
HARAM MENCACI ORANG YANG SUDAH MATI
1. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
“Janganlah kalian memaki orang-orang mati, karena mereka
telah sampai pada amal yang mereka persembahkan (karena
itu, tidak ada gunanya memaki mereka).” (HR. Bukhari)
LARANGAN MENGGANGGU
1. Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra., ia berkata: Rasulullah saw.
bersabda: “Orang Islam adalah kaum muslimin yang terhindar
dari gangguan lidah dan tangannya; sedangkan orang yang
hijrah adalah orang yang meninggalkan segala apa yang
dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abdullah bin Amr ra., ia berkata: Rasulullah saw.
bersabda: “Barangsiapa yang ingin dijauhkan dari api neraka
dan dimasukkan ke dalam surga, hendaklah apa yang menjadi
angan-angannya itu benar-benar diusahakan, dimana ia harus
beriman kepada Allah dan hari akhir, serta berbuat senang
kepada orang lain, sebagaimana ia sendiri senang apabila
diperbuat seperti itu.” (HR. Muslim)
LARANGAN MEMBENCI DAN MEMUTUSKAN
TALI PERSAUDARAAN
1. Dari Anas ra. bahwasanya Nabi saw. bersabda: “Janganlah
kalian saling membenci, saling hasud, saling membelakangi,
dan saling memutuskan tali persaudaraan, tetapi jadilah
kalian hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim tidak
diperbolehkan mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:
“Pintu-pintu surga itu dibuka setiap hari Senin dan Kamis,
kemudian pada hari itu diampunilah dosa setiap hamba yang
tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, kecuali
orang yang berselisih dengan saudaranya, dimana dikatakan:
“tunggulah dua orang ini sampai damai.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat yang lain dikatakan: “Amal-amal perbuatan itu
dihadapkan setiap hari Senin dan Kamis…” (dan seterusnya seperti
tersebut di atas).
HARAM DENGKI
1. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Nabi saw. bersabda:
“Jauhilah oleh kalian sifat dengki , karena sesungguhnya sifat
dengki itu dapat menghabiskan amal-amal kebaikan,
sebagaimana api itu dapat menghabiskan kayu bakar.” Atau
beliau bersabda: “Dapat menghabiskan rumput.” (HR. Abu
Dawud) Bab Haram Dengki hal 460
LARANGAN MENCARI-CARI KESALAHAN DAN
MENDENGARKAN BICARA ORANG LAIN
1. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:
“Jauhilah oleh kalian berprasangka, karena berprasangka
merupakan seburuk-buruk pembicaraan; serta janganlah
kalian meraba-raba dan mencari-cari kesalahan orang lain.
Janganlah kalian saling berdebat, saling hasud-menghasud,
saling benci-membenci dan saling belakang-membelakangi,
tetapi jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara
sebagaimana yang diperintahkan kepada kalian. Orang Islam
adalah saudara bagi orang Islam yang lain, tidak boleh saling
menganiaya, membiarkan, mendustakan dan saling
menghina. Takwa itu disini, dan (sambil) beliau
mengisyaratkan (menunjuk) ke dadanya tiga kali. Cukuplah
seseorang dikatakan orang jahat (buruk perangai) apabila dia
menghina saudaranya yang Islam. Setiap orang Islam
terhadap orang Islam yang lain adalah haram darahnya,
kehormatannya dan hartanya. Sesungguhnya Allah idak
memandang tubuh, rupa, dan amal-amal perbuatanmu, tetapi
Allah memandang hatimu.”
Dalam riwayat yang lain dikatakan: “Dan janganlah kalian saling
hasud menghasud, saling benci-membenci, serta janganlah kalian
saling meraba-raba kesalahan orang lain dan saling jelekmenjelekkan,
tetapi jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara.”
Dalam riwayat lain dikatakan: “dan janganlah kalian saling
memutuskan tali persaudaraan, saling belakang-membelakangi,
saling benci-membenci dan saling hasud-menghasud, dan jadilah
kalian hamba yang Allah yang bersaudara.”
Dalam riwayat lain dikatakan: “Janganlah kalian saling diammendiamkan,
dan janganlah sebagian dari kalian berjual-beli atas
jual beli orang lain.” (Diriwayatkan oleh Muslim, tetapi sebagian
besar diriwayatkan oleh Bukhari)
2. Dari Mu’awiyah ra., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah
saw. bersabda: “Sesungguhnya apabila kamu selalu mencaricari
aib kaum muslimin, berarti kamu akan menjatuhkan
mereka atau hampir menjatuhkan mereka.” (HR. Abu Dawud)
3. Dari Ibnu Mas’ud ra. bahwasanya ada seseorang yang
dihadapkan kepadanya, kemudian dikatakan bahwa si Fulan
itu jenggotnya masih meneteskan minuman keras, kemudian
Ibnu Mas’ud berkata: “Sesungguhnya kami telah dilarang
untuk mencari-cari kesalahan, tetapi kalau kami benar-benar
mengetahui adanya suatu penyelewengan, maka kami pasti
akan menghukumnya.” (HR. Abu Dawud)
L
ARANGAN BERBURUK SANGKA
1. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:
“Jauhilah oleh kalian berprasangka, karena sesungguhnya
berprasangka merupakan sedusta-dusta pemibicaraan.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
HARAM MENGHINA ORANG ISLAM
1. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:
“Cukuplah seseorang dikatakan orang jahat (buruk perangai)
apabila ia menghina saudaranya yang Islam.” (HR. Muslim)
2. Dari Ibnu Mas’ud ra. dari Nabi saw., beliau bersabda: “Tidak
akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sifat
sombong sebesar atom.” Kemudian ada seseorang berkata:
“Sesungguhnya seseorang itu suka memakai pakaian yang
bagus dan sandal (sepatu) yang bagus.” Beliau lantas
bersabda: “Sesungguhnya Allah itu indah dan suka pada
kindahan. Sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan
sesama manusia.” (HR. Muslim)
3. Dari Jundub bin abdullah ra., ia berkata: Rasulullah saw.
bersabda: “Ada seseorang berkata: Demi Allah, Allah tidak
akan berkenan mengampuni dosa si Fulan.” Kemudian Allah
Azza wa Jalla berfirman: “Siapakah yang bersumpah atas
nama-Ku bahwa Aku tidak berkenan mengempuni dosa si
Fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuni dosa si Fulan,
dan Aku telah menghapus amal kebaikanmu.” (HR. Muslim)
Bab Haram Menghina Orang Islam hal. 465
LARANGAN MEMPERLIHATKAN KEGEMBIRAAN
DALAM KESUSAHAN
1. Dari Watsilah bin Al Asqa’ ra., ia berkata: Rasulullah saw.
bersabda: “Janganlah kamu memperlihatkan kegembiraan
dalam kesusahan yang menimpa saudaramu, maka Allah akan
mengasihani saudaramu itu dan akan memberi cobaan
kepadamu.” (HR. Muslim)
HARAM MENGHINA NASAB
1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
Ada dua hal di dalam diri manusia yang dapat mengakibatkan
kufur, yaitu menghina nasab dan meratapi orang yang
meninggal dunia.” (HR. Muslim)
LARANGAN MENIPU
1. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:
“Barangsiapa mengangkat senjata kepada kami (durhaka
keluar dari jamaah kaum muslimin), bukanlah termasuk
golongan kami. Dan barangsiapa menipu kami, maka
bukanlah termasuk golongan kami.” (HR. Muslim)
2. Dalam riwayat lain dikatakan, suatu ketika Rasulullah saw.
lewat pada setumpukan makanan, lalu beliau memasukkan
tangan beliau ke dalam makanan itu. Tangan beliau
menemukan kelembaban (kebasahan), beliau bertanya: “Apa
ini, hai pemilik makan?” Pemilik makanan menjawab:
“Terkena hujan wahai Rasulullah.” Rasulullah saw. bersabda:
“Mengapa tidak kamu letakkan di atas makanan, sehingga
orang-orang mengetahuinya (dan tidak tertipu, kelihatannya
kering tetapi di bawah basah). Barangsiapa berbuat curang
kepada kami, maka bukanlah termasuk golongan kami.”
3. Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda:
“Janganlah kalian menawar barang dagangan dengan maksud
untuk menipu orang lain”(HR. Bukhari dan Muslim)
4. Dari Ibnu Umar ra. bahwasannya Rasulullah saw. melarang
menawar barang dengan maksud untuk menipu orang
lain.”(HR. Bukhari dan Muslim)
5. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata: Bahwasannya ada seseorang
bercerita kepada Rasulullah saw. bahwa dirinya ditipu di
dalam berjual beli, kemudian Rasulullah saw. bersabda:
“Barangsiapa yang berjual beli, maka katakanlah tidak boleh
ada penipuan.”(HR. Bukhari dan Muslim)
6. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
“Barangsiapa mengganggu dan menipu isteri atau budak
orang lain, maka bukanlah ia termasuk golongan kami.”(HR.
Abu Dawud)
HARAM BERKHIANAT
1. Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra. bahwasannya Rasulullah
saw. bersabda: “Ada empat hal yang barangsiapa terjatuh ke
dalamnya, berarti ia adalah orang munafik sejati. Dan
barangsiapa terjerumus salah satu di antara empat hal itu,
berarti dalam dirinya terdapat salah satu sifat kemunafikan,
sampai ia mau meninggalkan sifat itu. Empat hal (sifat) itu;
apabila dipercaya, ia berkhianat. Apabila berbicara, ia
berdusta, apabila berjanji, ia ingkar dan apabila bermusuhan,
ia berbuat jahat.”(HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar dan Anas ra., mereka berkata:
Nabi saw. bersabda: ”Setiap pengkhianat, pada hari kiamat
nanti mempunyai sebuah bendera yang bertuliskan: Inilah
pengkhianatan Fulan.”(HR. Bukhari dan Muslim)
3. Dari Abu Sa’id Al Khudriy ra. bahwasannya Nabi saw.
bersabda: ”Setiap pengkhianat, pada hari kiamat nanti
mempunyai sebuah bendera yang ditancapkan di pantatnya,
lantas dengan bendera itu ia ditarik ke atas sesuai dengan
pengkhianatannya. Ingatlah tiada pengkhianat yang lebih
jahat melebihi pemimpin rakyat yang berkhianat.”(HR.
Muslim)
4. Dari Abu Hurairah ra. Dari Nabi saw., beliau bersabda: ”Allah
Ta’ala berfirman: Ada tiga orang yang Aku memusuhi kelak
pada hari Kiamat, yaitu orang yang memberikan janji kepada-
Ku, kemudian melanggarnya, orang yang menjual orang yang
merdeka, lalu memakan hasil penjualannya, dan orang yang
menyewa buruh, lalu buruh itu meminta haknya, tetapi ia
tidak mau memberikan uang sewanya.”(HR. Bukhari)
LARANGAN MENGUNGKIT-NGUNGKIT
PEMBERIAN
1. Dari Abu Dzar ra. dari Nabi saw., beliau bersabda: ”Ada tiga
orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah nanti pada hari
Kiamat, Allah tidak akan melihat mereka dan tidak pula
mensucikan mereka, mereka akan mendapatkan siksa yang
pedih.” Rasulullah saw. menyabdakan ini tiga kali. Abu Dzar
berkata: ”Mereka sungguh kecewa dan rugi! Siapakah mereka
itu wahai Rasulullah ?” Rasulullah bersabda: ”Orang yang
menjuraikan pakaiannya karena congkak, orang yang suka
menyebut-nyebut kebaikan sendiri dan orang yang mengelola
perniagaannya dengan sumpah bohong.”(HR. Muslim)
Dalam riwayat yang lain dikatakan: ”Orang yang menjuraikan
pakaiannya,” yakni orang yang menjuraikan pakaiannya di bawah
mata kaki karena congkak.
LARANGAN SOMBONG DAN MEMBANGGAKAN
DIRI
1. Dari Iyadh bin Himar ra., ia berkata: Rasulullah saw.
bersabda: ”Sungguh, Allah mewahyukan kepadaku agar
kalian tawadhu’ (rendah hati), sampai seseorang tidak
membanggakan diri kepada orang lain dan seseorang tidak
bertindak sewenang-wenang kepada orang lain”(HR. Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. berkata :
”Apabila ada orang yang berkata manusia telah rusak! Maka
ia adalah yang paling rusak di antara manusia itu.”(HR.
Muslim)
HARAM MENDIAMKAN SESAMA MUSLIM LEBIH
DARI TIGA HARI
1. Dari Anas ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
”Janganlah kalian saling memutuskan tali persaudaraan,
janganlah saling belakang membelakangi, janganlah saling
benci-membenci dan janganlah saling hasud menghasud.
Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara. Dan tidaklah
dihalalkan bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya
lebih dari tiga hari.”(HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Ayyub ra. Bahwasannya Rasulullah saw. bersabda:
”Tidak dihalalkan bagi seorang muslim untuk mendiamkan
saudaranya lebih dari tiga hari, apabila keduanya bertemu
masing-masing saling membuang muka. Adapun yang paling
baik di antara keduanya adalah yang lebih dahulu
mengucapkan salam.”(HR. Bukhari dan Muslim)
3. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
”Amal-amal perbuatan itu dihadapkan setiap hari Senin dan
Kamis, kemudian Allah mengampuni setiap dosa orang yang
tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, kecuali
seseorang yang berselisih dengan saudaranya, dimana Allah
berfirman: Tunggulah dua orang ini sampai damai
kembali.”(HR. Muslim)
4. Dari Jabir ra., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw.
bersabda: ”Sesungguhnya setan telah berputus asa untuk
bisa disembah di Jazirah Arab, tetapi setan akan selalu
merusak hubungan baik di antara sesama bangsa Arab.”(HR.
Muslim)
5. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
”Tidak dihalalkan bagi setiap muslim untuk mendiamkan
saudaranya lebih dari tiga hari. Barangsiapa mendiamkan
saudaranya lebih dari tiga hari kemudian ia mati maka ia
masuk neraka.”(HR. Abu Dawud)
6. Dari Abu Khiras (Hadrad) bin Abu Hadrad Al Alsamiy, dan ada
yang menyebutnya dengan As Shahabiy ra. bahwasannya ia
mendengar Nabi saw. bersabda: ”Barangsiapa mendiamkan
saudaranya selama satu tahun, maka ia seperti
menumpahkan darahnya.” (HR. Abu Dawud)
7. Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda:
”Tidak dihalalkan bagi seorang mukmin untuk mendiamkan
sesama mukmin lebih dari tiga hari. Apabila telah lebih dari
tiga hari, maka hendaklah salah seorang di antara mereka
berdua menemui dan mengucapkan salam kepada yang lain.
Apabila yang lain mau menjawab salamnya, maka keduanya
telah sama-sama mendapatkan pahala, tetapi apabila yang
lain tidak mau membalas salamnya, maka ia telah
memborong doa dan orang yang mengucapkan salam itu
tidak bisa dikatakan mendiamkannya.”(HR. Abu Dawud)
Abu Dawud berkata: ”Apabila dalam mendiamkannya itu karena
Allah Ta’ala, maka ia tidak termasuk dalam hal ini (mendiamkan).”
LARANGAN BERBISIK BAGI DUA ORANG
DENGAN TIDAK MENYERTAKAN ORANG
KETIGA
1. Dari Ibnu Umar ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda:
”Apabila ada tiga orang, maka janganlah dua orang di antara
mereka itu berbisik-bisik tanpa mengikut sertakan orang
ketiga.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan ada tambahan
bahwasannya Abu Shalih bertanya kepada Ibnu Umar: ”Bagaimana
kalau ada empat orang?” Ibnu Umar menjawab: ”Tidak apa-apa.” Di
dalam kitab Al-Muwaththa’, Malik meriwayatkan hadis ini dari
Abdullah bin Dinar dimana ia berkata: ”Saya bersama-sama dengan
Ibnu Umar berada di rumah Khalid bin Ukbah yang berada di pasar,
kemudian ada seseorang yang bermaksud berbisik-bisik dengannya
dan tidak seorangpun di dekat Ibnu Umar kecuali saya, Ibnu Umar
lantas memanggil orang lain sehingga kami berempat. Ibnu Umar
berkata kepada saya dan kepada orang ketiga yang dipanggilnya
itu: ”Silakan kalian menyisih sebentar, karena sesungguhnya saya
mendengar Rasulullah saw. bersabda: ”Janganlah ada dua orang
berbisik-bisik tanpa mengikuti serta satu orang yang lain.”
Dari Ibnu Mas’ud ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda:
”Apabila kalian bertiga, maka janganlah dua orang berbisik-bisik
tanpa mengikut sertakan yang lain, sehingga kalian berkumpul
dengan orang banyak, karena yang demikian itu bisa
menyusahkan orang yang tidak diajak berbisik-bisik.”(HR.
Bukhari dan Muslim)
LARANGAN MENYIKSA BUDAK DAN BINATANG
1. Dari Ibnu Umar ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda:
”Ada seorang perempuan yang masuk neraka disebabkan
karena masalah kucing, dimana ia mengurungnya sampai
kucing itu mati, ia tidak memberi makan dan minum kepada
kucing itu padahal ia mengekangnya, dan ia tidak mau
melepaskan kucing itu agar dapat mencari makan (yang
berupa) serangga atau binatang-binatang kecil lainnya di
bumi ini.”(HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Ibnu Umar ra. Bahwasannya ia bertemu dengan pemudapemuda
Quraisy yang memasang burung sebagai sasaran
memanah, tetapi masing-masing dari anak panahnya tidak
ada yang tepat mengenai sasarannya. Ketika mereka melihat
Ibnu Umar, mereka memencarkan diri. Kemudian Ibnu Umar
berkata: ”Siapa yang berbuat seperti ini? Allah mengutuk
orang yang berbuat seperti ini. Sesungguhnya Rasulullah saw.
mengutuk orang yang mempergunakan sesuatu yang
bernyawa untuk dijadikan sasaran.”(HR. Bukhari dan Muslim)
3. Dari Anas ra., ia berkata: ”Rasulullah saw. melarang
menganiaya binatang yang akan dibunuh.”(HR. Bukhari dan
Muslim)
4. Dari Abu Ali Suwwaid bin Muqarrin ra. Ia berkata:
”Sebagaimana diketahui kami adalah tujuh bersaudara dari
putera Muqarrin, kami hanya mempunyai seorang pelayan
(budak). Suatu ketika adik kami yang terkecil menampar
budak itu, kemudian Rasulullah saw. menyuruh kami untuk
memerdekakannya.”(HR. Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan: ”Adik saya yang ke tujuh.”
5. Dari Abu Mas’ud Al Badriy ra., ia berkata: ”Aku pernah
memukul budakku dengan cambuk, lalu aku mendengar suara
dari belakangku: ”Ketahuilah wahai Abu Mas’ud.” Aku tidak
paham suara itu, karena kemarahan. Tatkala semakin dekat
kepadaku, ternyata ia adalah Rasulullah saw. ketika itu beliau
bersabda: ”Ketahuilah wahai Abu Mas’ud! Sungguh, Allah
lebih kuasa atas dirimu, daripada kamu atas budak ini.” Aku
(Abu Mas’ud) berkata: ”Aku tidak akan memukul budak lagi
setelah kejadian ini.” Dalam riwayat : ”Wahai Rasulullah, dia
(budak yang dipukul) merdeka, karena (aku) mengharapkan
ridha Allah.” Rasulullah saw. bersabda: ”Sungguh, seandainya
kamu tidak lakukan itu (memerdekakan budak), niscaya api
neraka membakarmu.”(HR. Muslim)
6. Dari Ibnu Umar ra. Bahwasannya Nabi saw. bersabda:
”Barangsiapa memukul budaknya sebagai hukuman apa yang
tidak diperbuatnya, atau menamparnya, maka kafarat
(denda)nya adalah memerdekakan budak itu.”(HR. Muslim)
7. Dari Hikam bin Hasim bin Hisyam ra. bahwasannya ketika ia
berjalan di Syam, ia melihat ada beberapa petani yang
dijemur diterik matahari dan dituangkanlah minyak pada
kepala mereka. Kemudian Hisyam berkata: „Kenapa mereka
diperlakukan seperti itu?“ Ada seorang menjawab:“Mereka
disiksa karena tidak mau membayar pajak.“ Dalam riwayat
lain dikatakan: ”Mereka ditawan karena tidak mau membayat
pajak.” Kemudian Hisyam berkata: ”Saya bersaksi
bahwasannya saya benar-benar mendengar Rasulullah saw.
Bersabda: ”Sesungguhnya Allah akan menyiksa orang-orang
yang menyiksa sesama manusia di dunia.” Hisyam lantas
masuk ke rumah Gubernur dan membicarakan apa yang
terjadi serta memerintahkan agar mereka segera dilepaskan,
maka mereka pun lantas dilepaskan.”(HR. Muslim)
8. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata: ”Rasulullah saw. melihat
seekor himar (keledai) yang diberi tanda (dicap dengan besi
panas) mukanya. Rasulullah mencela hal itu, beliau bersabda:
”Demi Allah, aku tidak akan menandai himar, kecuali ditempat
paling jauh dari wajah (muka).” Dan beliau menyuruh
membawa keledai beliau, lalu menandainya pada kedua
pangkal pahanya. Maka beliau adalah orang yang pertama
menandai pada kedua pangkal pahanya.”(HR. Muslim)
9. Dari Ibnu Abbas ra. bahwasannya suatu ketika ada seekor
himar (keleda) yang dicap di mukanya lewat di hadapan Nabi
saw., kemudian beliau bersabda: ”Mudah-mudahan Allah
melaknati orang yang memberinya tanda (dengan besi
panas).”(HR. Muslim)
Dalam riwayat Muslim yang lain dikatakan: ”Rasulullah saw.
melarang memukul pada muka (wajah) dan memberi tanda dengan
besi panas pada muka.”
HARAM MENYIKSA SESUATU DENGAN API
1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. mengutus
kami dalam suatu pasukan dan bersabda: ”Apabila kalian
mendapat Fulan dan Fulan dua orang Quraisy yang beliau
sebutkan namanya – maka bakarlah dengan api.” Kemudian
ketika kami hendak berangkat, beliau bersabda: ”Aku tadi
menyuruh kalian untuk membakar Fulan dan Fulan, maka
sesungguhnya tidak pantas menyiksa dengan api kecuali
Allah. Oleh karena itu, apabila kalian mendapatkan kedua
orang itu, maka bunuhlah mereka.”(HR. Bukhari)
2. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata: ”Ketika kami bersama
dengan Rasulullah saw. dalam suatu perjalanan yang beliau
berhajat (ke belakang) tiba-tiba kami melihat seekor burung
yang mempunyai dua anak, kemudian kami mengambil kedua
anaknya itu, lantas induknya datang dengan berputar-putar,
kemudian Nabi saw. datang dan bersabda: ”Siapakah yang
mempermainkan burung itu dengan mengambil anaknya?”
Kami menjawab: ”Kami” Beliau bersabda: ”Sesungguhnya
siapa pun tidak pantas menyiksa dengan api kecuali Tuhannya
api (Allah) itu sendiri.”(HR. Abu Dawud)
HARAM MENANGGUHKAN UTANG BAGI
ORANG YANG MAMPU
1. Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda:
”Penangguhan orang yang berkecukupan adalah zalim. Dan
apabila salah seorang diantara kalian dipindahkan utangnya
kepada orang lain, maka hendaklah ia suka
memindahkan.”(HR Bukhari dan Muslim)
MAKRUH MENARIK KEMBALI SESUATU YANG
TELAH DIBERIKAN
1. Dari Ibnu Abbar ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda:
”Orang yang menarik kembali pemberiannya, bagaikan anjing
yang memakan muntahannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan: ”Perumpamaan orang yang menarik
kembali sedekahnya, bagaikan anjing yang muntah kemudian
mencari kembali tumpahannya (muntahannya), lantas
dimakannya.”
Dalam riwayat lain dikatakan: ”Orang yang menarik kembali
pemberiannya adalah bagaikan orang yang memakan
muntahannya.”
1. Dari Umar bin Khaththab ra., ia berkata: ”Saya
menyedekahkan seekor kuda kepada seseorang yang
berjuang di jalan Allah, tetapi kuda itu disia-siakan olehnya,
maka saya bermaksud membelinya dan saya berprasangka
bahwa ia mau menjualnya dengan harga murah, kemudian
saya menanyakan hal itu kepada Nabi saw., beliau lantas
bersabda: ”Janganlah kamu membeli dan janganlah kamu
menarik kembali sedekahmu itu, walaupun ia memberikan
kepadamu dengan harga satu dirham, karena sesungguhnya
orang yang menarik kembali sedekahnya, bagaikan orang
yang memakan kembali muntahannya.”(HR. Bukhari dan
Muslim)
HARAM MEMAKAN HARTA ANAK YATIM
1. Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw., beliau bersabda:
”Jauhilah tujuh perkara yang merusak.” Para sahabat
bertanya: ”Wahai Rasulullah, apakah itu?” Rasulullah saw.
bersabda: ”Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang
diharamkan Allah – kecuali dengan hak, makan riba, makan
harta anak yatim, meninggalkan barisan pada waktu perang
dan menuduh zina wanita mukmin yang telah bersuami.”(HR.
Bukhari dan Muslim)
2. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata: ”Rasulullah saw. mengutuk
pemakan riba dan yang memberi makan dengannya.”(HR.
Muslim)
Dalam riwayat Turmudzi dan yang lain ada tambahan: “Orang yang
menjadi saksi dan yang menulis riba.”
HARAM RIYA’
1. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah
saw. bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: Aku adalah yang
paling tidak membutuhkan persekutuan. Barangsiapa
melaksanakan suatu amal dengan mempersekutukan Aku
dengan selain Aku, maka Aku akan meninggalkannya dan
tidak memperdulikannya.”(HR. Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah
saw. bersabda:“Sesungguhnya manusia yang pertama kali
dihisab pada hari kiamat adalah seseorang yang mati syahid,
dimana ia dihadapkan dan diperlihatkan kepadanya nikmat
yang telah diterimanya serta ia pun mengakuinya, lantas
ditanya:“Apakah yang kamu perbuat terhadap nikmat itu?“ Ia
menjawab:“Saya berjuang di jalan-Mu sehingga saya mati
syahid.“ Allah berfirman:“Kamu dusta. Kamu berjuang agar
dikatakan sebagai pemberani; dan hal itu sudah diakui.“
Kemudian Allah memerintahkan untuk menyeret orang itu
sampai akhirnya ia dilemparkan ke dalam neraka. Kedua,
seseorang yang belajar dan mengajar serta suka membaca Al
Qur’an dimana ia dihadapkan dan diperlihatkan kepadanya
nikmat yang telah diterimanya serta ia mengakuinya, lantas
ditanya:“Apakah yang kamu perbuat terhadap nikmat itu?“ Ia
menjawab: “Saya telah belajar dan mengajarkan Al Qur’an,
serta saya suka membaca Al-Qur’an untuk-Mu.“ Allah
berfirman:“Kamu dusta. Kamu belajar Al Qur’an agar
dikatakan sebagai orang yang pandai, dan kamu membaca Al
Qur’an agar dikatakan sebagai Qori’, dan hal itu sudah
diakui.“ Kemudian Allah memerintahkan untuk menyeret
orang itu sampai akhirnya ia dilemparkan ke dalam neraka.
Ketiga, seseorang yang diluangkan rezekinya dan dikaruniai
berbagai macam kekayaan dimana ia dihadapkan dan
diperlihatkan kepadanya nikmat yang telah diterimanya serta
ia pun mengakuinya, lantas ditanya: “Apakah yang kamu
perbuat terhadap nikmat itu?“ Ia menjawab:“Semua jalan
(usaha) yang engkau sukai agar dibantu, maka saya pasti
membantunya karena Engkau.“ Allah berfirman:“Kamu dusta.
Kamu berbuat itu agar dikatakan sebagai orang yang
pemurah, dan hal itu sudah diakui.“ Kemudian Allah
memerintahkan untuk menyeret orang itu sampai akhirnya ia
dilemparkan ke dalam neraka.“(HR. Muslim)
3. Dari Ibnu Umar ra. bahwasannya ada beberapa orang
berkata: “Sesungguhnya apabila kami masuk kepada
penguasa, maka kami mengatakan kepadanya lain dari apa
yang kami katakan bila kami berada di luar.“ Ibnu Umar ra.,
ia berkata:“Pada masa Rasulullah saw. Kami menganggap hal
yang demikian termasuk perbuatan nifak.“(HR. Bukhari)
4. Dari Jundub bin Abdullah bin Sufyan ra., ia berkata: Nabi saw.
bersabda:“Barangsiapa memperdengarkan (amalnya), maka
Allah akan memperdengarkannya dan barangsiapa
memperlihatkan (amalnya), maka Allah akan
memperlihatkannya.“(HR. Bukhari dan MuslimHadis ini juga
diriwayatkan oleh Muslim dari Ibnu Abbas ra. yang dimaksud
Allah memperdengarkan dan memperlihatkan amalnya adalah
dengan tujuan untuk membuat malu orang yang berbuat
seperti itu.
5. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata:“Rasulullah saw.
bersabda:“Barangsiapa yang mempelajari ilmu pengetahuan
yang semestinya untuk mencari ridha Allah Azza wa Jalla
tetapi ia tidak mempelajarinya melainkan untuk mendapatkan
kedudukan/kekayaan duniawi maka ia tidak akan
mendapatkan harumnya surga nanti pada hari kiamat.“(HR.
Abu Dawud)
PERBUATAN YANG DISANGKA RIYA’
1. Dari Abu Dzar ra., ia berkata: Rasulullah saw. pernah
ditanya:“Bagaimana pendapat engkau seandainya ada
seseorang yang mengerjakan kebaikan kemudian ia dipuji
oleh orang banyak?“ Beliau menjawab:“Yang demikian itu
sebagai pendahulu kabar gembira bagi orang mukmin.“(HR.
Muslim)
HARAM MELIHAT PEREMPUAN YANG BUKAN
MUHRIM
1. Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw., beliau bersabda:“Telah
ditentukan bagi anak Adam (manusia) bagian zinanya,
dimana ia pasti mengerjakannya. Zina kedua mata adalah
melihat, zina kedua telinga adalah mendengar, zina lisan
adalah berbicara, zina tangan adalah memukul, zina kaki
adalah berjalan, serta zina hati adalah bernafsu dan
berangan-angan yang semuanya itu dibuktikan atau tidak
dibuktikan oleh kemaluan.“(HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Sa’id Al Khudriy ra. dari Nabi saw., beliau
bersabda:“Jauhilah oleh kalian duduk dijalan-jalan.“ Para
sahabat berkata:“Wahai Rasulullah, kami tidak bisa
meninggalkan tempat duduk kami (dijalan) yang kami
gunakan untuk berbincang-bincang.“ Rasulullah saw.
Bersabda:“Apabila kalian enggan untuk tidak duduk disana,
maka penuhilah hak jalan itu.“ Para sahabat
bertanya:“Apakah hak jalan itu wahai Rasulullah?“ Beliau
menjawab:“Yaitu memejamkan mata, membuang kotoran,
menjawab salam, serta menyuruh berbuat baik dengan
mencegah kemungkaran.“ (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Dari Abu Thalhah Zaid bin Sahl ra., ia berkata:“Ketika kami
duduk di halaman rumah yang dekat jalan, dimana kami
berbincang-bincang disitu, kemudian Rasulullah saw. datang
dan mendekati kami serta bersabda:“Kenapa kalian duduk
dipinggir jalan?“ Jauhilah duduk dipinggir jalan.“ Kami
berkata:“Kami duduk disini sama sekali tidak menganggu.
Kami disini bertukar pikiran dan berbincang-bincang.“ Beliau
bersabda: “Kalau begitu penuhilah haknya, yaitu
memejamkan mata, menjawab salam dan berbicara yang
baik.” (HR. Muslim)
4. Dari Jabir ra., ia berkata: “Saya menanyakan tentang melihat
sesuatu yang diharamkan yang datang dengan tiba-tiba
kepada Rasulullah saw., kemudian beliau bersabda:
“Palingkanlah matamu!” (HR. Muslim)
5. Dari Ummu Salamah ra., ia berkata: “Ketika kami bersama
Maimunah berada di dekat Rasulullah saw., kemudian putera
Ummi Maktum masuk. Kejadian ini setelah turunnya ayat
yang memerintahkan kami untuk berhijab.” Kemudian Nabi
saw., bersabda: Wahai Rasulullah, bukankah ia orang buta
yang tidak dapat melihat dan mengetahui kami?” Nabi saw.,
bersabda: “Apakah kamu juga buta, tidakkah kamu melihat
orang itu.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
6. Dari Abu Sa’id ra., bahwasanya Rasulullah saw., bersabda:
“Seorang laki-laki tidak boleh melihat aurat sesama laki-laki,
begitu pula seorang perempuan tidak boleh melihat aurat
perempuan. Seorang laki-laki tidak boleh bersentuhan kulit
dengan sesama lelaki dalam satu elimut, begitu pula seorang
perempuan tidak boleh bersentuhan kulit dengan sesama
perempuan dalam satu selimut.” (HR. Muslim)
HARAMNYA MENYENDIRI DENGAN
WANITA LAIN — YAKNI YANG BUKAN
MAHRAMNYA —
1. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir ra., bahwasanya Rasulullah saw.,
bersabda: “Takutlah kalian untuk bertamu kepada wanita
(lain, sendirian)!” Seorang laki-laki Anshar menyela:
“Bagaimana kalu wanita itu ipar?” Rasulullah saw., bersabda:
“Ipar sama dengan kematian (bersunyi-sunyi dengan ipar
yang lainan jenis bisa menyebabkan fitnah yang membawa
kepada kerusakan).” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Ibnu Abbas ra., bahwasanya Rasulullah saw., bersabda:
“Janganlah sekali-kali salah seorang diantara kalian bersunyisunyi
dengan perempuan lain, kecuali disertai muhrimnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
3. Dari Buraidah ra., ia berkata: Rasulullah saw., bersabda:
“Kehormatan isteri orang-orang yang berperang di jalan Allah
bagi orang yang tidak ikut berperang, seperti haramnya ibu
mereka. Seseorang yang tidak ikut berperang dan diserahi
oleh orang yang berperang untuk menjaga isterinya kemudian
ia mengkhianatinya, maka nanti pada hari kiamat ia akan
berhenti untuk diambil kebaikan-kebaikannya oleh orang yang
berperang sekehendak hatinya, sampai ia merasa puas.”
Kemudian Rasulullah saw., menoleh kami dan bersabda:
“Bagaimana perasaanmu?” (HR. Muslim)
4. Haramnya Orang-orang Lelaki Menyerupakan Diri Sebagai
Kaum Wanita Dan Haramnya Kaum Wanita Menyerupakan Diri
Sebagai Kaum Lelaki, Balk Dalam Pakaian, Gerakan Tubuh
Dan Lain-lain
5. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata: “Rasulullah saw., melakniti
kaum lelaki yang kewanita-wanitaan dan kaum wanita yang
kelaki-lakian.” Dalam sebuah riwayat dikatakan: “Rasulullah
saw., mengutuk lelaki-lelaki yang menyerupai wanita dan
wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Bukhari)
6. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Rasulullah saw., mengutuk
seorang laki-laki yang memakai pakaian seperti seorang
perempuan, dan mengutuk perempuan yang memakai
pakaian seperti seorang laki-laki.” (HR. Abu Daud)
7. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw., bersabda:
“Ada dua kelompok orang yang ahli neraka yang aku belum
pernah melihatnya, yaitu orang yang mempunyai cambuk
seperti seekor lembu, dimana dengan cambuk itu ia suka
memukulnya kepada sesama manusia, dan orang-orang
perempuan yang berpakaian seperti orang telanjang, merayurayu
dan melengok-lengok membesarkan kondenya seperti
punggung unta. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak
akan mencium harumnya surga, dan sesungguhnya harumnya
surga itu akan didapatkan sejauh perjalanan sana dan sini.”
(HR. Muslim)
LARANGAN MENYERUPAKAN DIRI DENGAN
SYAITAN DAN ORANG-ORANG KAFIR
1. Dari Jabir ra., ia berkata: Rasulullah saw., bersabda:
“Janganlah kalian makan dengan tangan kiri, sebab
sesungguhnya setan makan menggunakan tangan kiri.” (HR.
Muslim)
2. Dari Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah saw., bersabda:
“Janganlah sekali-kali diantara kalian makan dan minum
dengan menggunakan tangan kiri, sesungguhnya setan itu
makan dan minum menggunakan tangan kirinya.” (HR.
Muslim)
3. Dari Abu Hurairah ra., bahwasanya Rasulullah saw.,
bersabda: ‘Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani
tidak suka menyemir rambutnya, maka hendaklah kalian tidak
mengikuti kebiasaan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Semir rambut yang diperbolehkan adalah kuning atau merah,
adapaun yang berwarna hitam tidak diperbolehkan.
LARANGAN ORANG LELAKI DAN PEREMPUAN
UNTUK MENYEMIR RAMBUTNYA DENGAN
WARNA HITAM
1. Dari Jabir ra., ia berkata: “Pada hari penaklukkan Mekkah Abu
Qahafah ayah Abu Bakar Ash Shidiq di hadapkan kepada
Rasulullah saw., dimana rambut dan jenggotnya seperti
bunga matahari karena putihnya, kemudian Rasulullah saw.,
bersabda: “Ubahlah warna rambut itu, tetapi jauhilah hitam.”
(HR. Muslim)
LARANGAN MENCUKUR SEBAGIAN KEPALA
DENGAN MENINGGALKAN SEBAGIAN LAINNYA
DAN BOLEHNYA MENCUKUR SELURUH KEPALA
UNTUK ORANG LELAKI, TIDAK UNTUK ORANG
PEREMPUAN
1. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata: “Rasulullah saw., melarang
untuk membuat jambul.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata: “Rasulullah saw., melihat
seorang anak yang telah dicukur sebagian rambutnya dengan
sebagian yang lain dibiarkannya, kemudian beliau melarang
manusia untuk berbuat seperti demikian serta beliau
bersabda: “Cukurlah semuanya atau biarkanlah semuanya.”
(HR. Abu Daud)
3. Dari Abdullah bin Ja’far ra., bahwasanya Nabi saw., telah
memberikan kesempatan tiga hari kepada keluarga Ja’far.
Setelah tiga hari beliau mendatangi mereka dan bersabda:
“Janganlah kalian menangisi saudaraku Ja’far itu lagi setelah
hari ini.” Kemudian beliau bersabda: “Panggillah kemari anakanak
saudaraku” Maka kami dihadapkan kepada beliau
seakan-akan kami adalah anak kecil. Beliau lantas bersabda:
“Panggillah tukang cukur!” Kemudian beliau menyuruh untuk
mencukur rambut kepala kami.” (HR. Abu Daud)
4. Dari Ali ra., ia berkata: “Rasulullah saw., melarang seorang
perempuan mencukur rambut kepalanya.” (HR. Nasa’I)
HARAMNYA MENYAMBUNG RAMBUT SENDIRI
DENGAN RAMBUT ORANG LAIN. MENCACAH
KULIT DENGAN GAMBAR. TULISAN DAN LAINLAIN
— SERTA MENGIKIR GIGI — UNTUK
MERENGGANGKANNYA —
1. Dari Asma’ ra., bahwasanya ada seorang perempuan bertanya
kepada Nabi saw.: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya puteriku
tertimpa sakit panas hingga rambutnya rontok dan saya akan
segera menikahkannya, maka apakah boleh saya
menyambung rambutnya?” Beliau menjawab: “Allah melaknat
orang yang menyambung rambut dan yang disambung
rambutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dalam sebuah riwayat dikatakan: “Orang yang menyambung
rambut dan minta disambung rambutnya.”
3. Dari ‘Aisyah ra., dengan matan seperti tersebut diatas, dan
diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
4. Dari Humaid bin Abdurrahman bahwasanya pada musim haji
ia mendengar Mu’awiyah ketika berkhutbah di atas mimbar
dimana ia menerima ikatan rambut dari tangan pengawalnya,
kemudian ia berkata: Wahai ahli madinah, dimanakah ulamaulama
kalian? Saya mendengar Nabi saw., melarang ikatan
rambut semacam ini, serta mendengar beliau bersabda:
“Sesungguhnya kebinasaan Bani Israel adalah ketika para
wanitanya mempergunakan ikatan rambut.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
5. Dari Ibnu Umar ra., bahwasanya Nabi saw., mengutuk orang
yang menyambung rambut dan orang yang disambung
rambutnya, serta yang membuat tahi lalat.’ (HR. Bukhari dan
Muslim)
6. Dari Ibnu Mas’ud ra., bahawasanya ia berkata: “Allah
mengutuk orang yang membuat tahi lalat dan orang yang
minta dibuatkan tahi lalat, orang yang mengerok alisnya dan
orang yang mengikir giginya dengan maksud memperindah
dengan merubah ciptaan Allah.” Kemudian ada seorang
perempuan yang menegurnya, maka Ibnu Mas’ud berkata:
“Mengapa saya tidak mengutuk orang yang dikutuk oleh
Rasulullah saw., sedangkan di dalam kitab Allah, Allah Ta’ala
berfirman: “Apapun yang disampaikan oleh Rasul kepadamu
aka laksanakanlah, dan apa pun yang dilarangnya maka
jauhilah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

LARANGAN MENCABUT UBAN DARI JANGGUT,
KEPALA DAN LAIN-LAIN DAN LARANGAN
ORANG BANCI MENCABUT RAMBUT
JANGGUTNYA PADA PERMULAAN
TUMBUHNYA
1. Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya ra., dari
Nabi saw., bahwasanya beliau bersabda: “Janganlah kalian
mencabut Uban karena sesungguhnya uban itu merupakan
cahaya orang Islam nanti pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud
dan Tirmidzi dan Nasa’i)
2. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata: Rasulullah saw., bersabda: “
barangsiapa yang melakukan perbuatan yang tidak sesuai
dengan tuntunan kami maka perbuatannya itu ditolak (tidak
akan diterima).” (HR. Muslim)
MAKRUHNYA BERCEBOK DENGAN TANGAN
KANAN DAN MEMEGANG KEMALUAN DENGAN
TANGAN KANAN KETIKA BERCEBOK TANPA
ADANYA UZUR
1. Dari Abu Qatadah ra., dari Nabi saw., beliau bersabda:
“Apabila salah seorang diantara kalian membuang air
(kencing), maka janganlah sekali-kali memegang
kemaluannya dengan tangan kanan dan janganlah bersuci
(cebok) dengan tangan kanan, serta janganlah bernafas
didalam bejana (tempat air minum).” (HR. Bukhari dan
Muslim)
MAKRUHNYA BERJALAN DENGAN
MENGENAKAN SEBUAH TERUMPAH ATAU
SEBUAH SEPATU KHUF TANPA ADANYA UZUR
DAN MAKRUHNYA MENGENAKAN TERUMPAH
ATAU SEPATU KHUF DENGAN BERDIRI TANPA
UZUR
1. Dari Abu Hurairah ra., bahwasanya Rasulullah saw.,
bersabda: “Janganlah salah seorang diantara kalian memakai
satu sandal tetapi hendaklah kedua kaki bersandal semua
atau kedua kaki tidak bersandal semua.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan: “Atau hendaklah kedua kaki tidak
memakai semua.”
2. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah
saw., bersabda: “Apabila tali sandal salah seorang di antara
kalian itu putus maka janganlah ia berjalan dengan satu
sandal, sehingga yang putus itu diperbaiki.” (HR. Muslim)
3. Dari Jabir ra., bahwasanya Rasululah saw., melarang
memakai sandal dengan berdiri.” (HR. Abu Daud)
LARANGAN MEMBIARKAN API MENYALA DI
RUMAH KETIKA MASUK TIDUR DAN LAIN-LAIN,
BAIKPUN API ITU DALAM LAMPU ATAUPUN
LAIN-LAINNYA
1. Dari Ibnu Umar ra., dari Nabi saw., beliau bersabda:
“Janganlah kalian membiarkan api dirumah kalian ketika
kalian tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Musa Al Asy’ariy ra., ia berkata: “Ada sebuah rumah
di Madinah yang terbakar pada suatu malam karena
penghuninya sendiri. Ketika kejadian itu diceritakan kepada
Rasulullah saw., maka beliau bersabda: ”Sesungguhnya api
itu merupakan musuh bagi kalian , oleh sebab itu apabila
kalian tidur maka padamkanlah api itu.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
3. Dari Jabir ra., dari Rasulullah saw., beliau bersabda:
“Tutuplah bejana, ikatlah tempat air, tutuplah pintu-pintu dan
padamkanlah lampu, sesungguhnya setan itu tidak akan bisa
melepaskan ikatan, tidak bisa membuka pintu dan tidak bisa
membuka bejana. Seandainya salah seorang diantara kalian
tidak bisa mendapatkan sesuatu untuk menutupnya kecuali
hanya meletakkan lidi di atas bejana itu, maka lakukanlah
yang demikian itu dengan menyebut nama Allah, karena
sesungguhnya tikus itu bisa menyebabkan terbakarnya
rumah.” (HR. Muslim)
LARANGAN MEMAKSA-MAKSAKAN YAITU
PERBUATAN DAN UCAPAN YANG TIDAK ADA
KEMASLAHATAN DI DALAMNYA DENGAN
KESUKARAN
1. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata: “Kami dilarang untuk
memaksakan diri.” (HR. Bukhari)
2. Dari Masruq, ia berkata: “Kami masuk ke rumah Abdullah bin
Mas’ud ra., kemudian ia berkata: ‘Wahai sekalian manusia,
barangsiapa mengetahui sesuatu maka hendaklah
mengatakan apa yang diketahuinya, dan barang siapa tidak
mengetahui maka hendaklah ia mengatakan: Allah lebih
mengetahui, karena termasuk ilmu juga jika seseorang
mengatakan: Allah lebih mengetahui, terhadap sesuatu yang
ia tidak mengetahuinya. Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-
Nya: “Katakanlah: aku tidak minta upah kepadamu sedikitpun
atas dakwahmu, dan bukanlah aku termasuk orang yang
mengada-ada.” (HR. Bukhari)
HARAMNYA MENANGIS DENGAN SUARA KERAS
KEPADA MAYAT, MENAMPAR PIPI, MEROBEKROBEK
SAKU, MENCABUTI RAMBUT,
MENCUKUR RAMBU SERTA BERDOA DENGAN
MENDAPATKAN KECELAKAAN DAN
KEHANCURAN
1. Dari Umar bin Khththab ra., ia berkata: “Nabi saw., bersabda:
“Orang mati itu disiksa dalam kuburnya, karena apa yang
diratapkan atasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata: Rasulullah saw., bersabda:
Tidaklah temasuk golongan kami, orang yang memukul-mukul
pipinya dan mencabik-cabik bajunya ketika (tertimpa
musibah) serta berseru dengan seruan jahiliyah!” (HR.
Bukhari dan Muslim)
3. Dari Abu Burdah berkata: “Abu Musa Al-Asy’ariy ra., sakit lalu
pingsan, sedangkan kepalanya dibilik seorang perempuan dari
keluarganya. Lalu datanglah isterinya sambil menjerit-jerit,
tetapi Abu Musa sedikitpun tidak mampu menyadarkannya.
Ketika Abu Musa sudah benar-benar sadar diri, ia berkata:
“Saya lepas dari orang yang Rasulullah saw., berlepas
darinya. Sungguh, Rasulullah saw., berlepas sari perempuan
yang mencukur rambutnya yang meratap-ratap, perempuan
yang mencukur rambutnya ketika datang musibah dan orang
yang mencabik-cabik pakaiannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Dari Al Mughirah bin Syu’aib ra., ia berkata: Saya mendengar
Rasulullah saw., bersabda: “Barangsiapa diratapi
sesungguhnya ia bakal di siksa dengan apa yang diratapkan
kepadanya, nanti pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
5. Dari Ummu Athiyyah Nusaibah ra., ia berkata: “Rasulullah
saw., mengambil janji kami pada waktu baiat (memeluk
agama Islam), untuk tidak meratap-ratap.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
6. Dari An Nu’man bin Basyir ra., ia berkata: “Suatu ketika
Abdullah bin Rawahah ra., pingsan, lalu memulailah saudara
perempuannya menangis dan meratap: “Aduh gunung, aduh
begini, aduh begitu, pendeknya macam-macam ratapan
(model jahiliyyah).” Maka berkatalah Abdullah bin Rawahah
ketika sadar: “Tidaklah kau mengatakan sesuatu, kecuali
dikatakan kepadaku. Apakah kamu betul begitu?” (HR.
Muslim)
7. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata: “Ketika Sa’ad bin Ubadah
sakit, Rasulullah saw., bersama Abdurrahman bin ‘auf, Sa’ad
bin Abi Waqqash dan Abdullah bin Mas’ud menjenguknya.
Ketika beliau masuk ke tempat Sa’ad bin Ubadah didapatinya
ia sedang pingsan, kemudian beliau bertanya: “Apakah sudah
meninggal?” Orang-orang yang berada disekitarnya
menjawab: “Belum wahai Rasulullah.” Kemudian Rasulullah
saw., menangis dan mereka pun ikut menangis. Kemudian
beliau berabda: “Apakah kamu belum pernah mendengar?”
Sesungguhnya Allah tidak menyiksa karena air mata dan tidak
pula karena sedih hati.” –Beliau menunjuk ke lisannya-.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
8. Dari Abu Malik Al Asy’ariy ra., ia berkata: Rasulullah saw.,
bersabda: “Perempuan yang meratap-ratap, apabila tidak
bertaubat sebelum kematiannya, maka ia akan di bangkitkan
pada hari kiamat, sedangkan padanya ada baju kurung dari
pelangkin (aspal) dan baju dari besi kudis.” (HR. Muslim)
9. Dari Usaid bin Abu Usaid Al Tabi’iy menceritakan tentang
seseorang yang telah berbaiat, dimana ia berkata: “diantara
pesan Rasulullah saw., kepada kami tentang kebaikan yang
harus kami lakukan, yaitu kami tidak boleh melanggar
kebaikan, kami tidak boleh mencakar-cakar muka, kami tidak
boleh menjerit-jerit dengan mengucapkan perkataan yang
tidak baik, kami tidak boleh menyobek-nyobek ke arah baju
dan kami tidak boleh melepas rambut sedemikian rupa.” (HR.
Abu Daud)
10. Dari Abu Musa ra., bahwasanya Rasullullah saw.,
bersabda: “Seseorang yang meninggal dunia kemudian ada
orang-orang yang menangisinya dan berkata: “Wahai
pelindungku, wahai tuanku, atau lain sebagainya, maka
diserahkanlah ia kepada dua malaikat yang mendorongdorongnya
sambil bertanya: “Apakah benar kamu seperti apa
yang orang itu?” (HR. Tirmidzi)
11. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw.,
bersabda: “Ada dua hal di dalam diri manusia yang bisa
mengakibatkan kufur, yaitu menghina nasab dan meratapi
orang yang meninggal dunia.” (HR. Muslim)
LARANGAN MENDATANGI AHLI TENUNG, AHLI
NUJUM, AHLI TERKA, ORANG-ORANG
MERAMAL DAN SEBAGAINYA DENGAN
MENUNJUK DENGAN MENGGUNAKAN KERIKIL,
BIJI SYA’IR DAN LAIN-LAIN SEBAGAINYA
1. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Orang-orang sama
bertanya kepada Rasulullah s.a.w. perihal ahli tenung – atau
tukang meramal.* Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Tidak ada
sesuatupun yang hak atau benar daripadanya.” Orang-orang
berkata lagi: “Ya Rasulullah, sesungguhnya mereka itu
memberitahukan kepada kita akan sesuatu hal yang seolaholah
benar.” Rasulullah s.a.w. kemudian bersabda: “Itulah
sesuatu kalimat kebenaran – yang disambar oleh seorang jin,
kemudian disampaikan – dibisikkan -dalam telinga
kekasihnya, kemudian dengan sebuah kalimat yang benar itu
oleh ahli tenung tadi dicampurkannya dengan seratus macam
kedustaan.” (Muttafaq ‘alaih)
2. Dalam riwayat Imam Bukhari dari Aisyah radhiallahu ‘anha
disebutkan bahwasanya Aisyah mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda: “Sesungguhnya malaikat itu turun ke awan,
kemudian menyebutkan sesuatu perkara yang sudah
diputuskan di langit, lalu syaitan itu memasangkan
pendengarannya untuk mencuri isi keputusan tadi,
selanjutnya setelah didengarkan baik-baik, iapun lalu
menyampaikannya kepada ahli tenung. Seterusnya ahli
tenung tadi membuat kedustaan seratus macam banyaknya
yang keluar dari hatinya sendiri, di samping satu yang dari
syaitan tersebut – yang dianggap sebagai kebenaran.
3. Dari Shafiyah binti Ubaid dari salah seorang isteri Nabi s.a.w.
– radhiallahu ‘anha dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Barangsiapa
yang mendatangi juru terka, lalu menanyakan sesuatu hal
kepadanya, kemudian membenarkannya – yakni
mempercayainya, maka tidak akan diterima shalatnya selama
empat puluh hari.” (Riwayat Muslim)
4. Dari Qabishah bin al-Mukhariq r.a., katanya: “Saya
mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Peramalan dengan
garis-garis, penengokan peruntungan -atau nasib – serta
pembentakan burung-untuk melihat untung rugi, semuanya
adalah dari perbuatan sihir – atau pertenungan.”
5. Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan. la
berkata: Aththarqu artinya membentak, maksudnya ialah
memjentak burung dengan pengertian bahwa ia akan
memperoleh keuntungan atau kecelakaan dengan melihat ke
arah mana terbangnya burung itu. Jikalau terbang ke kanan,
maka merasa dirinya akan memperoleh keuntungan, sedang
jikalau ke kiri, maka dirinya akan mendapatkan celaka.” Abu
Dawud berkata lagi: Al’iyafah ialah tulisan yakni peramalan
dengan menggunakan – atau melihat – garis-garis. Al-Jauhari
berkata dalam kitab Ashshahab: Aljibtu adalah kalimat yang
dimutlakkan pada berhala, tukang tenung, ahli sihir dan
sebagainya.
6. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah
s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang mencari satu macam
ilmu pengetahuan dari golongan ilmu penujuman, maka
berarti ia telah mencari suatu cabang dari ilmu sihir.
Bertambah ilmu sihirnya itu sebanyak tambahnya dalam ilmu
penujuman tadi.” (HR. Imam Abu Dawud )
7. Dari Mu’awiyah bin al-Hakam r.a., katanya: “Saya berkata:
“Ya Rasulullah, sesungguhnya saya ini baru saja
meninggalkan kejahiliyahan dan Allah telah mendatangkan
Agama Islam. Di antara kita banyak orang yang mendatangi
ahli tenung itu, bagaimanakah itu kedudukannya?” Beliau
s.a.w. bersabda: “Janganlah engkau mendatangi ahli tenung
itu.” Saya berkata lagi: “Di antara kita ada pula orang yang
merasa akan mendapat nasib buruk.” Beliau s.a.w. bersabda:
“Hal itu adalah sesuatu yang mereka dapatkan dalam hati
mereka sendiri, maka tentulah tidak dapat menghalanghalangi
mereka – yakni hal itu tidak akan memberikan bekas
apapun kepada mereka, baik kemanfaatan atau
kemudharatan.” Saya berkata pula: “Di antara kita ada pula
orang-orang yang meramalkan nasibnya dengan
menggunakan garis-garis.” Beliau s.a.w. bersabda: “Dahulu
ada seorang Nabi dari golongan para Nabi, ia membuat
ramalan dengan garis, maka barangsiapa yang cocok dengan
garis itu, ialah yang memperoleh nasibnya.” (Riwayat Muslim)
8. Dari Abu Mas’ud al-Badri r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w.
melarang dari harga anjing – yakni menggunakan uang dari
hasil penjualan anjing, juga dari upah hasil perzinaan serta
dari pembayaran yang diperoleh tukang tenung – dukun juru
terka karena penenungannya.” (Muttafaq ‘alaih)
LARANGAN DARI PERASAAN AKAN MENDAPAT
CELAKA — KARENA ADANYA SESUATU
1. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak
ada penularan penyakit dan tidak ada sesuatu yang
menyebabkan timbulnya kecelakaan. Saya amat ta’jub
dengan faal?” Para sahabat bertanya: “Apakah faal itu?”
Beliau s.a.w. menjawab: “Yaitu kata-kata yang baik.”
(Muttafaq ‘alaih)
2. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah
s.a.w. bersabda: “Tidak ada penularan penyakit dan tidak ada
sesuatu yang menyebabkan timbulnya kecelakaan. Jikalau
timbulnya kemalangan itu ada dalam sesuatu benda, maka
hal itu ialah dalam perkara rumah, wanita ataupun kuda.”
(Muttafaq ‘alaih)
Keterangan: Rumah dapat dianggap menimbulkan kemalangan
kalau ruangan atau halamannya sempit atau tetangganya buruk,
wanita dapat dianggap demikian kalau budipekertinya jahat atau
mandul, sedang kuda ialah kalau sukar dinaiki.
3. Dari Buraidah r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. itu tidak pernah
merasa akan memperoleh kecelakaan – karena adanya
sesuatu. (HR. Abu Dawud)
4. Dari Urwah bin ‘Amir r.a., katanya: “Disebut-sebutkanlah
persoalan akan timbulnya kemalangan nasib-sebab adanya
sesuatu – di sisi Rasulullah s.a.w., lalu beliau s.a.w. bersabda:
“Yang terbaik sekali ialah mengucapkan kata-kata yang bagus
dan yang sedemikian itu jangan menolak seseorang Muslim -
yakni jikalau ia bersengaja akan mengerjakan sesuatu yang
baik, janganlah sampai diurungkan karena timbulnya
perasaan akan mendapat kemalangan tadi. Jikalau seseorang
di antara engkau semua melihat sesuatu yang tidak
disenangi, hendaklah mengucapkan – yang artinya: “Ya Allah,
tidak ada yang kuasa mendatangkan kebaikan melainkan
Engkau, tidak pula dapat menolak keburukan melainkan
Engkau dan tiada daya serta tiada kekuatan melainkan
dengan pertolonganMu.” (HR. Abu Dawud)
HARAMNYA MENGGAMBAR BINATANG DI
HAMPARAN, BATU, BAJU, UANG DIRHAM,
UANG DINAR, GULING BANTAL DAN IAIN-LAIN,
JUGA HARAMNYA MENGGUNAKAN GAMBAR
TADI DILETAKKAN DI DINDING ATAP, TABIR,
SORBAN, BAJU DAN SEBAGAINYA SERTA
PERINTAH MERUSAKKAN GAMBAR ITU
1. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah
s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang membuat
gambar-gambar ini – yakni apa-apa yang mempunyai ruh,
akan disiksa pada hari kiamat. Kepada mereka itu dikatakan:
“Hidupkanlah apa yang engkau ciptakan itu.” (Muttafaq ‘alaih)
2. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w.
datang daribepergian dan saya telah memberikan tutup dalam
rumahku dengan tabiryang tipis sekali, di situ ada beberapa
gambar boneka.Setelah Rasulullah s.a.w.melihatnya lalu
berubahlah warna wajahnya, kemudian berkata:”Hai Aisyah,
seberat-beratnya manusia dalam hal siksanya di sisi
Allahpada hari kiamat ialah orang-orang yang menyamai
dengan apa-apa yangdiciptakan oleh Allah.” Aisyah
radhiallahu ‘anha berkata: “Tabir itu lalu kami potong-potong
kemudian kami jadikan sebuah atau dua buah bantal
daripadanya.” (Muttafaq’alaih)
3. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Saya
mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Semua tukang
gambar – yang mempunyai ruh – itu dalam neraka, untuknya
diciptakan seorang bagi setiap gambar yang digambar
olehnya, laluorang itu menyiksanya di neraka Jahanam.” Ibnu
Abbas berkata: “Jikalau engkau dengan pasti harus
membuatnya -yakni perlu sekali membuat gambar-gambar
itu, maka buat sajalah gambar pohon atau sesuatu yang tidak
ada ruhnya.(Muttafaq ‘alaih)
4. Dari Ibnu Abbas r.a. pula, katanya: “Saya mendengar
Rasulullah s.a.w. bersabda:”Barangsiapa yang menggambar
sesuatu gambar -apa-apa yang mempunyai ruh – di dunia,
maka ia akan dipaksa untuk meniupkan ruh di dalam apa
yang digambarkannya itu besok pada hari kiamat, tetapi ia
tidak dapat meniupkan ruh di situ.” (Muttafaq ‘alaih)
5. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah
s.a.w. bersabda; “Sesungguhnya sesangat-sangat manusia
perihal siksanya pada hari kiamat ialah para tukang gambar -
apa-apa yang mempunyai ruh.” (Muttafaq ‘alaih)
6. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah
s.a.w. bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: “Siapa orang yang
lebih menganiaya daripada seseorang yang mencoba-coba
menciptakan sebagaimana yang Aku menciptakannya. Baiklah
mereka itu membuat seekor semut kecil atau baiklah
membuat sebuah biji atau baiklah mereka itu menciptakan
sebiji sya’ir.” (Muttafaq ‘alaih)
7. Dari Abu Thalhah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w.
bersabda:”Malaikat tidak akan masuk dalam rumah yang di
dalamnya ada anjingnyaatau ada gambar – apa-apa yang
mempunyai ruh.” (Muttafaq ‘alaih)
8. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Jibril berjanji
kepadaRasulullah s.a.w. akan datang padanya, lalu terlambat
sekali kedatangannya hingga membuat Rasulullah kecewa.
Beliau s.a.w. kemudian keluar lalu ditemui oleh Jibril. Nabi
s.a.w. mengadukan hal itu kepadanya, lalu Jibril berkata:
“Sesungguhnya kita tidakakan memasuki sesuatu rumah yang
di dalamnya ada anjing atau adagambar sesuatu yang
mempunyai ruh.” (Riwayat Bukhari)
9. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Jibril ‘alaihissalam
berjanji kepada Rasulullah s.a.w. akan datang padanya pada
saat yang ditentukan, ketika saat itu tiba Jibril belum juga
mendatanginya.”Aisyah radhiallahu ‘anha berkata: “Nabi
s.a.w. pada waktu itu membawa tongkat di tangannya, lalu
diletakkanlah tongkat itu dari tangannya sambil bersabda:
“Allah dan Rasul-rasulNya tidak akan menyalahi janjinya.”
Selanjutnya beliau s.a.w. menoleh, tiba-tiba ada seekor anak
anjing di bawah tempat tidurnya. Beliau s.a.w. bertanya:
“Kapan anjing ini masuk?” Saya berkata: “Demi Allah, saya
tidak mengetahui kapan masuknya.” Beliau s.a.w. menyuruh
mengambil anak anjing tadi lalu dikeluarkan dari rumah.
Kemudian datanglah Jibril ‘alaihis-salam. Rasulullah s.a.w.
bertanya kepadanya: “Tuan telah berjanji pada saya lalu saya
duduk menantikan Tuan sedang Tuan tidak datang-datang,
apakah sebabnya?” Jibril berkata: “Saya dihalanghalangi oleh
anjing yang ada di rumah anda tadi itu. Sesungguhnya kita –
para malaikat – ini tidak akan masuk dalam rumah yang di
dalamnya ada anjing atau ada gambar – sesuatu yang
mempunyai ruh.” (Riwayat Muslim)
10. Dari Abul Hayyaj, yaitu Hayyan bin Husain, katanya: Ali
r.a. berkata kepada saya: “Tidakkah engkau suka kalau saya
perintah sebagaimana yang diperintah oleh Rasulullah s.a.w.?
Yaitu janganlah engkau membiarkan sesuatu gambar -dari
apa-apa yang mempunyai jiwa- melainkan engkau rusakkan
gambar itu, dan janganlah engkau membiarkan sebuah kubur
yang menonjol ke atas, melainkan engkau ratakanlah ia -
sampai serendah tanah Iain-lain.” (Riwayat Muslim)
HARAMNYA MEMELIHARA ANJING KECUALI
UNTUK BERBURU,
MENJAGA TERNAK ATAU LADANG TANAMAN
1. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Saya
mendengarRasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang
menyimpan – yakni memelihara anjing, kecuali anjing untuk
berburu atau menjaga ternak – atau lading tanaman, maka
berkuranglah pahala orang itu dalam setiap harinya sebanyak
dua qirath.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat lain disebutkan: “Berkurang seqirath.”
2. Dari Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang memelihara anjing, maka dari amalannya
itu dalam setiap harinya berkurang seqirath, kecuali anjing
untuk menjaga ladang tanaman atau untuk menjaga ternak.”
(Muttafaq ‘alaih)
3. Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan: “Barangsiapa
menyimpan – yakni memelihara – anjing yang bukan anjing
berburu, bukan pula untuk menjaga ternak dan tidak untuk
menjaga tanah – maksudnya ladang tanaman, maka orang itu
berkuranglah pahalanya setiap hari sebanyak seqirath.”
MAKRUHNYA MENGGANTUNGKAN LONCENG
— BEL —PADA UNTA ATAU BINATANG LAINLAIN
DANMAKRUHNYA MEMBAWA ANJING
DANLONCENG — BEL — DALAM BEPERGIAN
4. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Malaikat tidak akan mengawani sekelompok orang-orang
yang bepergian yang di kalangan mereka itu ada anjing atau
loncengnya – belnya.” (Riwayat Muslim)
5. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda:
“Lonceng – yakni bel – itu adalah termasuk golongan seruling
serulingnya syaitan.” (HR. Abu Dawud)
MAKRUH MENGENDARAI BINATANG YANG
SUKA MAKAN KOTORAN
1. Dari Umar ra, Ia berkata : “Rasulullah saw, telah melarang
mengendarai unta yang suka makan kotorannya.”(H.R Abu
Dawud)
MAKRUH MELUDAH DI MASJID
1. Dari Anas ra, bahwasanya Rasulullah saw, bersabda :
“Meludah di dalam masjid adalah suatu dosa, dan tebusannya
adalah menanam (atau membuang) ludahnya itu.”(H.R
Bukhari dan Muslim)
Ludah itu di tananm apabila lantai masjid berupa tanah atau pasir,
apabila lantai masjid berupa ubin maka harus dibersihkan ludahnya.
2. Dari ‘Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah saw, melihat ingus
dan air ludah atau dahak di temdok kiblat, kemudian beliau
mengoreknya.”(H.R Bukhari dan Muslim)
3. Dari Anas ra, bahwasanya Rasulullah saw, bersabda
“Sesungguhnya masjid-masjid itu tidak pantas ada air kencing
atau sesuatu kotoran walaupun sedikit. Sesungguhnya
masjid-masjid itu adalah untuk zikir kepada Allah Ta’ala dan
untuk membaca Al Quran, atau untuk menyampaikan apa
yang sudah disabdakan oleh Rasulullah saw.”(H.R Muslim)
MAKRUH BERTENGKAR, MENCARI BARANG
YANG HILANG, DAN BERJUAL BELI DI DALAM
MESJID
1. Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya ia mendengar Rasulullah
saw, bersabda : “Barangsiapa mendengar orang mencari
barang yang hilang di dalam masjid, maka hendaklah ia
mengatakan: “Semoga Allah tidak mengembalikannya
kepadamu,” karena sesungguhnya masjid-masjid itu tidak
dibangun untuk itu.”(H.R Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw, bersabda :
“Apabila kalian melihat orang yang berjual beli di dalam
masjid, maka hendaklah kalian mengatakan : “Semoga Allah
tidak memberikan laba daganganmu itu.” Dan apabila kalian
melihat ada orang yang mencari barangnya yang hilang maka
hendaklah kalian mengatakan : “Semoga Allah tidak
mengembalikkannya kepadamu.”(H.R Turmudzi)
3. Dari Buraidah ra, bahwasanya ada seorang yang mencari
barangnya yang hilang di dalam masjid, di mana ia berkata :
“Siapakah yang dapat menemukan untaku yang merah?”
Kemudian Rasulullah saw, bersabda : “Semoga untamu tidak
ketemu. Sesungguhnya masjid-masjid dibangun untuk
beribadah.”(H.R Muslim)
4. Dari Amir bin Syu`aib dari ayahnya dari kakeknya ra,
bahwasanya Rasulullah saw, melarang jual beli di dalam
mesjid, melarang mencari barang yang hilang di dalam
masjid, dan melarang untuk mendendangkan syair di dalam
masjid.”(H.R Abu Dawud dan Tirmidzi)
5. Dari As Saib bin Yazid Ash Shahabiy ra, ia berkata : “Pada
waktu saya berada di dalam masjid kemudian ada seorang
melempar saya, maka saya pun memperhatikan orang itu.
Tiba-tiba Umar bin Khaththab ada di situ dan berkata :
“Panggilah kedua orang itu.” Maka sayapun datang dengan
membawa orang itu, Umar lantas bertanya : “Dari manakah
kamu berdua?” Kedua orang itu menjawab : “Dari Thaif.”
Umar berkata : “Seandainya kalian termasuk penduduk negeri
ini, niscaya saya menyakiti kamu berdua. Karena kamu telah
berani mengeraskan suara di dalam masjid Rasulullah
saw.”(H.R Bukhari)
LARANGAN BAGI ORANG YANG MAKAN
MAKANAN BERBAU TIDAK SEDAP MASUK KE
DALAM MASJID
1. Dari Ibnu Umar ra, bahwasanya Nabi saw, bersabda :
“Barangsiapa makan dari pohon yakni bawang putih, maka
janganlah sekali-kali ia mendekati masjid kami.”(H.R Bukhari
dan Muslim)
Dalam riwayat Muslim dikatakan : “Masjid-masjid kami.”
2. Dari Anas ra, ia berkata : Nabi saw. Bersabda : “Barangsiapa
makan dari pohon ini (bawang), maka janganlah ia sekali-kali
mendekati kami dan jangan sekali-kali salat bersama
kami.”(H.R Bukhari dan Muslim)
3. Dari Jabir ra, ia berkata : Nabi saw bersabda : “Barangsiapa
makan bawang putih atau bawang merah (tanpa dimasak),
maka hendaklah ia menjauhkan diri dari kami, atau hendaklah
ia menjauhkan diri dari masjid kami.”(H.R Bukhari dan
Muslim)
Dalam riwayat Muslim dikatakan : “Barangsiapa makan bawang
merah, bawang putih (Tanpa dimasak) dan daun kucai maka
janganlah sekali-kali ia mendekati masjid kami, karena
sesungguhnya malaikat itu juga merasa terganggu terhadap apa
yang menganggu anak Adam (Manusia).”
4. Dari Umar bin Khaththab ra, bahwasanya pada suatu hari
Jumat ia berkata di dalam khutbahnya : “Kemudian wahai
sekalian manusia, sesungguhnya kalian suka makan dua
pohon yang saya tahu baunya tidak sedap yaitu bawang
merah dan bawang putih. Sungguh saya melihat Rasulullah
saw, mendapatkan seorang yang berbau bawang maka beliau
memerintahkan agar orang itu di keluarkan ke Baqi’. Oleh
sebab itu barangsiapa makan bawang hendaklah dimasak
dulu supaya baunya hilang.”(H.R Muslim)
MAKRUH DUDUK MENDEKAP LUTUT SEWAKTU
MENDENGARKAN KHUTBAH
1. Dari Mu’adz bin Anas Al Juhanniy ra, bahwasanya Nabi saw.
melarang untuk duduk mendekap lutut sewaktu imam
berkhutbah pada hari Jumat.”(H.R Abu Dawud dan Turmudzi)
LARANGAN MEMOTONG BULU ATAU KUKU
HEWAN KURBAN SEBELUM DISEMBELIH
1. Dari Ummu Salamah ra, ia berkata : Rasulullah saw, bersabda
: “Barangsiapa mempunyai hewan yang akan dikurbankan
apabila bulan Dzul Hijjah telah masuk, janganlah sekali-kali ia
mengambil (memotong) sedikitpun bulu dan kuku-kukunya
sampai hewan itu disembelih.” (H.R Muslim)
LARANGAN BERSUMPAH
1. Dari Ibnu Umar ra, dari Nabi saw, beliau bersabda :
“Sungguh, Allah Ta`ala melarang kalian bersumpah dengan
(mengatas namakan) nenek moyang kalian. Barangsiapa
bersumpah hendaklah bersumpah atas nama Allah, atau
hendaklah ia diam.”(H.R Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan: “ Barangsiapa bersumpah maka
janganlah ia bersumpah, kecuali dengan nama Allah atau
hendaknya ia diam.”
2. Dari Abdurrahman bin Samurah ra, ia berkata : Rasulullah
saw. bersabda : “Janganlah kalian bersumpah dengan
berhala-berhala dan janganlah pula dengan nenek moyang
kalian.”(H.R Muslim)
3. Dari Buraidah ra. bahwasanya Rasulullah saw, bersabda :
“Barangsiapa bersumpah demi amanah, maka ia tidaklah
termasuk golongan kami.” (H.R Abu Dawud)
4. Dari Buraidah ra, ia berkata : Rasulullah saw, bersabda :
“Barangsiapa bersumpah kemudian ia mengatakan:
“Sesunggunya saya berlepas diri dari Islam; apabila ia
mendustakannya maka ia seperti apa yang diucapkannya, dan
apabila ia membenarkannya maka ia tidak bisa kembali ke
Islam dengan selamat.”(H.R Abu Dawud)
5. Dari Umar ra, bahwasanya ia mendengar ada seseorang
mengatakan : “Tidak, demi Ka’bah.” Kemudian Ibnu Umar
berkata: “Janganlah kamu bersumpah dengan selain nama
Allah, sesungguhnya saya mendengar Rasulullah saw,
bersabda : “Barangsiapa bersumpah dengan selain nama
Allah maka ia benar-benar kafir atau musyrik.” (H.R
Turmudzi)
Sebagian Ulama menjelaskan bahwasanya Rasulullah saw, bersabda
dengan, “Benar-benar kafir atau musyrik,” agar perbuatan tersebut
benar-benar dijauhi. Sebagaimana diriwayatkan pula bahwasanya
Nabi saw, bersabda : “Riya’ itu adalah perbuatan syirik.”
BESARNYA DOSA SUMPAH PALSU DENGAN
SENGAJA
1. Dari Ibnu Mas’ud ra, bahwasanya Nabi saw, bersabda :
“Barangsiapa bersumpah atas harta Islam tanpa ada hak
(untuk mengambil harta itu dengan sumpah bohong), maka ia
bakal bertemu Allah dalam keadaan menerima kemurkaan-
Nya.” Selanjutnya Ibnu Mas`ud berkata : “Kemudian
Rasulullah saw,, membacakan kepada kami pembenaran
sabda beliau, dari kitab Allah ‘Azza wa Jalla (Al Quran) :
INNALLADZIINA YASYTARUUNA BI’AHDILLAAHI WA
AIMAANIHIM TSAMANAN QALIILAN ULAA-IKA LAA
KHALAAQALAHUM FIL AAKHIRATI WALAA
YUKALLIMUHUMULLAAJI WALAA YANDHURU ILAIHIM YAUMAL
QIYAAMATI WALAA YUZAKKIIHIM WALAHUM ‘ADZAABUN
ALIIM” (Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji Allah
dengan sumpah-sumpah mereka dengan harga sedikit,
mereka itu tidak mendapat bagian (pahala) di akhirat, dan
Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan
melihat kepada mereka pada hari kiamat, dan tidak (pula)
akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang
pedih).”(H.R Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Umamah (Iyas) bin Tsa’labah Al Haritsy ra,
bahwasanya Rasulullah saw, bersabda : “Barangsiapa
mengambil hak orang Islam dengan sumpahnya, maka benarbenar
Allah mewajibkan neraka baginya dan mengharamkan
surga atasnya.” Seseorang bertanya kepada beliau:
“Meskipun itu hanya sedikit wahai Rasulullah?” Rasulullah
bersabda : “Meskipun itu hanya sepotong dahan kayu arak (
Kayu untuk bersiwak)”(H.R Muslim)
3. Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra, dari Nabi saw, beliau
bersabda : “Dosa-dosa besar adalah menyekutukan Allah,
durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa dan
sumpah palsu.”(H.R Bukhari)
Dalam riwayat yang lain dikatakan : Seorang anak desa datang
kepada Rasulullah saw, lalu bertanya : “Wahai Rasulullah apakah
dosa-dosa besar itu?” Rasulullah bersabda : “Menyekutukan Allah.”
Orang itu bertanya : “kemudian apa?” Rasulullah bersabda :
“Sumpah palsu .” saya (Abdullah bin Amr) bertanya : “Apakah
sumpah paslu itu?” Rasulullah bersabda : “Yang merampas harta
orang islam, yakni dengan sumpah yang di dalamnya terkandung
kebohongan.”

SUNAT MENEBUS SUMPAH BILA MELIHAT ADA
SESUATU YANG LEBIH BAIK
1. Dari Abdurrahman bin Samurah ra, ia berkata : Rasulullah
saw, bersabda kepada saya : “Apabila kamu terlanjur
mengucapkan suatu sumpah, lalu kamu melihat/ mengetahui
selain sumpah itu ada yang lebih baik, maka perbuatlah mana
yang baik dan bayarlah kafarat sumpahmu itu.”(H.R Bukhari
dan Muslim)
2. Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw, bersabda :
“Barangsiapa bersumpah atas suatu sumpah, lalu ia
mengetahui bahwa selain yang ia sumpahkan ada yang lebih
baik, maka hendaklah ia membayar kafarat sumpahnya, dan
hendaknya ia mengerjakan yang lebih baik itu.” (H.R Muslim)
3. Dari Abu Musa ra, bahwasanya Rasulullah saw, bersabda :
“Demi Allah, sungguh aku tidak akan bersumpah atas sesuatu
sumpah, kemudian aku mengetahui ada yang lebih baik
daripadanya, kemudian aku membayarkan kafarat atas
sumpahku dan aku melaksanakan yang lebih baik itu.”(H.R
Bukhari dan Muslim)
4. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata :Rasulullah saw, bersabda :
“Sungguh, salah seorang di antara kalian yang bersikeras
dalam bersumpah mengenai keluarganya, adalah lebih
berdosa baginya menurut Allah daripadanya, jika ia
memberikan karat sumpah yang telah difardhukan Allah
kepadanya.”(H.R Bukhari dan Muslim)
DIMAAFKAN SUMPAH YANG TIDAK DISENGAJA
1. Dari ‘Aisyah ra, ia berkata : “LAA YU AAKHIDZUKUMULLAAHU
BILLAGHWI FII AIMAANIKUM adalah mengenai ucapan orang
tidak disengaja, demi Allah dan benar demi Allah.”(H.R
Bukhari)
DALAM JUAL BELI
1. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah
saw, bersabda : “Sumpah itu bermanfaat (membuat laku)
barang dagangan, tetapi menghapuskan berkahnya
keuntungan.”(H.R Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Qatadah ra, bahwasanya ia mendengar Rasulullah
saw, bersabda : “Berhati-hatilah kalian terhadap banyak
bersumpah dalam jual beli, karena sumpah itu memberikan
keuntungan, tetapi menghilangkan berkahnya.”(H.R Muslim)
MAKRUH MENOLAK ORANG YANG MEMINTA
DENGAN MENYEBUT NAMA ALLAH
1. Dari Jabir ra, ia berkata : Rasulullah saw, bersabda :
“Barangsiapa berlindung diri dengan menyebut nama Allah,
maka kabulkanlah permintaannya. Barangsiapa yang
mengundang kamu, maka sanggupilah. Dan barangsiapa yang
berbuat baik kepadamu, maka balaslah. Apabila kamu tidak
mendapatkan sesuatu untuk membalasnya, maka doakanlah
sehingga kamu merasa bahwa kamu telah
membalasnya.”(H.R Abu Dawud dan Nasa’i)
2. Dari Ibnu Umar ra, ia berkata : Rasulullah saw, bersabda :
“Barangsiapa berlindung diri dengan menyebut nama Allah,
maka berilah perlindungan. Barangsiapa yang meminta
dengan menyebut nama Allah maka kabulkanlah
permintaanya. Barangsiapa yang mengundang kamu maka
sanggupilah. Dan barangsiapa yang berbuat baik kepadamu,
maka balaslah. Apabila kamu tidak mendapatkan sesuatu
untuk membalasnya, maka doakanlah sehingga kamu merasa
bahwa kamu telah membalasnya.“(H.R Abu Dawud dan An
Nasa’i)
HARAM MENYEBUT PENGUASA DENGAN
SYAHANSYAH (RAJA DIRAJA)
1. Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, beliau bersabda :
“Sesungguhnya sejahat-jahat nama menurut Allah Azza wa
Jalla yaitu seseorang yang menamakan dirinya dengan
Rajanya para raja.”(H.R Bukhari dan Muslim)
Sufyan bin Uyanah mengatakan bahwa Rajanya para raja itu
misalnya, “Syahansyah“ ( Raja Diraja)
LARANGAN MEMANGGIL ORANG MUNAFIK
DENGAN SEBUTAN SAYYID (TUAN)
1. Dari Buraidah ra, ia berkata : Rasulullah saw, bersabda :
“Janganlah kalian memanggil orang munafik dengan sebutan
sayyid (Tuan), karena seandainya ia benar-benar menjadi
tuan (pemimpin), berarti telah memurkakan Tuhan
kamu.“(H.R Abu Dawud)
MAKRUH MEMAKI PENYAKIT PANAS
1. Dari Jabir ra, bahwasanya Rasulullah saw, masuk ke dalam
rumah Ummu saib atau Ummu Musyyab, kemudian beliau
bertanya: “Mengapa kamu menggigil wahai Ummu Saaib?”, ia
menjawab : “Sakit panas, semoga Allah tidak
memberkahinya,” Beliau bersabda : “Janganlah kamu memaki
penyakit panas, karena sesungguhnya penyakit itu dapat
menghilangkan dosa-dosa anak Adam (Manusia),
sebagaimana tiupan api pande (tukang las) dapat
menghilangkan karat-karat besi.”(H.R Muslim)
LARANGAN MEMAKI ANGIN
1. Dari Abu Mudzir Ubay bin Ka’ab ra, ia berkata : Rasulullah
saw, bersabda : “Janganlah kalian memaki angin. Apabila
kalian melihat angin kencang yang tidak kamu sukai maka
ucapkanlah: “ALAHUMMA INNA NAS-ALUKA KHAIRI
HAADZIHIRRIIHI WA KHAIRI MAA FIIHAA WAKHAIRI MAA
UMIRAT BIHI WA NA’UDZUBIKA MIN SYARRI HAADZIHIR
RIIHI WA SARRI MAA FIIHAA WASYARRI MA UMIRAT BIHI (
Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada-Mu
kebaikan angin ini, kebaikan apa yang terkandung di
dalamnya dan kebaikan apa yang diperintahkan kepadanya.
Serta kami berlindung diri dari kejelekan angin ini, kejelekan
apa yang terkandung di dalamnya dan kejelekan pada yang
dierintahkan kepadanya.).”(H.R Turmudzi)
2. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Saya mendengar Rasululah
saw, bersabda : “Angin itu adalah sebagian dari rahmatrahmat
Allah. Kadangkala angin itu membawa rahmat dan
kadangkala angin itu membawa bencana. Apabila kalian
melihat angin, maka janganlah kalian memakinya; mohonlah
kepada Allah akan kebaikan angin itu berlindung dirilah
kepada Allah dari kejahatan angin itu.”(H.R Abu Dawud)
3. Dari ‘Aisyah ra, ia berkata : Adalah Nabi saw, apabila melihat
angin kencang maka beliau berdoa : “ALLAAHUMMA INNII ASALUKA
KHAIRAHAA WAKHAIRA MAA FIHAA WAKHAIRA MAA
URSILAT BIHI; WAA’UUDZUIKA MIN SYARRIHAA WA SYARRI
MAA FIIHAA WASYARRI MAA URSILAT BIHI (Ya Allah,
sesungguhnya saya memohon kepada-MU akan kebaikan
angin itu, kebaikan apa yang terkandung di dalamnya dan
kebaikan apa yang dilepaskan olehnya. Serta saya berlindung
diri dari kejelekan angin ini, kejelekan apa yang terkandung di
dalamnya dan kejelekan apa yang dilepaskan olehnya).”(H.R
Muslim)
MAKRUH MEMAKI AYAM
1. Dari Zaid bin Khalid Al Juhanny ra, ia berkata : Rasulullah
saw, bersabda : “Janganlah kalian memaki ayam jantan
(jago), karena sesungguhnya ayam jantan itu dapat
membangunkan untuk salat.”(.H.R Abu Dawud dengan sanad
Shahih)
LARANGAN BERKATA : KAMI DIBERI HUJAN
KARENA PENGARUH BINTANG
1. Dari Zaid bin Khalid Al Juhanny ra, ia berkata: “Kami salat
Subuh bersama-sama Rasulullah saw, di Hudaibiyyah dalam
keadaan basah karena malamnya hujan. Ketika selesai salat
beliau memandang para sahabatnya dan bertanya : “Tahukah
kalian tentang apa yang difirmankan Tuhan kalian?” Mereka
menjawab : “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau
bersabda : “Allah Ta’ala berfirman: Pagi ini ada di antara
hamba-hamba-Ku yang beriman kepada-Ku dan ada yang
kafir. Adapunn orang yang mengatakan : kami dihujani
karena karunia dan rahmat Allah. Maka itulah yang beriman
kepada-Ku dan kafir kepada bintang-bintang, Adapun yang
mengatakan: Kami dihujani karena pengaruh bintang ini dan
itu, maka itulah orang kafir kepada-Ku dan percaya kepada
bintang-bintang.”(H.R Bukhari dan Muslim)
HARAM MENGATAKAN : WAHAI ORANG KAFIR
KEPADA ORANG MUSLIM
1. Dari Umar bin Khaththab ra, ia berkata : Rasulullah saw,
bersabda : “Apabila ada seorang muslim mengatakan kepada
saudaranya : “Hai kafir,” maka salah seorang di antara dua
orang itu menjadi kafir. Apabila orang yang dikatakan itu
memang kafir, tetapi jika orang yang dikatakan itu tidak kafir,
maka ucapan itu kembali kepada yang mengucapkan.”(H.R
Bukhari dan Muslim)
2. Dari Abu Dzar ra, bahwasanya ia mendengar Rasulullah saw,
bersabda : “Barangsiapa memanggil seseorang denga ‘kafir’
atau ‘musuh Allah’ padahal orang yang dipanggilnya tidaklah
demikian, maka hal itu akan kembali kepada orang yang
mengucapkannya.”(H.R Bukhari dan Muslim)
LARANGAN BERBUAT KEJI DAN BERBUAT
KOTOR
1. Dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata : Rasulullah saw. Bersabda
“Bukanlah orang mukmin itu orang yang suka mencela,
mengutuk, berbuat keji dan berbuat kotor.”(H.R Turmudzi)
2. Dari Anas ra, ia berkata : Rasulullah saw, bersabda : “Semua
perbuatan keji itu pasti menjelekkan dirinya sendiri, dan
semua perbuatan yang diperhitungkan itu pasti akan
menghiasi diri sendiri.”(H.R Turmudzi)
MAKRUH BANYAK BICARA
1. Dari Ibnu Mas’ud ra, bahwasanya Nabi saw. Bersabda :
“Binasalah orang-orang yang suka berlebih-lebihan.” Beliau
mengulangi sabdanya tiga kali.”(H.R Muslim)
2. Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra, bahwasanya Rasulullah saw.
Bersabda : “Sesungguhnya Allah membenci orang yang
berlagak fasih dalam berbicara, yaitu orang yang memainkan
lidahnya sebagaimana lembu yang memainkan lidahnya.”(H.R
Abu Dawud dan Turmudzi)
3. Dari Jabir bin Abdullah ra, bahwasanya Rasulullah saw,
bersabda : “Sesungguhnya orang-orang yang paling aku cintai
dan orang yang paling dekat tempat duduknya dengan aku
pada hari kiamat nanti, adalah orang